Anda di halaman 1dari 11

KESANGGUPAN / DAYA TAHAN / ENDURANCE (PHYSICAL FITNESS)

I.

TUJUAN PERCOBAAN Praktikum ini bertujuan untuk menetapkan indeks kesanggupan tubuh baik

kesanggupan otot maupun kesanggupan kardiovaskuler dengan berbagai cara dan menggolongkan orang percobaan dalam golongan hiperreaktor atau hiporeaktor.

II.

TINJAUAN PUSTAKA Sistem peredaran darah tubuh merupakan sarana transport yang

mengantarkan O2 dan berbagai zat yang diabsorbsi dari traktus gastrointestinal menuju ke jaringan, mengembalikan CO2 ke paru-paru dan hasil metabolisme lain menuju ginjal. Sistem peredaran darah juga berperan dalam pengaturan suhu tubuh dan mendistribusikan hormon serta berbagai zat lain yang mengatur fungsi sel. Darah yang merupakan pembawa berbagai zat tersebut dipompakan oleh jantung melalui system pembuluh darah yang tertutup. Sistem peredaran darah dikendalikan oleh berbagai sistem pengaturan yang secara umum berfungsi mempertahankan aliran darah kapiler dan mendistribusikannya ke seluruh organ tubuh khususnya ke jantung dan otak. Dalam hal ini ada dua komponen yaitu komponen jantung dan komponen pembuluh darah. Mengalirnya darah terutama dimungkinkan oleh daya pompa jantung. Selain itu terdapat juga pengaruh susunan pembuluh darah seperti kapasitas, elastisitas, diameter pembuluh dan volume darah di dalamnya. Dua faktor yang mengatur komponen diatas ialah faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik berhubungan dengan kemampuan miokardium sendiri untuk berkontraksi dan kemampuan pembuluh darah sendiri untuk mengatur diameternya (autoregulasi). Faktor ekstrinsik termasuk pengaruh susunan saraf otonom, hormon dan zat kimia atau obat-obatan pada frekuensi dan

penghantaran impuls jantung, serta perubahan tahanan tepid an kapasitas vena. Salah satu parameter penting dari sistem peredaran darah ialah curah jantung (Cardiac Output = CO). Cardiac output ialah jumlah darah yang dipompakan oleh ventrikel dalam satu menit. CO ventrikel kiri dan kanan dalam keadaan sehat (fisiologis) sama besarnya, karena bila tidak demikian akan terjadi penimbunan darah pada suatu tempat dalam susunan peredaran darah. Jumlah darah yang dipompakan oleh ventrikel pada setiap sistole disebut sebagai isi sekuncup (=Stroke Volume). Dengan demikian curah jantung = isi sekuncup x frekuensi denyut jantung/menit. Besarnya curah jantung berhubungan dengan besar tubuh seseorang dan muas permukaan tubuh. Besar curah jantung untuk maksud tertentu dinyatakan dalam per meter persegi tubuh disebut sebagai indeks jantung (cardiac indeks). Penggunaan indeks jantung bertujuan untuk membandingkan besar curah jantung dari orang yang berbeda besar dan tinggi tubuhnya. Curah jantung akan meningkat atau menurun dalam berbagai keadaan seperti dalam keadaan stress, melakukan kerja otot, peningkatan suhu dll. Mekanisme naik-turunnya curah jantung dipengaruhi oleh besar isi sekuncup dan frekuensi denyut jantung. Tubuh seseorang setelah melakukan berbagai kegiatan akan berusaha mengembalikan fungsi-fungsi tubuhnya kekeadaan basal dalam batas-batas normal. Hal ini tergantung dari daya tahan tubuh dan fungsi fisiologis yang lebih efisien dari masing-masing orang. Daya tahan tubuh dibagi dua macam yaitu daya tahan otot dan daya tahan umum yang berhubungan dengan kemampuan kerja jantung, sirkulasi darah dan pernapasan. Bermacam-macam cara telah dipakai untuk menilai daya tahan tubuh seseorang yang meliputi penilaian terhadap kesanggupan otot maupun kesanggupan kardiovaskulernya.

III. Alat:

ALAT, BAHAN DAN CARA KERJA

1. Sphygmo manometer 2. Stetoskop 3. Stopwatch 4. Termometer 5. Bangku Harvard 6. Beaker glass Bahan: 1. Air 2. Es Cara kerja: Percobaan 1: Harvard Step Test 1. Disiapkan bangku Harvard setinggi 19 inchi dan dihadapkan kepada orang percobaan (OP) serta mendengarkan ketukan dengan kecepatan 120/menit. 2. OP menempatkan salah satu kakinya di bangku tepat pada suatu detakan metronom. 3. Pada detakan berikutnya kaki lainnya dinaikkan ke bangku sehingga OP berdiri tegak diatas bangku. 4. Pada detakan ketiga kaki yang pertama kali diturunkan. 5. Pada detakan keempat kaki yang masih diatas bangku diturunkan pula sehingga OP berdiri tegak lagi di depan bangku. 6. Siklus ini diulang secara terus menerus hingga OP tidak kuat lagi dan dicatat waktu yang sanggup ditempuh menggunakan stopwatch. 7. Setelah itu OP duduk. Dihitung dan dicatat frekuensi denyut nadinya selama 30 detik sebanyak 3 kali masing-masing 1 130, dari 2 230 dan dari 3 330 8. Indeks kesanggupan OP dihitung dan diberi penilaian dengan cara berikut ini: a. cara lambat indeks kesanggupan badan = lama naik turun dalam detiK

2 x jumlah ketiga harga denyut nadi tiap 30 detik

Penilaian: Kurang dari 55 = Kesanggupan kurang 55 66 65 79 80 89 = Kesanggupan sedang = Kesanggupan cukup = Kesanggupan baik

Lebih dari 90 = Kesanggupan sangat baik b. cara cepat = lama naik turun dalam detik

5,5 x harga denyut nadi selama 30 detik c. dengan daftar

Lamanya Percobaan 0 - 29 0 30 0 59 1 0 1 29 1 30 1 59 2 0 2 29 2 30 2 59 3 0 3 29 3 30 3 59 4 0 4 29 4 30 4 59 5 0 85 10 0 11 0 12 5 13 0 60 70 4044 5 20 30 45

Pemulihan denyut nadi dari 1 menit hingga 1,5 menit 45- 50- 55- 60- 65- 70- 75- 80- 85- 9049 5 15 30 40 54 5 15 25 40 59 5 15 25 35 64 5 15 20 30 69 5 10 20 30 74 5 10 20 25 79 5 10 20 25 84 5 10 15 20 89 5 10 15 20 5 10 15 20

50 65

45 60

45 55

40 50

35 45

35 40

30 40

30 35

30 35

25 35

75 85

70 80

60 70

55 65

55 60

50 55

45 55

45 50

40 45

40 45

10 0 11 0 11 5

90 10 0 10 5

80 90

75 85

70 75

65 70

60 65

55 60

55 60

55 5

95

90

85

80

75

70

65

60

Penilaian baik dengan rumus maupun dengan tabel: Kurang dari 50 = Kesanggupan kurang 50 80 Lebih dari 80 = Kesanggupan sedang = Kesanggupan baik

Percobaan 2: Menahan nafas 1. Inspirasi dan ekspirasi dilakukan oleh OP sedalam-dalamnya sebanyak dua kali.

2. 3.

OP menahan napasnya selama mungkin dan dicatat. Percobaan diulangi sebanyak 3 kali, dihitung rata-ratanya.

Percobaan 3: Lorenz 1. OP diukur denyut nadinya setelah duduk selama lima menit. 2. OP melakukan kegiatan jongkok berdiri sebanyak 20 kali dengan lutut terbuka lebar selama 20 detik. 3. Setelah duduk kembali, diukur frekuensi denyut nadi setelah menit pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya sampai frekuensi denyut nadi kembali seperti semula. Percobaan 4: Test lari 1,5 mile Cooper 1. OP lari secepat-cepatnya dalam jarak 1,5 mile. 2. Dicatat waktu tempuh dalam menit. 3. Penilaian kesanggupan badan dilakukan dengan menggunakan daftar.
Kategori Jelek sekali Jelek Sedang Baik Baik sekali Luar biasa PA/PI Pria Wanita Pria Wanita Pria Wanita Pria Wanita Pria Wanita Pria Wanita 13 - 19 >15:31 >18:31 12:11-15:30 16:55-18:30 12:11-15:30 16:55-18:30 12:11-15:30 16:55-18:30 12:11-15:30 16:55-18:30 <08:37 <11:50 20 - 29 >16:01 >19:01 14:01-16:00 18:30-19:00 12:01-14:00 15:55-18:30 10:46-12:00 13:31-15:54 09:45-10:45 12:30-13:30 <09:45 <12:30 30 - 39 >16:31 >19:31 14:44-16:20 19:01-19:30 12:31-14:45 16:31-19:00 11:01-12:30 14:31-16:30 10:00-11:00 13:00-14:30 <10:00 <13:00 Umur 40 - 49 >17:31 >20:01 15:36-17:30 19:31-20:00 13:01-19:30 17:31-19:30 11:31-13:00 15:56-17:30 10:30-11:30 13:45-15:55 <10:30 <13:45 50 - 59 >19:01 >20:31 17:01-19:00 20:01-20:30 14:31-17:00 19:01-20:00 12:31-14:30 16:31-19:03 11:00-12:30 14:30-16:30 <11:00 <14:30 60 >20:01 >21:01 19:01-20:00 21:00-21:31 16:16-19:10 19:31-20:30 14:00-15:25 17:31-19:30 11:15-13:50 16:31-17:30 <11:30 <16:30

Percobaan 5: Test Peninggian tekanan darah dengan pendinginan (Cold pressor test) 1. OP berbaring terlentang dengan tenang selama 20 menit. 2. Selama menunggu sphygmomanometer dipasangkan pada lengan OP. 3. Setelah OP berbaring selama 20 menit tekanan darah ditetapkan setiap 5 menit sampai terdapat hasil yang sama 3 kali berturut-turut (= tekanan basal).

4. Tanpa manset dibuka tangan kiri OP dicelupkan dalam air es (kurang lebih 4 derajat celcius) hingga pergelangan tangan. 5. Pada detik ke 30 dan 60 pendinginan, tekanan sistolik dan diastolik ditetapkan. 6. Dicatat hasil pengukuran tekanan nadi OP selama pendinginan. Bila pada pendinginan tekanan sistolik naik lebih besar dari 20 mm Hg dan tekanan diastolik lebih dari 15 mm Hg dari tekanan basal, maka OP termasuk golongan hiperreaktor. Bila kenaikan tekanan nadi masih dibawah angka tersebut maka termasuk golongan hiporeaktor. Kenyataan statistik menunjukkan bahwa golongan hippereaktor lebih besar kemungkinannya untuk menjadi penderita hipertensi dikemudian hari daripada golongan hiporeaktor. Percobaan 6: Indeks Jantung 1. 2. 3. Tinggi badan dan berat badan OP diukur. Ditentukan luas permukaan tubuhnya dengan monogram, rumus. Dihitung indeks jantung bila diketahui rata-rata curah jantung orang dewasa 4,5 liter. Rumus LP = BB0,425 x TB0,725 x 71,84 BB dalam kg TB dalam cm

IV. Nama OP

HASIL PERCOBAAN : Syahik Nur Bani (L) : 4 20

Percobaan 1: Harvard Step Test Lama naik turun bangku

Frekuensi nadi pada 1 - 1 30 = 89 2 - 2 30 = 74 3 - 3 30 = 70

Indeks kesanggaupan badan : Cara lambat Cara cepat dengan rumus Cara cepat dengan daftar : 260 x 100 = 55,79 (Kesanggupan sedang) 2 x 33 : 260 x 100 =53,11 (Kesanggupan sedang) 5,5 x 89 : 55 (Kesanggupan sedang)

Percobaan 2: Menahan nafas Nama OP Lamanya menahan nafas Penilaian Percobaan 3: Lorentz Nama OP : Dyah Respati Sihwulandari (P) Denyut nadi setelah duduk 5 : 52 Denyut nadi setelah percob. : 61 Pemulihan Penilaian : 3 menit : Kesanggupan sedang : Rizky Amelia (P) : 28 : Kesanggupan kurang

Percobaan 4: Test lari 1,5 mile Cooper Nama OP : Edward Tang (L) Waktu yang ditempuh 1,5 mil: 13 45 = 825 detik

Penilaian

: Kesanggupan sedang

Percobaan 5: Test Peninggian tekanan darah dengan pendinginan (Cold pressor test) Nama OP Tekanan darah basal Tekanan darah pada waktu pendinginan Kenaikan tekanan darahnya OP termasuk golongan Percobaan 6: Indeks Jantung Nama OP TB/BB LP Indeks jantung : Syahik Nur Bani (L) : 167/98 : 98 0,425 x 167 0,725 x 71,84 = 20611,37 = 2,0 10.000 : 4,5 = 2,25 L 2,0 : Rahmat Kasih S. Zai (L) : 120/90 : 120/80 : Diastoliknya turun 10 mm Hg : Hiporeaktor

V.

PEMBAHASAN Dari hasil percobaan diatas dapat dikatakan bahwa setiap manusia

mempunyai kesanggupan tubuh yang berbeda-beda. Ini disebabkan karena secara fisiologis mempunyai kesamaan, tetapi daya tahan setiap individu manusia dalam melakukan aktivitas atau kegiatan berbeda-beda. Faktor usia, jenis kelamin dan kebiasaan dapat mempengaruhi kesanggupan tubuh, baik kesanggupan otot maupun kesanggupa kardiovaskuler. Latihan fisik yang teratur dan terukur disertai gizi yang cukup dapat meningkatkan kebugaran seseorang. Pada percobaan yang mengandalkan fisik seperti percobaan Harvard Step Test, Lorentz dan Test Lari 1,5 mile Cooper, OP dapat dikelompokkan dalam kesanggupan yang sedang. Frekuensi denyut jantung menjadi lebih cepat apabila aktivitas yang dilakukan cukup berat. Pada saat kontraksi (systole) hanya sebagian

darah yang dikeluarkan, sisanya masih berupa volume residual yang dapat dijadikan sebagai daya cadangan jantung. Selain itu meningkatnya frekuensi denyut jantung juga disebabkan oleh adanya pengaruh rangsng saraf simpatis yang dapat merubah kecepatan denyut jantung dan kekuatan kontraksi jantung. Fase istirahat yang dilakukan setelah melakukan aktivitas tersebut dapat menyebabkan frekuensi denyut nadi kembali seperti keadaan normal dalam beberapa waktu. Pada percobaan menahan napas OP mempunyai kesanggupan kurang, ini mungkin disebabkan OP dalam kondisi tidak sehat dan mungkin OP tidak memiliki kapasitas paru-paru yang besar. Menahan nafas akan memicu kerja otot jantung dalam berkontraksi, semakin lama menahan nafas maka semakin cepat jantung berdetak dan disertai dengan besarnya denyut nadi. Pada percobaan cold pressor test tekanan darah dipengaruhi oleh temperatur. Pada percobaan ini OP termasuk dalam kategori hiporeaktor, hal ini disebabkan karena distoliknya menurun hingga 10 mmHg. Kapiler darah mempunyai tingkat elastisitas yang berbeda-beda sehingga mempengaruhi sirkulasi darah dalam tubuh. Pergerakan cairan antara kapiler dan cairan intestinal terjadi dalam proses sirkulasi darah yang menyebabkan adanya tekanan darah yang saling berlawanan yaitu tekanan hidrostatik dan osmotik. Tekanan darah cenderung memaksa cairan keluar dari kapiler, sedangkan tekanan osmotik cenderung memaksa cairan untuk masuk ke dalam kapiler karena konsentrasi zat terlarut dalam darah relatif lebih tinggi. Pada percobaan indeks jantung OP mempunyai indeks jantung sebesar 2,25 L. Nilai indeks jantung dipengaruhi oleh curah jantung dan luas permukaan tubuh, dimana curah jantung berbanding terbalik dengan luas permukaan tubuh. Luas tubuh dapat dilihat dari tinggi dan berat badan seseorang. VI. KESIMPULAN DAN SARAN 1. Setiap manusia mempunyai kesanggupan tubuh yang berbeda-beda.

Kesimpulan:

10

2. Kesanggupan tubuh juga dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, temperatur dan kebiasaan untuk melakukan aktivitas yang dapat menguras tenaga. 3. Besar kecilnya nilai indeks jantung sangat dipengaruhi oleh tinggi dan berat badan seseorang.
4. Pada Cold Pressor Test, OP tergolong dalam hiporeaktor karena

distoliknya menurun hingga 10 mm Hg.

Saran: Setiap orang memiliki berbeda-beda kesanggupan tubuh, baik kesanggupan otot maupun kesanggupan kardiovaskuler. Dengan melalukan latihan-latihan seperti Harvard Steptest, Percobaan Lorentz, Berlari 1,5 mile Cooper, Percobaan menahan nafas, Cold Pressure Test dan Indeks Jantung, maka kesanggupan otot maupun jantung akan terlatih sehingga tubuh akan sehat.

VII.

DAFTAR PUSTAKA Jakarta.

Ganong, W.F. 2002. Fisiologi kedokteran. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Noortiningsih, N. Ayu Ratmini, Ida Wiryanti. Petunjuk Praktikum Fisiologi Hewan. Laboratorium Zoologi Fakultas Biologi Universitas Nasional. Jakarta. 2009. Wikipedia. Wikipedia. Sistem Peredaran Darah. http://wiki.id/sistem peredaran darah

11