Anda di halaman 1dari 7

Membuat Kurva-S Manajemen Proyek]

Akhirnya gue mengerjakan Proyek Akhir juga. Apa itu Proyek Akhir? Proyek Akhir itu
Skripsinya Mahasiswa Universitas Negeri Malang yang ambil studi D3. Lalu apa hubungannya
dengan judul post ini?

Nah, begini ceritanya. Judul Proyek Akhir gue 'Studi Perbandingan Biaya dan Waktu
Pelaksanaan Pekerjaan Dinding Menggunakan Batu Bata Ringan Citicon Dengan Batu Bata
Merah Proyek Pembangunan Rumah Dua Lantai Perumahan Araya Kavling 43 & 45, panjang
ya? Karena menurut gue yang panjang itu pasti keren!

Nah, seperti yang tertera dalam judul, gue membahas tentang biaya dan waktu. Untuk
perhitungan biaya proyek, teman-teman dapat membaca di post gue sebelumnya tentang cara-
cara perhitungan RAB (klik disini). Setelah perhitungan RAB, para kontraktor harus meneruskan
pekerjaannya menghitung RAP atau Rencana Anggaran Pelaksanaan. RAP kebutuhan material
dan tenaga secara detail untuk menyelesaikan suatu bangunan, atau dapat juga dimaksud dengan
penjabaran dari RAB (Rencana Anggaran Biaya). Pada umumnya RAB digunakan untuk
mengajukan penawaran pekerjaan borongan, sedangkan RAP digunakan untuk menentukan
jumlah material dan tenaga dalam pelaksanaan pembangunan.

Kemudian setelah jumlah duit berhasil diketahui, maka kontraktor dapat melangkah ke
pembuatan kurva S. Untuk contoh mudahnya saya ambilkan dari proyek yang kapasitasnya kecil
(gue belum dapat persetujuan untuk mempublikasikan RAB, RAP dan kurva S proyek yang gue
gunakan sebagai obyek Proyek Akhir. Sori.).

Tapi sebelum itu, mari kita kenal dulu apa itu kurva S atau dalam bahasa kerennya disebut S-
Curve. Kurva S secara graIis adalah penggambaran kemajuan kerja (bobot ) kumulatiI pada
sumbu vertikal terhadap waktu pada sumbu horisontal. Kemajuan kegiatan biasanya diukur
terhadap jumlah uang yang telah dikeluarkan oleh proyek. Perbandingan kurva 'S rencana
dengan kurva pelaksanaan memungkinkan dapat diketahuinya kemajuan pelaksanaan proyek
apakah sesuai, lambat, ataupun lebih dari yang direncanakan.

Bobot kegiatan adalah nilai persentase proyek dimana penggunaannya dipakai untuk mengetahui
kemajuan proyek tersebut.



Misalnya sebuah proyek memiliki bobot pekerjaan seperti pada tabel di bawah ini.



Maka perhitungan bobot kegiatan (2), beton/dinding adalah:



Setelah mendapatkan bobot kegiatan, selanjutnya adalah membuat tabel -,r ch,rt dan bobot
kegiatan yang didistribusikan ke setiap periode kegiatan. Misalnya, kegiatan beton/dinding akan
dilaksanakan selama enam minggu, maka bobot kegiatan beton/dinding per periode adalah:



Hasil setiap periode dijumlahkan dan selanjutnya bobot per periode ditambahkan periode
sebelumnya sehingga akhir proyek akan mencapai bobot 100 . Selanjutnya, dibuatkan kurva
dengan memplot nilai bobot per periodenya, seperti pada gambar di bawah ini.


klik untuk perbesar


Banyak orang bingung tentang bagaimana mengalokasikan waktu untuk tiap-tiap jenis kegiatan
pekerjaan (dalam gambar tertera bahwa pekerjaan beton/dinding dialokasikan menjadi 6
minggu). Mungkin bagi para ahli manajemen proyek, ini bukan hal yang sulit namun bagi gue
hal ini cukup membuat gue tidak bisa tidur semalaman.

Untuk mengalokasikan waktu dari sebuah pekerjaan kita dapat menggunakan cara volume
pekerjaan dinding keseluruhan harus dibagi dengan kecepatan konstruksi material batu bata
merah, yaitu 6 8 m
2
/hari.

Jika dalam pembuatan %2e Schedule waktu dibagi menjadi per minggu, maka hasil pembagian
volume pekerjaan dengan kecepatan konstruksi harus dibagi dengan tujuh hari dalam satu
minggu.

Misalnya pada contoh proyek pada lantai satu memiliki volume pekerjaan dinding sebesar 51 m
3
.
Maka langkah untuk menghitung alokasi pekerjaan, pertama adalah konversi satuan volume dari
m
3
menjadi m
2
, karena 1 m
3
sama dengan 6,7 m
2
(tebal bata pada umumnya), maka:

51 m
3
x 6,7 341,7 m
2


Kemudian satuan luas yang didapat dari konversi volume pekerjaan dibagi dengan kecepatan
konstruksi dinding menggunakan pasangan batu bata merah:



Jika dalam t2e schedule waktu pelaksanaan didistribusikan menjadi satuan minggu, maka
jumlah hari yang diperoleh harus dibagi dengan tujuh hari:



Jadi jika bobot pekerjaan dinding batu bata merah misalnya 5,787 , maka persentase tersebut
harus dibagi dengan jumlah minggu yang ditemukan. Kemudian hasilnya dimasukkan pada ch,rt
pada t2e schedule dalam satuan persen yang telah ditemukan, yaitu 0,965 .



Nah, sekarang sudah dapat kita ketahui darimana angka 0,965 di gambar t2e schedule di atas
dan bagaimana cara alokasi waktu enam minggu untuk pekerjaan beton/dinding.

Menghitung Kebutuhan Pekerja untuk Pekerjaan Pasangan Dinding

Hasil dari perhitungan yang akan saya jelaskan nantinya akan sangat berpengaruh pada
kecepatan pelaksanaan pekerjaan pasangan dinding dan juga berpengaruh pada biaya yang
dikeluarkan untuk pekerjaan ini. Perhitungan yang saya jelaskan di bawah ini adalah hasil
laporan Proyek Akhir saya yang telah mendapatkan persetujuan dan bimbingan para dosen
Teknik Sipil, khususnya bidang Manajemen Konstruksi, yang berkompeten dalam bidangnya.

Pada post ini saya sajikan dua buah perhitungan, yaitu pekerjaan pasangan dinding menggunakan
bata merah dan dengan menggunakan bata ringan (ALC) dari Citicon. Hal ini dimaksudkan agar
dapat dibandingkan antara keduanya disamping memberikan gambaran umum tentang pekerjaan
pasangan dinding.

Hal-hal yang harus diketahui terlebih dahulu dalam perhitungan ini adalah:
1. Komposisi satu tim pekerja, yang meliputi Mandor, Tukang dan Pembantu Tukang.
2. Kemampuan satu tim pekerja perharinya.
Kedua hal tersebut bisa didapatkan melalui penelitian maupun pengalaman di lapangan.

Pekerjaan Pasangan Dinding Bata Ringan

Satu tim pekerja pasangan dinding menggunakan bata ringan (ALC) terdiri dari 3 tukang dan 2
pembantu tukang. Dari hasil pengamatan didapat:

a) Hari pertama
Tukang 1 4,5 m x 1,5 m 6,75 m`2
Tukang 2 4 m x 1,5 m 6 m`2
Tukang 3 5 m x 1,5 m 7,5 m`2
Total hasil pekerjaan pada hari pertama 20,25 m`2.

b) Hari kedua
Tukang 1 4,8 m x 1,5 m 7,2 m`2
Tukang 2 5,2 m x 1,5 m 7,8 m`2
Tukang 3 5 m x 1,5 m 7,5 m`2
Total hasil pekerjaan pada hari kedua 22,5 m`2.

c) Hari ketiga
Tukang 1 4,2 m x 1,5 m 6,3 m`2
Tukang 2 4 m x 1,5 m 6 m`2
Tukang 3 4,8 m x 1,5 m 7,2 m`2
Total hasil pekerjaan pada hari ketiga 19,5 m`2.

Maka didapatkan rata-rata hasil pekerjaan perharinya 20,75 m`2



Pekerjaan Pasangan Dinding Bata Merah

Satu tim pekerja pasangan dinding terdiri dari 1 tukang dan 2 pembantu tukang. Dari hasil
pengamatan didapat:

a) Hari pertama
Hasil kerja 8 m x 2 m 16 m2
Hasil pekerjaan pada hari pertama 16 m2.

b) Hari kedua
Hasil kerja 6 m x 2 m 12 m2
Hasil pekerjaan pada hari kedua 12 m2.

c) Hari ketiga
Hasil kerja 6 m x 2 m 12 m2
Hasil pekerjaan pada hari ketiga 12 m2.

Maka didapatkan rata-rata hasil pekerjaan perharinya 13,3 m`2



Kesimpulan

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa untuk pekerjaan pasangan dinding
menggunakan bata ringan dapat dikerjakan oleh 0,048 tim perharinya atau dengan kata lain 1 tim
dapat mengerjakan 1 m`2 pekerjaan dalam 0,048 hari.

Begitu pula dengan pekerjaan pasangan dinding menggunakan bata merah, pekerjaan ini dapat
diselesaikan 0,075 tim perharinya atau dengan kata lain 1 tim dapat mengerjakan 1 m`2
pekerjaan dalam 0,075 hari.

Hasil perhitungan ini bersiIat relatiI tergantung kemampuan dan keahlian masing-masing tim
yaitu yang terdiri dari mandor, tukang dan pembantu tukang. Penjelasan di atas dimaksudkan
memberikan gambaran tentang prosedur perhitungan kebutuhan pekerja (tim) dalam pekerjaan
pasangan dinding.

Beri Nilai