Anda di halaman 1dari 8

BAB I PENDAHULUAN

Tata pemerintahan yang baik adalah gerakan segala daya upaya untuk mewujudkan suatu pemerintahan baik yang bisa diterima oleh seluruh warga negara Indonesia. Oleh karena itu gerakannya harus memiliki agenda yang jelas tentang apa yang mesti dilakukan agar tujuan utamanya dapat dicapai Menurut UNDP (United Nation Development Program), Good

Governance dimaknai sebagal Praktek penerapan kewenangan pengelolaan berbagai urusan. Penyelelenggaraan negara secara politik, ekonomi, dan administratif di semua tingkatan. ada tiga Pilar Good Governance yang penting yaitu Economic governance (kesejahteraan rakyat), Political Governance (proses pengambilan keputusan), Administrative Governance (tata laksana pelaksanaan kebijakan). Dalam proses mernaknai peran kunci stakeholders (pemangku

kepentingan), mencakup 3 domain Good Governance, yaitu: 1) Pemerintah (peran : menciptakan iklim politik dan hukum yang kondusif), 2) Sektor swasta (Peran : menciptakan lapangan pekerjaan dan pendapatan); 3) Masyarakat (peran: mendorong interaksi sosiai, ekonomi, politik dan mengajak seluruh anggota masyarakat berpartisipasi). Dalam pelaksanaan Good Governance, mendasarkan 9 prinsip dasar, yang disebut PRINSIP-PRINSIP GG UNDP yang telah dikembangkan di Indonesia, yaitu : Partisipasi, Rule of Law, Transparansi , Daya Tanggap, Berorientasi Konsensus . Berkeadilan, Efektif dan Efisien, Akuntabilitas, Berorientasi Strategis, Saling Keterkaitan.

BAB II PEMBAHASAN

Tata pemerintahan yang baik adalah suatu kesepakatan menyangkut pengaturan negara yang diciptakan bersama oleh pemerintah, masyarakat madani dan sektor swasta. Untuk mewujudkan tata pemerintahan yang baik perlu dibangun dialog antara pelaku-pelaku penting dalam negara, agar semua pihak merasa memiliki tata pengaturan tersebut. Tanpa kesepakatan yang dilahirkan dari dialog ini kesejahteraan tidak akan tercapai karena aspirasi politik maupun ekonomi rakyat tersumbat. Menurut Dokumen kebijakan UNDP (United Nation Development Program),: Tata pemerintahan adalah penggunaan wewenang ekonomi, politik dan administrasi guna mengelola urusan-urusan negara pada semua tingkat. Tata pemerintahan mencakup seluruh mekanisme, proses dan lembaga-lembaga di mana warga dan kelompok-kelompok masyarakat mengutarakan kepentingan mereka, menggunakan hak hukum, memenuhi kewajiban dan menjembatani perbedaan-perbedaan di antara mereka. UNDP mengemukakan bahwa kepemerintahan yang baik adalah hubungan yang sinergis dan konstruktif diantara negara, sektor swasta dan masyarakat. UNDP juga mengungkapkan bahwa tata pemerintahan yang baik memiliki 10 prinsip sebagai berikut : 1. Partisipasi 2. Rule of Law 3. Transparansi 4. Daya Tanggap 5. Berorientasi Konsensus 6. Berkeadilan 7. Efektif dan Efisien 8. Akuntabilitas 9. Berorientasi Strategis 10. Saling Keterkaitan

A. Partisipasi Partisipasi berasal dari bahasa inggris yaitu participation adalah pengambilan bagian atau pengikut sertaan. Menurut Keith Davis, partisipasi adalah suatu keterlibatan mental dan emosi seseorang kepada pencapaian tujuan dan ikut bertanggung jawab di dalamnya. Dalam definisi tersebut kunci pemikirannya adalah keterlibatan mental dan emosi, yaitu dimana orang diikutsertakan dalam suatu rencana perencanaan serta dalam pelaksanaan dan juga ikut memiul tanggung jawab sesuai dengan tingkat kematangan dan tingkat kewajibannya. B. Rule of Law Rule of law adalah doktrin hukum yang muncul pada abad ke 19, seiring degan negara konstitusi dan demokrasi. Rule of law adalah konsep tentang common law yaitu seluruh aspek negara menjunjung tinggi supremasi hukum yang dibangun diatas prinsip keadilan dan egalitarian. Rule of law adalah rule by the law bukan rule by the man. Unsur-unsur rule of law menurut A.V. Dicey terdiri dari: Supremasi aturan-aturan hukum. Kedudukan yang sama didalam menghadapi hukum. Terjaminnya hak-hak asasi manusia oleh undang-undang serta keputusankeputusan pengadilan.

Rule of law adalah sekumpulan peraturan yang berisi perintah dan larangan yang dibuat oleh pihak yang berwenang sehingga dapat dipaksakan pemberlakuannya berfungsi untuk mengatur masyarakat demi terciptanya ketertiban disertai dengan sanksi bagi pelanggarnya. C. Transparansi Transparansi dapat dilihat dari terbentuknya proses perumusan kebijaakan publik bagi masyarakat (terbuka bagi partisipasi masyarakat). Transparansi dapat

juga diwujudkan dalam bentuk keterbukaan pemerintah dalam menyusun kebijakan yang dapat diakses oleh masyarakat. Hal ini dapat menciptakan horizontal accountability antara pemerintah dengan masyarakat sehingga terwujud pemerintah yang bersih, transparan, akuntabel, efektif, efisien dan responsive, terhadap perkembangan aspirasi masyarakat dan kepentingan masyarakat. Semua urusan pemerintahan berupa kebijakan-kebijakan publik baik yang berkenaan dengan pelayanan publik maupun pembangunan di daerah harus diktahui public.

D. Daya Tanggap (Responsiveness) Yaitu respon atau kesigapan karyawan dalam membantu pelanggan dan memberikan pelayanan yang cepat dan tanggap, yang meliputi : kesigapan karyawan dalam melayani pelanggan, kecepatan karyawan dalam menangani transaksi, dan penaganan keluhan pelanggan atau pasien (Zeithmal et. Al, 1990 : 120). Menurut Parasuraman dkk, 1985 yang dikutip dari Fandi Tjiptono (2002 : 69) responsiveness adalah kemampuan atau kesiapan karyawan untuk memberikan jasa yang diberikan. Sedangkan parasuraman dkk (dalam Fitzsimmons dan Fitzsimmons 1994, dan Zeitmal dan Bitner 1996) yang dikutip dari Fandi Tjiptono (2002 : 70) mengungkapkan bahwa responsiveness adalah keinginan para staf untuk membantu para pelanggan dan memberikan layanan dengan tanggap. Menurut Parasuraman yang dikutip oleh Rambat Lupiyoadi (2001:148) menyatakan responsiveness adalah kemauan untuk membantu dan memberikan pelayanan yang cepat dan tepat kepada pelanggan dengan penyampaian informasi secara jelas. Dari beberapa pengertian responsiveness yang dikemukakan oleh para ahli, maka penulis menyimpulkan responsiveness adalah sikap peduli yang

ditunjukkan oleh karyawan yang berupa respon terhadap segala keluhan atau masukan yang diberikan oleh member atau pelanggan. E. Berorientasi Konsensus Kegiatan bernegara, berpemerintahan dan bermasyarakat padadasarnya adalah kreatifitas politik, yang berisi dua hal utama yaitukonflik dan konsensus. Di dalam good governance, pengambilan keputusan maupun pemecahan masalah bersama lebih diutamakan berdasarkan konsensus, yang dilanjutkan dengan kesedian untuk konsisten melaksanakan konsensus yang telah diputuskan bersama.Konsensus bagi bangsa Indonesia sebenarnya bukanlah hal baru,karena nilai dasar kita dalam memecahkan persoalan bangsa adalahmelalui musyawarah F. Berkeadilan Melalui prinsip good governance, setiap warga negara

memilikikesempatan yang sama untuk memperoleh kesejahteraan. Akan tetapikarena kemampuan masing-masing warga negara berbeda-beda, makasektor publik perlu memainkan peranan agar kesejahteraan dankeadilan dapat berjalan seiring sejalan. G. Efektif dan Efisien (Effectiveness and Efficiency) Agar mampu berkompetisi secara sehat dalam percaturan dunia,kegiatan domain dalam governance perlu mengutamakan efektivitas dan efisiensi dalam setiap kegiatan. Tekanan perlunya efektivitas danefisiensi terutama ditujukan pada sektor publik karena sektor inimenjalankan aktivitasnya secara monopolistik. Tanpa adanyakompetensi tidak akan tercapai efisiensi. H. Akuntabilitas Terdapat berbagai definisi tentang akuntabilitas, yang diuraikan sebagai berikut : 1. Sjahruddin Rasul menyatakan bahwa akuntabilitas didefinisikan secara sempit sebagai kemampuan untuk memberi jawaban kepada otoritas yang

lebih tinggi atas tindakan seseorang atau sekelompok orang terhadap masyarakat secara luas atau dalam suatu organisasi. Dalam konteks institusi pemerintah, seseorang tersebut adalahpimpinan instansi pemerintah sebagai penerima amanat yang harus memberikan

pertanggungjawaban atas pelaksanaan amanat tersebut kepada masyarakat atau publik sebagai pemberi amanat.

2. J.B. Ghartey menyatakan bahwa akuntabilitas ditujukan untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang berhubungan dengan stewardship yaitu apa, mengapa, siapa, ke mana, yang mana, dan bagaimana suatu

pertanggungjawaban harus dilaksanakan. 3. Ledvina V. Carino mengatakan bahwa akuntabilitas merupakan suatu evolusi kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh seorang petugas baik yang masih berada pada jalur otoritasnya atau sudah keluar jauh dari tanggung jawab dan kewenangannya. Setiap orang harus benarbenar menyadari bahwa setiap tindakannya bukan hanya akan memberi pengaruh pada dirinya sendiri saja. Akan tetapi, ia harus menyadari bahwa tindakannya juga akan membawa dampak yang tidak kecil pada orang lain. Dengan demikian, dalam setiap tingkah lakunya seorang pejabat pemerintah harus memperhatikan lingkungannya. 4. Akuntabilitas juga dapat berarti sebagai perwujudan pertanggungjawaban seseorang atau unit organisasi, dalam mengelola sumber daya yang telah diberikan dan dikuasai, dalam rangka pencapaian tujuan, melalui suatu media berupa laporan akuntabilitas kinerja secara periodik. Sumber daya dalam hal ini merupakan sarana pendukung yang diberikan kepada seseorang atau unit organisasi dalam rangka memperlancar pelaksanaan tugas yang telah dibebankan kepadanya. Wujud dari sumber daya tersebut pada umumnya berupa sumber daya manusia, dana, sarana prasarana, dan metode kerja. Sedangkan pengertian sumber daya dalam konteks negara dapat berupa aparatur pemerintah, sumber daya alam, peralatan, uang, dan kekuasaan hukum dan politik.

5. Akuntabilitas juga dapat diuraikan sebagai kewajiban untuk menjawab dan menjelaskan kinerja dari tindakan seseorang atau badan kepada pihakpihak yang memiliki hak untuk meminta jawaban atau keterangan dari orang atau badan yang telah diberikan wewenang untuk mengelola sumber daya tertentu. Dalam konteks ini, pengertian akuntabilitas dilihat dari sudut pandang pengendalian dan tolok ukur pengukuran kinerja. Dari berbagai definisi akuntabilitas seperti tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa akuntabilitas merupakan perwujudan kewajiban seseorang atau unit organisasi untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya dan pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepadanya dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan melalui media

pertanggungjawaban berupa laporan akuntabilitas kinerja secara periodik.

I. Berorientasi Strategis Dalam era yang berubah secara dinamis seperti sekarang ini,setiap domain dalam good governance perlu memiliki visi yangstrategis. Tanpa adanya visi semacam itu, maka suatu bangsa dannegara akan mengalami ketertinggalan. Visi itu sendiri dapat dibedakanantara visi jangka panjang (long term vision) antara 20 sampai 25 tahun(satu generasi) serta visi jangka pendek (short term vision) sekitar 5tahun

J. Saling Keterkaitan Bawah menjelaskan proses pengembangan nilai tambah berkelanjutan di antara tiga pilar tata kepemerintahan yang baik, yakni pemerintah, dunia usaha swasta, dan masyarakat. Kepercayaan, dukungan, dan legitimasi politik dari masyarakat akan diperoleh apabila pemerintah dapat menyediakan pelayanan publik yang memadai dan menjalankan fungsi perlindungan pada masyarakat. Di sisi lain pemerintah juga harus mampu menciptakan stabilitas politik, hukum, pertahanan dan keamanan, ekonomi, serta sosial dan budaya untuk mendorong peran dunia usaha swasta dalam pembangunan ekonomi.

Dunia usaha swasta yang sehat akan menghasilkan kualitas layanan serta memberikan nilai tambah yang positif bagi masyarakat. Hal ini tentunya juga akan menghasilkan pertumbuhan kegiatan usaha yang tinggi sehingga dapat menumbuhkan loyalitas konsumen dan kontribusi keuntungan yang lebih besar dari masyarakat sebagai target pasar. Integrasi pengelolaan ketiga rantai nilai tersebut secaraselaras akan menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat.