Anda di halaman 1dari 8

Kajian Semiotik Sosial

dalam karya sastra

SEORANG LELAKI DAN KELINCI


Oleh Kelompok 5

Semiotik
Semiotik (semiotika) adalah ilmu tentang tanda-tanda. Semiotik itu mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, dan konvensikonvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti Ilmu semiotik menganggap bahwa fenomena sosial atau masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda.

Semiotik Sosial
Sebagai ilmu tanda, semiotika sosial harus dipahami dalam kaitannya dengan konteks, di mana tanda-tanda tersebut difungsikan. tiga unsur yang menjadi pusat perhatian penafsiran teks secara kontekstual, antara lain : 1. Medan wacana (field of discourse) 2. Pelibat wacana (tenor of discourse) 3. Sarana wacana (mode of discourse)

ANALISIS
Dalam analisis semiotik sosial pada cerpen Seorang Lelaki dan Kelinci, karya Najib Kailani ini kami menggunakan metode penelitian ; deskriptif kualitatif. Metode deskriptif kualitatif bertujuan untuk mengungkapkan berbagai informasi kualitatif dengan pendeskripsian yang teliti dan penuh nuansa untuk menggambarkan secara cermat sifat-sifat suatu hal (individu atau kelompok), keadaan fenomena, dan tidak terbatas pada pengumpulan data, melainkan meliputi analisis dan interpretasi (Sutopo, 2002:8-10).

Analisis sastra ditinjau dari segi Semiotik Sosial meliputi 3 komponen, yaitu :

1. MEDAN CERITA Dalam cerita menggambarkan suatu lingkungan yang keadaan ekonominya sangat minim. Lingkungan yang mengajarkan kita akan mensyukuri nikmat allah yang telah diberikan, sekecil apapun itu harus disyukuri. Kehidupan yang mengajarkan arti sebuah kesabaran. Menggambarkan kerasnnya kehidupan.

2. PELAKU :
Abdullah Saruji : Seorang pria tua yang menggunakan tongkat seperti ranting kecil dan berjubah biru, memiliki penyakit yang belum di diagnose, selalu menginginkan untuk makan daging kelinci. Ia tidak pernah menyusahkan dan menyakitkan hati orang lain, tidak pernah merasa enggan untuk menolong teman sesama petani dimusim tanam maupun maupun panen. Najyah : istri Abdullah yang setia dan sabar. Syihat dan latifah : anak-anak Abdullah Saruji dan Najyah yang selalu riang. Seorang Tukang Cukur : Ia yang menolong Abdullah Saruji pada saat Abdullah sakit, karena didesa itu tidak ada satu pun Rumah Sakit dan dokter Jadi, hanya tukang cukur tersebut yang bisa menolongnya. Syekh : Pembaca Al-Quran

3. BAHASA :
Kalau angin musim panas laksana pedang, bagaimana dengan angin musim dingin? (hal.80)

. , :
Kau tahu, maksud hendak memeluk gunung apa daya tangan tak sampai. (hal.81)

. , :
Karena pemerintah mengisap darah petani, bukan mengisap darah merpati. (hal.82)

)menghisap( :

Tingkah mereka membuat debu berterbangan dan bercampur dengan asap api ditungku. (hal.84)

. = : debu : berterbangan
Tidak, dunia sudah ambruk dan rubuh. (hal.85)

:
Rasa perih mengigit-gigit perutnya dari dalam. (hal.85)


Najyah membawa makanan itu jauh-jauh, sementara hatinya terus menangis. (hal.86)

... =
: menangis hatinya