Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI PENGARUH AIR GARAM DAN AIR TAWAR TERHADAP PERTUMBUHAN KACANG HIJAU

KELOMPOK 1 Anggota: 1. Havidz Masnurillah 2. Dyah Resyta W. 3. Yessy Anggraeni. K 4. Iga Erieani L. 5. Yunita Kurnia W. 6. Wulan A. R. (103174006) (103174010) (103174021) (103174024) (103174036) (103174039)

KELAS 2010A S1 PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA 2010

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Masalah Penelitian Bagaimana pengaruh air garam terhadap pertumbuhan kacang hijau? Bagaimana pengaruh air tawar terhadap pertumbuhan kacang hijau?

1.2 Tujuan Mengetahui pengaruh air garam terhadap pertumbuhan kacang hijau Mengetahui pengaruh air tawar terhadap pertumbuhan kacang hijau

BAB 2 DASAR TEORI


2.1 Tinjauan tentang Air Garam Air garam, atau air asin, adalah air dengan larutan garam jenuh, digunakan untuk mengawetkan sayuran, ikan, dan daging. Walaupun brine digunakan seperti gula dan cuka, juga dapat digunakan dalam transportasi, yaitu untuk menghantarkan panas dari satu tempat ke tempat lain. Hal ini karena larutan garam dalam air merendahkan titik bekunya dan meningkatkan efisiensi transportasi dengan harga murah. Salinitas air berdasarkan persentase garam terlarut Air tawar Air payau Air saline Brine < 0.05 % 0.05 - 3 % 3-5% >5% Brine juga digunakan dalam industri farmasi, di antaranya brine dari sodium chloride dan potassium chloride.

2.2 Tinjauan tentang Air Tawar Air tawar ialah lawan dari air asin. Merupakan air yang tak mengandung banyak garam di dalamnya. Saat menyebutkan air tawar, orang biasanya merujuk ke air dari danau, sungai, salju, atau es. Air tawar juga berarti air yang dapat dan aman untuk dijadikan minuman bagi manusia. Samudera dan laut tersusun dari air asin, yang tidak bisa dan tidak nyaman untuk dikonsumsi oleh manusia.

2.3 Tinjauan tentang Kacang Hijau Kacang hijau

Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Plantae

Divisi: Kelas: Ordo: Famili: Genus:

Magnoliophyta Magnoliopsida Fabales Fabaceae Vigna

Spesies: V. radiata Nama binomial Vigna radiata


(L.) R. Wilczek

Sinonim Phaeolus aureus Roxb. Kacang hijau adalah sejenis tanaman budidaya dan palawija yang dikenal luas di daerah tropika. Tumbuhan yang termasuk suku polong-polongan (Fabaceae) ini memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari sebagai sumber bahan pangan berprotein nabati tinggi. Kacang hijau di Indonesia menempati urutan ketiga terpenting sebagai tanaman pangan legum, setelah kedelai dan kacang tanah. Bagian paling bernilai ekonomi adalah bijinya. Biji kacang hijau direbus hingga lunak dan dimakan sebagai bubur atau dimakan langsung. Biji matang yang digerus dan dijadikan sebagai isi onde-onde, bakpau, atau gandas turi. Kecambah kacang hijau menjadi sayuran yang umum dimakan di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara dan dikenal sebagai tauge. Kacang hijau bila direbus cukup lama akan pecah dan pati yang terkandung dalam bijinya akan keluar dan mengental, menjadi semacam bubur. Tepung biji kacang hijau, disebut di pasaran sebagai tepung hunkue, digunakan dalam pembuatan kue-kue dan cenderung membentuk gel. Tepung ini juga dapat diolah menjadi mi yang dikenal sebagai soun. 2.4 Tinjauan tentang Salinitas

Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air. Salinitas juga dapat mengacu pada kandungan garam dalam tanah.
Salinitas air berdasarkan persentase garam terlarut Air tawar < 0.05 % Air payau 0.05 - 3 % Air saline 3-5% Brine >5%

Kandungan garam pada sebagian besar danau, sungai, dan saluran air alami sangat kecil sehingga air di tempat ini dikategorikan sebagai air tawar. Kandungan garam sebenarnya pada air ini, secara definisi, kurang dari 0,05%. Jika lebih dari itu, air dikategorikan sebagai air payau atau menjadi saline bila konsentrasinya 3 sampai 5%. Lebih dari 5%, ia disebut brine. Air laut secara alami merupakan air saline dengan kandungan garam sekitar 3,5%. Beberapa danau garam di daratan dan beberapa lautan memiliki kadar garam lebih tinggi dari air laut umumnya. Sebagai contoh, Laut Mati memiliki kadar garam sekitar 30%. Istilah teknik untuk keasinan lautan adalah halinitas, dengan didasarkan bahwa halida-halidaterutama kloridaadalah anion yang paling banyak dari elemen-elemen terlarut. Dalam oseanografi, halinitas biasa dinyatakan bukan dalam persen tetapi dalam bagian perseribu (parts per thousand , ppt) atau permil (), kira-kira sama dengan jumlah gram garam untuk setiap liter larutan. Sebelum tahun 1978, salinitas atau halinitas dinyatakan sebagai dengan didasarkan pada rasio konduktivitas elektrik sampel terhadap "Copenhagen water", air laut buatan yang digunakan sebagai standar air laut dunia. Pada 1978, oseanografer meredifinisikan salinitas dalam Practical Salinity Units (psu, Unit Salinitas Praktis): rasio konduktivitas sampel air laut terhadap larutan KCL standar. Rasio tidak memiliki unit, sehingga tidak bisa dinyatakan bahwa 35 psu sama dengan 35 gram garam per liter larutan.

BAB 3 METODE
3.1 Variabel Penelitian a. Variabel Kontrol Kacang hijau Jumlah kacang hijau Media (jumlah kapas) Volume air Waktu pengamatan Tempat pengamatan (botol air mineral 1,5 L) Suhu dan kelembapan Intensitas cahaya

b. Variabel Bebas Air tawar dan air garam

c. Variabel Terikat Pertumbuhan kacang hijau

3.2 Bahan dan Alat Kacang hijau 40 biji Garam Air tawar Kapas Botol air mineral 1,5 L 2 buah Sendok Cutter

3.3 Prosedur 1. Merendam 40 biji kacang hijau ke dalam air tawar dan air garam masingmasing 20 biji selama satu malam.

2. Membasahi kapas dengan air garam dan air tawar masing-masing 10 ml sampai kapas menjadi basah. 3. Meletakkan kapas yang telah dibasahi air tawar ke dalam botol air mineral berlabel A dan yang telah dibasahi air garam ke dalam botol berlabel B. 4. Meletakkan biji kacang hijau ke dalam masing-masing botol yang bersesuaian. 5. Membiarkan selama 3 hari 2 malam. 6. Mengamati percobaan yang sedang berlangsung.

3.4 Analisis Data Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, didapatkan bahwa hanya kacang hijau yang ditanam di media air tawar yang dapat tumbuh. Pada hari pertama, biji yang tumbuh adalah 14 biji. Pada hari kedua, ada 2 biji lagi yang tumbuh. Sehingga total biji yang tumbuh pada hari kedua adalah 16 biji. Selanjutnya pada hari ketiga, biji yang tumbuh bertambah menjadi 19 biji dan 1 biji yang membusuk. Sedangkan kacang hijau yang ditanam di media air garam sama sekali tidak ada yang tumbuh. Bahkan, biji kacang hijau tersebut mengalami pengerutan. Hal ini dikarenakan konsentrasi larutan air garam lebih tinggi daripada konsentrasi larutan yang terdapat di dalam biji kacang hijau. Sehingga, cairan di dalam kacang hijau keluar ke air garam tersebut. Selain itu juga, karena garam bersifat higroskopis yang artinya menyerap air yang ada di sekelilingnya. Sifat garam ini dapat membuat biji kacang hijau kekurangan air. Dengan begitu, biji kacang hijau tidak dapat tumbuh bahkan akan mati.

BAB 4 PEMBAHASAN
4.1 Hasil dan Analisis Tabel Dari pengamatan yang telah dilakukan terhadap kacang hijau yang direndam di dalam air tawar dan air garam, didapatakan hasil seperti pada table di bawah ini: Jumlah kacang hijau yang tumbuh (biji) Hari ke-1 14 0 Hari ke-2 16 0 Hari ke-3 19 0

Jenis air Air tawar Air garam

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa hanya biji kacang hijau yang ditanam di media air tawar yang dapat tumbuh. Sedangkan biji kacang hijau yang ditanam di media air garam sama sekali tidak dapat tumbuh.

BAB 5 KESIMPULAN
Kacang hijau mengalami pertumbuhan di dalam media air tawar Kacang hijau tidak mengalami pertumbuhan di dalam media air garam dikarenakan garam bersifat higroskopis yang artinya menyerap air yang ada di sekelilingnya. Sifat garam ini dapat membuat biji kacang hijau kekurangan air.

DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Air_tawar http://id.wikipedia.org/wiki/Air_garam http://id.wikipedia.org/wiki/Kacang_hijau http://id.wikipedia.org/wiki/Salinitas http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20100801055520AAJZcfg http://id.aswers.yahoo.com/question/index?qid=20100802155200AAgPoCM

LAMPIRAN