Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang
Skizofrenia merupakan suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak yang belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau"deteriorating") yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik, dan sosial budaya.1 Pada umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari pikiran dan persepsi, serta oleh afek yang tidak wajar (inappropiate) atau tumpul (bluntted). Kesadaran yang jernih (clear consciousness ) dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang kemudian. Skizofrenia lebih sering terjadi pada populasi urban dan pada kelompok sosial ekonomi rendah. Hal ini mungkin disebabkan oleh suatu kecenderungan terpuruk (misal, orangorang pengangguran yang tidak fungsional, berakhir pada lingkungan pinggiran ). Lingkungan yang buruk tidak menyebabkan gangguan ini, meskipun demikian, lingkungan yang buruk dapat menyebabkan penyakit sulit dikendalikan.1 Skizofrenia adalah sama-sama prevalensinya antara laki-laki dan wanita. Tetapi, dua jenis kelamin tersebut menunjukkan perbedaan dalam onset dan perjalanan penyakit. Laki-laki mempunyai onset lebih awal daripada wanita. Usia puncak onset untuk laki-laki adalah 15 sampai 25 tahun; untuk wanita usia puncak sebelum usia 10 tahun atau sesudah 50 adalah 25 sampai 35 tahun. Onset skizofrenia menjadi:2 1. Psikofarmaka
2. Psikoterapi : Psikoterapi Individu, Psikoterapi Keluarga dan Psikoterapi

tahun adalah sangat jarang. Penanganan pasien skizofrenia dibagi secara garis besar

Kelompok. Sebagian besar pasien skizofrenia mendapatkan manfaat dari pemakaian kombinasi pengobatan antipsikotik dan psikoterapi.2

1.2

Batasan Masalah
Referat ini membahas tentang skizofrenia secara umum dan penatalaksanaan

skizorenia secara Psikoterapi.

Bab II Tinjauan Pustaka 2.1 Definisi

Skizofrenia merupakan suatu deskripsi sindroma dengan variasi penyebab (banyak yang belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau deteriorating) yang luas, serta sejumlah akibat yang bergantung pada perimbangan pengaruh, genetik, fisik, dan sosial budaya.1

2.2

Epidemiologi

Di Amerika Serikat prevalensi skizofrenia seumur hidup dilaporkan secara bervariasi terentang dari 1 sampai 1,5 persen; konsisten dengan rentang tersebut, penelitian Epidemiological Catchment Area (ECA) yang disponsori oleh National Institue of Mental Health (NIMH) melaporkan prevalensi seumur hidup sebesar 1,3%. Kira-kira 0,025-0,05 % populasi total diobati untuk skizofrenia dalam satu tahun. Walaupun dua pertiga dari pasien yang diobati tersebut membutuhkan perawatan di rumajh sakit, hanya kira-kira setengah dari semua pasien skizofrenik mendapatkan pengobatan, tidak tergantung pada keparahan penyakit.2 Prevalensi skizofrenia diantara orangtua dari anak-anak skizofrenia adalah kirakira 8 persen, yang mendekati dua kali prevalensi orang tua dari pasien skizofrenik onset dewasa. Skizofrenia jarang di diagnosis pada anak-anak yang kurang dari 5 tahun; gangguan ini sering di diagnosis pada remaja yang baru berusia lebih dari 15 tahun. Gejala biasanya timbul secara perlahan-lahan dan kriteria diagnosis secara bertahap di penuhi dengan berjalannya waktu. Kadang-kadang, onset skizofrenia adalah tiba-tiba dan terjadi pada anak yang sebelumnya baik-baik saja. Skizofrenia juga dapat didiagnosis pada anak-anak yang pernah mengalami kesulitan kronis dan selanjutnya mengalami eksaserbasi yang bermakna.2

2.3

Etiologi

Walaupun penelitian keluarga dan genetik memberikan bukti-bukti yang cukup banyak tentang peranan biologis pada perkembangan skizofrenia, tidak ada petanda

biologis yang spesifik yang telah dikenali, dan mekanisme persis tentang transmisi skizofrenia adalah tidak dimengerti. 3 Skizofrenia secara bermakna adalah lebih menonjol diantara sanak saudara pertama mereka dengan skizofrenia dibandingkan dengan populasi umum. Penelitian adopsi pada pasien skizofrenik onset dewasatelah menunjukkan bahwa skizofrenik terjadi pada sanak saudara biologis bukan pada saudara angkat. Pola transmisi genetik skizofrenia tetap tidak diketahui tetapi, terlihat lebih banhyak beban genetik yang ditemukan pada sanak saudara dari mereka dengan skizofrenia onset anak-anak dibandingkan dengan sanak saudara dengan mereka dengan skizofrenia onset dewasa.3
2.4

Gejala Klinis

Perjalanan penyakit Skizofrenia dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu fase prodromal, fase aktif dan fase residual. Pada fase prodromal biasanya timbul gejalagejala non spesifik yang lamanya bisa minggu, bulan ataupun lebih dari satu tahun sebelum onset psikotik menjadi jelas. Gejala tersebut meliputi : hendaya fungsi pekerjaan, fungsi sosial, fungsi penggunaan waktu luang dan fungsi perawatan diri. Perubahan perubahan ini akan mengganggu individu serta membuat resah keluarga dan teman, mereka akan mengatakan orang ini tidak seperti yang dulu. Semakin lama fase prodromal semakin buruk prognosisnya. Pada fase aktif gejala positif / psikotik menjadi jelas seperti tingkah laku katatonik, inkoherensi, waham, halusinasi disertai gangguan afek. Hampir semua individu datang berobat pada fase ini, bila tidak mendapat pengobatan gejala gejala tersebut dapat hilang spontan suatu saat mengalami eksaserbasi atau terus bertahan. Fase aktif akan diikuti oleh fase residual dimana gejala gejalanya sama dengan fase prodromal tetapi gejala positif / psikotiknya sudah berkurang. Disamping gejala gejala yang terjadi pada ketiga fase diatas, pendenta skizofrenia juga mengalami gangguan kognitif berupa gangguan berbicara spontan, mengurutkan peristiwa, kewaspadaan dan eksekutif (atensi, konsentrasi, hubungan sosial).4 Sebagian besar penderita skizofrenia mengalami psikosis hanya untuk sebagian kecil hidupnya. Yang khas, mereka lebih lama (bertahun-tahun) berada pada fae residual, yaitu fase yang memperlihatkan gambaran penyakit yang ringan. Selama

periode fase residual ini, pasien dapat mengisolasi diri atau menarik diri, dan aneh. Pemikiran dan pembicaraan mereka tidak jelas dan di rasakan oleh orang lain sebagai sesuatu yang aneh dan tidak da[at di mngerti, mereka yakin bahwa mereka mempunyai suatu kekuatan dan sensitivitas khusus dan mempunyai pengalaman mistik dan psikis.4

2.5
III :

Diagnosis

Berikut ini merupakan pedoman diagnostik untuk Skizofrenia berdasarkan PPDGJ Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas)1,9 : i. - thought echo : isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda ; atau - thought insertion or withdrawal : isi yang asing dan luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal) ; dan - thought broadcasting : isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya;1,9 ii. delusion of control : waham tentang dirinya

dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar ; atau - delusion of passivitiy : waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang dirinya = secara jelas merujuk kepergerakan tubuh / anggota gerak atau ke pikiran, tindakan, atau penginderaan khusus) ;

- delusional perception = pengalaman indrawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasnya bersifatmistik atau mukjizat.1,9 iii. Halusinasi auditorik : Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien, atau Mendiskusikan perilaku pasien di antara mereka sendiri (di antara berbagai suara yang berbicara)1,9

iv.

Waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dam kemampuan diatas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau komunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain).1,9

Atau paling sedikit dua gejala di bawah ini yang harus selalu ada secara jelas : v. Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja, apabila disertai bai oeh waham yang menetap ataupun setegah berbentuk tanpa kandunga afektif yang jelas, ataupun disertai ide-ide berlebihan (over valued-ideas) yang metap, atau apabila terjadi berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus berulang ; vi. Arus pikiran yang tertutup (break) atau mengalami sisipan (interpolation), yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme ; vii. Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor ; viii. Gejala-gejala negatif seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan respon emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya

kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika; 1,9 Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodromal). Harus ada suatu perubahan ang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dan beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude), dan penarikan diri secara sosial.2

2.6

Terapi

Psikofarmaka5,6 Obat antipsikotik yang paling lama penggunannya disebut antipsikotik konvensional. lain : 1) Haloperidol 2) Thioridazine 3) Thiothixene 4) Fluphenazine 5) Trifluoperazine 6) Chlorpromazine 7) Pherpenazine Akbat berbagai efek samping yang dapat ditimbulkan oleh antipsikotik Walaupun sangat efektif, antipsikotik konvensional sering menimbulkan efek samping yang serius. Contoh obat antipsikotik konvensional antara

konvensional, banyak ahli lebih merekomendasikan penggunaan newer atypical antipsycotic. Ada 2 pengecualian (harus dengan antipsikotok konvensional). Pertama, pada pasien yang sudah mengalami perbaikan (kemajuan) yang pesat menggunakan antipsikotik konvensional tanpa efek samping yang berarti. Biasanya

para ahli merekomendasikan untuk meneruskan

pemakaian antipskotik konvensional.

Kedua, bila pasien mengalami kesulitan minum pil secara reguler. Prolixin dan Haldol dapat diberikan dalam jangka waktu yang lama ( long acting ) dengan interval 2-4 minggu (disebut juga depot formulations). Dengan depot formulation, obat dapat disimpan terlebih dahulu di dalam tubuh lalu dilepaskan secara perlahan-lahan. Sistem depot formulation ini tidak dapat digunakan pada newer atypic antipsycotic.5,6 Obat-obat yang tergolong kelompok ini disebut atipikal karena prinsip kerjanya berbda, serta sedikit tersedia, antara lain : o Risperdal (risperidone) o Seroquel (quetiapine) o Zyprexa (olanzopine) Para ahli banyak yang merekomendasikan obat-obat ini digunakan sebagai terapi untuk menangani pasien-pasien dengan Skizofrenia. Psikoterapi Psikoterapi adalah terapi kejiwaan yang harus diberikan apabila penderita telah diberikan terapi psikofarmaka dan telah mencapai tahapan di mana kemampuan menilai realitas sudah kembali pulih dan pemahaman diri sudah baik.3 da juga yang mengatakan bahwa Psikoterapi adalah suatu cara pengobatan terhadap masalah emosional seseorang pasien yan dilakukan oleh seseorang yang terlatih dalam hubungan profesional secara sukarela, dengan maksud menghilangkan, mengubah, atau menghambat gejala-gejala yang ada, mengoreksi perilaku yang terganggu dan mengembangkan pertumbuhan kepribadian secara positif.8 Penggolongan psikoterapi secara umum adalah sebagai berikut : Psikoterapi individual menimbulkan efek samping bila dibandingkan dengan antipsikotik konvensional. Beberapa contoh newer atypical antipsycotic yang

Psikoterapi kelompok Psikoterapi keluarga Manajemen kasus Assertive Community Treatment (ACT) 2.7

Psikoterapi Individual

Masalah yang menyebabkan orang datang ke dokter untuk berobat berasal dari 2 kondisi, yang asal kehidupan manusia di masa lalu dan masalah yang tampaknya berasal dari strees dan tekanan pada masa sekarang yang melebihi kemampuan pengendalian secara sadar pasien. Dinamika interpersonal dan intrapsikis sekarang kemungkinan mendapatkan perhatian yang terbesar dalam terapi psikoanalitik, dan mendapatkan perhatian yang lebih kecil dengan rekonstruksi terinci dari kehidupan masa lalu pasien.6 Psikoanalisis dan psioterapi analitik, adalah unik di antara terapi yang ada, memberikan kerangka kerja teoritis dan klinis untuk meneliti perkembangan manusia dari sudut motivasi, impuls, dan konflik perlekatan, keintiman, dan sifat harga diri.6 Berikut beberapa hal mengenai psikoterapi : o Psikoanalisis7 Pikiran dan peran yang berada dalam alam bawah sadar dibawa ke dalam alam sadar. Psikoanalisis menekankan konflik antara dorongan bawah sadar dan pertimbangan moral yang dimiliki pasien terhadap impuls yang ada. Kebutuhan utama untuk melakukan psikoanalisis adalah integrasi yang bertahap material yang sebelumnya direpresi ke dalam struktur yang kepribadian total. Psikoanalisis merupakan proses

berjalam lambat. Bila proses berjalan terlalu cepat, pasien mungkin memandang analisis sebagai trauma yang baru. Tugas analisis pada awalnya adalah untuk mempersiapkan pasien untuk menghadapi material yang menimbulkan kecemasan yang telah diungkapkan.7

Psikoanalisis biasanya membutuhkan waktu antara tiga dan enam tahun kadang lebih lama. Sesi biasanya dilakukan empat atau lebih dalam seminggu, masing-masing selama 45 50 menit. Beberapa metoden dan macam psikoanalisis adalah : 1. Asosiasi Bebas Dalam asosiasi bebas, pasien mengatakan segala sesuatu yang datang ke dalam pikirannya tanpa ada penyensoran.
7

2. Perhatian Mengalir Bebas Jawaban ahli analisis terhadap asosiasi bebas pasien adalah cara mendengarkan yang khusus, yang dinamakan perhatian mengalir bebas.7 3. Aturan Abstinensi Dengan mengikuti aturan abstinensi, pasien mampu menunda pemuasan terhadap keinginan instingual seperti membicarakannya dalam terapi.7 4. Interpretasi Ahli analisis menjelaskan pada pasien tentang interpretasi peristiwa psikologis yang sebelumnya tidak dimengerti oleh pasien atau tidak berarti bagi pasien. 7 5. Transferensi balik Mencakup spektrum luas reaksi ahli analisis dan pasien memiliki komponen bawah sadar yang didasarkan pada konflik yang tidak disadari oleh ahli analisis.7 6. Ikatan terapeutik Suatu hubungan nyata antara ahli analisis dan pasien melibatkan dua orang dewasa yang memasuki kerja sama, dinamakan sebagai ikatan terapeutik atau kerja.7 7. Resistensi

Menurut Freud, gagasan atau impuls bawah sadar akan direpresikan atau dicegah supaya tidak memasuki kesadaran karena hal tersebut tidak dapat diterima lagi bagi kesadaran karena suatu alasan dan perlu diatasi jika analisis berjalan.7 Indikasi utama psikoanalisis adalah konflik psikologis yang berlangsung lama yang telah menimbulkan gejala atau gagasan. Psikoanalisis dianggap efektif dalam mengobati gangguan kecemasan tertentu seperti fobia dan gangguan obsesif kompulsif, gangguan depresi ringan ( gangguan distimik ), beberapa gangguan kepribadian dan beberapa gangguan pengendalian impulsdan gangguan seksual.7 Kontra indikasi untuk psikoanalisis adalah :
Usia : orang dewasa diatas 40 tahun tidak memiliki fleksibiitas untuk

perubahan yang cukup. Calon ideal biasanya dewasa muda.7


Kecerdasan : sebaiknya pasien cukup cerdas unutk dapat bekerja sama.7 Situasi hidup : sedang tidak dalam situasi kesakitan, misalnya masalah

dengan finansial.7
Gangguan kepribadian antisosial7 Keterbatasan waktu : keterbatasan berlaku terutama untuk gejala gawat

darurat dan pada gejala yang tidak dapat ditoleransi lagi oleh pasien. 7
Sifat hubungan : keterbatasan berlaku terutama untuk gejala gawat

darurat dan pada gejala yang tidak dapat ditoleransi lagi oleh pasien. 7
o

Psikoterapi Psikonalatik Psikoterapi psikoanalitik adalah terapi yang didasarkan pada rumusan psikoanalitik yang telah dimodifikasi secara konseptual dan teknik pelaksanaan psikoterapi. Psikoterapi psikoanalitik biasanya tidak menggunakan tempat tidur dan tidak seperti asosiasi bebas dimana pasien tidur , dan lebih memusatkan perhatiannya pada pola dinamika sekarang.7

Tipe terapi ini jauh lebih fleksibel dan lebih sering digunakan bersama sama dengan medikasi psikotropik. Psikoterapi psikoanalitik mengobati sebagian besar gangguan yang ada dalam bidang psikopatologi. Berikut adalah terapi dan macam psikoterapi psikoanalitik : 1. Terapi beroriantasi tilikan Tilikan adalah pengertian pasien tentang fungsi psikologisnya dan kepribadiannya. Terapi berorientasi tilikan adalah terapi yang terpilih untuk seorang pasien yang memiliki kekuatan ego yang adekuat tetapi karena satu dan lain alasan, tidak dapat atau tidak boleh menjalani psikoanalisis.7
2. Psikoterapi Supportif

Disebut juga psikoterapi berorientasi hubungan. Memiliki tujuan untuk memulihkan dan memperkuat pertahanan pasien dan mengintegrasikan kapasitas yang telah terganggu.7 Psikoterapi supportif adalah bagian penting dalam psioterapi supportif. Tujuan pengungkapan tersebut untuk mendapatkan tilikan ke dalam pola dinamika bawah sadar yang dapat memperkuat respon sekarang.7 Beberapa klinisi dan peneliti telah menyadari bahwa kemampuan pasien skizofrenia untuk membentuk ikatan terapeutik dengan ahli terapi dapat memperkirakan hasil akhirnya. Sekurangnya satu penelitian menemukan bahwa pasien skizofrenia yang mampu membentuk ikatan terapeutik yang baik kemungkinan akan tetap mengikuti psikoterapi, tetap patuh pada medikasinya, dan mempunyai hasil akhir yang baik pada pemeriksaan follow-up dua tahun.2
o Psikoterapi Singkat7

Prediktor yang paling bermanfaat untuk keberhasilan adalah motivasi pasien terhadap antara lain : a) Memusatkan perhatian dan memecahkan konflik yang ada,

b) Mampu mengembangkan ikatan terapeutik dan bekerjasama dengan ahli

terapi. Kontraindikasi dari terapi ini adalah usaha bunuh diri yang serius, ketergantungan zat, penyalahgunaan alkohol yang kronis, gejala obsesional, dan tindakan destruktif.7 Berikut adalah macam dan kriteria psikoterapi singkat : a) Psikoterapi terbatas waktu Persyaratan teknisnya : - Pembatasan yang jelas maksimal untuk dua belas sesion ( sesi pertemuan ). - Transferensi positif pada awalnya. - Penentuan dan ketaatan yang kuat pada masalah inti. - Menghindari perkembangan ketergantungan. - Penjelasan pengalaman sekarang, masa lalu dan penolakan.7 b) Pskoterapi dinamik jangka pendek Kriterianya : - Menekankan penilaian fungsi ego. - Menegakkan fokus psikoterapeutik - Kemampuan untuk terlibat di dalam interaksi emosional dengan pemeriksa - Besarnya kemampuan pasien untuk mengalami dan mentolelir kecemasan, rasa bersalah dan depresi. - Motivasi pasien untuk berubah. - Pemikiran psikologis pasien. c) Psikoterapi provokasi kecemasan jangka pendek Kriteria pemilihannya :

Keluhan utama jelas Kemampuan untuk berinteraksi secara fleksibel denga pemeriksa dan mengekspresikan perasaan dengan tepat. Pengalaman psikologis di atas rata-rata. 7

d) Psikoterapi interpersonal Dapat digunakan untuk mengobati gangguan depresif. Pasien diajari untuk menilai secara realistik interaksi mereka dengan orang lain dan menyadari bagaimana mereka mengisolasi diri yang memperberat depresi yang mereka keluhkan.7

2.8

Psikoterapi Kelompok
Adalah terapi dimana orang yang memiliki penyakit emosional yang telah

dipilih secara cermat dan ditempatkan ke dalam kelompok yang dibimbing oleh terapis yang terlatih untuk membantu satu sama lainnya dalam menjalani perubahan kepribadian. Terapi kelompok bertujuan untuk menghilangkan gejala, mengubah hubungan interpersonal dan mengubah dinamika keluarga dengan pasangan spesifik. Terapi kelompok bagi skizofrenia biasanya memusatkan pada rencana, masalah, dan hubungan dalam kehidupan nyata. Kelompok mungkin terorientasi secara perilaku, terorientasi secara psikodinamika atau tilikan, atau supportif. Terdapat suatu keraguan apakah interpretasi dinamik dan terapi tilikan adalah berguna bagi pasien skizofrenia tipikal. Tetapi terapi kelompok adalah efektif dalam menurunkan isolasi sosial, meningkatkan rasa persatuan, dan meningkatkan tes realitas bagi pasien dengan skizofrenia. Kelompok yang memimpin dalam cara yang supportif, bukannya dalam cara interpretatif, tampaknya paling membantu bagi pasien skizofrenia. Adapun adalah : kriteria pemilihan pasien untuk terapi kelompok

- Adanya gangguan kecemasan secara umum. - Adanya kecemasan teman sebaya. - Adanya gangguan kepribadian. Jenis-jenis terapi kelompok antara lain : a. Psikoterapi kelompok suportif Pertahanan yang telah ada diperkuat, aktif dan memberikan nasehat. Tujuan untuk memperbaiki adaptasi dalam lingkungan. b. Psikoterapi kelompok psikodinamika interpersonal. c. Psikoterapi kelompok psikoanalitik Agar proses kelompok dapat berjalan dengan lancar, maka :8 1. 2. 3. 4. 5. Individu harus diterima dengan sebaik-baiknya, sebagaimana ia adanya. Pembatasan yang tidak perlu, dihindarkan. Pernyataan (ekspresi) verbal yang tak tertahankan dibiarkan keluar. Reaksi-reaksi dalm interaksi kelompok dinilai. Pembentukan kelompok harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan para anggota secara perorangan.8

2.9

Psikoterapi Keluarga
Berbagai terapi berorientasi keluarga adalah berguna dalam pengobatan

skizofrenia. Karena pasien skizofrenia seringkali dipulangkan dalam keadaan remisi parsial, keluarga dimana pasien skizofrenia kembali seringkali mendapatkankan manfaat dari terapi keluarga yang singkat tetapi intensif ( setiap hari ). Pusat dari terapi harus pada situasi segeradan harus termasuk mengidentifikasi dan menghindari situasi yang kemungkinan menimbulkan kesulitan. Jika masalah memsang timbul pada pasien di dalam keluarga, pusat terapi harus pada pemecahan masalah yang cepat.2 Di dalam sesion keluarga dengan pasien skizofrenia, ahli terapi harus mengendalikan intensitas emosional dari sesion. Ekspresi emosi yang berlebihan selama satu sesion dapat merusak proses pemulihan pasien skizofrenia dan dapat mengurangi

kemungkinan keberhasilan sesion terapi keluarga selanjutnya. Sejumlah penelitian telah menemukan bahwa terapi keluarga adalah efektif dalam menurunkan relaps. Terapi masing masing penelitian tersebut adalah menggunakan jenis terapi keluarga yang berbeda, dan kelaziman di antara terapi keluarga tersebut adalah tidak jelas. Di dalam penelitian terkontrol penurunan angka relaps adalah dramatik- angka relaps tahunan tanpa terapi keluarga sebesar 25 sampai 50 persen dan 5 sampai 10 persen adalah terapi keluarga.3 Tujuan dari terapi ini adalah:3 o Untuk memecahkan atau menurunkan konflik dan kecemasan Patogenik, o Untuk meningkatkan persepsi dan pemenuhan kebutuhan anggota keluarga lain oleh anggota keluarga. o Untuk meningkatkan hubungan peran yang sesuai antara jenis kelamin dan antara generasi, o Untuk memperkuat kemampuan anggota individual dan keluarga untuk mengatasi tenaga maupun dari luar o Untuk mempengaruhi identitas dan nilai-nilai keluarga. Tetntang cara-cara psikoterapi lainnya yang perli dilakukan dalam hal penatalaksanaan skizofrenia yaitu sebagai berikut : Ventilasi (katarsis) ialah membiarkan pasien mengeluarkan si hati sesukanya. Setelah itu, biasanya ia merasa lega dan kecemasannya tentang sesuatu akan berkurang, karena ia lalu dapat melihat masalahnya dalam proporsi yang sebenarnya.8 Persuasi ialah penerangan yang masuk akal tentang timbulnya gejala-gejala serta baikburuknya atau fungsinya gejala-gejala itu.8 Sugesti ialah secara halus dan tidak langsung menanamkan pikiran pada pasien atau membangkitkan kepercayaan padanya bahwa gejala-gejala akan hilang. Seorang dokter dekstruktif dari dalam

sendiri harus mempunyai sikap yang meyakinkan dan otoritas profesional serta menunjukkan empati. 8 Penjaminan kembali (reassurance) aialah dilakukanmelalui komentar-omentar yang halus atau sambil lalu dan pertanyaan yang hati-hati, bahwa pasien mampu berfungsi secar aadekuat (cuku memadai). 8 Bimbingan ialah memberi nasihat-nasihat yang praktis dan khusus (spesifik) yang berhubungan dengan masalah kesehatan (jiwa) pasienagar ia berkomunikasi, bekerja dan belajar dan sebagainya.8 lebih sanggup mengatasinya, umpamanya tentang cara mengadakan hubungan antar manusia, cara

KESIMPULAN
Skizofrenia merupakan suatu deskripsi sindroma dengan variasi penyebab (banyak yang belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau deteriorating) yang luas, serta sejumlah akibat yang bergantung pada perimbangan pengaruh, genetik, fisik, dan sosial budaya. Penatalaksanaan pasien skizofrenia terdiri dari beberapa bagian diantaranya yaitu psikofarmaka, psikoterapi dan sosioterapi. Psikoterapi adalah suatu cara pengobatan terhadap masalah emosional seseorang pasien yan dilakukan oleh seseorang yang terlatih dalam hubungan profesional secara sukarela, dengan maksud menghilangkan, mengubah, atau menghambat gejala-gejala yang ada, mengoreksi perilaku yang terganggu dan mengembangkan pertumbuhan kepribadian secara positif. Beberapa jenis psikoterapi dapat di bagi secara umum yaitu psikoterapi suportif dan psikoterapi genetik-dinamik.2

Beberapa macam psikoterapi yang dapat digunakan pada pasien skizofrenia yaitu diantaranya adalah teknik perilaku. Teknik perilaku menggunakan hadiah ekonomi dan latihan ketrampilan sosial untuk meningkatkan kemampuan sosial, kemampuan memenuhi diri sendiri, latihan praktis, dan Selain itu, terapi keluarga sangat berperan komunikasi interpersonal. karena pasien skizofrenia seringkali

dipulangkan dalam keadaan remisi parsial, keluraga dimana pasien skizofrenia kembali seringkali mendapatkan manfaat dari terapi keluarga yang singkat namun intensif (setiap hari). Setelah periode pemulangan segera, topik penting yang dibahas didalam terapi keluarga adalah proses pemulihan, khususnya lama dan kecepatannya. saudaranya Seringkali, anggota keluarga, didalam cara yang jelas mendorong sanak

yang terkena skizofrenia untuk melakukan aktivitas teratur terlalu cepat. Rencana yang terlalu optimistik tersebut berasal dari ketidaktahuan tentang sifat skizofreniadan dari penyangkalan tentang keparahan penyakitnya.2 Suatu konsep penting di dalam psikoterapi bagi pasien skizofrenia adalah perkembangan suatu hubungan terapetik yang dialami pasien sebagai aman. Pengalaman tersebut dipengaruhi oleh dapat dipercayanya ahli terapi, jarak emosional antara ahli terapi dan pasien, dan keikhlasan ahli terapi seperti yang diinterpretasikan oleh pasien.

DAFTAR PUSTAKA
1. 2. 3. 4. Maslim R. Diagnosis Gangguan Jiwa: Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III. Jakarta: Kaplan, H., Sadock, Benjamin. Sinopsis Psikiatri: Ilmu Pengetahuan Perilaku Kaplan, H., Sadock, Benjamin. Sinopsis Psikiatri: Ilmu Pengetahuan Perilaku Tomb, A David; 2004; Buku Saku Psikiatri: Gangguan Psikotik
5. Expert Consensus Treatment Guidelines for Schizophrenia: A Guide for Patients

PT. Nuh Jaya, 2003 Psikiatri Klinis Edisi ke-7 Jilid 1. . 1997. Jakarta: Bina Rupa Aksara. Psikiatri Klinis Edisi ke-7 Jilid 2. . 1997. Jakarta: Bina Rupa Aksara. halaman 24 39; Jakarta : EGC Penerbit Buku Kedokteran and Families. www.nmah.com diakses tanggal 8 Mei 2007
6. Schizophrenia. www.merck.com diakses tanggal 8 Mei 2007

7. Martins,

K., 2008, Psikoterapi Skizofrenia, [online], (http://kolelupun-

marthin.blogspot.com/2008/09/psikoterapi.html, diakses tanggal 28 september 2008)


8. Maramis,W.F, Gangguan Persepsi dalam Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa,

Airlangga University press, Surabaya,2004


9. Jati

Agus,2008,Skizofrenia,[online],(http://jatiugm.com, diakses tanggal 9

februari 2008)
10. West Louis Jolyon, encyclopedia of brittania, available at http://www.mentalhealth-matters.com/index.php? option=com_content&view=article&id=96