Anda di halaman 1dari 6

O PEWARNA SINTETIK

Penentuan mutu bahan makanan pada umumnya sangat tergantung pada beberapa
Iaktor diantaranya citarasa, warna tekstur dan nilai gizi. Tetapi sebelum Iaktor-Iaktor
tersebut dipertimbangkan secara Iisual Iaktor warna tampil lebih dahulu dan terkadang
sangat menentukan. Selain sebagai Iaktor yang ikut menentukan mutu, warna juga dapat
digunakan sebagai indikator kesegaran atau kematangan buah. Warna juga dapat
menunjukkan apakah suatu pencampuran atau pengolahan sudah dilakukan dengan baik atau
belum.
FDA mendeIinisikan pewarna tambahan sebagai pewarna, zat warna atau bahan lain
yang dibuat dengan cara sintetik/kimiawi atau bahan alami dari tanaman, hewan atau sumber
lain yang diekstrak, disiolasi, yang bila ditambahkan atau digunakan ke bahan makanan,
obat atau kosmetik, bisa menjadi bagian dari warna bahan tersebut`.
Terdapat lima sebab yang dapat menyebabkan suatu bahan berwarna yaitu :
1. Pigmen yang secara alami terdapat pada hewan maupun tanaman, contoh kloroIil
yang memberi warna hijau.
2. Reaksi karamelisasi yang menghasilkan warna coklat. Reaksi ini akan memberikan
warna coklat sampai kehitaman, contohnya pada kembang gula karamel, atau pada
roti bakar.
3. Reaksi Maillard yang dapat menghasilkan warna gelap, yaitu reaksi antara gugus
amino protein dengan gugus karbonil gula pereduksi. Reaksi ini memberikan warna
gelap misalnya pada susu bubuk yang disimpan lama.
4. Reaksi oksidasi yang menghasilkan warna hitam, misalnya warna gelap atau hitam
pada permukaan buah-buahan yang telah dipotong dan dibiarkan di udara beberapa
waktu.
5. Penambahan zat warna baik zat warna alami (pigmen) maupun sintetik
Bahan pewarna sering ditambahkan dengan tujuan untuk memberi kesan menarik pada
konsumen, memperbaiki warna dari bahan makanan atau untuk memperkuat warna asli dari
bahan bahan makanan tersebut serta menutupi perubahan warna akibat proses pengolahan
dan penyimpanan.
Penggunaan pewarna dalam bahan makanan dimulai pada akhir tahun 1800, yaitu pewarna
tambahan berasal dari alam seperti kunyit, daun pandan, angkak, daun suji, coklat, wortel, dan
karamel. Zat warna sintetik ditemukan oleh William Henry Perkins tahun 1856, zat pewarna ini lebih
stabil dan tersedia dari berbagai warna. Zat warna sintetis mulai digunakan sejak tahun 1956 dan saat
ini ada kurang lebih 90 zat warna buatan digunakan untuk industri makanan. Salah satu contohnya
adalah tartrazin, yaitu pewarna makanan buatan yang mempunyai banyak macam pilihan warna,
diantaranya Tartrazin CI 19140.
Penggunaan bahan pewarna yang aman untuk makanan telah diatur dalam Peraturan
Mentri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 235/MenKes/Per/IV/79, Nomor
239/MenKes/Per/V/85, dan Nomor 722/MenKes/Per/IX/88. Dalam peraturan-peraturan
tersebut telah diatur mengenai pewarna-pewarna yang dilarang digunakan sebagai bahan
tambahan makanan, bahan pewarna yang diizinkan serta batas penggunaannya, termasuk
bahan pewarna alami.



O TARTRAZIN ADALAH
Tartrazin yang memiliki rumus kimia
C16H9N4Na3O9S2 (dikenal juga sebagai
E102 atau FD&C Yellow 5) adalah pewarna
kuning lemon sintetis yang umum digunakan
sebagai pewarna makanan. Tartrazin
merupakan turunan dari coal tar, yang merupakan campuran dari senyawa Ienol, hidrokarbon
polisiklik, dan heterosiklik. Karena kelarutannya dalam air, tartrazin umum digunakan
sebagai bahan pewarna minuman maksimal senyawa ini dalam air jatuh pada panjang
gelombang 4272 nm.
Selain berpotensi meningkatkan hiperaktivitas anak, pada sekitar 1- 10 dari sepuluh
ribu orang, tartrazine menimbulkan eIek samping langsung seperti urtikaria (ruam kulit),
rinitis (hidung meler), asma, purpura (kulit lebam) dan anaIilaksis sistemik (shock).
Intoleransi ini tampaknya lebih umum pada penderita asma atau orang yang sensitiI terhadap
aspirin.
Gejala alergi tartrazine dapat timbul apabila senyawa ini terhirup (inhalasi) atau
ditelan (ingesti). Reaksi alergi yang timbul berupa sesak naIas, pusing, migrain, depresi
pandangan kabur, dan sulit tidur.
Selain itu, menurut The American Academyc oI Pediastrics Committee on Drugs
tartrazine dapat menyebabkan gangguan kesehatan diantaranya tumor di kelenjar tiroid,
Lymphocytic lymphomas, dan kerusakan kromosomal.
Batas penggunaan tartrazin yaitu 100 mg/kg bahan makanan (Depkes, 1998). Menurut
FAO/WHO batas konsumsi perhari atau ADI dari pewarna tartrazine sebesar 7,5 mg/kg BB.
Penggunaan pewarna tartrazine ini diperbolehkan digunakan dengan batas maksimum
300 ppm (Anonim, 1988).

Pada praktikum ini kami melakukan penentuan zat warna sintetik menggunakan serat
wool. Sampel yang kami gunakan yaitu minuman Irutang yang mengandung zat warna
sintetok yaitu tartrazin. Serat wool digunakan untuk analisis warna karena siIatnya yang
dapat mengadsorpsi zat warna baik asam maupun basa. Serat wool mengandung protein
amIoter yang mempunyai aIinitas terhadap asam maupun basa dengan membentuk garam.
Proses yang kami lakukan yaitu pencelupan, dimana pencelupan pada umumnya
terdiri dari melarutkan atau mendispersikan zat warna dalam air atau medium lain, kemudian
memasukkan bahan tekstil ke dalam larutan tersebut sehingga terjadi penyerapan zat warna
ke dalam serat. Penyerapan zat warna ke dalam serat merupakan suatu reaksi eksotermik dan
reaksi keseimbangan. Beberapa zat pembantu misalnya garam, asam, alkali atau lainnya
ditambahkan ke dalam larutan celup dan kemudian pencelupan diteruskan hingga diperoleh
warna yang dikehendaki.
VickerstaI menyimpulkan bahwa dalam pencelupan terjadi tiga tahap :
a. Tahap pertama merupakan molekul zat warna dalam larutan yang selalu bergerak,
pada suhu tinggi gerakan molekul lebih cepat kemudian bahan tekstil dimasukkan ke
dalam larutan celup. Serat tekstil dalam larutan bersiIat negatiI pada permukaannya
sehingga dalam tahap ini terdapat dua kemungkinan yakni molekul zat warna akan
tertarik oleh serat atau tertolak menjauhi serat. Oleh karena itu perlu penambahan zat-
zat pembantu untuk mendorong zat warna lebih mudah mendekati permukaan serat.
Peristiwa tahap pertama tersebut sering disebut zat warna dalam larutan.
b. Tahap kedua molekul zat warna yang mempunyai tenaga yang cukup besar dapat
mengatasi gaya-gaya tolak dari permukaan serat, sehingga molekul zat warna tersebut
dapat terserap menempel pada permukaan serat. Peristiwa ini disebut adsorpsi.
c. Tahap ketiga yang merupakan bagian yang terpenting dalam pencelupan adalah
penetrasi atau diIusi zat warna dari permukaan serat ke pusat. Tahap ketiga
merupakan proses yang paling lambat sehingga dipergunakan sebagai ukuran untuk
menentukan kecepatan celup.
Pada pencelupan serat wol atau poliamida perlu penambahan asam. Pertama-tama
kami mencampurkan sampel minuman dengan benang wol dan asam asetat glasial, disini
asam astat glasial berIungsi menghilangkan atau mengurangi siIat negatiI dari serat atau zat
warna, sehingga zat warna dan serat dapat lebih saling mendekat dan gaya-gaya non polar
dapat bekerja lebih baik. Asam asetat glasial akan menarik zat pewarna dan kemudian akan
diserap oleh benang wol yang telah dicampurkan. Benang wol yang memiliki serat akan
menangkap zat pewarna yang telah terpisah dari minuman tersebut dengan bantuan dari asam
asetat glasial. Pemisahan ini dibantu dengan pemanasan diatas penangas hal ini bertujuan
agar komponen zat warna tidak rusak akibat panas yang berlebihan. Proses pemanasan
mengakibatkan semakin cepatnya pelepasan ikatan senyawa pewarna dengan senyawa
minuman.
Ikatan elektrovalen atau ikatan antara zat warna dan serat yang kedua merupakan
ikatan yang timbul karena gaya tarik-menarik antara muatan yang berlawanan. Dalam air
serat-serat bermuatan negatiI sedangkan pada umumnya zat warna yang larut merupakan
suatu anion sehingga penetrasi akan terhalang.
Untuk pencelupan serat wol dapat digambarkan sebagai berikut :
Gugusan amina dan karboksil pada serat wol di
dalam larutan akan terionisasi. Bila ke dalamnya
ditambahkan suatu asam maka ion hidrogen langsung
diserap oleh wol dan menetralkan ion karboksilat sehingga
serat wol akan bermuatan positiI yang kemudian langsung
menyerap anion asam.
Pada tahap selanjutnya anion zat warna yang
bergerak lebih lambat karena molekul lebih besar akan
masuk ke dalam serat dan mengganti kedudukan anion asam. Hal tersebut mungkin sekali
terjadi karena selain penarikan oleh muatan yang berlawanan juga terjadi gaya-gaya non-
polar.
Benang wol yang telah mengandung zat pewarna itu kemudian ditambahkan dengan
amoniak encer, hal ini bertujuan agar amoniak melarutkan zat pewarna yang telah berada
dibenang wol. Zat pewarna telah larut ditunjukan dengan berubahnya warna benang wol dari
berwarna kuning menjadi putih. Kemudian diukur dengan menggunakan spektroIotometer
uv-vis. Tahapan yang dilakukan yaitu penentuan panjang gelombang serapan maksimum.
Panjang gelombang yang digunakan untuk analisis kuantitatiI adalah panjang gelombang
dimana terjadi absorbansi maksimum. Untuk memperoleh panjang gelombang maksimum
dapat diperoleh dengan membuat kurva hubungan antara absorbansi dengan panjang
gelombang dari suatu larutan baku dengan konsentrasi tertentu. Persamaan garis regresi yang
didasarkan pada harga serapan dan larutan standar yang dibuat dalam beberapa konsentrasi,
paling sedikit menggunakan 5 rentang konsentrasi yang meningkat yang dapat memberikan
serapan linier, kemudian di plot menghasilkan suatu kurva kalibrasi, konsentrasi suatu
sampel dapat dihitung berdasarkan kurva tersebut. Kurva kalibrasi dibuat dengan konsentrasi
0 ppm; 2,5ppm; 5ppm; 7,5ppm; dan 10ppm dengan regresi linier yaitu 0,9999 yang berarti
hukum lamber-beer terpenuhi. Dari hasil pembacaan spektroIotometri uv-vis sampel Irutang
menghasilkan absorbansi 0,055 dengan konsentrasi 0,85 ppm. Sedangkan absorbansi yang
terbaca pada spektroIotometer hendaknya terletak antara 0,2 sampai 0,8 atau 15 sampai
70 jika dibaca sebagai transmitan. Hal ini disebabkan karena kisaran nilai absorbansi
tersebut kesalahan Iotometrik yang terjadi adalah paling minimal.
Hasil konsentrasi 0,85 ppm dapat digunakan untuk menghitung kadar tartrazine dalam
Irutang, yaitu dengan cara:
Kadar tartrazine
konscntus tutuznc husI spckto]otomct
sumpcI ung dgunukun


=
0,85 ppm
15 mI


56,66 mg/kg (liat lagi yaa mba cep satuannya)

Hal ini menunjukkan bahwa kadar tartrazine dalam Irutang tidak melebihi batas penggunaan
tartrazine yaitu 100 mg/kg.

%#%&#
Analisis Kadar Zat Pewarna Kuning Pada Tahu yang Dijual Di Pasar-pasar Medan Tahun
2008 oleh Veronica Margaret Sihombing,
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/14730/1/08E01571.pdI diakses pada tanggal
14 Oktober 2011

Analisis Faktor-Iaktor Risiko Pencemaran Bahan Toksik Boraks dan Pewarna Pada Makanan
Jajanan Tradisional yang Dijual di Pasar-pasar Kota Semarang Tahun 2006 oleh Sri
Sugiyatmi, http://eprints.undip.ac.id/15326/1/SRISUGIYATMIE4B004082.pdI diakses
pada tanggal 14 Oktober 2011

Analisis Rhodamin B Dalam Saos dan Cabe Giling di Pasar Kecamatan Laweyan Kotamadya
Surakarta Dengan Metode KromatograIi Lapis Tipis oleh Paramita Erlin Budianto,
http://etd.eprints.ums.ac.id/1004/1/K100040225.pdI diakses pada tanggal 22 Oktober 2011

Teknik Pencelupan dan Pencapan Jilid 2 Untuk Sekolah Menengah dan Kejuruan oleh
Sunarto, http://dc347.4shared.com/doc/2Qc9HaCI/preview.html diakses pada tanggal 22
Oktober 2011

EIek Samping Pewarna Sintetis Pada Makanan ttp.//www.anakunas.com/2011/04/efek-


samping-pewarna-sintetis-pada-makanan.tml, diakses pada tanggal 22 Oktober 2011