Anda di halaman 1dari 23

Mata Kuliah : Epidemiologi Koordianator M.K : dr. Joy Zeekeon, M.

Kes Kelas : A Kelompok 1

TUGAS PAPER EPIDEMIOLOGI


DIABETES MELLITUS

Disusun oleh : Meydi Pinontoan Siti Nur Asti Abubakar Tria Rafiqah Ambah Sinthia Mangodeng Ailing Lengkong Ni Wayan Karwini Fernando Hengkelare Natalia Pendong Roni Tasugalen Patrisilia Sumondakh Masye Manahampi Alhabsi Umasangaji (09061005) (09061007) (09061008) (09061012) (09061015) (09061018) (09061030) (09061036) (09061038) (09061039) (09061044) (09061053)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS KATOLIK DE LA SALLE MANADO 2011

DIABETES MELLITUS
A. Sejarah
Penyakit kencing manis telah dikenal ribuan tahun sebelum masehi. Dalam manuskrip yang ditulis George Ebers di Mesir sekitar tahun 1550 sMkemudian dikenal sebagai Papirus Ebers, mengungkapkan beberapa

pengobatan terhadap suatu penyakit dengan gejala sering kencing yang member kesan diabetes. Demikian pula dalam buku India Aryuveda 600 SM penyakit ini telah dikenal. Dikatakan bahwa penyakit ini dapat bersifat ganas dan berakhir dengan kematian penderita dalam waktu singkat. Dua ribu tahun yang lalu Aretaeus sudah memberikan adanya suatu penyakit yang ditandai dengan kencing yang banyak dan dianggapnya sebagai penyakit yang penuh rahasia dan menamai penyakit itu diabetes dari kata diabere yang berarti siphon atau tabung untuk mengalirkan cairan dari satu tempat ke tempat lain. Ia berpendapat bahwa penyakit itu demikian ganas, sehingga penderita seolaholah dihancurkan dan dibuang melalui air seni. Cendekiawan Cina dan India pada abad 3 - 6 juga menemukan penyakit ini, dan mengatakan bahwa urin pasien-pasien itu rasanya manis. Willis pada tahun 1674 melukiskan urin tadi seperti digelimangi madu dan gula. Sejak itu penyakit itu ditambah dengan kata mellitus yang artinya madu. Ibnu Sina pertama kali melukiskan gangrene diabetic pada tahun 1000. Pada tahun Von Mehring dan Minkowski mendapatkan gejala diabetes pada anjing yang diambil pancreasnya. Akhirnya pada tahun 1921 dunia dikejutkan dengan penemuan insulin oleh seorang ahli bedah muda Frederick Grant Banting dan asistennya yang masih mahasiswa Charles Herbert Best di Toronto. Tahun 1954-1956 ditemukan tablet jenis sulfonylurea generasi pertama yang dapat meningkatkan produksi insulin. Sejak itu banyak ditemukan obat seperti sulfonylurea generasi kedua dan ketiga serta golongan lain seperti biguanid dan penghambat glukosidase alfa. 1

B. Pengertian
Diabetes mellitus (DM) (dari kata Yunani diabanein, "tembus" atau "pancuran air", dan kata Latin mellitus, "rasa manis") yang umum dikenal sebagai kencing manis. Diabetes mellitus adalah penyakit kronis yang kompleks yang

mengakibatkan gangguan metabolisme karbohidrat, protein, lemak dan berkembang menjadi komplikasi makrovaskuler, mikrovaskuler dan neurologis. (Barbara C. Long) Diabetes mellitus adalah suatu penyakit kronis yang menimbulkan gangguan multi sistem dan mempunyai karakteristik hyperglikemia yang disebabkan defisiensi insulin atau kerja insulin yang tidak adekuat. (Brunner dan Sudart) Diabetes mellitus adalah keadaan hyperglikemia kronis yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan secara bersama-sama, mempunyai karakteristik hyperglikemia kronis tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol (WHO)

C. Klasifikasi
Klasifikasi diabetes mellitus meliputi : 1. Diabetes Mellitus Tipe I (DM Tipe I). Diabetes mellitus tipe 1 dulu disebut insulin-dependent diabetes (IDDM, "diabetes yang bergantung pada insulin"), atau diabetes anak-anak, dicirikan dengan hilangnya sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau Langerhans pankreas sehingga terjadi kekurangan insulin pada tubuh. Diabetes tipe ini dapat diderita oleh anak-anak maupun orang dewasa. Sampai saat ini diabetes tipe 1 tidak dapat dicegah. Diet dan olah raga tidak bisa menyembuhkan ataupun mencegah diabetes tipe 1. Kebanyakan penderita diabetes tipe 1 memiliki kesehatan dan berat badan yang baik saat penyakit ini mulai dideritanya. Selain itu, sensitivitas maupun respons tubuh terhadap insulin umumnya normal pada penderita diabetes tipe ini, terutama pada tahap awal. 2

2. Diabetes Mellitus Tipe II (DM Tipe II) Diabetes mellitus tipe 2 - dulu disebut non-insulin-dependent diabetes mellitus (NIDDM, "diabetes yang tidak bergantung pada insulin") - terjadi karena kombinasi dari "kecacatan dalam produksi insulin" dan "resistensi terhadap insulin" atau "berkurangnya sensitifitas terhadap insulin" (adanya defek respon jaringan terhadap insulin) yang melibatkan reseptor insulin di membran sel. Pada tahap awal abnormalitas yang paling utama adalah berkurangnya sensitifitas terhadap insulin, yang ditandai dengan

meningkatnya kadar insulin di dalam darah. DM Tipe II adalah jenis yang paling banyak ditemukan (lebih dari 90%). Timbul makin sering setelah umur 40 dengan catatan pada dekade ketujuh diabetes mencapai 3 sampai 4 kali lebih tinggi dari pada rata-rata orang dewasa.

3. Diabetes Mellitus Tipe Lain . Ada beberapa tipe diabetes yang lain seperti efek genetik fungsi sel beta, efek genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati, karena obat atau zat kimia, infeksi, sebab imunologi yang jarang dan sindroma genetik lain yang berkaitan dengan DM.

4. Diabetes Mellitus Gestasional Diabetes mellitus gestasional (gestational diabetes mellitus, GDM) juga

melibatkan suatu kombinasi dari kemampuan reaksi dan pengeluaran hormon insulin yang tidak cukup, sama dengan 2 jenis diabetes di beberapa

penelitian ditemukan selama kehamilan, meningkat atau menghilang lenyap setelah persalinan, namun itu hanya penyakit sementara, gestational diabetes bisa merusak kesehatan dari janin atau ibu. Gestational diabetes mellitus (GDM) terjadi di sekitar 2%5% dari semua kehamilan. Hal ini bersifat temporer dan dapat dilakukan terapi tetapi tidak dapat dilakukan karena dapat menyebabkan permasalahan dengan kehamilan, termasuk macrosomia (bayi dengan berat lahir di atas rat-rata), kecacatan dan penyakit jantung sejak dini sehingga diperlukan pengawasan dari pihak tenaga kesehatan selama kehamilan. 3

D. Etiologi
Diabetes tipe I: a. Faktor genetik Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA. b. Faktor-faktor imunologi Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Yaitu otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen. c. Faktor lingkungan Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi selbeta. Diabetes Tipe II Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Faktor-faktor resiko : a. b. c. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th) Obesitas Riwayat keluarga Diabetes Mellitus mempunyai etiologi yang heterogen, dimana berbagai lesi dapat menyebabkan insufisiensi insulin, tetapi determinan genetik biasanya memegang peranan penting pada mayoritas DM. Faktor lain yang dianggap sebagai kemungkinan etiologi DM yaitu : a. Kelainan sel beta pankreas, berkisar dari hilangnya sel beta sampai kegagalan sel beta melepas insulin. 4

b. Faktor faktor lingkungan yang mengubah fungsi sel beta, antara lain agen yang dapat menimbulkan infeksi, diet dimana pemasukan karbohidrat dan gula yang diproses secara berlebihan, obesitas dan kehamilan. c. Gangguan sistem imunitas. Sistem ini dapat dilakukan oleh autoimunitas yang disertai pembentukan sel - sel antibodi antipankreatik dan mengakibatkan kerusakan sel - sel penyekresi insulin, kemudian peningkatan kepekaan sel beta oleh virus. d. Kelainan insulin. Pada pasien obesitas, terjadi gangguan kepekaan jaringan terhadap insulin akibat kurangnya reseptor insulin yang terdapat pada membran sel yang responsir terhadap insulin.

E. Patofisiologi
Insulin merupakan hormon endokrin yang diproduksi dalam sel beta pulau langerhans pada pankreas. Hormon ini berperan utama dalam membolehkan selsel tubuh untuk menyimpan dan menggunakan karbohidrat, lemak, dan protein. Selain itu juga insulin berperan sebagai katalis untuk menstimulasi enzim dan bahan kimia lain untuk produksi energi. Sekresi hormon insulin distimulasi oleh peningkatan kadar glukosa dalam darah yang dihasilkan dari makanan karbohidrat yang dikonsumsi. Sekresi ini terjadi biasanya 10 menit setelah makan. Glukosa merupakan sumber bahan bakar utama untuk reaksi metabolisme energi dalam tubuh. Glukosa ini diperoleh melalui ingesti, glukoneogenesis, dan glikogenolisis. Kadar glukosa dalam darah yaitu sekitar 70 140 mg/dl yang mana dipertahankan dalam batas normal oleh regulasi dari hormon insulin dan glukagon. Defisiensi insulin yang bersifat absolut dan relatif pada diabetes mellitus akan mengakibatkan proses transportasi glukosa dalam darah kedalam sel terganggu, hal ini akan meningkatkan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. Pada diabetes mellitus tipe I hiperglikemia akan mengakibatkan ginjal mengeksresikan glukosa tersebut kedalam urin yang biasanya tidak terjadi, sehingga akan ditemukan glukosa dalam urin atau glukosuria. Peningkatan 5

glukosa dalam urin akan diikuti oleh peningkatan seksresi air sehingga terjadi peningkatan eksresi urin (poliuria). Peningkatan eksresi air melalui urin akan meningkatkan tekanan osmotik koloid plasma sehingga air dalam sel akan tertarik kedalam intravaskuler yang akhirnya air dalam sel berkurang dan pusat rasa haus akan terangsang dan akan membuat klien diabetes mellitus melakukan banyak minum (Polidipsia). Defisiensi insulin absolut pada diabetes mellitus tipe I juga akan mengakibatkan glukosa dalam sel berkurang, sehingga mekanisme lapar terjadi dan membuat klien diabetes ingin makan secara berlebihan (Poliphagia). Selain itu simpanan glukosa yang berkurang dalam sel akan mengganggu proses metabolisme energi, sehingga proses glukoneogenesis dan glikogenolisis dapat terjadi sebagai kompensasi tubuh dalam mendapatkan sumber bahan bakar cadangan untuk metabolisme energi. Proses peningkatan glukoneogenesis akan berakibat pada peningkatan akumulasi hasil akhir metabolisme yang dapat mengganggu fungsi tubuh, seperti zat-zat keton sebagai hasil akhir pemecahan asam lemak. Peningkatan akumulasi zat-zat keton dalam tubuh ini akan mengganggu keseimbangan asam dan basa dan klien pada saat ini jatuh pada kondisi diabetik ketosidosis. Pada diabetes mellitus tipe II hiperglikemia sebagai akibat defisiensi insulin relatif terjadi karena dua faktor utama yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Hiperglikemia terjadi karena insulin yang disekresi tidak mampu untuk mentranspor glukosa kedalam sel, karena reseptor insulin di membran sel jumlahnya berkurang, sehingga glukosa dalam darah tetap tinggi. Selain peningkatan kadar glukosa darah pada diabetes mellitus tipe II juga terjadi peningkatan kadar insulin dalam darah atau dalam batas normal. Hal tersebut terjadi karena hiperglikemia akibat resistensi insulin akan terus menstimulasi sekresi insulin oleh pankreas. Gejala pada diabetes mellitus tipe II berlangsung lambat dan progresif, dan jika klien mengalami gejalanya, hal ini karena kadar glukosanya sangat tinggi. Gejala yang dialami tersebut bersifat ringan yang meliputi kelelahan, iritabilitas, poliuria, polidipsia, luka pada kulit yang lama sembuh, infeksi vagina, dan pandangan kabur. Sedangkan untuk kondisi diabetik ketoasidosis tidak akan 6

terjadi pada klien diabetes mellitus tipe II, karena insulin dengan jumlah adekwat masih mampu mencegah pemecahan lemak dab produksi keton yang menyertainya. meskipun demikian hiperglikemia yang tidak terkontrol akan membuat klien jatuh pada kondisi akut lain berupa sindrom hiperglikemik hiperosmolar nonketotik (HHNK).

F. Manifestasi Klinis
Gejala yang lazim terjadi, pada diabetes mellitus pada tahap awal sering ditemukan : a. Poliuri (banyak kencing) Hal ini disebabkan oleh karena kadar glukosa darah meningkat sampai melampaui daya serap ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotic diuresis yang mana gula banyak menarik cairan dan elektrolit sehingga klien mengeluh banyak kencing.

b. Polidipsi (banyak minum). Hal ini disebabkan pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan banyak karena poliuri, sehingga untuk mengimbangi klien lebih banyak minum.

c. Polifagi (banyak makan) Hal ini disebabkan karena glukosa tidak sampai ke sel-sel mengalami starvasi (lapar). Sehingga untuk memenuhinya klien akan terus makan. Tetapi walaupun klien banyak makan, tetap saja makanan tersebut hanya akan berada sampai pada pembuluh darah.

d. Berat badan menurun, lemas, lekas lelah, tenaga kurang. Hal ini disebabkan kehabisan glikogen yang telah dilebur jadi glukosa, maka tubuh berusaha mendapat peleburan zat dari bagian tubuh yang lain yaitu lemak dan protein, karena tubuh terus merasakan lapar, maka tubuh selanjutnya akan memecah cadangan makanan yang ada di tubuh termasuk yang berada di jaringan otot dan lemak sehingga klien dengan DM walaupun banyak makan akan tetap kurus. 7

e. Mata kabur Hal ini disebabkan oleh gangguan lintas polibi (glukosa sarbitol fruktasi) yang disebabkan karena insufisiensi insulin. Akibat terdapat penimbunan sarbitol dari lensa, sehingga menyebabkan pembentukan katarak.

G. Pemeriksaan Penunjang
1. 2. Glukosa darah sewaktu. Batasnya 200 mg/dl (11 mmol/l) untuk GDS. Kadar glukosa darah puasa. Batasnya 120 mg/ml (7 mmol/l) untuk GDP.

3. Tes toleransi glukosa. Dengan tes ini diabetes mellitus dapat disingkirkan jika terdapat hiperglikemia atau glukosuria tanpa adanya penyebab tipikal (penyakit kronis, terapi steroid) atau saat kondisi pasien memang mengalami glukosuria. Tes ini dilakukan dengan melakukan pemeriksaan GDP kemudian memberikan glukosa oral (2 g/kg untuk anak <3 tahun, 1.75 g/kg untuk anak 3-10 tahun, atau 75 g untuk anak >10 tahun) dan dites dua jam kemudian. Angka GDP di atas 120 mg/dl (6,7 mmol/l) dan GDS 2 jam PP di atas 200 mg/dl (11 mmol/l) merupakan petanda diabetes mellitus.

H. Penatalaksanaan
Semua penderita IDDM membutuhkan terapi insulin. Hanya anak-anak dengan dehidrasi berat, muntah terus-menerus, kelainan metabolik, atau anak dengan penyakit kronis yang membutuhkan perawatan di rumah sakit dengan rehidrasi intravena. Pengobatan pun harus dilaksanakan secara terpadu; orang tua dan anak diajarkan untuk senantiasa mengecek sendiri kadar gula darah, menginjeksi insulin, serta untuk mengenali dan mengobati hipoglikemia. Diperlukan konsultasi ke ahli gizi, ahli diabetes, ahli oftalmologi, serta kadang psikolog. Diet untuk anak dengan IDDM merupakan komponen yang sangat esensial. Tujuan diet pada IDDM ialah menyeimbangkan asupan makanan dengan dosis insulin dan aktivitas dengan cara menjaga kadar glukosa dalam rentang normal. Sebaiknya dapat diperkirakan jumlah karbohidrat yang 8

dikandung dalam suatu makanan terutama bagi yang menggunakan insulin kerja cepat secara injeksi atau pompa ketika makan. Karbohidrat kompleks (mis. Sereal) dapat dikonsumsi sebelum tidur untuk mencegah terjadinya hipoglikemia nokturnal, terutama bagi yang mengkonsumsi insulin dua kali sehari. DM merupakan kelainan metabolisme energi sehingga asupan makanan harus dijaga agar sebisa mungkin membatasi nutrisi yang membutuhkan metabolisme energi. Saat ini makanan yang dianjurkan ialah tinggi serat dan karbohidrat namun rendah lemak. Karbohidrat sebaiknya 50-60% dari total asupan energi, tidak lebih dari 10% dari sukrosa. Lemak harus kurang dari 30% dan protein sebanyak 10-20%. Tidak ada pantangan untuk beraktivitas bagi penderita IDDM, namun kadang setelah melakukan aktivitas berat dapat terjadi hipoglikemia yang meliputi tungkai, menyebabkan sulit berjalan, lari, atau bersepeda. Setelah beraktivitas berat disarankan mengkonsumsi makanan dalam jumlah agak banyak sebelum tidur. Insulin mutlak diperlukan bagi penderita IDDM dengan rute pemberian yang beraneka macam. Januari 2006 lalu US-FDA telah menyetejui penggunaan insulin inhaler untuk dewasa yang diekstrak dari manusia, namun dicabut kembali karena harganya tidak dapat dijangkau semua kalangan. Terdapat tiga golongan insulin secara klinis, yakni short-acting (mis. Regular, soluble, lispro, aspart, glulisine), medium dan intermediate-acting (isophane, lente, dentemir), serta long-acting (ultralente, glargine). (Baca Terapi Insulin untuk Praktek Sehari-hari) Selain insulin, obat-obatan lain yang perlu diwaspadai mengurangi efek hipoglikemik insulin ialah asetazolamid, ARV, asparaginase, fenitoin, isoniazid, diltiazem, diuretik, kortikosteroid, tiasid, estrogen tiroid, kalsitonin, kontrasepsi oral, diazoxide, dobutamin, fenotiazin, siklofosfamid, litium karbonat, epinefrin, morfin, dan niasin. Sedangkan obat yang meningkatkan efek hipoglikemik insulin ialah ACE-inhibitor, alkohol, tetrasklin, penyekat beta, steroid anabolik, piridoksin, salisilat, MAO-inhibitor, mebendazole, sulfonamid, fenilbutazon, klorokuin, klofibrat, fenfluramin, guanethidine, octreotide, pentamidine, dan sulfinpyrazone. 9

I. Komplikasi
a. Komplikasi Akut. Komplikasi akut terjadi jika kadar glukosa darah seseorang meningkat atau menurun dengan tajam dalam waktu relative singkat. 1. Hipoglikemia 2. Ketoasidosis diabetik-koma diabetic 3. Koma Hiperosmoler non ketotik 4. Koma laktoasidosis

b. Komplikasi Kronis 1. Penyakit makrovaskuler adalah karena aterosklerosis. Ini terutama mempengaruhi pembuluh darah besar dan sedang. Pada keadaan kekurangan insulin, lemak diubah menjadi glukosa untuk energi. Perubahan pada sintesis dan katabolisme lemak mengakibatkan peningkatan kadar VLDL (Very Low-Density Lipoprotein) dan LDL (Low-Density Lipoprotein). Oklusi vaskuler dan aterosklerosis dapat menyebabkan penyakit arteri koroner, penyakit vaskuler perifer dan penyakit vaskuler serebral. 2. Penyakit mikrovaskuler terutama mempengaruhi pembuluh darah kecil dan disebabkan oleh penebalan membrane dasar kapiler dari peningkatan kadar glukosa darah secara kronis. Ini menyebabkan diabetic retinopati, neuropati, dan nefropati. 3. Neuropati diyakini disebabkan oleh kerusakan kecepatan konduksi saraf karena konsentrasi glukosa tinggi dan penyakit mikrovaskuler. Neuropati motorik sensorik berperan dalam ulkus dan infeksi kaki dan telapak kaki. Neuropati autonomic berperan dalam kandung kemih neurogenik, impotensi, konstipasi yang berubah-ubah dengan diare, penurunan keringat, gastroenteritis dan hipotensi ortostatik. ( Mirza, 2008 ; Baughman, 2000). 4. Rentan infeksi seperti tuberkulosis paru dan infeksi saluran kemih. 10

5.

Ulkus Diabetikum

J.

Prognosis
Kesehatan penderita usia 75 tahun mempunyai harapan hidup sekitar 10

tahun, oleh karena itu harus diterapi secara agresif seperti pada penderita usia muda untuk menurunkan resiko komplikasi. Bagaimanapun juga harapan hidup penderita lebih pendek, tujuan terapi adalah untuk mengurangi gejala, mencegah komplikasi akut, yang mana terutama terjadi pada penderita lanjut usia. Pada pasien ini, dari anamnesis yang mengarah ke gejala kencing manis hanya didapatkan keluhan poliuri (buang air kecil banyak). Dari pemeriksaan fisik tidak didapatkan pemeriksaan yang mengarah pada gejala diabetes melitus, hanya didapatkan tanda komplikasi diabetes, yaitu infeksi saluran nafas (ronkhi basah halus) dan adanya infeksi saluran kemih (nyeri kostovertebra).

11

TINJAUAN EPIDEMIOLOGI DIABETES MELITUS


A. Diabetes Mellitus Secara Global
Pada tahun 1992, lebih dari 100 juta penduduk dunia menderita DM dan pada tahun 2000 jumlahnya meningkat menjadi 150 juta yang merupakan 6% dari populasi dewasa. Amerika Serikat jumlah penderita Diabetes Mellitus pada tahun 1980 mencapai 5,8 juta orang dan pada tahun 2003 meningkat menjadi 13,8 juta orang. Indonesia menempati urutan keempat dengan jumlah

penderita diabetes terbesar di dunia setelah India, Cina dan Amerika Serikat. Dengan prevalensi 8,4% dari total penduduk, diperkirakan pada tahun 1995 terdapat 4,5 juta pengidap diabetes dan pada tahun 2025 diperkirakan meningkat menjadi 12,4 juta penderita. NO Rangking Negara Tahun 2010 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 India Cina Amerika Serikat Indonesia Jepang Pakistan Federasi Rusia Brazil Italia Banglades Orang Dengan DM (Juta) 31,7 20,8 17,7 8,4 6,8 5,2 4,6 4,6 4,3 3,2 Rangking Negara Tahun 2030 India Cina Amerika Serikat Indonesia Pakistan Brazil Banglades Jepang Filipina Mesir Orang Dengan DM (Juta) 79,4 42,3 30,3 21,3 13,9 11,3 11,1 8,9 7,8 6,7

Tabel Prevalensi Kejadian Diabetes Mellitus Di Beberapa Negara Tahun 2010 dan 2030

12

B. Diabetes Mellitus Di Indonesia


1. Frekuensi Jumlah kasus baru kunjungan rawat inap rumah sakit pada tahun 2007 adalah 28.095 kasus. Keseluruhan DM menyebabkan 4162 kematian atau CFR sebesar 7,02% .Riskesdas tahun 2007 melakukan wawancara dan pemeriksaan kadar gula darah pada sejumlah sampel usia 15 tahun dan diperoleh hasil yaitu prevalensi total DM pada penduduk perkotaan sebesar 5,7 % namun hanya 1,5% yang telah mengetahui dirinya DM sebelum pemeriksaan. Jumlah pasien rawat inap di RS di Indonesia dengan diagnosis DM tahun 2007 sebanyak 56.378 pasien dengan CFR 7,38% ,kasus baru pada rawat jalan sebanyak 28.095 kasus.

2. a.

Distribusi Distribusi menurut orang Berdasarkan proses timbulnya penyakit Diabetes Mellitus dapat disimpulkan bahwa orang yang berisiko mengalami Diabetes Mellitus adalah mereka yang memiliki riwayat Diabetes dari keluarga. Pasien Diabetes Mellitus tipe 2 umumnya dewasa usia 40-an dan mengalami kegemukan (obesitas) dan tidak aktif dan jarang berolahraga. Sedangkan pada Diabetes Mellitus tipe 1 biasanya terdapat pada anak-anak dan remaja , salah satu penyebabnya adalah seringnya mengkonsumsi fast food. Ibu yang melahirkan bayi dengan berat lebih dari 4 kg juga berisiko mengalami Diabetes Mellitus. Apabila dipresentasekan berdasarkan jumlah penderita dengan jumlah penduduk, maka pada usia sebelum 20 tahun angka kejadian DM diperkirakan 0,19% dan diatas usia 20 tahun diperkirakan mencapai 8,6%, sedang pada usia di atas 65 tahun 20,1 %. Bila melihat prosentasi tersebut, bisa dibilang cukup sebesar. Sedangkan untuk jenis kelamin tidak mengalami perbedaan yang signifikan.

b.

Distribusi menurut tempat 8,4 juta orang pada tahun 2000 dan diperkirakan terus meningkat dari tahun ke tahun yaitu sebanyak 21,3 juta orang penderita orang penderita 13

Diabetes Mellitus. Prevalensi DM tertinngi berada pada daerah Kalimantan Barat dan Maluku Utara (11,1%),Riau (10,4%), NAD (8,5%),

NTT(1,8%),dan Papua (1,7%).Hasil ini lebih rendah dibandingkan dengan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 1995 DM sebesar 1,2 %.ttahun 2001 ( 7,5 %), 2003 (14,7%),diperkotaan sebesar 7,2% dipedesaan.

c.

Distribusi menurut waktu. Lamanya seseorang menderita penyakit dapat memberikan gambaran mengenai tingkat patogenesitas penyakit tersebut. Peningkatan angka kesakitan Diabetes Mellitus dari waktu ke waktu lebih benyak disebabkan oleh faktor herediter, life style (kebiasaan hidup) dan faktor lingkungannya. Komplikasi Diabetes Mellitus dengan penyakit lain terkait dengan lamanya seseorang menderita Diabetes Mellitus, semakin lama seseorang menderita Diabetes Mellitus maka komplikasi penyakit Diabetes Mellitus juga akan lebih mudah terjadi.

14

ARTIKEL KASUS DIABETES MELLITUS


Background Dewasa ini, berdasarkan data-data yang di peroleh angka kematian akibat penyakit Diabetes Melitus di dunia semakin meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa penderita DM semakin meningkat dari tahun ke tahun. Di Indonesia sendiri pun jumlah penderita DM semakin tinggi. Hal ini tentunya sangat

mengkhawatirkan dan untuk itu harus lebih di pahami. Dengan alasan inilah maka kami mencoba untuk membahas tentang Diabetes Melitus.

Penderita Diabetes Melitus di Dunia http://ridwanamiruddin.wordpress.com/2007/12/10/epidemiologi-dm-dan-isumutakhirnya/ Pada tahun 1992, lebih dari 100 juta penduduk dunia menderita DM dan

pada tahun 2000 jumlahnya meningkat menjadi 150 juta yang merupakan 6% dari populasi dewasa. Amerika Serikat jumlah penderita Diabetes Mellitus pada tahun 1980 mencapai 5,8 juta orang dan pada tahun 2003 meningkat menjadi 13,8 juta orang. Indonesia menempati urutan keempat dengan jumlah penderita diabetes terbesar di dunia setelah India, Cina dan Amerika Serikat. Dengan prevalensi 8,4% dari total penduduk, diperkirakan pada tahun 1995 terdapat 4,5 juta pengidap diabetes dan pada tahun 2025 diperkirakan meningkat menjadi 12,4 juta penderita. Prevalensi Kejadian Diabetes Mellitus Di Beberapa Negara Tahun 2000 dan 2030 Orang Dengan DM (Juta) 31,7 20,8 17,7 8,4 India Cina Amerika Serikat Indonesia Rangking Negara Tahun 2030 79,4 42,3 30,3 21,3 15 Orang Dengan DM (Juta)

NO

Rangking Negara Tahun 2000 India Cina Amerika Serikat Indonesia

1 2 3 4

5 6 7 8 9 10

Jepang Pakistan Federasi Rusia Brazil Italia Banglades

6,8 5,2 4,6 4,6 4,3 3,2

Pakistan Brazil Banglades Jepang Filipina Mesir

13,9 11,3 11,1 8,9 7,8 6,7

Detikhealth Senin, 09/11/2009 Diabetes Melitus Di Daerah Ternate http://health.detik.com/read/2009/11/09/164052/1238325/763/ternate-kotatertinggi-penderita-diabetes Berdasarkan data yang di peroleh hingga tahun 2009, Ternate memiliki penderita Diabetes yang terbanyak di Indonesia. Yakni sebanyak 11,1 % dari seluruh penderita DM di indonesia. Hal ini di sebabkan oleh faktor genetik, hipertensi, kelainan lemak atau lainnya, menurut ketua persatuan Diabetes Melitus Indonesia (PERSADIA) DR. dr Achmat Rudijanto, SpPD-KEMD.

Rabu, 19 November 2008 Nasional kompas


http://www.kesehatan.kompas.com/read/2008/11/19/14085625/Kasus.Diabetes.Terus. Meningkat.

Kepala Instalasi Pelayanan Pelanggan dan Humas RSUP Persahabatan, Any Reputrawati, di Jakarta, Rabu (19/11) mengatakan, "Meningkatnya penderita diabetes melitus disebabkan oleh peningkatan obesitas, kurang aktivitas fisik, kurang mengkonsumsi makanan yang berserat, merokok, dan tingginya lemak," katanya. Berdasarkan hasil survei tahun 2003, prevelansi diabetes melitus di perkotaan mencapai 14,7 persen dan di pedesaan hanya 7,2 persen. "Jadi kalau jumlah warga DKI Jakarta 9 juta, berarti sekitar 1,25 juta jiwa di antaranya, termasuk anak-anak dan remaja," katanya. 16

Penyakit diabetes melitus saat ini bisa menyerang siapa saja, termasuk anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua. Kurang berolahraga dan sering menkonsumsi makanan tak sehat seperti makanan cepat saji (fast food) bisa memicu penyakit diabetes melitus. Diabetes Mellitus Di Manado Selasa, 05 Oktober 2010, 09:48:00 http://www.manadopost.co.id/index.php?mib=beritarubrik&rb=212 Data Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PPTM)

Kementerian Kesehatan RI tahun 2010 menunjukkan bahwa prevalensi penyakit diabetes mellitus di Sulawesi Utara senilai 8,1 %, jauh di atas angka nasional yaitu 5,7 %. Begitu juga dengan prevalensi TGT (Toleransi Glukosa Terganggu) di Sulawesi Utara senilai 17,3 % jauh di atas angka nasional yaitu 10,2%. Lebih mengkhawatirkan lagi jika kita melihat angka prevalensi Obesitas Umum yaitu 19,1% dan angka prevalensi Obesitas Sentral 31,5%, di mana Sulawesi Utara menduduki rangking pertama jika dibanding provinsi lainnya di Indonesia. Jadi, di Sulawesi Utara banyak orang yang gemuk dan juga banyak orang yang memiliki kadar gula darah tinggi.

Diabetes Mellitus Di Medan Jumat, 15 Oktober 2010, 10:07 http://www.hariansumutpos.com/v2/wp-comments-post.php Medan Penyakit diabetes melitus (DM) masih menjadi ancaman utama bagi masyarakat Kota Medan dan sekitarnya. Kasubag Hukum dan Humas RSUD dr Pirngadi Medan, Edison Perangin-angin mengatakan, manajemen RSUD dr Pirngadi Medan mendata penyakit DM masih menjadi penyakit dengan pasien terbanyak tiap bulannya. Di bulan September saja ada 1.369 pasien rawat jalan, dari jumlah ini terdapat 113 kasus DM baru, terang Edison kepada wartawan, Kamis (14/10).

Diabetes Melitus Di Bali Senin, 12 desember 2010 Bali Post 17

http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=kategoriminggu&kid=24&id= Kesehatan Tidak hanya penyakit infeksi yang patut diwaspadai saat ini, penyakit noninfeksi pun sekarang ini menjadi ancaman tersendiri bagi kesehatan masyarakat. Salah satu penyakit non-infeksi yang memiliki kencederungan meningkat di masyarakat adalah penyakit diabetes mellitus (DM). Di RS Sanglah, kasus DM setiap harinya 50 pasien untuk rawat jalan dan 30-40 pasien untuk rawat inap. Ketua Perkeni Bali sekaligus Dekan FK Unud, Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, Sp.PD (KEMD), menjelaskan, kasus DM di masyarakat sekarang ini jumlahnya terus meningkat. DM merupakan salah satu penyakit yang sangat menguras biaya karena komplikasi. ''DM cenderung menyebabkan komplikasi penyakit jantung dan ginjal yang membutuhkan pengobatan biaya tinggi. Tidak hanya dari segi biaya, risiko terjadi kematian jika tidak ditangani dan diobati juga tinggi,'' ujarnya di sela-sela acara soft opening Pusat Diabetes RS Sanglah/FK Unud pada hari Sabtu 10 desember 2010.

http://www.kedaiobat.co.cc Sabtu 17 april 2010 Penelitian di kelurahan Kayuputih, pulo gadung jakarta timur yang merupakan contoh daerah perkotaan menghasilkan angka kekerapan sebesar 5,6%, sedangkan di daerah pedesaan Jawa Barat sebesar 1,1%. Di Indonesia pasien Diabetes Mellitus tipe 2 merupakan diabetes yang paling banyak ditemukan, Diabetes Mellitus tipe 1 sangat jarang.

PERSI (Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesi) Jumat, 25 Jan 2008 http://www.pdpersi.co.id Hasil penelitian epidemiologi di Jakarta beberapa waktu lalu membuktikan adanya peningkatan prevalensi diabetes melitus dari 1,7 % pada 1982 menjadi 5,7% tahun 1993, yang disusul pada 2001 di Depok (sub-urban Jakarta) menjadi 14,7%. Peningkatan prevalensi diabetes melitus juga terjadi di Makassar yang meningkat dari 1,5 % pada 1981 menjadi 2,9 % tahun 1998 dan 12,5 pada 2005. 18

Pada 2005, daerah semi-urban seperti Sumatera Barat melaporkan prevalensi diabetes mellitus sebesar 5,1% dan Pekajangan (Jawa Tengah) 9,2%. Bali telah meneliti prevalensi beberapa daerah rural dengan hasil antara 3,9-7,2% pada 2004 dan Singaparna tahun 1995 tercatat 1,1%.

1 Desember 2010 Ehsa Blog http://ehsablog.com/diabetes-mellitus-dm.html 8,4 juta orang pada tahun 2000 dan diperkirakan terus meningkat dari tahun ke tahun yaitu sebanyak 21,3 juta orang penderita orang penderita Diabetes Mellitus. Prevalensi DM tertingi berada pada daerah Kalimantan Barat dan Maluku Utara (11,1%),Riau (10,4%), NAD (8,5%), NTT(1,8%),dan Papua (1,7%).Hasil ini lebih rendah dibandingkan dengan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 1995 DM sebesar 1,2 %. Tahun 2001 ( 7,5 %), 2003 (14,7%),diperkotaan sebesar 7,2% dipedesaan.

1 Desember 2010 Ehsa Blog http://ehsablog.com/diabetes-mellitus-dm.html Berdasarkan proses timbulnya penyakit Diabetes Mellitus dapat

disimpulkan bahwa orang yang berisiko mengalami Diabetes Mellitus adalah mereka yang memiliki riwayat Diabetes dari keluarga. Pasien Diabetes Mellitus tipe 2 umumnya dewasa usia 40-an dan mengalami kegemukan (obesitas).dan tidak aktif dan jarang berolahraga. Sedangkan pada Diabetes Mellitus tipe 1 biasanya terdapat pada anak-anak dan remaja , salah satu penyebabnya adalah seringnya mengkonsumsi fast food. Ibu yang melahirkan bayi dengan berat lebih dari 4 kg juga berisiko mengalami Diabetes Mellitus. Apabila dipresentasekan berdasarkan jumlah penderita dengan jumlah penduduk, maka pada usia sebelum 20 tahun angka kejadian DM diperkirakan 0,19% dan diatas usia 20 tahun diperkirakan mencapai 8,6%, sedang pada usia di atas 65 tahun 20,1 %. Bila

19

melihat presentasi tersebut, bisa dibilang cukup sebesar. Sedangkan untuk jenis kelamin tidak mengalami perbedaan yang signifikan.

Jumat, 16 April 2010 http://karikaturijo.blogspot.com/2010/04/DiabetesMellitus.html. Di Indonesia dengan menggunakan kriteria diagnosis cara OsullivanMahan insidensi DMG berkisar antara 1,9-2,6 %. Wijono melaporkan insidensi Diabetes Melitus Gestasional di RSCM berkisar 0,15 %.

KESIMPULAN 1. Diabetes Mellitus merupakan penyebab kematian tertinggi di bagian instalasi rawat inap di rumah sakit di Indonesia 2. Indonesia merupakan negara keempat setelah India, Cina dan Amerika Serikat sebagai penderita penyakit Diabetes Mellitus dengan persentase 8,4 di tahun 2000 dan diperkirakan akan bertambah persentasenya di tahun 2030 sebesarnya 21,3%. 3. Penyebab utama terjadi Diabetes Mellitus dipengaruhi oleh tidak terkontrolnya glukosa darah akibat factor kegemukan, hipertensi, pengetahuan, life style, dan sebagainya. 4. Program Departemen Kesehatan untuk penanggulangan Diabetes Mellitus adalah pemeriksaan kadar gula darah secara gratis bagi sejuta orang. Saran/ Rekomendasi 1. Penanganan penyakit Diabetes Mellitus agar kiranya dapat benar-benar ditangani secara serius, sehingga dapat menurunkan angka kematian akibat penyakit Diabetes Mellitus. 2. Perlu adanya penyuluhan yang lebih responsible tentang pentingnya kontrol gula darah di setiap individu yang mempunyai faktor risiko.

20

DAFTAR PUSTAKA
Nettina, Sandra M. 2001. Pedoman Praktik Keperawatan. Jakarta: EGC. Maulana, Mirza. 2009. Menangani Diabetes Melitus. Yogyakarta : Katahati. Tandra, Hans. 2008. Segala Sesuatu Yang Harus Anda Ketahui Tentang Diabetes. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama Anonim. 2009. Apa Itu Diabetes : Patofisiologi, Gejala Dan Tanda. http://pojoksehat.wordpress.com/2009/12/14/apa-itu-diabetes-patofisiologigejala-dan-tanda.html Diakses 09 Februari 2011 Pada Pukul 16:00. Amiruddin, Ridwan. 2007. Epidemiologi Dm Dan Isu Mutakhirnya. http://ridwanamiruddin.wordpress.com/2007/12/10/epidemiologi-dm-danisu-mutakhirnya/ Diakses 09 Februari 2011 Pada Pukul 16:45 Ulfah, Nurul. 2009. Ternate Kota Tertinggi Penderita Diabetes. http://health.detik.com/read/2009/11/09/164052/1238325/763/ternate-kotatertinggi-penderita-diabetes Diakses 09 Februari 2011 Pada Pukul 17:00 AC. 2008. Kasus Diabetes Terus Meningkat. http://www.kesehatan.kompas.com/read/2008/11/19/14085625/Kasus.Diabe tes.Terus.Meningkat. Diakses 10 Februari 2011 Pada Pukul 15:00 San. 2010. Kesehatan. http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=kategoriminggu&kid=2 4&id=Kesehatan. Diakses 10 Februari 2011 Pada Pukul 15:15 Anonim. 2010. Pengendalian Penyakit Tidak Menular Berbasis Masyarakat di Sulut. http://www.manadopost.co.id/index.php?mib=beritarubrik&rb=212. Diakses 10 februari 2011 Pukul 15:30 Dosh Dosh.2010. Diabetes Mellitus. http://ehsablog.com/diabetes-mellitus-dm.html. Diakses 10 Februari 2011 Pukul 16:00 Admin. 2010.Kedai Obat. http://www.kedaiobat.co.cc Diakses 10 Februari 2011 Pukul 16:00

21

Izn. 2008. Faktor Lingkungan dan Gaya Hidup Berperan Besar Memicu Diabetes. http://www.pdpersi.co.id. Diakses pada 10 Februari 2011 Pukul 16:15
Fikih Mohamad. 2010. Diabetes Mellitus.

http://karikaturijo.blogspot.com/2010/04/DiabetesMellitus.html.Diakses Pada 10 Februari 2011 Pukul 16:20

22