Anda di halaman 1dari 25

GEOMETRI EUCLID

OLEH:
PINTA DENIYANTI SAMPOERNO



















UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN MATEMATIKA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
2007



1
A. PENGERTIAN PANGKAL

Pengertian pangkal adalah pengertian yang tidak didefinisikan. Pengertian berikutnya didefinisikan
berlandaskan pada pengertian pangkal.
Yang termasuk pengertian pangkal adalah:
a. Titik; sebuah titik tidak memiliki lebar atau panjang, hanya menunjukkan sebuah tempat.
b. Garis; sebuah garis tidak memiliki lebar, tetapi dapat diperpanjang di kedua arahnya.
c. Himpunan; himpunan adalah kumpulan yang dibatasi dengan jelas.

Guna dari pengertian pangkal adalah untuk menghindari sirkulus in definiendo dan regresus in
infinitum yaitu berputar-putar dalam pendefinisian dan pendefinisian yang terus mundur.

B. DEFINISI

Definisi adalah suatu pengertian yang diungkapkan dengan kalimat yang jelas dan mempunyai format
sebagai berikut:



Genus Proksimum adalah keluarga/jenis terdekat dari sesuatu yang didefinisikan, sedangkan
Diferensia Spesifika adalah ciri-ciri khusus yang membedakan sesuatu yang didefinisikan dari
keluarga terdekatnya.


Definisi 1:
Sebuah ruas garis adalah himpunan bagian garis yang anggotanya terdiri atas dua buah titik pada garis
tersebut dan semua titik diantaranya.

Definisi 2:
Sebuah sinar adalah himpunan bagian garis yang anggotanya terdiri atas sebuah titik tetap dan semua titik
yang terletak sepihak terhadap titik tersebut.

Definisi 3:
Sinar berlawanan adalah dua sinar yang berlainan dari sebuah garis yang memiliki titik pangkal bersekutu.

Definisi 4:
Sebuah sudut adalah gabungan dua buah sinar yang mempunyai titik pangkal bersekutu.

Definisi 5:
Titik tengah ruas garis adalah titik yang memisahkan ruas garis menjadi dua ruas garis yang sama
ukurannya.

Definisi 6:
Bisektor ruas garis adalah garis yang memisahkan ruas garis menjadi dua ruas garis yang sama
ukurannya. (40)


AB (dibaca ruas garis AB)
AC AB = (dibaca garis AB atau garis AC)
AC (dibaca sinar AC)
ZL = ZKLM = ZMLK (dibaca sudut L)
ZL merupakan gabungan LK dan LM

Yang Didefinisikan Genus Proksimum Diferensia Spesifika adalah
A B C
L
K
M

2
C. MENALAR DEDUKTIF

Menalar deduktif adalah menalar dengan menggunakan pengertian pangkal, definisi, postulat dan dalil
sebagai alasan dari penarikan kesimpulan untuk mendapatkan kebenaran yang konsisten.

Ada dua cara untuk penyebutan definisi sebagai alasan penarikan kesimpulan yaitu definisi atau lawan
definisi.

1. Jika diketahui akan didapat

Kesimpulan dengan alasan

Contoh:
Diketahui : P titik tengah AB
Kesimpulan : m AP = m PB
Alasan : Definisi: Titik tengah ruas garis adalah titik yang memisahkan ruas garis menjadi dua ruas
garis yang sama ukurannya..

2. Jika diketahui akan didapat

Kesimpulan dengan alasan

Contoh:
Diketahui : m AP = m PB
Kesimpulan : P titik tengah AB
Alasan : Lawan definisi: Titik tengah ruas garis adalah titik yang memisahkan ruas garis menjadi
dua ruas garis yang sama ukurannya..

Jenis-jenis Sudut

Definisi 7:
Sudut lancip adalah sudut yang ukurannya lebih dari 0 dan kurang dari 90.

Definisi 8:
Sudut siku-siku adalah sudut yang ukurannya 90.

Definisi 9:
Sudut tumpul adalah sudut yang ukurannya lebih dari 90 dan kurang dari 180.

Definisi 10:
Sudut lurus adalah sudut yang ukurannya 180.
[Karena sisi sebuah sudut lurus adalah sebuah garis, maka garis dapat dinyatakan sebagai sudut lurus]

Sudut Berkomplemen dan Sudut Bersuplemen

Definisi 11:
Dua sudut yang berkomplemen adalah dua sudut yang jumlah ukurannya 90.

Definisi 12:
Dua sudut yang bersuplemen adalah dua sudut yang jumlah ukurannya 180.

Definisi 11A:
Dua sudut yang berkomplemen adalah dua sudut yang jumlah ukurannya adalah ukuran sudut siku-siku.

sebelum kata adalah
sesudah kata adalah DEFINISI
sesudah kata adalah
LAWAN DEFINISI sebelum kata adalah

3
Definisi 12A:
Dua sudut yang bersuplemen adalah dua sudut yang jumlah ukurannya adalah ukuran sudut lurus.

m Z PQR = 180
m Z ABC = 90 m Z PQS + m Z SQR = 180
m Z ABD + m Z DBC = 90 Z PQR sudut lurus
Z ABC sudut siku-siku [karena PR adalah sebuah garis]


Dua Garis Saling Tegak Lurus

Definisi 13:
Dua garis yang saling tegak lurus adalah dua garis yang berpotongan dan membentuk sudut siku-siku.

Definisi 14:
Bisektor sudut adalah sinar yang titik pangkalnya adalah titik sudut tersebut dan dengan sisi-sisi sudut
tersebut membentuk dua sudut yang sama ukurannya. (58)

Sudut-sudut yang Kongruen dan Ruas Garis yang Kongruen

Definisi 15:
Ruas garis yang kongruen adalah ruas garis yang sama ukurannya.
~ CD AB m AB = m CD atau AB = CD
Definisi 16:
Sudut yang kongruen adalah sudut yang sama ukurannya.
ZX ~ ZY m ZX = m ZY

Definisi 5A:
Titik tengah ruas garis adalah titik yang memisahkan ruas garis menjadi ruas garis yang kongruen.

Definisi 6A:
Bisektor ruas garis adalah garis yang memisahkan ruas garis menjadi dua ruas garis yang kongruen.

Definisi 14A:
Bisektor sudut adalah sinar yang titik pangkalnya adalah titik sudut tersebut dan dengan sisi-sisi sudut
tersebut membentuk dua sudut yang kongruen. (68)


D. POSTULAT dan DALIL

Postulat adalah pernyataan pangkal yang tidak dibuktikan.
Guna dari postulat adalah untuk menghindari sirkulus in probando dan regresus in infinitum.

Dalil adalah pernyataan yang harus dibuktikan dan buktinya harus menggunakan penalaran deduktif.

Seperti halnya definisi, postulat dan dalil digunakan pula sebagai dasar penarikan kesimpulan pada
penalaran deduktif untuk mendapatkan kebenaran yang konsisten.

Dalil tidak memiliki lawan dalil, tetapi jika diperlukan pernyataan yang berlaku berlawanan dengan
suatu dalil maka dibuat dalil baru sebagai lawan dalil tersebut.
A
D
P
S
R
Q
C B

4

Dalil ditulis dalam bentuk: JIKA MAKA

Tidak semua dalil ditulis dalam bentuk jika A, maka B, akan tetapi secara redaksional penulisannya
selalu mudah untuk diubah menjadi bentuk jika A maka B.

Didalam penalaran deduktif bagian A adalah bagian yang diketahui sedangkan bagian B adalah
bagian hasil penarikan kesimpulan.



Postulat 1:
Terdapat korespondensi satu-satu antara titik sebuah garis dengan bilangan real.

Postulat 1A:
Sebuah garis dapat diperpanjang sekehendak kita di kedua arahnya.

Postulat 2:
Terdapat satu dan hanya satu garis melalui dua buah titik sembarang.

Postulat 3:
Terdapat sebuah bilangan yang mewakili ukuran sebuah ruas garis.

Postulat 4:
Terdapat sebuah bilangan dari 0 sampai dengan 180 yang mewakili ukuran sebuah sudut.

Definisi 17:
Titik B terletak di antara dua titik A dan C, berarti:
1. Titik A, B dan C adalah unsur dari sebuah garis,
2. m AB + m BC = m AC atau AB + BC = AC

Definisi 18:
Sinar PB terletak di antara sinar PA dan sinar PC, berarti:
1. PA , PB dan PC mempunyai titik pangkal bersekutu,
2. m Z APB + m Z BPC = m Z APC

Jumlah dan Selisih Dua Ruas Garis

Definisi 19:
Jumlah dua ruas garis AB dan BC adalah ruas garis AC jika dan hanya jika titik B di antara titik A & titik C.

A B C AB + BC = AC





Definisi 20:
Selisih dua ruas garis AB dan BC adalah ruas garis yang jika ditambah kepada ruas garis BC akan didapat
ruas garis AB sebagai jumlahnya.

A C B AB BC = AC


(96)

A B

5
Jumlah dan Selisih Dua Sudut

Definisi 21:
Jumlah dua sudut ABC dan CBD adalah sudut ABD jika dan hanya jika sinar BC di antara sinar BA & BD.

Z ABC + Z CBD = Z ABD



Definisi 22:
Selisih antara sudut ABD dan ABC adalah sudut yang jika ditambah pada sudut ABC akan didapat sudut
ABD sebagai jumlahnya.

Z ABD - Z ABC = Z CBD


(102)



Postulat 5: [postulat penjumlahan]
Jika sama ditambahkan kepada yang sama, maka jumlahnya akan sama.

Postulat 5A: [postulat penjumlahan untuk ruas garis]
Jika ruas garis yang kongruen ditambahkan kepada ruas garis yang kongruen, maka jumlahnya adalah
ruas garis yang kongruen.

Postulat 5B: [postulat penjumlahan untuk sudut]
Jika sudut yang kongruen ditambahkan kepada sudut yang kongruen, maka jumlahnya adalah sudut yang
kongruen.
(108)
Postulat 6: [postulat pengurangan]
Jika sama dikurangkan dari yang sama, maka selisihnya akan sama.

Postulat 6A: [postulat pengurangan untuk ruas garis]
Jika ruas garis yang kongruen dikurangkan kepada ruas garis yang kongruen, maka selisihnya adalah
ruas garis yang kongruen.

Postulat 6B: [postulat pengurangan untuk sudut]
Jika sudut yang kongruen dikurangkan kepada sudut yang kongruen, maka selisihnya adalah sudut yang
kongruen.
(114)
Postulat 7: [ postulat perkalian]
Jika sama dikalikan dengan yang sama, maka hasil kalinya akan sama.
Postulat 8: [postulat pembagian]
Jika sama dibagi dengan yang sama, maka hasil baginya akan sama.

Postulat 8A: [postulat pembagian untuk ruas garis]
Setengah dari ruas garis yang kongruen adalah ruas garis yang kongruen.

Postulat 8B: [postulat pembagian untuk sudut]
Setengah dari sudut yang kongruen adalah sudut yang kongruen.
(121)


D
C
A
B
C
A
B
D

6
Postulat 9: [postulat sifat refleksi]

A = A

Postulat 9A: [postulat sifat refleksi untuk ruas garis / sudut]

AB AB ~ atau ZA ~ ZA

Postulat 10: [postulat sifat simetri]

Jika A = B, maka B = A

Postulat 10A: [postulat sifat simetri untuk ruas garis / sudut]

Jika PQ AB ~ , maka AB PQ ~
Jika ZE ~ ZF, maka ZF ~ ZE

Postulat 11: [postulat sifat transitif]

Jika A = B dan B = C, maka A = C

Postulat 11A: [postulat sifat transitif untuk ruas garis / sudut]

Jika PQ AB ~ dan ST PQ ~ , maka ST AB ~
Jika Z1 ~ Z2 dan Z2 ~ Z3, maka Z1 ~ Z3 (136)


E. BUKTI DUA KOLOM

Pembuktian dua kolom adalah merupakan serangkaian penalaran deduktif yang menggunakan
kemampuan kognisi sintesis dan logika A B (jika A, maka B).

Kemampuan kognisi sintesis adalah kemampuan menggabungkan bagian-bagian yang diketahui untuk
menyelesaikan masalah yang lebih kompleks atau masalah yang harus dibuktikan.

Pada pembuktian dua kolom selalu dimulai dengan diketahui, dilanjutkan dengan penjabaran penalaran
secara deduktif yang akan menghasilkan kebenaran yang konsisten sehingga didapat kebenaran akhir
yaitu masalah yan harus dibuktikan.

Pada setiap pembuktian dua kolom, kolom pertama berisi pernyataan, sedangkan kolom kedua berisi
argumen atau alasan untuk pernyataan.

Contoh:
Pernyataan Alasan
1.
2.
1.
2.

Berikut ini akan diberikan contoh dari pembuktian dua kolom dan sekaligus sebagai pembuktian dalil 1.
Untuk seterusnya setiap dalil harus dibuktikan dan dijadikan sebagai latihan soal!

Dalil 1:
Jika dua sudut adalah sudut siku-siku, maka dua sudut tersebut kongruen.

Sesuai dengan kesepakatan bahwa sebuah dalil dengan sistem penulisan Jika A, maka B, berarti A
merupakan sesuatu yang diketahui dan B adalah sesuatu yang harus dibuktikan, sehingga penyelesaian
pembuktian dalil 1 di atas adalah sebagai berikut:

7
Diketahui:
ZABC sudut siku-siku
ZDEF sudut siku-siku
Buktikan: ZABC ~ ZDEF


Bukti:

Pernyataan Alasan
1. ZABC sudut siku-siku
2. m ZABC = 90

3. ZDEF sudut siku-siku
4. m ZABC = 90
5. m ZABC = m ZDEF
6. ZABC ~ ZDEF

1. Diketahui
2. Definisi:
Sudut siku-siku adalah sudut yang ukurannya 90
3. Diketahui
4. Definisi (sama dengan no.2)
5. Postulat sifat transitif
6. Lawan definisi:
Sudut yang kongruen adalah sudut yang sama
ukurannya

Terbukti
(148)

Dalil 2:
Jika dua sudut adalah sudut lurus, maka dua sudut tersebut kongruen.
(156)
Dalil 3:
Jika dua sudut saling bersuplemen dengan dua sudut yang kongruen, maka dua sudut tersebut kongruen.

Dalil 4:
Jika dua sudut saling berkomplemen dengan dua sudut yang kongruen, maka dua sudut tersebut
kongruen.
(166)
Dalil 5:
Jika dua sudut saling bersuplemen dengan sudut yang sama, maka dua sudut tersebut kongruen.

Dalil 6:
Jika dua sudut saling berkomplemen dengan sudut yang sama, maka dua sudut tersebut kongruen.
(174)
Definisi 23:
Sudut bertolak belakang adalah sudut yang dibentuk oleh dua pasang sinar yang berlawanan.

Dalil 7:
Jika dua sudut adalah sudut yang bertolak belakang, maka dua sudut tersebut kongruen.

Dalil 8A:
Jika dua ruas garis kongruen dengan dua ruas garis yang kongruen, maka dua ruas garis tersebut
kongruen.

Dalil 8B:
Jika dua sudut kongruen dengan dua sudut yang kongruen, maka dua sudut tersebut kongruen.
(184)

A
B
C
D
E
F

8
F. POLIGON YANG KONGRUEN

Poligon adalah gabungan himpunan titik-titik {P1, P2, , P n-1, P n} dengan himpunan ruas garis {
2 1
P P ,
3 2
P P , ,
n 1 n
P P

,
1 n
P P } sehingga jika setiap dua ruas garis tersebut berpotongan, titik potongnya
adalah salah satu anggota himpunan titik dan bukan titik yang lain.




Poligon Konkaf Poligon Konveks Bukan Poligon

Poligon yang digunakan adalah poligon konveks.

Definisi 25A:
Sudut yang berkawan dari perkawanan dua poligon adalah dua sudut yang titik sudutnya adalah pasangan
titik yang berkawan dalam perkawanan antara titik-titik sudut dari dua poligon.

Definisi 25B:
Sisi yang berkawan dari perkawanan dua poligon adalah dua sisi yang titik-titik ujungnya adalah pasangan
titik yang berkawan dalam perkawanan antara titik-titik sudut dari dua poligon.

Definisi 26: [definisi poligon yang kongruen]
Poligon yang kongruen adalah dua poligon yang memiliki perkawanan satu-satu antara titik-titik sudutnya
sehingga: 1. semua sisi yang berkawan kongruen, dan
2. semua sudut yang berkawan kongruen.

Definisi 27:
Sebuah segitiga adalah poligon yang memiliki tiga sisi.


G. KEMAMPUAN KOGNISI ANALISIS





Postulat 12: [postulat SDS]
Jika pada dua segitiga terdapat perkawanan antara titik sudutnya, dua sisi dan sudut apit pada segitiga
pertama kongruen dengan dua sisi dan sudut apit yang berkawan pada segitiga kedua, maka dua segitiga
tersebut kongruen.
Jika PT AB ~ , ZA ~ ZP dan PS AC ~ , maka A ABC ~ A PTS

Postulat 13: [postulat DSD]
Jika pada dua segitiga terdapat perkawanan antara titik sudutnya, sebuah sisi dan dua sudut pada sisi
tersebut pada segitiga pertama kongruen dengan sebuah sisi dan dua sudut yang berkawan pada segitiga
kedua, maka dua segitiga tersebut kongruen.
Jika ZA ~ ZP, PS AC ~ dan ZC ~ ZS, maka A ABC ~ A PTS
(210)
Kemampuan kognisi analisis adalah kemampuan mengurai suatu masalah menjadi bagian-bagian yang
diketahui.

Pada kognisi analisis digunakan penalaran deduktif dengan menggunakan logika A B, dengan
diartikan sebagai B hanya jika A.

Oleh karena itu dalam setiap analisis harus bertolak atau selalu dimulai dari masalah yang harus
dibuktikan.

B
A
C
P
S
T

9
Contoh:








Diketahui : VW LM ~ dan UW KM ~
Buktikan : AKLM ~ AUVW
Analisis : AKLM ~ AUVW hanya jika memenuhi postulat SDS atau postulat DSD
Sintesis : Karena diketahui VW LM ~ dan UW KM ~
Analisis : AKLM ~ AUVW hanya jika memenuhi postulat SDS dan sudut yang harus kongruen
adalah ZM ~ ZW

Aplikasi menggunakan postulat (216)
Pembuktian melalui segitiga kongruen (220) (224)
Segitiga yang bertumpangtindih (226)

Contoh soal:

1. Buktikan: CDB ~ AEB 2. Buktikan: ADB ~ CDB





Contoh soal aplikasi:
3. Diketahui: DC AB ~
ZB ~ ZC
CF BE ~

Buktikan: ABF ~ DCE




4. Diketahui: BC BE ~
CD AB
Z1 ~ Z2

Buktikan: ABC ~ DBE


/
/
B
L
K
M
o
V
W
U
o

0
0
A
E
A

C
D
x
x
=
=
B
A
C
D
A D
B C
E F
A
B C D
E
1
2

10
H. SEGITIGA ISTIMEWA

Definisi 28:
Segitiga sama sudut adalah segitiga yang memiliki tiga sudut kongruen.

Definisi 29:
Segitiga siku-siku adalah segitiga yang memiliki sebuah sudut siku-siku.

Definisi 30:
Segitiga sama sisi adalah segitiga yang memiliki tiga sisi kongruen.

Definisi 31:
Segitiga sama kaki adalah segitiga yang memiliki dua sisi kongruen.

Definisi 32A:
Bagian dalam sebuah sudut adalah himpunan titik-titik sehingga jika sebuah sinar dengan titik pangkal titik
sudut dan melalui sebuah titik anggota himpunan, sinar tersebut akan terletak di antara sisi sudut tersebut.

Definisi 32B:
Bagian dalam sebuah segitiga adalah himpunan semua titik anggota irisan bagian dalam setiap dua sudut
segitiga tersebut.

Postulat 14:
Sebuah garis yang memotong sisi sebuah segitiga dan masuk ke bagian dalam segitiga akan memotong
sisi kedua segitiga tersebut.

Postulat 15:
Setiap sudut memiliki bisektor.

Dalil 9:
Jika dua sisi sebuah segitiga kongruen, maka sudut-sudut di depan sisi tersebut kongruen.

Dalil 10:
Jika dua sudut sebuah segitiga kongruen, maka sisi-sisi di depan sudut tersebut kongruen.

Definisi 33:
Garis tinggi segitiga adalah ruas garis yang dibuat dari titik sudut dan tegak lurus sisi di depannya.

Definisi 34:
Garis berat segitiga adalah ruas garis yang dibuat dari titik sudut ke titik tengah sisi di depannya.

Definisi 35:
Garis bagi segitiga adalah ruas garis yang membagi sebuah sudut menjadi dua sudut yang kongruen dan
berujung pada sisi di depannya.
(236)
Dalil Segitiga yang Kongruen

Dalili 11:
Jika dua segitiga kongruen dengan sebuah segitiga yang sama, maka dua segitiga tersebut kongruen.

Postulat 16:
Pada sebuah titik dari garis yang diketahui terdapat sudut yang memiliki titik sudut adalah titik tersebut dan
satu sisinya adalah sinar dari garis tersebut sehingga sudut tersebut kongruen dengan sudut yang
diketahui.

Dalil 12: [dalil SSS]
Jika pada dua segitiga terdapat perkawanan antara titik-titik sudutnya dan tiga sisi segitiga pertama
kongruen dengan tiga sisi yang sekawan dari segitiga yang kedua, maka dua segitiga tersebut kongruen.


11
Contoh soal:
1.
Diketahui: CD AB ~
CB AD ~

Buktikan: ZA ~ ZC

2.
Diketahui: XT WS ~
XS WT ~

Buktikan: RST samakaki


Definisi 36:
Lingkaran adalah himpunan semua titik sehingga setiap ruas garis yang menghubungkan sebuah titik
anggota himpunan dengan sebuah titik tetap adalah kongruen. Titik tetap disebut pusat lingkaran.

Definisi 37:
Jari-jari lingkaran adalah ruas garis yang menghubungkan titik sembarang pada lingkaran dengan titik
pusat lingkaran.

Dalil 13:
Semua jari-jari sebuah lingkaran kongruen.
(244)
Contoh soal:

Diketahui: Lingkaran dengan pusat O
OC adalah garis berat ke AB

Buktikan: OC bisektor ZAOB





Segitiga Siku-siku yang Kongruen

Dalil 14: [dalil segitiga siku-siku yang kongruen]
Jika pada dua segitiga siku-siku terdapat perkawanan antara titik-titik sudutnya, hipotenusa dan sebuah
sisi segitiga pertama kongruen dengan hipotenusa dan sebuah sisi yang sekawan pada segitiga kedua,
maka dua segitiga siku-siku tersebut kongruen.
(249) (252)

I. TEGAK LURUS

Postulat 17: [postulat substitusi]
Jika dua bilangan sama, maka substitusi yang satu untuk yang lain diperkenankan.

Definisi 38:
Sudut bersisian adalah dua sudut yang mempunyai titik sudut dan sisi bersekutu di antara dua sinar yang
titik pangkalnya bersekutu.

T S
R
W X
A B
C
D
O
C
B
A

12
Contoh soal:

Diketahui: BC AB
BC DC
Z1 ~ Z2
E titik tengah BC
CG BF ~
Buktikan : ZA ~ ZD

Dalil 15:
Jika dua garis berpotongan dan membentuk dua sudut bersisian yang kongruen, maka dua garis tersebut
tegak lurus sesamanya.
(262)
Definisi 39:
Jarak dua bangun geometri adalah ukuran lintasan terpendek antara dua bangun tersebut.

Postulat 18:
Lintasan terpendek antara dua buah titik adalah ruas garis yang menghubungkan dua titik tersebut.

Dalil 16:
Jika dua buah titik masing-masing berjarak sama terhadap ujung-ujung sebuah ruas garis, maka garis
yang menghubungkan dua titik tersebut adalah bisektor tegak lurus ruas garis tersebut.

Dalil 17:
Jika sebuah titik terletak pada bisektor tegak lurus sebuah ruas garis, maka titik tersebut berjarak sama
terhadap titik-titik ujung ruas garis tersebut.

Postulat 19:
Setiap ruas garis memiliki titik tengah.

Dalil 18:
Jika sebuah titik berjarak sama terhadap ujung-ujung sebuah ruas garis, maka titik tersebut terletak pada
bisektor tegak lurus ruas garis tersebut.
(274)

Contoh:





Dalil 16: Jika PB PA ~ dan QB QA ~ , maka PQ bisektor tegak lurus AB
Dalil 17: Jika PQ bisektor tegak lurus AB dan R pada PQ , maka RB RA ~
Dalil 18: Jika PQ bisektor tegak lurus AB dan RB RA ~ , maka titik R terletak pada PQ

Definisi 40:
Bidang adalah sebuah permukaan, jika terdapat garis yang dibentuk oleh dua buah titik, maka semua titik
pada garis tersebut juga berada pada permukaan tersebut.

Definisi 41:
Titik koplanar adalah titik-titik yang berada pada satu bidang.

Definisi 42:
Titik kolinear adalah titik-titik yang berada pada satu garis.
B
Q P
R
.
D A
B E C
F G
1 2
A

13
Dalil 19:
Sebuah garis dan sebuah titik tidak pada garis tersebut dapat membentuk sebuah bidang

Dalil 20:
Dua garis yang berpotongan dapat membentuk sebuah bidang.

J. BUKTI TAK LANGSUNG

Definisi 45:
Bilangan a lebih dari bilangan b berarti bilangan a sama dengan bilangan b ditambah bilangan c positif.

a > b berarti a = b + c, c > 0
Dalil 22A:
Ukuran sebuah garis lebih dari ukuran sebagian dari garis tersebut.

Dalil 22B:
Ukuran sebuah sudut lebih dari ukuran sebagian dari sudut tersebut.

Definisi 46:
Sudut luar sebuah poligon adalah sudut yang bersisian dan bersuplemen dengan sudut poligon tersebut.

Dalil 23:
Ukuran sudut luar sebuah segitiga lebih dari ukuran masing-masing sudut dalam yang tidak bersisian.

Contoh:

Diketahui: AABC dengan sudut luar ZACD

Buktikan: mZACD > mZA

Bukti:
Analisis:





Pernyataan Alasan
1. Dibuat titik tengah AC yaitu M
2. Dibuat garis BM

3. Perpanjang garis BM ke titik P
sehingga BM PM ~
4. Dibuat garis PC
5. CM AM ~

6. ZAMB dan ZCMP sudut bertolak
belakang
7. ZAMB ~ ZCMP

8. AAMB ~ ACMP

1. Postulat: semua ruas garis memiliki titik tengah
2. Postulat; terdapat satu dan hanya satu garis melalui dua
buah titik sembarang
3. Postulat: garis dapat diperpanjang di kedua arahnya

4. Postulat (sama dengan no.2)
5. Definisi: titik tengah ruas garis adalah titik yang
memisahkan ruas garis menjadi dua ruas garis yang
kongruen
6. Lawan definisi: sudut bertolak belakang adalah sudut yang
dibentuk oleh dua pasang sinar yang berlawanan
7. Dalil: jika dua sudut adalah sudut bertolak belakang, maka
dua sudut tersebut kongruen
8. Postulat SDS

A
B
C
D
A
B
C
M
P
1

14
9. ZA ~ Z1
10. mZA = mZ1

11. mZACD > mZ1

12. mZACD > mZA
9. Definisi poligon yang kongruen
10. Definisi: sudut yang kongruen adalah sudut yang sama
ukurannya
11. Dalil: ukuran sebuah sudut lebih dari ukuran sebagian
dari sudut tersebut
12. Postulat substitusi

Terbukti.

Postulat 21: [Postulat LEM] Law of Excluded Middle
Salah satu dari p atau ~p adalah benar. Tidak ada kemungkinan lain.

Postulat 22: [Postulat LC] Law of Contradiction
Keduanya, p atau ~p, tidak dapat benar pada saat yang sama.

Contoh: Diketahui: DE AC ~ , EF AB ~ dan ZA ~ ZD
Buktikan: DF BC ~



Bukti:
Menurut Postulat LEM: Salah satu dari DF BC ~ atau DF BC ~ adalah benar dan tidak ada
kemungkinan yang lain.

Misal: DF BC ~ (permisalan selalu merupakan negasi dari yang akan dibuktikan)

Pernyataan Alasan
1. DF BC ~
2. DE AC ~
3. EF AB ~
4. AABC ~ ADEF
5. ZA ~ ZD
6. ZA ~ ZD
1. Permisalan
2. Diketahui
3. Diketahui
4. Dalil SSS
5. Definisi poligon yang kongruen
6. Diketahui

Menurut Postulat LC: Keduanya ZA ~ ZD atau ZA ~ ZD, tidak dapat benar pada saat yang sama.

Karena diketahui bahwa ZA ~ ZD, maka pernyataan ZA ~ ZD adalah salah. Demikian juga dengan
permisalan DF BC ~ menjadi salah. Jadi yang benar adalah DF BC ~ .

Terbukti!

K. KESEJAJARAN

Sejajar I

Definisi 47:
Dua garis sejajar adalah dua garis yang koplanar dan tidak berpotongan.

Definisi 48:
Transversal adalah garis yang memotong dua garis di dua titik yang berlainan.
A
C B
D
E F

15

Definisi 49: [sudut dalam bersebrangan]
Sudut dalam bersebrangan adalah dua sudut yang dibentuk oleh transversal yang memotong dua garis,
dua sudut tersebut di daerah dalam, berlainan pihak terhadap transversal dan berlainan titik sudut.

Definisi 50: [sudut luar bersebrangan]
Sudut luar bersebrangan adalah dua sudut yang dibentuk oleh transversal yang memotong dua garis, dua
sudut tersebut di daerah luar, berlainan pihak terhadap transversal dan berlainan titik sudut.

Definisi 51: [sudut sehadap]
Sudut sehadap adalah dua sudut yang dibentuk oleh transversal yang memotong dua garis, berlainan titik
sudut, satu sudut di daerah dalam dan yang lain di daerah luar, tetapi keduanya terletak sepihak terhadap
transversal.

Sejajar II

Dalil 24:
Jika dua garis dipotong transversal sehingga sudut dalam bersebrangannya kongruen, maka dua garis
tersebut sejajar.

Dalil 25:
Jika dua garis dipotong transversal sehingga sudut sehadapnya kongruen, maka dua garis tsb sejajar.

Dalil 26:
Jika dua garis dipotong transversal sehingga sudut luar bersebrangannya kongruen, maka dua garis
tersebut sejajar.
(328)
Sejajar III

Postulat 23:
Lewat sebuah titik di luar garis yang diketahui terdapat satu dan hanya satu garis yang sejajar dengan
garis tersebut.

Dalil 27:
Jika dua garis tegak lurus garis yang sama, maka dua garis tersebut sejajar.

Dalil 28:
Jika dua garis sejajar dipotong oleh transversal, maka sudut dalam bersebrangannya kongruen.

Dalil 29:
Jika dua garis sejajar dipotong oleh transversal, maka sudut sehadapnya kongruen.

Dalil 30:
Jika dua garis sejajar dipotong oleh transversal, maka sudut luar bersebrangannya kongruen.

Dalil 31:
Jika dua garis sejajar dengan garis yang sama, maka dua garis tersebut sejajar.

Dalil 32:
Jika sebuah garis tegak lurus salah satu dari dua garis yang sejajar, maka garis tersebut akan tegak lurus
terhadap garis sejajar yang lain.

Dalil 33:
Pada sebuah titik dari garis yang diketahui terdapat satu dan hanya satu garis yang tegak lurus garis
tersebut.

Dalil 34:
Dari sebuah titik di luar sebuah garis yang diketahui terdapat satu dan hanya satu garis yang tegak lurus
garis tersebut.
(338)


16
Contoh soal:

Diketahui: AD dan BC berpotongan di E
CD // AB
ED EC ~

Buktikan : EAB samakaki


L. JAJAR GENJANG

Jajar Genjang I

Definisi 52:
Segiempat adalah poligon yang memiliki empat sisi.

Definisi 53:
Jajar genjang adalah segiempat yang sisi-sisi berhadapannya sejajar.

Definisi 54:
Persegi panjang adalah jajar genjang yang memiliki sebuah sudut siku-siku.

Definisi 55:
Persegi adalah persegi panjang yang memiliki dua sisi yang bersisian kongruen.

Definisi 56:
Belah ketupat adalah jajar genjang yang memiliki dua sisi yang bersisian kongruen.

Definisi 57:
Trapesium adalah segiempat yang memiliki satu dan hanya satu pasang sisi yang berhadapan sejajar.

Definisi 58:
Trapesium samakaki adalah trapesium yang memiliki sisi yang tidak sejajar kongruen.

Dalil 35:
Sisi-sisi berhadapan sebuah jajar genjang kongruen.

Dalil 36:
Sudut-sudut berhadapan sebuah jajar genjang kongruen.

Dalil 37:
Diagonal sebuah jajar genjang saling berpotongan di tengah.

Dalil 38:
Keempat sisi sebuah persegi kongruen.

Dalil 39:
Keempat sisi sebuah belah ketupat kongruen.

Dalil 40:
Sudut alas sebuah trapesium samakaki kongruen.
(350)
Jajar Genjang II

Dalil 41:
Jika sisi-sisi berhadapan sebuah segiempat kongruen, maka segiempat tersebut adalah jajar genjang.

Dalil 42:
Jika diagonal sebuah segiempat saling berpotongan di tengah, maka segiempat tersebut adalah jajar
genjang.

A
B
C D
E

17
Dalil 43:
Jika sebuah segiempat memiliki sepasang sisi berhadapan kongruen dan sejajar, maka segiempat
tersebut adalah jajar genjang.
(356) (360)
Contoh soal:

Diketahui: ABCD trapesium sama kaki dengan CD AB ~
Z1 ~ Z2
Buktikan : ABED adalah jajar genjang



M. SUDUT-SUDUT SEBUAH POLIGON

Dalil 50:
Jumlah ukuran sudut sebuah segitiga sama dengan 180.

Dalil 51:
Jika dua sudut sebuah segitiga kongruen dengan dua sudut segitiga yang lain, maka sudut yang ketiga
kongruen juga.

Dalil 52: [dalil DDS]
Dua segitiga kongruen jika terdapat perkawanan antara titik sudutnya, dua sudut dan sebuah sisi di depan
salah satu sudut segitiga pertama kongruen dengan dua sudut dan sebuah sisi di depan salah satu sudut
yang berkawan dari segitiga kedua.

Dalil 53:
Ukuran sudut luar segitiga sama dengan jumlah ukuran sudut dalam segitiga yang tidak bersisian dengan
sudut luar tersebut.

Dalil 54:
Sudut lancip segitiga siku-siku saling berkomplemen.
(392)
Definisi 68:
Poligon konveks adalah poligon yang ukuran tiap sudutnya kurang dari ukuran sudut lurus.

Dalil 55:
Jumlah ukuran sudut poligon sisi n adalah : 180 (n 2).

Dalil 56:
Jumlah ukuran sudut luar poligon yang terbentuk dengan memperpanjang sisi poligon dengan aturan yang
sama, sama dengan 360.
(407)
N. SEGITIGA SEBANGUN

Dalil 57:
Jika tiga atau lebih garis yang sejajar memotong sebuah transversal menjadi ruas garis-ruas garis yang
kongruen, maka setiap transversal akan dipotong menjadi ruas garis-ruas garis yang kongruen.

Dalil 58:
Jika sebuah garis memotong di tengah sebuah sisi segitiga dan sejajar dengan sisi kedua, maka akan
memotong sisi ketiga di tengah juga.

Dalil 59:
Jika sebuah garis memotong di tengah dua sisi segitiga, maka garis tersebut sejajar dengan sisi ketiga.
(413)
A
B
D
C E
1 2

18
Ratio Dan Proposisi

Rasio adalah hasil bagi dua pengukuran dengan satuan yang sama. Contoh: atau 3 : 4
Proposisi adalah persamaan yang mempunyai ruas kiri dan ruas kanan berupa ratio. Contoh: a : b = c : d

Dalil 60: [Jika a : b = p : q, maka aq = bp]
Setiap proposisi memiliki sifat, hasil kali suku tengah sama dengan hasil kali suku tepi.
Contoh: Jika a : b = p : q, maka aq = bp

Dalil 61: [Jika aq = bp, maka a : b = p : q]
Jika hasil kali dua bilangan sama dengan hasil kali dua bilangan yang lain, maka pasangan pertama
bilangan tersebut dapat merupakan suku tepi sedang pasangan yang lain merupakan suku tengah suatu
proposisi. Contoh: Jika aq = bp, maka a : b = p : q

Dalil 62: [Jika a : b = c : d, maka (a + b) : b = (c + d) : d]
Jika empat bilangan real (a, b, c dan d) membentuk proposisi a : b = c : d, maka dapat juga membentuk
proposisi (a + b) : b = (c + d) : d

Dalil 63:
Jika sebuah garis sejajar sebuah sisi segitiga, maka ratio ukuran ruas garis yang sekawan dari dua sisi
yang dipotong akan sama.

Dalil 64:
Jika sebuah garis memotong dua sisi segitiga sehingga ratio ukuran ruas garis sekawan dari dua sisi yang
dipotong sama, maka garis tersebut sejajar sisi ketiga.
(426)
Contoh soal:

Diketahui: AD bisektor ZBAC
AD // BE

Buktikan :
DB
CD
AB
CA
=


Segitiga yang Sebangun

Definisi 69: [definisi poligon yang sebangun]
Poligon yang sebangun adalah dua poligon yang memiliki perkawanan antara titik-titik sudutnya sehingga:
1. semua sudut yang sekawan kongruen,
2. semua ratio ukuran sisi yang sekawan sama.

Dalil 65: [dalil DDD]
Dua segitiga adalah sebangun jika terdapat perkawanan antara titik-titik sudutnya dan setiap sudut yang
sekawan kongruen.

Dalil 66: [dalil DD]
Dua segitiga adalah sebangun jika terdapat perkawanan antara titik-titik sudutnya dan dua sudut yang
sekawan kongruen.

Dalil 67: [dalil SDS]
Dua segitiga adalah sebangun jika terdapat perkawanan antara titik-titik sudutnya, ratio dua pasang sisi
yang sekawan sama dan sudut apitnya kongruen.
Dalil 68: [dalil SSS]
Dua segitiga adalah sebangun jika terdapat perkawanan antara titik-titik sudutnya dan ratio setiap sisi yang
sekawan sama. (436) (442)

A
B C
D
E

19
Contoh soal:

1.
Diketahui: AC AB ~
BC AD
AC EF
Buktikan : ABD ~ ECF




2.
Diketahui:
BD
BC
AC
BE
=

Z1 ~ Z2
Buktikan : ABD ~ EBC



Dalil 69:
Pada segitiga siku-siku dengan garis tinggi tegak lurus hypotenusa, kuadrat ukuran sebuah sisi siku-siku
sama dengan hasil kali ukuran proyeksi sisi siku-siku tersebut ke hypotenusa dengan ukuran hypotenusa
tersebut.


Jika AABC siku-siku di C
dan CD garis tinggi, maka
(BC)
2
= (BA).(BD) dan
(AC)
2
= (AB).(AD)



Dalil 70:
Pada segitiga siku-siku dengan garis tinggi tegak lurus hypotenusa, kuadrat ukuran garis tinggi sama
dengan hasil kali ukuran tiap ruas garis bagian hypotenusa.
Jika AABC siku-siku di C dan CD garis tinggi, maka (CD)
2
= (AD).(DB)
(450)
Dalil 71:
Kuadrat hypotenusa segitiga siku-siku sama dengan jumlah kuadrat sisi-sisi siku-sikunya.
Jika AABC siku-siku di C dan CD garis tinggi, maka (AB)
2
= (CA)
2
+ (CB)
2

(455) (458)

Contoh soal:
Diketahui: AD BD
C titik tengah AD
m Z2 = 45

Buktikan : (AB)
2
= 8 (AC)
2



A
B
C

D

A
B C D
F
E
A
B
C D
E
1
2
B
A
C
D

20
O. LINGKARAN

Definisi 70:
Talibusur lingkaran adalah ruas garis yang titik-titik ujungnya pada lingkaran.

Definisi 71:
Garis tengah lingkaran adalah talibusur lingkaran yang salah satu titiknya adalah titik pusat lingkaran.

Definisi 72:
Sudut pusat lingkaran adalah sudut yang titik sudutnya adalah titik pusat lingkaran.

Definisi 73:
Busur lingkaran adalah himpunan bagian murni lingkaran.

Definisi 74:
Setengah lingkaran adalah busur lingkaran di depan sudut pusat lingkaran yang berupa sudut lurus.

Definisi 75:
Busur minor lingkaran adalah busur di depan sudut pusat lingkaran yang berukuran kurang dari 180.

Definisi 76:
Ukuran setengah lingkaran, ukuran busur minor adalah ukuran sudut pusat di depannya.

Definisi 77:
Busur mayor lingkaran adalah busur yang memiliki setengah lingkaran sebagai himpunan bagian murni.

Definisi 78:
Ukuran busur mayor adalah 360 dikurangi ukuran busur minor yang memiliki titik-titik ujung yang sama.

Definisi 79:
Lingkaran kongruen adalah lingkaran yang memiliki jari-jari kongruen.

Definisi 80:
Busur yang kongruen adalah busur dari lingkaran yang sama atau dari lingkaran yang kongruen yang
memiliki ukuran sama.

Dalil 72:
Jika dua sudut pusat lingkaran sebuah lingkaran kongruen, maka busur di depannya juga kongruen.

Dalil 73:
Jika dua busur sebuah lingkaran kongruen, maka sudut pusat lingkaran di depannya juga kongruen.

Dalil 74:
Jika dua talibusur pada sebuah lingkaran kongruen, maka busur yang sekawan juga kongruen.

Dalil 75:
Jika dua busur pada sebuah lingkaran kongruen, maka talibusur yang sekawan juga kongruen.
(468)
Dalil 76:
Jika dua talibusur pada sebuah lingkaran berjarak sama terhadap titik pusat lingkaran, maka dua talibusur
tersebut kongruen.

Dalil 77:
Jari-jari lingkaran yang tegak lurus sebuah talibusur membagi talibusur dan busur yang sekawan menjadi
dua bagian yang kongruen.

Dalil 78:
Jika dua talibusur pada sebuah lingkaran kongruen, maka berjarak sama terhadap titik pusat lingkaran.
(474)



21
Contoh soal:

Diketahui: Lingkaran dengan pusat O
BD AC ~

Buktikan : AE ~ BF



Garis Singgung Lingkaran & Garis Potong Lingkaran

Definisi 81:
Garis singgung lingkaran adalah garis yang memiliki satu dan hanya satu titik sekutu dengan lingkaran.

Definisi 82:
Garis potong lingkaran adalah garis yang memiliki dua titik sekutu dengan lingkaran.

Definisi 83:
Lingkaran bersinggungan adalah dua lingkaran yang menyinggung di titik yang sama.

Postulat 30:
Di sebuah titik di lingkaran terdapat satu dan hanya satu garis singgung lingkaran.

Dalil 79:
Sebuah garis yang tegak lurus jari-jari lingkaran di ujung sebelah luar adalah garis singgung lingkaran.

Dalil 80:
Jari-jari lingkaran yang melalui titik singgung sebuah garis singgung, tegak lurus garis singgung tersebut.

Dalil 81:
Sebuah garis yang tegak lurus garis singgung di titik singgungnya akan melalui titik pusat lingkaran.

Definisi 84:
Ruas garis singgung dari sebuah titik di luar lingkaran adalah ruas garis yang titik-titik ujungnya adalah titik
tersebut dan titik singgung lingkaran.

Definisi 85:
Ruas garis potong lingkaran dari sebuah titik di luar lingkaran adalah ruas garis yang titik-titik ujungnya
adalah titik tersebut dan titik potong lingkaran terjauh dari titik tersebut.

Dalil 82:
Jika dua ruas garis singgung lingkaran dibuat dari sebuah titik di luar lingkaran, maka dua ruas garis
singgung tersebut kongruen.
(484)

Jika m dan k adalah
garis singgung lingkaran,
maka PB PA ~


Contoh soal:
1.
Diketahui: PC dan PD adalah garis singgung
AB garis singgung di titik E

Buktikan : PA + PB + AB = PC + PD

A
B
P
O
m
k
O
C
A
E
B
F
D
C A
B
D
E
P

22

2.
Diketahui: Lingkaran dengan pusat A dan B
CD garis singgung di titik P

Buktikan : PA melalui B



Hubungan Antar Sudut dan Busur Lingkaran

Definisi 88:
Bagian dalam lingkaran adalah himpunan titik-titik sehingga sebuah garis yang dibuat melalui titik anggota
tersebut akan memotong lingkaran di dua titik yang berlainan sedang titik tersebut terletak di antaranya.

Definisi 89:
Bagian luar lingkaran adalah himpunan titik dari bidang yang bukan anggota bagian dalam lingkaran atau
bukan titik pada lingkaran.

Definisi 90:
Sudut keliling lingkaran adalah sudut yang titik sudutnya adalah titik dari lingkaran dan sisi-sisinya memuat
talibusur lingkaran.

Dalil 88:
Ukuran sudut keliling lingkaran sama dengan setengah ukuran busur yang dicakupnya.

Dalil 89:
Sudut keliling di depan busur setengah lingkaran adalah sudut siku-siku.

Dalil 90:
Ukuran sudut yang dibentuk oleh garis singgung dan talibusur adalah setengah ukuran busur yang
dicakupnya.



m ZABC = m AB




Dalil 91:
Jika titik sudut sebuah sudut terletak di dalam lingkaran, ukuran sudut tersebut adalah setengah jumlah
ukuran dua busur yang dicakup oleh sudut yang bertolak belakang.




mZABC = (m AC + m ED)


Dalil 92:
Jika titik sudut sebuah sudut terletak di luar lingkaran dan sisi sudut tersebut mencakup busur lingkaran,
maka ukuran sudut tersebut adalah setengah selisih dari ukuran busur-busur yang dicakupnya.

A
O
C
B
E
D
A
C
B
A
- -
B
P
C
D

23

m ZAPB = (m AB m DC)




Dalil 93:
Jika beberapa sudut keliling sebuah lingkaran mencakup busur yang sama, maka sudut-sudut keliling
tersebut kongruen.
(504) (506)
Contoh soal:
1.
Diketahui: Lingkaran dengan pusat O

Buktikan : AE : ED = BE : EC





2.
Diketahui: AE AD ~

EG DF ~

Buktikan : A ABC samakaki



Talibusur, Ruas Garis Singgung dan Ruas Garis Potong Lingkaran








Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3


Dalil 94:
Jika dua talibusur sebuah lingkaran berpotongan di dalam lingkaran, maka hasil kali ukuran ruas garis
pada talibusur pertama sama dengan hasil kali ukuran ruas garis pada talibusur kedua. (Gambar 1)

AE.EB = CE.ED

Dalil 95:
Jika ruas garis singgung dan ruas garis potong sebuah lingkaran dibuat melalui sebuah titik di luar
lingkaran, maka kuadrat ukuran ruas garis singgung lingkaran sama dengan hasil kali ukuran ruas garis
potong lingkaran dengan ukuran bagian ruas garis potong yang terletak di luar lingkaran. (Gambar 2)

PA
2
= PC.PB

P
A
B
D
A
C
B
D
E
C
A
B
P
C
D
A
B
P
O
-
A
B
C
D
E
A
B
C
D
E
F
G
C

24
Dalil 96:
Jika dua garis potong lingkaran dibuat melalui sebuah titik di luar lingkaran, maka hasil kali ukuran ruas
garis potong lingkaran dengan ukuran bagian ruas garis potong yang terletak di luar lingkaran untuk tiap
garis potong lingkaran sama. (Gambar 3)

PB.PA = PC.PD
(516)

Contoh soal:
1.
Diketahui: Lingkaran dengan pusat A dan B
AB bisektor CD dan EF

Buktikan : EF // CD


2.
Diketahui: PC dan PD adalah garis potong
kedua lingkaran

Buktikan :
PD
PF
PC
PA
=


3.
Diketahui: BC AB
BC DC

Buktikan : DC AB ~

A
- -
B
P
C
D
Q
F
E
A
P
C
D
B
F
E
A
B C
D