Anda di halaman 1dari 2

PENATALAKSANAAN Umum Tirah baring : posisi semi ekstensi Terapi O2 lembab 2-4 liter/menit dengan sungkup Infus larutan

tan 1:4 120cc/kgBB/hari ~ 14 cc/jam ~ 3 gtt mikro/menit Pasang NGT : untuk pemberian ASI dan ORS Suction untuk menyedot kelebihan sekret pada saluran napas Intubasi dan ventilator Perawatan di ruang intensif care

Khusus Amoksisilin i.v 4 x 70 mg evaluasi tiap 48-72 jam Dosis : 100 mg/kgBB/hari dibagi 4 dosis Gentamisin i.v 3 x 5 mg evaluasi tiap 48-72 jam Dosis : 5 mg/kgBB/hari dibagi 3 dosis Parasetamol sirup 4 x 1,5 cth (Bila suhu > 38,50C) Dosis : 10-15 mg/kgBB, 1 cth (5mL) = 120 mg ORS 300 cc dalam 3 jam evaluasi tiap 1-2 jam Teruskan pemberian ASI Koreksi asidosis metabolic : Larutan bikarbonat 8,4% 21 cc Dosis : BE x BB x 0,3 (1mEq = 1 cc) PROGNOSIS Quo ad vitam : Quo ad functionam : PEMBAHASAN PENATALAKSANAAN Gagal napas adalah kasus kegawatdaruratan medis sehingga penanganannya harus cepat dan tepat. Tujuan utama dari terapi gagal napas adalah mengembalikan pertukaran gas yang adekuat dengan komplikasi sekecil mungkin. Penatalaksanaaan awal untuk semua pasien gagal napas adalah sama yaitu oksigenasi yang kuat. Pada keadaan hipoksemia pemberian terapi oksigen sangat membantu. Namun pada keadaan hiperkarbia, penggunaaan ventilasi mekanik lebih diutamakan. Pemberian oksigen ini tentu saja memperhatikan prinsip jalan napas, napas, dan sirkulasi sehingga diperlukan tindakan-tindakan suportif membebaskan jalan napas serta mengusahakan pernapasan dan sirkulasi yang adekuat. Pembukaan jalan napas dilakukan dengan pemasangan endotrakeal tube (ETT). Pada pasien ini diberikan oksigen lembab 2-4 liter/ menit. Pemberian oksigen ini akan memberikan tekanan positif yang akan membantu usaha napas dan meringankan

kerja otot pernapasan. Terapi berhasil jika PaO2 > 60 mmHg atau saturasi oksigen arterial (SaO2) > 90%. Indikasi pemasangan ventilasi mekanik pada anak adalah pertukaran gas yang memburuk. Pemasangan ventilasi mekanik penting dilakukan pada pasien pneumonia yang mengalami hipoksemia dan hiperkarbia berat karena pengobatan dengan antibiotika untuk mengatasi infeksi paru memerlukan waktu untuk memperbaiki keadaan pertukaran gasnya. Pada kasus ini terdapat indikasi dilakukannya intubasi dan penggunaan ventilator yaitu gagal napas atau PaO2 50-60 mmHg. Penatalaksanaan yang efektif dari gagal napas tergantung pada identifikasi dan penatalaksanaan faktor-faktor yang menggangu sistem respirasi. Misalnya menyedot kelebihan sekret pada saluran napas, mengobati infeksi dengan antibiotika yang efektif, meredakan inflamasi dengan antiinflamasi atau imunosupresan, pemberian bronkodilator, membatasi terjadinya edema paru, dan lain sebagainya. Selain itu, beban otot pernapasan harus dikurangi dengan meningkatkan mekanik dari paru. Koreksi abnormalitas yang dapat menyebabkan kelemahan otot pernapasan pernapasan, misalnya hipofosfatemia dan malnutrisi. Pada keadaan gagal napas kronik yang berat, tindakan transplantasi paru dapat meningkatkan kualitas hidup pasien. Pada pasien ini dilakukan penyedotan sekret yang berlebihan pada saluran napas, diberikan amoksisilin dan gentamisin untuk terapi pneumonia dan koreksi elektrolit karena pasien mengalami asidosis metabolik yang disebabkan karena diare akut non disentri. Pasien dengan gagal napas akut harus dirawat di ruang intensif atau ruang respiratory care. Untuk terapi diare akut non disentri dengan dehidrasi ringan sedang, pasien diterapi dengan rencana terapi B. Pasien diberikan oral rehydration solution (ORS) 300 cc untuk 3 jam, kemudian dievalusi kembali, serta tetap diberikan ASI. Pasien tidak diberikan zinc karena usia pasien kurang dari 2 bulan. PROGNOSIS Prognosis tergantung pada etiologi yang mendasari gagal napas tersebut. Prognosis baik apabila gagal napas merupakan suatu keadaan akut yang tidak disertai dengan hipoksemia dalam waktu yang lama (misalnya kejang) Prognosis ke arah baik apabila proses yang baru terjadi pada gagal napas kronik sekunder akibat penyakit neuromuscular atau deformitas dinding dada Prognosis dubia apabila gagal napas terjadi pada penyakit kronik dengan aksaserbasi akut, misalnya asma Gagal napas mungkin merupakan tanda dari penyakit yang progresif dan irreversible yang akan menyebabkan kematian, misalnya idiopathic pulmonary hypertension Hasil akhir pada pasien gagal napas sangat tergantung dari etiologi atau penyakit yang mendasarinya, serta penanganan yang adekuat. Jika penyakit tersebut diterapi dengan benar, maka hasilnya akan baik. Jika gagal napas berkembang dengan perlahan maka dapat timbul hipertensi pulmoner, hal ini akan memperberat keadaan hipoksemia. Adanya infeksi paru, seperti pada pasien ini, dan penyakit ginjal akan memperburuk prognosis.