Anda di halaman 1dari 3

NASKAH DRAMA NATAL XII - IPA

Secangkir Kopi di hari Natal

Bapak All

: Udah... ayo makan. : aaaaaaa......................

Ting, tong.... Bunyi bell terdengar dan keluarga ini tidak jadi makan. Pengemis 1 : Bapak : Anak 3 : Ibu : Pengemis 2 : makanan??? Ibu : Pengemis 1 : Pengemis 2 : Ibu : Ayah : Anak 1 : Pengemis 1 : Pengemis : Anak 2 : Anak 3 : pengemis? Ibu : punya kopi. Anak 4 : Anak 1 : Anak 2 : Ayah : gak dipakai? Anak 3 : Spadaa....... Ma, buka pintu sana.... ada yang mau beli sepeda.... Mulai lagi deh.... Ada apa ya pak? kami belum makan bu... boleh kami meminta Tentu. Silahkan masuk. Terima kasih bu, kamu sungguh baik. Semoga Tuhan kan selalu menyertai mu. Pa, sini.... ( Berbisik ) Oh.... iya, aku paham. ( Berbisik secara bergilir ) Ini pak, kami hanya punya ini pagi ini... Sudah cukup, kami pergi. Iya, hati hati kami ya? Kok... diambil semua? Kita makan apa? Ntah ya??? Siapa suruh makanannya kasih

Narator : Di suatu negeri, ada sebuah keluarga yang sangat harmonis dan saling membantu satu sama lain. Namun sayangnya, banyak orang di sekitar mereka yang mengucilkan keluarga itu. Orang orang beranggapan kalau mereka itu aneh, bahkan sebagian orang menganggap keluarga itu gila. Mengapa? Yukz, kita saksikan bersama sama. Adegan 1 Ayah : Pagi yang cerah, baju baru, sepatu baru, apa yang aku gak bisa beli....? Anak 1 : Elleehh..... si bapak gayanya macem orang kaya aja... Ayah : Jelas... aku kan emank orang yang jago begaya... Anak 2 : Ya ampun! Bapak.... bukan begaya, tapi kaya... Ayah : Iya... kayak apa? Anak 3 : nih bapak kok gak nyambung ya? Anak 1 : maklum laa.... bapak kan budeg... Ayah : Bushet!!! Gue dibilang budeg??? Anak 2 : Lha ini dengar??? Ibu : Ayo... kita sarapan dulu.... Anak 4 : Wahh... makan enak nih.... ibu buat apa? Ibu : ini ada roti isi dan kopi. Anak 1 : selalu begitu... Anak 2 : Roti, isi, isi, roti, isi roti, banyak roti.... Anak 4 : Apaan sih????

ke

Sudahlah.... ini hanya beberapa potong roti... kita masih Tadinyaa.... kenapa? Kopi ini semua sudah dihabiskan ayahh.... Ayah........ kopinyaa...... Nanti ayah beli... lagian kalian, sudah punya topi kok Astaga ayaahhh!!!!!....

Adegan 2 Hari Minggu Ibu Ayah Ibu Ayah

Anak 5 cerah, sekelompok keluarga tersebut pergi ke gereja. : Ayo semua.... : Absen dulu bu.... : Iya, LaLa, LuLu, LiLi, DiDo, DeDy : hadir semua.. mari kita berangkat.

: Tentu. Itu Kopi turun temurun keluarga kami. Dan kami sangat menyukainya.

Pendeta yang menyamar menjadi pengemis itu menyadarkan orang orang yang berada di gereja itu sadar perbuatan mereka. Pengemis 3 : Tuhan mengasihi kita lebih dari apapun, meskipun kamu jelek, cantik, kaya, pintar, bodoh, kumuh, semua kita sama di mata Tuhan. Hari natal besok akan tiba, dan kita patut merayakannya. Merayakan kelahiran sang juru selamat kita. Jemaat 1 : Bagaimana caranya kita merayakan natal, pak? Pengemis 3 : Banyak hal yang bisa kita lakukan. Anak 5 : Saya tahu, ulang tahun Tuhan kita rayakan dengan lilin. Anak 2 : Kue ulang tahun. Anak 1 : Pesta kejutan! Seluruh jemaat tertawa mendengar lelucon itu. Pengemis 3 : Tenang saudara, saudara..... Saudara/iku, Tuhan tidak pernah meminta ulang tahunnya dirayakan dengan pesta yang mewah, megah... untuk apa pesta seperti itu, jikalau kita tidak sungguh sungguh merasakan natal yang sebenarnya? Jemaat 2 : benar, kita harus bertumbuh dalam iman, menebarkan kasih, dan damai sejahtera yang Tuhan ajarkan pada kita. Pengemis 3 : besok, kita akan merayakan natal bersama, kalian akan tahu sendiri, dengan apa kita akan merayakannya. Kebaktian pun bubar, dan para jemaat pun meninggalkan gereja. ADEGAN 3

Sesampainya di gereja, mereka bertingkah aneh, kedinginan, dan melihat seorang pengemis tua, jelek, kumuh di depan gereja. Mereka datang pada pengemis itu dan mengerumuninya, melihat wajah sang pengemis. Anak 1 Anak 2 Anak 3 Anak 5 Ibu Anak 4 Bapak : : : : : : : Bapak belum mandi ya? Lapar pak? Kasihan bapakk.... Aku punya kopi, bapak mau? ambilah... Ayo masuk.... Tapi bu.... Ayo masuk! Kita sudah telat.... brrrrbbrrr..... dingin....

Semua orang hanya lewat melihat pengemis itu, hanya keluarga itu yang mau menanyakan pengemis itu. Dan tiba tiba, pengemis itu masuk ke dalam gereja dan naik ke atas mimbar. Pengemis 3 : Selamat pagi, saudara saudari, Tak kalian lihatkah seorang Yesus sedang berbaring di depan rumahnya, meminta belas kasihan, kedinginan, dan lapar? Untuk apa kalian berada di dalam, jikalau Yesus berada di luar? Apakah karena Yesus seperti pengemis? Yang tidak perlu dihiraukan? Anak 5 : Pak pendeta.... Pengemis 3 : Ya anakku, terima kasih kopinya. Enak sekali....

Pendeta 1 Anak 1 Pendeta 2

Anak 2 Pendeta 1 Anak 2

Pendeta 2

Anak 3 Pendeta 1

Pendeta 2 Anak 5 Pendeta 1 Anak 5 Pendeta 2 Anak 5 Pendeta 1

: Baiklah.... apa yang kalian bawa untuk Tuhan? : ini ada baju buat Tuhan, siapa tahu Tuhan perlu.... : Kamu memang anak mulia, tapi.... Tuhan tidak memerlukan pakaian itu. Tuhan sudah berkecukupan di surga. Dia tidak seperti manusia yang menggunakan hal hal duniawi. : Saya membuatkan kue ini untuk Tuhan. : Mengapa??? : Tuhan harus merasakan kue ini, yang aku buat dengan tulus semalam. Meskipun mungkin rasanya tidak enak, tapi Tuhan pasti akan menerimanya. : Kamu benar. Bukan hadiah kue itu yang dimaksud, tetapi arti kue yang kamu ingin berikan, ada sebuah ketulusan, dan kesetiaan pada Tuhan. : Bagaimana dengan coklat ini. Rasanya manis, apakah Tuhan suka? Aku membuatnya sendiri. : Tentu, coklat yang manis dan Tuhan pasti menginginkannya. Bukan hanya kepada orang spesial atau kekasih yang bisa kita beri coklat. Tetapi Tuhan ingin merasakan cinta yang tulus yang kita beri padaNya, meskipun kasih sayangnya melebihi cinta kita padaNya. : Bagaimana dengan kamu Lala...? : Aku punya secangkir kopi ini untuk Tuhan, dan doa aku sewaktu membuat coklat ini. : Mengapa kopi ini yang kamu pilih? : Sebab hanya ini yang bisa saya beri, dan Cuma ini yang saya punya, dan satu satunya yang saya miliki. : Benar lala.... Ini hadiah terindah untuk Tuhan. : Mengapa? : Tentu, karena.... kamu memberi sebuah HATI yang kamu miliki. 1 hati yang benar benar tulus ingin memberi pada siapapun.

Ibu

: Baiklah, kalau begitu, mari kita minum kopi ini bersama sama.

Bernyanyi bersama; ( Lipsing ) Sedangkan anak 4 melihat seorang anak yang berdiri di balik pintu gereja, ia pun langsung mendekati anak itu, dan memberinya secangkir kopi, dan mengajaknya bernyanyi bersama.

Merry Christmas