Anda di halaman 1dari 18

Muhammad Sidharta Krisna, Yuli Prihastuti, Ichsan Alhadi Yusufa, Angieda Soeparto, Krisna Hario Adiyatma, Nur Dhuhania

Ahaddina, Wahyudi Istiono, 2011. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dan Pendidikan Terhadap Perilaku Berisiko Terkena Leptospirosis

PENDAHULUAN Kelurahan Gedongkiwo terletak di wilayah Kecamatan Mantrijeron, Kotamadya Daerah Tingkat II Yogyakarta, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Luas wilayah Kelurahan ini adalah 931.651 Hektar, dengan batas wilayah : a. b. Sebelah Utara : Kelurahan Notoprajan, Kecamatan Ngampilan

Sebelah Selatan : Kelurahan Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul

c.

Sebelah Barat

: Kecamatan Wirobrajan dan Kelurahan Tirtonirmolo,

Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul d. Sebelah Timur Suryodiningratan Kelurahan Gedongkiwo terletak 113 meter diatas permukaan laut. Topografi berada di dataran rendah dengan curah hujan 1159 mm/tahun dan suhu rata-rata 29 C- 32 C. Total penduduk sekitar 16.321 jiwa (BPS 2007). Wilayah RW 01, RW 02 dan RW 06 meliputi wilayah yang berbatasan langsung dengan Sungai Winongo. Secara administratif, wilayah RW 01 dibagi menjadi 4 RT yaitu RT 1, RT 2, RT 3, RT 4. RW 02 dibagi menjadi 6 RT, yaitu RT 10, RT 11, RT 12, RT 13, RT 14, dan RT 15. Dan RW 06 terdiri dari 7 RT, yaitu RT 26, RT 27, RT 28, RT 29, RT 30, RT 31, dan RT 32. Secara umum keadaan lingkungan di Kelurahan Gedongkiwo dapat dijabarkan sebagai berikut : a. b. Keadaan tanah : hampir seluruhnya tanah padat atau pekarangan. : Kraton, Kecamatan Mantrijeron, dan Kelurahan

Penggunaan tanah : sebagian besar dimanfaatkan untuk perumahan dan sebagian kecil dimanfaatkan sebagai usaha kecil.

c.

Sumber air

: menggunakan air tanah dan PDAM.

Muhammad Sidharta Krisna, Yuli Prihastuti, Ichsan Alhadi Yusufa, Angieda Soeparto, Krisna Hario Adiyatma, Nur Dhuhania Ahaddina, Wahyudi Istiono, 2011. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dan Pendidikan Terhadap Perilaku Berisiko Terkena Leptospirosis

Tabel 1. Mata Pencaharian Masyarakat Kelurahan Gedongkiwo Mata pencaharian Bidang jasa Wiraswasta/pedagang Pegawai swasta Pegawai negeri sipil Pensiunan TNI Pertukangan Buruh Tani Petani Jumlah (orang) 3872 2828 958 805 306 298 268 57 16 Persentase (%) 41,16 % 30,06 % 10,18 % 8,56 % 3,25 % 3,17 % 2,84 % 0,61 % 0,17 %

Masalah masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakat Kelurahan Gedongkiwo diketahui dengan melakukan observasi dan wawancara dengan Camat,Lurah, Ketua RW 01, RW 02, RW 06 dan Wakil Kepala Puskesmas Mantrijeron. Selain itu digunakan pula data sekunder yang diambil dari kantor Kelurahan Gedongkiwo, Kecamatan Mantrijeroon, data dari ketua RW 01, RW 02, RW 06, data Puskesmas Mantrijeron dan masyarakat RW 01, RW 02, RW 06. Kelurahan Gedongkiwo RW 01 ini merupakan lingkungan pemukiman yang padat. Salah satu akibat yang ditimbulkannya adalah bahwa lahan yang tersedia untuk masing-masing rumah relatif sempit, dan terdapat banyak ganggang sempit yang gelap dan kotor sehingga berimbas pada mudahnya tikus berkeliaran dan berkembang biak. Beberapa wilayah RW 02, dan RW 06 juga memiliki kondisi serupa, terutama yang terletak di bantaran sungai . Daerah yang berbatasan dengan sungai berpotensi banjir, terutama bila turun hujan. Beberapa warga masih sering ke sungai untuk bekerja (menangkap ikan, mengurus keramba ikan), dan terkadang tidak menggunakan alat pelindung diri yang cukup. Dari data di puskesmas Mantrijeron tercatat bahwa di wilayah Kelurahan Gedongkiwo terdapat 1 penderita Leptospirosis. Agar penderita tidak bertambah

Muhammad Sidharta Krisna, Yuli Prihastuti, Ichsan Alhadi Yusufa, Angieda Soeparto, Krisna Hario Adiyatma, Nur Dhuhania Ahaddina, Wahyudi Istiono, 2011. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dan Pendidikan Terhadap Perilaku Berisiko Terkena Leptospirosis

dan mencegah terjadinya KLB (Kejadian Luar Biasa) maka perlu ditingkatkan kewaspadaan terhadap berbagai faktor risiko penularan leptospirosis. Leptospirosis adalah suatu penyakit zoonosis yang disebabkan oleh mikroorganisme berbentuk spiral dan bergerak aktif yang dinamakan seperti Mud fever,

Leptospira. Penyakit ini dikenal dengan berbagai nama Field fever, Cane cutter dan lain-lain(1).

Slime fever (Shlamn fieber), Swam fever, Autumnal fever, Infectious jaundice,

Leptospirosis merupakan istilah untuk penyakit yang disebabkan oleh semua Leptospira tanpa memandang serotipe tertentu. Hubungan gejala klinis dengan infeksi oleh serotipe yang berbeda membawa pada kesimpulan bahwa satu serotipe Leptospira mungkin bertanggung jawab terhadap berbagai macam gambaran klinis sebaliknya, satu gejala seperti disebabkan oleh berbagai serotipe. Karena meningitis aseptik, dapat itu lebih disukai untuk

menggunakan istilah umum leptospirosis dibandingkan dengan nama serupa seperti penyakit Weil dan demam kanikola(2). Leptospira termasuk dalam genus Leptospira, family Leptospiraceae, order Spirochaetales, Leptospira terdiri dari dua kelompok yang dibedakan berdasarkan sequences DNA yaitu L. interrogans yang patogen dan L. biflexa yang hidup bebas (non patogen, saprofit). Leptospira pathogen dibagi ke

dalam serovar berdasarkan komposisi antigennya. Sejauh ini telah ditemukan lebih dari 200 serovar yang tergabung ke dalam 25 serogroups(3). Leptospira secara rapat dilingkari oleh spirochaeta, biasanya 0,1 m per 6 sampai 0,1 m per 20 m, tetapi kadang-kadang kultur mengandung banyak sel yang lebih panjang. Lebar sekitar 0,1 0,15 m dan panjang gelombang sekitar 0,5 m. Sel memiliki ujung yang biasanya melengkung berbentuk pengait (Gambar 2.1)(4).

Muhammad Sidharta Krisna, Yuli Prihastuti, Ichsan Alhadi Yusufa, Angieda Soeparto, Krisna Hario Adiyatma, Nur Dhuhania Ahaddina, Wahyudi Istiono, 2011. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dan Pendidikan Terhadap Perilaku Berisiko Terkena Leptospirosis

Gambar 2.1. L. interrogans serovar icterohaemorrhagiae strain RGA batas sampai 0,2-m filter membrane(4) Leptospira mempunyai struktur membran ganda yang khas, di mana membran sitoplasma dan dinding sel peptidoglikan dilapisi oleh membran erat berhubungan dan

terluar. Lipopolisakarida leptospira mempunyai

komposisi yang mirip dengan bakteri Gram negatif lain, tetapi mempunyai aktivitas endotoksik yang paling rendah. Leptospira diwarnai dengan

menggunakan pewarna carbol fuchsin. Leptospira bersifat aerob dengan suhu pertumbuhan optimum antara 28C-30C(5). Tubuh manusia dengan memproduksi memberikan antibodi reaksi terhadap infeksi Leptospira Leptospira.

yang

spesifik

terhadap

Serokonversi biasanya terjadi 5-7 hari setelah terinfeksi, tetapi kadang terjadi setelah lebih dari 10 hari(1). Secara umum dapat melindungi kekebalan diketahui dan bahwa antibodi serovar yang spesifik mendapat

membuat

penderita

leptospirosis

apabila terinfeksi kembali oleh serovar yang sama, selama

konsentrasi (titer) antibodi yang spesifik tersebut masih cukup tinggi(1). Leptospirosis terjadi di seluruh dunia tetapi sebagian besar terjadi di daerah tropik dan subtropik dengan curah hujan yang tinggi. Penyakit ditemukan dimanapun manusia yang kontak dengan urin binatang yang terkontaminasi atau lingkungan yang tercemar urin. Jumlah kasus pada manusia di dunia yang terkena penyakit leptospirosis tidak diketahui secara pasti. Menurut laporan yang ada pada saat ini, jumlah kasus baru kira-kira 0.1-1 kasus per 100.000 per tahun pada daerah yang beriklim sedang dan 10-100 kasus per 100.000 di daerah beriklim lembab. Selama outbreak dan kelompok

Muhammad Sidharta Krisna, Yuli Prihastuti, Ichsan Alhadi Yusufa, Angieda Soeparto, Krisna Hario Adiyatma, Nur Dhuhania Ahaddina, Wahyudi Istiono, 2011. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dan Pendidikan Terhadap Perilaku Berisiko Terkena Leptospirosis

risiko dengan paparan yang tinggi, insiden penyakit dapat mencapai lebih dari 100 per 100.000. Angka kematian akibat penyakit leptospirosis di Indonesia termasuk tinggi, dengan angka Case Fatality Rate (CFR) bisa mencapai 2,5%-16,45% (rata-rata 7,1%). Pada usia lebih 50 tahun kematian bisa sampai 56%. Di beberapa publikasi angka kematian dilaporkan antara 3%54% tergantung sistem organ yang terinfeksi(6). Persebaran penyakit tergantung kepada kesimbangan antara host /pejamu (manusia dan karakteristiknya), agent (penyebab penyakit) dan enviroment (lingkungan)(7). Leptospira menyukai tinggal di permukaan air dalam waktu lama dan siap menginfeksi calon korbannya apabila kontak dengannya, karena itu Leptospira sering pula disebut sebagai penyakit yang timbul dari air (water born disease)(8). Berikut ini adalah beberapa faktor risiko penularan leptospirosis 1. Faktor Agent 2. Faktor Host/pejamu 3. Faktor lingkungan Faktor lingkungan meliputi lingkungan fisik, biologi, kimia dan sosial a. Lingkungan fisik 1) Keberadaan badan air / sungai 2) Keberadaan parit / selokan 3) Genangan air 4) Sampah 5) Kondisi Tempat Pengumpulan Sampah (TPS) 6) Sumber air 7) Curah hujan 8) Ketersediaan bahan pangan terjangkau tikus 9) Jarak rumah dengan tempat pengumpulan sampah b. Lingkungan biologi Lingkungan biologi yang berkaitan dengan leptospirosis adalah segala makhluk hidup baik flora maupun fauna yang keberadaan atau

Muhammad Sidharta Krisna, Yuli Prihastuti, Ichsan Alhadi Yusufa, Angieda Soeparto, Krisna Hario Adiyatma, Nur Dhuhania Ahaddina, Wahyudi Istiono, 2011. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dan Pendidikan Terhadap Perilaku Berisiko Terkena Leptospirosis

ketiadaannya dapat menyebabkan meningkat atau menurunnya persebaran leptospirosis. 1) Populasi tikus di dalam dan sekitar rumah 2) Keberadaan predator tikus 3) Keberadaan hewan peliharaan dan binatang liar sebagai hospes perantara c. Lingkungan kimia pH air dan pH tanah PH air dan PH tanah merupakan salah satu faktor risiko lingkungan abiotik terhadap kejadian leptospirosis, pH air dan pH tanah yang optimal untuk perkembangbiakan bakteri Leptospira adalah 7,2-7,6(2). d. Lingkungan sosial ekonomi 1) Karakteristik penduduk a) Pendidikan b) Jenis pekerjaan c)Penghasilan 2) Kebiasaan penduduk / Perilaku penduduk

Penularan leptospirosis

terjadi melalui kontak antara kulit, terutama

jika kulit terluka dan membran mukosa, dengan air, tanah lembab atau tanaman yang terkontaminasi urin binatang terinfeksi. Penularan dapat juga terjadi pada waktu berenang atau menyelam dalam air yang telah terkontaminasi oleh urin hewan terinfeksi(9). Kejadian yang jarang terjadi adalah makan makanan yang telah terkontaminasi oleh urin hewan terinfeksi, serta menghirup udara yang mengandung kontaminan(5). Diagnosis leptospirosis biasanya ditegakkan berdasarkan

anamnesa, gambaran klinis dan laboratoris. Diagnosis pasti ditegakkan dengan ditemukannya kuman cerebrospinal, yaitu leptospira pada darah, urine atau cairan

dengan pemeriksaan langsung, kultur.

Pemeriksaan

langsung dengan mikroskop medan gelap sering gagal. Untuk pemeriksaan serologis dan isolasi kuman tidak semua tempat mempunyai fasilitas dan dapat melakukannya(10).

Muhammad Sidharta Krisna, Yuli Prihastuti, Ichsan Alhadi Yusufa, Angieda Soeparto, Krisna Hario Adiyatma, Nur Dhuhania Ahaddina, Wahyudi Istiono, 2011. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dan Pendidikan Terhadap Perilaku Berisiko Terkena Leptospirosis

Menurut The Center for Disease Control (CDC Amerika) diagnosis leptospirosis adalah sebagai berikut, 1). diagnosis definitif dapat ditegakkan dengan ditemukannya leptospira dari spesimen apapun (darah, jaringa, cairan tubuh), atau adanya gambaran klinik leptospirosis didukung oleh pemeriksaan serologis yang positif, 2). diagnosis presumtif bila sesuai dengan kriteria diagnostik yang direkomendasikan oleh World Health Organisation (WHO) 1982 (Tabel 1) (11 Tabel 2. Kriteria WHO untuk diagnosis leptospirosis Daftar pertanyaan A. Jenis gejala dan laboratorium 1. Sakit kepala mendadak 2. Bilateral conjunctival suffusion 3. Demam 4. Bila demam > 38 C 5. Meningismus 6. Nyeri otot, terutama betis 7. Meningismus, nyeri otot, suffusi konjungtiva bersama 8. Ikhterik 9. Albuminuria atau azotemia B. Faktor epidemiologi seperti riwayat kontak hewan di hutan, rekreasi, tempat kerja atau diduga atau diketahui kontak dengan air yang tekontaminasi ya/tidak ya/tidak ya/tidak ya/tidak ya/tidak ya/tidak ya/tidak ya/tidak ya/tidak ya/tidak 2/0 4/0 2/0 2/0 4/0 4/0 10/0 1/0 2/0 10/0 Jawaban Nilai

Muhammad Sidharta Krisna, Yuli Prihastuti, Ichsan Alhadi Yusufa, Angieda Soeparto, Krisna Hario Adiyatma, Nur Dhuhania Ahaddina, Wahyudi Istiono, 2011. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dan Pendidikan Terhadap Perilaku Berisiko Terkena Leptospirosis

C. Hasil Laboratorium Serologi : 1. Serologi (+) di daerah endemik : titer sedang titer tinggi titer meningkat ya/tidak ya/tidak ya/tidak 2/0 10/0 25/0

2. Serologis (+) bukan daerah endemik : titer rendah titer tinggi titer meningkat ya/tidak ya/tidak ya/tidak 5/0 15/0 25/0

Keterangan : leptospirosis dapat ditegakkan bila jumlah A + B > 25 atau A + B + C > 25 disebut presumptive leptospirosis; bila A + B antara 20 25 disebut suggestive leptospirosis Pemeriksaan serologik yang sering digunakan adalah (MAT),

enzyme- linked immunosorbent assay (ELISA) dan immuno-florescent antibody test. Ketiga pemeriksaan ini tidak mudah dikerjakan, memerlukan peralatan mahal dan khusus, tenaga terlatih, kecuali pada MAT tergantung pada pasokan listrik dan pendinginan. Tes diagnosis lainnya yang cepat dan mudah adalah metode dipstick assay, lateral-flow assay dan latex based agglutination test(11). Pengobatan penyakit leptospirosis dapat
(12)

diberikan

dengan

penisilin, tetrasiklin, klorampfenicol dan eritromisin

. Pengobatan yang

sering digunakan adalah penisilin dengan dosis 4 -5 juta unit per hari dengan pemberian terbagi. Penderita yang tidak tahan terhadap penisilin dapat diberikan tetrasiklin 2 gram per hari selama 7 hari(13). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengobatan dengan penisilin masih lebih efektif digunakan dalam mengatasi leptospirosis(14).

METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan rancangan potong-lintang/cross sectional yang bersifat kuantitatif non-eksperimental. Penelitian ini dilakukan di Kampung

Muhammad Sidharta Krisna, Yuli Prihastuti, Ichsan Alhadi Yusufa, Angieda Soeparto, Krisna Hario Adiyatma, Nur Dhuhania Ahaddina, Wahyudi Istiono, 2011. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dan Pendidikan Terhadap Perilaku Berisiko Terkena Leptospirosis

Suryowijayan RW 01, RW 02, dan RW 06 Kelurahan Gedong Kiwa, Kecamatan Mantrijeron, Kotamadya Yogyakarta mulai tanggal 18 April 2011 sampai 20 April 2011. Subyek diambil secara acak untuk mewakili populasi dan telah menyetujui untuk menjadi responden penelitian. Subyek dikelompokkan berdasarkan tingkat pendidikan menjadi 5 kelompok untuk variabel penelitian tingkat pendidikan, yaitu: 1. Kelompok 1 adalah responden yang pendidikan terakhirnya tidak tamat SD. 2. Kelompok 2 adalah responden yang pendidikan terakhirnya tamat SD. 3. Kelompok 3 adalah responden yang pendidikan terakhirnya tamat SMP. 4. Kelompok 4 adalah responden yang pendidikan terakhirnya tamat SMA. 5. Kelompok 5 adalah responden yang pendidikan terakhirnya tamat Perguruan Tinggi. Sedangkan untuk variabel penelitian tingkat pengetahuan, subyek dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu: 1. Kelompok 1 adalah responden yang memiliki pengetahuan tentang Leptospirosis. 2. Kelompok 2 adalah responden yang kurang memiliki pengetahuan tentang Leptospirosis. Teknik pengambilan sampel secara random sampel. Penentuan besarnya sampel menggunakan pertimbangan non statistik yang dimaksud adalah tenaga, jarak, dan transportasi serta waktu yang tersedia dalam pengambilan data(15). Besar sampel ditentukan berdasarkan perkiraan jumlah 10% dari populasi(16). Jumlah seluruh kepala keluarga (KK) di RW 01, RW 02, RW 06 adalah 690 KK. Maka penelitian ini diambil sampel 69 KK.

Muhammad Sidharta Krisna, Yuli Prihastuti, Ichsan Alhadi Yusufa, Angieda Soeparto, Krisna Hario Adiyatma, Nur Dhuhania Ahaddina, Wahyudi Istiono, 2011. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dan Pendidikan Terhadap Perilaku Berisiko Terkena Leptospirosis

Data yang diperoleh dianalisis menggunakan program SPSS for Windows Version 19. Uji Kolmogorov Smirnov digunakan untuk menganalisis apakah data pada penelitian ini terdistribusi normal atau tidak. Uji Pearson Correlation digunakan untuk melihat korelasi masing-masing variabel bebas dan variabel tergantung. Peran keseluruhan variabel bebas dan variabel tergantung dianalisis dengan uji statistik regresi linear. Nilai probabilitas (p) < 0,05 dipertimbangkan sebagai hasil yang bermakna.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Survey dilakukan selama dua hari dengan jumlah responden sebanyak 69 orang yang mewakili 69 keluarga terdiri dari 40 orang perempuan dan 29 orang laki-laki., Umur termuda 15 tahun dan umur tertua 90 tahun. Kelompok umur < 30 tahun 8 orang (11,59%). Kelompok umur 30-39 tahun 10 orang (14,49%). Kelompok umur 40-49 tahun 18 orang (26,08%). Kelompok umur 50 59 tahun 12 orang (17,39%). Sedangkan kelompok umur > 60 tahun 21 orang (30,43%). Grafik 1. Karakteristik Respoden Berdasar Umur

25 20 15 10 5 0 Umur Responden <30 30-39 40-49 50-59 >60

Dilihat dari tingkat pendidikan mayoritas diduduki oleh tingkat pendidikan SMA sebanyak 24 orang (34,8 %). Sedangkan tamat SMP 18 orang (26,1 %) dan

Muhammad Sidharta Krisna, Yuli Prihastuti, Ichsan Alhadi Yusufa, Angieda Soeparto, Krisna Hario Adiyatma, Nur Dhuhania Ahaddina, Wahyudi Istiono, 2011. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dan Pendidikan Terhadap Perilaku Berisiko Terkena Leptospirosis

yang tidak tamat SD dan tamat SD 17 orang (24,6 %), dan 10 orang (14,5 %) bergelar S1 atau lebih. Grafik 2. Karakteristik Respoden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

25 20 15 10 5 0 Pendidikan Responden

Tidak Tamat SD dan Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT

Responden sebagaian besar menggunakan sumur sebagai sumber air yaitu sebanyak 58 orang (84,05%) dan 5 orang (7,24%) menggunakan PDAM sisanya 6 orang (8,69%) menggunakan air kemasan.

Grafik 3. Sumber Air Masyarakat RW 01, RW 02, dan RW 06.

60 50 40 30 20 10 0 Sumber Air PDAM Sumur Air Kemasan

Muhammad Sidharta Krisna, Yuli Prihastuti, Ichsan Alhadi Yusufa, Angieda Soeparto, Krisna Hario Adiyatma, Nur Dhuhania Ahaddina, Wahyudi Istiono, 2011. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dan Pendidikan Terhadap Perilaku Berisiko Terkena Leptospirosis

Grafik 4. Tingkat Pengetahuan Mengenai Leptospirosis dan Perilaku Berisiko Terjangkit Leptospirosis

Perilaku Berisiko
Tidak Berisiko Berisiko

Tingkat Pengetahuan

Tahu Tidak

Dari hasil uji analisis dengan menggunakan Pearson Correlation didapatkan hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan peirlaku berisiko terjangkit Leptospirosis dengan nilai p sebesar 0,001 (p < 0,05).

Sementara untuk hubungan antara tingkat pendidikan dengan perilaku berisiko terjangkit Leptospirosis didapatkan nilai p sebesar 0,063 (p > 0,05) yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik. Dilakukan pula analisa antara tingkat pendidikan dan pengetahuan, dan didapatkan nilai p 0,001 (p < 0,05), yang menunjukkan bahwa tingkat penddikan masyarakat berhubungan secara signifikan dengan tingkat pengetahuan masyarakat tentang Leptospirosis.

Muhammad Sidharta Krisna, Yuli Prihastuti, Ichsan Alhadi Yusufa, Angieda Soeparto, Krisna Hario Adiyatma, Nur Dhuhania Ahaddina, Wahyudi Istiono, 2011. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dan Pendidikan Terhadap Perilaku Berisiko Terkena Leptospirosis

Tabel 3. Hasil korelasi Pearson antara Tingkat Pendidikan, Pengetahuan dan Perilaku terserang Leptospirosis Correlations pendidikan Perilaku_tersera Pengetahuan _akhir Pengetahuan Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N pendidikan_akhir Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Perilaku_terserang_ Pearson leptospira Correlation .001 69 .388** 69 .225 .063 69 1 69 .388** .001 69 1 .001 69 .225 1 .388** ng_leptospira .388**

Sig. (2-tailed) N

.001 69

.063 69 69

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Muhammad Sidharta Krisna, Yuli Prihastuti, Ichsan Alhadi Yusufa, Angieda Soeparto, Krisna Hario Adiyatma, Nur Dhuhania Ahaddina, Wahyudi Istiono, 2011. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dan Pendidikan Terhadap Perilaku Berisiko Terkena Leptospirosis

Penyakit Leptospirosis tersebar di seluruh dunia secara merata, kecuali pada daerah kutub. Kasus Leptospirosis secara klinis banyak ditemukan di daerah tropis. Leptospirosis lebih tinggi secara signifikan pada negaranegara yang beriklim hangat, karena leptospira lebih tahan hidup pada lingkungan hangat dengan kondisi yang lembab(5). Leptospirosis dapat terjadi pada musim kemarau yang panjang, seperti yang terjadi di Klaten dan

Boyolali dimana sumur-sumur mengering dan sumber air terbatas sehingga penggunaan air bersama-sama dengan hewan(17). Penelitian yang dilakukan pada penduduk di Baltimore

menunjukkan bahwa Leptospirosis sering terdapat pada orang dewasa muda dengan umur rata- rata 23,5 tahun( 1 8 ) . Penelitian yang dilakukan di Kota Semarang terhadap 62 penderita Leptospirosis mendapatkan penderita laki-laki 50 orang (80,65%) dan wanita 12 orang (19,35%). Frekuensi terbanyak ditemukan pada penderita usia produktif yaitu umur 21 sampai 40 tahun(19). Infeksi dapat terjadi pada air yang mengalir maupun yang

menggenang, seperti di kolam atau rawa. Sumber pencemaran lingkungan dapat berupa urin yang berasal dari hewan yang mengandung bakteri leptospira, dimana hewan tersebut bertindak sebagai reservoir(20). Infeksi leptospira pada manusia terjadi melalui paparan pekerjaan, rekreasi atau hobi. Kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi terjadi pada sejumlah petani, dokter hewan, pekerja pemotongan hewan, pengamat

daging, dan pekerjaan lain yang berhubungan langsung dengan hewan. Kontak tidak langsung telah ditemukan pada orang dengan pekerjaan penjahit, buruh tambang, tentara,pembersih setiktank, petani ikan, pekerja kanal, dan petani (padi, pisang dan tebu)(5). Selain pekerjaan dan lingkungan, kebiasaan hidup juga merupakan faktor risiko terpapar leptospira. Beberapa faktor lingkungan sebagai faktor

risiko Leptospirosis, yaitu hidup pada lingkungan hutan, taman, sampah di sekitar rumah dan tikus di sekitar dapur. Kebiasaan hidup yang didapatkan

Muhammad Sidharta Krisna, Yuli Prihastuti, Ichsan Alhadi Yusufa, Angieda Soeparto, Krisna Hario Adiyatma, Nur Dhuhania Ahaddina, Wahyudi Istiono, 2011. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dan Pendidikan Terhadap Perilaku Berisiko Terkena Leptospirosis

sebagai faktor risiko Leptospirosis adalah mencuci pakaian di sungai, mandi di sungai, berjalan tanpa alas kaki, luka pada kulit serta kebiasan minum alkohol(21). Penelitian lain di Thailand membuktikan bahwa empat aktivitas selama 2 minggu sebelum sakit yang secara signifikan merupakan faktor risiko terpapar leptospira adalah berjalan melintasi air (OR = 4,9), memberikan pupuk di padang yang lembab 6 jam per hari (OR =3,6), membajak di padang yang lembab selama lebih dari 6 jam (OR = 3,5) dan pengumpulkan tunas padi di tanah yang lembab lebih dari 6 jam (OR = 3,1)(22). Angka kejadian Leptospirosis sebenarnya sulit diketahui. Penemuan kasus Leptospirosis pada umumnya adalah tidak terdiagnosis dan tidak terlaporkan karena beberapa laporan menunjukkan gejala asimtomatik. Di Indonesia, penyakit demam karena banjir sudah sering dilaporkan di daerah Jawa Tengah (merupakan daerah endemik Leptopirosis), Demak atau Boyolali. Beberapa tahun terakhir bakteri leptospira juga banyak berkembang di daerah pesisir pasang surut, seperti Riau, Jambi dan Kalimantan(10). Pengetahuan dasar yang penyusun gunakan untuk menggambarkan tingkat pengetahuan warga terhadap penyakit Leptospirosis meliputi gejala, penyebab, vektor, dan tentunya pencegahan. Beberapa pengetahuan dasar yang penyusun harapkan diketahui oleh warga misalnya mengenai penularan penyakit ini melalui tikus, babi, sapi, kambing, kuda, anjing, serangga, burung, landak, kelelawar dan tupai. Di Indonesia penularan yang paling sering adalah melalui tikus. Potensi hewan-hewan lain menularkan Leptospirosis ke manusia tidak sehebat tikus. Air kencing tikus yang terbawa banjir kemudian dapat masuk ke dalam tubuh manusia(23). Perilaku berisiko yang penyusun teliti berupa aktivitas yang kontak dengan air, kontak dengan tikus, keadaaan sanitasi dan kebersihan lingkungan sekitar. Kondisi lingkungan yang berada di bantaran sungai merupakan salah satu faktor risiko utama terjadinya penularan Leptospirosis. Di mana setiap musim

Muhammad Sidharta Krisna, Yuli Prihastuti, Ichsan Alhadi Yusufa, Angieda Soeparto, Krisna Hario Adiyatma, Nur Dhuhania Ahaddina, Wahyudi Istiono, 2011. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dan Pendidikan Terhadap Perilaku Berisiko Terkena Leptospirosis

hujan hampir selalu terjadi banjir. Di samping itu juga sering timbul banyak genangan di depan rumah terutama pada penduduk yang tinggal di bantaran sungai. Berdasarkan kondisi tersebut maka diperlukan pengetahuan masyarakat tentang faktor risiko penularan Leptospirosis, sehingga dapat berimplikasi pada perilaku masyarakat dalam mencegah penularannya. Penelitian yang penyusun lakukan memperoleh hasil di mana pada masyarakat yang kurang memiliki pengetahuan tentang Leptospirosis cenderung memiliki perilaku yang berisiko terjangkit Leptospirosis. Hal ini perlu mendapat perhatian penting dari pemerintah maupun petugas kesehatan terkait. Penyusun berpendapat bahwa pada masyarakat dengan tingkat pengetahuan yang kurang terhadap Leptospirosis perlu diadakan promosi kesehatan. Promosi kesehatan dapat berupa penyuluhan yang dilengkapai media audiovisual dan pemberian leaflet. Pada tingkat pendidikan, dari penelitian yang Penyusun lakukan tidak terdapat korelasi dengan perilaku yang berisiko terkena Leptospirosis. Hal ini bukan berarti masyarakat yang berpendidikan tinggi sudah memahami tentang perilaku berisiko terkena Leptospirosis, begitu juga sebaliknya.

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara tingkat pendidikan rendah dan perilaku berisiko terkena Leptospirosis. 2. Terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara pengetahuan yang rendah terhadap Leptospirosis dan perilaku berisiko terkena Leptospirosis. B. Saran 1. Survei dilakukan dlam jangka waktu yang lebih lama atau mencakup responden yang lebih luas.

Muhammad Sidharta Krisna, Yuli Prihastuti, Ichsan Alhadi Yusufa, Angieda Soeparto, Krisna Hario Adiyatma, Nur Dhuhania Ahaddina, Wahyudi Istiono, 2011. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dan Pendidikan Terhadap Perilaku Berisiko Terkena Leptospirosis

2. Responden yang dikategorikan berdasar tingkat pendidikan proporsinya sama dengan antar kategori. 3. Kriteria inklusi maupun eksklusi lebih jelas.

Muhammad Sidharta Krisna, Yuli Prihastuti, Ichsan Alhadi Yusufa, Angieda Soeparto, Krisna Hario Adiyatma, Nur Dhuhania Ahaddina, Wahyudi Istiono, 2011. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dan Pendidikan Terhadap Perilaku Berisiko Terkena Leptospirosis