Anda di halaman 1dari 6

DEELNEMING_PENYERTAAN TINDAK PIDANA

Rangkuman Materi Penyertaan (deelneming) Oleh: Rusman Pattiwael 1. Pengertian Deelneming Deelneming dapat diartikan sebagai terwujudnya suatu tindak pidana yang dilakukan oleh lebih dari satu orang, yang mana antara orang yang satu dengan yang lainnya terdapat hubungan sikap batin dan/atau perbuatan yang sangat erat terhadap terwujudnya tindak pidana tersebut. Menurut Chajawi[1] deelneming adalah pengertian yang meliputi semua bentuk turut serta/terlibatnya orang atau orang-orang baik secara psikis maupun fisik dengan melakukan masing-masing perbuatan sehingga melahirkan suatu tindak pidana. Orang-orang yang terlibat dalam kerja sama yang mewujudkan tindak pidana, perbuatan masing-masing dari mereka berbeda satu dengan yang lain demikian juga bisa tidak sama apa yang ada dalam sikap batin mereka terhadap tindak pidana maupun terhadap peserta yang lain, demikian juga bisa tidak sama apa yang ada dalam sikap batin mereka terhadap tindak pidana maupun terhadap peserta yang lain. Tetapi dari perbedaan-perbedaan yang ada pada masing-masing itu terjalianlah suatu hubungan yang sedemikian rupa eratnya, dimana perbuatan yang satu menunjang perbuatan yang lainnya, yang kesemuanya mengarah pada satu ialah terwuudnya tindak pidana. 2. Sistem Pertanggungjawaban Pada Deelneming Dari pengertian deelneming di atas dan dikaitkan dengan sistem pertanggungjawaban pidananya, maka sebelum mengetahui bentuk pertanggungjawabannya, ada dua persoalan yang perlu dibahas sebelumnya: a. MENGENAI DIRI ORANGNYA, yaitu orang yang mewujudkan perbuatan yang bagaimanakah dan atau yang bersikap batin bagaimana yang dapat dipertimbangkan dan dapat ditentukan sebagai terlibat dalam tindak pidana secara deelneming, sehingga yang bersangkutan patut dipidana? b. MENGENAI TANGGUNGJAWAB PIDANA, yaitu apakah mereka para peserta yang terlibat pada suatu tindak pidana itu akan dipertanggungjawabkan sama ataukah berbeda sesuai dengan besar/kecilnya andil masing-masing terhadap terwujudnya tindak pidana. Mengenai persoalan yang pertama (poin a). untuk dapat menentukan

keterlibatan seseorang dalam tindak pidana yang dilakukan secara deelneming, ada dua syarat yang harus dipenuhi:

Syarat subjektif Syarat sunbjektif dibagi menjadi 2: 1) adanya hubungan batin (kesengajaan) dengan tindak pidana yang diwujudkan, artinya kesengajaan dalam berbuat diarahkan pada terwujudnya tindak pidana. 2) Adanya hubungan batin (kesengaaan dengan mengetahui) antara dirinya dengan peserta lainnya dan bahkan dengan apa yang dilakukan oleh dia dan peserta lainnya. Syarat objektif ialah bahwa perbuatan orang tersebut memiliki hubungan dengan terwujudnya tindak pidana, atau dapat dikatakan juga bahwa wuud perbuatan orang tersebut secara objektif ada perannya/pengaruh positif baik besar atau kecil, terhadap terwujudnya tindak pidana. Dari pendekatan praktik, syarat pertama (subjektif) dapat saja berdiri sendiri, contohnya terhadap orang yang perbuatannya menyuruh melakukan (doen plegen) dan atau orang yang perbuatannya sengaja menganjurkan (uitlokken). Pada doen plegen dan uitlokken para pelakunya semata-mata hanya terlibat secara subjektif, sama sekali tidak secara obektif. Dalam artian bahwa pelaku doen plegen dan uitlokken tidak melakukan perbuatan fisik apapun dalam mewujudkan tindak pidana yang dikehendakinya. Namun terhadap syarat yang kedua (objektif) tidak mungkin dapat berdiri sendiri, karena apabila berdiri sendiri, maka tidak akan dapat disebut sebagai penyertaan. Dengan demikian syarat objektif harus selalu melekat dengan syarat subektif pada tindak pidana yang dilakukan secara deelneming. Mengenai persoalan yang kedua (poin b), yakni sistem pertanggungjawaban pidananya. Mengenai deelneming, dalam ilmu hukum pidana dikenal 2 sistem pertanggungjawaban pidana, yaitu: a. Doktrin pertanggungjawaban pidana hukum Romawi, bahwa setiap orang yang terlibat bersama-sama kedalam suatu tindak pidana dipandang dan dipertanggungjawabkan secara sama dengan orang yang sendirian (dader) melakukan tindak pidana, tanpa dibedakan baik atas perbuatan yang dilakukannya maupun atas sikap batinnya. b. Doktrin pertanggungawaban pidana hukum Italia, masing-masing orang yang bersama-sama terlibat kedalam tindak pidana dipandang

dan dipertanggungjawabkan berbeda-beda, yang berat ringannya disesuaikan dengan bentuk dan luasnya wujud perbuatan masingmasing orang terhadap tindak pidana yang terjadi. Dari dua doktrin pertanggungawaban pidana tersebut, hukum pidana Indonesia mengadopsi kedua-duanya, yang lazim disebut sistem campuran. Dikatakan demikian, karena sebagaimana diketahui bahwa dalam hukum pidana Indonesia yang diatur dalam KUHP, deelneming dikelompokkan kedalam 2 kelompok, yaitu 1) para pembuat (mededader) diatur dalam Pasal 55 KUHP dan 2) pembuat pembantu (medeplichtige) diatur dalam Pasal 56 KUHP. Terhadap para pembuat (mededader) orang-orang yang terlibat di dalamnya ancaman pertanggungjawaban pidananya disamakan, sedangkan terhadap para pembuat pembantu (medeplichtige) ancaman pertanggungjawaban pidananya lebih ringan dari pada para pembuat (mededader), yakni menurut Pasal 57 ayat (1) KUHP disebutkan bahwa dalam hal pembantuan, maksimum pidana pokok terhadap kejahatan dikurangi sepertiga. 3. Bentuk-Bentuk Deelneming Sebelum membahas mengenai bentuk-bentuk penyertaan, perlu diperhatikan rumusan Pasal 55 dan 56 KUHP. Rumusan Pasal 55 berbunyi: (1) Dipidana sebagai pembuat tindak pidana: 1. mereka yang melakukan, yang menyuruh lakukan, dan yang turut serta melakukan; 2. mereka yang dengan memberi atau menjanjikan sesuatu, dengan menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasan, ancaman atau penyesatan, atau dengan memberi kesempatan, sarana atau keterangan sengaja menganurkan orang lain supaya melakukan perbuatan. (2) Terhadap penganjur, hanya perbuatan, yang sengaja diajurkan sajalah yang diperhitungkan, beserta akibat-akibatnya. Pasal 56 KUHP berbunyi: Dipidana sebagai pembantu kejahatan: 1. mereka yang sengaja memberi bantuan pada waktu kejahatan yang dilakukan; 2. mereka yang sengaja memberi kesempatan, sarana atau keterangan untuk melakukan kejahatan. Dari kedua pasal tersebut (Pasal 55 dan 56) tersebut, dapat diketahui bahwa menurut KUHP penyertaan itu dibedakan dalam 2 kelompok. 1. pertama adalah kelompok yang disebut sebagai para pembuat (mededaer), (Pasal 55 KUHP) yaitu: a. yang melakukan (plegen) orangnya (pleger) b. yang menyuruh melakukan (doen plegen) orangnya (doen pleger) c. yang turut serta melakukan (mede plegen) orangnya (mede pleger) d. yang menganjurkan (uitlokken) orangnya (uitlokker).

2. kedua, yaitu orang yang disebut sebagai pembuat pembatu (medeplichtige) (Pasal 56 KUHP), yakni: a. pemberian bantuan pada saat pelaksanaan kejahatan; dan b. pemberian bantuan sebelum pelaksanaan kejahatan. PARA PEMBUAT (MEDEDAER) a) Yang melakukan (plegen) orangnya (pleger) Siapa yang dimaksud dengan mereka yang melakukan? Atau dengan syarat-syarat apa seseorang yang terlibat dalam tindak pidana secara deelneming disebut sebagai orang yang melakukan/pembuat pelaksana? Undang-undang tidak memberikan penjelasan lebih jauh tentang kriteria untuk dapat disebut sebagai mereka yang melakukan/pembuat pelaksana ini. Namun dari berbagai pendapat para ahli dan dengan pendekatan praktik dapat diketahui bahwa untuk menentukan seseorang sebagai yang melakukan (pleger)/pembuat pelaksana tindak pidana secara penyertaan adalah dengan 2 kriteria: 1) perbuatannya adalah perbuatan yang menetukan terwujudnya tindak pidana, 2) perbuatannya tersebut memenuhi seluruh unsur tindak pidana. b) Yang menyuruh melakukan (doen plegen) orangnya (doen pleger) Undang-undang tidak menjelaskan tentang siapa yang dimaksud dengan yang menyuruh melakukan itu. Untuk mencari pengertian dan syarat untuk dapat ditentukan sebagai orang yang melakukan (doen pleger), pada umumnya para ahli hukum merujuk pada keterangan yang ada dalam MvT WvS Belanda, yang berbunyi bahwa yang menyuruh melakukan adalah dia juga yang melakukan tindak pidana, tapi tidak secara pribadimelainkan dengan perantara orang lain sebagai alat di dalam tangannya apa bila orang lain itu melakukan perbuatan tanpa kesengajaan, kealpaan atau tanpa tanggungjawab, karena sesuatu hal yang tidak diketahui, disesatkan atau tunduk pada kekerasan. a. Orang lain sebagai alat di dalam tangannya Yang dimaksud dengan orang lain sebagai alat di dalam tangannya adalah apabila orang/pelaku tersebut memperalat orang lain untuk melakukan tindak pidana. Karena orang lain itu sebagai alat, maka secara praktis pembuat penyuruh tidak melakukan perbuatan aktif. Dalam doktrin hukum pidana orang yang diperalat disebut sebagai manus ministra sedangkan orang yang memperalat disebut sebagai manus domina juga disebut sebagai middelijke dader (pembuat tidak langsung). Ada tiga konsekuensi logis, terhadap tindak pidana yang dilakukan dengan cara memperlalat orang lain: Terwujudnya tindak pidana bukan disebabkan langsung oleh pembuat penyuruh, tetapi leh perbuatan orang lain (manus ministra); Orang lain tersebut tidak bertanggungjawab atas perbuatannya yang pada kenyataannya telah melahirkan tindak pidana; Manus ministra ini tidak boleh dijatuhi pidana, yang dipidana adalah

pembuatan penyuruh. b. Tanpa kesengajaan atau kealpaan Yang dimaksud dengan tanpa kesengajaan atau tanpa kealpaan adalah perbuatan yang dilakukan oleh orang yang disuruh (manus ministra) tidak dilandasi oleh kesengajaan untuk mewujudkan tindak pidana, juga terjadinya tindak pidana bukan karena adanya kealpaan, karena sesungguhnya inisiatif perbuatan datang dari pembuat penyuruh, demikian juga niat untuk mewujudkan tindak pidana itu hanya berada pada pembuat penyuruh (doen pleger). c. Karena tersesatkan Yang dimaksud dengan tersesatkan disini adalah kekeliruan atau kesalahpahaman akan suatu unsur tindak pidana yang disebabaklan oleh pengaruh dari orang lain dengan cara yang isinya tidak benar, yang atas kesalahpahaman itu maka memutuskan kehendak untuk berbuat. Keadaan yang menyebabkan orang lain itu timbul kesalahpahaman itu adalah oleh sebab kesengajaan pembuat penyuruh sendiri. d. Karena kekerasan Yang dimaksud dengan kekerasan (geweld) di sini adalah perbuatan yang dengan menggunakan kekerasan fisik yang besar, yang in casu ditujukan pada orang, mengakibatkan orang itu tidak berdaya. Dari apa yang telah diterangkan di atas maka jelaslah bahwa orang yang disuruh melakukan tidak dapat dipidana. Di dalam hukum orang yang disuruh melakukan ini dikategorikan sebgai manus ministra, sementara orang menyuruh melakukan dikategorikan manus domina. Menurut Moeljatno, kemungkinan-kemungkinan tidak dipidananya orang yang disuruh, karena: 1) tidak mempunyai kesengaaan, kealpaan ataupun kemampuan bertanggungjawab; 2) berdasarkan Pasal 44 KUHP; 3) daya paksa Pasal 48 KUHP; 4) berdasarkan Pasal 51 ayat 2 KUHP; dan 5) orang yang disuruh tidak mempunyai sifat/kualitas yang disyaratkan dalam delik, misalnya Pasal 413-437 KUHP). c) Yang turut serta melakukan (mede plegen) orangnya (medepleger) Tentang siapa yang dimaksud dengan turut serta melakukan (medepleger), oleh MvT dijelaskan bahwa yang turut serta melakukan ialah setiap orang yang sengaja berbuat (meedoet) dalam melakukan suatu tindak pidana. Penelasan MvT ini, merupakan penjelasan yang singkat yang masih membutuhkan penjabaran lebih lanjut. Dari berbagai pandangan para ahli tentang bagaimana kategori untuk menentukan pembuat peserta (medepleger), maka dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk menentukan seseorang sebagai pembuat peserta yaitu apabila perbuatan orang tersebut memang mengarah dalam mewujudkan tindak pidana dan memang telah terbentuk niat

yang sama dengan pembuat pelaksana (pleger) untuk mewujudkan tindak pidana tersebut. Perbuatan pembuat peserta tidak perlu memenuhi seluruh unsur tindak pidana, asalkan perbuatannya memiliki andil terhadap terwuudnya tindak pidana tersebut, serta di dalam diri pembuat peserta telah terbentuk niat yang sama dengan pembuat pelaksana untuk mewujudkan tindak pidana. d) Yang menganjurkan (uitlokken) orangnya (uitlokker). Orang yang sengaja mengajurkan, seperti juga pada orang yang menyuruh lakukan (doen pleger) tidak mewujudkan tindak pidana secara materil, tetapi melalui orang lain. Pasal 55 ayat (1) ke-2 berbunyi: mereka yang dengan memberi atau menjanjikan sesuatu, dengan menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasan, ancaman atau penyesatan, atau dengan memberi kesempatan, sarana atau keterangan sengaja menganurkan orang lain supaya melakukan perbuatan. Apabila rumusan ini dirinci, maka unsur-unsurnya adalah: 1) Unsur objektif: menganjurkan orang lain melakukan perbuatan, dengan menggunakan cara: memberikan sesuatu; menjanjikan sesuatu; menyalahgunakan kekuasaan; menyalahgunakan martabat; dengan kekerasan; dengan ancaman; dengan penyesatan; dengan memberi kesempatan; dengan memberikan sarana; dengan memberikan keterangan. 2) Unsur subjektif: dengan sengaja. Satu hal yang perlu diingat disini adalah bahwa, dalam penganjuran ini, baik orang yang menganjurkan maupun orang yang dianurkan, dipidana. Perbedaan antara pembuat penyuruh (doen pleger) dengan pembuat penganjur (uitloker) ini adalah, pad pembuat penyuruh, orang yang disuruh tidak dipidana, sedangkan pada pembuat penganjur, baik penganjur (uitloker) maupun orang yang dianjurkan dipidana. PEMBUAT PEMBATU (MEDEPLICHTIGE) pemberian bantuan sebelum pelaksanaan kejahatan pemberian bantuan pada saat pelaksanaan kejahatan; dan [1] Adami Chajawi, Percobaan & Penyertaan (Pelajaran Hukum Pidana Bagian),