Anda di halaman 1dari 10

Konsep Iman dalam Islam

Oleh ASM. Romli

IMAN (amana - yuminu - imanan) secara harfiyah (etimologis) artinya percaya dengan yakin. Iman adalah akidah Islamiyah, yakni sistem keyakinan atau kepercayaan dalam Islam. Akidah (aqoda yaqidu aqdan/aqad) artinya ikatan, yakni ikatan hati atau jiwa alias keyakinan atau kepercayaan. Secara maknawi (terminologis) iman adalah percaya dengan yakin akan adanya Allah SWT, para Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhirat, serta Qadha dan Qadar. Percaya dengan yakin kepada keenam hal itu disebut Arkanul Iman atau Rukun Iman. Sebutan untuk orang yang percaya dengan yakin atas Arkanul Iman itu disebut mukmin (mumin, orang beriman). Hai orang-orang yang beriman! Yakinlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada Kitab yang diturunkan-Nya kepada Rasul-Nya, dan kepada Kitab-Kitab yang diturunkan-Nya terdahulu. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, Malaikat-MalaikatNya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan Hari Kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat jalan sejauh-jauhnya (Q.S. 4:136)[1]. Iman adalah masalah mendasar dalam Islam. Iman menjadi titik-tolak permulaan seseorang menjadi pemeluk Islam (Muslim). Seseorang yang menyatakan diri memeluk Islam harus mengikrarkan dua kalimat syahadat, mengakui Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai Rasul-Nya. Al-Quran menggambarkan, orang yang menyatakan beriman (mukmin) ibarat melakukan transaksi jual-beli dengan Allah SWT. Orang tadi membeli surga dengan jiwa-raganya, atau menjual jiwa, raga, dan hartanya pada Allah SWT dengan bayaran keridaan-Nya. Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberi imbalan surga pada mereka. (Q.S. at-Taubah:111) Dan sebagian manusia ada yang menyerahkan diri mereka untuk mendapatkan keridaan Allah (Q.S. al-Baqarah:107) Mukmin yang benar-benar beriman adalah mereka yang siap menyerahkan segala yang ada padanya pada Allah SWT. Ia siap melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ia pun siap melaksanakan atau menghadapi segala ujian dari-Nya, untuk menunjukkan kesungguhan keimanannya.

Jadi, setiap mukmin harus siap melaksanakan segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya (ajaran Islam). Mukin sejati mempunyai sikap dasar samina wa athona (kami dengar dan kami patuh). Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul menghukumi di antara mereka, ialah ucapan kami dengar dan kami patuh. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung (Q.S. 24:51). Dan tidaklah patut bagi seorang mukmin, baik laki-laki maupun perempuan, jika Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu ketentuan akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya (berpaling dari ketentuan itu), maka sesungguhnya ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata (Q.S. 33:36). 1. Pengamalan Iman A. Iman kepada Allah SWT. Beriman kepada Allah SWT artinya meyakini Allah sebagai Tuhan semesta alam, juga yakin akan kebenaran keberadaan para Malaikat-Nya, wahyu-Nya (kitab-kitab Allah), para rasul-Nya, hari akhir, dan Qodho dan Qadar Allah SWT bagi setiap manusia. Pembenaran atas semua itu harus diikuti dengan tindakan nyata, sebagai pengamalan atas keimanan tersebut. Iman kepada Allah SWT merupakan fitrah manusia. Artinya, pada hakikatnya seluruh umat manusia mempercayai adanya Allah SWT dan mengakui-Nya sebagai Tuhan (Q.S. 7:172). Manusia Jahiliyah pun mengenal adanya Allah SWT sebagai Pencipta dan Pengatur alam semesta (Q.S. 10:31, 43:9). Mereka menyembah berhala dengan dalih untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT (Q.S. 39:3). Menurut filosof Ibnu Rusyd[2] , ada dua cara untuk membuktikan adanya Allah: 1. Dalil Al-Inayah (The Proof of Providence), yakni dengan melihat kesempurnaan struktur susunan alam semesta atau keteraturan fenomena alam. 2. Dalil Al-Ikhtira (The Proof of Creation), yakni dengan melihat penciptaan makhluk hidup. Manusia tidak mungkin mampu membuat makhluk binatang kecil sekalipun. Al-Quran sendiri menunjukkan suatu metode yaitu dengan menyelidiki kejadian manusia dan alam semesta. Dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam ada tanda-tanda bagi mereka yang berakal yang memikirkannya (Q.S. 3:190-191). Manusia diperintahkan memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala yang diciptakan Allah (Q.S. 7:185). Bahkan, diri kita sendiri harus kita perhatikan untuk memikirkan eksistensi-Nya (Q.S. 51:21). Nabi Saw bersabda:

Barangsiapa mengenali dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya. Dengan demikian, manusia akan menemukan bahwa Allah-lah Sang Pencipta dan Pengatur alam semesta. Dia pula yang berhak disembah dan dimintai pertolongan. Dia bisa dikenali dengan pemahaman sifat-sifat-Nya[3] dan ciptaan-Nya. Manusia dilarang memikirkan tentang hakikat Dzat Tuhan, karena akal manusia tidak mungkin menjangkau-Nya. Allah adalah Dzat Yang Mahagaib. Pikirkanlah tentang ciptaan Allah dan jangan kamu berpikir tentang Dzat-Nya Pengamalan keimanan kepada Allah harus diikuti dengan pembenaran atas firmanfirman-Nya, yang kini tertuang dalam Al-Quran, sekaligus mengamalkan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Minimal, seorang mukmin harus membuktikan keimanannya dengan mengerjakan shalat lima waktu. Karena, dalam sebuah hadits disebutkan, pembeda antara seorang mukmin/Muslim dan kafir adalah shalat. Dari shalat, jika dikerjakan dengan khyusu, maka akan tercipta kondisi diri yang benar-benar tunduk kepada Allah SWT. B. Iman kepada Malaikat Iman kepada Malaikat adalah bagian dari iman kepada hal-hal ghaib (Q.S. 2:3). Keberadaan Malaikat dikabarkan Allah melalui wahyu-Nya. Dalil keimanan kepada Malaikat adalah Dalil Naqli (Q.S. 2:177, 2:285, 4:136 dan sejumlah hadits Rasulullah Saw). Malaikat tidak bisa dijangkau akal dan pancaindera karena berada di balik alam materi. Malaikat adalah hamba-hamba Allah yang terhormat, tidak pernah durhaka kepada Allah, dan senantiasa mengerjakan apa saja yang diperintahkan-Nya (Q.S. 21:26-27, 66:6). Malaikat siap menjalankan tugas untuk menolong orang-orang beriman dan membisikkan kepada hati mereka untuk selalu bergembira dan tidak pernah sedih atau takut (Q.S. 8:12, 41:30). Keimanan kepada para Malaikat minimal dibuktikan dengan adanya kesadaran, bahwa di kiri-kanan kita selalu ada Malaikat pencatat amal (Rakib dan Atid). Kedua Malaikat itu selalu mengawasi perilaku kita dan mencatatnya, untuk kemudian oleh Allah SWT dimintakan pertanggungjawaban kita di akhirat kelak. Dengan adanya kesadaran tersebut, maka perilaku kita akan terkendali. Hanya akan mengarah kepada hal-hal yang diwajibkan dan dibolehkan oleh ajaran Allah semata (syariat Islam). C. Iman kepada Kitabullah Yang dimaksud Kitabullah atau Kitab-Kitab Allah adalah wahyu-wahyu yang diterima para Nabi/Rasul Allah. Kitab itu dinamakan pula Shuhuf. Jumlah Kitab itu tidak pernah disebut angkanya dalam Al-Quran. Yang pasti, jumlah Kitab yang wajib diimani ada empat, yakni Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa, Zabur (Nabi Daud), Injil (Nabi

Isa), dan Al-Quran (Nabi Muhammad). Al-Quran membenarkan Kitab-Kitab sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkan sebelumnya (Q.S. 10:37). Taurat, Zabur, dan Injil tidak ada lagi di dunia ini karena ia telah terhapus (mansukh) dan digantikan Al-Quran. Kalaupun ada atau diklaim ada, maka itu tidak asli lagi karena isinya telah bercampur dengan pikiran manusia yang dimasukkan ke dalamnya. Misalnya dalam Taurat diceritakan tentang kematian Musa di tanah Moab (Markus 1:14-15), padalah Taurat sendiri diturunkan kepada Musa. Dalam Injil Markus 1:14-15 ada cerita orang lain tentang Yesus yang menunjukkan bahwa Markus itu bukan Injil asli[4]. Keimanan kepada kitabullah, minimal dengan melakukan pembenaran kepada Al-Quran, yang diikuti dengan pembacaan, penghayatan, dan pengamalan kandungan isinya. Menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup, mutlak wajib hukumnya bagi setiap mukmin. Al-Quranlah yang merupakan hudan (petunjuk) bagi orang-orang yang bertakwa (Q.S. Al-Baqarah:2). D. Iman kepada para Rasulullah Rasulullah artinya utusan Allah SWT. Mereka adalah para Nabi mulai dari Nabi Adam hingga Muhammad Saw. Merekalah manusia-manusia pilihan Allah untuk mengemban tugas menyampaikan ajaran-Nya, membimbing umat manusia agar menempuh jalan hidup yang benar. Merekalah para penerima wahyu Allah SWT. Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali para lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Karena itu, bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui (Q.S. 16:43). Manusia tidak akan memahami hakikat hidup dan kehidupan ini kecuali diberi tahu dan dibimbing langsung oleh Sang Pencipta hidup dan kehidupan ini, yakni Allah SWT. Pengetahuan dan bimbingan itu diturunkan Allah melalui para utusan-Nya (para Nabi). Karena merupakan manusia pilihan, para Nabi memiliki sifat-sifat tertentu. 1. Shidiq, artinya benar atau jujur. Seorang Nabi selalu benar dalam perkataan dan perbuatannya. Mustahil dia berkata dusta. 2. Amanah, artinya terpercaya. Mustahil ia mengkhianati kepercayaan yang telah Allah berikan kepadanya untuk menyampaikan ajaran-Nya kepada manusia. Rintangan dan tantangan apa pun yang menghadangnya dalam menyampaikan ajaran Allah, ia hadapi dengan tegar dan sabar. 3. Tabligh, artinya menyampaikan. Seorang Nabi mustahil menyembunyikan apa yang diturunkan Allah kepadanya (wahyu). Ia menyampaikan seluruh ajaran Allah kepada umat manusia. 4. Fathonah, artinya cerdas. Mustahil seorang Nabi itu bodoh atau lemah akal. Ia haruslah cerdas untuk memahami wahyu Allah sekaligus memahami realitas sosio-kultural masyarakatnya.

Keempat sifat itulah yang disebut Empat Sifat Wajib pada diri Nabi sebagai utusan Allah SWT. Satu lagi sifat Nabi adalah mashum, artinya terpelihara atau terjaga dari perbuatan dosa karena Allah terus-menerus memberikan bimbingan kepadanya. Jadi, mustahil Nabi berbuat salah atau dosa. Selain itu, ciri khas para Nabi adalah memiliki mujizat. Ia adalah keajaiban (miracle) yang diberikan Allah sebagai bukti bahwa ia adalah utusan-Nya. Nabi Ibrahim memiliki mujizat tidak mempan dibakar api ketika Raja Namrud membakarnya hidup-hidup. Nabi Musa membelah Laut Merah dengan tongkatnya ketika dikejar Raja Firaun. Nabi Sulaiman dapat memahami bahasa binatang. Nabi Isa dapat menyembuhkan penyakit yang tidak dapat disembuhkan manusia biasa. Nabi Muhammad memiliki mujizat terbesar yakni Al-Quran yang tidak mampu ditiru atau ditandingi oleh ahli bahasa Arab sekalipun. Jumlah Nabi tidak diketahui secara pasti. Di dalam Al-Quran hanya disebutkan 25 orang Nabi, yaitu (1) Adam, (2) Idris, (3) Nuh, (4) Hud, (5) Sholeh, (6) Ibrahim, (7) Luth, (8) Ismail, (9) Ishaq, (10) Yaqub, (11) Yusuf, (12) Ayub, (13) Syuaib, (14) Musa, (15) Harun, (16) Ilyasa, (17) Dzulkifli, (18) Daud, (19) Sulaiman, (20) Ilyas, (21) Yunus, (22) Zakariya, (23) Yahya, (24) Isa, dan (25) Muhammad. Di antara ke-25 Nabi tersebut, lima di antaranya disebut Ulul Azmi, artinya memiliki keteguhan hati dan kesabaran yang luar biasa (Q.S. 46:35). Mereka adalah Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad (Q.S. 33:7). Percaya dengan yakin atas eksistensi mereka merupakan keharusan, dengan fokusnya adalah beriman kepada Nabi Muhammad sebagai penutup para Nabi (Khataman Nabiyin) dan pembawa ajaran yang menyempurnakan ajaran para Nabi terdahulu. Nabi Muhammad adalah Nabi Internasional karena ajaran yang dibawanya bersifat universal dari segi sasaran dan cakupan ajaran. Keimanan kepada para utusan Allah, minimal dibuktikan dengan membenarkan kenabian Muhammad Saw, diikuti dengan menjalankan apa yang didakwahkannya. Perilaku Nabi, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun persetujuannya, merupakan Sunnah, sebagai teladan bagi kaum mukmin. E. Iman kepada Hari Akhir Hari Akhir adalah suatu masa di mana alam dunia beserta seluruh isinya hancur-lebur. Hari Akhir disebut pula Hari Qiamat (Yaumul Qiyamah). Segala sesuatu yang ada di jagat raya ini akan binasa. Hanya Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan akan abadi (Q.S. 55:26-27). Iman kepada Hari Akhir adalah yakin bahwa setelah kehidupan dunia ini ada alam kehidupan yang kekal, yakni Alam Akhirat. Bahwa semua makhluk akan mati atau binasa, kemudian manusia dibangkitkan kembali untuk menjalani kehidupan kedua

yang kekal. Di Alam Akhirat itulah manusia menjalani kehidupan sesungguhnya. Bahagia atau celakanya, ditentukan oleh amal perbuatannya selama di dunia ini. Jadi, keimanan kepada Hari Akhir itu mencakup keimanan akan adanya: 1. Hari Kebangkitan (Yaumul Baats). Setelah dihancurleburkan, seluruh makhluk atau ciptaan Allah yang telah mati atau binasa, akan dibangkitkan (Q.S. 36:5152). 2. Hari Berkumpul (Yaumul Haysr). Setelah dibangkitkan atau dihidupkan kembali, seluruh makhluk dikumpulkan di suatu tempat yang disebut Padang Mahsyar (Q.S. 4:87, 18:47). 3. Hari Pertontonan (Yaumul Ardh). Di Padang Mahsyar itu diperlihatkan kepada manusia seluruh amal perbuatan mereka selama di dunia. Sekecil apa pun amal yang mereka perbuat, baik atau buruk, akan diperlihatkan (Q.S. 99:6-8). 4. Hari Perhitungan (Yaumul Hisab) atau Hari Pertimbangan Amal (Yaumul Wazn). Seluruh amal manusia akan dihitung dan ditimbang (Q.S. 21:47). 5. Hari Pembalasan (Yaumul Jaza) atau Hari Keputusan (Yaumul Fashl). Amal baik dihadiahi pahala dan tempat di sorga yang penuh kenikmatan. Amal baik dikenai sanksi dosa dan tempat di neraka yang penuh kepedihan (Q.S. 40:17, 101:6-11). Keyakinan akan adanya Hari Akhir ini mendorong seorang mukmin menyadari, hidup di dunia ini ada artinya. Bahwa seluruh amal, baik atau buruk, ada balasannya kelak. Efek iman kepada Hari Akhir ini adalah mendorong kaum mukmin menjadi orang baik, saleh, dan mukhlis (rela berbuat apa saja karena Allah). Iman kepada Hari Akhir ini harus dibuktikan minimal dengan pengumpulan bekal kita untuk kehidupan di sana. Yakni, berupa amal saleh. Beribadah kepada Allah dan berbuat baik terhadap sesama makhluk, sebagaimana diperintahkan-Nya. Yakin bahwa hidup di dunia ini hanya sementara, maka kaum mukmin mempergunakan hidup ini sebaikbaiknya, tidak sampai terlena oleh kenikmatan duniawi yang cenderung menjauhkan dari amal saleh yang diridhai Allah SWT. F. Iman kepada Qodho & Qodar Qodho dan Qodar dalam percakapan sehari-hari disebut Takdir, artinya ketentuan Allah SWT. Menurut Al-Quran, Qodho artinya hukum (Q.S. 4:65), perintah (Q.S. 17:23), kabar (Q.S. 17:4), kehendak Allah (Q.S. 3:47), dan menjadikan (Q.S. 41:12). Sedangkan Qodar adalah peraturan atau sistem yang diciptakan Allah (Sunnatullah) sebagai hukum sebab akibat (kausalitas) yang mengikat manusia dan alam semesta (Q.S. 54:49, 33:38, 25:2). Takdir itu meliputi natural law tentang keteraturan isi jagat raya, ruh dalam diri manusia, jenis kelamin dan ras/etnis manusia, watak manusia, dan usia serta nasib manusia. Bahkan, yang dimaksud dalam kebanyakan ayat Al-Quran tentang Takdir atau ketentuan Allah adalah hukum alam (natural law). Bintang-bintang dan planet masing-masing mempunyai jalannya tertentu. Demikian pula tiap benda lain dalam alam semesata.

Peredaran bintang-bintang di langit, gejala alam, hidup dan mati, semuanya dikuasai oleh hukum alam tadi[5]. Ada dua aliran pemikiran tentang Takdir: 1. Jabariyah yang mengatakan bahwa manusia sama sekali tidak bebas, semuanya (umur, nasib, dll.) telah ditentukan oleh Allah. Manusia hanya dapat menerima dan pasrah tidak punya pilihan. Aliran ini berpegang pada ayat-ayat tentang kekuasaan mutlak Allah. Tidak akan mengenai sesuatu musibah di bumi ini dan demikian pula tidak akan terjadi pada dirimu, melainkan sudah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfudz) sejak sebelumnya Kami wujudkan kejadian-kejadian tersebut (Q.S. 57:22). 1. Qodariyah yang mengatakan bahwa manusia bebas mengatur dirinya sendiri dan menentukan jalan hidup dan nasibnya sendiri. Aliran ini mendasarkan pendapatnya pada ayat-ayat tentang ikhtiar atau kebebasan memilih (free will, free choice) manusia. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka sendiri yang mengubah keadaan yang ada pada diri mereka (Q.S. 13:11). Dan katakanlah: Kebenaran itu dari Tuhanmu. Maka barangsiapa yang menghendaki beriman, maka berimanlah, dan barangsiapa yang menghendaki kafir, maka kafirlah dia (Q.S. 18:29). Kedua aliran tersebut sama-sama sesat dan menyesatkan. Keduanya menempuh jalan ekstrem. Yang satu menutup ikhtiar manusia dan yang kedua mengingkari adanya ketetapan Allah. Jabariyah menjadikan Allah berlaku tidak adil karena memaksa manusia. Bahwa Allah menciptakan perbuatan makhluknya, baik dan buruk. Jalan terbaik adalah sikap moderat atau tengah-tengah di anatara kedua aliran tersebut, yakni meyakini bahwa amal dan nasib kita sudah ditentukan oleh Allah, namun ketentuan itu bergantung pada ikhtiar manusia sendiri untuk mempertahankan atau mengubahnya. Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki) dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul Kitab (Lauhul Mahfudz) (Q.S. 13:39). 2. Istiqomah dalam Keimanan Istiqomah adalah kukuh, kuat kepada keyakinan yang ada. Tetap teguh menjalankan konsekuensi keimanan. Dalam terminologi iman sendiri terkandung makna istiqamah, yakni mengucapkan dengan lisan (ikrarun bil lisan), diiringi dengan pembenaran dalam hati (tashdiqun bil qalbi), dan dibuktikan dengan tindakan nyata oleh seluruh anggota tubuh (amalun bil arkan).

Nabi Muhammad Saw menyatakan: Katakanlah, Aku beriman kepada Allah, lalu pegang teguh (istiqomah) keimanan itu! Hadits tersebut sejalan dengan firman Allah SWT, Sesungguhnya orang-orang yang berkata Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka tetap lurus (istiqomah) dalam keimanannya, niscaya turun kepada mereka Malaikat menyampaikan pesan kepada mereka bahwa janganlah kalian takut dan bersedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepada kalian! (Q.S. Fushilat:30). Orang yang istiqomah dalam keimanannya, akan dapat mengalahkan setiap godaan untuk berbuat maksiat, syirik, nifak, atau mengabaikan syariat Islam. Hawa nafsu duniawi dan bujuk-rayu setan, akan selalu mengintai kaum mukmin agar mereka berpaling dari ajaran Allah SWT yang diimaninya. Orang yang tidak istiqomah ialah mereka yang mudah goyah keimanannya. Hawa nafsu duniawi, mengejar kesenangan duniawi, menjadi pilihannya dengan mengabaikan keimanannya. Ini bukan berarti mengejar kesenangan duniawi dilarang, tetapi seyogianya orang beriman yang teguh dengan keimanannya akan mengejar kesenangan duniawi itu dengan tetap berpedoman kepada aturan Allah, berstandar halal-haram, manfaat-madarat, dan lain-lain. Istiqomah diperintahkan Allah SWT dan Rasul-Nya kepada kaum mukmin karena setelah menyatakan beriman, kaum mukmin akan menghadapi ragam ujian. Dengan sikap istiqomah, segala ujian itu akan ia hadapi dengan tegar. 3. Ujian Keimanan Keputusan seorang manusia untuk memeluk Islam, menyatakan keimanannya pada Allah SWT sebagai Tuhannya dan meyakini Muhammad Saw sebagai utusan-Nya, merupakan keputusan tepat sekaligus mengandung sejumlah risiko. Karena, ketika seseorang mengatakan beriman, Allah SWT tidak akan membiarkannya begitu saja, tetapi akan memberinya ujian demi ujian juga serangkaian hak dan kewajiban sebagai konsekuensi untuk mengetahui apakah ia benar-benar beriman atau sebatas pengakuan lisan saja. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orangorang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar (imannya) dan orang-orang yang dusta (munafik) (Q.S. 29:2-3). Ujian Allah SWT bagi setiap mukmin antara lain berupa: A. Kebaikan dan keburukan

Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (Q.S. 21:35) B. Ujian berupa harta dan diri Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu (QS 3:186), C. Ujian pangkat atau jabatan Dan Dialah yang menjadikanmu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagiaan kamu atas sebahagiaan (yang lain) beberapa derajat untuk mengujimu (QS 6:165). Seorang mukmin sejati tidak akan lupa diri dan bersikap takabur ketika mendapatkan kesenangan, kebaikan, harta, dan pangkat. Karena ia menyadari bahwa itu semua adalah ujian Allah SWT: apakah kesenangan dan lainnya itu akan disikapi dengan syukur, dipergunakan sesuai garis yang ditentukan-Nya, atau malah kufur dan menyalahgunakannya. Demikian pula ketika seorang mukmin menghadapi kesusahan, keburukan, atau musibah. Ia akan menyikapinya dengan sabar dan tawakal. Ia sadar bahwa semua itu merupakan ujian dari Allah SWT. D. Ujian Jihad. Apakah kamu mengira bawah kamu akan dibiarkan, sedangkan Allah belum mengetahui orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil teman setia selain Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman(QS 9:16) Setiap mukmin harus siap berjihad di jalan Allah SWT, yaitu berjuang dengan mengerahkan segala daya, upaya, harta, dengan pengorbanan jiwa, raga, harta, ilmu, dan segala apa yang dimiliki demi tegaknya syiar Islam. Jihad juga berarti menahan atau mengendalikan hawa nafsu (nafs al-amarah) yang, dengan dukungan godaan setan, selalu mengajak pada perbuatan maksiat dan pelanggaran terhadap aturan Allah SWT. Setiap mukmin menyadari bahwa ajaran Islam bukan hanya untuk diamalkan, didakwahkan, tetapi juga harus dilindungi atau dijaga kesucian dan keluhurannya. Setiap mukmin tidak akan rela jika ada pihak yang melecehkan Islam, baik melalui penghujatan terhadap Al-Quran maupun terhadap Nabi Muhammad Saw. Namun demikian, setiap mukmin pun (harus) menyadari, termasuk pelecehan Islam juga jika wahyu Allah SWT ini diabaikan dalam kehidupan sehari-hari, alias tidak diamalkan.

Beratkah menjadi seorang mukmin yang benar-benar keimanannya? Tidak, jika keimanan itu ikhlas atau sepenuh hati. Ya, jika keimanannya setengah hati atau terpaksa. Al-Quran sendiri telah mensinyalir adanya orang yang beriman setengah hati. Dan di antara manusia ada yang mengabdi pada Allah dengan berada di tepi (setengah hati, ragu-ragu). Jika kebaikan menimpanya, ia merasa tenang dan jika ditimpakan padanya kerugian berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan akhirat dan itulah kerugian yang nyata (Q.S. Al-Hajj:11).n [1] Tentang Qadho dan Qadar disebutkan secara terpencar dalam Al-Quran dan HaditsHadits Rasulullah Saw. [2] Sebagaimana dikutip Drs. Nasruddin Razak, Dienul Islam, Maarif Bandung, 1989, hlm. 131-132. [3] Sifat-sifat Allah dikenal dengan Asmaul Husna atau Nama-Nama Yang Bagus, seperti Wujud (ada), Qidam (Terdahuku), Baqa (Kekal), Mukhalafatu Lilhawadits (Berbeda dengan yang baru ada), Wahdaniyah (Satu), Qudrat (Mahakuasa), Ar-Rahman (Maha Pengasih), dll. [4] Sebagaimana dikutip Drs. Nasruddin Razak, op.cit., hlm. 154-155. [5] Syed Ameer Ali, Api Islam, Bulan Bintang Jakarta, 1978, hlm. 603. Copyright (c) 2010 ASM. Romli www.zonaislam.com