Anda di halaman 1dari 18

Laporan Resmi Praktikum Kimia Analisis IDENTIFIKASI OBAT

Disusun Oleh: Kelompok/Gelombang: 3/3

1. Iriyanti 2. Desi Sutanti 3. Nita Dwi Indriani 4. Okty Firia I.Z 5. Indra Pradipta

(G1F010051) (G1F010052) (G1F010053) (G1F010054) (G1F010057)

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN FARMASI PURWOKERTO 2011

PERCOBAAN 1 IDENTIFIKASI OBAT

I.

TUJUAN Mahasiswa mampu mengidentifikasi, pemurnian, dan pemisahan suatu senyawa obat dalam sampel menggunakan prinsip analisis kimia kualitatif.

II. ALAT DAN BAHAN A. ALAT Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah tabung reaksi, rak tabung reaksi, pipet tetes, beaker glass, penjepit, pembakar spirtus, korek api, plat tetes, lampu UV, batang pengaduk, dan spatula.

B. BAHAN Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah aquades, larutan H2SO4 pekat, larutan asam, larutan CuSO4, alcohol 70%, larutan NaOH, etanol 75%, larutan FeCl3, iodium, larutan HCl, asam salisilat, theofilin, talk, bolus alba, sulfanilamid, sulfaguanidin, amilum, hexamine, Na benzoat, nipagin, nikotinamida, CTM, vitamin B1, vitamin C, dan senyawa obat campuran zat A.

III. DATA PENGAMATAN 1. Organoleptis Bau Khas Rasa Hambar Pahit Pahit Hambar Bentuk Serbuk halus Serbuk kasar Serbuk kasar Serbuk halus Warna Putih Putih Putih Putih Orange Putih

No Senyawa Obat 1 2 3 4 5 6 Talk

Asam Salisilat Khas Sulfonilamid Amilum Vitamin C Khas Tepung Kecut

Manis-Masam Serbuk kasar Pahit Kristal

Nikoninamida Khas

7 8 9 10 11 12 13 14 15

CTM Hexamin Sulfaguanidin Theofilin Bolus Alba Na Benzoat Nipagin Vitamin B1 Zat A

Khas Khas Khas Khas Khas Khas Khas Khas Khas

Pahit Manis Tawar Pahit Tawar Agak asam Mint-pahit Pahit Pahit

Serbuk halus Kristal Serbuk kasar Serbuk kasar Serbuk halus

Putih Putih Putih Putih Putih

Kristal amorf Putih Serbuk halus Serbuk kasar Serbuk halus Putih Putih Putih

2. Uji Kelarutan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Senyawa Obat Akuades Tidak Larut Tidak Larut Kloroform Tidak larut Larut Etanol 75% Tidak Larut, ada endapan Larut Tidak Larut Larut Tidak Larut Larut Larut Larut Larut Tidak larut Larut

Talk Asam Salisilat Sulfonilamid Amilum Vitamin C

Mengkristal Tidak Larut Larut Larut Larut Larut Larut Tidak larut Tidak Larut Larut Larut Tidak Larut Tidak Larut mengendap Larut Larut Larut Tidak Larut Tidak larut, ada endapan Tidak Larut, ada endapan Tidak Larut, ada endapan

Nikoninamida CTM Hexamin Sulfaguanidin Theofilin

Bolus Alba

12

Na Benzoat

Larut

Larut

13

Nipagin

Larut

Larut

14

Vitamin B1

Larut

Tidak Larut, ada endapan Tidak larut, ada Tidak Larut

15

Zat A

Larut

endapan

Larut

3. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Fluorosensi di bawah sinar UV Senyawa Obat Talk Asam Salisilat Sulfonilamid Amilum Vitamin C Nikoninamida CTM Hexamin Sulfaguanidin Theofilin Aquades Putih Putih Pucat Putih Bening Kuning Bening Bening Bening Putih Putih Bening Hijau Na Benzoat Nipagin Vitamin B1 Zat A kekuningan Bening Bening Bening Bening Bening Bening Abu-abu Bening Putih Etanol 75% Putih Bening Bening Bening Kuning Bening Bening Bening Bening Putih Hijau Kekuningan Bening Putih Kloform Putih Putih keabuan Putih Bening Kuning Putih Bening Bening Bening Putih Putih Kusam

Bolus Alba

12 13 14 15

4.

Uji Pendahuluan a. Golongan Karbohidrat No 1 2 Senyawa Obat Talk Asam Salisilat Warna Putih Pink bening Endapan Karbohidrat -

3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Sulfonilamid Amilum

Bening Kuning Kuning

Vitamin C Nikoninamida CTM Hexamin Sulfaguanidin Theofilin Bolus Alba Na Benzoat Nipagin

Kecoklatan Bening Kuning Bening Putih Kuning Putih Bening Bening Kuning

+ + + -

+ + -

14

Vitamin B1

Kecoklatan Kuning

15

Zat A

kecoklatan

b. Golongan Fenol dan Salisilat No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Senyawa Obat Talk Asam Salisilat Sulfonilamid Amilum Vitamin C Nikoninamida CTM Hexamin Warna Kuning Keruh Ungu Orange Kuning keruh Kuning Merah bata Orange Merah bata Kuning coklat Sulfaguanidin Theofilin Bolus Alba bening Kuning Abu-abu Salisilat + Fenol + -

12 13 14 15

Na Benzoat Nipagin Vitamin B1 Zat A

Kuning coklat Ungu Kuning Hitam

+ -

+ -

c. Golongan Aniline No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Senyawa Obat Talk Asam Salisilat Sulfonilamid Amilum Vitamin C Nikoninamida CTM Hexamin Sulfaguanidin Theofilin Bolus Alba Na Benzoat Nipagin Vitamin B1 Zat A Bau Busuk + + + + + + + + + + + + + -

5. Reaksi Khusus 1. Reaksi Khusus a. Asetol Asam salisilat etanol + H2SO4 pekat panaskan violet Violet

+ air ke dalam tabung reaksi sampai penuh b. Theofilin Theofilin + Iodium c. Asam Benzoat endapan coklat muda

Na-Benzoat + air (panaskan, dinginkan) + FeCl3 + HCL d. Amylum Amylum + Iodium e. Sulfanilamida Sulfanilamida + NaOH + larutan asam f. Nipagin Nipagin + air
panaskan

endapan coklat

tidak larut

hitam

putih, ada endapan bening, endapan putih

putih ungu tua

+ FeCl3 g. Sulfaguanidin

Sulfaguanidin + NaOH + larutan asam + CuSO4 h. Zat A Zat A + air + FeCl3 Zat A + air panaskan putih + FeCl3 ungu
kocok

bening, ada endapan netral bening, sedikit endapan

ungu

Zat A + FeCl3panaskan hitam coklat

No. 1. 2. 3.

Nama Sampel Parasetamol Asam Salisilat Nipagin

Literatur Biru-Violet Ungu Ungu kemerahan coklat

Hasil Percobaan Ungu tua

Zal L (+) (+)

Ungu coklat

(+)

Kesimpulan zat A: a. b. Nipagin Parasetamol

IV.

PEMBAHASAN Analisis kualitatif, yaitu analisis yang berhubungan dengan identifikasi suatu zat atau campuran yang tidak diketahui. Walaupun analisis kualitatif sudah banyak ditinggalkan, namun analisis kualitatif ini merupakan aplikasi prinsip-prinsip umum dan konsep-kosep dasar yang telah dipelajari dalam kimia dasar. Analisis kualitatif senyawa obat membahas tentang identifikasi suatu zat fokus kajiannya adalah unsur apa yang terdapat dalam suatu sampel. Untuk memudahkan dalam suatu identifikasi, sebaiknya senyawa obat yang diidentifikasi ditentukan dahulu struktur kimia organiknya sehingga kita dapat mengetahui golongan unsur, analisis gugus, unsur-unsur penyusun senyawa (C, N, S, P atau halogen) dari senyawa obat, kemudian memudahkan kita untuk mengetahui sifatsifat kimia kimia seperti kelarutan (Auterhoff dan Kovark,1978). Identifikasi senyawa obat yang telah terekstraksi yang diperiksa organoleptiknya meliputi bentuk, bau, rasa dan kelarutan, kemudian di lanjutkan dengan pemeriksaan pendahuluan berupa kelarutan dalam asam dan basa, analisis unsur N, S, dan halogen. Diperiksa gugus fungsinya dan dilanjutkan dengan pemeriksaan khusus untuk golongan senyawa tersebut (Anonim, 2010). Pada praktikum kali ini dilakukan identifikasi terhadap 15 senyawa obat yang memiliki sifat fisika kimia masing-masing, berikut akan dijelaskan sifat-sifat dari masing-masing senyawa obat tersebut: a. Asam Salisilat Asam salisilat mempunyai berat molekul 138,12 gr/mol dan mengandung tidak kurang dari 99,5% dan tidak lebih dari 101,0% C7H6O3, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Pemeriannya hablur putih, biasanya berbentuk jarum halus atau serbuk hablur halus, putih, rasa agak manis, tajam, dan stabil di udara. Bentuk sintesis warna putih, tidak berbau. Jika dibuat dari metil salisilat alami dapat berwarna kekuningan atau merah jambu dan berbau lemah mirip

etanol. Kelarutannya sukar larut dalam air dan dalam benzena, mudah larut dalam etanol dan eter, larut dalam air mendidih, agak sukar larut dalam kloroform. Berat molekulnya 138,1 gram/mol dan memiliki titik lebur antara 158-161C. Sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup baik. Khasiatnya untuk keratolitikum dan anti fungi. b. Sulfanilamid Sulfanilamide mempunyai berat molekul 172,21 gr/mol dan mengandung tidak kurang dari 99,0% C6H8N2O2S, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Pemeriannya hablur, serbuk hablur atau butiran, putih, tidak berbau, rasa agak pahit kemudian manis. Larut dalam 200 bagian air, sangat mudah larut dalam air mendidih, agak sukar larut dalam etanol 95%, sangat sukar larut dalam kloroform, dalam eter dan dalam benzene, mudah larut dalam aseton, larut dalam gliserol, dalam asam klorida dan dalam alkali hidroksida. Titik leburnya antara 164,5o-167o C. Sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup baik dan terlindung cahaya. Khasiatnya sebagai antibakteri. c. Sulfaguanidin Sulfaguanidin memiliki berat molekul 232,26 gr/mol dan mengandung tidak kurang dari 99,0% C7H10N4O2S, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Pemeriannya hablur atau serbuk, putih, tidak berba atau hampir tidak berbau, oleh pengaruh cahaya lambat laun warna berubah menjadi gelap. Mudah larut dalam air mendidih dan dalam asam mineral encer, sukar larut dalam etanol 95% dan dalam aseton, sangat sukar larut dalam air, praktis tidak larut dalam larutan alkali hidroksida. Suhu leburnya antara 190-192,5oC dengan berat molekul 232,2 gr/mol. Sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup baik dan terlindung dari cahaya. Khasiatnya sebagai antibakteri.

d. Parasetamol Parasetamol mempunyai berat molekul 151,16 gr/mol dan mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 101,0% C8H9NO2, dihitung terhadap zat anhidrat. Pemeriannya serbuk hablur, putih, tidak berbau, rasa sedikit pahit. Kelarutannya larut dalam air endidih dan dalam natrium hidroksida 1 N, mudah larut dalam etanol.Titik leburnya antara 168o-172o C. Sebaiknya disimpan di dalam wadah tertutup rapat tidak tembus cahaya. Khasiatnya untuk antipeuretik dan analgetik. e. Nipagin Nipagin memiliki rumus kimia berupa C8H8O3 dengan berat molekul sebesar 152,2 gr/mol. Pemeriannya serbuk hablur halus, putih, hampir tidak berbau, tidak mempunyai rasa, kemudian agak membakar diikuti rasa tebal. Larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian air mendidih, dalam 3,5 bagian etanol 95% dan dalam 3 bagian aseton, mudah larut dalam eter dan dalam larutan alkali hidroksida, larut dalam 60 bagian gliserol panas dan 40 bagian minyak lemak nabati panas, jika didinginkan larutan tetap jernih, dan titik leburnya antara 125o-128o C. f. Nikotinamida Nikotinamida mempunyai berat molekul

122,13 gr/mol dan mengandung tidak kurang dari 98,5% dan tidak lebih dari 101,0% C6H6N2O, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Pemeriannya serbuk hablur, putih, tidak berbau atau hampir tidak berbau, rasa pahit.Mudah larut dalam air dan dalam etanol 95%, larut dalam gliserol. Titik leburnya antara 128o-131oC. Sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup rapat. Khasiatnya untuk antipelagra.

g. Hexamine

Hexamin mempunyai berat molekul 140,19 gr/mol dan mengandung tidak kurang dari 99,0% C6H12N4 dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan di atas fosforpentoksida selama 4 jam. Pemeriannya hablur, mengkilap, tidak berwarna atau serbuk hablur putih, tidak berbau, tidak membakar dan manis kemudian agak pahit. Jika dipanaskan pada suhu lebih kurang 260o C menyublim. Larut dalam 1,5 bagian air, dalam 12,5 ml etanol 95% dan dalam lebih kurang 10 bagian kloroform. Sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup baik.Khasiatnya untuk antiseptik saluran kemih. h. CTM Klorfeniramina maleat memiliki rumus

molekul C16H19ClN2C4H4O4 dan berat molekul 390,87 gr/mol. Mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 100,5%

C16H19ClN2C4H4O4, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Pemeriannya serbuk hablur, putih tidak berbau, rasa pahit.Larutan mempunyai pH antara 4 dan 5.Mudah larut dalam air, larut dalam etanol dan dalam kloroform, sukar larut dalam eter dan dalam benzena. Titik leburnya antara 130o-135o C. Sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup rapat tidak tembus cahaya. Khasiatnya sebagai antihistamin. i. Na Benzoat Na-benzoat mempunyai berat molekul 144,11 gr/mol dan mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih dari 100,5% C7H5NaO2, dihitung terhadap zat anhidrat. Pemeriannya berbentuk granul atau serbuk hablur, putih, tidak berbau atau praktis tidak berbau, dan stabil di udara. Kelarutnya mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol, dan lebih mudah larut dalam etanol 90%. Sebaiknya na-benzoat disimpan dalam wadah tertutup baik. Khasiatnya untuk zat pengawet.

j. Amilum Pemeriksaan organoleptik amilum berupa

bubuk putih, tidak berasa dan tidak berbau. Kelarutan amilum yaitu praktis tidak larut dalam air dingin dan etanol. Pada amilum ada dua macam ikatan glikosidik karena amilum mempunyai dua komponen., yaitu -amilosa dan amilopektin. oleh Monomer-monomer ikatan 1,4 glukosa pada -amilosa pada dihubungkan -glikosidik,

sedangkan

amilopektin, yang merupakan rantai cabang amilum, ikatannya adalah 1,6 -glikosidik. k. Theofilin Theofilin memiliki rumus molekul C7H8N4O2 dan berat molekul 198,18 gr/mol. Mengandung satu molekul air hidrat atau anhidrat serta tidak kurang dari 97,0% dan tidak lebih dari 102,0%

C7H8N4O2, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Pemeriannya serbuk hablur, putih, tidak berbau, rasa pahit, stabil di udara. Theofilin sukar larut dalam air, tetapi lebih mudah larut dalam air panas, mudah larut dalam larutan alkil hidroksida dan dalam ammonium hidroksida, agak sukar larut dalam etanol, dalam kloroform dan dalam eter. Titik leburnya antara 270-274 oC. Sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup rapat tidak tembus cahaya. Khasiatnya untuk spasmolitikum bronkial. l. Talk Talk adalah magnesium silikat hidrat alam, kadang-kadang

mengandung sedikit aluminum silikat. Pemeriannya serbuk hablur sangat halus, putih atau putih kelabu. Berkilat, mudah melekat pada kulit dan bebas butiran. Tidak larut dalam hampir semua pelarut. Sebaknya disimpan dalam wadah tertutup baik. Khasiatnya sebagai zat tambahan.

m. Bolus Alba Bolus alba atau kaolin ringan adalah alauminium silikat hidrat alam, bebas dari sebagian besar cemaran dengan cara elutriasi dan dikeringkan, mengandung zat pendispersi yang sesuai. Pemeriannya serbuk, putih, ringan, tidak mengandung butiran kasar, tidak atau hampir tidak berbau. Praktis tidak larut dalam air dan dalam asam mineral. Sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup baik. Khasiatnya sebagai bahan tambahan (penyerap). n. Vitamin B1 Tiamina Hidroklorida

mengandung tidak kurang dari 98,0% 101,0% dan tidak lebih dari

C12H17ClN4OS.HCl,

dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Pemerian Hablur

kecil atau serbuk hablur;putih;bau khas lemah mirip ragi;rasa pahit. Mudah larut dalam air.Sukar larut dalam etanol (95%); praktis tidak larut dalam eter dan dalam benzene; larut dalam gliserol. Keasamankebasaan pH larutan 1% b/v 2,7 sampai 3,4. Penyimpanan dalam wadah tertutup baik, terlindungi dari cahaya. Khasiat dan penggunaan sebagai antineuritikum; komponen vitamin B kompleks. o. Vitamin C Asam Askorbat mengandung tidak kurang dari 99,0% C6H8O6. Pemerian Serbuk atau Hablur; putih atau agak kuning; tidak berbau; rasa asam.Oleh pengaruh cahaya lambat laun menjadi gelap. Dalam keadaan kering,mantap di udara, dalam larutan cepat teroksidasi. Mudah larut dalam air; agak sukar larut dalam etanol (95%); praktis tidak larut dalam kloroform, dalam eter dan dalam benzene. Suhu lebur kurang lebih 190. Penyimpanan dalam wadah

tertutup rapat, terlindungi dari cahaya. Khasiat dan penggunaan sebagai antiskorbut (Anonim,1979). Pada analisis identifikasi obat secara kualitatif kali ini dilakukan dengan pengujian-pengujian, diantaranya adalah : 1. Uji Organoleptik Pengujian ini dilakukan untuk mengidentifikasi rasa, bau dan warna obat dengan cara dilihat, dibaui dan dirasakan. Tekstur kehalusan obat diamati dengan cara diraba dengan ujung jari.

2.

Uji Kelarutan Pengujian ini dilakukan dengan melarutkan bahan obat

menggunakan pelarut organik (akuades) dan pelarut anorganik (etanol 70% dan kloroform) dalam plat tetes. Obat yang larut dalam akuades yaitu amilum, vitamin C, CTM, nikotinamida, hexamine, bolus alba, Na benzoate, nipagin dan zat A. Obat yang larut etanol 75% yaitu asam salisilat, amilum, CTM, nikotinamida, hexamine, sulfaguanidin, bolus alba, Na benzoate, nipagin dan zat A.sedangkan yang larut dalam kloroform adalah asam salisilat, amilum, CTM, hexamine, dan sulfaguanidin. 3. Uji Fluoresensi Sediaan serbuk dilarutkan dengan akuades kemudian dilihat di bawah lampu UV warna yang muncul dari masing-masing larutan zat diamati dan dicatat. 4. Analisis Pendahuluan Percobaan pendahuluan kimia meliputi kelarutannya dalam asam dan basa. Pada analisis unsur diperiksa kehadiran nitrogen, sulfur dan halogen. Berikut adalah analisis pendahuluan yang dilakukan terhadap beberapa bahan obat: a. Nipagin : termasuk golongan aniline karena jika ditambahkan NaOH dan etanol dan dipanaskan akan tercium bau busuk.

b.

CTM : tidak termasuk golongan karbohidrat, fenol atau salisilat karena tidak menunjukan perubahan jika ditambahkan NaOH, FeCl3 ataupun etanol.

c.

Amilum : ditambah larutan NaOH kemudian dipanaskan, maka akan terbentuk warna kuning. Hal tersebut menunjukkan amilum termasuk golongan karbohidrat.

d.

Theofilin : termasuk golongan anilin karena jika ditambahkan NaOH dan etanol dan dipanaskan akan tercium bau busuk.

e.

Bolus alba : ditambah NaOH dan etanol kemudian dipanaskan akan menunjukkan berbau busuk hal ini menunjukkan bahwa bolus alba termasuk golongan anilin.

f.

Sulfanilamid

: ditambah NaOH dan etanol kemudian dipanaskan

akan menunjukkan berbau busuk hal ini menunjukkan bahwa sulfanilamid termasuk golongan anilin. g. Talk : ditambah NaOH dan etanol kemudian dipanaskan akan menunjukkan berbau busuk hal ini menunjukkan bahwa talk termasuk golongan anilin. h. Hexamin : bila ditambah NaOH dan etanol akan tercium bau gas atau bau formaldehid. i. Asam salisilat : termasuk dalam golongan salisilat dan aniline karena bila senyawa ditambahkan FeCl3 akan terjadi warna ungu biru dan jika ditambahkan NaOH dan etanol akan tercium bau busuk. j. Parasetamol : zat ini termasuk dalam golongan aniline yang diidentifikasi dengan cara, zat ditambah NaOH dan ethanol kemudian dipanaskan untuk mempercepat reaksi karena dapat menurunkan energi aktivasi sehingga akan tercium bau busuk menandakan adanya turunan amina aromatis. Termasuk golongan fenol juga karena jika ditambahkan FeCl3 berubah warna ungu-biru. k. Nikotinamida : bila ditambah NaOH dan etanol kemudian dipanaskan akan tercium bau busuk. Namun, prosedur identifikasi yang seharusnya dilakukan untuk bahan ini adalah dengan didihkan

sebanyak 100 mg dengan 1 ml natrium hidroksida 2 N maka akan tercium bau amoniak. l. Sulfaguanidin : Untuk mengidentifikasi bahan senyawa ini adalah dengan cara ditambah NaOH encer kemudian dinetralkan dengan asam, disini menggunakan HCl encer, dan ditambah larutan CuSO4 dan kocok, amati warna yang terjadi. Apabila zat ini ditambah NaOH tidak larut lalu didihkan maka akan tercium bau amoniak. m. Natrium benzoate : tidak termasuk golongan fenol maupun salisilat, karena bila ditambah akuades kemudian dapanaskan dan setelah dingin ditambah FeCl3 menghasilkan endapan kuning kecoklatan. 5. Reaksi Khusus a. Nipagin : diidentifikasi dengan cara ditambah akuades kemudian dipanaskan setelah itu dibiarkan sampai dingin lalu FeCl3 maka akan memberikan hasil berupa warna ungu dan lama-kelamaan akan berubah menjadi warna coklat. b. Amylum : diidentifikasi dengan menambahkan larutan yodium maka akan terbentuk warna ungu. c. Asam salisilat : ditambahkan 1-2 tetes besi (III) klorida dan dipanaskan akan berubah warna menjadi warna violet. d. Parasetamol : sejumlah zat dilarutkan dalam akuadest dan ditambah 1 tetes larutan FeCl3, akan berubah warna biru violet. e. Sulfaguanidin : zat ditambah larutan NaOH kemudian dinetralkan dengan HCl, ditambah larutan CuSO4 dan dikocok agar homogen, kemudian akan terbentuk endapan putih dan larut biru. Hal ini menunjukkan sulfaguanidin termasuk golongan sulfa. Hasil vs Pustaka Setelah dibandingkan dengan pustaka, ada beberapa hasil pengamatan organoleptic yang tidak sesuai. Asam salisilat seharusnya tidak berabu dan rasanya manis. Sulfanilamide seharusnya berupa serbuk hablur butiran, berwarna putih, tidak berbau, dan rasanya pahit kemudian manis. Sulfaguanidin berupa serbuk putih dan tak berbau. Nipagin berbentuk hablur

halus putih, tidak berbau, dan rasanya tidak berasa yang kemudian terasa membakar. Nikotin berupa serbuk hablur dan hampir tidak berbau. Hexamine berbentuk hablur mengkilap, tidak berbau, dan rasanya manis kemudian pahit. CTM seharusnya tidak berbau. Na Benzoat berupa granul / serbuk hablur dan tidak berbau. Amilum tidak berasa dan tidak berbau. Theofilin rasanya pahit, berupa serbuk hablur, dan tidak berbau. Talk berbentuk serbuk halus, putih kelabu. Bolus alba berupa serbuk, warna putih dan tidak berbau. Vitamin B1 seharusnya berbentuk serbuk putih, bau khas dan rasanya pahit. Vitamin C berupa serbuk putih agak kuning, tidak berbau, dan rasanya asam (Anonim, 1995). Selain yang disebutkan disini berarti hasil pengamatan organoleptiknya sudah sesuai dengan pustaka. Hasil pengamatan untuk uji kelarutan juga ada beberapa yang tidak sesuai dengan pustaka. Beriku tpenjelasannya. Asam salisilat agak sukar larut dalam kloroform dan mudah larut dalam etanol. Sulfnilamid harusnya larut dalam air, sukar larut dalam etanol, dan sangat sukar larut dalam kloroform. Sulfaguanidin sukar larut dalam etanol dan sangat sukar larut dalam air. Na Benzoat sukar larut dalam etanol. Amilum praktis tidak larut dalam akuades, etanol, dan kloroform. Theofilin tidak larut dalam air, etanol, dan kloroform. Talk tidak larut dalam semua pelarut. Bolus alba tidak larut dalam air. Vitamin B1 larut dalam air, tetapi tidak larut dalam etanol. Vitamin C larut dalam air, tapi tidak larut dalam kloroform (Anonim, 1995). Selain yang disebut kan disini, data percobaan sudah sesuai dengan pustaka. Kendala- kendala dalam praktikum : 1. Kurangnya alat yang disediakan, seperti tabung reaksi. jadi memakan waktu yang lebih lama pada praktikum kali ini. 2. Tidak tersedianya semua bahan yang dibutuhkan, sehingga tidak semua uji kita lakukan karena keterbatasan bahan tersebut.

V.

Kesimpulan
Pada praktikum kali ini dilakukan identifikasi terhadap 15 senyawa obat yang memiliki sifat fisika kimia masing-masing. Senyawa obat yang digunakan antara lain adalah Asam salisilat, Talk ,Theofilin,

Sulfaguanidin, Nipagin, Nikotinamida, CTM, Hexamine, Sulfonilamid, Na Benzoat, Amilum, Bolus Alba, Vitamin C, Vitamin B1, dan Zat A. Prosedur percobaan dilakukan adalah uji organoleptis, uji kelarutan, uji fluoresensi, reaksi pendahuluan (golongan karbohidrat, golongan fenol dan salisilat, dan golongan aniline), dan reaksi khusus (asetosal, parasetamol, theofilin, asam benzoate, amilum, sulfanilamide, nipagin, dan

sulfaguanidin). Zat A merupakan campuran dari parasetamol dan nipagin karena pengujian Zat A dengan Uji untuk parasetamol hasilnya adalah positif yaitu berwarna ungu, dan uji untuk nipagin hasilnya adalah positif yaitu berwarna ungu yang jika didiamkan akan berubah menjadi warna coklat.

VI. DAFTAR PUSTAKA Anonim.1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. Anonim.1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. Anonim. 2010. Konsep Dasar Analisis Kualitatif. www. dokterkimia. com. Diakses tanggal 9 Oktober 2011. Autherhoff, H. dan Kovark.1987. Identifikasi Obat Terbitan ke-empat. ITB. Bandung.