Anda di halaman 1dari 3

MELIOIDOSIS Soeharsono. Zoonosis: penyakit menular dari hewan ke manusia.

Hal: 52-55 SYNONIM: pseudoglanders Pendahuluan Melioidosis atau pseudoglanders merupakan penyakit pada hewan da manusia yang dapat bersifat ringan, kronik, atau septikemik. Penyakit ini ditemukan pada tahun 1911 sebagai penyakit yang bersifat fatal. Semula, penyakit ini hanya ditemukan di kawasan Asia Tenggara dan merupaka ancaman serius bagi tentara Amerika di kawasan Asia Tenggara. Penyakit ini juga ditemukan secara endemik di Australia Utara dan Afrika Tengah. Setiap tahun diperkirakan terdapat 2000- 5000 kasus pada manusia di Thailand, 120 orang di Singapura, dan antara 20-50 orang di Australia Utara. Negara lain yang dilaporkan ada melioidosis adalah Papua New Guinea, Perancis dan Nigeria. Jenis hewan yang peka terhadap melioidosis adalah satwa primata, sapi, domba, kambing, babi, anjing, kucing, dan rodensia. Lingkungan yang disukai oleh agen penyakit adalah tanah berair. Oleh karena , penyakit ini cenderung terjadi pada musim hujan, terutama pada waktu petani bekerja di sawah untuk menanam padi. Petani termasuk mempunyai resiko tinggi tertular melioidosis. Kasus melioidosis diduga ada di Indonesia. 1. Penyebab Penyebab melioidosi semula mempunyai beberapa nama, yakni Malleomyces pseudomallei, Pfeifferella whitmori, dan Pseudomonas pseudomallei, tetapi kemudian diberi nama baru Burkholderia pseudomallei. Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat Gram negatif. Pengetahuan terhadapa sifat fisik, kimia, biologik, dan pengaruh musim terhadap B. pseudomallei . Bakteri ini sangat patogenik dan tahan dalam waktu lama di dalam tanah pada lapis liat yang mampu menahan air selama musim kemarau. Pada musim hujan, sewaktu dilakukan pengolahan tanah untuk menanam padi, bakteri tersebut terangkat kembali ke permukaan dan dapat menginfeksi petani atau hewan. 2. Sumber Penular Sumber penular melioidosis yang utama adalah tanah, terutama yang berair dan tercemar oleh tinja rodensia yang membawa agen penyakit. 3. Penularan Penularan terjadi per oral melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh bakteri penyebab melalui tinja rodensia. Di sampint itu, penularan dapat juga terjadi melewati

kulit yang lecet dan melewati saluran pernafasan. Kontak dengan penderita melioidosis dapat pula terjadi, meskipun jarang. 4. Gejala Klinik a. Hewan Berbagai jenis hewan, termasuk hewan liar dapat terserang penyakit ini, namun diperkirakan jumlah kasus penyakit pada hewan tidak tinggi. Tikus air, tikus, kangguru, dan marsupial lain dapat tertular selama berada di lubang air. Pada domba dan kambing dapat ditemukan gangguan syaraf, kadang- kadang terjadi mastitis dan abortus. Pada kuda, bentuk penyakit dapat berupa pneumonia akut, sedangkan pada babi berupa liphadenitis kronis. Pada hewan lain dapat terjadi abses yang progresif dalam viscera dan terkadang dalam persendian. Sapi lebih tahan terhadap pernyakit ini dibandingkan dengan domba. Walaupun mengekskresikan agen penyakit ini melalui ekskreta dan susu, namun penularan antar hewan jarang terjadi. Penularan ke hewan umumnya terjadi dari lingkungan (sawah). Bangsa burung tampaknya tahan terhadap melioidosis, meskipun kasus ini pernah dilaporkan pada burung kakatua. Hewan berdarah dingin tidak tertular penyakit ini. b. Manusia Gejala klinik pada manusia sangat bervariasi mulai dari subklinik hingga setikemik yang cepat da fatal. Pada bentuk akut dan timbul secara tiba- tiba, penyakit ini ditandai dengan demam, menggigil, batuk yang disertai sputum bernanah campur darah, gastroenteritis dan nyeri abdominal. Pada pemeriksaan klinik dapat ditemukan pneumonia, abses paru-paru, emfisema, kekuningan selaput lendir, hepatomegali, dan splenomegali. Kematian akibat serangan penyakit ini dapat terjadi dalam beberapa hari. Sebagian besar (80%) infeksi oleh B. Pseudomallei diduga bersifat subklinik. Gejala penyakit terkadang hanya menyerupai influenza ringan, namun secara serologik ditemukan antibodi terhadap B. Pseudomallei. c. Perubahan Patologi anatomik Pada kambing dan domba, dapat ditemukan peradangan dan ulserasi selaput lendir sputum nasalis dan abses pada daerah vertebrae. Pada beberapa hewan apabila penyakit menjadi parah dapat ditemukan abses pada viscera atau sendi. Abses dapat ditemukan pada limpa dan kelenjar adrenal sapi. Apabila terjadi di paru- paru, abses mempunyai selaput dan berisi nanah kuning kehijau-hijauan berkonsistensi kream. 5. Diagnosis Diagnosis klinik perlu dikukuhkan dengan isolasi dan identifikasi bakteri penyebab dari urine, sputum, abses, dll. Identifikasi agen penyakit dapat dilakukan juga secara fluorescent antibody technique (FAT). a. Diagnosis banding Pada kuda, melioidosis perlu dibedakan dengan maleus (ingus jahat, glanders) yang disebabkan oleh Pseudomonas mallei.

b. Pengambilan dan pengiriman specimen. Untuk pasien manusia, pembuangan sputum, urine, dan feses harus dilakukan seaman mungkin. Belum ada vaksin untuk mencegah penyakit ini. Susu dari hewan tertular harus dipasteurisasi agar tidak terjadi penularan per os. Berbagai jenis antibiotic yang pernah digunakan dalam pengobatan penyakit ini, antara lain tetrasiklin, kanamisin, kloramfenikol, sulfadiasin, novobiosin, dan cotrimoxazole. Pada bentuk akut dan subakut, kombinasi berbagai antibiotic dapat digunakan, misalnya tetrasiklin dan kanamisi. Kombinasi yang lebih berat dapat menggunakan tiga kombinasi antibiotic. Pengobatan dilakukan paling tidak selama 30 hari.