Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Prinsip-prinsip gaya gesek dan modulus elastisitas telah banyak diterapkan manusia

seperti peristiwa pengereman, pengangkutan barang, pembuatan jembatan dan lain lain.

Prinsip-prinsip tersebut telah dirumuskan secara sistematik dan percobaan ini dilakukan

untuk menerapkan kembali rumusan/teori yang telah ada dalam kasus-kasus yang

sederhana agar praktikan lebih cepat memahami rumusan atau teori tadi.

1.2 Tujuan Percobaan

Percobaan bertujuan menentukan :

a. besarnya koefisien gesekan statis dan kinetis

b. besarnya modulus elastisitas dari batang kayu

1.3 Permasalahan

Bagaimana cara menentukan percepatan benda, koefisien gesek statis dan kinetis,

menyimpulkan hubungan keduanya dan membuat grafik µs sebagai fungsi g/(g-a) serta

mencari besar modulus elastisitas pada batang kayu.

1.4 Sistematika Laporan

Laporan ini secara umum terdiri atas 5 bab. Selain itu laporan ini juga

dilampiri dengan abstrak, daftar pustaka dan laporan sementara.

Bab pertama adalah “Pendahuluan” yang berisi tentang latar belakang, tujuan,

permasalahan percobaan serta sistematika laporan hasil percobaan.

Bab kedua adalah “Dasar Teori” merupakan ringkasan teori dan rumus yang berkaitan

dengan topik percobaan.

Bab ketiga adalah “Cara kerja dan Peralatan” merupakan panduan tentang alat yang

dibutuhkan serta urutan proses kerja.


Bab keempat adalah “Analisis Data dan Pembahasan” merupakan bagian mengenai

pengolahan data hasil pengukuran yang telah dilakukan.

Bab kelima adalah “Kesimpulan” berisi tentang kesimpulan dari pembahasan yang

dilakukan serta membandingkannya dengan teori yang berlaku.


BAB II

DASAR TEORI

2.1 Koefisien Gesek Statis dan Kinetis

Suatu benda yang bergerak pada suatu permukaan benda lain akan mendapat

gaya yang arahnya berlawanan dengan arah benda. Gaya ini terjadi akibat gesekan kedua

permukaan benda dan disebut sebagai gaya gesek. Bukti adanya gaya gesek adalah

peristiwa pengereman pada mobil atau ketika kita mendorong sebuah buku dilantai

dengan gaya tertentu dan buku bergerak maka buku tersebut akan berhenti di satu titik.

Gaya gesek ini selanjutnya dibagi menjadi dua yaitu gaya gesek statis dan kinetis.

Perbedaan itu terjadi pada harga koefisien geseknya. Koefisien gesek statis (µs) pasti

lebih besar daripada harga koefisien kinetisnya karena itu besar gaya gesek statis pasti

lebih besar daripada gaya gesek kinetis (terhadap sistem yang sama). Hal ini dapat kita

buktikan ketika kita mendorong sebuah mobil. Ketika mobil masih diam lalu kita dorong

tepat akan bergerak ( berlaku gaya gesek statis ) akan terasa lebih berat daripada setelah

mobil bergerak. Untuk kasus tersebut dapat pula dimodelkan sebagai berikut :

Gambar 2.1 Perbedaan gaya gesek statis dan kinetis

Dari gambar diatas jika gaya F lebih kecil atau sama dengan gaya gesek statis

(fs = µs . N)
maka benda A tidak bergerak (a = 0). Tapi bila gaya F sedikit saja lebih besar dari gaya

gesek statis (fs) maka benda akan bergerak dengan percepatan (a) dan menimbulkan

gaya gesek kinetis (fk) yang lebih kecil dari fs tapi tetap sebanding dengan gaya normal

(N) dirumuskan sebagai :

(fk = µk . N).

Koefisien gesek (statis dan kinetis) itu sendiri merupakan suatu konstanta yang

besarnya dipengaruhi oleh kondisi permukaan benda-benda yang bergesekkan. Makin

kasar suatu permukaan maka makin besar pula koefisien geseknya, harga koefisien gesek

berkisar antara 0 (licin sempurna) sampai dengan 1 (paling kasar).

2.2 Modulus Elastisitas

Tegangan yang diperlukan untuk menghasilkan suatu regangan tertentu bergantung pada

sifat benda yang menerima tegangan tersebut. Perbandingan tegangan terhadap

regangan menghasilkan apa yang disebut modulus elastisitas. Makin besar modulus

elastisitas suatu benda maka makin besar pula tegangan yang diperlukan untuk tiap satu

satuan regangan. Sehingga dapat diktakan bahwa modulus Elastisitas (E) adalah

perbandingan antara tegangan dan regangan :

E=P/e

E = ( F /A)

( ∆L / L )

E=(F.L)

( ∆L . A )

dimana : P = tegangan ;

e = regangan ;

∆L = pertambahan panjang ;

L = panjang awal ;

A = luas permukaan yang terkena gaya


Dari rumus dasar tersebut ternyata besar modulus elastisitas sebanding dengan besarnya

gaya F dan panjang L dan berbanding terbalik dengan pertambahan panjang dan luas

benda.

Gambar 2.2 Modulus Elastisitas

Untuk gambar diatas besarnya lenturan/regangan yang terjadi pada titik tengah batang

tersebut adalah :

∆ = w . L3

4 E b h2

dimana : b = lebar batang ;

h = tebal batang

Pada batas proporsional tertentu jika belum melampaui batas modulus elastisitas

benda tersebut, perbandingan antara besarnya tegangan dan regangan adalah konstan.

Oleh karena itu pada kondisi seperti itu berlaku hukum Hooke yang menyatakan bahwa

modulus elastisitas suatu benda adalah konstan dan hanya tergantung pada sifat benda itu

sendiri.
BAB III

PERALATAN DAN CARA KERJA

3.1 Peralatan

1. Papan gesekan, katrol, kotak kayu dan beban (anak timbangan)

2. Stop Watch

3. Batang kayu yang akan ditentukan modulus elastisitasnya

4. Papan skala, kaca dan pinggan tempat beban

5. Mistar dan jangka sorong 1 buah

3.2 Cara Kerja

A. Koefisien gesekan statis

1. Menyusun peralatan seperti gambar berikut,dan meletakkan benda A pada posisi

tertentu.

Gambar 3.1 Peralatan uji koefisien statis dan kinetis

2. Memberi beban pada A dan B sehingga sistem tepat akan bergerak

3. Mencatat massa di A dan di B (termasuk tempat bebannya)

B. Koefisien gesekan kinetis

1. Menyusun peralatan seperti Gb. 3.1.


2. Meletakkan A pada posisi tertentu dan memberi beban di A (50 gr) dan di B

(100 gr, 150 gr) sehingga sistem bergerak dengan percepatan a. Mencatat posisi

benda A sebelum bergerak dan waktu tempuh sistem sampai berhenti

(mengulangi langkah ini tiga kali).

3. Melakukan langkah dua untuk posisi 60 cm dan 50 cm.

C. Modulus elastisitas

1. Mengukur panjang, lebar dan tebal kayu dengan teliti.

2. Meletakkan batang pada penumpu dan catat posisi skala.

3. Memberi beban (anak timbangan) pada tempat beban ditengah tumpuan satu per

satu dan mencatat kedudukan skala tiap penambahan beban.

4. Kurangi beban satu per satu dan catat kedudukan skala pada tiap pengurangan

beban.
BAB IV

ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisa Data

Pada bagian ini akan dihitung ralat dari data pada percobaan koefisien gesek kinetis.

Persamaan percepatan untuk koefisien gesek kinetis


Tabel 4.1

M1 = 0.05 kg
No M2 S t (detik) t - t' ( t - t' )2
(kg) (m)
1 0.15 0.6 0.81 -0.004 1.6E-05
2 0.15 0.6 0.84 0.026 6.760E-04
3 0.15 0.6 0.8 -0.014 1.96E-04
4 0.15 0.6 0.81 -0.004 1.60E-05
5 0.15 0.6 0.81 -0.004 1.60E-05
2
t' = 0.814 Σ ( t - t' ) = 9.2E-04

2
Σ ( t - t' ) = 9.20E-04 = 0.000046
n(n-1) 20

Ralat Mutlak : ∆ = (0.000046)1/2 = 0.00678


Ralat Nisbi : I = ( ∆ /X ) x 100 % = 0.8332 %
Keseksamaan = 100 % - I = 99.1668 %
a = 2.S/t 2
maka :

a = 2.S/t 2 = 1.811058322 m/dt2


Ralat a = 1.81105832 + 0.012283 m/dt 2
µk = M2/M1 - ((M1 + M2) /M1).a/g
maka :
µk = 2.26079252
Tabel 4.2

M1 = 0.05 kg
No M2 S t (detik) t - t' ( t - t' )2
(kg) (m)
1 0.1 0.5 0.94 0.012 1.44E-04
2 0.1 0.5 0.94 0.012 1.44E-04
3 0.1 0.5 0.94 0.012 1.44E-04
4 0.1 0.5 0.88 -0.048 2.304E-03
5 0.1 0.5 0.94 0.012 1.44E-04
2
t' = 0.928 Σ ( t - t' ) = 2.88E-03

2
Σ ( t - t' ) = 2.88E-03 = 0.000144
n(n-1) 20

Ralat Mutlak : ∆ = (0.000144)1/2 = 0.01200


Ralat Nisbi : I = ( ∆ /X ) x 100 % = 1.2931 %
Keseksamaan = 100 % - I = 98.7069 %
2
a = 2.S/t
maka :

a = 2.S/t 2 = 1.161192033 m/dt 2


Ralat a = 1.16119203 + 0.013934 m/dt 2
µk = M2/M1 - ((M1 + M2) /M1).a/g
maka :
µk = 1.64453305

Tabel 4.3

No M1 M2 M2/M1
(kg) (kg) (µs)
1 0.05 0.08 1.6
2 0.2 0.18 0.9

µs rata-rata = 1.6 + 0.9 = 1.25E+00


2
Tabel 4.4

E = (w.l )/(4. ∆ b .h )
No M+/M- l B h ∆+
(kg) (m) (m) (cm) (m)
1 0.1 1 0.015 0.01 1.5E-04
2 0.1 1 0.015 0.01 2.500E-04
3 0.2 1 0.015 0.01 6.00E-04
4 0.2 1 0.015 0.01 9.50E-04
5 0.2 1 0.015 0.01 1.25E-03

E penambahan beban
E1 = 7.407E+09
E2 = 8.889E+09
E3 = 7.407E+09
E4 = 7.018E+09
E5 = 7.111E+09
E pengurangan beban
E1 = 7.407E+09
E2 = 7.407E+09
E3 = 7.407E+09
E4 = 6.667E+09
E5 = 7.111E+09

4.2 Pembahasan

Pada tabel 4.1 hingga tabel 4.4 telah dihitung nilai dari koefisien gesek statis(µ

s),percepatan(a),koefisien gesek kinetis(µk),dan nilai dari elastisitas dari batang

kayu(E),sesuai dengan rumusan yang juga telah dituliskan didalam tabel-tabel tersebut.Untuk

selengkapnya dapat dilihat dalam daftar berikut:

1.Menghitung µs

a. Mb / Ma = (80) / (50) = 1.6

b. Mb / Ma = (180) / (200) = 0.9

maka µs = (1.6+0.9) / 2 = 1.25

2. Menghitung percepatan (a) dengan rumus : a = 2S / t2

tabel I : a = 1.811 m / s2
a = 1.811 + 0.0123 m / s2

tabel II : a = 1.1612 m / s2

a = 1.1612 + 0.0139 m / s2

3. Menghitung µk : [ µk = Mb / Ma - (Ma + Mb) . a / g]

Ma

µk1 = 2.2608

µk2 = 1.6445

maka µk (hasil perhitungan)= (2.2608 + 1.6445) / 2 = 1.95265

4.Mencari besar Modulus Elastisitas

E = ( w . L3 ) / ( 4 ∆ b h2 )

Penambahan beban

E1= 7.407 x 109 kg / m2

E2= 8.889 x 109 kg / m2

E3= 7.407 x 109 kg / m2

E4= 7.018 x 109 kg / m2

E5=7.111 x 109 kg / m2

Penambahan beban

E1= 7.407 x 109 kg / m2

E2= 7.407 x 109 kg / m2

E3= 7.407 x 109 kg / m2

E4= 6.667 x 109 kg / m2

E5=7.111 x 109 kg / m2

5.Membuat grafik Y = AX + B ; variabel Y adalah M2/M1 atau (1+µk)(g/(g-a))-1

variabel X ialah abs[g /(g-a)].

Tabel 4.5
No X Y X2 XY
1 1.2267 -2.5466 1.50479289 -3.12391422
2 1.1344 -1.731131 1.28686336 -1.963795006
Σx = 2.3611 Σy = -4.277731 Σx 2 = 2.79165625 Σxy = -5.087709226

A = (n. Σxy- Σx. Σy) = -8.8349837


2
(n. Σx - Σx. Σx)

B = (Σy-AΣx)/n = 8.291274564

Maka Y= -8.835X + 8.291745

6. Menghitung besar µk berdasar grafik :

Dari rumus : Y = (µk + 1)X + 8.291745

Y = ( µk + 1)g/(g-a) + 8.291745

µk =

maka µk =
Grafik M2/M1 sebagai fungsi g/(g-a)

Berdasarkan perhitungan tersebut didapat bahwa nilai koefisien gesek baik koefisien

gesek statis maupun koefisien kinetis lebih besar dari 1 ,hal ini disebabkan tidak

diperhitungkannya massa papan dan gantungan beban.Padahal massa kedua benda

tersebut(papan dan gantungan)jauh lebih besar dari pada massa beban itu sendiri.

BAB V

KESIMPULAN

Berdasar hasil analisa data dan pembahasan pada bab sebelumnya dapat diambil kesimpulan

sebagai berikut :

1. Besar koefisien gesek statis adalah 1.25 dan koefisien gesek kinetis adalah :

a. berdasar perhitungan sebesar 1.95265

b. berdasar grafik sebesar

Perbedaan yang besar ini sangat mungkin terjadi karena tingkat keseksamaan data yang

tidak seimbang. Hal ini dimungkinkan terutama dalam pengambilan data yang kurang

teliti baik dari faktor praktikan maupun dari alat yang dipakai.

2. Besarnya modulus elastisitas untuk batang kayu berdasar urutan percobaan (dimensi

batang dapat dilihat pada sub-bab pembahasan point 4) adalah :

Penambahan beban

E1= 7.407 x 109 kg / m2

E2= 8.889 x 109 kg / m2

E3= 7.407 x 109 kg / m2


E4= 7.018 x 109 kg / m2

E5=7.111 x 109 kg / m2

Pengurangan beban

E1= 7.407 x 109 kg / m2

E2= 7.407 x 109 kg / m2

E3= 7.407 x 109 kg / m2

E4= 6.667 x 109 kg / m2

E5=7.111 x 109 kg / m2

3. Massa benda yang cukup besar tidak bisa diabaikan begitu saja dalam perhitungan gaya gesek ,Karena hal ini

menyebabkan kesalahan dalam perhitungan dari ketentuan yang sebenarnya(0 < koefisien gesek < 1).
DAFTAR PUSTAKA

1. Sears & Zemansky, “ FISIKA UNTUK UNIVERSITAS I”, edisi ke-2

Penerbit Erlangga, Jakarta, 1994

2. Sutrisno, “SERI FISIKA DASAR”, edisi ke-5, penerbit ITB 1986

3. Dosen-dosen FMIPA ITS, “FISIKA DASAR I”, edisi 1997, penerbit Yayasan Pembina

Jurusan Fisika