Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Kesehatan gigi dan mulut masyarakat Indonesia masih mendapat perhatian yang serius dari tenaga kesehatan, terutama tenaga kesehatan gigi. Hal ini terlihat dari kenyataan penyakit gigi dan mulut seperti karies dan penyakit periodontal, termasuk resesi gingiva di dalamnya. Salah satu tindakan menjaga kesehatan gigi dan mulut adalah menyikat gigi secara teratur dan benar. Namun, tindakan menyikat gigi yang salah dapat menyebabkan kelainan berupa resesi gingiva. Resesi gingiva atau penurunan gusi sering terjadi, baik karena patologis maupun fisiologis. Resesi gingiva sering menyebabkan hipersensitivitas dentin, dimana gigi terasa sakit yang tajam dan singkat saat makan dingin, panas, asam atau terkena hembusan udara. Resesi gingiva terdapat pada gigi geligi, dimana prevalensi, luas dan beratnnya meningkat seiring bertambahnnya usia. Resesi gingiva lebih banyak ditemukan pada pria dan penyebabnya paling banyak karena cara menyikat gigi yang salah. I.2. Tujuan Penelitian A Tujuan Umum Untuk mengetahui prevalensi ada atau tidaknya resesi gingiva visible disertai hipersensitivitas dentin pada pasien yang datang ke Puskesmas Pejaten Barat I, II dan III selama periode 27 September-1 Oktober 2010.
B.

Tujuan

Khusus
a. Mengetahui prevalensi resesi gingiva visible disertai hipersensitivitas dentin

pada pasien yang datang ke Puskesmas Pejaten Barat I, II dan III selama periode 27 September-1 Oktober 2010 berdasarkan jenis kelamin.
b. Mengetahui prevalensi resesi gingiva visible disertai hipersensitivitas dentin

pada pasien yang datang ke Puskesmas Pejaten Barat I, II dan III selama periode 27 September-1 Oktober 2010 berdasarkan usia.
1

c. Mengetahui prevalensi resesi gingiva visible disertai hipersensitivitas dentin

pada pasien yang datang ke Puskesmas Pejaten Barat I, II dan III selama periode 27 September-1 Oktober 2010 berdasarkan cara menyikat gigi.

I.3. Manfaat Penelitian A. Untuk Masyarakat Dapat meningkatkan kesadaran masyarakat yang berobat gigi ke Puskesmas Pejaten Barat I, II dan III agar lebih memperhatikan penurunan gusi yang disertai hipersensitivitas dentin dengan cara merubah pola menyikat gigi.
B. Untuk Puskesmas Pejaten Barat I, II dan III

Dapat menjadi referensi bagi dokter gigi dan perawat gigi untuk dapat lebih aktif lagi memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pencegahan penurunan gusi dengan menginformasikan cara menyikat gigi yang baik dan benar agar hipersensitivitas dentin tidak terjadi. C. Untuk Mahasiswa Dapat menambah pengalaman, wawasan serta pengetahuan tentang resesi gingiva visible yang disertai hipersensitivitas dentin yang dipengaruhi oleh jenis kelamin, usia dan cara menyikat gigi. D. Untuk FKG Universitas Prof. DR. Moestopo (B) Dapat menambah perbendaharaan karya ilmiah di bidang Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat. I.4. Ruang Lingkup Berkenaan dengan kunjungan pasien gigi ke Puskesmas Pejaten Barat I, II dan III yang datang selama periode 27 September-1 Oktober 2010, maka kami melakukan survei di puskesmas tersebut tentang prevalensi resesi gingiva visible yang disertai hipersensitivitas dentin berdasarakan usia, jenis kelamin dan cara menyikat gigi.

BAB II TINJAUAN DAERAH KERJA

II. 1 Letak Geografi dan Demografi

Gambar 1 Letak Geografi dan Demografi Pejaten Barat

II.2 Data Geografis (gambar 1) 1. Letak Wilayah Wilayah Kelurahan Pejaten Barat terletak di bagian selatan Ibukota DKI Jakarta berbatasan dengan Kelurahan Kalibata, Jl. Raya Pasar Minggu. Ketinggian wilayah Kelurahan Pejaten Barat kurang lebih 50 meter di atas permukaan laut dengan suhu rata-rata 27oC. 2. Luas dan Batas Wilayah Luas Wilayah: a. b. Tanah milik adat 264,88 Ha Tanah milik negara 22,2 Ha

Batas Wilayah: a.
b. c.

Utara Selatan Barat

: Jl. H. Samali Kelurahan Kalibata Kecamatan Mampang Prapatan : Jl. Pejaten Raya Kelurahan Pasar Minggu : - Jl. Ampera Kemang Barat - Jl. Bangka Kelurahan Bangka Kecamatan Mampang Prapatan

d.

Timur

: Jl. Raya pasar minggu Kelurahan Pejaten Timur

II.3 Data Demografi


1. Jumlah Penduduk

Penduduk wilayah Kelurahan Pejaten Barat pada saat ini tercatat 33.406 jiwa (tabel 2), dimana terdapat 8.850 kepala keluarga dari 8 RW dan 100 RT (tabel 1).
2. Kepadatan Penduduk

Jika dibandingkan dengan tahun 2006 jumlah penduduk saat ini mengalami kenaikan sebesar 400 jiwa per tahun atau rata-rata setiap bulannya 33 jiwa. Jumlah penduduk tahun 2009 tercatat 32.819 jiwa.

Tabel 1. Data Wilayah Kelurahan Pejaten Barat No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. RW 1 2 3 4 5 6 7 8 Jumlah RT 19 7 17 14 11 7 10 15 100 KK 1699 666 1510 1175 1099 684 994 1023 8850 LUAS (Ha) 39,23 22,00 40,10 42,12 32,25 30 35 48.07 288,86

Tabel 2. Persentase Jumlah Penduduk Menurut Golongan Umur di Kelurahan Pejaten Barat Tahun 2009 No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Umur 0-4 5-3 10-14 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 Laki-laki 1.815 1.814 1.212 2.221 2.471 1.846 1.872 898 1.114 781 588 537 180 % 10,2 10,2 6,8 12,5 13,9 10,4 10,9 5,1 6,3 4,4 3,3 3,0 1,01
5

Perempuan 1.341 1.285 1.203 1.706 2.456 1.273 2.124 1.032 1.022 317 598 415 296

% 8,6 8,2 7,6 10,9 15,7 8,1 13,5 6,7 6,5 2,02 3,81 2,7 1,9

Jumlah 3.164 3.107 2.415 3.927 4.927 3.119 3.996 1.930 2.136 1.098 1.186 925 476

14. 15. 16.

65-69 70-74 75 Jumlah

130 133 113 17.725

0,7 0,7 0,6

234 163 188 15.681

1,5 1,1 1,2

364 296 301 33.406

Tabel 3. Fasilitas Kesehatan, Pendidikan dan Tempat Umum No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. Jenis Fasilitas (Fasilitas Kesehatan) Rumah Sakit Rumah Bersalin Puskesmas Dokter Bersama 24 Jam Dokter Umum Swasta Dokter Gigi Dokter Spesialis Balkesmas Bimantara Bidan Swasta Laboratorium Apotek Optik Toko Obat Posyandu Kader Dukun Bersalin Terlatih Dukun Bersalin Tidak Terlatih 01 1 2 1 1 1 1 2 02 2 1 1 1 03 1 1 2 4 1 RW 04 05 1 1 4 1 1 1 2 2 1 06 1 1 8 07 1 3 8 08 1 3 7 -

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

III. 1

Gambaran Gingiva Normal


Menurut Glickman, mukosa rongga mulut terdiri dari tiga daerah, yaitu: masticatory mucosa, yang meliputi gingiva dan palatum durum; specialized mucosa, yang meliputi mukosa lidah; serta linning mucosa. Glickman juga menyatakan bahwa gingiva adalah bagian dari rongga mulut yang menutupi prosesus alveolaris dari rahang dan mengelilingi leher gigi. Dimana secara anatomi gingiva terbagi atas free gingiva dan attached gingiva. Free gingiva terdiri dari marginal gingiva dan interdental papil.1 Gingiva normal menurut Glickman, mempunyai tanda-tanda antara lain: warna dari attached gingiva dan marginal gingival merah muda, terdapat stippling pada permukaan attached gingiva, permukaan free gingival margin halus, konsistensi gingiva padat dan kenyal serta melekat erat pada jaringan gingiva di bawahnya (gambar 2).1

Gambar 2 Gambaran Gingiva Normal14

III. 2 Resesi Gingiva A. Pengertian Resesi Gingiva Resesi gingiva adalah terbukanya permukaan akar gigi secara progresif akibat bergeraknya junctional epithelium dan gingiva ke arah apikal. Resesi gingiva dapat diukur dari cemento enamel junction ke gingiva tepi menggunakan probe dalam ukuran millimeter.1 Rasa sakit berupa ngilu sering dikeluhkan penderita resesi gingiva, hal ini disebabkan karena tubuli dentin terbuka akibat kerusakan sementum.11

B.

Etiologi Resesi Gingiva Etiologi resesi gingiva secara garis besar dibedakan menjadi dua faktor, yaitu faktor fisiologis dan faktor patologis.1,11 Faktor fisiologis merupakan faktor berupa penambahan usia seiring dengan pergerakan gigi ke arah oklusal dan pergerakan epithel attachment dan puncak gingiva ke arah apikal akibat degenerasi atau atropi karena faktor usia.1,11 Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Bernadate dan Poernomo (2009), 51 orang berusia
20-60 tahun mengalami resesi gingiva, dimana terjadi peningkatan keparahan resesi seiring dengan meningkatnya usia penderita.8

Faktor patologis yang menjadi penyebab resesi gingiva adalah akumulasi plak dimana kumpulan plak dapat membuat radang pada jaringan; penggunaan atau cara sikat gigi yang tidak benar; penggunaan alat-alat prostetik yang salah sehingga terjadi trauma pada jaringan; gingiva margin yang tidak rata sehingga plak mudah melekat; kekuatan oklusal yang kuat sehingga terjadi tekanan yang berlebih pada jaringan pendukung dan dapat menyebabkan resorbsi tulang fasial dan lingual akar gigi; frenulum perlekatan otot yang menimbulkan daya tarik pada gingiva margin, sehingga gingiva margin longgar dan plak mudah melekat; kebiasaan buruk seperti menggigit jari, kuku, jepit rambut, pensil dan benda-benda tajam lainnya yang dapat menyebabkan resesi gingival; lebar attached gingiva yang kurang mencukupi sehingga mukosa mulut berperan sebagai gingiva margin; dan posisi gigi yang menonjol pada lengkung gigi dapat menyebabkan resesi sehingga jaringan periodontal menipis dan tulang alveolar menjadi rusak.12

Resesi gingiva dapat terjadi sebagai hasil dari teknik yang tidak benar saat menyikat gigi.6 Menurut Rateitschak (1985) yang menyatakan bahwa resesi gingiva banyak disebabkan oleh tehnik menyikat gigi dengan arah horizontal (maju mundur).11

C.

Penggelompokkan Resesi Gingiva Secara umum, terdapat 2 jenis tipe resesi gingiva:1
a. Visible Recession: Resesi gingiva yang tampak secara klinis tanpa

menggunakan alat (gambar 3a).


b. Hidden Recession : Resesi gingiva yang tertutup oleh free gingiva dan hanya

dapat diketahui dengan menggunakan bantuan probe (gambar 3b).

Gambar 3a

Gambar 3b

Gambar 3. 3a. Resesi Gingiva Visible.2 3b.Resesi Gingiva Hidden3

Menurut Miller tipe resesi gingiva (gambar 4):1,13

Kelas 1 Resesi pada gingiva tepi yang belum meluas hingga batas perlekatan mukogingiva. Pada kelas ini belum terjadi kehilangan tulang interdental atau jaringan lunak. Tipe resesi dapat sempit atau lebar Kelas 2 Resesi pada gingiva tepi meluas ke atau di bawah mucogingival junction, tidak ada kelainan tulang dan jaringan lunak pada daerah interdental. Tepi resesi dapat lebar atau sempit. Kelas 3 Resesi pada gingiva tepi yang meluas sampai perlekatan mukogingiva disertai kehilangan tulang interdental dan jaringan lunak atau terdapat malposisi gigi. Kelas 4 Resesi pada gingiva tepi yang meluas sampai perlekatan mukogongiva disertai kehilangan tulang interdental, juga terdapat malposisi gigi yang parah.

a.

b.

10

c. Gambar 4

d.

Klasifikasi Resesi Gingiva Menurut Millier a. Kelas 1. b. Kelas 2. c. Kelas 3 d. Kelas 4. III. 3 Hipersensitivitas Dentin
A. Pengertian Hipersensitivitas Dentin

Hipersensitivitas dentin dapat didefinisikan sebagai rasa sakit yang singkat dan tajam pada dentin yang terbuka sebagai respon terhadap stimuli mekanik, termal atau kemis dan bukan disebabkan oleh kerusakan gigi lainnya atau proses patologis.4 Hipersensitivitas dentin berhubungan dengan dentin yang terbuka, yaitu dentin yang tidak lagi terlindung oleh enamel atau sementum, namun tidak semua dentin yang terbuka disebut hipersensitif.4 Penderita akan mengalami rasa sakit saat menyikat gigi, makan manis, asam, ataupun saat bernafas di udara dingin.4 Hipersensitivitas dentin merupakan suatu keadaan yang sering dijumpai pada kehidupan sehari-hari sering terjadi pada saat makan dan minum, disamping mengganggu pasien secara tidak langsung hipersensitivitas dentin juga akan menimbulkan masalah-masalah lain khususnya kebersihan mulut karena menghalangi pasien melakukan kontrol plak yang menyebabkan terganggunya kesehatan jaringan periodontium, rasa sensitif atau sakit yang ditimbulkan biasanya berhubungan langsung dengan faktor penyebab dan hilang ketika faktor penyebab dihilangkan. Hipersensitivitas dentin dapat terjadi secara spontan bila akar gigi terbuka akibat resesi gingiva.1
B. Etiologi Hipersensitivitas Dentin 11

Penyebab utama hipersensitivitas dentin adalah hilangnya enamel pada mahkota gigi dan resesi gingiva yang menyebabkan akar gigi terbuka. Hilangnya enamel dapat berupa atrisi, erosi dan abrasi.5 1. Atrisi Atrisi diartikan sebagai terkikisnya permukaan gigi akibat pemakaian yaitu keadaan kontak langsung di antara gigi. Atrisi berhubungan dengan fungsi oklusal dan dapat diperberat oleh kebiasaan buruk atau aktivitas parafungsional seperti bruxism.5 2. Abrasi Abrasi diartikan sebagai terkikisnya permukaan gigi akibat objek lain selain gigi antagonis.5
3.

Erosi Erosi merupakan terkikisnya permukaan gigi akibat kontak dengan

bahan asam dan bukan berasal dari aktivitas bakteri.5 Erosi dapat diakibatkan dari makanan atau minuman yang mengandung asam seperti buah citrus, makanan mengandung cuka, jus buah, minuman berkarbonasi dan anggur (wine).5 Vitamin C (ascorbic acid) yang dianjurkan untuk kesehatan ternyata juga dapat menyebabkan erosi gigi.5
C. Mekanisme Hipersensitivitas Dentin

Brannstrom dengan teori hidrodinamiknya mengatakan bahwa aspirasi odontoblast ke dalam tubulus dentin sebagai efek yang tiba-tiba (immediate effect) terhadap rangsangan dari dentin yang tersingkap yang mengakibatkan mengalir keluar cairan dentin melalui tubulus dentin. Perubahan dari permukaan dentin memberikan rangsangan terhadap serabut syaraf tipe A yang berada di sekeliling odontoblast. Di dalam tubulus dentin terdapat dua tipe serabut syaraf yaitu myelinated (serabut syaraf tipe A) dan unmyelinated (serabut syaraf tipe C). Serabut syaraf tipe A peka terhadap sensasi dari hipersensitivitas dentin. Rangsangan terjadi melalui respon mekanoreseptor yang mempengaruhi syaraf pulpa (gambar 5).7

12

Gambar 5 Mekanisme Terjadinya Hipersensitivitas Dentin7

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

IV.1. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang kami gunakan adalah penelitian survei di Puskesmas Kelurahan Pejaten Barat I, II dan III selama periode 27 September1 Oktober 2010. IV.2. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan pengisian kuisioner (terlampir) dan pemeriksaan klinis pada pasien yang datang ke Puskesmas Pejaten Barat I, II dan III selama periode 27 September1 Oktober 2010, hasil yang didapat dimasukkan ke dalam tabel. Karena keterbatasan waktu, tenaga dan jumlah pasien yang berkunjung pada poli gigi, selama lima hari penelitian kami, diperoleh responden sebanyak 103 orang. Tapi, yang dimasukan dalam penelitian kami hanya 100 orang. Karena 1 orang
13

responden usia 17 tahun dan 2 responden berusia diatas 80 tahun. Untuk memudahkan perhitungan dan pengelompokkan usia, 3 responden tersebut tidak dimasukkan. Jadi, jumlah responden penelitian kami berjumlah 100 orang, dengan jumlah responden laki-laki berjumlah 35 orang dan wanita 65 orang. 100 responden tersebut berusia antara 2059 tahun. Pemeriksaan klinis dilakukan dengan cara melihat kondisi gigi geligi pasien dengan menggunakan alat (tabel 5) untuk mengetahui apakah ada tidaknya resesi gingiva visible dan dimasukan ke dalam tabel diikuti tes hembusan udara (tes angin) atau tes chloretil (tabel 4). Responden yang mengalami resesi gingiva visible secara klinis dan mengalami keluhan hipersensitivitas dentin dimasukkan kelompok.

Tabel 4. Pengisian Pemeriksaan Klinis Resesi Gingiva Elemen gigi Tes angin (+/-) / chloretil (+/-)

Tabel 5. Alat-alat yang Digunakan Pada Saat Pengumpulan Data Alat-alat yang Digunakan Pada Saat Pengumpulan Data Kuisioner dan Status Pemeriksaan Klinis Dental Pinset Kaca Mulut Nierbecken Ekskavator Alkohol Sonde Kapas Hembusan Udara/Angin Probe IV.3. Teknik Pengolahan Data Data yang diperoleh dari kuisioner dan pemeriksaan klinis diolah secara sederhana menggunakan tabel-tabel distribusi frekuensi dan disertai perhitungan berupa presentase. IV.4. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian dilakukan di Puskesmas Pejaten Barat I, II dan III. Penelitian dilakukan selama periode 27 September1 Oktober 2010.

14

BAB V HASIL PENELITIAN

Tabel. 6 Persentase Ada Tidaknya Resesi Gingiva (RG) Visible Disertai Hipersentifitas Dentin (HD) di Puskesmas Pejaten Barat I, II dan III

RG DISERTAI HD Ada Tidak

JUMLAH RESPONDEN 68 32 100

PRESENTASE (%) 68 32 100

Tabel 6 menunjukkan dari 100 orang responden, ada 68 responden yang mengalami resesi gingiva visible disertai hipersensitivitas dentin.

Tabel. 7 Persentase Adanya Resesi Gingiva (RG) Visible Disertai Hipersentifitas Dentin (HD) di Puskesmas Pejaten Barat I, II dan III Berdasarkan Jenis Kelamin

15

JENIS KELAMIN PRIA WANITA

JUMLAH RESPONDEN 35 65 100

RESPONDEN RG DISERTAI HD 12 56 68 % 34,28 86,15

Dari 68 responden yang mengalami resesi gingiva visible disertai hipersensitivitas dentin, 82,35% dialami oleh wanita (tabel 7).

Tabel. 8 Persentase Adanya Resesi Gingiva (RG) Visible Disertai Hipersentifitas Dentin (HD) di Puskesmas Pejaten Barat I, II dan III Berdasarkan Usia

KELOMPOK USIA 20 29 30 39 40 49 50 59

JUMLAH RESPONDEN 19 33 30 18 100

RESPONDEN RG DISERTAI HD 8 24 22 14 68 % 42,10 72,72 73,33 77,78

Tabel 8 menunjukkan bahwa responden yang dengan resesi gingiva visible disertai hipersensitivitas dentin paling banyak terjadi di kelompok usia 3039.

Tabel. 9 Persentase Adanya Resesi Gingiva Visible Disertai Hipersentifitas Dentin di Puskesmas Pejaten Barat I, II dan III Berdasarkan Cara Sikat Gigi

JUMLAH RESPONDEN RG DAN HD % 68 100

CARA MENYIKAT GIGI NAIK-TURUN MAJUMEMUTAR MUNDUR 24 % 35.29


16

41

% 60.29

% 4.41

Responden yang mengalami resesi gingiva visible disertai hipersensitivitas dentin 60,29 % melakukan gerakan maju mundur saat menyikat gigi (tabel 9).

BAB VI PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Berdasarkan penelitian yang kami lakukan pada 100 orang responden pasien yang datang ke puskesmas pejaten barat I, II, dan III diperoleh hasil 68 responden mengalami resesi gingiva visible disertai hipersensitivitas dentin.
A.

Prevalensi Resesi Gingiva Visible Disertai Hipersensitivitas Dentin Berdasarkan Jenis Kelamin. Berdasarkan penelitian yang kami lakukan dari 68 responden yang mengalami resesi gingiva visible disertai hipersentivitas dentin terbanyak dialami oleh wanita sebanyak 56 responden (86,15 %). Hasil penelitian kami mengenai hipersensitivitas dentin sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ratu Mirah Afifah dkk (2010) yang menyatakan bahwa wanita cenderung mengalami gigi ngilu karena dikaitkan dengan kebiasaan wanita yang lebih memperhatikan tindakan penyikatan gigi.9

B.

Prevalensi Resesi Gingiva Visible Disertai Hipersensitivitas Dentin Berdasarkan Usia.

17

Berdasarkan penelitian yang kami lakukan dari 68 responden yang mengalami resesi gingiva visible disertai hipersensitivitas dentin tersering pada usia antara 50 59 tahun (77,78 %). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Bernadate dan Poernomo (2009) yang menyatakan bahwa semakin meningkat usia semakin memperparah resesi gingiva. Menurut Watson resesi merupakan perubahan senile
pada periodonsium yang termasuk proses fisiologis, dimana akan meningkat seiring usia yang meningkat. Hal ini didukung pendapat Grant bahwa resesi dari margin gingiva terjadi secara perlahan seiring usia. Dimana pada usia lanjut terjadi penurunan margin gingiva, papil yang datar serta daerah embrasur yang meluas pada keadaan rongga mulut yang sehat.8
C.

Prevalensi Resesi Gingiva Visible Disertai Hipersensitivitas Dentin Berdasarkan Cara Menyikat Gigi Berdasarkan penelitian yang kami lakukan dari 68 responden yang mengalami resesi gingiva visible disertai hipersensitivitas dentin, 60.29% responden menyikat gigi dengan cara maju-mundur. Hal ini sesuai dengan penelitian oleh Rateitschak (1985) yang menyatakan bahwa resesi gingiva banyak disebabkan oleh tehnik menyikat gigi dengan arah horizontal (maju mundur).11

18

BAB VII PENUTUP

VII.1. Kesimpulan
Pada penelitian yang kami lakukan pada pasien usia 20-59 tahun yang datang ke Puskesmas Pejaten Barat I, II dan III selama periode 27 September1 Oktober 2010 dapat disimpulkan bahwa: 1. Prevalensi 2. Prevalensi 3. Prevalensi resesi resesi resesi gingiva gingiva gingiva visible visible visible disertai disertai disertai hipersensitivitas hipersensitivitas hipersensitivitas dentin dentin dentin berdasarkan jenis kelamin sering dialami oleh wanita. berdasarkan usia sering dialami pada usia antara 50 59 tahun. berdasarkan gerakan saat sikat gigi, terbanyak melakukan menyikat gigi dengan gerakan maju-mundur.

VII.2. Saran Tingkat terjadinya resesi gingiva visible disertai hipersensitivitas dentin akibat kesalahan pola menyikat gigi sangat tinggi. Oleh karena itu,

19

dibutuhkan edukasi mengenai cara menyikat gigi. Edukasi dapat dalam bentuk poster-poster atau melalui penyuluhan-penyuluhan di masyarakat. Penelitian ini dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya dengan metode penelitian yang lebih terstandarisasi.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Carranza et al. 2006. Caranzas clinical periodontology. 10th ed. St. Louis: Saunders Elsevier. Hal : 369-370.

2. http://www.privatehealth.co.uk/diseases/dental-health/gingival-recession

3. http://www.tanyadokteranda.com/artikel/2007/09/lho-kok-gusi-saya-berdarah 4. Nield-Gehrig, J.S. Fundamentals of Periodontal Instrumentation and Advanced Root

Instrumentation, 6th edition. Philadelphia: Wolters Kluwer, 2008: 280-282


5. Smith B G N. Toothwear: aetiology and diagnosis. Dent Update 1989; 16: 204-212.

6. Sato, N. Periodontics & Restorative Maintenance: A Clinical Atlas. London: Quintessence Publishing, 2010: 447 7. Orchardson R, David GM. 2006. Managing Dentin Hypersensitivity. JADA Vol. 137
8. http://dentj.fkg.unair.ac.id/

20

9. Afifah, Ratu dkk. Pengalaman dentin hipersensitif pada masyarakat di 4 kota besar di

indonesia (dentine hypersensitive experience among community in 4 big cities in indonesia). Jurnal ilmiah dan teknologi kedokteran gigi FKG UPDM (B). Jakarta. 2010. Vol 7 . no 1. Hal 86-90.
10.http://erabaru.net/kesehatan/34-kesehatan/3690-menyikat-gigi-terlalu-lama-dan-kuatmalahan-merusak-gigi

11. Mustaqimah. Resesi gingiva dan cara mudah melakukan penutupannya. 2008. Dentika journal. Vol 13. Hal 52-56
12. Hoag, Philip dkk. Essential of periodontics. St. Louis : CV Mosby company. Hal 103-

106
13.http://jada.ada.org/cgi/content/full/134/2/220 14. http://www.aquafreshscienceacademy.com/oral-health/gingival-health/gingivitis-

overview.html

21