Anda di halaman 1dari 5

HUBUNGAN PERAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN SKIZOFRENIA DI ...

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

Penyakit skizofrenia memang masih kurang populer di kalangan masyarakat awam. Tetapi gangguan jiwa ini sudah mulai mencemaskan karena sampai sekarang penanganannya masih belum memuaskan. Di masa lalu banyak orang menganggap skizofrenia merupakan penyakit yang tidak dapat diobati. Akan tetapi seiring dengan kemajuan dibidang ilmu kedokteran jiwa maka kini anggapan itu berlangsung hilang dan diakui skizofrenia sebenarnya termasuk gangguan kesehatan dan termasuk dalam ilmu kedokteran jiwa (psikiatri) yang penanganannya sesuai dengan terapi kedokteran sebagaimana halnya penyakit fisik lainnya (Hawari, 2001 : 1). Diperkirakan dari sekitar 220 juta penduduk Indonesia, ada sekitar 50 juta atau 22 persennya, mengidap gangguan kejiwaan (Hawari, 2009). Prevalensi skizofrenia diperkirakan sekitar 1% dari seluruh penduduk. Di Amerika Serikat angka tersebut menggambarkan bahwa hampir tiga juta penduduk yang sedang, telah, atau akan terkena penyakit tersebut. Insiden dan prevalensi seumur hidup secara kasar sama di seluruh dunia (Buchman & Carpenter 2000, dalam Videbeck 2008). Salah satu bentuk gangguan kejiwaan yang memiliki tingkat keparahan yang tinggi adalah skizofrenia, dimana hingga saat ini penanganannya belum memuaskan. Hal ini terutama terjadi di negara-negara yang sedang berkembang karena ketidaktahuan keluarga maupun masyarakat terhadap jenis gangguan jiwa ini (Hawari, 2003). Menurut hasil penelitian di Indonesia, terdapat sekitar 1-2 % atau sebesar 2-4 juta jiwa

menderita skizofrenia dan dari jumlah tersebut diperkirakan penderita skizofrenia aktif 700.000-1,4 juta jiwa. Skizofrenia adalah suatu penyakit yang mempengaruhi otak dan menyebabkan timbulnya pikiran, persepsi, emosi, gerakan, dan prilaku yang aneh dan terganggu (Videbeck, 2008). Gangguan jiwa skizofrenia tidak terjadi dengan sendirinya begitu saja. Akan tetapi banyak faktor yang menyebabkan terjadinya gejala-gejala skizofrenia. Berbagai penelitian telah banyak dilakukan untuk menjelaskan tentang penyebab skizofrenia. Dalam teori biologi menjelaskan penyebab skizofrenia yang berfokus pada faktor genetik, faktor neuronatomi dan neurokimia (struktur dan fungsi otak) serta imunovirologi atau respon tubuh terhadap pejanan suatu virus (Videbeck, 2008 : 35). Pengobatan yang begitu modern sekarang ini ternyata memberikan prognosis yang baik pada pasien Skizofrenia. Pemulangan pasien Skizofrenia pada keluarga tergantung pada keparahan penyakit dan tersedianya fasilitas pengobatan rawat jalan (Kaplan dan Sadock, 1997 : 725). Keadaan pasien yang membaik dilanjutkan dengan rawat jalan. Terapi yang komperehensif dan holistik, sudah mulai dikembangkan meliputi terapi obat-obatan anti skizofrenia (psikofarmaka), psikoterapi, terapi psikososial dan terapi psikoreligius. Terapi tersebut, khususnya obat psikofarmaka harus diberikan dalam jangka waktu yang lama. Apabila klien sampai telat atau tidak patuh minum obat, maka klien bisa kambuh (relaps). Keberhasilan terapi gangguan jiwa skizofrenia tidak hanya terletak pada terapi obat psikofarmaka dan jenis terapi lainnya, tetapi juga peran serta keluarga dan masyarakat turut menentukan (Hawari, 2001 : 96).

Beberapa faktor yang mempengaruhi kepatuhan klien skizofrenia untuk minum obat antara lain yaitu peran keluarga, sosial ekonomi, sikap klien, motivasi, ingatan atau memori klien serta informasi dari petugas kesehatan. Pertama peran keluarga, peran merupakan seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai

kedudukannya dalam suatu sistem (Mubarak, 2005 : 75). Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Sudiharto, 2007 : 22). Peran keluarga sangat penting terhadap pengobatan pasien skizofrenia, karena pada umumnya klien skizofrenia belum mampu mengatur dan mengetahui jadwal dan jenis obat yang akan diminum. Keluarga harus selalu membimbing dan mengarahkannya, agar klien skizofrenia dapat minum obat dengan benar dan teratur. Kedua sosial ekonomi, merupakan aturan yang berlaku untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam suatu rumah tangga, misalnya pendapatan jauh lebih rendah dari pengeluaran, terlibat hutang, kebangkrutan, soal warisan dan lain sebagainya (Hawari, 2001 : 33). Masalah sosial ekonomi dapat mempengaruhi kepatuhan klien skizofrenia dalam minum obat karena jika sosial ekonomi mereka rendah maka mereka tidak akan mampu membeli obat. Ketiaga sikap, merupakan keadaan mental dan syaraf yang diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamik atau terarah terhadap respon individu pada semua objek dan situasi yang berkaitan dengannya (Tri Rusmi W. : 1999 : 218). Sementara itu sikap klien skizofrenia sulit untuk diarahkan dan mudah untuk bosan dan malas terhadap sesuatu. Pengobatan skizofrenia membutuhkan waktu relatif lama karena skizofrenia merupakan penyakit menahun. Dengan demikian klien skizofrenia akan cenderung bosan dan tidak patuh untuk minum obat. Empat motivasi, merupakan dorongan dasar yang berasal dari dalam diri individu yang menggerakkan seseorang bertingkah laku (Hamzah B. Uno, 2007 : 1). Motivasi dari klien sangatlah penting dalam pengobatan karena akan mempengaruhi kesembuhan klien. Semakin besar motivasi klien maka akan mempengaruhi kepatuhan mereka dalam minum obat. Lima ingatan atau memori, adalah sebuah fungsi dari kognisi yang melibatkan otak dalam pengambilan informasi (Wikipedia, 2009). Skizofrenia merupakan penyakit yang mempengaruhi otak. Oleh karena itu memori klien skizofrenia kacau dan sulit mengingat

sesuatu, maka mereka akan sering lupa atau tidak patuh untuk minum obat. Oleh karena itu anggota keluarga yang lain harus senantiasa mengontrol atau membimbing klien dalam minum obat dengan benar. keenam informasi, merupakan pengetahuan yang didapatkan dari pembelajaran, pengalaman atau instruksi (Wikipedia, 2009). Dalam terapi pengobatan skizofrenia informasi tidak hanya kita berikan kepada klien saja, mengingat klien skizofrenia sulit untuk mengingat dan mempelajari sesuatu, maka sebaiknya informasi juga diberikan kepada keluarga. Mereka bisa memahami tindakan-tindakan apa yang harus dilakukan kepada klien skizofrenia khususnya dalam hal minum obat, sehingga mereka selalu bisa mengontrol dan membimbing klien dalam minum obat. Salah satu upaya untuk menciptakan kepatuhan klien skizofrenia dalam minum obat adalah dengan meningkatkan peran keluarga, petugas dan psikiater. Mereka harus bekerja sama agar klien skizofrenia bersedia minum obat dengan tepat dan teratur. Petugas dan psikiater harus memberikan health education pada keluarga, khususnya tentang pemakaian obat dengan benar dan teratur agar keluarga bisa mengontrol dan membimbing klien dalam minum obat selama di rumah.

Mengingat banyaknya faktor yang mempengaruhi kepatuhan klien skizofrenia untuk minum obat, maka peneliti hanya membatasi pada hubungan antara peran keluarga dengan kepatuhan klien skizofrenia untuk minum obat di .............

Pasien yang kambuh membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali pada kondisi semula dan dengan kekambuhan yang berulang, kondisi penderita bisa semakin memburuk dan sulit untuk kembali ke keadaan semula, oleh karena itu, kecenderungan pengobatan skizofrenia saat ini tidak cukup hanya pada pengendalian gejalanya saja, tetapi juga harus dapat mencegah kekambuhan penyakit sehingga dapat mengembalikan fungsi pasien untuk produktif dan akhirnya dapat meningkatkan kualitas hidupnya. (Aswin, 2010).

Sedangkan pada pasien yang telah dipulangkan ada beberapa hal yang bisa memicu kekambuhan skizofrenia, antara lain penderita tidak minum obat dan tidak kontrol ke dokter

secara teratur, menghentikan sendiri obat tanpa persetujuan dari dokter, kurangnya dukungan dari keluarga dan masyarakat, serta adanya masalah kehidupan yang berat yang membuat stress. sehingga penderita kambuh dan perlu dirawat di rumah sakit (Widodo, 2009). Dampak gangguan jiwa kronis khususnya skizofrenia adalah defisit intelektual, daya ingat, dan kemampuan pemenuhan kehidupan sehari-hari. Selain itu klien juga akan menarik diri, apatis, memiliki hubungan interpersonal yang minimal, dan mudah masuk dalam kondisi kritis.