Anda di halaman 1dari 26

TEMA : MANUSIA, SAINS DAN TEKNOLOGI

KLONING MANUSIA VS KAIDAH AGAMA

Oleh : Natalia Debora Panggabean Dewi Martina Tia Agustiani Sri Suci Ramadhani Siti Fatimah

24030111150011 24030111150019 24030111150018 24030111150020 24030111150021

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2011

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah yang membahas mengenai tema Manusia, Sains dan Teknologi mengangkat judul Kloning Manusia vs Kaidah Agama. Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (ISBD). Makalah ini membahas mengenai kehidupan manusia yang berkaitan erat dengan kemajuan sains, ilmu pengetahuan dan teknologi serta mengangkat salah satu contoh kasus penerapan kemajuan teknologi yang banyak menjadi kontroversi di kalagan masyarakat. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Ucapan terima kasih secara khusus penulis sampaikan kepada Ibu Hj.Darosy Endah Hyocyamina, M.Pd selaku dosen mata kuliah ISBD. Saran dan kritik dari semua pihak yang bersifat membangun selalu diharapkan demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan dapat menjadi sarana pembelajaran bagi pembaca di masa yang akan datang.

Semarang, 29 September 2011

Tim Penulis

i|K l oni ng vs Ag ama

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ______________________________________________ I DAFTAR ISI _____________________________________________________ II BAB I PENDAHULUAN __________________________________________ 3 1.1 LATAR BELAKANG______________________________________ 3 1.2 RUMUSAN MASALAH ____________________________________ 4 1.3 TUJUAN ______________________________________________ 4 BAB II KLONING ________________________________________________ 5 2.1 SEJARAH KLONING_______________________________________ 5 2.2 DEFINISI KLONING ______________________________________ 6 2.3 MEKANISME KLONING___________________________________ 8 2.4 KONTROVERSI KLONING DI MASYARAKAT __________________ 12 2.5 TANGGAPAN MASYARAKAT MENGENAI KLONING _____________ 15 BAB III KLONING DAN KAIDAH AGAMA _________________________ 17 BAB IV SIMPULAN _____________________________________________ 24 DAFTAR PUSTAKA _____________________________________________ 25

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Mekanisme Kloning pada Domba ___________________________ 10 Gambar 2 Mekanisme Kloning Manusia ______________________________ 11 Gambar 3 Sistem dalam Embrio Kloning ______________________________ 11

ii | K l o n i n g v s A g a m a

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Manusia merupakan makhluk sosial yang berdasarkan kaidah agama merupakan makhluk mulia yang memiliki budi pekerti, akal dan nafsu. Keberadaan akal dan nafsu tersebut memicu manusia untuk kreatif dan inovatif, menciptakan sesuatu yang dapat mewujudkan cita-cita, membantu kehidupan kesehariannya atau mendapatkan pengakuan dan penghargaan di masyarakat. Sains dan IPTEK merupakan salah satu karya kreatif dan inovatif manusia dalam mengembangkan kemampuannya masing-masing, secara langsung maupun tidak langsung keberadaan IPTEK dan sains

mempengaruhi peradaban manusia baik dalam sosial masyarakat maupun budaya hidup. Perkembangan sains dan IPTEK seharusnya dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap bidang-bidang lain, khususnya budaya yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Sains merupakan bagian dari himpunan informasi yang termasuk dalam pengetahuan alamiah, dan berisikan informasi yang memberikan gambaran tentang struktur dari suatu sistem serta penjelasan tentang pola laku sistem tersebut. Sistem yang dimaksud dapat berupa sistem alami maupun sistem yang merupakan rekaan pemikiran manusia mengenai pola laku hubungan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat. Kita dapat mempelajari sains dari alam semesta yang dimulai dengan bertanya kepada alam atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang alam. Dari pertanyaan itulah kemudian muncul sebuah hipotesis yang akan diajukan secara empiris sehingga dari pengujian empiris tersebut diperoleh informasi yang valid dan dapat dipercaya. Teknologi merupakan bagian dari himpunan informasi yang termasuk dalam pengetahuan ilmiah yang berisikan informasi preskriptif mengenai penciptaan sistem-sistem ciptaan tersebut. Penggunaan teknologi bertujuan untuk memudahkan segala aktifitas yang berkaitan dengan efisien waktu dan
3|K l oni ng vs Ag ama

tenaga. Penciptaan teknologi ini didorong oleh ciri otomatisme dari fenomena teknik kehidupan masa kini yang menginginkan segala sesuatu menjadi lebih cepat dan mudah, sama dengan sains, penggunaan teknologi dan hasilnya juga memberikan kontribusi yang besar dari kesejahteraan hidup manusia disegala aspek kehidupan. Tidak semua teknologi dapat membantu pekerjaan manusia, oleh karena itu dalam memanfaatkan teknologi haruslah didasari dengan moral dan etika yang baik serta tanggungjawab sosial yang beradab. Pemanfaatan kemajuan sains, teknologi, dan seni secara baik haruslah diterapkan, sehingga dapat menjaga kelestarian budaya bangsa. Penyimpangan yang membuat banyak penyalahgunaan sains dan IPTEK. Hal ini menimbulkan banyak kontroversi dan pergelutan di masyarakat, terlebih lagi saat sains dan teknologi mulai digunakan untuk meraup keuntungan pribadi atau kelompok serta merugikan orang lain. Dampak-dampak kemajuan perkembangan sains dan IPTEK ini akan dibahas dalam makalah ini salah satu contoh kasus yang masih banyak diperbincangkan dan menimbulkan kontroversi di masyarakat adalah kloning. Kloning yang di permasalahkan terutama kloning manusia dari DNA, dengan kata lain timbul suatu persepsi bahwa manusia dapat menciptakan manusia, hal ini menjadi problema karena seringkali di kaitkan dengan kaidah sosial budaya khususnya agama di masyarakat, terutama karena bertentangan keyakinan bahwa dunia dan isinya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

1.2 Rumusan Masalah Rumusan makalah ini ialah dampak dan pengaruh yang timbul dengan semakin berkembangnya sains dan teknologi di masyarakat terutama dalam contoh kasus kloning.

1.3 Tujuan Tujuan makalah ini ialah mengkaji lebih lanjut dampak dan pengaruh yang timbul karena perkembangan sains dan teknologi di masyarakat terutama dalam contoh kasus kloning.

4|K l oni ng vs Ag ama

BAB II KLONING

2.1 Sejarah Kloning Kloning pada tanaman dalam arti melalui kultur sel mula-mula dilakukan pada tanaman wortel. Dalam hal ini sel akar wortel dikultur, dan tiap selnya dapat tumbuh menjadi tanaman lengkap. Teknik ini digunakan untuk membuat klon tanaman dalam perkebunan. Dari sebuah sel yang mempunyai sifat unggul, kemudian dipacu untuk membelah dalam kultur, sampai ribuan atau bahkan sampai jutaan sel. Tiap sel mempunyai susunan gen yang sama, sehingga tiap sel merupakan klon dari tanaman tersebut. Kloning pada hewan dilakukan mula-mula pada amfibi (kodok), dengan mengadakan transplantasi nukleus ke dalam telur kodok yang dienukleasi. Sebagai donor digunakan nukleus sel somatik dari berbagai stadium perkembangan. Ternyata donor nukleus dari sel somatik yang diambil dari sel epitel usus kecebong pun masih dapat membentuk embrio normal. Sejak Wilmut et al. berhasil membuat klon anak domba yang donor nukleusnya diambil dari sel kelenjar susu domba dewasa, maka terbukti bahwa pada mammalia pun klon dapat dibuat. Atas dasar itu para ahli berpendapat bahwa pada manusia pun secara teknis klon dapat dibuat. 1962 John Gurdon menyatakan telah mengklon katak dari sel dewasa. 1963 J.B.S. Haldane mengemukakan istilah clone 1966 Pembentukan kode genetik lengkap 1967 Isolasi Enzim DNA ligase 1969 Shapiero dan Beckwith mengisolasi gen pertama 1970 Pertama kali diisolasi enzim restriksi 1972 Paul Berg menciptakan molekul DNA rekombinan pertama 1973 Cohen & Boyer menciptakan organisme pertama DNA rekombinan 1977 Karl Illmensee mengklaim telah menciptakan tikus dengan hanya satu orangtua 1979 Karl Illmensee membuat klaim telah mengkloning 3 tikus

5|K l oni ng vs Ag ama

1983 Solter dan McGrath sekering sel embrio tikus dengan sel telur tanpa inti, tetapi gagal untuk mengkloning teknik mereka 1984 1985 Steen Wiladsen klon domba dari sel embrio Steen Wiladsen klon domba dari sel embrio. Steen Wiladsen bergabung Genetika Grenad untuk mengkloning sapi comercially 1986 Steen Wiladsen klon ternak dari sel yang berbeda 1986 Pertama, Prather dan Eyestone mengkloning sapi dari sel embrio

2.2 Definisi Kloning Kloning dalam biologi adalah proses menghasilkan individu-individu dari jenis yang sama (populasi) yang identik secara genetik. Kloning merupakan proses reproduksi aseksual yang biasa terjadi di alam dan dialami oleh banyak bakteria, serangga, atau tumbuhan. Dalam bioteknologi, kloning merujuk pada berbagai usaha-usaha yang dilakukan manusia untuk menghasilkan salinan berkas DNA atau gen, sel, atau organisme. Arti lain kloning digunakan pula di luar ilmu-ilmu hayati. Kata ini diturunkan dari kata clone atau klon, dalam bahasa Inggris, yang juga dibentuk dari kata bahasa Yunani, ("klonos") yang berarti "cabang" atau "ranting", merujuk pada penggunaan pertama dalam bidang hortikultura sebagai bahan tanam dalam perbanyakan vegetatif. Lahirnya Kloning Gen Kira-kira satu abat yang lalu Gregor Mandel telah merumuskan aturan-aturan untuk menerangkan pewarisan sifat-sifat biologis. Sifat-sifat organisme yang dapat diwariskan diatur oleh suatu faktor yang disebut gen, yaitu suatu partikel yang berada di suatu di dalam sel tepatnya di dalam kromosom. Gen menjadi dasar dalam pengembangan penelitian genetika meliputi pemetaan gen, menganalisis posisi gen pada kromosom. Hasil penelitian telah berkembang baik diketahuinya DNA sebagai material genetik beserta strukturnya, kode-kode genetic serta proses transkripsi dan translasi dapat dijabarkan. Suatu penelitian yang merupakan revolusi dalam Biologi medern adalah setelah munculnya metode teknologi DNA rekombinasi atau rekayasa

6|K l oni ng vs Ag ama

genetika yang inti prosesnya adalah kloning gen yaitu suatu prosedur untuk memperoleh replica yang dapat sama dari sel atau organisme tunggal. Langkah-langkah dasar Kloning Gen. Ada beberapa langkah dasar dalam Kloning Gen yaitu sebagai berikut : 1. Suatu frakmen DNA yang mengandung gen yang akan diklon iinsersikan pada molekul DNA sirkular yang di sebut sektor untuk menghasilkan chimera atau molekul DNA rekombiner. 2. Vektor bertindak sebagai wahana yang membawa gen masuk kedalam sel tuan rumah ( host ) yang biasanya berupa bakteri, walaaupun sel-sel jenis lain dapat di gunakan. 3. Didalam sel host, vektor mengadakan replikasi menghasilkan banyak kopi atau turunan yang identik,baik vektornya sendiri maupun gen yang dibawanya. 4. Ketika sel host membelah, kopi molekul DNA rekombinasi diwariskan pada progeni dan terjadi replikasi vektor selanjutnya. 5. Setelah terjadi sejumlah besar pembelahan sel, maka dihasilkan koloni atau klonsel host yang identik. Kloning gen merupakan suatu terobosan baru untuk mendapatkan sebuah gen yang mungkin sangat dibutuhkan bagi kehidupan manusia. Kloning gen meliputi serangkaian proses isolasi fragmen DNA spesifik dari genom suatu organisme, penentuan sekuen DNA, pembentukan DNA rekombinan, dan ekspresi gen target dalam sel inang. Penentuan sekuen DNA melalui sekuensing bertujuan untuk memastikan fragmen DNA yang kita isolasi adalah gen target sesuai dengan kehendak kita. Gen target yang kita peroleh selanjutnya kita klon dalam sebuah vektor (plasmid, phage atau cosmid) melalui teknologi DNA rekombinan yang selanjutnya membentuk molekul DNA rekombinan. DNA rekombinan yang dihasilkan kemudian ditransformasi ke dalam sel inang (biasanya sel bakteri, misalnya strain E. coli) untuk diproduksi lebih banyak. Gen-Gen target yang ada di dalam sel inang jika diekspresikan akan mengahsilkan produk gen yang kita inginkan. Aplikasi kloning gen yang molekul

7|K l oni ng vs Ag ama

sudah pernah kita dengar adalah produksi insulin dengan pendekatan kloning gen. Fragmen DNA spesifik penyandi insulin kita isolasi dan diklon dalam suatu vektor membentuk DNA rekombinan yang selanjutnya produksi insulin dilakukan di dalam sel inang bakteri E. coli.

2.3 Mekanisme Kloning Dalam bidang genetika kloning merupakan replikasi segmen DNA tanpa melalui prosesseksual (Rekombinasi DNA). Proses ini membuka peluang baru dalam terobosan teknologiuntuk mengubah fungsi dan prilaku makhluk hidup sesuai dengan keinginan dan kebutuhanmanusia.Secara teoritis prosedur dan mekanisme kloning terhadap makhluk hidup melaluiempat (4) tahap yaitu isolasi fragmen DNA, penyisipan fragmen DNA ke dalam vektor,transformasi dan seleksi hasil kloning. 1) Isolasi fragmen DNA Isolasi fragmen DNA yang spesifik dapat dilakukan dengan metode PCR (polymerase chainreaction) yaitu teknik amplikasi fragmen DNA yang spesifik secara in vitro. Secara umumDNA yang digunakan untuk PCR adalah total DNA genom yang diekstraksi dari sel dan tidak membutuhkan tingkat kemurnian tinggi. Urutan DNA yang akan diamplikasi secara spesifik akan ditentukan oleh primerprimer yang tersusun dari nukleotida. Material yang diperlukan untuk proses PCR adalah DNA yang mengandung rangkaian urutanyang akan diperbanyak (duplikasi DNA) yaitu primer, DNA polimerase dan campuran dariempat macam deoksiribonukleotidatrifosfat (dATP, dCTP, dGTP dan dTTP) serta MgCl2. 2) Penyisipan fragmen DNA ke dalam vektor Proses penyisipan atau penyambungan molekul fragmen DNA dengan molekul DNA vektor disebut ligasi. Biasanya ligasi terjadi antara ujung gugus fosfat dengan gugus hidroksil.Ligasi antara fragmen DNA yang memiliki ujung lengket (cohesive ends) yangkomplementer jauh lebih efesien dibandingkan dengan ujung tumpul (blunt ends). Efisiensiligasi juga

8|K l oni ng vs Ag ama

dipengaruhi oleh adanya deoksiadenosin tunggal pada ujung. Efisiensi ligasi dapatditingkatkan, bila fragmen DNA yang memiliki deoksiadenosin tunggal pada ujung bertemudengan vektor yang memiliki timidin pada ujung. 3) Transformasi DNA Transformasi adalah proses pemindahan molekul DNA donor dari lingkungan luar sel.Vektor kloning yang merupakan pembawa gen yang akan dikloning ditransformasi ke dalamsel inang. Transformasi dapat dilakukan secara alami maupun buatan. Pada prosestransformasi alami, DNA yang berbentuk untai ganda dan memiliki untaian basa spesifik terhadap protein membran masuk ke dalam bakteri melewati membran sel bakteriterhidrolisis. Pada transformasi buatan, sel bakteri dibuat menjadi sel kompeten secara paksasehingga selubung sel bakteri bersifat permeabel dan memungkinkan DNA dapat berikatan dengan sel dan masuk ke dalam sitoplasma, kemudian berinteraksi dengan genom sel bakteri.(3)Sel kompeten adalah sel inang yang memiliki kompetensi untuk dimasuki vektor kloning.Perlakuan untuk

memasukkan sel kompeten dapat dilakukan dengan menggunakan metodekejutan panas (heat shock) atau kejutan pulsa listrik (metode electroporation). 4) Seleksi hasil kloning Penyeleksian koloni bakteri untuk mendapatkan kloning yang diinginkan dengan cara X-gal atau pemotongan dengan enzim restriksi. Seleksi dengan X-gal dapat digunakan

untuk mengidentifikasi plasmid rekombinan dengan komplementasi. Sedangkan pemotongandengan enzim restriksi dapat digunakan untuk menyeleksi plasmid rekombinan hasil kloning.Hasil

pemotongan tersebut dielektroforesis dan memperlihatkan pita fragmen DNA sisipanyang terpisah dari pita vektor kloning. Dalam tataran aplikasi, rentetan proses kloning dapat dilakukan dengan mengikuti beberapalangkah berikut ini :

9|K l oni ng vs Ag ama

1. Mempersiapkan sel stem, yaitu sel awal yang akan tumbuh menjadi berbagai seltubuh. Sel ini diperoleh dari makhluk hidup yang hendak dikloning. 2. Sel stem diambil inti selnya yang mengandung informasi genetik kemudiandipisahkan dari sel. 3. Mempersiapkan sel telur, yaitu sebuah sel yang diambil dari makhluk hidup dewasakemudian intinya dipisahkan. 4. Inti sel dari sel stem diimplimentasikan ke sel telur. 5. Sel telur dipicu supaya terjadi pembelahan dan pertumbuhan. Setelah membelahmenjadi embrio. 6. Sel embrio yang terus membelah (blastosis) mulai memisahkan diri dan siapdiimplementasikan ke dalam rahim. 7. Embrio tumbuh dalam rahim menjadi janin dengan kode genetik persis sama dengansel stem donor.

Gambar 1 Mekanisme Kloning pada Domba


10 | K l o n i n g v s A g a m a

Gambar 2 Mekanisme Kloning Manusia

Gambar 3 Sistem dalam Embrio Kloning

11 | K l o n i n g v s A g a m a

2.4 Kontroversi Kloning di Masyarakat Isu kloning menimbulkan kontroversi setelah proyek kloning domba Dolly tahun 1996 menjadi awal keberhasilan kloning pada mamalia. Banyak kalangan, termasuk kalangan ilmuwan dan agamawan memperdebatkan berkembangnya teknik kloning untuk membuat duplikasi manusia. Akan tetapi, pengembangan kloning baru-baru ini ke arah pengobatan atau teurapeutik menjadi bahan pertimbangan tersendiri karena memberi manfaat yang sangat besar terhadap manusia. Oleh sebab itu, isu kloning perlu dikaji dan dibahas dengan mempertimbangkan 4 nilai dasar moral (4 basic moral principles) agar dapat memberikan tindakan dan keputusan yang bijak. Beberapa isu kloning yang dibahas dalam makalah ini ialah reproduksi manusia dan kloning theurapeutik. 1. Kloning Reproduksi manusia Penilaian berdasarkan 4 Basic Moral Principle a. Autonomy Setiap orang berhak untuk memiliki keturunan sebagai penerus cita-cita hidupnya. Namun tidak semua orang mampu memiliki keturunan dengan proses alami (jalur seks) karena memiliki kualitas telur dan sperma yang buruk atau karena tidak menikah. Kloning reproduksi menjadi solusi permasalahan tersebut dengan mengembangkan embrio yang bersumber dari sel somatis dan ovum seseorang. b. Justice Dibutuhkan banyak embrio untuk mencapai keberhasilan dalam teknologi kloning. Proses kloning bukanlah proses yang mudah. Tingkat kerumitan teknik yang cukup tinggi membuat beberapa embrio harus dikorbankan akibat proses yang tidak berhasil. c. Beneficence Kloning reproduksi dapat membantu seseorang yang tidak bisa memiliki keturunan secara alami (seksual), ataupun seseorang yang tidak ingin menikah tapi ingin memilki keturunan secara biologis.

12 | K l o n i n g v s A g a m a

d. Nonmalficence: Kloning reproduksi manusia sulit diterima karena berpotensi

menimbulkan banyak permasalahan. Hal terutama terkait dengan eksistensi manusia sebagai makhluk sosial yang membutuhkan pengakuan dari orang lain. Dalam teknologi kloning individu, dibutuhkan tidak hanya ovum dan nukleus sel somatis, tetapi juga rahim sebagai tempat perkembangan janin. Seorang wanita tidak akan terlalu sulit untuk mendapatkan kedua hal tersebut (ovum dan rahim). Akan tetapi, seorang lelaki yang bermaksud melakukan kloning

membutuhkan partner wanita untuk mendapatkan donor ovum dan rahim yang dititipi embrio hingga terlahir menjadi seorang bayi. Potensi masalah yang timbul dapat berkaitan dengan penetapan siapa orang tua kandung sang anak? Apakah Ayahnya saja (lelaki pemilik nukleus sel somatis); Ayah dan Ibu pendonor ovum; Ayah dan Ibu yang mengandungnya; ataukah ketiganya? Lalu bagaimana sang anak menjalani kehidupannya kelak di tengah masyarakat sebagai anak hasil kloning? Penerapan teknologi kloning untuk tujuan reproduksi seperti hendak memperlakukan manusia seperti komoditas yang bisa dicetak sekehendak hati.

2 Kloning Theurapeutik Penilaian berdasarkan 4 Basic Moral Principle a. Autonomy Para penderita penyakit kronis, seperti gagal ginjal, memiliki harapan baru untuk sembuh dari penyakitnya dengan melakukan kloning theurapeutik. Duplikasi organ tubuh yang diperoleh dengan kloning theurapeutik menjadi solusi atas donor organ yang sering

menimbulkan penolakan oleh sistem imun. Pihak lain tidak dapat mencegah tindakan ini karena para penderita penyakit kronis berhak untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik.

13 | K l o n i n g v s A g a m a

b. Justice Kloning theurapeutik memerlukan biaya yang sangat besar sehingga pemanfaatannya hanya bisa dilakukan oleh orang dengan kemampuan finansial yang cukup. Pengembangan Kt dapat menjadi solusi atas jual beli organ tubuh ilegal, seperti penjualan ginjal secara ilegal yang marak terjadi. c. Beneficence Organ yang dihasilkan dari kloning theurapeutik tidak akan menimbulkan penolakan sistem imun jika diberikan pada pelaku kloning. Kloning theurapeutik dinilai lebih aman daripada donor organ meskipun dari keluarga sendiri. d. Nonmalficence Timbul isu bahwa kloning theurapeutik akan dikembangkan

sebagaimana kloning reproduksi yakni dengan membentuk individu baru. Individu hasil kloning tersebut diambil organnya untuk mengganti organ yang rusak pada pelaku kloning. Tindakan ini dinilai tidak manusiawi karena hidup seseorang sengaja dikorbankan demi kehidupan orang lain. Kontroversi lain mengenai kloning theurapeutik terkait dengan penghentian perkembangan embrio (hasil kloning) pada fase tertentu untuk diambil stem cellnya. Sebagian kalangan menilai pengambilan stem cell dari embrio hasil kloning berarti membunuh calon individu baru.

14 | K l o n i n g v s A g a m a

2.5 Tanggapan masyarakat mengenai Kloning Berikut ini adalah beberapa tanggapan dari masyarakat mengenai kloning, khususnya kloning manusia dalam sebuah situs online yang memaparkan mengenai artikel kloning manusia yang ditulis dan diposkan pada 26 April 2009 dengan judul : Keberhasilan Kloning Manusia = Kegagalan Agama?

1. Gilang Samson Saya masih belum percaya akan kebenaran keberhasilan kloning manusia. Selama ini hanya ada berita atau hanya tulisan kabar tentang keberhasilan hal tersebut namun belum ada bukti berupa Foto hasil kloning manusia tersebut dan belum ada penelitian tentang bagaimana sistem kerja hidup dari manusia kloning tersebut. Tentang pertumbuhan dan perkembangan dari awal kloning hingga utuh menjadi manusia. Coba kita tantang saja secara terang-terangan untuk membuktikan ucapan mereka. Kita akan mengetahui bagaimana Tuhan menunjukan Kekuasaan-Nya. 2. Amin Kloning memastikan bahwa kehidupan berarasal dari kehidupan. Kloning, hanya meng-copy informasi genetis dari makhluk hidup yg sudah ada (hidup), bukan membuat/menciptakan makhluk hidup. 3. Victory Saya belum melihat hubungan antara keberhasilan kloning dengan runtuhnya agama, dalam Quran, dinyatakan bahwa manusia berasal dari air atau tanah.kloning ini kan menggunakan bagian dari makhluk yang telah hidup sebelumnya,dan saya rasa bagian tersebut mengandung komponen air atau tanah. 4. Delta Kloning hanyalah cara sang ilmuan meluapkan ke egoisanya untuk membuktikan bahwa manusia tidak hanya diciptakan tapi mampu menciptakan 5. Ahmadun Kloning, hal yang akan melanggar semua aturan di dunia

15 | K l o n i n g v s A g a m a

Selain beberapa komentar tersebut, salam makalah ini penulis juga meminta tanggapan beberapa masyarakat dari berbagai kalangan, latar belakang dan lintas budaya sebagai berikut :

16 | K l o n i n g v s A g a m a

BAB III KLONING DAN KAIDAH AGAMA (KLONING DALAM PERSEPSI ISLAM)
Apabila kiat mencermati, awal sampai akhir proses kloning, tentu hal ini akan menimbulkan problem yang sangat besar ketika kloning diterapkan pada manusia,walaupun di sisi lain juga ada beberapa manfaat. Seperti yang kita ketahui manusia sebagai makhluk biologis maka laki-laki memerlukan perempuan ataupun sebaliknya. Disamping itu proses perkembangan manusia pertama-tama diatur perkawinan yang sah menurut Islam. Dan perkawinan adalah suatu ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami isteri berdasarkan hukum (UU), hukum agama atau adat istiadat yang berlaku seperti firman Allah dalam alQuran.

Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah SWT

Menikah mempunyai dua aspek, pertama yaitu aspek biologis agar manusia berketurunan dan yang kedua aspek afeksional agar manusia merasa tenang mampu melayani adalah bagi mereka yang benar terang hatiya dan cemerlang fikirannya. Dan bila seorang ingin mendapatkan keturunan, maka ia harus kawin dan menikah lebih dahulu. Dan mengenai perkawinan itu sendiri dijelaskan oleh Allah dalam al-Quran.

Dan kawinilah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orangorang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayanya yang lelaki dan hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah maha luas (pemberian-Nya).

17 | K l o n i n g v s A g a m a

Dalam kehidupan ini seseorang dapat memperoleh keturunan dari hubungan laki-laki dan perempuan yang telah diatur oleh hokum Allah yaitu adanya akad perkawinan yang mana di harapkan dapat menghasilkan keturunan yang baik dan mempunyai nasab dan diterima secara baik di masyarakat. Namun akan berbeda ketika kloning manusia benar-benar di lakukan. Kita tidak akan lagi mengenal hubungan semacam itu karena seseorang dapat memiliki anak sesuai dengan keinginannya tanpa melakukan hubungan dengan seorang laki-laki. Dalam Islam kloning dapat menimbulkan akibat yang fatal apabila hal ini dilakukan terhadap manusia yaitu mulai dari perkawinan, nasab dan pembagian warisan dan tentu hal ini akan keluar dari jalur Islam. Misalnya seorang laki-laki yang menikah dengan perempuan yang keduanya masing-masing mempunyai kekembaran identik, tentu hal ini akan dapat membuat bingung mereka semuanya, dan bila hal ini sudah terjadi ditengah masyarakat, pasti orang akan mengalami kesulitan mengenali apakah orang itu bersama-sama dengan isterinya atau dengan kembaranya atau dengan sebaliknya tidaklah mustahil apabila semisal masalah ini benar-benar terjadi, dekadensi moral dan kehancuran dunia akan terwujud selain itu sederetan masalah kewarisan, perwalian, dan lain-lainnya akan menunggu di depan. Seperti dalam bahasa kaidah fiqh dinyatakan Menghindari madhlarat (bahaya) harus di dahulukan atas mencari kebaikan atau maslahah. Kaidah ini menjelaskan bahwa suatu perkara yang terlihat adanya manfaat atau maslahah, namun disana juga terdapat kemafsadat- an (kerusakan) haruslah didahulukan menghilangkan mafsadah-nya. Sebab ke-mafsadahanya dapat meluas dan menjalar kemana-mana sehingga akan mengakibatkan kerusakan yang lebih besar. Kaidah fiqhiyah itu dapat kita kembalikan pada firman Allah SWT

Mereka bertanya kepadamu tentang khamer dan judi, katakanlah pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat yang sedikit bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari pada manfaatnya.

18 | K l o n i n g v s A g a m a

Demikian disyariatkan adanya kesanggupan dalam menjalankan perintah. Sedangkan dalam meninggalkan larangan itu adalah lebih kuat dari pada tuntutan menjalankan perintah. Dalam hal penciptaan manusia adalah melalui beberapa tahapan. Sebagaimana firman Allah dalam Alquran Surah al-Hajj yang berbunyi:

Kami telah menjadikan kamu dari tanah,kemudian dari setetes mani,kemudian dari segumpal darah,kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna,agar kami jelaskan kepda kamu dan kami tetapkan dalam rahim,apa yang kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan.. Dari kutipan ayat diatas, tampakkiranya bahwa paradigma al- Quran mengenai penciptaan manusia dan terlihat pencegahan terhadap tindakan-tindakan manusia yang mengarah terhadap kloning.Mulai dari awal kehidupan hingga saat kematian, semuanya adalah tindakan dari Tuhan.Segala bentuk peniruan atas tindakanNya dianggap sebagai perbuatan melampaui batas. Oleh karenanya untuk menyikapi berbagai macam masalah mengenai kloning manusia, bisa memakai pertimbangan, sebagai berikut:

Pertimbangan Teologi Dalam hal ini al-Quran megisyaratkan adanya intervensi manusia didalam proses produksi manusia.Sebagaimana termaktub dalam firmanNya Q.S.alMukminun ayat 13-14 yang berbunyi:

Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan)dalam tempat yang kokoh (rahim)

19 | K l o n i n g v s A g a m a

Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging,dan segumpal daging itu Kami jadikan tulangbelulang,lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging.Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk lain.Maka maha sucilah Allah,Pencipta yang paling baik.

Ayat ini mengisyaratkan unsur manusia ada tiga yaitu; unsure jasad (jasadiyah), unsur nyawa (nafs), dan Unsur ruh (ruh). Adapun dalam pertimbangan ini manusia mengetahui proses terjadinya manusia,oleh karenanya untuk mengetahui keafsahan kloning dalam Islam harus dikaitkan dengan dua pertimbangan selanjutnya, yaitu pertimbangan moral dan hukum.

Pertimbangan Moral Dari sudut pertimbangan moral bahwa berbagai macam riset atau penelitian hendaknya selalu dikaitkan dengan Tuhan, karena riset dengan tujuan apapun tanpa dikaitkan dengan Tuhan tentu akan menimbulkan resiko, meskipun manusia di muka bumi adalah sebagai khalifah, namun dalam mengekpresikan dan mengaktualisasikan kebesaran kreatifitasnya tersebut seyogyanya tetap mengacu pada pertimbangan moral dalam agama.

Pertimbangan Hukum Dari beragam pertimbangan mungkin pertimbangan hokum inilah yang secara tegas memberikan putusan, khususnya dari para ulama fiqh yang akan menolak mengenai praktek kloning manusia selain memakai dua landasan pertimbangan di atas. Larangan ini muncul karena alasan adanya kekhawatiran tingginya frekuensi mutasi pada gen produk kloning sehingga akan menimbulkan efek buruk pada kemudian hari dari segi pembiayaan yang sangat mahal dan juga dari sudut pandang ushul fiqh bahwa jika sesuatu itu lebih banyak madharat-nya dari pada manfaatnya maka sesuatu itu perlu ditolak. Dalam masalah ini terdapat

20 | K l o n i n g v s A g a m a

beberapa pendapat ulama tentang kloning manusia diantaranya; Muhammad Quraish Shihab mengatakan, tidak pernah memisahkan ketetapan-ketetapan hukumnya dari moral sehingga dalam kasus kloning walaupun dalam segi aqidah tidak melanggar wilayah qodrat Illahi, namun karena dari moral teknologi kloning dapat mengantar kepada perpecahan manusia karena larangan lahir dari aspek ini. Munawar Ahmad Anas mengatakan bahwa paradigma al-Quran menolak kloning seluruh siklus kehidupan mulai dari kehidupan hingga kematian, adalah tindakan Illahiyah. Manusia adalah agen yang diberi amanah oleh Tuhan, karena itu penggandaan manusia semata-mata tak di perlukan (suatu tindakan yang mubadzir). Sedang Abdul Aziz Sachedia, salah seorang tokoh agama Islam Amerika Serikat mengatakan bahwa teknologi kloning hanya akan meruntuhkan institusi perkawinan

Analisis Kritis Proses kejadian manusia tanpa proses pembuahan sperma lakilaki adalah tanda dari kekuasaan Tuhan. Perkembangan ilmu dan teknologi merupakan konskuensi logis dari konsep ilmu dalam al- Quran yang mengatakan hakekat ilmu adalah menemukan sesuatu yang baru bagi masyarakat dari hal yang tidak tahu menjadi tahu seperti dalam firman Allah:

Sebagaimana kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu al-kitab dan hikmah serta mengajarkan kepada kamu apaapa yang belum kamu ketahui.

Seluruh ilmu bisa diterima, namun harus dilihat manfaat dan madharatnya seperti halnya kloning yang menimbulkan pro dan kontra. Tim bahsul masail Nahdhatul Ulama menjawab seputar masalah kloning gen pada tanaman, hewan dan manusia. Pemanfaatan teknologi pada tanaman diperbolehkan, karena hajat
21 | K l o n i n g v s A g a m a

manusia untuk kemaslahatannya. Kloning gen pada hewan di perbolehkan dengan catatan; dengan hewan yang halal di makan, tidak menimbulkan takdzib (penyiksaan), tidak melakukan penyilangan antar hewan yang haram dengan yang halal. Adapun kloning pada gen manusia menurut etika dan hokum agama tidak dibenarkan (haram) serta harus dicegah sedini mungkin.Hal ini karena akan menimbulkan masalah baru dan madharat yang lebih besar, diantaranya; Pertama, tidak mengikuti sunah Rasul, karena Rasul menganjurkan untuk menikah. Dan barang siapa tidak mengikuti sunah rasul berarti tidak termasuk golongan Rasulallah. Kedua, tidak mungikuti ajaran kedokteran Nabi, karena mereka tidak melakukan hubungan seksual. Ketiga, bagi kaum laki-laki yang tidak beristeri bisa menimbulkan gangguan yang tidak diharapkan seperti hal syahwatnya menjadi lemah, menimbulkan kesedihan dan kemuraman. Gerak tubuhnya menjadi kaku dan bagi kaum wanita badannya menjadi dingin (frigiditis). Keempat, ada kecenderungan melakukan onani (masturbasi) atau berzina yang sangat dilarang oleh Islam. Kelima, tidak bisa memanfaatkan kegembiraan dan kelezatandalam hubungan seksual. Kloning terhadap manusia banyak melahirkan persoalan bagi kehidupan manusia, terutama dari sisi etika dan persoalan keagamaan serta keyakinan, namun di sisi lain adapula beberapa manfaatnya. Berikut ini beberapa manfaat kloning, khusus dalam bidang medis. Beberapa diantara keuntungan terapeutik dari teknologi cloning adalah sebagai berikut: 1. Kloning manusia memungkinkan banyak pasangan tidak subur untuk mendapatkan anak. 2. Organ manusia dapat dikloning secara selektif untuk dapat dimanfaatkan sebagai organ pengganti bagi pemilik sel organ itu sendiri, sehingga dapat meminimalisir resiko penolakan. 3. Sel-sel dapat dikloning dan diregenerasi untuk menggantikan jaringanjaringan tubuh yang rusak, contohnya urat saraf serta jaringan otot. 4. Teknologi kloninng memungkinkan para ilmuan medis untuk

menghidupkan dan mematikan sel-sel, dengan demikian teknologi dapat digunakan untuk mengatasi kanker.

22 | K l o n i n g v s A g a m a

5.

Teknologi

kloning

memungkinkan

dilakukannya

pengujian

dan

penyembuhan penyakit-penyakit keturunan. Kasus kloning, walaupun dalam segi akidah tidak melanggar Wilayah kodrat Ilahi, namun karena dari moral teknologi kloning dapat mengantar kepada pelecehan manusia, maka dilarang lahir dari aspek ini. Dengan demikian, perlu disadari bahwa hal ihwal tentang penciptaan (setiap yang hidup/bernyawa) adalah wilayah kekuasan Tuhan yang sangat mustahil untuk dapat ditiru oleh ilmuan sejenius apapun, kesadaran ini perlu ada dalam jiwa manusia untuk lebih bijaksana dalam menjelajahi ilmu pengetahuan, atau paling tidak meminimalisir sikap coba-coba yang akan menyebabkan organism dan gen atau bahan-bahan dasar lainnya terbuang sia-sia atau dimatika begitu saja dengan unsur kesengajaan yang lebih besar hanya demi teknologi. Masalah lain yang ditimbulkan oleh teknologi kloning speriti produk bayi tabung, adalah perebutan bayi. Seperti contoh kasus yang menimpa pasangan suami isteri yang menitipkan embrionya dalam rahim mother hoster. Setelah sekitar 36 minggu mengandung dan akhirnya melahirkan bayi titipan tersebut, si mother hoster mengklaim bayi tersebut miliknya, dan tidak bersedia mengembalikannya pada ayah dan ibu biologisnya.

23 | K l o n i n g v s A g a m a

BAB IV SIMPULAN
Teknologi kloning dapat diterapkan sebatas pada kepentingan

theurapeutik atau pengobatan. Dengan pertimbangan, kloning theurapeutik merupakan jalan yang lebih baik diantara metode pengobatan lain, seperti transplantasi organ. Penerapan kloning untuk tujuan produksi ternak memerlukan penelitian lebih lanjut mengenai dampak kesehatan dan lingkungan yang ditimbulkan sebelum dikenalkan ke masyarakat. Penerapan kloning untuk tujuan konservasi hewan dan reproduksi manusia ditolak secara tegas karena dapat menimbulkan kerugian besar bagi manusia, baik dari segi material maupun psikososial.

24 | K l o n i n g v s A g a m a

DAFTAR PUSTAKA
Eibert, DM. 2000. Human Cloning. U and I Magazines. Canada. KOMPAS.com, 2009. Dr.Zavos Mulai Kloning Manusia. [terhubung berkala] http://sains.kompas.com/read/2009/04/24/07410794/Dr.Zavos.Mulai.Klonin g.Manusia.. KOMPAS.com, 2009. Dokter Italia Kloning Tiga bayi. [terhubung berkala] http://sains.kompas.com/read/2009/03/05/10565557/dokter.italia.kloning.tig a.bayi NUSANTARANEWS, 2009. SAINS DAN TEKNOLOGI : Keberhasilan Kloning Manusia = Kegagalan Agama? [terhubung berkala] http://nusantaranews.wordpress.com/2009/04/26/keberhasilan-kloningmanusia-kegagalan-agama/comment-page-3/#comments Sambrook dkk, 1989. Molecular Cloning: A Laboratory Manual. New York, CSHL Press. Shanon. 2003. Pengantar BioEtika. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Simbolon, H. 1994. Biologi Jilid 3. Jakarta. Penerbit Erlangga. Stainer dkk. 1986. The Microbial World. New Jersey. Prentice-Hall. Subiyanto. 2002. Etika dalam Teknologi Reproduksi Buatan. Pertemuan Nasional II Bioetika dan Humaniora. Bandung.

25 | K l o n i n g v s A g a m a