Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAB I PERCOBAAN MOMEN INERSIA

Disusun Oleh : Arga Brahmantyo J2D009027

LABORATORIUM FISIKA DASAR JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG September, 2011

MOMEN INERSIA SILINDER PEJAL Arga Brahmantyo

Abstrak Dalam laporan ini kami melaporkan hasil percobaan mengenai momen inersia pada silinder pejal.Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui momen inersia dari silinder pejal.Dalam percobaan momen iniersia silinder pejal ini menggunakan konsep torsi dan gerak rotasi dari silinde pejal. Nilai slope yang didapatkan dari grafik sebesar 0,016. Dari slope ini kemudian dapat dicari konstanta torsi (k) melalui perhitungan, dimana nilai konstanta torsi yang didapatkan sebesar 27694,8 cm2gr/s2. Kuadrat periode ketika piringan tidak diberikan pemberat dinyatakan dalam T02. Nilai T02 dapat diketahui dari perpotongan garis slope pada sumbu y (kuadrat periode) ketika massa bernilai 0. Nilai T02 didapatkan sebesar 2,394 sekon.Dari hasil pengolahan data yang menggunakan hasil-hasil diatas, didapatkan nilai I0 sebesar 1681,1 gram cm2 Kata kunci : Momen inersia, torsi, osilasi

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Momen inersia adalah besaran yang analog dengan massa yang dikenal pada gerak rotasi. Momen inersia (I) dari sebuah partikel bermassa m dapat didefinisikan sebagai hasil kali massa massa partikel dengan kuadrat jarak partikel pada atau dari titik poros yang biasa ditulis denganI = m.r2 Sebuah benda tegar tersusun atas banyak partikel terpisah yang mempunyai massa masing-masing m1, m2, m3, . Untuk menentukan momen inersia dari benda-benda seperti ini terhadap suatu poros tertentu maka mula-mula massa masing-masing partikel harus dikalikan dulu dengan jarak dari porosnya (r1, r2, r3, ) kemudian menjumlahkannya. Dengan penambahan massa kita dapat melihat seberapa besar massa mempengaruhi gerak rotasi silinder pejal. Gerakan rotasi ini juga mempengaruhi osilasi yang dilakukan oleh silinder pejal

1.2 Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mencoba mengenalkan dan menerapkan hukum II Newton pada gerak rotasi serta untuk menentukan momen inersia sistem

1.3 Manfaat percobaan Manfaat dari percobaan momen inersia ini adalah praktikan dapat mengetahui nilai momen inersia dari sebuah piringan puntir atau disk.

BAB II DASAR TEORI

Torsi berpengaruh terhadap gerakan benda yang berotasi.semakin besar torsi, semakin besar pengaruhnya terhadap gerakan benda yang berotasi. dalam hal ini, semakin besar torsi, semakin besar perubahan kecepatan sudut yang dialami benda. Perubahan kecepatan sudut = percepatan sudut. Jadi kita bisa mengatakan bahwa torsi sebanding alias berbanding lurus dengan percepatan sudut benda. Perlu diketahui bahwa benda yang berotasi juga memiliki massa. Dalam gerak lurus, massa berpengaruh terhadap gerakan benda. Massa bisa diartikan sebagai kemampuan suatu benda untuk mempertahankan kecepatan geraknya. Apabila benda sudah bergerak lurus dengan kecepatan tertentu, benda sulit dihentikan jika massa benda itu besar. Sebuah truk gandeng yang sedang bergerak lebih sulit dihentikan dibandingkan dengan sebuah taxi. Sebaliknya jika benda sedang diam (kecepatan = 0), benda tersebut juga sulit digerakan jika massanya besar. Misalnya jika kita menendang bola tenis meja dan bola sepak dengan gaya yang sama, maka tentu saja bola sepak akan bergerak lebih lambat. Dalam gerak rotasi, massa benda tegar dikenal dengan julukan Momen Inersia. Momen Inersia dalam Gerak Rotasi mirip dengan massa dalam gerak lurus. Kalau massa dalam gerak lurus menyatakan ukuran kemampuan benda untuk mempertahankan kecepatan linear (kecepatan linear = kecepatan gerak benda pada lintasan lurus), maka Momen Inersia dalam gerak rotasi menyatakan ukuran kemampuan benda untuk mempertahankan kecepatan sudut (kecepatan sudut = kecepatan gerak benda ketika melakukan gerak rotasi. Disebut sudut karena dalam gerak rotasi, benda bergerak mengitari sudut).Makin besar Momen inersia suatu benda, semakin sulit membuat benda itu berputar alias berotasi.sebaliknya, benda yang berputar juga sulit dihentikan jika momen inersianya besar ( Giancolli,2001)

2.1

Momen Inersia Partikel Sebelum kita membahas momen inersia benda tegar, terlebih dahulu kita pelajari Momen

inersia partikel.Konsep partikel ini yang kita gunakan dalam membahas gerak benda pada Topik Kinematika (Gerak Lurus, Gerak Parabola, Gerak Melingkar) dan Dinamika (Hukum Newton). Jadi benda-benda dianggap seperti partikel.Konsep partikel itu berbeda dengan konsep benda tegar. Dalam gerak lurus dan gerak parabola, misalnya, kita menganggap benda sebagai partikel,

karena ketika bergerak, setiap bagian benda itu memiliki kecepatan (maksudnya kecepatan linear) yang sama. Ketika sebuah mobil bergerak, misalnya, bagian depan dan bagian belakang mobil mempunyai kecepatan yang sama. Jadi kita bisa mengganggap mobil seperti partikel alias titik.Ketika sebuah benda melakukan gerak rotasi, kecepatan linear setiap bagian benda berbedabeda.Bagian benda yang ada di dekat sumbu rotasi bergerak lebih pelan (kecepatan linearnya kecil), sedangkan bagian benda yang ada di tepi bergerak lebih cepat (kecepatan linear lebih besar).Jadi , kita tidak bisa menganggap benda sebagai partikel karena kecepatan linear setiap bagian benda berbeda-beda ketika ia berotasi. Kecepatan sudut semua bagian benda itu sama. Momen Inersia sebuah partikel yang melakukan gerak rotasi.Hal ini dimaksudkan untuk membantu kita memahami konsep momen inersia. Setelah membahas Momen Inersia Partikel, kita akan berkenalan dengan momen inersia benda tegar.

Gb 2.1. Sebuah partikel diberikan gaya F yang bergerak rotasional

Sebuah

partikel bermassa m diberikan gaya F sehingga ia melakukan gerak rotasi

terhadap sumbu O. Partikel itu berjarak r dari sumbu rotasi. mula-mula partikel itu diam (kecepatan = 0). Setelah diberikan gaya F, partikel itu bergerak dengan kecepatan linear tertentu. Mula-mula partikel diam, lalu bergerak (mengalami perubahan kecepatan linear) setelah diberikan gaya. Dalam hal ini benda mengalami percepatan tangensial. Percepatan tagensial = percepatan linear partikel ketika berotasi. Kita bisa menyatakan hubungan antara gaya (F), massa (m) dan percepatan tangensial (at), dengan persamaan Hukum II Newton : (1) Karena partikel itu melakukan gerak rotasi, maka ia pasti mempunyai percepatan sudut. Hubungan antara percepatan tangensial dengan percepatan sudut dinyatakan dengan persamaan : (2)

Sekarang kita masukan

ke dalam persamaan di atas :

(3) Kita kalikan ruas kiri dan ruas kanan dengan r :

(5) Perhatikan ruas kiri.rF = Torsi, untuk gaya yang arahnya tegak lurus sumbu (bandingan dengan gambar di atas). Persamaan ini bisa ditulis menjadi : (6) adalah momen inersia partikel bermassa m, yang berotasi sejauh r dari sumbu rotasi. persamaan ini juga menyatakan hubungan antara torsi, momen inersia dan percepatan sudut partikel yang melakukan gerak rotasi. Jadi Momen Inersia partikel merupakan hasil kali antara massa partikel itu (m) dengan kuadrat jarak tegak lurus dari sumbu rotasi ke partikel (r). Secara matematis, momen inersia partikel dirumuskan sebagai berikut : (7)

2.2

Momen Inersia Benda Tegar Secara umum, Momen Inersia setiap benda tegar bisa dinyatakan sebagai berikut :

(8)

Benda tegar bisa kita anggap tersusun dari banyak partikel yang tersebar di seluruh bagian benda itu. Setiap partikel-partikel itu punya massa dan tentu saja memiliki jarak r dari sumbu rotasi. jadi momen inersia dari setiap benda merupakan jumlah total momen inersia setiap partikel yang menyusun benda itu (Abdullah,2007)

2.3

Momen inersia silinder Momen inersia selinder dapat dihitung dengan menghitung momen inersia dari benda

bersegin kemudian ambil limit n mendekati tak hingga. Atau dengan menggunakanmetode berikut ini. Anggap sebuah selinder pejal berjari-jari R. Momen inersia selinder ini (dengan analisa dimensi) boleh ditulis sebagai (9) denganc adalah konstanta dan m massa selinder.

Gb. 2.2. Selinder yang berputar Sekarang kita tinjau selinder berongga dengan jari-jari rongga r dan massanya m.

Gb. 2.3. Selinder berongga Dengan prinsip superposisi momen inersia selinder ini sama dengan momen inersia selinder besar dikurangi dengan momen inersia selinder kecil. (10) dengan menulis massa selinder besar sebagai kita peroleh
( )

dan massa selinder kecil

(11)

Sekarang anggap sekumpulan massa dengan massa total m tersebar pada lingkaran berjari-jariR. Momen inersia dari lingkaran ini adalah, (12)

Selanjutnya pada persamaan (11) kita ambil r = R dan kita gunakan persamaan (12) untuk memperoleh persamaan: (13) Dari persamaan (25) kita peroleh c = , sehingga momen inersia selinder bermassa m dan berjari-jari R yang berputar terhadap sumbu yang melalui pusat massanya adalah (14) (Surya,2008)

BAB III TATA KERJA

3.1

Alat dan Bahan

3.1.1 Alat Timbangan Digital Alat untuk mengukur beban yang akan di pasang pada piringan Jangka Sorong ( Ketelitian 0,1 mm) Alat untuk mengukur jarak beban menuju pusat silinder.Ketlitian jangka sorong Neraca Sebagai tempat penyangga statis dan silinder Statis Sebagai penghubung neraca dengan silinder pejal Silinder Pejal Sebagai benda yang akan dihitung momen inersianya Stopwatch (Ketelitian 0,1 sekon) Alat untuk mengukur periode silinder berotasi Massa Sebagai pembeban pada silinder pejal

3.2

Gambar alat dan bahan

Gb 3.1 Jangka sorong

Gb 3.2 Stopwatch

Gb 3.3 Timbangan

3.3

Skema alat

Gb 3.4 Skema percobaan

3.4

Diagaram alir percobaan Mulai

Merangkai alat seperti gambar 3.4.Setelah itu mengukur masssa beban yang akan dipasang pada silinder pejal.

Menyimpangkan silinder pejal tanpa beban sebesar 90 dari posisi awal.Menghitung waktu silinder untuk melakukan 20 osilasi.

Menambahkan beban pada silinder pejal dan melakukan langkah yang sama seperti diatas.

Mencatat periode dari hasil percobaan

Selesai Gb 3.5 Diagram alir percobaan

3.5

Diagram proses fisis

Saat silinder pejal berotasi, silinder tersebut mempunyai torsi. Semakin besar torsinya semakin besar penaruhnya terhadap kecepatan benda berotasi

Saat gerak rotasi, massa benda tegar dikenal dengan julukan Momen Inersia. Massa mempengaruhi kecepatan benda berotasi

Saat silinder pejal belum dibebani massa silinder pejal mempunyai momen inersia I0. Setelah ditambah beban mass bertambah sehingga silinder mempunyai momen inersia sebesar I

Makin berat beban pada silinder pejal, semakin lama silinder pejal untuk berhenti.Sehingga waktu osilasi lebih lama, Gb 3.6 Diagram proses fisis

3.5
massa (gr) 0

Pengolahan data
Osilasi (n) 20 20 20 20 20 Nilai Terukur Xi (s) 1.52 1.45 1.37 1.42 1.40 X (s) 1.43 1.43 1.43 1.43 1.43 Deviasi (Xi - X) (s) 0.09 0.02 -0.06 -0.01 -0.03 Kuadrat Deviasi (Xi X) (s) 0.0077 0.0003 0.0038 0.0001 0.0010 (Xi) 0.013 Deviasi Standar Rata - rata (Sx) 0.03 Nilai X yang benar 1.430.03 Keseksamaan 0.999821415

massa (gr) 86

Osilasi (n) 20 20 20 20 20

Nilai Terukur Xi (s) 1.97 1.99 2.00 1.99 2.00

X (s) 1.99 1.99 1.99 1.99 1.99

Deviasi (Xi - X) (s) -0.02 0 0.01 0 0.01

Kuadrat Deviasi (Xi X) (s) 0.0004 0 1E-04 0 1E-04

(Xi) 0.0006

Deviasi Standar Rata - rata (Sx) 0.01

Nilai X yang benar 1.99 0.01

Keseksamaan 0.999972476

massa (gr) 107

Osilasi (n) 20 20 20 20 20

Nilai Terukur Xi (s) 2.09 2.09 2.09 2.09 2.08

X (s) 2.09 2.09 2.09 2.09 2.09

Deviasi (Xi - X) (s) 0.002 0.002 0.002 0.002 -0.008

Kuadrat Deviasi (Xi X) (s) 4E-06 4E-06 4E-06 4E-06 6.4E-05

(Xi)

Deviasi Standar Rata - rata (Sx) 0.00

Nilai X yang benar 2.09 0.00

Keseksamaan

8E-05

0.999990421

massa (gr) 179

Osilasi (n) 20 20 20 20 20

Nilai Terukur Xi (s) 2.55 2.39 2.39 2.36 2.36

X (s) 2.41 2.41 2.41 2.41 2.41

Deviasi (Xi - X) (s) 0.14 -0.02 -0.02 -0.05 -0.05

Kuadrat Deviasi (Xi X) (s) 0.0196 0.0004 0.0004 0.0025 0.0025

(Xi) 0.0254

Deviasi Standar Rata - rata (Sx) 0.04

Nilai X yang benar 2.41 0.04

Keseksamaan 0.999852128

massa (gr) 230

Osilasi (n) 20 20 20 20 20

Nilai Terukur Xi (s) 2.45 2.45 2.46 2.45 2.46

X (s) 2.45 2.45 2.45 2.45 2.45

Deviasi (Xi - X) (s) -0.004 -0.004 0.006 -0.004 0.006

Kuadrat Deviasi (Xi X) (s) 1.6E-05 1.6E-05 3.6E-05 1.6E-05 3.6E-05

(Xi) 0.0001

Deviasi Standar Rata - rata (Sx) 0.00

Nilai X yang benar 2.45 0.00

Keseksamaan 0.999990018

massa (gr) 251

Osilasi (n) 20 20 20 20 20

Nilai Terukur Xi (s) 2.49 2.50 2.49 2.49 2.49

X (s) 2.49 2.49 2.49 2.49 2.49

Deviasi (Xi - X) (s) -0.002 0.008 -0.002 -0.002 -0.002

Kuadrat Deviasi (Xi X) (s) 4E-06 6.4E-05 4E-06 4E-06 4E-06

(Xi) 8E-05

Deviasi Standar Rata - rata (Sx) 0.00

Nilai X yang benar 2.49 0.00

Keseksamaan 0.999991974

7 6 5 T (sekon) 4

y = 0.0164x + 2.3948 R = 0.9575

Series1 3 2 1 0 0 50 100 150 200 250 300 massa (gram) Linear (Series1) Linear (Series1)

Berdasarkan data dari grafik 1, dan hasil percobaan didapatkan nilai y = 0,016 x + 2,394 = 0,016 T02
=

2,394 sekon

= 4,2 cm menggunakan rumus

Perhitungan nilai

Perhitungan nilai

menggunakan rumus

Perhitungan nilai

menggunakan rumus

Untuk massa 1

Untuk massa II

Untuk massa III

Untuk massa IV

Untuk massa V

Untuk Massa VI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Percobaan yang dilakukan adalah mengenai momen inersia suatu benda.Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mendapatkan nilai momen inersia dari silinder pejal. Piringan pejal yang sudah terpasang pada statif dan digantungkan menggunakan string adalah benda yang akan diukur momen inersianya. Pada silinder pejal terdapat 2 lubang.Lubang tersebut digunakan untuk menambahkan beban pada silinder pejal.Momen inersia didapatkan menggunakan metode gerak rotasi dan osilasi. Saat silinder di simpangkan sebesar = 90 lalu di lepas, silinder akan

melakukan gerak rotasi dan berosilasi. Silinder yang berosilasi di hitung periodenya menggunakan stopwatch. Silinder tersebut di tambahkan beban di kedua lubangnya untuk membuktikan silinder pejal akan lebih lama melakukan osilasi di banding tanpa ada beban tambahan. Data massa (m) dan kuadrat periode (T2) yang didapatkan dari hasil pengukuran diplotkan pada suatu grafik, seperti yang ditunjukkan pada gambar 4.1.

7 6 5 T (sekon) 4

y = 0.0164x + 2.3948 R = 0.9575

Series1 3 2 1 0 0 50 100 150 200 250 300 massa (gram) Linear (Series1) Linear (Series1)

Gb 4.1 Grafik hubungan antara kuadrat periode (T2) dengan massa (m)

Dari gambar 4.1 dapat dilihat bahwa hubungan antara kuadrat periode dengan massa adalah linier. Semakin bertambah massa pemberat, maka kuadrat periodenya semakin bertambah pula. Hasil plot data kuadrat periode dengan massa tidak linier sempurna dikarenakan 1. Ruang yang tidak vakum Silinder pejal yang dilepaskan setelah di simpangkan akan berotasi dan berosilasi. Osilasi adalah gerakan bolak-balik. Gerakan bolak-balik akan terganggu apabila keadaan sekitar terdapat angin. Angin dapat membuat gerakan osilasi menjadi kurang sempurna. Nilai slope yang didapatkan dari grafik sebesar 0,016. Dari slope ini kemudian dapat dicari konstanta torsi (k) melalui perhitungan, dimana nilai konstanta torsi yang didapatkan sebesar 27694,8 cm2gr/s2. Kuadrat periode ketika piringan tidak diberikan pemberat dinyatakan dalam T02. Nilai T02 dapat diketahui dari perpotongan garis slope pada sumbu y (kuadrat periode) ketika massa bernilai 0. Nilai T02 didapatkan sebesar 2,394 sekon.Dari hasil pengolahan data yang menggunakan hasil-hasil diatas, didapatkan nilai I0 sebesar 1681,1 gram cm2.

BAB V PENUTUP

4.1

Kesimpulan Dalam perrcobaan momen inersia benda pejal ini menggunakan metode torsi dan osilasi.

Dari silinder pejal yang berotasi akan menghasilkan osilasi, dari osilasi inilah di dapatkan periode yang digunakan sebagai data untuk memperoleh nilai . Setelah nilai di dapatkan kita

bisa mendapat K. Setelah ssemua konstanta didapatkan kita bisa mendapatkan nilai I0. Berikut hasil yang didapatkan dari percobaan momen inersia : Hasil grafik dari percobaan

7 6 5 T (sekon) 4

y = 0.0164x + 2.3948 R = 0.9575

Series1 3 2 1 0 0 50 100 150 200 250 300 massa (gram) Linear (Series1) Linear (Series1)

Hasil yang diperoleh pada laporan ini : Faktor yang menyebabkan grafik tidak linier sempurna adalah Ruang yang tidak vakumb y = 0,016 x + 2,394 = 0,016 T02
=

2,394 sekon

= 4,2 cm

4.2

Saran Berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh dari percobaan momen inersia ini, dapat

direkomendasikan beberapa saran yang dapat bermanfaat bagi praktikan lain yang akan melakukan percobaan momen inersia ini. Pada saat memberikan pemberat pada piringan, hendaknya digunakan pemberat yang memiliki massa yang sama, agar piringan tersebut seimbang ketika berosilasi pada sumbu rotasinya. Perulangan dalam pengambilan data hendaknya diperbanyak agar data yang didapatkan menjadi lebih akurat.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Mikrajuddin Catatan Kuliah . Bandung. ITB Giancoli, D.C.. 1998.Fisika Jilid 1 Edisi kelima. Jakarta.Erlangga. Surya, Yohannes. 2008 Momen Inersia Tanpa Kalkulus. Jakarta

LAMPIRAN

Massa Beban Beban Silinder Massa 43 43 Kuning 36,5 32 36 36 Putih 10,5 10,5

Data Piringan Jarak beban diameter Jari-jari ke pusat 13,5 6,75 4,2

Hubungan kuadrat periode dan massa T Variasi 1 2 3 4 5 6 7 T(periode) M(massa) 1,43 1,99 2,09 2,33 2,41 2,45 2,49 0 86 107 158 179 230 251 kuadrat 2,0449 3,9601 4,3681 5,4289 5,8081 6,0025 6,2001

Pengukuran periode tiap beban Variasi pemberats Pengulangan Periode 1 2 Tanpa beban 3 4 5 1 2 Silinder 3 4 5 1 2 Silinder+Putih 3 4 5 1 2 Silinder+Kuning 3 4 5 1 2 Silinder+kuning+putih 3 4 5 Silinder+kuning+kuning 1 2 1,52 1,45 1,37 1,42 1,40 1,97 1,99 2,00 1,99 2,00 2,09 2,09 2,09 2,09 2,08 2,35 2,30 2,30 2,31 2,37 2,55 2,39 2,39 2,36 2,36 2,45 2,45 Kuadrat periode 2,31 2,10 1,88 2,02 1,96 3,88 3,96 4,00 3,96 4,00 4,37 4,35 4,36 4,37 4,35 5,52 5,29 5,29 5,34 5,62 6,50 5,71 5,71 5,57 5,57 6,00 6,00

3 4 5 1 2 Silinder+kuning+kuning+putih 3 4 5

2,46 2,45 2,46 2,49 2,50 2,49 2,49 2,49

6,05 6,00 6,05 6,20 6,25 6,20 6,20 6,20