SKRIPSI

PENGARUH DOSIS DESINFEKTAN TERHADAP PENURUNAN ANGKA KUMAN PADA LANTAI DI RUANG KENANGA RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO TAHUN 2011

Oleh : ARIE NIZAR SIDQI P17433210026

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO PROGRAM STUDI DIPLOMA IV KESEHATAN LINGKUNGAN 2011 i

SKRIPSI

PENGARUH DOSIS DESINFEKTAN TERHADAP PENURUNAN ANGKA KUMAN PADA LANTAI DI RUANG KENANGA RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERT O TAHUN 2011

Skripsi ini diajukan sebagai salah satu persyaratan untuk mencapai derajat Sarjana Sains Terapan di Bidang Kesehatan Lingkungan

Oleh : ARIE NIZAR SIDQI P17433210026

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO PROGRAM STUDI DIPLOMA IV KESEHATAN LINGKUNGAN 2011 ii

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto Program Studi Diploma IV Kesehatan Lingkungan Skripsi, Juli 2011 Abstrak Arie Nizar Sidqi (nizar_dongkal@yahoo.co.id) PENGARUH DOSIS DESINFEKTAN TERHADAP PENURUNAN ANGKA KUMAN LANTAI DI RUANG KENANGA RSUD Prof. Dr MARGONO SOEKARJO P URWOKERTO TAHUN 2011 XVII + 60 halaman: Gambar, tabel, lampiran RSUD margono Prof. Dr Margono Soekarjo Pyrwokerto merupakan Rumah Sakit Umum milik Pemerintah Propinsi Jawa Tengah yang bertugas memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto berstatus rumah sakit type B Pendidikan dengan kapasitas tempat tidur 438 buah. Rumah sakit selain sebagai tempat penularan penyakit, terutama ruang perawatan pasien. Sebagai tempat berkumpulnya orang sakit, lantai ruang kenanga mempunyai kemungkinan besar terjadi terjadinya infeksi, karena ruangan ini khusus bangsal bedah pria. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah kuman pada lantai sebelum dan sesudah, untuk mengetahui prosentase angka kuman lantai, dan untuk mengetahui dosis manakah yang paling efektif menurunkan angka kuman pada lantai di ruang kenanga RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Tahun 2011. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan menggunakan metode komparasi dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara, pengukuran, pemeriksaan dan perhitungan jumlah kuman. Pengolahan data dengan cara editing, coding, dan tabulating. Data dalam penelitian ini disajikan dalam bentuk SPSS. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji T-Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata penurunan angka kuman lantai menggunakan desinfektan 25ml/l adalah 7 koloni/cm², sedangkan yang menggunakan desinfektan 30ml/liter mengalami ratarata penurunan angka kuman lantai sebesar 3 koloni/cm². Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa pemberian desinfektan pada lantai pada saat pengepelan dapat menurunkan jumlah kuman pada lantai. Penulis menyarankan dalam pengepelan ruang perawatan selalu menggunakan desinfektan, dan untuk menjaga agar angka kuman lantai tetap dibawah standar 510 koloni/cm² dengan dilakukan pemeriksaan angka kuman secara teratur maksimal tiga bulan sekali. Daftar bacaan Kata Kunci Klasifikasi : 28 (1978-2010) : Kuman Lantai :

iii

Ministry of Health Republic of Indonesia Health Polytechnic Kemenkes Semarang Department of Environmental Health Navan Diploma Study Program IV Environmental Health Thesis, July 2011 Abstract Arie Nizar Sidqi (nizar_dongkal@yahoo.co.id) EFFECT OF DOSAGE DISINFECTANT GERM FLOOR RATE DECREASE IN THE KENANGA HOSPITAL PROF. DR. PURWOKERTO MARGONO SOEKARJO YEAR 2011 XVII + 60 pages: Drawings, tables, appendix Prof. Margono Hospital. Dr. Margono Soekarjo Pyrwokerto General Hospital is owned by the Provincial Government of Central Java are responsible for providing health services to the community. Prof. Hospital. Dr. Margono Soekarjo Navan hospital status type B education with a bed capacity of 438 pieces. Hospitals other than as a place of disease transmission, particularly patient care space. As a gathering place for the sick, ylang has a floor space of infection likely occur because this room is a special surgical ward men. The purpose of this study was to determine the number of germs on the floor before and after, to determine the percentage of germ-floor numbers, and to know the dose is most effective to reduce the numbers of germs on the floor in the living ylang Hospital Prof. Dr. Margono Soekarjo Navan in 2011. This type of study is a quasi experiment using a comparative method with cross sectional approach. The collection of data by observation, interviews, measurement, inspection and calculation of the amount of germs. Data processing by way of editing, coding, and tabulating. The data in this study are presented in the form of SPSS. Data analysis was performed using T-Test test. Results showed that the average decline in the numbers of germs floors using disinfectant 25ml / l is 7 colonies / cm ², while the use of disinfectants 30ml/liter experienced an average decline of 3 floors germ colonies / cm ². The conclusion of this study is that administration of disinfectant on the floor at pengepelan can reduce the number of germs on the floor. The author suggests in the treatment room pengepelan always use disinfectant, and to keep the numbers remain below the standard floor germs 5-10 colonies / cm ² with the examination number of germs on a regular basis a maximum of three months. Reading list: 28 (1978-2010) Keywords: Germs Floor, Hospital, Desinfecctant Classification:

iv

PERSEMBAHAN
Bukanlah suatu aib jika kamu gagal dalam suatu usaha, yang merupakan aib adalah jika kamu tidak bangkit dari kegagalan itu (ali bin abi thalib) Orang yang paling menyakitkan siksanya di hari kiamat adalah orang yang punya ilmu tapi Allah tidak mengizinkan memanfaatkan ilmunya (al-hadist) Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman (Q.S.AL. Imran 139)

Karya tulis ini kupersembahkan kepada Bapak dan Ibuku tercinta Sahabat-sahabat seangkatan yang baik hati Terimakasih untuk semua

v

LEMBAR PERSETUJUAN

Skripsi yang ditulis oleh Nama NIM Judul Skripsi : : : Arie Nizar sidqi P17433210026 Pengaruh Dosis Desinfektan Terhadap Penurunan Angka Kuman Pada Lantai Di Ruang Kenanga RSUD Prof Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Tahun 2011

Telah kami setujui untuk diujikan di depan Dewan Penguji Skripsi pada tanggal 27 Juli 2011

Purwokerto, Juli 2011

Pembimbing I Skripsi

Pembimbing II Skripsi

Agus Subagiyo,SIP,M.Kes NIP. 19610827 198403 1 004

Asep Tata Gunawan.,SKM,M.Kes NIP. 19651116 198402 1 001

vi

SKRIPSI Pengaruh Dosis Desinfektan Terhadap Penurunan Angka Kuman Pada Lantai Di Ruang Kenanga RSUD Prof. DR. Margono Soekarjo Purwokerto Tahun 2011 Disusun oleh: ARIE NIZAR SIDQI NIM. P17433210026 Telah diujikan di depan Penguji Skripsi Program Studi Diploma IV Kesehatan Lingkungan Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto Pada tanggal 27 juli 2011, dan dinyatakan LULUS Ketua Tim Penguji Skripsi Pembimbing I

Agus Subagiyo, SIP, M.Kes NIP : 19610827 198403 1 004 Anggota

Agus Subagiyo,SIP,M.Kes NIP. 19610827 198403 1 004 Pembimbing II

Tri Cahyono, SKM, M.Si NIP : 19640821 198903 1 002 Anggota

Asep Tata Gunawan.,SKM,M.Kes NIP. 19651116 198402 1 001

Arif Widyanto, S.Pd.M.Si NIP : 19740105 199703 1 001 Skripsi ini telah memenuhi salah satu persyaratan untuk mencapai derajat Sarjana Saints Terapan Kesehatan Lingkungan Mengetahui Ketua Program Studi Diploma IV Kesehatan Lingkungan Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang

Yulianto, BE, S.Pd, M.Kes NIP. 19610731 198403 1 003

vii

BIODATA
Nama Tempat, tanggal lahir Agama Jenis kelamin Alamat : Arie Nizar Sidqi : Pemalang, 26 Januari 1989 : Islam : Laki-laki : Jl. R.A Kartini 343 Rt 33 Rw 04 Randudongkal Pemalang Riwayat pendidikan : 1. Tahun 2001 Lulus SD Negeri 07 Randudongkal 2. Tahun 2004 Lulus SLTP Islam Randudongkal 3. Tahun 2007 Lulus SMA PGRI 3 Randudongkal 4. Tahun 2010 Lulus DIII Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang, Jurusan Kesehatan

Lingkungan Purwokerto, Prodi DIII Kesehatan Lingkungan Purwokerto. 5. Tahun 2010 diterima di Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang, Jurusan Kesehatan

Lingkungan Purwokerto, Prodi DIV Kesehatan Lingkungan Purwokerto.

viii

LEMBAR PERNYATAAN

Yang bertanda tangan dibawah ini: Nama Tempat, Tanggal Lahir NIM Judul Skripsi : Arie Nizar Sidqi

: Pemalang, 26 Januari 1989 : P17433210026 : Pengaruh Dosis Desinfektan Terhadap penurunan Angka kuman Pada Lantai di Ruang Kenanga RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Tahun 2011

Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi ini adalah betul-betul hasil karya saya dan bukan hasil penjiplakan dari hasil karya orang lain. Demikian pernyataan ini dan apabila kelak dikemudian hari terbukti dalam skripsi ada unsur penjiplakan, maka saya bersedia mempertangggungjawabkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Purwokerto, Juli 2011 Yang menyatakan

Arie Nizar Sidqi

ix

KATA PENGANTAR

Tiada kata terindah yang kami ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul ” Pengaruh Dosis Desinfektan

Terhadap Penurunan Angka kuman Pada Lantai di Ruang Kenanga RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Tahun 2011 ”. Tujuan penulisan penelitian ini sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Ilmu Terapan Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu baik materiil maupun moril sehingga penyusunan Skripsi ini dapat terselesaikan. Ucapan terima kasih penulis tujukan kepada: 1. Bapak Sugiyanto, S.Pd, M.App.Sc., selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang. 2. Bapak Sugeng Abdullah, SST. MSi selaku Ketua Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto. 3. Bapak Yulianto, BE, S.Pd, M.Kes, selaku Ketua Prodi DIV Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto, Serta Pembimbing akademik. 4. Bapak Agus Subagiyo, SIP, M.Kes, selaku pembimbing utama Skripsi yang telah banyak memberikan bimbingan serta saran. 5. Bapak Asep Tata Gunawan, SKM, selaku pembimbing pendamping Skripsi yang telah banyak memberikan bimbingan serta saran.

x

6.

Bapak dan Ibu tercinta, yang senantiasa memberikan kasih sayang tiada terkira sehingga Skripsi ini dapat terselesaikan.

7. 8.

Untuk teman-teman satu angkatan, terima kasih untuk segala kerja samanya. Rekan-rekan dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu dalam menyelesaikan Skripsi ini. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Skripsi ini masih terdapat

kekurangan baik dalam materi, teknik penulisan maupun sistematikanya. Oleh karena itu, saran dan kritik pembaca untuk penyempurnaan sangat penulis harapkan. Semoga Skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan bagi pembaca.

Purwokerto, Juli 2011

Arie Nizar sidqi NIM: P17433210026

xi

DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL................................................................................ i HALAMAN JUDUL ................................................................................... ii ABSTRAK................................................................................................... iii ABSTACT ................................................................................................... iv HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................. v HALAMAN PERSETUJUAN .................................................................... vi HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... vii HALAMAN BIODATA .............................................................................. viii HALAMAN PERNYATAAN ..................................................................... ix KATA PENGANTAR................................................................................. x DAFTAR ISI ............................................................................................... xii DAFTAR GAMBAR................................................................................... xv DAFTAR TABEL ....................................................................................... xvi DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... xvii BAB I PENDAHULUAN A. B. C. D. E. F. Latar belakang................................................................................. 1 Masalah........................................................................................... 4 Tujuan penelitian............................................................................ 5 Manfaat penelitian........................................................................... 5 Ruang Lingkup................................................................................ 6 Keaslian penelitian .......................................................................... 6

xii

BAB II TINJAUAN PISTAKA A. B. C. D. E. F. G. H. I. Pengertian-pengertian...................................................................... 8 Sanitasi ruang dan bangunan dan peralatan non medis..................... 11 Mikroorganisme .............................................................................. 14 Desinfeksi ....................................................................................... 18 Angka kuman lantai ........................................................................ 24 Hubungan lantai rumah sakit dengan infeksi.................................... 24 Cara pengepelan lantai .................................................................... 26 Kerangka teori................................................................................. 28 Hipotesis ......................................................................................... 28

BAB III METODE PENELITIAN A. B. C. D. E. F. G. Variabel penelitian .......................................................................... 29 Jenis penelitian................................................................................ 32 Waktu dan lokasi penelitian............................................................. 32 Populasi dan sampel ........................................................................ 32 Pengumpulan data ........................................................................... 33 Pengolahan data ............................................................................. 35 Analisis data.................................................................................... 35

BAB IV HASIL A. B. Gambraran Umum RSMS ............................................................... 36 Gambaran Khusus RSMS ................................................................ 42 xiii

BAB V PEMBAHASAN A. B. C. D. E. F. G. Jumlah Pasien, Penunggu dan Pasien............................................... 49 Suhu Ruangan ................................................................................. 50 Kelembaban Ruangan...................................................................... 51 Pencahayaan Ruangan..................................................................... 52 Kuman Lantai.................................................................................. 53 Desinfektan ..................................................................................... 55 Cara Pengepelan Lantai................................................................... 56

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN A. B. Simpulan......................................................................................... 58 Saran............................................................................................... 59

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

xiv

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerangka teori 3.1 Struktur hubungan variabel Halaman 28 30

xv

DAFTAR TABEL
Gambar 1.1 2.1 4.1 4.2 4.3 4.4 4.5 4.6 4.7 4.8 Keaslian Penelitian Definisi Operasional Jumlah dan Jenis Tenaga Kerja RSMS Kapasitas Tempat Tidur Data Ruang Kenanga Hasil Pengukuran Suhu Hasil Pengukuran Kelembaban Hasil Pengukuran Pencahayaan Hasil Pengukuran Kuman Lantai Kegiatan pembersihan Lantai Halaman 6 30 38 41 42 43 44 45 46 48

xvi

DAFTAR LAMPIRAN
1. Prosedur pengambilan sampel pada lantai 2. Prosedur pengukuran pencahayaan 3. Prosedur pengukuran suhu dan kelembaban 4. Kuesioner untuk petugas kebersihan 5. Denah titik usap lantai 6. Prosedur penelitian angka kuman lantai 7. Struktur Organisasi RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. 8. Gambar Pengambilan Sampel Kuman & Pemeriksaan Sampel Kuman

xvii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan pokok hidup manusia yang bersifat asasi. Bagi setiap Negara, masalah kesehatan merupakan pencerminan nyata kondisi dan kekuatan masyarakatnya, seperti layaknya kata bijak yang menyebutkan “ Rakyat Sehat Negara Kuat “ sebagai salah satu Negara berkembang, Indonesia mempunyai tingkat kesehatan dan kondisi pelayanan yang kurang memadai dibandingkan dengan negara-negara maju. Tujuan pembangunan kesehatan menurut UU RI No.36 Tahun 2009 Bab II Pasal 3 adalah Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Rumah sakit sebagai salah satu institusi pelayanan kesehatan dengan upaya pencegahan (preventive) penyembuhan penyakit (curative), pemulihan penderita (rehabilitative) dan peningkatan kesehatan (promotive). Kegiatan tersebut menimbulkan dampak positif dan negatif. Dampak positifnya adalah meningkatkanya derajat kesehatan masyarakat, sedangkan dampak negatifnya adalah agen penyakit yang dibawa oleh penderita dari luar ke rumah sakit atau

1

2

pengunjung yang berstatus karier. Penyebab penyakit dapat berada di lantai, udara, peralatan medis dan non medis. Rumah sakit selain untuk mencari kesembuahn, juga merupakan depot bagi berbagai macam penyakit, yang berasal dari penderita maupun dari pengunjung yang berstatus karier. Kuman penyakit ini dapat hidup dan berkembang di lingkungan rumah sakit, seperti udara, air, lantai, makanan dan benda –benda peralatan medis maupun non medis. RSUD Margono Soekarjo termasuk rumah sakit milik Propinsi Jawa Tengah kelas B pendidikan, yang berada di Jalan Dr. Gumbreg No. 1 Purwokerto Kabupaten Banyumas. RSUD Margono mempunyai luas 11,5

hektar, tersedia beberapa bangsal dan tersedia 496 kamar tidur kamar yang banyak pengunjung, sehingga dapat menimbulkan lingkungan rumah sakit menjadi tidak sehat, seperti lantai ruangan menjadi kotor, banyak sampah dan permasalahan yang lain. Menurut Djasio Sanropie (1989, h 19), lantai mempunyai kemungkinan lebih besar dalam kondisi kotor bila dibandingkan dengan permukaan bangunan lain seperti langit-langit dan dinding. Telah terbukti bahwa dengan membunuh kuman-kuman yang terdapat di lantai dan semua permukaan, dapat menurunkan kemungkinan infeksi melalui luka terbuka yang ada di permukaan tubuh.. Ruang kenanga merupakan ruang bedah pria kelas 1, 2 , dan 3 . Tempat tidur di ruang Kenanga hampir setiap hari digunakan oleh pasien dan oleh pasien ditunggu oleh penunggu dan dikunjungi oleh pengunjung. Dengan banyaknya jumlah pasien yang dirawat, penunggu dan pengunjung dapat mengakibatkan ruang bedah terutama lantai menjadi kotor dan banyak kuman.

3

Desinfeksi adalah upaya untuk mengurangi/menghilangkan jumlah mikroorganisme patogen penyebab penyakit (tidak termasuk spora ) dengan cara kimiawi. Pengepelan menggunakan desinfektan adalah usaha untuk membersihkan lantai dengan cara kimiawi untuk mengurangi dan

menghilangkan mikroorganisme patogen penyebab penyakit. Berdasarkan Keputusan Menteri kesehatan Republik Indonesia Nomor

1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan kesehatan Lingkungn Rumah Sakit, Persyaratan angka kuman untuk lantai yaitu 5 - 10 koloni/cm². Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah desinfektan dan metode yang efektif sehingga dapat tercapai daya bunuh yang optimal pad kuman. Bahan kimia yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran jasad renik, dan untuk membunuh atau menurunkan jumlah mikroorganisme disebut desinfektan. Tidak semua bahan desinfektan efektif untuk semua kondisi lingkungan. Efektifitas dari desinfektan terhadap kuman pada lantai kadang – kadang tidak tercapai meskipun sudah diuji dilaboratorium dengan baik. Efektifitas desinfektan dapat diuji langsung dengan cara setelah lantai diberi bahan desinfektan kemudian dihitung jumlah jasad reniknya yang ada di lantai tersebut. Menurut Nyoman Suendra, et. Al (1992, h.76), faktor utama yang menentukan bagaimana desinfektan bekerja adalah kadar desinfektan, waktu yang telah diberikan kepada desinfektan untuk bekerja, suhu desinfektan, jumlah dan tipe mikroorganisme yang ada serta keadaan ruangan yang didesinfeksi. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti ingin membandingkan efektifitas dosis desinfektan yang digunakan oleh petugas

4

rumah sakit yaitu dengan dosis 25 ml/liter, dengan dosis yang ingin peneliti uji yaitu desinfektan dengan dosis 30 ml/liter. Sehubungan dengan hal tersebut penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “ Pengaruh Dosis Desinfektan Terhadap Penurunan Angka Kuman Pada Lantai Di Ruang Kenanga RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Tahun 2011”.

B. Masalah 1. Berapakah angka kuman pada lantai di Ruang Kenanga RSUD Prof Dr. Margono Soekarjo sebelum pemberian desinfektan? 2. Berapakah angka kuman pada lantai di Ruang Kenanga RSUD Prof Dr. Margono Soekarjo sesudah pemberian desinfektan dengan dosis 25 ml/liter, 30 ml/liter? 3. Berapakah prosentase penurunan angka kuman pada lantai di Ruang Kenanga RSUD Prof Dr. Margono Soekarjo sesudah pengepelan dengan menggunakan desinfektan dengan dosis 25 ml/liter, 30 ml/liter? 4. Dosis desinfektan manakah yang paling efektif untuk menurunkan angka kuman lantai pada proses pengepelan di Ruang Kenanga RSUD Dr. Margono Soekarjo?

5

C. Tujuan Penilitian 1. Mengetahui angka kuman pada lantai di Ruang Kenanga RSUD Prof Dr.. Margono Soekarjo sebelum pemberian desinfektan. 2. Mengetahui angka kuman pada lantai di Ruang Kenanga RSUD Prof Dr. Margono Soekarjo setelah pemberian desinfektan dengan dosis 25 ml/liter, 30 ml/liter. 3. Menghitung prosentase penurunan angka kuman pada lantai di Ruang Kenanga RSUD Prof Dr. Margono Soekarjo sesudah pengepelan dengan desinfektan dengan dosis 25 ml/liter, 30 ml/liter. 4. Mengetahui dosis desinfektan yang paling efektif untuk menurunkan angka kuman pada lantai pada proses pengepelan di Ruang Kenanga RSUD Dr. Margono Soekarjo.

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi masyarakat Memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lantai. 2. Bagi pihak rumah sakit Sebagai bahan masukan tentang dosis desinfektan yang efektif untuk menurunkan angka kuman pada lantai. 3. Bagi almamater Untuk menambah bahan pustaka bagi pihak Jurusan Kesehatan Lingkungan.

6

4. Bagi peneliti Untuk menambah pengetahuan dan wawasan di bidang kesehatan lingkungan khususnya masalah sanitasi rumah sakit.

E. Ruang Lingkup Ruang lingkup penelitian ini adalah jumlah kuman pada lantai sebelum dan sesudah pemberian desinfektan pada ruang Kenanga RSUD Prof Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Tahun 2011.

F. Keaslian Penelitian No 1 Judul Penilitian Nama Metode Deskriftif Variabel Variabel bebas, Variabel terikat Hasil Rata-rata jumlah kuman lantai bangsal perawatan sebelum pemberian desinfektan adalah 12 koloni/cm2. Rata-rata jumlah kuman lantai bangsal perawatan sesudah pemberian desinfektan adalah 5 koloni/cm2. Rata-rata jumlah kuman lantai bangsal perawatan sebelum pemberian desinfektan adalah 33 koloni/cm2. Rata-rata jumlah kuman lantai bangsal perawatan sesudah pemberian desinfektan adalah 6 koloni/cm2.

Studi Jumlah Wilujeng Kandungan Kuman pada Lantai Bangsal Perawatan Rumah Sakit Wijayakusuma Puwokerto Tahun 2008

2

Studi Komparasi Ulfah Farida Angka Kuman Trisnawati Lantai Sebelum dan Sesudah Desinfektan pada Ruang Bersalin RSUD Purbalingga 2009

Deskriftif

Variabel bebas, Variabel terikat

7

3

Pengaruh desinfektan terhadap Penurunan angka Kuman lantai di ruang Bougenvile RSU Banyumas Tahun 2010

Putut
Karyawan

Deskriftif

Variabe l bebas, variabel pengga nggu, variabel terikat

Rata-rata jumlah kuman lantai bangsal perawatan sebelum pemberian desinfektan adalah 26 koloni/cm2. Rata-rata jumlah kuman lantai bangsal perawatan sesudah pemberian desinfektan adalah 6 koloni/cm2.

Yang membedakan penelitian ini dengan penelitian yang telah ada adalah Dosis desinfektan yang berdeda, kali ini peneliti memakai 2 dosis.

8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian – pengertian 1. Pengertian Rumah Sakit Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 986 Tahun 1992 / MENKES /XI/1992) Rumah sakit adalah:

“Sarana sarana upaya kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan serta dapat berfungsi sebagai tempat pendidikan tenaga kesehatan dan penelitian”. Menurut Charles J.P Sinaga (2003, h.8) bahwa rumah sakit adalah “Suatu organisasi yang kompleks, menggunakan gabungan alat ilmiah khusus dan rumit dan difungsikan oleh berbagai kesatuan personel terlatih dan terdidik dalam menghadapi dan menangani masalah medik modern yang semuanya terikat bersama sama dalam maksud yang sama, untuk pemulihan dan pemeliharaan kesehatan yang baik.” 2. Pengertian Desinfeksi Menurut Dirjen PPM dan PLP (1993, h. 3): “Desinfeksi adalah upaya untuk mengurangi atau menghilangkan mikroorganisme pathogen penyebab penyakit dengan cara fisik maupun kimiawi, proses ini tidak termasuk menghancurkan spora.”

8

9

3. Pengertian Kuman Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995, h 541) “kuman adalah binatang yang amat kecil atau mikroorganisme yang bersifat pathogen dan non pathogen. Yang pathogen dapat menimbulkan penyakit pada manusia, sedangkan yang non pathogen tidak menimbulkan penyakit pada manusia.”

Menurut K.H Timolius (1982, hal. 105): “Kuman adalah mikroorganisme yang bersifat pathogen dan non pathogen. Yang Pathogen dapat menimbulkan penyakit pad manusia, sedangkan yang non pathogen tidak dapat menimbulkan penyakit pada manusia. 4. Pengertian Mikroorganisme Menurut Volk dan Weeler (1990, h. 333): “Mikroorganisme adalah jasad renik yang berukuran sangat kecil yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang atau kasat mata dan hanya bisa dilihat dengan mikroskop”

Menutut As’as Sungguh (1993, h.252) yang dimaksud jasad renik adalah: “ Makhluk hidup yang sangat kecil yang dapat dilihat dengan kaca pembesar”

10

5. Pengertian Sanitasi Menurut Sujoto Hernady (1992, h.2): “ Sanitasi adalah suatu usaha untuk pengawasan beberapa faktor lingkungan fisik yang berpengaruh kepada manusia, terutama hal – hal yang mempunyai efek perusak perkembangan fisik kesehatan dan kelangsungan hidup. Menurut Azrul Azwar (1987, h. 9): “ Sanitasi adalah usaha kesehatan masyarakat yang menitikberatkan pada pengawasan pada berbagai lingkungan yang mempengaruhi atau mungkin mempengaruhi derajat kesehatan manusia.”. 6. Pengertian Sanitasi Rumah Sakit Menurut Kemenkes RI (1993, h.7): “ Sanitasi Rumah Sakit adalah upaya pengawasan berbagai faktor lingkungan fisik, kimiawi, dan biologis dari rumah sakit yang menimbulkan atau mungkin dapat mengakibatkan pengaruh buruk pada kesehatan jasmani, rohani, maupun kesejahteraan sosial bagi petugas, pengunjung, penderita, maupun masyarakat rumah sakit.” 7. Pengertiap Infeksi Nosokomial. Menurut Dr Kadarsyah (2008. h.1): “ Infeksi nosokomial adalah infeksi yang diperoleh selama dalam perawatan di rumah sakit yaitu infeksi yang baru menunjukkan gejala setelah 48 jam pasien berada di rumah sakit”.

11

B. Sanitasi ruang bangunan dan peralatan non medis Menurut Dirjen PPM dan PLP (1993, h.11) sanitasi ruang bangunan dan peralatan non medis dimaksudkan untuk menciptakan suatu kondisi ruang konstruksi dan pengaturan peralatan non medis yang nyaman, bersih, dan sehat di lingkungan rumah sakit agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap pasien, pengunjung dan karyawan. Pemeliharaan ruang bangunan dan peralatan non medis 1. Lantai, dinding dan langit-langit. a. Persenyawaan umum 1) Lantai harus kedap air, tidak licin, tidak retak dan mudah dibersihkan. 2) Dinding berwarna terang dan bersih, permukaan halus tidak bergelombangatau bergerigi dan retak – retak. 3) Langit – langit berwarna terang dan bersih, bebas sarang laba – laba. b. Pemeliharaan Lantai, dinding dan langit – langit harus selalu dijaga kebersihan dan kerapianya. Cara – cara pembersihan yang dapat menebarkan debu sedapat mungkin dihindari. Dianjurkan untuk selalu menggunakan pembersihan cara basah dengan menggunakan kain pel dipilih yang mampu menyerap debu, dan cuci tiap hari dengan sebelumnya direndam semalaman dengan germisida, perlu diingatkan untuk tidak mengibas-kibaskan kain pel.

12

Membersihkanruang hendaknya dilakukan pagi hari. Pada bangsal perawatan, pembersihan lantai dilakukan segera setelah pembenahan tempat tidur. Ruang – ruang penting seperti isolasi, perawatan bayi, persalinan, dan ruang operasi hendaknya disanitasi setiap hari. Pemeliharaan dinding tidak seketat lantai, kecuali bila terdapat percikan ludah, darah, atau eksodat luka. Cara yang biasa dilakukan sehari –hari sudah dianggap memadai, yaitu dengan penyemprotan langsung kepermukaan dinding dengan menggunakan germisida, sedangkan desinfektan cukup delakukan setelah pasien keluar. 2. Ruang Ruang yang cukup luas dirumah sakit tidak saja mampu memberikan kenyamanan pasien tetapi juga untuk dapat memberikan pelayanan yang diperlukan. Ruang yang longgar bermanfaat untuk membatasi pasien dengan penyakit infeksi atau tersangka infeksi. Jumlah tempat tidur per bangsal secara bertahap hendaknya dapat dikurangi sampai rata –rata bangsal hanya diidi satu tempat tidur. 3. Ventilasi Untuk mencegah terjadinya kondensasi dan udara dalam ruangan selalu segar, maka ruangan tersebut harus mempunyai sistem aliran udara yang baik, untuk itu ada dua cara yang dilakukan yaitu dengan menggunakan ventilasi alamiah dan ventilasi buatan. Ventilasi dapat menjamin peredaran udara didalam kamar atau ruangan dengan baik, bila

13

ventilasi tidak menjamin peredaran udara didalam kamar atau ruangan dengan baik, maka harus dilengkapi dengan peralatan mekanik. 4. Pencahayaan Semua ruang yang digunakan baik untuk bekerja maupun untuk menyimpan barang/ peralatan perlu diberi penerangan. Ruang tidur pasien/ bangsal hendaknya dapat disediakan penerangan khusus 1 luminer untuk penerangan malam perlu disediakan dengan saklar individu ditempatkan pada titik yang mudah dijangkau dan tidak menimbulkan bising. 5. Kebersihan peralatan non medis Skat dan pel sehabis dipakai harus dicuci. Dibersihkan dengan air bersih dan dikeringkan. Wastafel harus dalam keadaan kering dan wastafel tidak kotor. 6. Kebisingan Tingkat kebisingan di setiap kamar/ ruang berdasarkan fungsinya harus memenuhi persyaratan kesehatan sebagai berikut: a. Ruang perawatan , ruang isolasi, ruang radiologi dan ruang operasi maksimum 45 dBA. b. Poliklinik/ poli gigi, bengkel/ mekanik maksimum 80 dBA. c. Laboratorium maksimum 80 dBA. d. Ruang cuci, dapur dan ruang penyediaan air pamas (ketel) dan air dingin maksimum 78 dBA.

14

C. Mikroorganisme 1. Pengertian Mikroorganisme (jasad renik) Menurut As’ad (1993, h.252) yang dimaksud jaded renik adalah makhluk hidup yang sangat kecil yang dapat dilihat dengan kaca pembesar. Mikroorganisme merupakan jasad renik yang bentuknya sangat kecil, sehingga akan kelihatan jelas apabila diamati dengan menggunakan mikroskop. 2. Mikroorganisme Patogen dan Penyakitnya Menurut Nyoman Suendra, et. Al. (1993, h. 33) Mikroorganisme parasit dan yang menyebababkan penyakit pada manusia, merupakan jenis mikroorganisme pathogen seperti bakteri, virus, jamur,dan protozoa. Mikroorganisme selain ada yang bermanfaat dalam tubuh manusia yang sehat misalnya usus yang membentuk vitamin K dan membantu absorbsi makanan, ada juga yang merugikan manusia. Mikroorganisme pathogen antara lain dapat menimbulkan penyakit pada saluran pencernaan, saluran pernapasan, dan saluran air seni. Kelompok mikroorganisme yang paling banyak menimbulkan penyakit adalah bakteri.

15

3. Pertumbuhan Jasad renik Pertumbuhan Jasad Renik dibagi dalam beberapa fase yaitu (Srikandi Fardiaz, 1992, h.95-101) a. Fasa Adaptasi (penyesuaian) Pada face ini belum terjadi pembelahan sel karena beberapa enzim belum disintesis. Faktor yang mempengaruhi lamanya fase adaptasi yaitu: 1) Medium dan lingkungan pertumbuhan 2) Jumlah inokulum b. Fase pertumbuhan Awal Pada fase pertumbuhan awal sel mulai membelah dengan kecepatan yang masih rendah karena baru selesai tahap penyesuaian diri. c. Fase pertumbuhan Logaritmik Pada fase ini sel jasad renik membeleh dengan kecepatan dan konstan. Karena pada fase ini kecepatan pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh medium tempat tumbuhnya, seperti pH, kandungan nutrient dan kondisi lingkungan termasuh suhu dan kelembaban udara. d. Fase Pertumbuhan Lambat Sebab perlambatan pertumbuhan populasi jasad renik fase ini adalah: 1) Zat nutrisi didalam medium berkurang 2) Adanya hasil – hasil metabolisme yang mungkin beracun atau dapat menghambat pertumbuhan jasad renik.

16

e. Fase Pertumbuhan Tetap (statis) Jumlah populasi sel tetap karena jumlah sel yang tumbuh sama dengan jumlah sel yang mati. Pada fase ini, sel-sel menjadi lebih tahan terhadap ekstrem seperti panas, dingin, radiasi, dan bahan kimia. f. Fase Kematian Pada fase ini, jumlah sel yang mati semakin lama semakin banyak dan kecepatan kematian dipengaruhi oleh kondisi nutrient, lingkungan dan jenis jasad renik. Sebab yang mempengaruhi fase kematian yaitu: 1) Nutrien didalam medium sudah habis 2) Energi cadangan didalam sel habis. 4. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jasad renik Pada pertumbuhan jasad renik, tidak semua sel yang terbentuk akan terus hidup. Hal ini dikarenakan oleh faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jasad renik (Srikandi Fardiaz, 1996, h.11 ). a. Tersedia Nutrien Jasad renik membutuhkan nutrient untuk kehidupan pertumbuhannya sebagai: 1) Sunber karbon 2) Sumber nitrogen 3) Sumber energi 4) Faktor pertumbuhan yaitu mineral dan vitamin

17

b. Tersedianya air Sel jasad renik memerlukan air dalam berkembang biak, tetapi tidak semua air dapat digunakan oleh jasad renik. Kondisi atau keadaan air yang tidak dapat digunakan oleh jasad renik yaitu: 1) Adanya salut dan ion dapat mengikat air didalam larutan 2) Koloid hidrofilik (gel) dapat mengikat air 3) Air berbentuk Kristal es atau hidrasi c. Nilai pH Nilai pH medium sangat mempengaruhi jenis jasad renik, karena jasad renik dapat tumbuh pada suhu pH 3-6 . d. Suhu Jasad renik mempunyai suhu optimum, minimum dan maksimum untuk pertumbuhannya., tetapi ada juga pengaruh suhu terhadap kecepatan pertumbuhan sel yaitu: 1) Pertumbuhan jasad renik terjadi pada suhu dengan kisaran 30°C 2) Kecepatan pertumbuhan jasad renik meningkat lambat dengan naiknya suhu sampai mencapai kecepatan pertumbuhan maksimal 3) Diatas suhu maksimum, kecepatan pertumbuhan manurun dengan cepat dengan naiknya suhu e. Tersedianya O2 Konsentrasi O2 di lingkungan mempengaruhi jasad renik yang dapat tumbuh. Berdasarkan kebutuhan O2 jasad renik dibedakan menjadi jasad renik yang bersifat aerobic, anaerobic dan aerobic fakultatif.

18

5. Pengendalian Jasad Renik Mikroorganisme mempunyai kemampuan menginfeksi manusia, hewan serta tanaman, menimbulkan penyakit yang berkisar dari infeksi ringan sampai kematian. Jasad renik dapat disingkirkan, dihambat atau dibunuh dengan proses fisik atau bahan kimia. Proses fisik dapat diartikan sebagai keadaan atau sifat fisik yang menyebabkan suatu perubahan. Sedangkan proses kimia ialah suatu substansi (cair, padat, dan gas) oleh komposisi molekul liar yang dapat menyebabkan terjadinya reaksi. Proses kimia menimbulkan pengaruh yang lebih selektif terhadap jasad renik dibandingkan dengan proses fisik.

D. Desinfeksi 1. Pengertian Desinfeksi Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Indonesia, Depdikbud, 1995, h.228) desinfeksi adalah bahan kimia (lisol, kreolin) yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran oleh jasad renik. 2. Ciri-ciri Desinfektan yang ideal Menurut Mitchael J Pelezar, Jr., et. Al. (1988, h.488) ciri-ciri desinfektan yang ideal yaitu: a. Aktivitas antimicrobial. Kemampuan substansi untuk mamatikan berbagai macam

mikroorganisme.

19

b. Kelarutan. Substansi itu harus dapat larut dalam air atau pelarut-pelarut lain sampai pada taraf yang diperlukan untuk dapat digunakan secara efektif. c. Stabilitas. Perubahan yang terjadi pada substansi itu bila dibiarkan beberapa lama harus seminilmal mungkin dan tidak boleh menghilangkan sifat

antimikrobialnya. d. Tidak bersifat racun bagi makhluk hidup. Bahwa substansi tersebut harus bersifat letal bagi mikroogranisme dan tidak berbahaya bagi manusia ataupun hewan lain. e. Kemampuan menghilangkan bau yang kurang sedap. Sebaiknya desinfektan tersebut menimbulkan bau sedap. f. Berkemampuan sebagai detergen. Suatu desinfektan juga merupakan detergen yang efeknya juga sebagai pembersih. g. Ketersediaan dan biaya. Desinfektan harus tersedia dalam jumlah besar dan dengan harga yang pantas. h. Keserbasamaan (homogenity) Dalam penyiapan komposisinya harus seragam tidak berbau atau hendaknya

20

i.

Aktifitas antimikrobial pada suhu kamar atau suhu tubuh. Aktifitas desinfektan digunakan pada suhu yang biasa dijumpai pada lingkungan untuk penggunaan senyawa yang bersangkutan.

j.

Kemampuan untuk menembus Bila substansi dapat menembus permukaan, maka aksi antimikrobilnya hanya terbatas pada siklus aplikasinya saja.

k. Tidak menimbulkan karat dan warna. Maksudnya suatu desinfektan diupayakan tidak menimbulkan warna atau merusak kain. l. Tidak bergabung dengan bahan organik, karena apabila bergabung dengan bahan organik, maka sebagian besar desinfektan tersebut akan menjadi aktif. 3. Jenis Desinfektan Menurut Mitchael J Pelezar, Jr., et. Al. (1988, h 542) desinfektan digolongkan menjadi beberapa jenis, yaitu: a. Fenol dan persenyawaannya. Senyawa ini digunakan untuk mengembangkan teknik-teknik

pembedahan aseptik, dan untuk mengevaluasi aktifitas bakterisidalnya. b. Persenyawaan alkohol Alkohol efektif untuk mengurangi flora mikroba pada kulit dan untuk desinfektan termomeral oral.

21

c. Detergen Adalah zat pembasah yang terutama digunakan untuk membersihkan permukaan benda. d. Aldehide dan persenyawaan. Senyawa ini mempunyai kegunaan untuk mengendaliakan populasi mikroorganisme. e. Kemosterilisator gas. Adalah sterilisasi kimiawi dengan menggunakan gas.

f. Halogen dan persenyawaannya Halogen ini merupakan oksidator kuat dan menghancurkan

mikroorganisme dengan cara merusak komponen seluler. g. Logam berat dan persenyawaannya Cara kerja logam berat dan persenyawaannya adalah mendenaturasi protein. 4. Pemilahan bahan Desinfektan Menurut Mitchael J Pelezar, Jr, et,. Al., (1988, h.488-489) untuk mencapai tujuan yang maximal dalam pemilihan bahan desinfektan, faktor–faktor yang harus diperhatikan adalah: a. Kosentrasi dan intensitas zat antimikrobial. Makin tinggi konsentrasi atau makinbesar intensitas yang diberikan maka makin cepat sel – sel atau sasaran akan mati dan terbunuh..

22

b. Jumlah mikroorganisme Diperlukan waktu yang lama untuk membunuh populasi. Bila jumlah selnya banyak maka perlakuan diberikan lebih lama supaya yakin bahwa sel tersebut akn mati. c. Suhu Kenaikkan suhu dapat mempercepat atau menaikkan keefektifan suatu desinfektan. d. Spesies mikroorganisme Spesies mikroorganisme menunjukkan kerentanan yang berbeda – beda terhadap tempat dan bahan kimia. e. Adanya bahan mikroorganisme lain Adanya bahan organik asing dapat menurunkan keefektifan zat kimia dengan cara menginaktifkan bahan – bahan tersebut atau melindungi mikroorganisme. f. pH Mikroorganisme yang terdapat pada bahan dengan pH asam dapat dibasmi pada suhu yang lebih rendah dan dalam waktu singkat dibandingkan mikroorganisme yang sama di lingkungan pH basa. g. Sifat bahan yang akn diberi perlakuan Desinfektan yang digunakan untuk perabotan yang terkontaminasi, maka tidak boleh kontak langsung dengan kulit.

23

5. Mekanisme Kerja Desinfektan Menurut Nyoman Suhendra, et. Al. (1992, h. 76 ), faktor utama yang menetukan bagaimana desinfektan bekerja adalah kadar desinfektan, waktu yang diberikan kepada desinfektan untuk bekerja, suhu desinfektan, jumlah dan tipe mikroorganisme yang ada dan keadaan bahan yang didesinfeksi. Apabila proses desinfeksi ditujukan pada patogen tertentu, agen yang dipilih sebagai desinfektan harus dikenal sebagai bakterisida efektif terhadap organisme tersebut. Menurut Mitchael J Pelezar, Jr, et. Al. (1998, h.457), cara kerja desinfektan dalam mematikan mikroorganisme yaitu: a. Kerusakan pada Dinding sel Dengan cara menghmbat pembentukan atau mengubah setelah selesai terbentuk. b. Perubahan Metabolisme Sel Adanya kerusakan pada membran sitoplasma yang akan

mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan sel atau matinya sel. c. Perubahan Molekul Protein dan Asam Nukleat Apabila terjadi perubahan molekul protein dan asam nukleat dimana hidupnya suatu sel bergabung pada terpeliharanya molekul ini, maka dapat merusak sel tanpa diperbaharui kembali. d. Penghambatan Kerja enzim Penghambatan kerja enzim dapat mengakibatkan terganggunya metabolisme atau matinya sel.

24

e. Penghambatan Sintetis Asam Nukleat dan Protein Adanya gangguan DNA, RNA dan protein didalam proses kehidupan normal sel dapat mengakibatkan kerusakan total pada sel..

E. Angka kuman lantai Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995, h.541) kuman adalah binatang yang amat kecil yang dapat menyebabkan penyakit. Cara pemeriksaan jumlah kuman sample usap lantai adalah mengamati dan menghitung pertumbuhan koloni pada media glucose agar plate / NA setelah di inkubasi 2 x 24 jam pada suhu ±36°C. Menurut Kepmenkes RI No.1204/Menkes/SK/X/2004 tentang

persyaratan kesehatan lingkungan di rumah sakit, angka kuman yang distandarkan adalah 0-5 koloni/cm² untuk ruang operasi, sedangkan 5-10 koloni/cm² untuk ruang perawatan.

F. Hubungan Lantai Rumah sakit dengan Infeksi Menurut Kadarsyah-health Business Consultant (2008. h.2) Rumah sakit merupakan suatu tempat dimana orang yang sakit dirawat dan ditempatkan dalam jarak yang sangat dekat. Tetapi, rumah sakit selain untuk mencari kesembuhan, juga merupakan depot bagi berbagai macam penyakit yang berasal dari penderita maupun pengunjung yang berasal dari penderita maupun dari pengunjung yang bersifat karier. Kuman penyakit inidapat hidup dan berkembang di lingkungan rumah sakit, seperti: udara, air, lantai,

25

makanandan benda-benda medis maupun non medis. Cra transmisi mikroorganisme dapat terjadi melalui darah, udara baik droplet maupun airbone, dan dengan kontak langsung. Di Rumah Sakit dan sarana kesehatn lainnya, infeksi dapat terjadi antar pasien, dari pasien ke petugas, dari petugas ke petugas, dari petugas ke pasien dan antar petugas. Menurut Suharmadi (1985, h.13) lantai dapat berfungsi untuk mengisolasi berubahnya temperatur udara dalam ruangan. Lantai dari tanah sebaiknya tidak digunakan lagi sebab musim hujan akan lembab sehingga menimbulkan penyakit. Lantai yang basah menyebabkan udara dalam ruangan menjadi lembab dan akan menurunkan daya tahan terhadap penyakit. Untuk mencegah masuknya air dalam ruangan, sebaiknya lantai dinaikkan minimal 50 cm dari permukaan tanah dan lantai perlu dilapisi dengan lapisan kedap air. Keputusan Menteri Kesehatan R.I Nomor : 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit menyebutkan bahwa lantai rumah sakit harus selalu bersih dan angka kuman lantai yang diberbolehkan di rung operasi 0-5 koloni/cm², dan untuk ruang perawatan 510koloni/cm² .

26

Pada penyehatan ruang dan bangunan rumah sakit syarat lantai rumah sakit adalah: 1. Lantai harus terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, permukaan rata dan mudah dibersihkan. 2. Lantai yang selalu kontak dengan air harus mempunyai kemiringan yang cukup (2-3%) ke arah saluran pembuangan air limbah. 3. Pertemuan lantai dengan dinding harus terbentuk konus/ lengkung agar mudak dibersihkan.

G. Cara Pengepelan Lantai menurut Kepmenkes No 1204/Menkes/SK/X/2004 syarat lantai rumah sakit adalah 1. Lantai terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, permukaan rata dan mudah dibersihkan 2. Lantai yang selalu konntak dengan air harus mempunyai kemiringan yang cukup (2-3%) kearah saluran pembuangan air limbah 3. Pertemuan lantai dengan dinding terbentuk konus/lengkung agar mudah dibersihkan. Mengepel lantai ( Dam Sweeping ) adalah cara membersihkan kotoran diatas permukaan lantai dengan memakai kain pel (Agustinus Daryanto, 1995, h.14). Menurut permenkes No 1204/menkes/SK/X/2004, untuk mengurangi dan mengendaalikan kuman pada lantai dengan menyapunya, kemudian dipel

27

dengan air atau dengan bahan pembersih lantai. Pengendalian lantai di rumah sakit, juga harus diperhatikan cara pelaksanaanya yaitu: 1. Kegiatan pembersihan ruang sebaiknya dilakukan pagi dan sore hari. 2. Pembersihan lantai di ruang perawatan pasien dilakukan setelah pembenahan/ merapikan tempat tidur pasien, setelah jam makan, setelah jam kunjungan dokter, setelah kunjungan keluarga dan sewaktu-waktu bila diperlukan. 3. Cara-cara pembersihan yang dapat menebarkan debu harus dihindari. 4. Harus menggunakan cara pembersihak dengan perlengkapan pel yang memenuhi syarat dan bahan antiseptic. 5. Pada masing-masing ruang supaya disediakan perlengkapan pel sendiri. 6. Pembersihan lantai dimulai dari bagian ruang paling dalam dan bergerak menuju kearah luar. 7. Sewaktu pembersihan lantai dengan perlengkapan pel semua perabotan ruangan seperti meja, kursi, tempat tidur dan lain-lain harus

diangkut/digeser, agar pembersihan lantai sempurna dengan baik, kamar /ruang harus dilengkapi dengan penghawaan mekanis.

28

H. Kerangka teori

Dosis Desinfektan

Angka Kuman lantai

Pengepelan lantai menggunakan desinfektan

Angka kuman lantai ruang sesuai standar

Mencegah infeksi/penya kit

Gambar 2.1 Kerangka Teori

I. Hipotesis Hipotesis yang digunakan adalah dengan hipotesis nol (H0), yaitu tidak ada pengaruh penggunaaan berbagai dosis desinfektan terhadap penurunan angka kuman pada lantai.

29

BAB III METODE PENELITIAN

A. Variabel Penelitian 1. Jenis variabel a. Variabel Bebas Variabel bebas atau variabel independen adalah variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variabel terikat (dependen) sehingga variabel independen dapat dikatakan sebagai variabel yang

mempengaruhi. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah dosis desinfektan 25 ml/liter, 30 ml/liter b. Variabel Pengganggu Variabel pengganggu dalam penelitian ini adalah suhu, kelembaban, pencahayaan. c. Variabel Terikat Variabel terikat atau dependen merupakan variabel kriteria, respon, dan output (hasil). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah angka kuman lantai. d. Variabel kontrol adalah variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga hubungan variabel terikat tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti.

29

30

2. Struktur hubungan variabel Variabel Bebas Dosis Desinfektan 25 ml/lt, 30 ml/liter Variabel Kontrol 1.Jenis lantai 2.Periode Waktu Pengepelan 3.Alat Pengepelan 4.Cara pengepelan 5.Jenis desinfektan 6.Waktu Pengambilan Sampel Variabel Pengganggu 1.Suhu udara 2.Pencahayaan 3.Kelembaban udara 4.Jumlah pasien 5.Jumlah pengunjung 6.Jumlah penunggu

Variabel Terikat Penurunan Angka kuman lantai

Gambar 3.1 Variabel Penelitian

3. Difinisi operasional No Variabel Definisi Operasional Cara Satuan Mendapatkan Data Skala Data

1 Angka Jumlah koloni yang Usap Lantai Koloni/cm² kuman lantai terhitung pada media pemeriksaan sampel kuman lantai sebelum dan sesudah pemberian desinfektan 2 Desinfektan Bahan kimia untuk membunuh atau menurunkan kuman Label Ml

Rasio

Rasio

31

3 Alat Pengepel 4 Jenis lantai

Peralatan yang wawancara digunakan untuk mengepel lantai Jenis lantai yang pengamatan terbuat Lux Rasio

5 Pencahayaan Intensitas penerangan Pengukuran yang terukur dalam ruang Kenanga yang diukur dengan Luxmeter 6 Suhu Temperatur dalam ruang Kenenga yang diukur dengan menggunakan thermohygrometer Jumlah uap air dalam udara di ruang Kenanga yang diukur dengan menggunakan thermohygrometer Dosis desinfektan yang diguakan untuk mengepel yaitu 25 ml, 30 ml dilarutkan dalam 1 liter air Jam saat dilakukan pengepelan yaitu jam 07.00 Teknik yang dilakukan petugas kebersihan dalam membersihkan lantai, dilakukan dengan menggunakan pel dengan gerakan horizontal bolak balik Pengukuran

°C

RAsio

7 Kelembaban

Pengukuran

%

Rasio

8 Dosis Desinfektan

Pengukuran

ml/lt

Rasio

9 Waktu pengepelan 10 Cara pengepelan

Pengamatan

Menit

Interval

wawancara

32

B. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah quasi eksperimen dengan menggunakan metode komparasi dengan pendekatan cross sectional, dengan maksud untuk mengetahui angka kuman sebelum dan sesudah pada lantai di ruang Kenanga RSUD Prof. Margono Soekarjo Purwokerto.

C. Waktu dan Lokasi Penelitian 1. Waktu penelitian a. Tahap persiapan Tanggal Desember 2010 - Februari 2011. b. Tahap pelaksanaan Tanggal Maret 2011 - April 2011. c. Tahan penyelesaian Tanggal Mei 2011 - Juni 2011. 2. Lokasi penelitian Ruang perawatan bedah pria kelas tiga di Ruang kenanga RSUD Prof Dr. Margono Soekarjo Purwokerto

D. Populasi dan sampel 1. Populasi Populasi pada penelitian ini adalah lantai ruang Kenanga RSUD Prof Dr. Margono Soekarjo Purwokerto dengan luas kamar 10x5 m2 .

33

2. Sampel Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode purposive sampling, artinya teknik pengambilan sesuai dengan kehendak peneliti sesuai dengan tujuan penelitian, dan Jumlah titik yang akan diteliti sebanyak 3 titik, sebanyak 14 sampel dan di lakukan pengulangan selama 2x yaitu pada hari senin, rabu. Alasan menggunakan metode purposive sampling: a. Penentuan sampel yang akan di teliti lebih cepat b. Sampel diambil secara kebetulan/sengaja sesuai kehendak peneliti. c. Mendapatkan sampel sesuai tujuan penelitian.

E. Pengumpulan Data 1. Jenis Data a. Data umum Meliputi gambaran umum RSUD Prof Dr. Margono Soekarjo Purwokerto, ruang kenanga, jumlah pasien, jumlah penunggu, dan jumlah pengunjung. b. Data Khusus Data khusus dalam penelitian ini meliputi, suhu ruangan, kelembaban ruangan, pencahayaan ruangan, dosis desinfektan, angka kuman lantai.

34

2. Sumber Data a. Sumber Data Primer Sumber data primer dalam penelitian ini adalah hasil pengukuran yang di lakukan di laboratorium terhadap jumlah kuman pada lantai, pengukuran suhu dan kelembaban serta wawancara dengan petugas. b. Data Data Sekunder Sumber data sekunder berupa arsip dokumen rumah sakit serta bukubuku referensi. 3. Cara Pengumpulan data a. Observasi terhadap obyek yang akan diteliti yaitu pengamatan kondisi lingkungan lantai ruangan dan pengukuran kuman pada lantai dengan alat bantu checklist dan kuesioner. b. Mengutip arsip dan laporan yaitu menyalin semua data rumah sakit yang diperlukan dalam penelitian c. Pengukuran yaitu mengadakan pengukuran menggunakan alat ukur untuk menentukan suhu, kelembabab dan pencahayaan. d. Pemeriksaaan yaitu pemeriksaan laboratorium dengan usap lantai angka kuman sebelum dan sesudah pengepelan menggunakan desinfektan.

35

F. Pengolahan data 1. Editing Yaitu mengadakan seleksi dan pemilihan data sesuai dengan kelompoknya 2. Coding Yaitu pemberian kode pada data untuk memudahkan dalam analisis data. 3. Tabulating Yaitu memasukkan data dalam tabel untuk mempermudah pengolahan

G. Analisis Data Sesuai dengan tujuan penelitian yaitu diketahuinya pengaruh dosis desinfektan terhadap penurunan angka kuman lantai. Maka analisis yang dipakai menggunakan uji student test (T-Test) untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan.

BAB IV HASIL
A. Gambaran Umum RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto 1. Data Umum a. Lokasi RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto berada di kota Purwokerto Timur yang berbatasan dengan kota Sokaraja di Jalan Dr. Gumbreg No. 1 Purwokerto, dengan luas area yang ditempati RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto seluas 11,5 hektar. b. Struktur organisasi Struktur organisasi dan tata kerja RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto semula berdasarkan pada Peraturan Daerah No. 4 tahun 1997 yang berpedoman pada : 1) SK Menkes RI No. 983/MENKES/SK/XI/1992 tanggal 2 November 1992. 2) SK Dirjen Pelayanan Medik No. 811/2/2/VII/1993, tanggal 3 Juli 1993.

36

37

Struktur organisasi yang dipakai sekarang adalah struktur organisasi yang sudah Prof. diadakan Dr. perubahan, yaitu struktur

organisasi RSUD

Margono

Soekarjo

Purwokerto

berdasarkan SK Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Tengah No. 445/19/1995dan Perda No. 4 tahun 1997 tentang organisasi dan tata kerja RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto sebagai berikut: 1) Organisasi rumah sakit dipimpin oleh seorang Direktur 2) Dalam memimpin rumah sakit Direktur dibantu oleh tiga orang Wakil direktur (Wadir), yaitu : Wadir Pelayanan dan kerjasama, Wadir penunjang dan pendidikan, dan Wadir

umum dan keuangan. Struktur organisasi RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto dapat di lihat pada lampiran 7. c. Jenis tenaga kerja di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo

Purwokerto Sumber daya manusia yang menunjang kegiatan di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto adalah tenaga kerja Pegawai Negri Sipil (PNS) dan tenaga kerja Non Pegawai Negri Sipil (Non PNS). Jumlah tenaga kerja di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto terlihat pada tabel 4.1.

38

Tabel 4.1 Jumlah Dan Jenis Tenaga Kerja Di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Tahun 2011 No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. JENIS TENAGA KERJA Dokter umum Dokter spesialis Rehabilitasi medis Dokter spesialis Anestesi Dokter spesialis Radiologi Dokter spesialis Kulit kelamin Dokter spesialis anak Dokter spesialis mata Dokter spesialis Patologi klinik Dokter spesialis Patologi anatomi Dokter spesialis Kandungan dan Kebidanan Dokter spesialis Bedah Orthopaedi Dokter spesialis Bedah syaraf Dokter spesialis THT Dokter spesialis Kesehatan Jiwa Dokter spesialis Orthodonsi Dokter Gigi Dokter umum PTT Dokter saraf Dokter penyakit darah Dokter kardiologi Dokter bedah onkologi Apoteker Sarjana Kesehatan Masyarakat DIV Gizi Sarjana Biologi Akper DIII Keperawatan Bidan Psikologi AOT (Akademi Okupasi Terapi) Analis farmasi kesehatan (SMA) Asisten apoteker DIII sanitasi Tenaga Kesehatan Masyarakat(S2 Kesmas + S1 Gizi) DIII Gizi D3 Anestesi DIII Fisioterapi DIV Fisika medis Radiografer + D3 Radiologi JUMLAH ORANG 21 1 3 1 2 4 3 1 1 5 2 1 1 1 1 11 1 4 3 1 1 5 4 13 1 321 21 1 2 6 28 9 4 13 7 6 1 11

39

39 Teknisi elektro medis 5 40. Analis kesehatan 20 41. Sarjana ekonomi 12 42. Sarjana hokum 4 43. Sarjana sospol 8 44. DIII Ekonomi/ Akuntansi 4 45. DIII Administrasi 1 46. SLTA 142 47. SLTP 23 48. SD 62 JUMLAH 796 Sumber : Sub Bagian Penyelenggaraan Program dan Laporan RSMS Purwokerto

40

d. Manajemen kerja sanitasi kesehatan lingkungan di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Purwokerto adalah : Manajemen adalah kemampuan dan keterampilan dalam mencapai atau memperoleh hasil. Landasan kerja dan Undang-undang atau dasar kebijaksanaan kegiatan penyehatan lingkungan di Margono Soekarjo 1) Permenkes No. 983 tahun 1992 tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit. 2) Permenkes No. 986 tahun 1992 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. 3) Keputusan Dirjen P2M dan PLP No.HK. 00.06.0.44 tahun 1993 tentang Persyaratan dan Petunjuk Teknis Tata Cara Penyehatan Lingkungan Rumah Sakit. 4) Perda Tingkat I Jawa Tengah No. 4 tahun 1997 tentang Organisasi dan Tata Kerja RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. 5) SK Direktur RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo No.

800/1.3/217/1/1999 tentang Penunjukan atau Pemberhentian Kepala Instalasi pada RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. 6) Buku Pedoman Sanitasi Rumah Sakit Depkes RI tahun 1997.

41

e. Kapasitas tempat tidur RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto mempunyai kapasitas tempat tidur sebanyak 400 tempat tidur yang terbagi dalam beberapa ruangan seperti tercantum dalam table 4.2. Ruang Kenanga untuk merawat penyakit dalam pria dan ruangan tersebut mempunyai 38 tempat tidur. Tabel 4.2 Data Kelas Dan Jumlah Tempat Tidur RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Tahun 2010 KELAS JUMLAH KEPERAWATAN TTD No.
A. IRNA I

1. 2. 3. 4. 5. 6.

VVIP VVIP A Utama Kelas I Kelas II Kelas III JUMLAH Kelas I Kelas II Kelas III JUMLAH Flamboyan Ibu Flamboyan Bayi Melati JUMLAH

2 36 3 36 50 83 210 46 49 97 192 38 17 21 76

B. IRNA II

1. 2. 3.

C. INSTALASI MATERNAL PERINATAL

1. 2. 3.

D. INSTALASI RAWAT INTENSIF

ICU 8 ICCU 4 HCU 7 JUMLAH 19 Sumber : Sub Bagian Penyelenggaraan Program dan Laporan RSMS Purwokerto

1. 2. 3.

42

f. Data ruang Kenanga Tabel 4.3 Data ruang Kenanga Kelas 3 RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Tahun 2011 No. 1 2 3 4 5 6 Ruang Kenanga Dokter Perawat Pasien Penunggu Pengunjung Petugas kebersihan Jumlah 1 orang 5 orang 10 orang 10 orang 10 orang 2 orang Persentase 3% 13,15% 26,31% 26,31% 26,31% 5,26%

Sumber : Sub Bagian Penyelenggaraan Program dan Laporan RSMS Purwokerto

B. Data Khusus 1. Data Khusus RSUD prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto adalah rumah sakit milik pemerintah Propinsi Jawa Tengah mempunyai beberapa ruangan salah satunya ruang Kenanga. Ruang Kenanga sebagai salah satu unit pelayanan rawat inap dari RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto yang digunakan untuk perawatan pasien bedah pria, dan pasien luka bakar.

43

Ruang Kenanga merupakan rawat inap bagi pasien bedah dan pasien luka bakar. Keramiknya yang berukuran 30 x 30 cm berwarna putih, pintu dan jendela dalam keadaan baik. Pengepelan yang dilakukan petugas di ruang Kenanga dilakukan oleh petugas di ruang Kenanga RSUD Prof. Dr. margono Soekarjo Purwokerto menggunakan desinfektan floor cleaner dengan dosis 25 desinfektan dan 1 liter air. Desinfektan tersebut dirutkan ke air, lalu digosokkan desinfektan tersebut dengan kain pel diusapkan ke lantai secara bolak – balik satu kali dengan tekanan cukup. 2. Hasil Pengukuran a. Suhu Ruangan Suhu diukur dengan menggunakan thermometer yang

dilakukan pagi hari sebelum dibersihkan dan sesudah dibersihkan menggunakan desinfektan. Adapun hasil pengukuran suhu ruangan adalah: Tabel 4.4 Hasil Pengukuran Suhu di Ruang Kenanga RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Tahun 2011 No Waktu Pengambilan Hasil Pengukuran Suhu (ºC) sampel Sebelum Sesudah 1 2 3 4 Senin 04 Juli 2011 Rabu 06 Juli 2011 Senin 08 Juli 2011 Rabu 11 Juli 2011 Rata-rata 27 27 26 27 26,75 28 29 28 28 28,25

44

b. Kelembaban Ruangan Kelembaban udara ruangan di ukur menggunakan

Thermohygrometer yang dilakukan pagi hari sebelum dan sesudah dibersihkan. Adapun hasil pengukuran kelembaban ruangan adalah: Tabel 4.5 Hasil Pengukuran Kelembaban di Ruang Kenanga RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Tahun 2011 No Waktu Hasil Pengukuran Kelembaban Pengambilan (%) sampel Sebelum Sesudah 1 2 3 4 Senin 04 Juli 2011 Rabu 06 Juli 2011 Senin 08 Juli 2011 Rabu 11 Juli 2011 Rata-rata 69 68 69 69 68,75 69 67 68 69 68,25

45

c. Pencahayaan Ruangan Intensitas cahaya diukur menggunakan Luxmeter sebelum dilakukan usap lantai yaitu sebelum dibersihkan dengan desinfektan dan sesudah dibersihkan menggunakan desinfektan. Pengukuran dilakukan pada pagi hari, pencahayaan yang digunakan adalah pencahayaan alami yang masuk ke ruang Kenanga. Tabel 4.6 Hasil Pengukuran Pencahayaan di Ruang Kenanga RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Tahun 2011 No Waktu Pengambilan Hasil Pengukuran sampel Pencahayaan (Lux) Sebelum 1 2 3 4 Senin 04 Juli 2011 Rabu 06 Juli 2011 Senin 08 Juli 2011 Rabu 11 Juli 2011 Rata-rata 55 55 55 55 55 Sesudah 55 55 56 55 55,25

d. Kuman Lantai Hasil pemeriksaan pada saat penelitian selama 4 hari yaitu pada tanggal 04, 06, 08, dan 11 Juli 2011 saat pemeriksaan ada pada tabel 4.7.

46

Jumlah Kuman Pada Lantai di Ruang KenangaRSUD Prof. Dr. Margono soekarjo Purwokerto Sebelum dan Sesudah Pemberian Desinfektan serta Prosentase Penurunannya Tahun 2011 Hasil Pemeriksaan sebelum (koloni/cm²) 11 30 36 25 12 22 26 20 14 31 35 26 15 21 29 21 23 Hasil Pemeriksaan sesudah (koloni/cm²) 25 mL/L 30 mL/L 1 4 5 3 5 8 9 7 1 3 5 3 5 7 9 7 7 Prosentase (%)

No 1

Waktu pengambilan sampel Senin 4 juli 2011

2

Rata-rata Rabu 6 juli 2011

3

Rata-rata Senin 8 juli 2011

4

Rata-rata Rabu 11 juli 2011

Rata-rata Total rata-rata

3

90,9 86,6 79,4 88 58,3 63,6 65,6 65 92,8 90,3 85,7 88,4 66,6 66,6 68,9 66,6 77

Hasil pemeriksaan usap lantai dilakukan sebelum ruangan dibersihkan dan setelah ruangan dipel dengan desinfektan. Pemeriksaan sampel dilakukan dengan mengambil usap lantai yang diambil dari ruang Kenanga kelas 3.

47

e. Desinfektan Untuk pengepelan ruang Kenanga RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto peneliti menggunakan desinfektan yang

mengandung bahan aktif Benzachronium chloride 1%. Dosis yang digunakan dalam pencampuran desinfektan adalah 25ml desinfektan dilarutkan dengan 1liter air dan 30ml desinfektan dilarutkan dengan 1liter air. f. Cara pengepelan Lantai Alat yang digunakan petugas kebersihan adalah pel dan bahan desinfektan yang digunakan dalam pengepelan floor Cleaner yang mengandung bahan akif Benzachronium chloride 1%. Tenaga atau petugas kebersihan di ruang Kenanga terdiri dari 2 orang yang melakukan shift pagi dan siang yaitu terdiri dari 2 shift, untuk shift yang pertama jam 07.00 WIB dan Shift siang jam 14.00 WIB. Metode pengepelan yang dilakukan petugas kebersihan di ruang Kenanga adalah pengepelan dilakukan secara manual dengan cara horizontal maju mundur dengan tekatan cukup. Adapun cara pengepelen di ruang Kenanga yaitu sebelum dipel lantai dibersihkan dengan menggunakan sapu untuk menghilangkan debu kemudian dilakukan pengepelan dengan menggunakan desinfektan.

48

Tabel 4.8 Kegiatan Pembersiahan di ruang Kenanga RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Tahun 2011 No Ruang Kenanga 1 2 3 4 5 6 7 Alat Tenaga Metode Cara Jadwal Dosis Bahan Pel 2 Orang Pengepelan Horisontal bolak - balik Pagi jam 07.00 WIB dan Siang jam 14.00 WIB 2ml desinfektan dicampur 1 liter air. Desinfektan Floor Cleaner Hasil

BAB V PEMBAHASAN A. Jumlah Pasien, Penunggu dan Pengunjung Jumlah pasien rawat inap ruang Kenanga di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto selama penelitian tidak pernah kosong. Hal ini dapat dilihat dari jumlah tempat tidur yang disediakan. Kapasitas tempat tidur yang disediakan yaitu 10 tempat tidur untuk 10 orang pasien yang dirawat. Menurut Depkes RI (1996, h.7) semakin padat penghuni ruang perawatan, akan semakin tinggi resiko terjadinya infeksi. Pasien selain dapat berperan sebagai penyebar mikroorganisme berbahaya (penyakit menular), juga kemungkinan mudah terinfeksi oleh mikroorganisme, terutama pada pasien yang kondisi tubuhnya sudah lemah. Jumlah pengunjung setiap hari di ruang Kenanga kelas 3 RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto rata-rata setiap pasien 10 orang. Pengunjung. Para pengunjung pada saat berkunjung umumnya membawa bingkisan makanan untuk pasien dan ada juga yang sebagian dimakan sendiri. Menurut Srikandi Fardiaz (1992, h.45) sisa makanan yang terjatuh di lantai untuk pasien tersebut selain merupakan makanan bagi manusia juga merupakan makanan bagi mikroorganisme yang ada di lantai ruang perawatan, sehingga dengan datangnya pengunjung dapat mengakibatkan kuman lantai bertambah. Pengunjung selain mempunyai kemungkinan dapat

49

50

berperan sebagai pembawa bahan makanan bagi mikroorganisme penyebab penyakit menular ke pasien dan benda-benda yang berada di ruang perawatan. Jumlah penunggu yang banyak, bararti akan meningkatkan lebih banyak aktifitas di dalam ruang perawatan, hasil dari aktifitas adalah sampah. Sampah selain dapat digunakan untuk tempat tinggal mikroorganisme juga mengandung bahan makanannya bagi kehidupannya Semakin tinggi dosis desinfektan yang diberikan untuk pembersihan lantai akan semakin kecil angka kuman lantainya, untuk itu sebaiknya dosis desinfektannya diperbesar agar bisa menurunkan angka kuman lantai lebih banyak. Pada saat pelaksanaan pembersihan lantai, seluruh penunggu supaya keluar dari ruang perawatan, sehingga petugas kebersihan tidak terganggu oleh masuknya penunggu. B. Suhu Ruangan Menurut Kepmenkes RI No. 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang

persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit, suhu di ruang perawatan distandarkan 22 - 24ºC. Suhu di ruang perawatan Kenanga RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto saat dilakukan penelitian rata – rata 28ºC, suhu tersebut berarti melebihi standar yang ditetapkan. Suhu terendaah biasanya terjadi pada pagi hari, karena pada pagi hari intensitas sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan. Suhu ruangan akan mengalami kenaikan sedikit demi sedikit seiring dengan bertambahnya intensitas sinar matahari yang masuk ke daalam ruangan.

51

Menurut Nyoman Suhendra, et. al (1991, h.35), beberapa spesies dari bakteri daapat tumbuh pada suhu 0ºC, sedangkan spesies yang lainnya ada yang tumbuh pada suhu yang ekstrim yaitu 90ºC atau lebih. Pada umumnya bakteri tumbuh pada batas kedua batas ekstrim tersebut (0 – 90ºC). Jadi dengan suhu diatas 25ºC pada ruang Kenanga RSUD Prof. Dr Margono Soekarjo Purwokerto merupakan suhu yang baik bagi pertumbuhan bakteri. Usaha untuk menurunkan suhu ruangan dapat dilakukan dengan jalan mengupayakan pemanfaatan penghawaan alami secara optimum, artinya pada ruangan yang jendelanya permanen di usahakan dibuat tidak permanen dan pengaturan jumlah pengunjung dan jam kunjungan, pengaturan jumlah penunggu pasien yang ada di ruangan, sosialisasi tata tertib ruangan dengan menempelkan tata tertib pada tiap ruangan. Kelancaran sirkulasi udara di dalam ruangan diharapkan dapat mengkondisikan ruangan sesuai dengan persyaratan sehingga angka kuman tetap rendah, karena secara tidak langsung suhu dapat mempengaruhi jumlah kuman lantai.

C. Kelembaban Ruangan Kelembaban ruang Kenanga RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto pada saat dilakukan penelitian rata-rata 68%, menurut Kepmenkes RI No 1204/ tahun 2009 tentang persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit, kelembaban di ruang perawatan distandarkan 45 – 60 %, jadi nilai kelembaban pada saat penelitian belum memenuhi standar.

52

Menurut Depkes RI (1996, h.23) udara ruang yang terlalu lembab dapat menyebabkan tumbuhnya bermacam-macam jamur daan spora. Udara yang terlalu kering menyebabkan keringnya lapisan mukosa dan merupakan pre disposisi infeksi saluran pernapasan akut. Kelembaban ruangan dapat berpengaruh terhadap mikroorganisme yang ada di lantai, tetapi

mikroorganisme tersebut dapat hidup dan berkembang tidak hanya tergantung kepada kelembaban ruangan saja, tetapi lebih membutuhkan unsure – unsure yang lain. Usaha yang dilakukan untuk mengurangi kelembaban ruangan dapat dilakukan dengan cara membatasi jumlah pengunjung dan jumlah penunggu pasien, ventilasi 15% dari luas lantai karena kelancaran sirkulasi udara akan mempengaruhi kelembaban.

D. Pencahayaan Ruangan Pencahayaan ruangan yang dimaksud adalah pencahayaan alami pada waktu pukul 08.00, yaitu pada saat dilaksanakan pembersihan ruangan sampai dengan saat pengepelan menggunakan larutan desinfektan. Pencahayaan yang lebih terang mengakibatkan petugas kebersihan dapat lebih teliti dalam upaya membersihkan lantai ruangan sehingga seluruh lantai dapat disapu dan dipel dengan rata tanpa ada yang terlewatkan. Menurut Mitchael J Pelczar (1988, h.232) pencahayaan alami juga dapat sebagai desinfektan bagi jenis mikroba tertentu, seperti kuman TBC.

53

Sesuai Kepmenkes RI No.1204/menkes/SK/2004 tentang persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit, standar pencahayaan untuk ruang perawatan yaitu 100-200 lux, sedangkan Intensitas pencahyaan di ruang Kenanga berdasarkan data atau laporan dari pihak instalasi Penyehatan Lingkungan RSUD Prof Dr. Margono Soekarjo Purwokerto kurang dari 100 lux sehingga belum memenuhi standar yang dipersyaratan menurut Kepmenkes RI tentang persyaratan penyehatan lingkungan rumah sakit. Hal ini disebabkan pada saat penelitian sinar matahari terhalang oleh awan tebal dan cahaya lampu dalam ruangan juga tidak begitu terang. Usaha agar pencahayaan di dalam ruangan dapat memenuhi standar yang dipersyaratkan yaitu dengan cara membuka jendela lebar – lebar, menambahkan jendela bagi ruangan yang kurang, memasang genteng kaca dengan eternit yang transparan agar sinar matahari dapat masuk ruangan, dan bila perlu ditambah pencahaya buatan seperti lampu dinyalakan pada siang hari apabila dalam ruangan masih kurang terang.

E. Kuman lantai Jumlah rata-rata kuman lantai ruangan sebelum dibersihkan dengan desinfektan adalah 23 koloni/cm², dan setelah pemberian desinfektan dosis 25 ml/liter terjadi penurunan rata – rata yaitu 7 koloni/cm², sedangkan setelah pemberian desinfektan dosis 30 ml/liter mengalami penurunan 3 koloni/cm². Nilai tersebut memenuhi persyaratan yang ditetapkan yaitu 5-10 koloni/cm²

54

pada ruang perawatan menurut Kepmenkes RI No 1204 tentang persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit. Persyaratan angka kuman lantai 5-10 koloni/cm² pada ruang perawatan mempunyai tujuan baik, yaitu salah satu upaya pencegahan penyakit menular yang disebabkan oleh mikroorganisme di ruang perawatan, sehingga dengan adanya data angka kuman lantai ruang lantai ruang Kenanga sebelum pengepelan dengan tanpa desinfektan selama penelitian adalah 23 koloni/cm², yang berarti setiap pasien , petugas dan penunggu mempunyai resiko terkontaminasi dan terinfeksi mikroorganisme. Angka kuman lantai sebelum pemberian desinfektan adalah 23 koloni/ cm² dan setelah pemberian desinfektan dosis 25 ml adalah 7 koloni/cm², sedangkan menggunakan dosis 30 ml 3 koloni/cm² . Tingginya jumlah kuman lantai sebelum pemberian desinfektan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi tetapi pada saat pelaksanaan pengusapan lantai, peneliti curiga terhadap tingginya kotoran yang menempel pada kapas setelah mengusap permukaan dan sela-sela keramik yang kotor karena penyapuan dan pengepelan yang kurang bersih. Menurut Srikandi Fardiaz (1992, h.78) faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jasad renik adalah nutrient, air, suhu, pH, oksigen, adanya zat penghambat misaalnya desinfektan dan adanya jasad renik lain. Suhu di ruang Kenanga pada saat pemeriksaan 27-29ºC. Menurut Srikandi fardiaz (1992, h.81) jasad renik mempunyai suhu masing-masing untuk tumbuh.

55

Adanya perbedaaan jumlah kuman sebelum dan sesudah pemberian desinfektan dari faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jasad renik adalah karena adanya zat penghambat, karena apabila pengaruh pencahayaan, suhu, kelembaban, jumlah pengunjung, jumlah pasien, dan jumlah penunggu pasien pada saat penelitian baik sebelum dan sesudah pemberian desinfektan adalah relatif sama. Perbedaan yang mendasar adalah adanya pengaruh pemberian dosis desinfektan 25ml dan 30ml.

F. Desinfektan Diketahui untuk penelitian kali ini peneliti menggunakan 2 dosis desinfektan yang berbeda, dosis yang digunakan antara lain 25ml/liter, dan 30ml/liter. Maksudnya 25 ml desinfektan dilarutkan kedalam 1 liter air, dan 30 ml desinfektan dilarutkan kedalam 1 liter air. Untuk pengepelan menggunakan desinfektan dosis 25 ml/liter mengalami prosentase penurunan kuman lantai hingga 65,8 %, sedangkan menggunakan desinfektan dosis 30 ml/liter mengalami prosentase penurunan kuman lantai hingga 88,35 %. Ini berarti semakin tinggi dosis desinfektan yang diberikan, maka akan semakin tinggi pula jumlah prosestase penurunan angka kuman lantainya.

56

G. Cara Pengepelan lantai Menurut kamus besar Bahasa indonesia (Indonesia, Depdikbud, 1995, h.541) kuman adalah mikroorganisme yang amat kecil yang dapat menyebabkan penyakit. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor:

1204/Menkes/SK/X/2004 tentang persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit (2004, h.130 menyebutkan bahwa untuk mengurangi dan

mengendalikan kuman pada lantai adalah membersihkan kotoran yang ada dengan menyapunya, kemudian dipel dengan air atau dengan bahan pembersih lantai. Pengendalian kuman pada lantai di ruang Kenanga RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto dilakukan oleh petugas kebersihan sebagai berikut: 1. Kegiatan pembersihan atau pengepelan di ruang Kenanga dilakukan pagi jam 07.00 WIB dan siang jam 14.00 2. Pembersihan lantai di ruang Kenanga dilakukan setelah pembenahan / merapikan tempat tidur pasien, setelah jam makan, setelah jam kunjungan dokter, daan setelah kunjungan keluarga. 3. Cara pembersihan dan pengepelan di lantai ruang kenanga dengan menggunakan perlengkapan pel yang memenuhi syarat seperti kondisi peralatan masih dalam keadaan baik dan bahan yang digunakan sebagai campuran pel yaitu desinfektan yang sudah memenuhi syarat dan bisa menurunkan jumlah kuman.

57

4. Pembersihan lantai yang dilakukan di ruang kenanga dimulai dari bagian ruangan paling dalam dan bergerak menuju kearah luar hal ini untuk memudahkan petugas kebersihan dalam membersihkan ruangan dan dan untuk menurunkan jumlah kuman. 5. Sewaktu pembersihan lantai dengan perlengkapan pel di ruang Kenanga petugas merapikan semua perabotan ruangan seperti meja, kursi, tempat tidur, dan lain-lain harus diangkut / digeser, agar pembersihan lantai sempurna dengan baik.

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan 1. Rata – rata jumlah kuman lantai di ruang Kenanga RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto sebelum pemberian desinfektan adalah 23 koloni/cm². 2. Rata – rata jumlah kuman lantai ruang Kenanga RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto sesudah pemberian desinfektan 25ml/L adalah 7 koloni/cm² dan penggunaan desinfektan 30ml/L adalah 3 koloni/cm². 3. Rata – rata prosentase penurunan angka kuman pada lantai ruang Kenanga RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo purwokerto sesudah pengepelan menggunakan desinfektan 25ml/L adalah 65,8 %, sedangkan prosentase pengepelan menggunakan desinfektan 30 ml/L adalah 88,35 %. 4. Pengepelan yang paling efektif menggunakan desinfektan dengan dosis 30 ml yang dilarutkan dalam 1 liter air dengan rata-rata angka kuman 3 koloni/cm², angka kuman yang di standarkan 5-10 koloni/cm².

58

59

B. Saran 1. Bagi Rumah Sakit Membatasi jumlah pengunjung dan jumlah penunggu pasien yang memasuki ruang perawatan dengan penetapan tata tertib di ruang perawatan serta penerapan waktu kunjungan. Tata tertib sebaiknya dipasang pada lokasi yang diketahui dan dibaca. 2. Bagi Petugas Kebersihan a. Untuk menghambat pertumbuhan kuman pada lantai ruangan sebaiknya petugas apabila membersihkan lantai ruangan selalu menggunakan desinfektan 30 ml/liter, karena dosis desinfektan

tersebut efektif menurunkan kuman dalam jumlah banyak. b. Mengepel lantai secara merata sehingga tidak ada bagian yang terlewatkan termasuk sela-sela keramik yang kotor daan perbatasan lantai dengan dinding. c. Mencuci kain pel sampai bersih, kemudian direndam dalam larutan desinfektan dan dijemur hingga kering. Tersedia minimal tiga kain pel yang berbeda untuk di gunakan tiap kelas yang berbeda. 3. Bagi pasien, Pengunjung dan Penunggu Pasien a. Pada saat dilakukan pengepelan oleh petugas, sebaiknya pengunjung dan penunggu pasien berada di luar ruangan.

60

b. Meningkatkan disiplin kepada pasien, penunggu dan pengunjung dengan cara menaati peraturan yang ada di rumah sakit. c. Pengunjung dan penunggu pasien untuk melepas alas kaki saat akan memasuki ruang perawatan supaya kuman dari alas kaki tidak ikut masuk ruangan.

DAFTAR PUSTAKA

Anies, 2006, Managemen Berbasis Lingkungan Solusi Mencegah Dan Menanggulangi Penyakit Menular. Elek Medoka Komputindo, Jakarta. Anwar, A, 1990, Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan, Jakarta Azrul Azwar, 1987. Pengantar Ilmu Kesehatan lingkungan. Jakarta: Mutiara Sumber Widya Darmadi, 2008, Infeksi Nosokomial: Problematika dan Pengendaliannya, Jakarta, Medika Departemen Kesehatan RI, 1993, Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit, Dirjen PPM & PLP, Jakarta , Pedoman Sanitasi Rumah Sakit, Dirjen PPM & PLP, Jakarta Departemen Kesehatan RI, 2004, Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit, Dirjen PPM & PLP, Jakarta Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.1991. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua. Jakarta: Balai Pustaka. Djasio Sanropie, et.al., 1989, Komponen Sanitasi Rumah sakit Untuk Institusi Pendidikan Tenaga Sanitasi, Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia Djaya, I, 1990, Pengorganisasian dan Tata Laksana Sanitarian Rumah Sakit, Pusdiknakes Depkes RI, Jakarta. Djojodibroto, D., 1997, Kiat Mengelola Rumah Sakit. Hipokrates, Jakarta Fachrul, F.M., 2007. Metode Sampling Bioekologi, Bumi Aksara, Jakarta Handoko Riwidikdo, 2007, Statistik Kesehatan, Yogyakarta; Mitra Cendikia Press Indonesia, Depdikbud, 1995, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pusat Pembinaan dan Pengembangan bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka Indonesia, Departemen Kesehatan, 2004, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1204/Menkes/ SK/X/2004 Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit, Jakarta, Direktorat jenderal pemberantasan Penyakit Menukar dan Penyakit Lingkungan

Marzuki, 2000, Metodologi Riset, Yogyakarta: BEFT – UII Notoatmodjo, S., 2005, Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta Pudjirahardjo, W.J. , 1993, Penentuan Besar Sampel dalam penelitian dan Statistik Terapan, Airlangga University press, surabaya. Putut karyawan, 2010 Sripsi Pengaruh Desinfektan Terhadap penurunan Desinfektan Terhadap Penurunan Angka Kuman Lantai di Ruang Bougenfil RSUD Banyumas, Purwokerto Kemenkes D4 JKL Sanropie, dkk., 1989, Komponen Sanitasi Rumah Sakit untuk Institusi Pendidikan Tenaga Sanitasi, Departemen Kesehatan RI proyek Pengembangan pendidikan Tenaga Kesehatan, Jakarata. Smet B. 1994, Psikologi Kesehatan, Grasindo, Jakarta Soekidjo Notoatmojo, 2009, Metodologi Penelitian kesehatan, Jakarta: Rineka Cipta Sugiarto, 2006, Teknik Sampling, Jakarta; PT. Gramedia Pustaka Utama Suhardi, S.H., Koesnandar, D. K. Indriani, H. Arnaldo. 2008. Biosafety : Pedoman Keselamatan Kerja di Laboratorium Mikrobiologi dan Rumah Sakit. PT. Multazam Mitra Prima Suroso, Lasam, 1990, Petunjuk Praktikum Mikrobiologi, Fakultas Biologi Unsoed. Purwokerto Sutomo, Adi Heru, 1996, Aspek Kesehatan Lingkungan di rumah Sakit, Bagian Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta. Tri Cahyono, dkk, 2009, Pedoman Penulisan Skripsi, Purwokerto: Departemen kesehatan Republik Indonesia Politeknik Kesehatan Depkes Semarang Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto program studi Diploma IV Kesehatan Lingkungan Wilujeng Barokah, 2008, Skripsi Studi Jumlah Kandungan Kuman pada Lantai Bangsal Perawatan Rumah Sakit Wijayakusuma Puwokerto. Purwokerto, kemenkes D3 JKL

Lampiran 1

PENGARUH DOSIS DESINFEKTAN TERHADAP PENURUNAN ANGKA KUMAN PADA LANTAI DI RUANG KENANGA RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO TAHUN 2011
Prosedur Pengambilan Sampel Pada lantai A. Metode Usap (swab)

B. Alat 1. Lidi kapas steril, yaitu lidi dililit kapas 2. Sarung tangan steril 3. Formulir pengambilan pemeriksaan laboratorium 4. Gunting 5. Selotip 6. Bunsen 7. Korek api 8. Alat tulis 9. Tas pembawa dalam hal ini adalah termos es

C. Bahan 1. Larutan Buffer NACL 0,85% sebanyak 100 ml dalam botol 2. Alkohol

D. Prosedur Kerja 1. Persiapkan alat, formulir pemeriksaan dan aseptiskan tangan 2. Menentukan titik pengambilan sample pada ruangan yang akan diambil sampelnya untuk berukuran 30 x 30 cm yang sering di lalui orang. 3. Lidi kapas steril dibuka pembungkusnya didekat Bunsen yang menyala 4. Selanjutnya dimasukkan kedalam larutan buffer yang ada didalam botol secara aseptis, kemudian lakukan pengambilan sample 5. Pengambilan sample dengan cara mengusapkan lidi kapas ke lantai sesuai dengan titik dan luas yang ditentukan secara menyilang. Satu lidi kapas untuk satu titik pengambilan 6. Kemudian lidi kapas tersebut dikumpulkan didalam botol yang berisi larutan buffer. Lidi patahkan, bibir botol panaskan dekat Bunsen 7. Botol tersebut diberi label yang berisi lokasi, tanggal, jam pengambilan dan nama petugas pengambil sample 8. Segera dikirim ke laboratorium pada suhu 5°C, paling lambat 1x24 jam.

Lampiran 2

PENGARUH DOSIS DESINFEKTAN TERHADAP PENURUNAN ANGKA KUMAN PADA LANTAI DI RUANG KENANGA RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO TAHUN 2011
Prosedur Pengukuran Pencahayaan A. Alat Lux meter (Takemura DX-100) B. Bahan Ruangan penelitian C. Prosedur kerja 1) Persiapkan a) Jarak antara pengukur dengan alat ± 60-90 cm b) Tinggi alat dari permukaan lantai ± 85 cm c) Pakaian pengukur berwarna gelap d) Tentukan titik pengukuran secara tepat 2) Pelaksannan a) Hidupkan lux meter dengan menggeserkan tombol ON b) Kalibrasikan lux meter pada angka 0 c) Lihat layar pada lux meter hingga angka yang muncul stabil d) Angka yang muncul menunjukkan besarnya intensitas cahaya yang di ukur e) Matikan lux meter dengan menggeser tombol OFF f) Catat hasil pengukuran pada formulir

Lampiran 3

PENGARUH DOSIS DESINFEKTAN TERHADAP PENURUNAN ANGKA KUMAN PADA LANTAI DI RUANG KENANGA RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO TAHUN 2011
Prosedur Pengukuran suhu dan kelembaban A. Alat 1. Thermohygrometer 2. Alat tulis B. Bahan Sampel ruangan C. Prosedur Kerja 1. Siapkan alat thermohygrometer 2. Tekan tombol on 3. Untuk mengetahui kelembaban udara tekan tombol RH% 4. Catat angka yang muncul 5. untuk mengetahui suhu udara tekan tombol ºC 6. Catat angka yang muncul 7. Setelah selesai tekan tombol off

Lampiran 4

PENGARUH DOSIS DESINFEKTAN TERHADAP PENURUNAN ANGKA KUMAN PADA LANTAI DI RUANG KENANGA RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO TAHUN 2011
PEDOMAN WAWANCARA (Untuk Petugas Kebersihan) Hari / Tanggal: A. Identitas Petugas 1. Nama 2. Jenis kelamin 3. Pekerjaan 4. Pendidikan terakhir B. Data Khusus 1. Apakah sebelum pengepelan ruangan dibersihkan dahulu? 2. Berapa kali ruangan dibersihkan? 3. Berapa kali dilakukan pengepelan dalam sehari? 4. Apakah pengepelan menggunakan desinfektan? 5. jika ya, desinfektan apa yang digunakan? 6. Berapa dosis desinfektan yang digunakan? Purwokerto, pewawancara 2011 : : : :

Arie Nizar

Lampiran 5

PENGARUH DOSIS DESINFEKTAN TERHADAP PENURUNAN ANGKA KUMAN PADA LANTAI DI RUANG KENANGA RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO TAHUN 2011
Denah Titik Sampel Usap Lantai Kelas 3 Ruang Kenanga

Keterangan: : Titik pengmbilan sampel : Kamar mandi/WC

: Tempat tidur pasien

Lampiran 6

PENGARUH DOSIS DESINFEKTAN TERHADAP PENURUNAN ANGKA KUMAN PADA LANTAI DI RUANG KENANGA RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO TAHUN 2011
Prosedur Penelitian Angka Kuman Pada Lantai Di Ruang Kenanga RSUD Prof Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Tahun 2011 Mempersiapkan alat yang dipergunakan dalam penelitian (thermometer, hygrometer, lux meter, swab, larutan fisiologis, alcohol 70% dan Bunsen)

Menuju tempat penelitian ± pkl. 06.00 WIB

Mengukur suhu, kelembaban, dan pencahayaan ruangan. Kemudian menyapu lantai dan mengepel lantai. Setelah 5 menit pemberian desinfektan, lantai tersebut di usap dengan swab sebagai sample di setiap titik yang sudah ditentukan secara aseptis.

Setelah permukaan lantai di usap, kemudian dimasukkan lagi ke dalam botol yang berisi larutan fisiologis, dan dimasukkan ke dalam termos es

Membawa sample kuman yang berisi swab yang ada dalam botol larutan Fisiologis ke laboratorium RSUD Prof Dr Margono Soekarjo Purwokerto untuk di periksa Kemudian lakukan pemeriksaan terhadap jumlah kuman Setelah diinkubasi, kemudian kuman tersebut di hitung dengan menggunakan Coloni Counter catat hasilnya

Lampiran 8

PENGARUH DOSIS DESINFEKTAN TERHADAP PENURUNAN ANGKA KUMAN PADA LANTAI DI RUANG KENANGA RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO TAHUN 2011
Gambar Pengambilan Sampel Kuman & Pemeriksaan Sampel Kuman Pada Lantai di Laboratorium RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Tahun 2011

Alat & bahan untuk pengambilan sampel

Pengambilan sample kuman lantai

Alat & bahan untuk pemeriksaan kuman

Penanaman sampel dengan media Na

Penanaman sampel kuman ke Inkubator

Penghitungan Jumlah Kuman

T-Test 30ml/liter Paired Samples Statistics Std. Deviation 6 6 10.87045 1.83485 Std. Error Mean 4.43784 .74907

Mean Pair 1 Sebelu m Sesudah 26.1667 3.1667

N

Paired Samples Correlations Correlatio n 6 .961

N Pair 1 Sebelum & Sesudah

Sig. .002

Paired Samples Test Sig. (2tailed)

Mean Pair 1 Sebelum Sesudah 23.000 00

Paired Differences Std. 95% Confidence Std. Error Interval of the Deviation Mean Difference 3.7238 0 Lower 13.427 67 Upper 32.572 33

t

df

9.12140

6.176

5

.002

T- Test 25ml/liter
Paired Samples Statistics Std. Error Mean 2.62573 .74907

Pair 1

Sebelum Sesudah2 5

Mean 20.8333 7.1667

N 6 6

Std. Deviation 6.43169 1.83485

Paired Samples Correlations N Pair 1 Sebelum & Sesudah25 6 Correlation .969 Sig. .001 Paired Samples Test

Pair 1

Sebelum Sesudah25

Mean 13.666 67

Paired Differences 95% Confidence Interval of the Difference Std. Std. Error Deviation Mean Lower Upper 1.9090 8.7593 18.574 4.67618 4 2 02

t 7.159

df 5

Sig. (2tailed) .001

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful