Anda di halaman 1dari 21

Design Consideration of a Fiber Optic Communication System

(Pertimbangan Desain Sistem Komunikasi Serat Optik)


Eka Juliantara Teknik Elektro Universitas Udayana
Pokok Bahasan
Pengantar
Modulasi Analog dan Digital
Noise dalam Proses Deteksi
Bit Error Rate (BER)
Desain Sistem
Jarak Maksimum
1. Pengantar
Fiber optik, sumber optik dan detektor optik membentuk tiga unit dasar setiap
sistem komunikasi fiber optik. Pada bagian ini, dibahas bagaimana elemen dasar ini
dapat ditempatkan bersama-sama untuk membangun link komunikasi fiber optik point
to point.
Asumsikan kita metransmisikan informasi antara dua titik (lihat Gambar 1).
Gambar 1. Link Komunikasi Fiber Optik Poin-to-point
Jarak antara dua titik dapat dalam range kurang dari 1 km (link data computer)
sampai beberapa ribu km, sebagai contoh link antar samudera. Dalam link tersebut,
akan terdapat transmitter (LED atau diode laser (ILD)), jalur transmisi berupa fiber
optik (multimode atau single mode fiber), dan receiver optik (PIN atau APD) yang
diikuti oleh elektronik deteksi. Pemilihan komponen ini tergantung dari jarak serta bit
rate. Ketika jarak antara dua titik lebih besar dari sekitar 50 100 km, kemudian
karena redaman dalam link atau disperi pulsa, maka diperlukan untuk memakai
regenerator yang terdiri dari kombinasi transmitter dan receiver. Regenerator ini
mendeteksi deretan pulsa sebelum dayanya menjadi sangat rendah atau pulsa menjadi
tidak dapat dibentuk kembali dan retime, reshape serta regenerate (karenanya disebut
dengan repeater 3R) deretan pulsa optik yang baru untuk ditransmisikan ke bagian
berikutnya. Untuk link yang dibatasi oleh loss (loss memiliki pengaruh yang lebih
besar dari dispersi), regenerator dapat digantikan oleh penguat optik. Penguat optik ini
memperkuat sinyal optik dalam domain optik itu sendiri tanpa mengubahnya ke sinyal
listrik sebelum ditransimisikan lebih lanjut. Tentu saja kita tidak dapat menempatkan
penguat optik ini dalam jumlah yang tak berhingga karena hal ini tidak dapat
megkompensasi dispersi dan juga akan menambah noise. Jadi, dalam link yang
panjang ( long-haul link), kita harus memakai regenerator elektronik
Dalam desain link fiber optik, biasanya terdapat dua analisa yang harus
dikerjakan untuk memasikan bahwa sistem melakukan keperluan yang kita inginkan,
yaitu power budgeting dan rise time budgeting. Power budgeting memastikan bahwa
daya yang cukup diterima oleh penerima sehingga error pada detector dibawah dari
batasan tertentu. Rise time budgeting memastikan bahwa bandwidth system
keseluruhan mampu menangani bit rate.
Bandwidth dan Rise Time
Dalam sistem komunikasi optik, deretan pulsa dibentuk dengan menghidup
dam mematikan sumber optik seperti diode laser atau LED. Adanya pulsa cahaya
berhubungan dengan biner 1 dan tidak adanya pulsa cahaya beruhubungan dengan
biner 0. Dua teknik umum yang dipakai untuk mewakili deretan pulsa digital adalah
format nonreturn to zero (NRZ) dan return to zero (RZ). Dalam format NRZ, lamanya
masing-masing pulsa digital sama dengan priode pulsa sedangkan dalam RZ lamanya
pulsa lebih pendek dari periode pulsa (perhatikan Gambar 2).
Gambar 2. Deretan Pulsa Digital 00101110110 dalam Format NRZ dan RZ
Pemilihan skema tersebut tergantung pada beberapa factor seperti sinkronisasi, drift,
dsb. Sebagai contoh, deretan bit 1 atau 0 yang panjang akan menghasilkan sinyal yang
konstan dalam skema NRZ dan akan merupakan masalah dalam hubungannya dengan
timing informasi untuk pemrosesan elektronik. Masalah ini biasanya diatasi dengan
memakai teknik line-coding. Sebagai contoh, kita dapat mewakili bit 0 dan 1 dengan
pulsa yang memiliki durasi T/2 (T adalah pemisahan antar pulsa) seperti ditunjukkan
dalam Gambar 3 bagian atas. Skema coding ini disebut dengan Manchester coding
dan menyelesaikan masalah mengenai penyimpangan baseline d.c. dalam deteksi nilai
ambang (threshold).
Gambar 3. Pulsa yang berhubungan dengan bit 1 dan 0 dalam Manchester Coding
Salah satu perbedaan antara deretan pulsa NRZ dan RZ adalah keperluan akan
bandwidth. Untuk memahami hal ini, perhatikan bahwa deretan 1 dalam RZ akan
berhubungan dengan perubahan yang paling cepat sedangkan deretan 1 dan 0 yang
berubah-ubah dalam NRZ akan berhubungan dengan perubahan yang paling cepat.
Komponen frekuensi dasar (fundamental) dalam deretan pulsa 1 untuk format RZ
adalah 1/T seperti yang dapat dilihat dari distribusi sinus yang digambarkan
dalam Gambar 3 bagian bawah (Deretan bit 1 dan 0 yang berhubungan dengan
kecepatan perubahan maksimum dalam NRZ, sedangkan deretan bit 1
memberikan perubahan yang tercepat dalam RZ. Kurva sinusoidal berhubungan
dengan komponen frekuensi fundamental dalam deretan pulsa. ). Untuk NRZ,
komponen frekuensi dasar dalam deretan 1 dan 0 yang beru ah-ubah adalah 1/2T.
Karenanya sistem yang memiliki bandwidth sekurang-kurangnya 1/T dan 1/2T
akan melewati deretan RZ dan NRZ secara berturut-turut, tanpa terlalu banyak
keburukan. Jadi, jika bit rate diwakili oleh B, maka B = 1/T dan bandwidth f
yang diperlukan oleh skema RZ dan NRZ adalah:
f B untuk RZ
(1)
f B/2 untuk NRZ
(2)
Metode familiar yang lain mengenai perwakilan keperluan akan bandwidth adalah
melalui parameter yang disebut dengan rise time T
r
, yaitu waktu yang diperlukan oleh
sistem untuk naik dari 10% ke 90% dari nilai maksimum untuk input berupa fungsi
step (tangga). Bandwidth dan rise time memiliki hubungan:
T
r
=
f
35 , 0

(3)
Hubungan yang terbalik antara rise time dan bandwidth diharapkan untuk setiap
sistem linear, sehingga:
T
r
=
B
35 , 0
untuk RZ
(4)
T
r
=
B
70 , 0
untuk NRZ
(5)
Jadi, format RZ memiliki keperluan bandwidth atau rise time yang lebih
dibandingkan dengan format NRZ, karena dalam format RZ, pulsa lebih sempit.
Sebagai contoh, untuk pengiriman pulsa dengan kecepatan 2,5 Gb/s, akan diperlukan
bandwidth 2,5 GHz untuk format RZ dan 1,25 GHz untuk format NRZ yang
menunjukkan keperluan bandwith yang lebih sempit untuk NRZ.
Sistem komunikasi digital memiliki keuntungan diatas sistem komunikasi
analog. Salah satu yang paling penting adalah pemakaian repeater regenerative, yaitu
sinyal digital dapat dikirim melalui jarak yang sangat jauh tanpa banyak penambahan
noise. Dalam system komunikasi digital, pada repeater, hanya diperlukan mendeteksi
ada atau tidaknya pulsa dari pada mengukur benruk pulsa seperti yang terjadi dalam
sistem komunikasi analog. Keputusan terhadap pulsa tersebut (1 atau 0) dapat dibuat
dengan akurasi yang dapat diterima bahkan kalau pulsa terdistorsi atau terdapat noise.
Jadi, pada penerima, pulsa baru yang bersih dihasilkan dan ditransmisikan ke stasiun
repeater berikutnya.
2. Noise dalam Proses Deteksi
Ketika cahaya jatuh pada photodetector, pasangan e-h (electron hole)
dibangkitkan, yang akan menghasilkan arus listrik. Proses konversi ini dari cahaya ke
arus listrik diikuti oleh penambahan noise. Dua mekanisme noise yang paling penting
dalam rangkaian photodetector adalah shot noise dan thermal noise.
2.1 Shot Noise
Shot noise bangkit ketika arus listrik terbentuk dari aliran muatan diskrit (yang
disebut dengan electron) yang secara random dibangkitkan. Jadi, bahkan ketika
photodetector disinari oleh daya optik yang konstan P, karena pembangkitan yang
random pasangan e h, arus yang dihasilkan akan berfluktuasi secara random disekitar
nilai rata-rata yang ditentukan oleh daya rata-rata optik P.
Karena arus shot noise random, maka nilai rata-ratanya adalah nol. Karenanya
dapat ditentukan kuadrat rata-rata arus shot noise, yang dinyatakan sebagai:
iNS
2
= 2 e I f
dengan e = muatan electron
I = arus rata-rata yang dibangkitkan oleh detector
f = bandwidth yang mempertimbangkan noise
Karena arus I tergantung pada daya optik yang datang ke detektro, maka shot noise
meningkat terhadap daya optik tersebut.
Perlu dijelaskan walaupun ketika tidak adanya daya optik yang menuju
photodetektor, seluruh phodetector akan membangkitkan arus I
d
yang dihasilkan dari
carrier yang dibangkitkan secara thermal. Arus ini disebut dengan dark current dan
meningkat terhadap peningkatan temperatur. Jadi total shot noise yang dihasilkan
oleh photodetector adalah:
iNS
2
= 2 e (I + I
d
) f
(6)
Nilai-nilai dark current yang khas untuk detector yang berbeda adalah sbb:
I
d
1 10 nA silicon
50 500 nA germanium
1- 20 nA InGaAs
Sebagai contoh, pertimbangkan photodiode PIN silicon yang beroperasi pada
850 nm dengan dark current sebesar 1 nA. Untuk masukan daya optik sebesar 1 W,
dengan responsivity sebesar 0,65 A/W, memiliki arus:
I = R P 0,65 A
Dark current seperti detector tersebut yaitu 1 nA, sangat kecil dibandingkan dengan
arus sinyal yaitu 650 nA, dan karenanya dapat diabaikan dalam perhitungan shot
noise. Sehingga untuk detector dengan bandwidth 100 MHz:
iNS
2
= 2 x 1,6 x 10
-19
x 0,65 x 10
-6
x 10
8
2,08 x 10
-17
A
2
dan arus shot noise rms adalah:
iNS
2
4,6 Na
2.2 Thermal Noise
Thermal noise (juga disebut dengan noise Johnson atau Nyquist) muncul atau
bangkit pada resistor beban rangkaian photodiode, karena gerakan thermal random
dari electron. Bahkan, electron pada setiap resistor tidak pernah stationer tetapi
memiliki gerakan yang random dalam resistor. Karena gerakan electron merupakan
arus listrik, maka gerakan thermal random ini mengarah ke kehadiran arus random
dalam resistor. Karena gerakan electron adalah random maka rata-rata arus ini adalah
nol. Therma noise ini akan ditambahkan ke arus yang dihasilkan oleh photodetector.
Kuadrat rata-rata arus noise thermal pada suatu resistor R
L
dinyatkan sebagai:
iNT
2
=
L
B
R
f T k 4

(7)
dengan k
B
= konstanta Boltzman = 1,38 x 10
-23
J/K
T = Temperatur
f = bandwidth deteksi
Perhatikan bahwa noise thermal tidak tergantung pada daya optik yang datang, tidak
seperti pada shot noise. Selain itu, meningkatnya nilai R
L
mengurangi noise thermal.
Nilai R
L
tidak dapat dinaikkan sampai ke tak berhingga karena bandwidth detector
ditentukan oleh R
L
.
Sebagai contoh untuk parameter dengan nilai R
L
= 500 , f = 100 MHz,
dan T = 300 K memberikan nilai arus thermal:
iNT
2
= 3,3 x 10
-15
A
2
.
dan arus noise thermal rms = 5,75 x 10
-8
A. Perbandingan antra contoh ini dengan
contoh pada bagian 2.1 menunjukkan dalam situasi tersebut noise thermal lebih
mendominasi.
2.3 Signal to Noise Ratio (SNR)
Salah satu parameter yang paling penting dalam deteksi adalah SNR yang
didefinisikan sebagai:
SNR =
noise daya total
daya rata rata

sinyal
(8)
Jika P mewakili daya optik yang datang pada photodetector dengan
responsitivity R, maka arus sinyal adalah RP dan daya sinyal listrik sebanding dengan
R
2
P
2
. Total daya noise sebanding dengan total kuadrat rata-rata arus noise yang
merupakan jumlah dari shot noise dan thermal noise. Jadi SNR:
SNR =
L
B
d
R
f T k
f I I e
P R

+ +
4
) ( 2
2 2

(9)
Dalam persamaan (9) yang mendefinisikan SNR, biasanya salah satu dari noise (shot
atau thermal noise) pada penyebut mendominasi tergantung pada kondisi operasi.
Sehingga dibawah operasi yang dibatasi shot noise (shot noise-limited), SNR
dinyatakan sebagai:
SNR =
f I RP e
P R
d
+ ) ( 2
2 2
(shot noise limited)
(10)
dengan I = R P
Sedangkan untuk operasi thermal noise limited, SNR dinyatakan sebagai:
SNR =
f T k
R P R
B
L
4
2 2
(thermal noise limited)
(11)
Sebagai contoh, peretimbangkan photodiode PIN silicon dengan R = 0,65 A/W, I
d

1 nA, R
L
= 1000 yang beroperasi pada 850 nm. Jika daya optik yang datang
sebesar 500 nW dan bandwidth sebesar 100 MHz, maka:
Arus sinyal I = R P
= 0,65 x 5 x 10
-7
= 0,325 A
Arus shot noise rms karena sinyal = (2eRP f)
1/2
3,2 nA
Arus shot noise rms karena dark current = (2eI
d
f)
1/2
0,18 nA
Arus noise thermal rms:
2 / 1
4

,
_


L
B
R
f T k
40,7 nA
Karena itu, untuk detektor ini arus noise thermal sekitar 12 kali kebih besar dari arus
shot noise sinyal dan 225 kali lebih besar dari dark current.
SNR yang berhubungan dengan daya yang datang adalah sebesar 63 18 dB.
Contoh di atas valid untuk detector PIN yang tidak memiliki gain internal, tidak
halnya untuk detektor APD yang memiliki gain internal karena proses avalanche. Jika
M menyatakan gain internal detector APD, maka untuk daya optik input P, arus sinyal
adalah:
I = M R P (12)
dan daya sinyal listrik sebanding dengan M
2
R
2
P
2
.
Thermal noise untuk APD sama seperti halnya pada PIN dan dinyatakan
dengan persamaan (7).
Berkenaan dengan shot noise, karena proses pengalian (multiplication)
avalanche adalah random, maka factor pengali M dengan sendirinya adalah random
dan M yang muncul dalam persamaan (12) hanya berupa nilai rata-rata. Jadi, untuk
APD, shot noise dapat ditulis sebagai:
f I RP e M i
d
x
NS
+
+
) ( 2
2 2

(13)
dimana excess noise factor adalah M
2+x
/M = M
x
. Nilai x = 0, menunjukkan tidak
terdapatnya excess noise. Unutk APD silicon nilai x 0,3, APD InGaAs nilai x 0,7
dan APD germanium nilai x 0,1.
Untuk kasus APD, kita memiliki:
SNR =
L
B
d
x
R
f T k
f I RP eM
P R M

+ +
+
4
) ( 2
2
2 2 2

(14)
Contoh
Perimbangkan APD dengan M = 50 dan x = 0 (tidak terdapat excess noise). Jika kita
memakai parameter seperti contoh sebelumnya, maka dalam hal ini:
Arus sinyal = 50 x 0,65 x 5 x 10
-7
16,25 A
Arus shot noise rms karena sinyal = (2eM
2
RP f)
1/2
161 nA
Noise dark current rms = (2eM
2
I
d
f)
1/2
8,9 nA
Thermal noise tetap sama yaitu 40,7 nA.
SNR dalam hal ini adalah:
SNR =
2 2 2
2 3
7 , 40 9 , 8 161
) 10 25 , 16 (
+ +
x
9548 39,8 dB
Nilai SNR APD ini (39,8 dB) merupakan perbaikan yang sangat signifikan terhadap
SNR PIN yang bernilai 18 dB (lihat contoh sebelumnya).
Jika thermal noise dominan terhadap shot noise, maka
SNR =
f T k
R P R M
B
L
4
2 2 2

(15)
Nilai SNR ini diperbaiki dengan factor M
2
berkenaan dengan persamaan (11). Namun
jika M bernilai besar, maka detector akan menjadi shot noise limited dan thermal
noise diabaikan sehingga:
SNR =
f I RP eM
P R
d
x
+
+
) ( 2
2
2 2

(16)
Nilai SNR ini lebih buruk dibandingkan dengan detector PIN karena excess noise M
x
pada detector APD (lihat persamaan (10)). Jadi dalam operasi thermal noise yang
dominan, APD memiliki SNR yang lebih baik dan karenanya labih menarik
dibandingkan PIN.
Persamaan (14) dapat ditulis kembali sebagai:
SNR =
L
B
d
x
R
fM T k
f I RP eM
P R
2
2
2 2
4
) ( 2

+

+ +

(17)
Berdasarkan persamaan (17), bagian kedua dari penyebut (berhubungan dengan
thermal noise) nilainya berkurang dengan meningkatnya nilai M, dan bagian pertama
(berhubungan dengan shot noise) nilainya meningkat dengan meningkatnya nilai M.
Jadi, terdapat nilai factor pengali M yang optimum untuk memperoleh nalai SNR
yang maksimum. Nilai SNR yang maksimum akan berhubungan dengan nilai
penyebut yang minimum dalam persamaan (17), berkenaan dengan nilai M. Dengan
mendeferensialkan penyebut persamaan (17) dan menyamakan dengan nol, diperoleh
nilai M yang optimum:
) (
4
2
d L
B x
op
I RP xeR
T k
M
+

+

(18)
Perhatikan bahwa nilkai M yang optimum tergantung pada daya input jika noise dark
current bernilai kecil.
Contoh
Pertimbangkan APD silicon yang beroperasi pada 300 K, dengan R
L
= 1000 dan
daya optik input sebesar 100 nW. Khasnya nilai R = 0,65 A/W dan x = 0,m3.
Dengan mengabaikan dark current, berdasarkan persamaan (18) diperoleh:
M
op
42.
SNR APD untuk f = 100 MHz adalah
SNR = 577 27,6 dB
SNR untuk PIN (M = 1) adalah:
SNR 2,5 4 dB.
Jadi dalam kasus ini, SNR APD mendapatkan perbaikan sebesar 23,6 dB
dibandingkan dengan PIN.
Contoh
Pertimbangkan APD germanium dengan responsitivity R = 0,45 A/W yang beroperasi
pada 1300 nm dan 300 K.
Untuk germanium x = 1, sehingga:
M
op
=
3 / 1
) (
4
1
]
1

+
d L
B
I RP eR
T k
Jika P = 500 nW dan mengabaikan I
d,
dan R
L
= 1000 ,
M
op
7,7
Nilai SNR yang diperoleh akan lebih kecil dibandingkan dengan PIN.
2.4 Bit Error Rate
Maksud atau tujuan regenerator atau receiver adalah untuk mensampel pulsa
optic yang datang pada kecepatan yang sama dengan kecepatan transmisi bit, dan
pada setiap sample diputuskan apakah nilai sample tersebut berhubungan dengan satu
atau nol. Keputusan ini biasanya dikerjakan dengan menset level threshold, dan setiap
sinyal di atas threshold diputuskan sebagai satu dan dibawahnya sebagai nol. Sekali
hal ini dikerjakan, sederetan sinyal yang terdiri dari satu dan nol diperoleh kembali
dalam receiver atau dipakai lagi untuk menggerakkan sumber optik untuk
menghasilkan kembali sederetan pulsa optik dalam regenerator.
Jka terdapat daya optik yang tidak cukup dalam pulsa optik yang diterima
(karena redaman fiber), jika terdapat dispersi atau terlalu banyak noise yang
ditambahkan oleh detector, maka kemungkinan akan terdapat error dalam
mendapatkan kembali informasi atau dalam pembentukan kembali deretan pulsa
optik. Jadi, meskipun deretan pulsa optik berasal dari deretan pulsa yang bersih,
pada setiap regenerator akan menambahkan error terhadap sinyal bersih tersebut.
Diinginkan untuk menjaga kecepatan error dibawah 10
-9
atau 10
-12
pada setiap
regenerator atau receiver pada setiap sistem komunikasi yang praktis.
Dalam mendapatkan informasi kembali di receiver atau regenerator, juga
penting untuk mensampel pulsa pada kecepatan yang benar. Jadi, titik keputusan
(decision point) harus tetap dalam phase yang benar terhadap deretan pulsa yang
datang, kalau tidak beberapa informasi akan hilang. Keperluan pulsa clock untuk
operasi decision biasanya diperoleh dari deretan pulsa yang datang. Jadi, penting
untuk menjamin bahwa deretan pulsa yang datang memeiliki energi yang cukup pada
frekuensi yang berhubungan dengan kecepatan bit, kalau tidak, teknik yang lain
dipakai untuk mendapatkan informasi ini dari komponen frekuensi yang lain pada
sinyal input.
Gambar 5 menunjukkan deretan pulsa yang ditransmisikan 0101101, sinyal
yang diterima yang dirusak oleh noise dan dispersi, dan deretan pulsa yang dibentuk
kembali. Seperti yang ditunjukkan, karena adanya noise, bit-bit yang ditransmisikan
akan dibaca dengan salah jika sinyal yang diterima pada posisi bit 1 dibawah
threshold atau jika sinyal yang diterima pada posisi bit 0 lebih besar dari threshold.
Gambar 5. Deretan pulsa yang ditransmisikan, sinyal yang diterima yang dirusak oleh
noise dan dispersi, dan deretan pulsa yang dibentuk kembali. Perhatikan bahwa
karena adanya noise, satu bit telah dibaca dengan salah.
Kualitas system komunikasi digital ditentukan oleh BER, yang didefinisikan
sebagai:
BER =

durasi dalam diterima ynag bit al jumlah tot


durasi pada salah dengan dibaca yang bit

(19)
BER biasanya menentukan probabilitas rata-rata identifikasi bit yang salah. Jadi, BER
10
-9
menunjukkan rata-rata 1 bit dari 10
9
dibaca dengan salah. Jika sistem tersebut
beroperasi pada 100 Mb/s, yaitu 10
8
pulsa per detik, maka untuk menerima pulsa 10
9
,
waktu yang diperlukan adalah:
10
10
10
8
9
detik
yang merupakan rata-rata waktu sebuah kesalahan terjadi. Namun, jika BER sistem
tersburt adalah 10
-6
, maka rata-rata sebuah kesalaha akan terjadi setiap 0,01 detik,
yang merupaka nilai yang tidak dapat diterima.
Semakin besar nilai SNR, maka semakin kecil nilai BER. Untuk sebagain
besar receiver PIN, noise dinominasi oleh thermal noise, yang tidak tergantung pada
arus sinyal. Jadi, noise pada bit 1 atau 0 adalah sama, dan dalam kasus seperti itu
setting nilai threhold yang optimum adalah pada titik tengah dari level satu dan nol
dan BER hubungannya dengan SNR dinyatakan sebagai:
BER =
1
1
]
1

,
_

2 2
1
2
1 SNR
erf
(20)
dengan erf mewakili fungsi error. Untuk x > 3, pendekatan yang baik erf(x) adalah:
erf(x) = 1 -
2 1
x
e
x


(21)
Jadi, untuk SNR 72, persamaan (20) dapat ditulis sebagai:
BER
8 /
2 / 1
.
2
SNR
e
SNR

,
_


(22)
Untuk mencapai BER 10
-9
, persamaan (22) memprediksikan SNR 144 atau 21,6
dB.
Gambar 6 menunjukkan ketrgantungan BER pada SNR seperti yang
dinyatakan oleh persamaan (20).
Gambar 6. Ketergatungan BER pada SNR
Perhatikan bahwa karena kurva menurun secara tajam pada nilai SNR yang melebihi
15 dB, maka perbaikan yang besar dapat dicapai dalam deteksi dengan peningkatan
SNR yang kecil pada SNR yang melebihi 15 dB.
Dibawah operasi thermal noise limited, diperlukan nilai SNR minimum untuk
mencapai BER tertentu (lihat persamaan (20)). Dengah memakai persamaan (11)
untuk SNR untuk detector PIN dibawah operasi thermal noise limited, diperoleh
persamaan yang memberikan daya optik minimum untuk mencapai nilai SNR
tertentu:
SNR
f T k
R P R
B
L

4
2
min
2
atau
P
min
=
2 / 1
4 1

,
_


SNR
R
f T k
R
L
B
(23)
Dengan mengasumsikan R
L
= 160 sehingga dengan kapasitansi detektor 1 pF,
maka bandwith f = 1/(2 R
L
C) 1 GHz. Untuk R = 0,5 A/W, SNR = 144 (untuk
BER 10
-9
) diperoleh:
P
min
8,0 W -21 dBm
Persaman (23) dapat dimodifikasi dalam hubungannya dengan kecepatan bit B
dengan memperhatikan bhawa untuk sistem NRZ, bandwith f = B/2. Juga, jika C
mewakili kapasitansi photodiode, maka:
f =
C R
L
2
1
=
2
B

atau
R
L
=
CB
1

(24)
Dengan mensubstitusi nilai R
L
dan f dalam persamaan (23), diperoleh:
P
min
=
R
B
(2 k
B
T C SNR)
1/2
(25)
Yang memberikan sensitivitas receiver sebagai fungsi bit rate (kecepatan bit) dan
SNR yang diperlukan dibawah operasi thermal noise limited.
Contoh
Diketahui nilai C = 1 pF, T = 300 K, R = 0,5 A/W dan untuk BER = 10
-9
, SNR = 144,
diperoleh:
P
min
(nW) 3,87 x B Mb/s.
Jadi, untuk 100 Mb/s, P
min
0,39 W -34 dBm, dan untuk 1 Gb/s, P
min
3,87
W -24 dBm.
Contoh
Untuk BER = 10
-6
, berdasarkan persamaan (22), SNR yang diperlukan adalah 90 (19,5
dB), dan daya minimum yang diperlukan berdasarkan persamaan (25) adalah:
P
min
(nW) 3,06 x B Mb/s.
Jadi untuk 100 Mb/s, P
min
0,306 W -35,1 dBm. Dengan membandingkan
dengan contoh sebelumnya. Dapat diperhatikan bahwa BER dapat dikurangi dari 10
-6
menjadi 10
-9
dengan meningkatkan level daya hanya sebesar 1 dB. Jadi, berkurangnya
loss yang kecil sekalipun dapat menghasilkan perbaiakan yang signifikan dalam
deteksi.
Dalam kasus APD, jika thermal noise tetap dominan, maka berdasarkan
persamaan (15), SNR meningkat dengan factor M
2
. jadi berdasarkan persamaan (25)
diperoleh P
min
untuk kasus APD berkurang dengan factor M. Karena nilai M khas
dalam range 20 50, maka perbaikan yang diperoleh sekitar 15 dB. Dalam
kenyataannya, karena shot noise juga meningkat terhadap M, maka terdapat nilai M
yang optimum dalam mencapai perbaikan yang maksimum.
Dalam bagian sebelumnya diasumsikan deteksi adalah therma noise limited.
Inti dalam sensitivitas deteksi diberikan oleh operasi shot noise limited. Untuk
detector yang ideal (tidak terdapat thermal noise, dark current, dan efesiensi quantum
adalah satu) BER dinyatakan sebagai:
BER =
2
p
N
e


(26)
dengan N
p
= rata-rara jumlah photon dalam bit 1. Untuk BER = 10
-9
, persamaan (26)
memberikan nilai N
p
= 21. Jadi, daya optik minimium dalam bit 1 (dengan durasi T)
dinyatakan sebagai:
P =
T
hv N
p
Dalam sistem NRZ, karena bit rate dan durasi pulsa T memiliki hubungan sebagai B =
1/T, maka:
P = h v N
p
B (27)
Untuk bit rate = 1 Gb/s pada 1550 nm, nilai P:
P 2,69 nW -55,7 dBm
Batasan (limit) nilai N
p
= 21 direferensikan sebagai batasan (limit) quantum.
Sebagaian besar receiver beroperasi pada 20 dB (pada level yang lebih tinggi) dengan
N
p
2000.
Dalam pembahasan di atas, P mewakili daya puncak. Kadang-kadang P
dinyatakan dalam hubungannya dengan daya rata-rata. Karena bit 1 dan 0 memiliki
kemungkinan kejadian yang sama, maka P
av
= P/2, sehingga:
P
av
=
2
hvB N
p

(28)
Dalam system RZ, durasi pulsa adalah T/2 = 1/2B, dan karena pulsa hanya
menduduki setengah dari periode bit serta bit 1 dan 0 memiliki kemungkinan kejadian
yang sama, maka P
av
= P/4. jadi, bahkan dalam system RZ, P
av
yang diperlukan
dibawah operasi quantum limited masih dinyatakan sebagai persamaan (28).
5. Desain Sistem
Link komunikasi fiber optik yang paling sederhana adalah link point- to-point,
yaitu sebuah transmitter pada satu sisi mengirim informasi disepanjang link fiber
optik ke sebuah receiver pada sisi yang lain. Desain sistem seperti tersebut melibatkan
banyak aspek seperti tipe sumber yang dipakai (LED atau LD), tipe fiber (multimode
atau single mode) dan photodetector (PIN atau APD). Pemilihan berbagai macam
komponen tertantung pada jarak antara transmitter dengan receiver serta kecepatan
(rate)informasi. Terlepas dari hal ini, masalah mengenai biaya, ketahanan komponen,
kemungkinan upgrade, dll juga merupakan hal yang penting.
Dalam bagian sebelumnya, telah dijelaskan bagaimana level daya yang datang
pada detector menentukan unjuk kerja link dalam hubungannya dengan BER. Rise
time sumber, fiber dan detector akan menentukan bandwidth yang tersedia untuk
transmisi. Desain system fiber optik biasanya dilakukan dengan mamakai power
budget dan rise time budget.
5.1 Power budget
Link fiber optik point-to-point ditunjukkan dalam Gambar1. Sumber yang
memancarkan daya P
i
mengkopel cahaya ke fiber optik. Pada titik ini terdapat
coupling loss. Cahaya merambat dalam fiber mengalami loss transmission. Pada link,
terdapat sambungan dan konektor yang menyebabkan adanya power loss. Pada
akhirnya, cahaya yang sampai pada detector (pada regenerator atau receiver),
mengalami loss. Jika P
i
dan P
o
adalah daya yang dipancarkan oleh sumber dan datang
pada detector, maka total loss dalam dB adalah:
Loss = 10 log

,
_

i
o
P
P
(29)
Terpisah dari loss yang sebenarnya dialami, ketika mendesain link biasanya
dimasukkan margin 6 8 dB untuk mengatasi akibat loss yang berasal dari
sambungan atau komponen yang mungkin harus ditambahkan pada waktu yang akan
datang serta untuk mengijinkan setiap keburukan komponen akibat umur komponen
tersebut.
Jika seluruh loss dinyatakan dalam dB, maka daya yang diterima oleh receiver
untuk daya sumber P
i
(dBm) adalah:
P
o
= P
i
N
c
l
c
N
s
l
s
- L
t
(30)
dengan l
c
adalah connector loss dan N
c
mewakili junlah konektor, l
s
adalah loss pada
setiap sambungan dan N
s
mewakili jumlah sambungan,
t
adalah fiber transmission
loss (dalam dB/km) dan L mewakili panjang total fiber dalam km.
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa untuk mencapai BER tertentu, terdapat
nilai daya minimum P
min
yang datang pada detector. Jadi, jika P
m
mewakili margin
daya ( khasnya 6 8 dB), maka:
P
o
P
m
> P
min
(31)
Contoh
Asumsikan bahwa diperlukan untuk menginstall/memasang link 40 km dengan fiber
yang memiliki loss sebesar 0,5 dB/km, dan senstivitas receiver adalah 39 dBm.
Terdapat empat sambungan dengan loss pada setiap sambungan adalah 0,5 dB dan
dua konektor dengan loss masing-masing 1 dB. Jika margin adalah 6 dB, maka daya
sumber harus melebihi:
P
i
= Pmin + P
m
+ 2l
c
+ 4l
s
+ L
t

= -39 + 6 + 2x1 + 4x0,5 + 40x0,5
= -9 dBm = 0,13 mW.
Contoh
Pertimbangkan sumber LED yang beroperasi pada 850 nm memancarkan cahaya 50
W dan detector PIN dengan R = 0,65 A/W, C = 5pF. Asumsikan bahwa diinginkan
untuk mentransmisikan informasi pada kecepatan 20 Mb/s. Untuk bit rate ini,
asumsikan operasi adalah thermal noise limited dengan SNR = 144 (BER = 10
-9
).
Maka sensitivitas receiver adalah (lihat persamaan (25)):
P
min
1,32 x 10
-7
W -38,8 dBm.
Daya yang dipancarkan oleh sumber adalah 50 W = -13 dBm. Jadi, losss yang
diperbolehkan antara transmitter dan receiver (termasuk margin) adalah 38,8 13 =
25,8 dB. Jika sistem margin adalah 8 dB dan connector loss diasumsikan 2 dB, maka
loss transmisi yang tersedia adalah 15,8 dB (25,8 8 2 dB). Jika dipakai fiber
dengan loss 2,5 dB/km (pada 850 nm), maka maksimum panjang link yang
diperbolehkan adalah 6,3 km.
Jika dalam system ini, dipakai laser yang memancarkan daya 0 dBm (=1 mW),
maka maksimum panjang link yang diperbolehkan adalah 11,5 km.
5.2 Rise time bugdet
Rise time budget adalah analisis untuk menentukan apakah sistem yang
dimaksud akan dapat beroperasi dengan tepat pada bit rate yang diperlukan karena
dispersi link dan batasan kecepatan respon transmitter dan receiver.
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, rise time suatu peralatan adalah waktu
yang dibutuhkan oleh respon untuk naik dari 10% ke 90% nilai output ketika input
berupa fungsi step. Total rise time
s
yang merupakan kombinasi dari berbagai
elemen link didekati dalam hubungannya dengan rise time masing-masing elemen
i
,
yaitu:

s
=
2 / 1
1
2

,
_

N
i
i

(32)
Dalam system komunkasi fiber optik, total rise time link ditentukan oleh rise time
transmitter (
t
), link fiber (
f
), dan receiver (
r
). Jadi rise time sistem adalah:

s
= ( )
2 / 1
2 2 2
r f t
+ +
(33)
Rise time untuk sumber dan detector dibahas pada bab sumber dan detector. Dalam
kasus rise time fiber, rise time didekati dengan dispersi pulsa. Jadi, rise time untuk
tipe fiber yang berbeda dapat ditulis sbb:
Multimode step index fiber:

im
=
L
c
n
1

(34)
Multimode graded fiber
Parabolic index:

im
=
L
c
n
2 1
.
2


(35)
Optimum profile

im
=
L
c
n
2 1
.
8


(36)
(subscript
im
menyatakan intermodal)
Material dispersion

m
85 L ps (
0
~ 850 nm)
0,5 L ps (
0
~ 1300 nm)
20 L ps (
0
~ 1500 nm)
(37)
dengan L dalam km dan nm.
Total rise time fiber untuk multimode fiber adalah (dengan mengabaikan waveguide
dispersion):

f
= (
2 / 1 2 2
)
m im
+

(38)
Untuk single mode fiber (karena = D.L. ), diperoleh:

f
D.L.
2 L (
0
~ 1300 nm,
z
~ 1300 nm)
16 L (
0
~ 1550 nm,
z
~ 1300 nm)
2 L (
0
~ 1550 nm,
z
~ 1550 nm)
(39)
Dalam persamaan di atas, mewakili lebar spectrum sumber, L mewakili panjang
fiber,
0
mewakili panjang gelombang yang beroperasi, dan
z
mewakili panjang
gelombang dengan dispersi nol.
Sekali total rise time link dihitung dengan memakai persamaan (33), dapat
diperoleh bit rate maksimum yang diperbolehkan melalui link fiber sebagai (lihat
persamaan (4) dan (5)):
B
s

35 , 0

untuk RZ
B
s

7 , 0

untuk NRZ
(40)
(1) Untuk multimode step index fiber, pulse spread adalah hampir sangat tidak
tergantung dari lebar spectrum sumber, karena disperi intermodal jauh lebih
besar dari dispersi materi. Dengan mengambil nilai yang khas n
1
= 1,46, =
0,01 diperoleh bahwa rise time karena fiber adalah
f
50 ns/km. Dengan
memakai persamaan (40), dapat dilihat bahwa bit rate maksimum yang dapat
ditangani oleh fiber adalah 0,7/(50x10
-9
) 14 Mb.km/s
(2) Pertimbangkan parabolic index multimode fiber dengan dispersi intermodal
yang dinyatakan oleh persamaan (35)

im
=
L
c
n
2 1
.
2

Untuk n
1
= 1,46, = 0,01, diperoleh
im
0,24 ns/km. Untuk panjang
gelombang yang beroperasi pada 850 nm, dispersi materi diberikan oleh
persamaan (37). Jika sumber adalah laser diode dengan lebar spectrum 1
nm, maka kontribusi dispersi materi adalah 85 ps/km dan total rise time fiber
(0,24
2
+ 0,085
2
)
1/2
0,25 ns/km, yang memberikan bit rate maksimum yang
diperbolehkan sebesar 0,7/(0,25x10
-9
) 2,8 Gb.km/s. Namun, jika sumber
adalah LED dengan 25 nm, maka
m
2,125 ns/km dan total rise
time fiber adalah (0,24
2
+ 2,125
2
)
1/2
2,14 ns/km. Jadi, dalam hal ini rise time
dibatasi karena dispersi materi dan bit rate maksimum adalah 0,7/(2,14x10
-9
)
300 Mb.km/s.
Estimasi di atas mengabaikan kontribusi rise time sumber dan detector. Jika
diasumsikan rise time sumber LED adalah 5 ns dan detector seb esar 1 ns,
maka total rise time system untuk fiber dengan panjang 10 km adalah:
[(2,14x10)
2
+ 5
2
+ 1
2
]
1/2
22 ns
yang memberikan bit rate maksimum (untuk 10 km) sebesar 32 Mb/s.
Sistem komunikasi fiber optik generasi I memakai 850 nm LED (dengan
~ 25 nm), loss fiber 3 dB/km, spasi repeater ~ 10 km, dan bit rate sebesar 45
Mb/s.
(3) Jika panjang gelombang yang beroperasi adalah sekitar 1300 nm, dispersi
materi akan menjadi sangat kecil dan, bahkan dengan ~ 100nm, rise time
karena dispersi materi 0,05 ns/km yang diabaikan jika dibandingkan
dengan dispersi intermodal 0,15 ns/km.
Dengan mengasumsikan rise time (LED) sebesar 5 ns dan detector
sebesar 1 ns, total rise time untuk 30 km adalah [(0,15x30)
2
+ 5
2
+ 1
2
]
1/2
6,8
ns, yang memberikan bit rate maksimum sekitar 100 Mb/s.
Sistem fiber optik generasi II memakai 1300 nm LED (dengan ~ 25
nm) loss fiber ~ 1 dB/km, spasi repeater sebesar 30 km dan bit rate ~ 45 Mb/s.
(4) Pergeseran berikutnya adalah memakai single mode fiber sebagai pengganti
multimode fiber dan beroperasi sekitar 1300 nm, dimana dispersi melewati
nol. Dengan mengasumsikan dispersi yang khas 2 ps/km.nm pada panjang
gelombang yang beroperasi (1300 nm) dan laser diode dengan = 2 nm,
rise time fiber hanya 4 ps/km. Jika rise time sumber dan detector diasumsikan
masing-masing sebesar 0,5 ns, maka dengan asumsi panjang fiber 50 km, total
rise time sistem adalah (0,2
2
+ 0,5
2
+ 0,5
2
)
1/2
0,73 ns, dan bit rate maksimum
adalah 0,96 Gb/s.
Sistem fiber optik generasi III memakai 1300 nm laser diode (dengan ~
2nm), dengan single mode fiber yang memiliki loss ~ 0,8 dB/km. Spasi
repeater sekitar 40 km dan bit rate sekitar 500 Mb/s.
(5) Ketika panjang gelombang yang beroperasi digeser ke 1550 nm, total dispersi
dapat dibuat menjadi sangat kecil ( 2 ps/km.nm) dengan dispersion shifted
fiber (DSF
S
). Loss fiber pada panjang gelombang ini ~ 0,25 dB/km. Jadi
system fiber optik generasi IV memakai 1550 nm laser diode dengan DSF
S
dan spasi repeater adalah 100 km. Sistem yang beroperasi pada 2,5 Gb/s dan
yang lebih tinggi memakai laser diode dan photodetector kecepatan tinggi.
Tabel 1 menunjukkan evolusi bermacam generasi sistem fiber optik.
Contoh
Pertimbangkan rise time budget untuk transmisi 400 Mb/s NRZ pada fiber optik 100
km dengan BER 10
-9
. Karena B = 400 Mb/s, total rise time sistem adalah:

s
=
B
7 , 0
1,75 ns
Jika dialokasikan seluruh rise time pada fiber optik 100 km, hal ini meyatakan
dispersi pulsa kurang dari 1,75 x 10
-9
/100 = 17,5 ps/km. Sudah tentu multimode fiber
tidak dapat dipakai dan link harus berdasarkan single mode fiber. Karena pada 1300
nm loss fiber adalah 0,4 dB/km, fiber optik 100 km akan menghasilkan loss 40 dB
(terpisah dari loss konektor dan sambungan), yang juga terlalu besar. Karenanya perlu
untuk memakai transmisi 1550 nm.
Fiber dispersi nol 1300 nm memiliki dispersi sekitar 16 ps/km.nm pada 1550
nm. Dalam hal ini, tidak dapat dipakai laser semikonduktor multifrekuensi karena
lebar spektrumnya 4 nm dan, dengan jelas fiber 100 km akan mengalami dispersi
pulsa sebesar 16 x 100 x 4 = 6,4 ns, yang jauh lebih besar dari nilai yang diijinkan
1,75 ns untuk sistem 400 Mb/s. Karena itu, harus dipakai laser dioda satu frekuensi
yang memiliki lebar spectrum yang khas 0,15 nm. Dengan memakai laser tersebut,
dispersi pulsa karena fiber adalah 16 x 100 x 0,15 = 0,24 ns, yang jauh lebih kecil dari
rise rise time yang diijinkan 1,75 ns.
Jika diasumsikan rise time 1 ns untuk transmitter laser, maka rise time phorodiode
yang diijinkan adalah:

r
= (
2 / 1 2 2 2
)
t f s

= (1,75
2
0,24
2
1
2
)
1/2
1,42 ns.
Untuk power budget, asumsikan bahwa pigtail laser diode memiliki daya output
sebesar 1 mW (=0 dBm). Jika sistem memiliki dua konektor (masing-masing
memiliki loss sebesar 1 dB) dan 10 sambungan dengan masing-masing loss sebesar
0,1 dB. Dengan mengasumsikan redaman fiber sebesar 0,25 dB/km pada 1550 nm,
maka daya yang mencapai detector adalah:
P
rec
= (0 2 10x0,1 100x2,5) dBm
= -28 dBm.
Pada bit rate 400 Mb/s dengan R = 0,65 A/W, C = 1pF, dan SNR = 144 (untuk BER =
10
-9
), sensitivitas PIN (berdasarkan persamaan (25)) adalah 29,2 dBm. Jadi, hanya
terdapat margin sebesar 1,2 dB. APD dapat memberikan perbaikan sebesar 10 dB
(dibawah kondisi thermal noise limited) dan karenanya dapat dipakai dalam link saat
ini.
6. Jarak Transmisi Maksimum Akibat Redaman dan Disperi
Pada bagian ini akan diperoleh panjang maksimum link tanpa repeater akibat
redaman dan dispersi fiber. Hal ini bukan merupakan batasan yang mendasar karena
jarak tersebut dapat dilampui dengan memakai komponen-komponen seperti penguat
optik, pengkompensasi dispersi, dsb.
6.1 Batas Redaman
Data yang ditransmisikan, yang diwakili oleh deretan pulsa digital untuk
dideteksi dengan BER kurang dari nilai tertentu (khasnya 10
-9
), akan terdapat jumlah
minimum photon per bit informasi. Jika jumlah photon ini adalah N
P
, maka untuk bit
rate B, daya terima minimum rata-rata adalah:
2
Bhv N
P
P
r

dengan hv adalah energi masing-masing photon yang diterima.
Jika mewakili koefisen loss fiber dalam dB/km, maka untuk daya yang
dipancarkan P
i
, daya optik yang diterima pada panjang L adalah:
P
o
= P
i
10
-

L/10
Jadi, jika daya yang diterima adalah minimal P
r
, maka panjang maksimum link yang
diijinkan adalah:
L
max
=

,
_

,
_

Bhv N
P 2
log
10
P
P
log
10
P
i
r
i
Perhatikan bahwa panjang link maksimum yang diijinkan yang dibatasi loss, menurun
terhadap bit rate.
Contoh
Sistem yang beroperasi pada 1300 nm memiliki koefisien loss fiber = 0,4
dB/km. Asumsikan daya input sebesar 0 dBm (P
i
= 1 mW) dan N
P
= 1000. Tentukan
panjang link maksimum untuk bit rate sebesar 2,5 Gb/s.
Penyelesaian
L
max
=

,
_

Bhv N
P 2
log
10
P
i
=
km 93
10 x 3 x 10 x 63 , 6 x 10 x 5 , 2 x 1000
10 x 3 , 1 x 10 x 2
log
4 , 0
10
8 34 9
6 3

,
_


Catatan
hv = h c/ (lambing v = f = frekuensi).
Contoh
Untuk sistem yang beroperasi pada 1550 nm memiliki koefisien loss fiber =
0,2 dB/km. Asumsikan daya input sebesar 0 dBm (P
i
= 1 mW) dan N
P
= 1000.
Tentukan panjang link maksimum untuk bit rate sebesar 2,5 Gb/s.
Penyelesaian
L
max
=

,
_

Bhv N
P 2
log
10
P
i
= 190 km.
Dua contoh di atas menunjukkan keuntungan memakai panjang gelombang 1550 nm
dimana redaman minimum untuk fiber silica.
6.2 Batas Dispersi
Terpisah dari redaman atau loss, dispersi juga membatasi jarak jangkau tanpa
repeater dalam sistem komunikasi optik. Pelebaran pulsa menyebabkan pulsa-pulsa
yang berdekatan saling tumpang tindih, yang menghasilkan error.
Kriteria yang dipakai secara umum untuk dispersi pulsa maksimum yang
diijinkan adalah:

4
T
(1)
dengan T adalah durasi bit. Dalam hubungannya dengan bit rate B (=1/T), persamaan
di atas dapat ditulis sebagai:
4 B 1 (2)
Untuk single mode fiber, dispersi dinyatakan sebagai:
= D L
(3)
dengan D = koefisien dispersi
L = panjang fiber
= lebar spectral sumber cahaya
Substitusi persamaan dalam persamaan (1), diperoleh perkalian bit rate dengan
panjang fiber sebagai:
B.L
km . s / Gb
) nm ( ) km . nm / ps ( D
250
D 4
1

Untuk konvesional fiber single mode dengan dispersi sebesar nol pada 1300 nm,
didapat parameter sbb:
= 1 nm, D = 1 ps/nm.km
Jadi, B.L < 250 Gb/s.km, yang menyatakan pada 2,5 Gb/s jarak maksimum repeater
adalah 100 km.
Dengan mengoperasikan fiber tersebut pada 1550 nm, dengan D = 16
ps/nm.km (asumsikan = 1 nm) diperoleh:
B.L < 250 Gb/s.km
Jadi, pada 2,5 Gb/s, panjang fiber optik tanpa repaeater (jarak maksimum repeater)
hanya 6 km. Hal ini menunjukkan pengurangan yang sangat signifikan dalam panjang
tanpa repeater (jarak maksimum repeater).
Asumsikan, laser adalah single frekuensi (seperti DFB laser) dan lebar
spectrum akibat modulasi jauh lebih besar dari spectrum laser. Jika,
0
mewakili
lebar pulsa input, maka lebar spectrum akibat modulasi adalah:
v ~
0
1


(4)
Dalam hubungannya dengan panjang gelombang pers (4) menjadi:
0
2
0
c


(5)
Asumsikan deretan pulsa NRZ:
B
1
0

(6)
Dengan memakai pers (5), (6) dalam (3) diperoleh:
B
2
.L
2
0
D 4
c


(7)
Perhatikan bahwa dalam kasus ini, dengan menduakalikan bit rate akan mengurangi
jarak repeater maksimum dengan faktor 4. Hal ini berlawanan dengan kasus dimana
spectrum sumber memiliki lebar yang besar, dengan menduakalikan panjang fiber
akan mengurangi bit rate B dengan faktor 2.
Pertimbangkan fiber single mode yang konvesional beroperasi pada 1300 nm
dengan D = 1 ps/nm.km,
B
2
.L 4,4 x 10
4
(Gb/s)
2
.km
Jadi, pada 2,5 Gb/s, L 7040 km dan pada 10 Gb/s, L 440 km.
Dengan mengoperasikan fiber ini pada 1550, D = 16 ps/nmn.km,
B
2
.L 2750 (Gb/s)
2
.km
Jadi, pada 2,5 Gb/s, L 440 km dan pada 10 Gb/s, L 27,5 km
Jika dipakai DSF (Dispersion Shifted Fiber) yang beroperasi, maka D = 1
ps/nm.km,
B
2
.L 3,12 x 10
4
(Gb/s)
2
.km
Jadi pada 2,5 Gb/s, L 4992 km dan pada 10 Gb/s, L 312 km
Batas panjang tanpa repeater ketika ditentukan oleh dispersi dalam fiber single
mode diplot dalam Gambar 1. Perhatikan, dengan pemakaian DSF bahkan pada 10
Gb/s system fiber optik adalah dibatasi loss dari pada dibatasi dispersi (loss lebih
menentukan panjang maksimum)