Anda di halaman 1dari 3

DISKUSI

1. Apakah diagnosis kasus ini sudah tepat ? Pada kasus ini diagnosa kerja kami adalah TB paru primer aktif. Hal ini dikarenakan berdasarkan anamnesa didapatkan gejala klinis yang mengarah pada TB yang berupa batuk berdahak > 2minggu, demam, keringat dingin pada malam hari, nafsu makan berkurang yang disertai penurunan berat badan. Pemeriksaan penunjang pada pasien ini lebih menegakkan kembali diagnosa TB paru. Dari hasil pemeriksaan darah lengkap didapatkan LED meninggi yang berarti terdapatnya infeksi kronis. Hasil pemeriksaan foto thorax didapatkan hasil TB paru dextra aktif. Serta hasil uji tuberkulin didapatkan indurasi sebesar 15 mm yang dapat disimpulkan bahwa pasien menderita TB paru. Berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang di atas kami menyimpulkan bahwa diagnosa dari pasien tersebut yaitu TB paru primer aktif . 2. Apa saja pemeriksaan penunjang yang dilakukan dan mengapa perlu dilakukan pemeriksaan tersebut ? a. Pemeriksaan Darah Lengkap

Pada kasus ini dilakukan pemeriksaan darah lengkap dengan alasan untuk mendeteteksi kecurigaan anemia. Hal ini didasarkan dari keluhan pasien yang berupa batuk disertai darah. Pada pemeriksaan darah lengkap juga didapatkan

peningkatan LED dengan nilai LED 53 mm/jam (N : 0 20 mm/jam), yang berarti terdapat infeksi kronis. b. Pemeriksaan Foto Thorax

Pada kasus ini dilakukan pemeriksaan foto thorax untuk lebih menegakkan diagnosa TB pada anak. c. Uji Tuberkulin

Pada kasus ini dilakukan uji tuberkulin untuk membantu menegakkan diagnosis pada anak. 3. Apakah penatalaksanaan yang dilakukan pasien sudah tepat ? Menurut kami penatalaksanaan yang dilakukan sudah tepat. Pada pasien ini digunakan IVFD RL gtt XX/menit seharusnya pada pasien ini menggunakan IVFD N4D5 gtt XX/menit, karena pasien ini tidak memerlukan rehidrasi. Untuk OAT yang digunakan pada pasien ini menurut kami sudah tepat berdasarkan buku ajar Respirologi Anak IDAI. Berbeda dengan orang dewasa, OAT pada anak diberikan setiap hari. Hal ini bertujuan untuk mengurangi ketidakteraturan menelan obat yang lebih sering terjadi jika obat tidak ditelan tiap hari. Pada saat ini paduan obat yang baku untuk sebagian besar kasus TB pada anak adalah paduan rifampisin, isoniazid, pirazinamid. Pada fase intensif (2 bulan pertama) diberikan rifampisin, isoniazid, pirazinamid , sedangkan pada fase lanjutan (4 bulan atau lebih) hanya diberikan rifampisin dan isoniazid. dengan dosis Rifampisin 10 20 mg/kgBB/hari, Isoniazid 5 10 mg/kgBB/hari, Pirazinamid 15 30 mg/kgBB/hari.

Pada penatalaksanaan kasus ini diberikan diberikan Rifampisisn 450 mg/ hari hal ini sesuai dengan dosis rifampisin 10 20 mg/kgBB/hari. Penggunaan Isoniazid pada kasus ini juga sudah tepat, isoniazid pada kasus ini di berikan 300 mg/hari, hal ini sesuai dengan dosis isoniazid 5 10 mg/kgBB/hari. Hanya pemberian pirazinamid yang kurang tepat. Pada kasus ini diberikan pirazinamid 500 mg/hari seharusnya 750 mg/hari karena dosis pirazinamid 15 30 mg/kgBB/Hari. Status gizi pada pasien ini berdasarkan IMT (BB/TB) didapatkan hasil 17,62 yang berarti bahwa status gizi pasien kurang. Pemberian diet tinggi kalori tinggi protein menurut kami sudah tepat karena status gizi pada pasien ini, kurang dan terdapat penurunan nafsu makan dari pasien. Diharapkan dengan pemberian diet tinggi kalori tinggi protein, status gizi dari pasien dapat diperbaiki. Menurut kami edukasi pada pasien ini juga penting. Edukasi yang penting pada kasus ini adalah memberitahukan pada pasien tentang keadaan penyakitnya dan memberitahukan pasien untuk rajin meminum obat selama 6 bulan walaupun keluhan yang dirasakan pasien sudah tidak ada. Kita juga memberitahukan kepada pasien jika pasien sempat putus minum obat maka pengobatan pasien harus dimulai dari awal.