Anda di halaman 1dari 9

DERET REAKSI BOWEN Deret Reaksi Bowen adalah derat pembekuan magma yang disusun oleh Norman.

L Bowen dengan dasar pendinginan magma. Hal itu didasarkan pada fakta bahwa sesungguhnya magma tidak langsung membeku semuanya, tetapi untuk membeku membutuhkan proses yang

berlangsung secara bertahap dan perlahan karena magma mengalami penurunan suhu. Namun pada kasus kasus tertentu dapat berlangsung secara cepat. Skema Deret Reaksi Bowen
Deret Diskontinu
Olivine

Deret Kontinu
Ca-Plagioklas

Piroksen
Amfibol

Biotit

Na-Plagioklas

Feldspar Muskovit Kuarsa

Deret Reaksi Bowen memiliki 2 deret, yaitu deret reksi diskontinu dan deret kontinu. Deret diskontinu Deret ini menjelaskan bahwa satu mineral akan berubah menjadi mineral lain pada suhu tertentu. Jadi apabila satu mineral telah terbentuk pada suhu tertentu, mineral tersebut tidak akan ikut bereaksi untuk membentuk mineral lain pada suhu yang lebih rendah (tidak ikut mengkristal pada suhu yang lebih rendah) Deret diskontinu tersusun oleh mineral mineral ferromagnesian silikat sehingga bersifat mafic atau basa. Deret tersebut diawali dengan pembentukan mineral olivine yang terbentuk pada kisaran suhu 1100-1200oC. Namun, apabila magma telah jenuh oleh SiO2, maka yang terbentuk pertama kali adalah Piroksen. Selanjutnya, pada kisaran suhu <1050oC terbentuklah mineral

amfibol (Hornblende). Temperatur magma akan turun seiring dengan proses pembentukan mineral sesuai kehasan temperaturnya. Deret diskontinu akan berakhir pada saat mineral biotit telah mengkristal dimana saat itu Fe dan Mg dalam larutan magma telah habis dipergunakan untuk membentuk mineral.Bila pendinginan berlangsung terlalu cepat, akan terbentuk rim/selubung yang tersusun oleh mineral sesudahnya. Contoh : Piroksen dengan rim Hornblende Deret Kontinu Deret Kontinu diawali dengan pembentukan mineral kelompok plagioklas yang kaya kalsium. Kemudian suhu magma akan turun. Saat itu suhu plagioklas yang sebelumnya telah terbentuk akan ikut bereaksi dengan sisa larutan magma membentuk plagioklas dengan kadar kalsium lebih rendah. Demikian proses tersebut berlangsung secara terus menerus hingga akhirnya terbentuk mineral kelompok plagioklas yang kaya sodium. Deret kontinu akan berakhir pada saat semua Kalsium dan Sodium dalam larutan magma telah habis dipergunakan. Bila pendinginan terlalu cepat, maka plagioklas kaya kalsium akan dikelilingi plagioklas kaya sodium. Apabila kedua deret telah selesai, kandungan Fe, Mg, Ca, dan Na dalam larutan magma telah habis sehingga yang tersisa dalam larutan magma adalah Pottasium, Alumunium, dan Silika. Kemudian Pottasium, Alumunium, dan Silika akan membentuk Ortoklas Pottasium Feldspar pada kisaran suhu , 600-850oC. Selanjutnya pembentukan mineral mika muskovit dapat terjadi apabila tekanan air cukup tinggi pada kisraran suhu 600-650oC. Proses yang terakhir adalah terbentuknya mineral kuarsa karena larutan magma didominasi oleh silika dan oksigen.

KLASIFIKASI BATUAN BEKU Menurut Hamblin & Howard Dasar Klasifikasi a.Komposisi 1. Ada atau tidaknya mineral kuarsa dalam batuan Kuarsa adalah mineral yang banyak terdapat di batuan beku yang bersifat asam (sialic rocks), tapi sedikit berada di batuan beku intermediet dan batuan beku yang bersifat basa (mafic rocks) 2. Komposisi mineral feldspar K-feldspar dan Na-plagioklas banyak terdapat di batuan beku yang bersifat asam (sialic rocks), tapi jarang atau bahkan tidak ditemukan di batuan beku intermediet dan batuan beku yang bersifat basa (mafic rocks). Ciri batuan beku yang bersifat basa adalah keberadaan Ca-plagioklas. 3. Proporsi dan jenis dari mineral ferromagnesian Batuan beku yang kaya mineral ferromagnesian adalah batuan beku yang bersifat basa (sialic rocks), contohnya olivine. Batuan beku yang mengandung sedikit mineral ferromagnesian adalah batuan beku yang bersifat asam (sialic rocks), contohnya kuarsa. Sedangkan batuan beku yang bersifat diantara keduanya adalah batuan beku intermediet, contohnya biotit. b.Tekstur 1. Faneritik, tersusun atas mineral-mineral yang cukup besar dengan ukuran relatif seragam dan dapat dilihat oleh mata telanjang. 2. Forfiritik-Faneritik, tersusun atas mineral-mineral yang besar yang dikelilingi mineral lebih kecil. Namun, keduanya dapat dilihat dengan mata telanjang. 3. Afanitik, tersusun atas mineral-mineral berukuran sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. 4. Forfiritik-Afanitik, tersusun atas mineral-mineral besar yang dikelilingi oleh mineralmineral kecil yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.

5. Glassy, tidak tersusun oleh Kristal. Tersusun semata-mata oleh gelas. 6. Fragmental, tersusun oleh fragmen-fragmen batuan beku hasil letusan gunung berapi. Berdasarkan ukuran, dibedakan menjadi Tuff (ukuran kristal < 4 mm) dan Breccia (ukuran kristal > 4 mm) Cara Penamaan 1. Melihat tekstur batuan tersebut dan menentukan tipe-nya 2. Memeriksa kadar warna (gelap atau terang/cerah), bila berwarna terang sampai abu-abu termasuk sialic rocks, berwarna agak gelap termasuk intermediet rocks, dan berwarna sangat gelap termasuk mafic rocks 3. Memeriksa komposisi dan tipe mineral feldspar, K-feldspar berwarna merah muda, Nafeldspar dan plagioklas berwarna putih atau abu-abu. 4. Memeriksa kadar kuarsa 5. Melihat tabel klasifikasi dan menentukan nama batuan tersebut Contoh Cara Penamaan 1. Bila terdapat batuan yang bertekstur faneritik, mengandung 25 % olivine, 50 % piroksen, 25 % plagioklas, maka dapat disimpulkan (dengan melihat tabel klasifikasi) bahwa kemungkinannya adalah gabbro. 2. Bila terdapat batuan bertekstur faneritik, mengandung 15 % amfibol, 85 % plagioklas, maka kemungkinannya adalah diorite. Kelebihan Klasifikasi ini dapat menunjukkkan jenis magma yang ada saat batuan terbentuk dan kita dapat pula mengetahui sejarah pendinginana magma. Kekurangan Klasifikasi ini belum mencakup batuan-batuan secara lengkap karena ada batuan lain seperti pumice dan obsidian yang tidak tercakup dalam sistem klasifikasi tesebut. Secara fisik atau dengan melihat batuan yang ada secara langsung, kita akan mengalami kesulitan dalam menentukan kadar kuarsa (dalam %).

Tabel klasifikasi batuan beku menurut Hamblin & Howard


K-Feldspar Plagioklas Kuarsa Piroksen Biotit Amfibol Olivine

Asal

Tekstur
AFANITIK FANERITIK RIOLIT GRANIT ANDESIT DIORIT BASAL GABBRO PERIDOTIT

Menurut Russell B. Travis Dasar Klasifikasi a.Tekstur 1. Faneritik, tersusun atas mineral-mineral yang cukup besar dengan ukuran relative seragam dan dapat dilihat oleh mata telanjang. 2. Afanitik, tersusun atas mineral-mineral berukuran sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. 3. Forfiritik, tersusun atas mineral-mineral berukuran besar yang dikelilingi oleh mineral berukuran kecil. 4. Pegmatik, tersusun atas mineral-mineral berukuran besar. 5. Glassy, tidak tersusun oleh kristal. Tersusun semata-mata oleh gelas. 6. Vesikular, memiliki lubang-lubang yang berasal dari gas & uap air yang terperangkap saat proses pendinginan berlangsung. 7. Breccia, tersusun oleh fragmen fragmen batuan beku akibat letusan gunung berapi dengan ukuran >4mm. b.Komposisi Komposisi disusun berdasarkan kandungan unsur silika (SiO2) dan komposisi mineral Feldspar.

Menurut Russel B. Travisi, komposisi dibagi menjadi, 1. Felsik, kaya akan silika dan feldspar. Mengandung 50% hingga lebih dari 70% silika dengan komposisi K-feldspar lebih dari 1/3 dari komposisi feldspar total dan komposisi plagioklas (Na & Ca) feldspar kurang dari 2/3 dari komposisi feldspar total. 2. Intermediet, antara felsik dan mafik. Kandungan silika 55%-65% dengan komposisi plagioklas feldspar lebih dari 2/3 dari komposisi feldspar total.Namun, Na-plagioklas lebih dominan dari Ca-plagioklas. 3. Mafik, kaya akan magnesium dan besi dengan sedikit kandungan silika. Kandungan silika 45%-50% dan Ca-plagioklas lebih dominan. 4. Ultramafik, kaya akan magnesium dan besi dengan kandungan silika sangat sedikit, yaitu kurang dari 45%. Cara Penamaan 1. Menentukan tekstur dari batuan yang ada. 2. Menentukan komposisinya. 3. Melihat tabel klasifikasi dan menentukan nama batuan tersebut. Contoh Penamaan 1. Bila terdapat batuan dengan tekstur faneritik, bersifat felsik, dengan kadar silika 9%, dengan komposisi K-feldspar >2/3, maka nama batuannya adalah Sienit. 2. Bila terdapat batuan dengan tekstuf faneritik, bersifat mafik, dengan kadar silika <10%, dengan komposisi Ca-feldspar >2/3, maka nama batuannya adalah Gabbro. Kelebihan Kita bisa menentukan nama batuan lebih efektif karena kriteria yang ada tidak memerlukan berbagai tahapan. Kekurangan Dalam klasifikasi ini, kita perlu menentukan kadar dari silika maupun feldspar. Namun, hal tersebut sulit dilakukan dengan cara melihat langsung batuan tersebut.

Tabel klasifikasi batuan beku menurut Russel B. Travis


Komposisi Faneritik (mineral utama) Granit (>10% kuarsa, >2/3 K-feldspar) Felsik Sienit (<10% kuarsa, >2/3 K-feldspar) Monzonit (1/3 to 2/3 K-feldspar) Granodiorit (>10% kuarsa, >10% K-spar, >2/3 Intermediet Na-spar) Diorit (<10% kuarsa, <10% K-feldspar, >2/3 Nafeldspar) Mafik Ultramafik Gabbro (<10% kuarsa, >2/3 Ca-feldspar, olivine) Peridotite (pyroxene dan olivine; tidak ada kuarsa atau feldspar) Afanitik Riolit Trachyte Latite Dacit Warna 10 15 20 20

Andesit Basalt

25 50 95

Menurut Fenton Dasar klasifikasi b. Tekstur 1. Coarse-Grained, mineral-mineral penyusun dapat dilihal dengan mata telanjang. 2. Dense or Very Fined Grained, mineral-mineral penyusun tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. 3. Glassy, tidak tersusun oleh kristal. 4. Fragmental, tersusun oleh fragmen-fragmen batuan beku hasil letusan gunung berapi. Selanjutnya, Fenton membagi tiap-tiap jenis tekstur menjadi forfiiritik dan bukan forfiritik. a. Warna dan komposisi 1. Cerah, yang mengandung sedikit mineral ferromagnesian. Dalam klasifikasi ini, Fenton membagi lagi menurut komposisi feldspar, a. Komposisi ortoklas lebih dominan b. Komposisi ortoklas dan plagioklas (ortoklas sebanding plagioklas)

c. Komposisi plagioklas lebih dominan Selanjutnya, Fenton masih membagi lagi berdasarkan ada atau tidaknya mineral kuarsa. 2. Gelap, yang mengandung banyak mineral ferromagnesian. Dalam klasifikasi ini, Fenton membagi lagi berdasarkan ada tidaknya mineral plagioklas. Cara Penamaan 1. Memeriksa tekstur, kemudian menentukan termasuk forfiri atau no forfiri. 2. Melihat warnanya, termasuk cerah atau gelap. Selanjutnya menentukan komposisi feldspar dan ada tidaknya mineral kuarsa ( untuk yang berwarna cerah) dan menentukan ada tidaknya mineral plagioklas (untuk yang berwarna gelap). 3. Melihat tabel klasifikasi dan menentukan nama batuan tersebut. Contoh cara penamaan 1. Bila terdapat batuan dengan tekstur forfiri dilihat dengan mata telanjang, mineral penyusun dapa berwarna cerah dengan komposisi ortoklas lebih dominan dan mengandung kuarsa, maka kemungkinannya adalah granit forfiri. 2. Bila terdapat batuan dengan tekstur forfiri, mineral penyusun dapat dilihat dengan mata telanjang, berwarna cerah, dengann komposisi plagioklas lebih dominan dan tidak mengandung kuarsa, maka kemungkinannya adalah diorit forfiri. Kelebihan Kita akan lebih mudah menentukan kriteria-kriteria dengan cara melihat langsung secara fisik. Kekurangan Banyaknya kriteria membuat klasifikasi fenton terlihat rumit dan memerlukan banyak tahapan.