Anda di halaman 1dari 5

I.

PENDAHULUAN Penyimpanan biji-bijian masih tetap memegang peranan penting, karena biji-bijian merupakan suplai utama bahan pangan di dunia. Kurang lebih 70 persen kalori dan 50 persen protein dari jumlah yang dibutuhkan dipenuhi dari biji-bijian. Selain itu penyimpanan biji-bijian penting agar kesinambungan bahan baku industri yang menggunakan bahan baku biji-bijian tetap terjamin. Hal ini karena masa panen biji-bijian tidaklah sepanjang tahun, tetapi musiman, sedang industri tidak mengenal musim (Yadi Haryadi, 1983). Negara India merupakan salah satu negara agraris di Asia. Negara India adalah negara terbesar penghasil gandum terbesar kedua setelah China dan menyumbangkan 12,06% dari total produksi gandum dunia. Gandum adalah sereal kedua di India setelah beras. Produksi biji-bijian di India mengalami peningkatan karena perkembangan teknologi, akan tetapi masih terdapat kehilangan yang tinggi selama proses penyimpanan. Mengacu pada Laporan Bank Dunia (1999), kehilangan pascapenen di India mencapai 12-16 m3 ton dari makanan biji-bijian tiap tahun (Singh, 2010). Di India, sebagian besar biji-bijan disimpan di desa, di dalam bangunan penyimpanan dan wadah yang berbeda-beda. Diperkirakan 60-70% dari biji-bijian produksi dalam negeri disimpan di bangunan penyimpanan tradisional. Metode penyimpanannya berkisar dari bangunan tanah liat hingga tempat penyimpanan yang modern. Wadah penyimpanan terbuat dari berbagai bahan lokal yang mempunyai desain, bentuk, ukuran dan fungsi yang berbeda. Bahan yang digunakan meliputi jerami padi, jerami gandum, kayu, bambu, alang-alang, tanah liat atau lumpur, batu bata, kotoran sapi dan lainnya.

II. PEMBAHASAN Secara umum terdapat tiga cara berbeda dalam menyimpan hasil produksi, yaitu : 1. Penyimpanan dalam ruangan 2. Penyimpanan luar ruangan 3. Penyimpanan bawah tanah

Penyimpanan biji-bijian dalam ruangan Kanaja adalah wadah penyimpan biji-bijian yang terbuat dari bambu. Pada bagian alas biasanya bulat dan mempunyai tutup yang lebar diatasnya. Tingginya bermacam-macam. Kanaja dilapisi dengan campuran lumpur dan kotoran sapi untuk mencegah tumpahan atau kehilangan biji-bijian. Tutupnya juga dilapisi dengan campuran lumpur dan kotoran sapi atau dilindungi dengan jerami padi dan karung goni.

Gambar 1. Kanaja Kotak kayu yang disebut sanduka digunakan untuk menyimpan kacangkacangan, benih, dan biji-bijian dalam jumlah kecil. Kotak tersebut memiliki kapasitas penyimpanan sekitar 3 hingga 12 kwintal. Dalam beberapa kasus, di dalam kotak juga dibuat sekat untuk menyimpan dua hingga tiga jenis biji-bijian. Terdapat sebuah tutup yang besar di atas dengan sedikit bukaan yang memungkinkan pengambilan biji-bijian. Untuk melindungi biji-bijian dari kelembaban, kotak itu disimpan 12 inci di atas permukaan tanah dengan bantuan penyangga/kaki. Untuk pemeliharaannya, kotak harus teratur dibersihkan.

Gambar 2. Sanduka

Kothi digunakan untuk menyimpan padi dan jowar. Ruangan tersebut dibangun dengan pintu yang besar untuk memasukkan biji-bijian. Keluaran yang kecil dibuat untuk mengeluarkan biji-bijian.

Gambar 3. Kothi Pot tanah liat adalah wadah penyimpan tertutup untuk menyimpan bijibijian dalam jumlah kecil. Pot ini dibuat secara lokal dengan menggunakan tanah liat yang dibakar dengan berbagai bentuk dan ukuran. Pot tanah ditempatkan pada permukaan lantai. Pot tersebut disusun satu di atas yang lain dan dikenal sebagai dokal.

Gambar 4. Dokal Penyimpanan biji-bijian luar ruangan Bangunan bambu digunakan untuk menyimpan padi yang belum ditumbuk dan yang sudah ditumbuk. Gummi adalah bangunan terbuka yang digunakan untuk menyimpan bijibijian. Bangunan ini terbuat dari potongan bambu atau alang-alang yang tersedia secara lokal. Bangunan ini biasanya berbentuk lingkaran atau segienam dan

terplaster dengan lumpur. Pada bagian alas bangunan juga terbuat dari alang-alang atau pada beberapa kasus terbuat dari lempengan batu. Atap bangunan tersebut biasanya terbuat dari jerami longgar. Bangunan tersebut ditempatkan pada panggung yang ditinggikan.

Gambar 5. Gummi Penyimpanan biji-bijian bawah tanah (underground) Hagevu adalah bangunan bawah tanah yang digunakan untuk menyimpan biji-bijian. Bangunan ini merupakan lubang sederhana dengan anyaman jerami untuk mencegah kerusakan akibat kelembaban. Dalam suatu kasus, hagevu dibangun sebagai bangunan dalam ruangan (dengan batu). Setelah bangunan terisi penuh, jerami padi disebar di atasnya sebagai lapisan tebal dan bangunan ditutup dengan plester lumpur. Pada beberapa kasus sebuah kotak kecil atau lingkaran dibuka yang tersedia di bagian atas. Lubang pemasukan terletak diatas permukaan tanah. Keuntungan dari bangunan ini adalah tidak memerlukan pengasapan untuk disinfestasi. Biji-bijian dapat disimpan dalam waktu lama. Metode penyimpanan ini cocok untuk zona agroklimat kering. Metode ini tidak cocok untuk menyimpan benih.

Gambar 6. Hagevu

Hal-hal pokok dari metode penyimpanan tradisional Bangunan bambu diletakkan diatas kayu atau tumpukan batu untuk melindungi biji-bijian dari kerusakan binatang pengerat dan mencegah penyerapan kelembaban dari tanah. Plesteran lumpur yang teratur diperlukan untuk macam-macam

penyimpanan wadah dan struktur dalam ruangan dan luar ruangan untuk meningkatkan masa simpan dan menjamin keamanan biji-bijian. Bangunan yang terbuat dari bahan tradisional seperti bamabu, jerami dan tanaman lainnya yang memungkinkan bebas dari aliran udara. Bangunan penyimpanan tradisional tidak cocok untuk menyimpan bijibijian dalam waktu lama. III. SIMPULAN 1. Secara umum terdapat tiga cara berbeda dalam menyimpan hasil produksi, yaitu penyimpanan dalam ruangan, penyimpanan luar ruangan, dan penyimpanan bawah tanah. 2. Wadah atau tempat penyimpanan biji-bijian dalam ruangan contohnya adalah kanaja, sanduka, kothi, dan dokal. 3. Wadah atau tempat penyimpanan biji-bijian luar ruangan contohnya adalah gummi. 4. Wadah atau tempat penyimpanan biji-bijian dibawah tanah contohnya adalah hagevu. IV. DAFTAR PUSTAKA Channal, Geeta, Shobha Nagnur and Channamma .2003.Indigenous grain storage structures.India. Nanjayyanamath

Haryadi, Yadi dan F.G. Winarno.1983.Penanggulangan Masalah Penyimpanan Bahan Pangan Biji-Bijian Di Daerah Tropis Dengan Cara Pendekatan Baru. Jakarta. Singh, P. K. 2010. A Decentralized And Holistic Approach for Grain Management in India. India.