Anda di halaman 1dari 21

Psikopatologi, Terapi, Perkembangan Mutakhir dan Kritik terhadap Teori Freud

Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah

Psikologi Kepribadian I

Dosen Pembimbing: Rena Latifa, M.Psi, Psi

Disusun Oleh: Dewi Susanti (107070002566) Maulida Disa Pratiwi (107070002623) Nurul Aini (107070002647) Lukmansyah (10607000) Semester V-B

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2009

KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirrohiim Assalamualaikum Wr. Wb, Puji syukur kehadirat Allah Swt karena atas rahmat dan karunia-Nya Penyusun dapat menyelesaikan penyusunan makalah Psikologi Kepribadian I ini dengan pokok bahasan Psikopatologi, Terapi, Perkembangan Mutakhir dan Kritik terhadap Teori Freud. Tak lupa ucapan terima kasih Penyusun tunjukan kepada: 1. Orangtua Penyusun atas kasih sayang dan dukungannya sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik dan lancar. 2. Dosen pengajar mata kuliah Psikologi Kepribadian I di Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Ibu Rena Latifa, M.Psi, Psi 3. Teman-teman di Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta khususnya teman-teman di kelas V B, yang telah bersama-sama mengerjakan tugas ini dan menjadi sumber informasi sekaligus teman diskusi yang menyenangkan. Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Untuk itu penyusun mohon maaf atas segala kekurangannya. Terima kasih. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Jakarta, 28 Oktober 2009

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN

Teori psikologi yang paling banyak diacu dalam pendekatan psikologi atau yang paling dominan dalam analisis karya sastra adalah teori Psikoanalisis Sigmund Freud (Ratna, 2004:62 dan 344). Menurut Freud (2002:3), psikoanalisis ialah sebuah metode perawatan medis bagi orang-orang yang menderita gangguan syaraf. Psikoanalisis merupakan suatu jenis terapi yang bertujuan untuk mengobati seseorang yang mengalami penyimpangan mental dan syaraf.

Lebih lanjut lagi, menurut Fudyartanta (2005:17) psikoanalisis merupakan psikologi ketidaksadaran, perhatian-perhatiannya tertuju ke arah bidang-bidang motivasi, emosi, konflik, simpton-simpton neurotik, mimpi-mimpi, dan sifat-sifat karakter. Psikoanalisis dikembangkan oleh Sigmund Freud ketika ia menangani neurosis dan masalah mental lainnya.

Menurut Corey (2003:13), sumbangan-sumbangan utama yang bersejarah dari teori dan praktek psikoanalitik mencakup:
1. Kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami, dan pemahaman terhadap sifat

manusia bisa diterapkan pada peredaan penderitaan manusia.


2. Tingkah laku diketahui sering ditentukan oleh faktor-faktor tak sadar. 3. Perkembangan pada masa dini kanak-kanak memiliki pengaruh yang kuat terhadap

kepribadian di masa dewasa.


4. Teori psikoanalitik menyediakan kerangka kerja yang berharga untuk memahami cara-

cara yang digunakan oleh individu dalam mengatasi kecemasan dengan mengandaikan adanya mekanisme-mekanisme yang bekerja untuk menghindari luapan kecemasan.
5. Pendekatan psikoanalitik telah memberikan cara-cara mencari keterangan dari

ketaksadaran melalui analisis atas mimpi-mimpi, resistensi-resistensi, dan transferensitransferensi.

BAB II PEMBAHASAN

PSIKOPATOLOGI sulit untuk menghargai teori psikoanalisis tanpa terlebih dahulu memahami sifat yang seringkali aneh dan membingungkan perilaku yang dibawa kepada perhatian Freud. Freud menghabiskan sebagian besar waktu profesionalnya bekerja dengan pasien dengan gangguan neurotik. Bahkan, unsur-unsur yang paling penting dalam teorinya didasarkan pada pengamatan yang berasal dari pekerjaan ini. Dalam proses penyelidikan ini, Freud memutuskan bahwa prosesproses psikologis pasiennya tidak aneh bagi mereka dengan gangguan neurotik, tapi bisa ditemukan untuk satu tingkat atau lainnya, dan dalam satu bentuk atau lainnya, dalam semua orang. Jadi, meskipun awalnya didasarkan pada pengamatan dengan pasien, teorinya adalah teori umum fungsi kepribadian dan bukan hanya teori perilaku abnormal.

JENIS KEPRIBADIAN Sebagaimana dicatat, Freud berpendapat bahwa lima tahun pertama kehidupan sangat penting dalam perkembangan individu. Selama tahun ini, sejumlah kegagalan mungkin terjadi dalam perkembangan naluri. Kegagalan dalam perkembangan ini disebut fiksasi. Jika individu menerima begitu sedikit kepuasan selama tahap perkembangan yang menjadikan mereka takut untuk melanjutkan ke tahap berikutnya, atau jika mereka menerima begitu banyak kepuasan sehingga tidak ada motivasi untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya, sebuah fiksasi akan terjadi. Jika fiksasi terjadi, individu akan mencoba untuk mendapatkan jenis yang sama dari kepuasan untuk tahap awal pembangunan selama tahap-tahap selanjutnya. Sebagai contoh, individu yang terfiksasi pada tahap oral dapat terus mencari kepuasan oral dengan makan, merokok, atau minum. Sebuah perkembangan yang terkait dengan fenomena dari fiksasi adalah regresi. Dalam regresi, individu berusaha untuk kembali ke modus kepuasan sebelumnya, titik awal fiksasi. Regresi sering terjadi dalam kondisi stres, sehingga banyak orang makan berlebihan, merokok, atau minum terlalu banyak alkohol hanya selama periode frustrasi dan kecemasan.

Kepribadian Oral Konsep tahap-tahap perkembangan, fiksasi, dan regresi adalah yang sangat penting bagi perkembangan teori psikoanalitik. Salah satu aspek yang paling menarik adalah cara di mana karakteristik kepribadian dikembangkan pada awal kehidupan dan dipertahankan setelahnya. Untuk masing-masing tahap awal perkembangan, ada karakter yang sesuai jenis yang dikembangkan karena sebagian fiksasi pada tahap itu (tabel 4.1). Karakteristik dari kepribadian oral, misalnya, berhubungan dengan proses-proses yang terjadi selama tahap perkembangan oral yang mempertahankan individu di kemudian hari. Kepribadian oral adalah narsisistik yaitu bahwa mereka hanya tertarik pada diri mereka sendiri dan tidak mempunyai pengakuan yang jelas dari orang lain sebagai entitas yang terpisah. Orang lain terlihat hanya dalam hal apa yang dapat mereka berikan (makanan). Kepribadian oral selalu meminta sesuatu, baik dalam hal yang sederhana, memohon permintaan atau tuntutan yang agresif. Tabel 4.1 karakteristik kepribadian yang berhubungan dengan jenis kepribadian psikoanalitik

Tipe kepribadian
Oral

Karakteristik kepribadian
Menuntut, tidak sabar, iri hati, tamak, cemburu, sering marah-marah, depresi (merasa kosong), tdk percaya, pesimis

Anal

Kaku, berjuang untuk kekuasaan dan kontrol, peduli dengan keharusan dan yang semestinya, kesenangan dan harta benda, kecemasan atas pembuangan dan kehilangan kontrol, kepedulian dengan apakah akan menyerah/tunduk atau memberontak

phallic

Laki-laki: eksibisionistik, kompetitif, berjuang untuk sukses, penekanan pada menjadi maskulin - macho - kuat Wanita: naif, menggoda, eksibisionistik, genit

Kepribadian Anal Kepribadian anal berasal dari tahap perkembangan anal. Berbeda dengan kepuasan yang berhubungan dengan mulut dan aktivitas oral, yang dapat dinyatakan pada masa dewasa dalam bentuk yang relatif tidak ditekan, kepuasan-kepuasan dari impuls anal harus mengalami perubahan yang cukup besar. Secara umum, ciri-ciri karakter anal terkait dengan proses yang terjadi pada tahap perkembangan anal yang belum sepenuhnya dilepaskan. Proses yang penting adalah proses tubuh (akumulasi dan pelepasan bahan tinja) dan hubungan interpersonal (perjuangan kehendak atas toilet training). Mengikat kedua bersama-sama, orang melihat ekskresi anal sebagai simbol kekuasaan yang sangat besar. Pandangan seperti itu tetap muncul dalam banyak ungkapan sehari-hari seperti acuan ke toilet sebagai "takhta." Perubahan dari karakter oral ke anal adalah salah satu dari "beri saya" ke "melakukan apa yang saya katakan," atau dari "Aku harus memberi Anda" ke "Aku harus taat kepadamu."

Karakter anal dikenal dengan tiga serangkai ciri, yang disebut triad anal: ketertiban dan kebersihan, kekikiran dan kekikiran, dan ketegaran. Perhatian pada kebersihan diungkapkan dalam pepatah "kebersihan adalah di samping kesalehan." Kepribadian anal-kompulsif memiliki kebutuhan untuk menjaga semuanya bersih dan dalam rangka mewakili suatu reaksi pembentukan terhadap minat pada hal-hal yang tidak teratur dan tidak bersih. Sifat kedua dari tiga serangkai, kekikiran / kebakhilan, berkaitan dengan minat anal-kompulsif dalam berpegangan pada hal-hal, suatu kepentingan sejak keinginan untuk mempertahankan tinja sangat kuat dan penting. Sifat ketiga dalam tiga serangkai, keras kepala, berkaitan dengan karakter kekanak-kanakan anal pembangkangan terhadap berpisah dengan bangku, terutama pada perintah oleh orang lain. Sejak ke toilet training dan perjuangan kehendak, kepribadian anal seringkali berusaha untuk menguasai segala sesuatu dan mempunyai kekuasaan atau dominasi atas orang lain.

Karakter tahap phallic Sama seperti tipe karakter oral dan anal yang sebagian mencerminkan fiksasi pada dua tahap pertama perkembangan, tahap phallic mewakili karakter hasil dari sebagian fiksasi pada tahap

Oedipus complex. Fiksasi di sini mempunyai implikasi yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan, dan perhatian khusus telah diberikan kepada hasil dari sebagian fiksasi untuk lakilaki. Sedangkan sukses bagi orang oral berarti "saya mengerti," dan sukses bagi orang anal berarti "saya mengontrol," sukses bagi laki-laki tahap phallic berarti "saya laki-laki." laki-laki tahap phallic harus menyangkal semua kemungkinan dugaan bahwa ia telah dikebiri . Baginya, sukses berarti bahwa ia adalah "besar" di mata orang lain. Ia harus setiap kali menegaskan maskulinitas dan potensi, suatu sikap yang dicontohkan oleh Theodore Roosevelt's berkata, "berbicara lembut, tapi membawa tongkat besar." Berlebihan, kualitas eksibisionistik perilaku orang-orang ini adalah ekspresif kecemasan yang mendasari tentang pengebirian.

Rekan wanita dari karakter laki-laki tahap phallic dikenal sebagai kepribadian histeris. Sebagai pertahanan terhadap keinginan oedipal, gadis kecil mengidentifikasi ke tingkat yang berlebihan dengan ibunya dan feminitas. Dia menggoda dan berperilaku genit untuk menjaga kepentingan ayahnya tapi membantah dengan maksud seksual. Pola perilaku yang kemudian terbawa ke masa dewasa, di mana ia dapat menarik laki-laki dengan perilaku genit tetapi menolak maksud seksual dan umumnya tampak agak naif. Perempuan histeris menjunjung tinggi kehidupan, pasangan mereka, dan cinta romantis, seringkali menemukan diri mereka terkejut dengan momen kehidupan yang jelek.

KONFLIK DAN PERTAHANAN Menurut Freud, semua psikopatologi berkaitan dengan upaya untuk memuaskan naluri yang telah terpaku pada tahap awal perkembangan. Dengan demikian, dalam psikopatologi individu masih mencari kepuasan seksual dan agresif dalam bentuk kekanak-kanakan. Namun, karena hubungannya dengan trauma masa lalu, ekspresi dari keinginan ini mungkin sinyal bahaya untuk ego dan mengarah pada pengalaman kecemasan. Akibatnya, ada situasi konflik di mana perilaku yang sama berkaitan dengan kenikmatan dan rasa sakit. Sebagai contoh, seseorang mungkin berusaha untuk menjadi tergantung pada orang lain tapi takut jika hal ini dilakukan dia akan rentan terhadap frustrasi dan rugi (sakit). Contoh lain adalah keinginan untuk memanjakan diri dalam perilaku seksual yang diblokir oleh perasaan bersalah dan takut

hukuman atau cedera. Contoh ketiga adalah konflik antara keinginan kuat untuk membalas (dendam) terhadap orang lain - mewakili orang tua - dan takut membayangkan diri mereka sendiri akan membalas (dendam)dengan kekuatan dan kehancuran. Dalam setiap kasus ada konflik antara harapan dan kecemasan. Dalam situasi seperti itu seringkali hasilnya adalah bahwa individu tidak bisa "mengatakan tidak," tidak dapat tegas, atau sebaliknya merasa diblokir dan tidak bahagia (tabel 4.2).

Seperti tercantum dalam pembahasan sebelumnya, bagian penting dari konflik adalah kecemasan. Untuk mengurangi pengalaman kecemasan yang menyakitkan, mekanisme pertahanan, seperti diuraikan dalam Bab 3, dibawa ke dalam bermain. Jadi, misalnya, orang dapat menolak perasaan agresif nya atau proyek mereka ke orang lain. Dalam kedua kasus, orang tidak lagi harus takut pada perasaan agresif. Singkatnya, dalam psikopatologi ada konflik antara drive atau keinginan (naluri) dan rasa ego (kecemasan)bahwa bahaya akan terjadi jika keinginan diungkapkan (habis). Untuk mencegah ini dan menangkal kecemasan, mekanisme pertahanan yang digunakan. Dalam istilah struktural, neurosis adalah hasil dari konflik antara id dan ego. Dalam istilah proses, naluri berjuang untuk pembuangan memicu kecemasan, menyebabkan mekanisme pertahanan.

Tabel 4.2 psikopatologi teori psikoanalitik

Ilustrasi konflik

konsekuensi Perilaku dari mekanisme pertahanan

KEINGINAN Saya ingin berhubungan seks dengan orang itu. Saya mau menyerang semua orang yang membuat saya merasa rendah diri. Saya ingin mendekati orang dan mereka telah memberi makanan atau merawatku

KECEMASAN

PERTAHANAN

Perasaan seperti itu buruk dan akan dihukum.

Penolakan dari semua perilaku seksual, obsesif keasyikan dengan perilaku seksual orang

Jika saya memusuhi mereka akan membalas dan benarbenar menyakitiku.

lain. Penolakan terhadap keinginan atau ketakutan: "Saya tidak pernah merasa marah," "Saya tidak pernah takut pada siapa

Jika saya lakukan mereka akan melimpahi aku atau meninggalkan aku.

pun atau apa pun." Kebebasan dan penghindaran yang berlebihan semakin dekat kepada orang atau fluktuasi antara mendekati dan menjauhi mereka; berlebihan perlu mengurus lain.

Dalam banyak kasus konflik antara id dan ego, antara naluri dan pertahanan, mengarah ke perkembangan suatu gejala. Sebuah gejala, seperti nervous, kelumpuhan psikologis, atau paksaan, merupakan ekspresi menyamar dorongan yang ditekan. Makna dari gejala, sifat naluri yang berbahaya, dan sifat pertahanan semua tetap tak sadarkan diri. Sebagai contoh, seorang ibu mungkin akan menyakitkan terobsesi dengan rasa takut bahwa sesuatu akan terjadi kepada anaknya. Mendasari obsesi mungkin marah pada anaknya dan kecemasan tentang bahaya yang ia dapat lakukan untuk anak. Gejala obsesi sang ibu mengungkapkan perasaan bahwa ia dapat membahayakan atau melukai anak dan terhadap pertahanan itu dalam hal keasyikan

berlebihan dengan kesejahteraan anak. Untuk mengambil contoh lain, dalam keharusan mencuci tangan - di mana seseorang merasa harus mencuci tangan nya terus-menerus - gejala dapat mengekspresikan keinginan untuk menjadi kotor atau melakukan "kotor" hal-hal dan pertahanan terhadap keinginan dalam hal berlebihan kebersihan. Dalam kedua kasus ini orang tidak menyadari keinginan atau pertahanan dan hanya terganggu oleh gejala. Banyak orang tidak mengalami masalah atau gejala spesifik seperti itu, tetapi analis menunjukkan bahwa semua masalah-masalah psikologis masih dapat dipahami dalam istilah-istilah ini.

Untuk merangkum teori psikoanalitik psikopatologi, ada penahanan dalam perkembangan orang yang berhubungan dengan konflik antara keinginan dan ketakutan. Keinginan dan ketakutan yang merupakan bagian dari periode waktu tertentu di masa kanak-kanak sekarang terbawa ke masa remaja dan dewasa. Orang yang berusaha untuk menangani kecemasan yang menyakitkan adalah bagian dari konflik ini dengan menggunakan mekanisme pertahanan. Namun, jika konflik menjadi terlalu besar, penggunaan mekanisme pertahanan dapat mengakibatkan gejala neurotik atau psikotik penarikan diri dari kenyataan. Gejala mengungkapkan konflik bawah sadar antara keinginan atau drive dan kecemasan. Dalam setiap kasus perilaku abnormal tak sadar ada konflik antara keinginan dan ketakutan berawal ke masa sebelumnya di masa kanak-kanak. Jadi, sebagai orang dewasa, tetap saja ada bagian dari diri kita seperti anak kecil itu, di bawah tekanan dan beberapa kondisi lain, mungkin menjadi lebih aktif dan menyusahkan.

TERAPI Terapi Freud lebih berpengaruh bila dibandingkan dengan terapi-terapi teoritikus lainnya dan jika dibandingkan dengan aspek lain dari teori-teorinya sendiri. Berikut ini adalah beberapa garis besar terapinya. Suasana Rileks. Klien yang sedang menjalani terapi harus merasa bebas dan santai untuk mengungkapkan masalahnya. Situasi terapi sebenarnya adalah situasi social yang unik, situasi di mana anda tidak perlu merasa takut dan kuatir tentang penilaian social terhadap masalah anda. Dalam terapi Freudian, seorang terapis secara praktis jadi

hilang. Untuk menciptakan suasana santai ini bisa dilakukan dengan mengatur tata ruang, warna dinding, pencahayaaan, dan sebagainya, yang mencerminkan suasana hati. Pembebasan Asosiasi. Klien dibebaskan untuk berbicara apa saja. Berdasarkan teori, dengan adanya kesantaian, konflik-konflik alam bawah sadar akan muncul kepermukaan. Di sini kita akan melihat adanya kesamaan terapi Freudian dengan tafsir mimpi! Bedanya adalah: dalam terapi ada terapis yang berusaha memahami tandatanda apa yang jadi masalah dan bagaimana penyelesaiannya, sementara klien biasanya tidak mengerti atau mengabaikan tanda-tanda ini.

Resistensi. Salah satu tanda tersebut adalah resistensi (perlawanan). Saat klien mencoba mengubah topic pembicaraan, atau bicara berbelit-belit, ngantuk, dating terlambat atau bahkan membatalkan pertemuan, terapis berkata aha. Resistensi ini menunjukkan bahwa klien sedang mendekati segala sesuatu dalam asosiasi bebasnya bahwa dia secara tidak sadar menemukan ancaman. Interpretasi Mimpi. Ketika tidur, kita tidak terlalu mengekang alam bawah sadar dan cenderung melepaskannya dalam bentuk-bentuk simbolik ke alam sadar. Keinginankeinginan id inlah yang akan dijadikan tanda utama oleh terapis. Sebagian besar bentuk terapi menggunakan mimpi-mimpi yang dialami klien, tapi tafsir mimpi Freudian memiliki kekhasan tersendiri, yaitu kecenderungannya unutk menemukan maknamakna seksual. Parapraksis. Parapraksis adalah bentuk bicara keseleo atau plesetan, yang juga sering disebut Freudian Slip. Freud juga memperhatikan lawakan-lawakan yang disampaikan kliennya. Bagi Freud, segala kejadian memililki maknanya sendiri-sendiri. Salah menekan nomor telepon, salah belok, dan salah ucap adalah kejadian kejadian yang serius dikaji Freud. Katarsis. Katarsis adalah proses pelepasan energi psikis yang terhambat (damming up) sebagai akibat dari konflik, secara bertahap, melalui kegiatan-kegiatan tertentu. Katarsis membantu pasien mengeluarkan beban-beban emosional yang selama ini

menyesakkannya, sehingga ia menjadi lega. Dalam konteks terapi, katarsis terjadi melalui pembicaraan dengan analis. Setiap kali pasien dapat mengingat, menyadari dan mengungkapkan beban emosional atau peristiwa traumatis yang selama ini dipendam, satu hambatan emosional dapat dilepaskan. Syarat agar katarsis dapat terjadi adalah adanya seorang pendengardalam hal ini analisyang sungguh-sungguh menerima dan memahami apa yang dihayati oleh pasien. Transference. Transference adalah fenomena dalam situasi analisis, di mana pasien (secara tidak sadar) memindahkan cathexis yang semula ditujukan pada objek internal (seseorang yang signifikan di masa lalu yang telah diinternalisasikan menjadi bagian dari kepribadiannya) kepada objek eksternal yang ditemuinya di masa kini, dalam hal ini analis. Contohnya, seorang pasien yang di masa kecilnya sangat mendambakan kasih saying dari ibunya, kemudian mulai berperilaku sedemikian rupa dimana ia secara tidak sadar menuntut analisis untuk memberikan kasih sayang yang berlimpah padanya. Muatan emosional dalam transference dapat bernilai positif atau negatif. Transference terjadi karena analisis telah memasuki fase yang dalam, sehingga memobilisir lapisanlapisan tak sadar pasien.

Diantara pengikut Freud, ada yang tertarik melakukan tes proyektif. Teori yang ada di balik tes ini adalah ketika klien diberikan perintah atau pertanyann yang membingungkan, dia akan menyelesaikannya dengan pilihan alam bawah sadarnya.

PERKEMBANGAN MUTAKHIR Alfred Adler (1870-1937) Alfred Adler adalah seorang anggota dari golongan Vienna lain yang aktif dari anggota ini, Tanggapan menjadi sangat bertentangan bahwa ketika ia meninggalkannya untuk membentuk sekolah psikologi miliknya secara individu. Gagasan apa yang mungkin telah dipertimbangkannya yang sangat tidak dapat diterima ke psikoanalisa? kita tidak bisa mempertimbangkan semua dari teori adler's, tetapi kita dapat mempertimbangkan sebagian

dari awal pandangannya dan kemudian meraba-raba untuk mendapatkan suatu perbedaan yang penting antara psikoanalisa dan pandangannya itu.

Barangkali yang paling penting yang dipisahkan Adler's dari Freud adalah lebih besarnya penekanan pada himbauan sosial dan proses sadar. Awal kariernya Adler menjadi tertarik akan sifat rendah diri bagian organ dan bagaimana orang-orang mengganti kerugian untuknya. Seseorang dengan suatu bagian organ yang lemah boleh mencoba untuk mengganti kerugian untuk kelemahan ini dengan membuat usaha khusus untuk memperkuat bagian organ itu atau untuk mengembangkan bagian organ lain. Sebagai contoh, seseorang anak yang gagap bicara boleh mencoba untuk menjadi seorang pembicara besar, atau seseorang dengan suatu cacat boleh mencoba untuk khusus mengembangkan kepekaan pendengaran. Sedangkan pada awalnya Adler adalah psikolog yang merasa sifat rendah diri dan bekerja keras mengganti rugi untuk menyembunyikan atau mengurangi perasaan yang menyakitkan ini. Seperti itu, sedangkan Freudians mungkin melihat penekanan Theodore Roosevelt's atas ketabahan membawa "tongkat besar" sebagai pertahanan dan melawan terhadap ketertarikan penyembelihan, Adlerians mungkin melihat sebab pernyataan yang mengganti rugi melawan sifat merasa rendah diri yang berhubungan dengan kelemahan waktu kanak-kanak. Sedangkan Freudians mungkin melihat perempuan yang agresif merupakan pernyataan kecemburuan, Adlerians mungkin melihat ketika menyatakan suatu penolakan atau protes untuk mencoba mengatasi si pria. Perasaan seperti itu menjadi bagian dari arah gaya hidupnya yang membedakan tentang fungsi kepribadian.

Konsep-konsep ini lebih menekankan kearah sosial daripada kearah biologis. Penekanan sosial ini bertambah menjadi bagian yang penting dalam pemikiran Adler. Teori Adler juga patut diperhatikan dalam penekanannya dalam bagaimana orang merespon perasaannya mengenai dirinya, bagaimana orang merespon tujuan-tujuan yang mengarahkan prilakunya menghadapi masa depan, dan bagaimana urutan kelahiran dari kakak beradik dapat mempengaruhi perkembangan psikologis mereka. Banyak dari gagasan Adler telah menjadi pemikiran masyarakat pada umumnya dan berhubungan dengan pandangan yang nantinya dikemukakan

oleh teoretis lain. Peneliti kontemporer, seperti Adler, menjadi tertarik pada kekuasaan sebagai sebagai determinan pokok dari prilaku manusia (Keltner, Gruenfeld, dan Anderson, 2003). Namun sekolah psikologi individual Adler sendiri tidak memiliki efek yang besar dalam penelitian dan teori kepribadian.

Carl. G. Jung (1875-1961) Jung berpisah dengan freud pada tahun 1914 dan mengembangkan sekolah pemikirannya sendiri yang dinamakan Psikologi Analitis. Pendirian sekolah ini merupakan peristiwa yang sangat besar bagi freud dan pergerakan psikoanalisis. Freud melihat Jung sebagi pemimpin yang cerdas dan sebagai penerus alaminya yang bisa melanjutkan kemajuan psikoanalisis setelah kematian Freud. Kedua orang tersebut juga mengembangkan hubungan yang sangat dekat, dari korespondensi mereka menunjukkan bahwa mereka mempunyai hubungan lebih seperti ayah dan anak sebagai kolega professional. Namun, hubungan ini mulai memburuk diawal tahun 1909 karena percampuran dari konflik pribadi dan professional (Gay, 1998). Tahun 1914, Jung mengundurkan diri dari posisinya sebagai presiden Asosiasi Psikoanalisa Internasional.

Seperti Adler, Jung juga kurang sepakat dengan pemikiran Freud dalam penekanan yang sangat besar pada seksualitas. Jung melihat libido bukan sebagi insting seksual, tapi merupakan energi kehidupan secara umum. Walaupun seksualitas juga merupakan bagian dari energi dasar ini, libido juga mengandung keinginan untuk kesenangan dan kreativitas. Bagi Jung, interpretasi ulang dari libido ini merupakan alasan utama ia berpisah dengan Freud.

Jung merasa bahwa freud selalu menekankan gagasan bahwa prilaku kita saat ini merupakan pengalaman dari masa lalu, dengan keinginan-keinginan instingtual dan represi psikologis pada masa kanak-kanak yang diulang dalam kehidupan dewasa. Jung percaya bahwa perkembangan kepribadian ditandai oleh kecenderungan yang mengarah ke depan. Orang-orang mencoba mendapatkan identitas personal yang bermakna dan makna dalam diri. Tentu saja, orang-orang sangat menantikan bahwa mereka secara umum mendedikasikan usaha-usaha untuk melakukan kegiatan keagamaan yang menyiapkan mereka untuk kehidupan setelah mati.

Jung menerima penekanan freud dalam ketidaksadaran tapi Jung juga menambahkan konsep ketidak sadaran kolektif ke dalamnya. Menurutnya, orang menyimpan pengalaman kumulatif dari generasi masa lalu ke dalam ketidaksadaran kolektif mereka. Ketidaksadaran kolektif, yang merupakan lawan dari ketidaksadaran pribadi, dimiliki oleh semua manusia sebagai hasil dari keturunan mereka.

Bagian yang penting dalam ketidaksadaran kolektif adalah gambar-gambar atau simbol-simbol universal yang dikenal dengan nama archetypes. Archetypes dapat direprentasikan dalam gambaran kita mengenai orang, roh jahat, binatang, kekuatan alam, atau benda. Bukti bahwa mereka merupakan bagian dari kesadaran kolektif kita adalah keuniversalan mereka dalam kebudayaan yang berbeda dari waktu lampau dan masa kini.

Aspek penting yang lain dalam teori jung adalah penekanannya dalam bagaimana orang bertahan melawan kekuatan di dalam diri mereka. Contohnya, ada perlawanan antara wajah atau topeng yang kita tampilkan pada orang lain (persona) dan pribadi mereka sebenarnya. Jika orang menekankan terlalu banyak pada persona, ada kemungkinan mereka kehilangan makna dari mereka sendiri dan meragukan siapa diri mereka sebenarnya. Di lain hal, persona, seperti yang ditampilkan dalam peran sosial dan adat istiadat, merupakan bagian yang penting dalam kehidupan bermasyarakat. Sama halnya dengan adanya perlawanan antara bagian maskulin dan feminin dalam diri kita. Setiap pria memiliki bagian feminin (anima) dan setiap wanita memiliki bagian maskulin (animus) dalam kepribadian mereka.

Perbandingan yang sangat mencolok lainnya dalam teori Jung adalah antara introversion dan extraversion. Setiap orang dalam berhubungan dengan lingkungannya terutama menggunakan salah satu dari dua arah tersebut, walaupun arah yang lain tetap menjadi bagian dari orang tersebut. Dalam kasus introversion, orientasi dasar seseorang adalah lebih cenderung ke dalam diri mereka sendiri. Dalam kasus extraversion orientasi dasar seseorang cenderung ke arah dunia luar.

PENEKANAN BUDAYA DAN INTERPERSONAL Teoritis yang menekankan pada kekuatan sosial daripada biologis dalam perilaku dikenal sebagai neo-Freudian.

Karen Horney (1885-1952) Penekanan Horney dalam fungsi neurosis adalah dalam bagaimana individu berusaha untuk mengatasi kecemasan dasar. Menurut teori neurosisnya dalam seseorang yang neurotic ada konflik diantara tiga cara untuk merespon kecemasan dasar ini. Tiga pola ini, atau trend neurotic dikenal sebagai bergerak mendekati, bergerak melawan, dan bergerak menjauh.

Harry Stack Sullivan (1892-1949) Harry membagi perkembngan kepribadian menjadi beberapa masa. 1. Masa bayi : Kebutuhan akan rasa aman dalam mengembangkan rasa percaya yang mendasar (basic trust). 2. Masa kanak-kanak awal: belajar berkomunikasi 3. Pra sekolah : mengembangkan body image 4. Usia sekolah : mengembangkan hubungan dengan sebaya, melalui kompetisi, kompromi dan kooperatif 5. Remaja : mengembangkan kemandirian,melakukan hubungan dengan jenis kelamin yang berbeda 6. Dewasa : belajar untuk saling tergantung, tanggung jawab terhadap orang lain.

KRITIK TERHADAP TEORI FREUD Kontribusi Besar Psikoanalisis telah membawa kita menuju penggunaan teknik baru dalam psikologi, seperti asosiasi bebas dan interpretasi mimpi, dan telah menjadi kekuatan yang signifikan dalam pengembangan dan penggunaan tes-tes tertentu dalam mengases kepribadian. Ada dua kontribusi terkemuka yang patut diingat. Pertama-tama, psikoanalisis memberikan kontribusi

yang sangat besar pada penemuan dan investigasi dari fenomena. Kontribusi besar Freud yang pertama adalah kekayaan observasinya dan perhatiannya yang sangat mendetail terhadap perilaku manusia. yang kedua adalah perhatian yang dia berikan kepada perilaku manusia yang sangat kompleks di saat yang sama ketika ia mengembangkan teori yang cakupannya sangat luas. Teori psikoanalisis menekankan bahwa perilaku yang kelihatannya serupa dapat memiliki perbedaan kata yang terdahulu dan motif yang sangat serupa dapat menuju ke arah perilaku yang cukup berbeda. Tidak ada teori kepribadian lainnya yang mendekati teori psikoanalisis mengenai pencatatan perilaku yang sangat luas.

PEMBATASAN TEORI FREUD Status Ilmiah Teori Psikoanalisis Model energi yang Freud gunakan dalam teori psikoanalisis dibuat berdasarkan model ilmiah lain yang tersedia pada masa munculnya teori Freud. Namun, model seperti itu sudah ketinggalan jaman dan penelitian dengan jelas menyebutkan kekurangan dari model tersebut. Orang tidak selalu mengharapkan pengurangan tegangan; malah seringnya stimulasi dan tegangan itu dibutuhkan. Demikian juga, seluruh model motivasi yang berdasarkan dorongandorongan psikologis telah ditemukan menjadi yang diinginkan di lapangan. Model energi ini mungkin berguna sebagai ungkapan untuk fungsi kepribadian namun hampir tidak pernah berlaku adil dalam keruwetan fungsi manusia. Dalam konsekuensi yang lebih besar, bagaimanapun, adalah apa yang mungkin menjadi kecacatan ilmiah yang mendasar dalam seluruh usaha psikoanalisis. Terminologi psikoanalisis sangat ambigu. Banyak ungkapan dan analogi yang bisa, tapi tidak dibutuhkan, untuk dimaknai secara literal. Contoh-contohnya adalah latensi, insting kematian, Oedipus complex, dan penghilangan kecemasan. Apakah penghilangan kecemasan mengacu pada ketakutan akan kehilangan penis, ataukah mengacu pada ketakutan anak akan cedera pada tubuhnya saat gambaran tubuhnya lebih berarti bagi harga dirinya? Bahasa teori ini sangat kabur sehingga peneliti sering berada dibawah tekanan untuk menyetujui makna yang tepat dari terminologinya. Konsep seperti id, ego dan superego mempunyai kemampuan deskriptif yang

pantas dipertimbangkan, namun seringnya susah untuk menerjemahkan mereka ke dalam pengamatan perilaku yang relevan.

Banyak kritik yang menyatakan bahwa psikoanalis menggunakan observasi yang dipengaruhi oleh teori untuk mendukung teorinya untuk menutup kesalahan masalah yang diperbuat oleh mereka dapat mengaburkan respon dari subjek mereka dan mengaburkan persepsi mereka sendiri akan data yang ada. Banyak kritik yang menyatakan bahwa Freud sering membiaskan observasinya melalui penggunaan usulan prosedur sugestif dan dengan menyimpulkan bahwa ingatan berada pada level ketidaksadaran (Crews, 1993; Esterson, 1993; Powell & Boer, 1994).

Jadi, yang kita miliki adalah teori yang terkadang membingungkan dan seringnya sukar untuk dites. Masalah ini semakin diperumit dengan cara yang psikoanalis bisa perhitungkan untuk hampir semua hasil, bahkan hasil yeng bertentangan. Jika satu perilaku muncul, hal itu adalah ekspresi insting; jika sebaliknya yang muncul, itu adalah ekspresi pertahanan; jika perilaku muncul dalam bentuk lain, itu adalah kompromi antara insting dan pertahanan. Masalah dari teori ini bukan karena meninggalkan ruang untuk kerumitan yang ada, melainkan teori ini gagal untuk menyatakan perilaku mana yang akan muncul dalam aturan lingkup tertentu.

Teori ini juga bermasalah dalam cara psikoanalis yang sering membela teorinya. Analis sering bereaksi pada kritik terhadap teori dengan menyatakan bahwa kritik terlalu defensive dan tidak mengakui dan menerima pentingnya fenomena seperti seksualitas kekanak-kanakan.

Pandangan Psikoanalisis mengenai Individu Menurut pandangan ini, teori mengenai individu sebagai sistem energi yang mengarah pada penurunan tekanan hampir tidak pernah memberikan keadilan bagi individual yang kreatif dan memiliki usaha aktualisasi diri. Pandangan ini juga menyatakan bahwa psikoanalisis menekankan kekuatan dari dalam individu dimana secara umum mengabaikan kekuatan dari keluarga dan masyarakat yang lebih luas.

Tabel ringkasan kekuatan dan batasan dari teori psikoanalisis: Kekuatan 1. Menyediakan lahan untuk penemuan dan penyelidikan banyak fenomena yang menarik 2. Mengembangkan teknik untuk penelitian dan terapi (asosiasi bebas, interpretasi mimpi, analisis transference) 3. Mengenali kompleksitas perilaku manusia 4. Mencakupi wilayah fenomena yang luas Batasan 1. Gagal dalam mendefinisikan semua konsepnya secara jelas dan mendetail 2. Pengujian empiris sulit dilakukan, bahkan tidak mungkin 3. Mendukung pandangan yang dipertanyakan mengenai individu sebagai sistem energi 4. Menoleransi perlawanan oleh bagian pekerjaan untuk penelitian empiris dan perubahan pada teori

BAB III KESIMPULAN


Teori yang dikembangkan oleh Freud ini tentu memiliki kemampuan komprehensif yang baik. Tidak ada teori kepribadian lain yang mendekati cakupan perilaku , yang terjadi dan penawaran interpretasi yang dibahas oleh Freud. Dari cakupan yang dipaparkan oleh teori ini, terlihat bahwa teori ini cukup praktis. Konsep struktural dan proses yang digunakan oleh teori ini cenderung sedikit. Lebih jauh lagi teori ini telah menyediakan banyak bidang untuk penyelidikan dan memimpin banyak penelitian.

Walaupun penelitian tersebut relevan pada teori, banyak dari mereka tidak menawarkan tes eksplisit dari hipotesis yang berdasarkan teori, dan sedikit dari mereka yang telah digunakan untuk mengembangkan teorinya. Permasalahan utama mengenai psikoanalisis adalah cara merumuskan konsep, yaitu keambiguan dari konsep dan hubungan yang ada diantara konsepkonsep yang membuat teori sangat sulit uuntuk di tes.

Pertanyaan bagi teori psikoanalisis adalah apakah teori tersebut dapat dikembangkan untuk menyediakan tes-tes tertentu, atau apakah teori itu suatu saat akan digantikan dengan teori lain pada masa depan yang sama konprehensifnya dan sama praktisnya namun lebih terbuka bagi penyelidikkan secara sistematis dan empiris.

DAFTAR PUSTAKA
Arif, Iman Setiadi. (2006). Dinamika kepribadian, gangguan dan psikoterapinya (Understanding the unconscious). Bandung: PT. Refika Aditama Pervin, L.A., Cervone, D., John, O.P. (2005). Personality theory and research, 9th ed. New York: John Wiley and Sons, Inc. Pervin, L.A., John, O.P. (2001). Personality theory and research, 8th ed. New York: John Wiley and Sons, Inc.