KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN DAMPAK KEBIJAKAN PRODUKSI JAGUNG DI PROPINSI JAWA TIMUR

Suprapto1) Abstract
Diversification program of food crops that developed by the government had pushed significantly in increasing the demand of maize commodity. Even in the East Java Province, the growth demand rate of that commodity is higher than the growth production rate. To meet the demand’s gap, the local government of the East Java Province prefers to import that commodity rather than encouraging the increase of domestic production. Eventually, this research’s finding showed that such policy is economically not wise since the east Java Province actually has comparative advantages in producing that commodity. The implication is that it will be much more efficient to encourage the Increase of local production in order to meet the domestic demand of that commodity than to import. Key words: maize and comparative advantages

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Diversifikasi produksi tanaman pangan berarti peningkatan produksi tanaman pangan non-beras khususnya tanaman palawija termasuk komoditas jagung. Diversifikasi produksi tanaman jagung tersebut ditujukan untuk mengusahakan terlaksananya penganekaragaman menu makanan masyarakat agar dapat terlepas dari ketergantungan yang berlebihan terhadap satu jenis makanan saja yaitu beras. Hal ini berarti juga dapat mengurangi tekanan terhadap permintaan beras. Tujuan lainnya adalah untuk pengembangan pola tanam dan peningkatan intensitas tanam, hal ini diharapkan akan dapat memperbaiki tingkat pendapatan petani, memperluas kesempatan kerja dan menjamin penyediaan pangan baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. Seiring dengan dicanangkannya diversifikasi tanaman pangan tersebut, ternyata permintaan terhadap komoditas jagung juga terus meningkat. Peningkatan permintaan tersebut antara lain sebagai akibat dari meningkatnya kebutuhan konsumsi rumah tangga, meningkatnya kebutuhan industri pengolah makanan dan meningkatnya kebutuhan konsumsi pakan ternak. Adapun peningkatan permintaan terhadap komoditas jagung tersebut diperkirakan mencapai 2,40 persen (Departemen Pertanian, 1997). Meningkatnya permintaan konsumsi terhadap komoditas jagung dari tahun ke tahun di Indonesia sebenarnya telah diikuti oleh meningkatnya produksi komoditas tersebut, namun peningkatan produksi jagung tidak mampu mengikuti peningkatan konsumsinya. Hal ini berarti jumlah produksi komoditas jagung yang dihasilkan di Indonesia belum mampu mencukupi
1)

Dosen FMA, Universitas Mercu Buana (praptoastro@plasa.com)

sementara itu permintaan terhadap komoditas jagung untuk konsumsi di Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. 1. subsidi. seperti masih menggunakan benih lokal. Rendahnya produktivitas komoditas jagung di Indonesia termasuk di Propinsi Jawa Timur tersebut antara lain disebabkan oleh cara pengusahaan petani yang masih bersifat tradisional. perlindungan harga. 1993).90 kebutuhan dalam negerinya. Disamping itu. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan produktivitas dan produksi komoditas jagung. Berdasarkan data Statistik Pertanian Departemen Pertanian (2004). baik kebutuhan untuk bahan makanan langsung. Jawa Timur masih mempunyai potensi yang cukup besar bagi pengembangan komoditas tersebut. terutama berupa pengembangan lahan kering. tetapi peningkatannya tidak mampu mengikuti peningkatan konsumsinya. Bulletin Penelitian No. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2003). peningkatan intensitas tanam dan peningkatan produktivitas tanaman (Hadi et al. Perumusan Masalah Produktivitas komoditas jagung yang dicapai oleh petani Indonesia masih jauh dibawah produktivitas komoditas jagung di negara-negara maju bahkan masih dibawah rata-rata produktivitas Asia (Hadi et al. Dalam pemenuhan kebutuhannya. dan pembangunan berbagai fasilitas penunjang. perlindungan terhadap harga. berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah antara lain adalah penyediaan kredit. 1993). maka pengembangan komoditas jagung di Jawa Timur masih sangat memungkinkan sebagai salah satu sumber pemenuhan konsumsi dalam negeri dan ekspor.2. Namun upaya-upaya tersebut tampaknya belum membuahkan hasil yang memuaskan. menunjukkan bahwa Jawa Timur merupakan salah satu daerah sentra produksi jagung di Indonesia. Adapun untuk memanfaatkan peluang tersebut. pengolahan tanah yang kurang sempurna. regionalisasi sentra produksi dan lain-lain. pemerintah Indonesia masih lebih banyak mendatangkannya dari luar negeri (impor). antara lain dengan bentuk subsidi input. peluang untuk meningkatkan produksi komoditas jagung di Indonesia cukup besar. Walaupun produksi komoditas jagung tersebut juga terus mengalami peningkatan. peningkatan pola tanam. Dengan demikian. introduksi varietas unggul. volume dan nilai ekspor-impor komoditas jagung Indonesia per tahun dalam dekade terakhir menunjukkan neto-ekspor yang negatif. negara Indonesia masih mendatangkan komoditas jagung dari luar negeri. penyuluhan. Hal ini berarti bahwa volume dan nilai ekspor komoditas jagung Indonesia lebih kecil dibandingkan dengan volume dan nilai impornya.10 Tahun 2006 Keunggulan Komparatif dan Dampak Kebijakan . pemupukkan yang belum sesuai dengan anjuran serta perlindungan tanaman yang belum sesuai dengan yang diharapkan. maka dapat dikatakan bahwa jika dilihat dari aspek pemasarannya. kebutuhan untuk industri makanan maupun kebutuhan untuk konsumsi pakan ternak. Dengan demikian. baik sebagai komoditas substitusi impor maupun komoditas ekspor. Untuk pemenuhan kebutuhannya.

sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan apakah permintaan tersebut dipenuhi dari produksi dalam negeri maupun impor (Suryana. Dari selisih ini. suatu negara mempunyai keunggulan komparatif dalam menghasilkan suatu komoditas. Namun demikian impor suatu komoditas. Komoditas Jagung Kajian ekonomik suatu analisis aktivitas ekonomi. Begitu juga dalam suatu negara. 1990). meningkatkan produksi komoditas jagung di dalam negeri atau melakukan impor. Berdasarkan uraian di atas. dan (4) Apakah pemerintah telah memberikan proteksi (perlindungan) kepada produsen komoditas jagung.91 Apabila dilihat dari segi pemenuhan permintaan produksi komoditas jagung dalam negeri. Harga komoditas jagung di tingkat produsen ditentukan oleh harga dari faktor-faktor input dan harga akibat adanya kebijaksanaan dari pemerintah. sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang bersifat local specific. (3) Kebijakan harga dan perdagangan input-output apa yang harus diambil oleh pemerintah pada saat sekarang ini. II.10 Tahun 2006 . mana yang lebih efisien secara ekonomi. termasuk komoditas jagung memerlukan devisa yang tidak sedikit. Menentukan apakah kebijakan yang diambil oleh pemerintah selama ini telah berpihak kepada petani. jika biaya sosial untuk menghasilkan tambahan satu unit komoditas tersebut lebih kecil dari harganya di perbatasan (border price). 3.3. Keunggulan Komparatif dan Dampak Kebijakan Bulletin Penelitian No. Sedangkan harga komoditas jagung. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. kebijaksanaan pemerintah dan lain-lain. Menentukan apakah Propinsi Jawa Timur sebagai salah satu sentra produksi komoditas jagung mempunyai keunggulan komparatif. Padahal persediaan devisa sangat diperlukan oleh negara mengingat Indonesia sedang aktif dalam melaksanakan pembangunan ekonomi. jika negara tersebut mempunyai keunggulan kompartatif. Di Jawa Timur usahatani komoditas jagung sangat ditentukan oleh penggunaan faktor-faktor produksi (input) dan faktor-faktor lain yang berpengaruh seperti infrastruktur penunjang. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah: 1. Menurut Chenery (1961) dalam Simatupang et al. suatu negara akan memproduksi dan mengekspor suatu komoditas. maka timbul permasalahan: (1) upaya untuk memenuhi kebutuhan komoditas jagung di dalam negeri. Menentukan apakah usahatani komoditas jagung di Propinsi Jawa Timur menguntungkan atau tidak. 1. baik di pasar domestik maupun di pasar internasional sangat ditentukan oleh harga komoditas tersebut di tingkat produsen ditambah biaya tataniaganya. (1990). 2. (2) Apakah Indonesia khususnya Propinsi Jawa Timur mempunyai keunggulan komparatif dalam memproduksi komoditas jagung.

sehingga harga jualnya dalam rupiah (setelah dipotong pajak) tidak melebihi tingkat border price -nya. TK. tingkat keuntungan yang diperoleh petani (produsen) sangat menentukan tingkat keunggulan komparatif dan keputusan petani untuk mengembangkan komoditas tersebut. Pasar Internasional Gambar 1.10 Tahun 2006 Keunggulan Komparatif dan Dampak Kebijakan . Kebijakan dll Produksi Usahatani jagung Biaya Produksi Usahatani Jagung Harga Jagung di Tingkat Produsen Biaya Tataniaga Jagung Biaya Produksi Usahatani Jagung Harga Jagung di Tingkat Kons. Selanjutnya. Adapun penentuan kriteria dalam analisis BSD bertitik tolak pada prinsip bahwa efisien tidaknya produksi suatu komoditas tergantung pada daya saingnya di pasar internasional.2. Faktor-faktor Produksi: Benih. Artinya apakah biaya produksi yang terdiri dari pemakaian sumberdaya domestik cukup rendah. Pasar Domestik Harga Jagung di Tingkat Kons. Analisis Keunggulan Komparatif Perhitungan keunggulan komparatif suatu komoditas dapat diukur dengan menggunakan alat analisis Biaya Sumberdaya Domestik (BSD). dll Faktor lain: Infrastruktur.92 maka akan diperoleh tingkat keuntungan (pendapatan) usahatani. pupuk. Keuntungan sosial bersih adalah keuntungan atau kerugian bersih dari suatu aktivitas ekonomi jika Bulletin Penelitian No. Keputusan untuk mengembangkan produksi komoditas jagung oleh petani serta faktor-faktor yang mempengaruhinya dapat diterangkan secara ringkas dalam suatu kerangka pemikiran yang disajikan dalam Gambar 1. Penurunan rumus BSD dapat dimulai dari konsep Keuntungan Sosial Bersih (KSB) atau Net Social Profitability (NSP). Kerangka Pemikiran Sistem Produksi Komoditas Jagung serta Komponen-Komponen yang Mempengaruhinya 2. alat.

dan seluruh efek eksternalitasnya yang timbul dari aktivitas ekonomi tersebut diperhitungkan.10 Tahun 2006 . Aktivitas ekonomi dengan skala besar akan memberikan KSB yang besar pula. 2) Output yang dianalisis bersifat tradable. Dalam kondisi seperti ini. harga bayangan nilai tukar uang sama dengan biaya sosial input domestik dikurangi eksternalitas (dalam Rp) dibagi dengan total penerimaan sosial dikurangi total input asing (dalam US $). sehingga pemenuhan permintaan domestik lebih menguntungkan dengan peningkatan produksi domestik. Analisis keunggulan komparatif dengan KSB dapat memberikan gambaran yang salah. Keunggulan Komparatif dan Dampak Kebijakan Bulletin Penelitian No. Jika ditinjau dari efisiensi pemanfaatan sumberdaya domestiknya. yang berarti aktivitas ekonomi tersebut tidak efisien secara ekonomi dalam pemanfaatan sumberdaya domestik. maka diperlukan beberapa asumsi (Pearson et al. Suatu aktivitas ekonomi akan memberikan keunggulan komparatif jika keuntungan sosial bersih tradable lebih besar dari biaya sumberdaya domestik. Koefisien biaya sumberdaya domestik dapat dipakai sebagai tolok ukur keunggulan komparatif sebagai berikut: 1) Suatu aktivitas ekonomi mempunyai keunggulan komparatif jika KBSD < 1. 1976) sebagai berikut: 1) Pemerintah melakukan intervensi pada nilai tukar dan perdagangan komoditas yang dianalisis (dapat berupa peraturan atau pembatasan).. Rasio antara nilai BSD dengan harga bayangan nilai tukar mata uang disebut Koefisien Biaya Sumberdaya Domestik (KBSD). Dalam analisis BSD agar dapat diterapkan sebagai suatu analisis ekonomi. walaupun mungkin kurang menguntungkan jika dibandingkan dengan aktivitas ekonomi skala kecil. 2) Suatu aktivitas ekonomi akan menyebabkan kerugian komparatif jika KBSD > 1. dimana peningkatan produksi dikatakan layak secara ekonomi jika KSB bernilai positif. Apabila KSB sama dengan nol atau aktivitas ekonomi yang berlangsung memperoleh keuntungan normal. 3) Suatu aktivitas ekonomi berada pada titik impas (netral) jika KBSD = 1. Hal ini berarti keunggulan komparatif identik dengan kelayakan ekonomi. yang berarti aktivitas ekonomi tersebut efisien secara ekonomi dalam pemanfaatan sumberdaya domestik.93 seluruh output yang dihasilkan dan input yang digunakan dinilai dalam biaya imbangan sosialnya. sehingga pemenuhan permintaan domestik lebih menguntungkan dengan melakukan impor. Suatu negara mempunyai keunggulan komparatif dalam menghasilkan suatu komoditas jika KSB lebih besar dari nol. Keadaan demikian dapat dihindari dengan menggunakan analisis biaya sumberdaya domestik. keuntungan sosial bersih tradable sama dengan biaya sumberdaya domestik. semakin kecil nilai KBSD maka semakin efisien aktivitas ekonomi yang dianalisis. yang berarti aktivitas ekonomi tersebut memberikan keuntungan normal.

94 3) Biaya produksi dari tambahan satu satuan output ditentukan oleh hubungan input-output yang konstan dan harga relatif faktor-faktor produksi yang tidak berubah. Besarnya dampak kebijaksanaan pemerintah dapat dilihat dari tingkat proteksi yang diberikan. menunjukkan bahwa komoditas yang bersangkutan mendapat proteksi. Tarif Implisit (TI) mengukur besar subsidi input yang diberikan oleh pemerintah kepada produsen suatu komoditas yang menggunakan input yang bersangkutan. adalah menggambarkan sampai sejauh mana kebijaksanaan pemerintah bersifat melindungi (memberi insentif) atau bahkan menghambat produksi domestik suatu komoditas. Pada proteksi dengan tarif (advalorem tariff). Jika TI bernilai negatif (TI < 0). Tingkat Proteksi Nominal (TPN) merupakan ukuran untuk melihat apakah suatu komoditas mendapat proteksi atau tidak dari pemerintah. Adapun tingkat proteksi menurut Scandizo dan Bruce (1980) dalam Simatupang et. Hal ini berarti konsumen domestik harus membeli komoditas tersebut dengan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan tanpa adanya proteksi. III. Tarif Implisit (TI) atau Implicit Tariff (IT) dan Tingkat Proteksi Efektif (TPE) atau Effective Protection Rate (EPR). Adapun bentuk kebijaksanaan pemerintah tersebut antara lain adalah proteksi dengan tarif atau bea masuk. Jika TPE bernilai positif (TPE >0). 2. Analisis Tingkat Proteksi Efektif (TPE) Analisis tingkat proteksi efektif ditujukan untuk mengetahui sampai sejauh mana kebijaksanaan yang telah diambil oleh pemerintah. Hal ini berarti produsen membayar input yang digunakan dalam proses produksi suatu komoditas lebih rendah dibandingkan dengan harga yang berlaku di pasar bebas (free trade). Kebijaksanaan pemerintah yang berkaitan dengan produksi suatu komoditas domestik antara lain adalah berupa kebijaksanaan harga dan perdagangan input-output. Tingkat proteksi efektif (TPE). menunjukkan bahwa produsen menerima subsidi input.3.10 Tahun 2006 Keunggulan Komparatif dan Dampak Kebijakan . METODE PENELITIAN Bulletin Penelitian No. Dengan kata lain terdapat transfer pendapatan (kesejahteraan) dari konsumen kepada produsen. merupakan analisis gabungan antara tingkat proteksi nominal dengan tarif implisit. sehingga produksi domestik dari komoditas tersebut bisa bersaing dengan komoditas impor. Jika TPN bernilai positif (TPN > 0). proteksi dengan kuota dan proteksi dengan subsidi.al (1990) pada dasarnya dibagi tiga macam yaitu Tingkat Proteksi Nominal (TPN) atau Nominal Pretection Rate (NPR). berarti produsen domestik memperoleh insentif dalam memproduksi suatu komoditas. tarif yang dikenakan terhadap suatu komoditas impor akan mengakibatkan harga komoditas yang bersangkutan di pasar domestik menjadi lebih tinggi. Kebijaksanaan pemerintah ini pada prinsipnya bertujuan untuk memperkuat atau meningkatkan daya saing dari komoditas yang bersangkutan di pasar domestik.

Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di Propinsi Jawa Timur. Var. Tarif Implisit (TI) dan Tingkat Proteksi Efektif (TPE). Lokasi ini dipilih secara sengaja (purposive) mengingat Propinsi Jawa Timur merupakan salah satu wilayah sentra produksi komoditas jagung di Indonesia. Sedangkan alat analisis Tingkat Proteksi Efektif (TPE) yang digunakan untuk menentukan dampak kebijakan pemerintah digunakan alat analisis Tingkat Proteksi Nominal (TPN). P-1 dan IPB-1. Metode Analisis Dalam analisis keunggulan komparatif alat analisis yang digunakan adalah Koefisien Biaya Sumberdaya Domestik (KBSD). hibrida. al: Arjuna. Badan Pusat Statistik. Formula dari pendekatan tersebut dan makna dari tiap konsep adalah sebagai berikut: DC . Hal ini terjadi jika aktivitas tersebut secara ekonomi menguntungkan.2.95 3. 3. Parikesit. CPI-1. Keunggulan Komparatif dan Dampak Kebijakan Bulletin Penelitian No. Harapan Baru. al: Hibrida C-1. komponen biaya dan penerimaan telah dinyatakan dalam dollar.10 Tahun 2006 . Sadewa.1. kalingga dan Wiyasa. Rumus dari ketiga konsep tersebut adalah sebagai berikut: Pdo 1 2 Var. Nakula. tingkat proteksi dan subsidi. Depertemen Perdagangan dan berbagai instansi lainnya yang relevan. Departemen Pertanian. 3. bersari bebas. yang masih sangat potensial untuk dikembangkan. Pengumpulan Data dan Penentuan Usahatani Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data rata-rata usahatani jagung untuk varietas bersari bebas1 dan hibrida2 di Propinsi Jawa Timur. Bromo. Tahap selanjutnya dari suatu kajian tentang efisiensi ekonomi suatu aktivitas adalah penilaian yang menyangkut proteksi. Disamping itu juga menggunakan data sekunder dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Jawa Timur.3. Suatu aktivitas ekonomi dinyatakan efisien dari segi penghematan sumberdaya domestik jika KBSD <1. Abimanyu.DB KBSD = TB – TC Dimana: KBSD DC DB TB TC = Koefisien Biaya Sumberdaya Domestik = Biaya domestik dari proses produksi dan pemasaran = Komponen domestik dari penerimaan = Komponen asing dari penerimaan = Komponen asing dari biaya produksi dan pemasaran Dalam perhitungan di atas.

.10 Tahun 2006 Keunggulan Komparatif dan Dampak Kebijakan . menunjukkan bahwa komoditas yang bersangkutan mendapat proteksi. Selanjutnya berdasarkan dari TPN dan TI dapat dihitung dengan menggunakan formula Tingkat Porteksi Efektif (TPE) yang dirumuskan sebagai berikut: Vd TPE = ( Vb Dimana: Vd Vb = value edded pada harga finansial. = value edded pada harga ekonomi. Tahapan perhitungan dilakukan sebagai berikut: pertama. Dengan kata lain terdapat transfer pendapatan (kesejahteraan) dari konsumen kepada produsen. mengidentifikasi seluruh masukan dan keluaran dalam kegiatan yang Bulletin Penelitian No. dinilai pada nilai tukar ofisial (official exchange rate). = harga ekonomi input asing.96 TPN = ( Pbo Dimana: Pdo Pbo = harga domestik dari output = harga dari output . . Jika TPE bernilai positif (TPE >0).1 ) x 100 % Tingkat proteksi efektif (TPE).1 ) x 100 % Tarif Implisit (TI) mengukur besar subsidi input yang diberikan oleh pemerintah kepada produsen suatu komoditas yang menggunakan input yang bersangkutan. Hal ini berarti konsumen domestik harus membeli komoditas tersebut dengan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan tanpa adanya proteksi. berarti produsen domestik memperoleh insentif dalam memproduksi suatu komoditas. Jika TI bernilai negatif (TI < 0). menunjukkan bahwa produsen menerima subsidi input. Adapun tingkat proteksi terhadap input komoditas tersebut disebut Tarif Implisit (TI) atau Implicit Tariff (IT) yang dirumuskan sebagai berikut: Pdi TI = ( Pbi Dimana: Pdi Pbi = harga finansial input asing. adalah menggambarkan sampai sejauh mana kebijakan pemerintah bersifat melindungi (memberi insentif) atau bahkan menghambat produksi domestik suatu komoditas.1 ) x 100 % Jika TPN bernilai positif (TPN > 0). Hal ini berarti produsen membayar input yang digunakan dalam proses produksi suatu komoditas lebih rendah dibandingkan dengan harga yang berlaku di pasar bebas (free trade). merupakan analisis gabungan antara tingkat proteksi nominal dengan tarif implisit.

2. yaitu: 1. (1987) Dalam penelitian ini. sedangkan pada substitusi impor dilakukan pada tingkat pasar konsumen setempat.10 Tahun 2006 . Input dan Output (1) Nilai Sewa Tanah Suku Bunga Modal (2) Upah Tenaga Kerja Nilai Tikar Uang (3) Struktur Fisik Penentuan Harga Usahatani dan Produksi Usahatani (5) Finansial dan Bayangan (4) Alokasi Komponen Biaya Domestik dan Asing: Biaya Produksi Biaya Tataniaga (6) Analisis Pendapatan Analisis Keunggulan Komparatif (7) Analisis Dampak Kebijakan (8) Nilai BSD Koefisien BSD Nilai TPN Nilai TI Nilai TPE Keunggulan Komparatif dan Dampak Kebijakan Bulletin Penelitian No. menaksir harga bayangan masukan dan keluaran pada butir pertama. Adapun pada perdagangan antar daerah. analisis dilakukan untuk tiga orientasi perdagangan (trade regim). yaitu Promosi Ekspor (Export Promotion).4. upah tenaga kerja. Mengidentifikasi seluruh input (masukan) yang digunakan dan output (keluaran) yang dihasilkan dari aktivitas ekonomi yang akan dianalisis. Tahapan Analisis Data Ada beberapa tahap yang akan dilakukan dalam analisis penelitian. tingkat bunga modal dan nilai tukar uang. Substitusi Impor (Import Substitution) dan Perdagangan Antar Daerah (Interregional Trade).97 dianalisis. Analisa pada promosi ekspor perhitungan dilakukan pada pelabuhan ekspor. nilai sewa tanah. memisahkan biaya seluruh kegiatan tersebut ke dalam komponen biaya domestik dan asing. Menentukan harga finansial dan harga bayangan input-output. perhitungan dilakukan pada tingkat pasar konsumen daerah lain. Bahasan tahapan perhitungan alat analisis secara lebih komprehensip dapat dilihat pada Pearson et al. ketiga. 3. kedua.

240.00 Penerimaan (Rp/Ha) Tk Petani Tk Pedg 1004331. dimana pendapatan tertinggi diperoleh pada usahatani jagung hibrida pola rekomendasi (JHR) dan terendah pada usahatani jagung bersari bebas pola petani (JBP).10 rupiah sampai 875.690.10 181240. Dari Tabel 1 dapat dijelaskan bahwa pendapatan di tingkat petani untuk seluruh orientasi perdagangan berkisar antara 181.690. Pendapatan tingkat petani merupakan selisih antara total penerimaan di tingkat petani dengan total biaya produksi.00 4. dengan menghitung nilai tingkat proteksi nominal (TPN).80 Pendapatan (Rp/Ha) Tk Petani Tk Pedg 181240. nilai tarif implisit (TI). dibahas pendapatan pada tingkat petani dan pendapatan tingkat pedagang.54 521488.385.45 875677.720.00 2. Tabel 1. Melakukan analisis pendapatan.80 342935. yaitu dengan menghitung nilai biaya sumberdaya domestik (BSD) dan koefisien biaya sumberdaya domestik (KBSD).45 214476. Melakukan analisis dampak kebijakan.00 2.55 477549.94 308608.45 rupiah per hektar.11 473096.98 Gambar 5. 7.160.40 1963232.160.80 342935.75 1263789. baik dari segi analisis finansial maupun segi analisis ekonomi.00 1263789.55 342935. Analisis Pendapatan Finansial Komoditas Jagung per Hektar di Propinsi Jawa Timur Jenis Komoditas JBP Orientasi Perdagangan PEX SIM PAD PEX SIM PAD PEX SIM PAD PEX SIM Produksi (Kg/Ha) 2.160.720.40 245227.50 1004331.1.00 3.00 3. IV.677.75 1263789.31 379265. Pendapatan Finansial Pada pendapatan finansial ini. dan nilai tingkat proteksi efektif (TPE).10 477549.97 JHP JBR JHR Bulletin Penelitian No.00 4.80 2889972.50 1004331.00 3.00 5.80 2412716. Melakukan analisis keunggulan komparatif.10 Tahun 2006 Keunggulan Komparatif dan Dampak Kebijakan .00 1553136.00 4.385.50 1553136. Mengalokasikan seluruh biaya dari aktivitas ekonomi tersebut ke dalam komponen biaya asing (tradable) dan domestik (non-tradable) 4.00 1359095.60 1359095. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.00 5.60 1560146.385.80 2101798.80 1710237.690.00 2135562.30 2889972.40 1710237.10 181240.00 1553136. Analisis Pendapatan 1). 6.20 238152. Melakukan analisis kepekaan terhadap elastisitas biaya sumberdaya domestik (EBSD) dan elastisitas tingkat proteksi efektif (TPE).80 875677.09 305901.42 384964.75 2135562.20 2101798. 5. Diagram Tahapan Analisis dalam Penelitian 3.55 477549.02 331712.47 457822.

99 PAD 5. walaupun harga benih maupun biaya input yang harus dikeluarkannya relatif lebih besar pula. Hal ini antara lain karena varietas hibrida adalah jagung unggul yang memiliki kemampuan produktivitas yang lebih tinggi.04 rupiah per hektar. dan R= Rekomendasi 2). Hal ini disebabkan harga ekonomi untuk PAD lebih besar dibanding untuk PEX.92 rupiah sampai dengan 1. baik output maupun input yang digunakan dihitung berdasarkan harga bayangannya. Pada Tabel 2 dijelaskan bahwa besar pendapatan ekonomi berkisar antara 281.720. baik pada pola rekomendasi maupun pola petani lebih besar dibanding dengan bersari bebas. Pendapatan ditingkat pedagang pada komoditas jagung untuk orientasi perdagangan antar daerah (PAD) lebih besar dibanding substitusi impor (SIM) dan promosi ekspor (PEX).04 Keterangan : 1).516. yang dicerminkan oleh tingginya penggunaan biaya input. hal ini antara lain disebabkan harga komoditas jagung di daerah lain lebih tinggi dan biaya tataniaga yang dikeluarkan relatif kecil.00 3317485. Sedangkan pada usahatani dengan pola petani jika dibanding pola rekomendasi. Pendapatan ekonomi yang diperoleh. H= Hibrida. B= Bersari Bebas. P= Petani. Pendapatan tingkat pedagang adalah selisih antara penerimaan di tingkat pedagang dengan penerimaan tingkat petani ditambah biaya tataniaga.930. Keunggulan Komparatif dan Dampak Kebijakan Bulletin Penelitian No. dimana pendapatan tertinggi diperoleh pada usahatani jagung hibrida pola rekomendasi untuk orientasi perdagangan substitusi impor (JHR-SIM) dan terendah pada usahatani jagung bersari bebas pola petani untuk orientasi perdagangan promosi ekspor. Sedangkan pendapatan ekonomi untuk orientasi perdagangan antar daerah (PAD) lebih besar dibandingkan dengan untuk orientasi perdagangan promosi ekspor (PEX).60 875677.399.40 rupiah sampai dengan 650. Pendapatan Ekonomi Analisis pendapatan ekonomi merupakan suatu analisis yang menilai suatu aktivitas ekonomi atas manfaat bagi masyarakat secara keseluruhan. Pada analisis pendapatan ekonomi. karena pada PAD komoditas yang bersangkutan harus dikirim ke daerah lain. pendapatan pada usahatani jagung hibrida. SIM= Substitusi Impor.476. Hal ini disebabkan biaya tataniaga untuk PAD lebih besar dibanding untuk SIM. PEX= Promosi Ekspor.45 650516. dan PAD= Perdagangan Antar Daerah Secara umum dapat dikatakan bahwa pada produksi komoditas jagung. J= Jagung. baik varietas hibrida maupun bersari bebas untuk orientasi perdagangan substitusi impor (SIM) lebih besar dibandingkan dengan untuk orientasi perdagangan antar daerah (PAD). dimana pendapatan tertinggi diperoleh pada usahatani jagung hibrida pola rekomendasi untuk orientasi perdagangan antar daerah (JHRPAD) dan terendah pada usahatani jagung bersari bebas pola petani untuk orientasi perdagangan promosi ekspor (JBP-PEX).04 rupiah per hektar.813.10 Tahun 2006 . Pada Tabel 1 terlihat bahwa pendapatan di tingkat pedagang berkisar antara 214. 2). penerimaan petani pola rekomendasi lebih besar.00 2135562. Hal ini antara lain karena adanya perbedaan tingkat keahlian dan teknologi yang digunakan.

00 5. Rp/Ha 1201488.720.00 1093262.40 3436004.00 3.160. SIM= Substitusi Impor.00 2.385.65 558.52 600.385.385.50 1502418.52 600. Bulletin Penelitian No.720. Analisis Pendapatan Ekonomi Usahatani Komoditas Jagung per Hektar di Propinsi Jawa Timur Jenis Komoditas JBP Orientasi Perdagangan PEX SIM PAD PEX SIM PAD PEX SIM PAD PEX SIM PAD Produksi (Kg/Ha) 2.52 600.720.160.65 558.70 446. (Rp/Ha) 281399. H= Hibrida.690.00 5. artinya komoditas tersebut lebih menguntungkan jika diproduksi di dalam negeri daripada diimpor.00 4. Tabel 2. akan lebih menguntungkan jika komoditas tersebut diimpor daripada diproduksi di dalam negeri. Ekon.00 4. antara lain subsidi dan pajak. Pada komoditas jagung.00 Pendapatan Ekon.00 1511910.690. dan PAD= Perdagangan Antar Daerah Dari pendapatan ekonomi yang diperoleh di atas.00 4.04 1709256. apabila dibandingkan dengan pendapatan finansial didapat nilai yang tidak sama. J= Jagung. baik varietas hibrida maupun bersari bebas untuk PEX diperoleh pendapatan ekonomi lebih kecil.24 JHP JBR JHR Keterangan : 1). Produksi suatu komoditas dikatakan mempunyai keunggulan komparatif jika KBSD < 1.20 2498912.00 3.80 1087419.00 1858064. maka alat analisis digunakan yaitu koefisien biaya sumberdaya domestik (KBSD).34 802803.62 575650.70 Penerm.56 426661. sedangkan untuk SIM dan PAD diperoleh sebaliknya.00 3. Sehingga pada kondisi seperti ini.160. Adapun penyebab tidak samanya nilai tersebut diduga karena telah dikeluarkannya berbagai macam distorsi pasar.00 Harga Ekon. 4.690.65 558. dan R= Rekomendasi 2).00 2323443.00 5.04 1813930.52 600.80 1615883. P= Petani.50 2554838.20 2033369.10 Tahun 2006 Keunggulan Komparatif dan Dampak Kebijakan .92 579812.70 446.65 558.25 1890590.100 Disamping itu untuk PEX juga diperlukan biaya tataniaga yang besar terutama untuk biaya penanganan. PEX= Promosi Ekspor. B= Bersari Bebas.00 2. Rp/Kg 446.70 446. karena komoditas tersebut akan bersaing dipasar internasional.12 630874.63 798641.2. KBSD adalah rasio antara BSD dengan harga bayangan nilai tukar uang. berarti produksi suatu komoditas tidak mempunyai keunggulan komparatif atau secara ekonomi tidak layak untuk diusahakan.00 3194734. Analisis Keunggulan Komparatif Analisis keunggulan komparatif adalah suatu analisis untuk menilai suatu aktivitas ekonomi (layak atau tidak untuk diusahakan) dilihat dari segi pemanfaatan sumberdaya domestik yang digunakan. Sebaliknya jika KBSD > 1.13 1073054.

83 774893.92 579812.95 630874.45 0. PEX= Promosi Ekspor.10 671644. dan PAD= Perdagangan Antar Daerah Dari Tabel 3 juga terlihat bahwa nilai KBSD berkisar antara 0.49 1173. dan R= Rekomendasi 2). maka propinsi Jawa Timur sangat cocok jika dijadikan sebagai salah satu daerah sentra produksi dan pengembangan komoditas jagung di Indonesia. B= Bersari Bebas. Hal ini berarti usahatani jagung.81 416141.04 580494.47 0.17 1093262.44 956.14 863.05 842238.55 0.D (Rp/Ha) 1650.89 635146.50 1136.S.62 575650.59 1085. maka usahatani komoditas jagung sebaiknya dilakukan dengan menggunakan varietas hibrida dengan mengikuti pola rekomendasi.90 1036.61 0.43 0. P= Petani.57 K.48 286001. maka hasil ini sesuai dengan hipotesis pertama yaitu Propinsi Jawa Timur mempunyai keunggulan komparatif dalam usahatani komoditas jagung. H= Hibrida. Dari uraian di atas.36 sampai 0.69 717752.49 1073054.07 1457.31 841411.12 B.69 1087419.40 JHP 385778.47 973907. Dari urutan kelayakkan tersebut di atas. Berdasarkan hal tersebut di atas.13 JBR JHR 504042.74 1322.B (Rp/Ha) 281399.10 Tahun 2006 .74 459823. Analisis Keunggulan Komparatif Komoditas Jagung di Propinsi Jawa Timur Jenis Komoditas JBP Orientasi Perdagn. dalam rangka untuk efisiensi pemanfaatan sumberdaya domestik daerah Jawa Timur serta untuk memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dalam pemanfaatan sumberdaya domestik yang bersangkutan.48 1146253.49 0.57 Nilai KBSD 0.39 1361.52 0.28 1709256.45 0. dapat disimpulkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan jagung nasional yang tiap tahun cenderung meningkat dan untuk meningkatkan penerimaan devisa dari ekspor non-migas. baik yang diusahakan dengan pola petani maupun rekomendasi adalah mempunyai keunggulan komparatif atau secara ekonomi layak untuk diusahakan jika dilihat dari pemanfaatan sumberdaya domestik yang digunakan.24 Keterangan : 1).56 413240.10 426661.57 0.54 1245.80 442042. J= Jagung. Tabel 3.00 387943.23 969449.88 1813930.04 506896. SIM= Substitusi Impor.34 802803. Keunggulan Komparatif dan Dampak Kebijakan Bulletin Penelitian No. Hal ini antara lain karena propinsi Jawa Timur mempunyai keungulan komparatif dalam memproduksi komoditas jagung.49 322480.95 1151.36 0.69 287459.101 Pada Tabel 3 dapat dijelaskan bahwa seluruh usahatani yang dianalisis mempunyai KBSD < 1.69 0.27 977741.63 798641.S. PEX SIM PAD PEX SIM PAD PEX SIM PAD PEX SIM PAD Biaya Ekonomi (Rp/Ha) Domestik Asing 634086.75 672008. baik varietas hibrida maupun bersari bebas.69 dimana KBSD terendah dicapai oleh JHR-SIM dan tertinggi oleh JBP-PEX.

54 T. Disamping itu.N (%) 13.76 . yang dinyatakan dalam persen.3.12 -9.72 -16.12 -9.13 -16. 1).07 -17.54 -3.08 15. hal ini berarti terjadi sebaliknya.12 -9.61 -10. tarif implisit (TI) dan tingkat proteksi efektif (TPE).52 -1.E (%) 19. Tabel 4.71 20.07 .56 -1. Analisis Tingkat Proteksi Efektif Komoditas Jagung di Propinsi Jawa Timur Jenis Komoditas JBP Orientasi Perdagn.63 -8.10 Tahun 2006 Keunggulan Komparatif dan Dampak Kebijakan . baik varietas hibrida maupun bersari bebas mempunyai nilai TPN positif.57 18. Hal ini berarti terjadi transfer pendapatan dari konsumen kepada produsen. juga untuk mengetahui sampai sejauh mana pengaruh kebijaksanaan tersebut terhadap konsumen. baik kebijaksanaan harga input maupun kebijaksanaan harga output yang diperlakukan kepada petani. maka dalam analisis ini dibahas tiga aspek analisis.P.3.45 13. Dalam kondisi seperti ini.3.62 -8. yaitu tingkat proteksi nominal (TPN).13 -15.13 -15.54 -3.45 13.76 T.72 -17. Pada Tabel 4 terlihat bahwa pada komoditas jagung untuk orientasi promosi ekspor.12 -9. artinya konsumen domestik akan membeli komoditas tersebut dengan lebih mahal dibanding tidak ada proteksi. TPN dihitung berdasarkan rasio antara harga produsen domestik dengan harga perbatasannya dikurangi satu. Analisis Tingkat Proteksi Efektif Analisis tingkat proteksi efektif ditujukan untuk mengetahui sampai sejauh mana kebijaksanaan yang telah diambil oleh pemerintah.P.07 -17. PEX SIM PAD PEX SIM PAD PEX SIM PAD PEX SIM T.72 -16.I (%) -15. Adapun perhitungan TPN secara lengkap disajikan pada Tabel 4.75 JHP JBR JHR Bulletin Penelitian No. Tingkat Proteksi Nominal Tingkat Proteksi Nominal (TPN) merupakan suatu ukuran untuk melihat apakah suatu komoditas memperoleh proteksi (berupa kebijaksanaan harga output) atau tidak dari pemerintah.45 13.54 -3.11 -1. Sedangkan untuk substitusi impor dan perdagangan antar daerah mempunyai nilai TPN negatif.60 -8. produsen domestik memperoleh proteksi dalam bentuk lebih mahalnya harga jagung di dalam negeri dibanding harga di tingkat internasional.102 4. Adapun untuk mengetahuinya secara menyeluruh.

hanya pada TPN untuk melihat kebijaksanaan harga outputnya. 2). P= Petani. 3).3. pada komoditas yang ditujukan untuk substitusi impor memperoleh proteksi yang lebih besar dibanding untuk perdagangan antar daerah. Keunggulan Komparatif dan Dampak Kebijakan Bulletin Penelitian No. Dan jika TPE < 0. B= Bersari Bebas. maka berarti produsen domestik memperoleh sebaliknya. dapat dilihat dari nilai TI-nya. dan PAD= Perdagangan Antar Daerah Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa nilai TPN untuk masingmasing orientasi perdagangan yang mendapatkan proteksi. Sebaliknya pada usahatani jagung untuk substitusi impor dan perdagangan antar daerah tidak memperoleh proteksi. Dari Tabel 4 dapat dijelaskan bahwa pada komoditas jagung. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh usahatani menerima subsidi input dari pemerintah. Tarif Implisit Tarif implisit (TI) mempunyai kegunaan yang sama dengan TPN.76 .45 . H= Hibrida. TI dihitung berdasarkan rasio antara nilai finansial input asing dengan nilai ekonomi input asing dikurangi satu.103 PAD -3.3. PEX= Promosi Ekspor.10 Tahun 2006 . J= Jagung. Tingkat Proteksi Efektif Tingkat proteksi efektif (TPE) merupakan analisis gabungan antara TPN dengan TI. yang digunakan untuk menggambarkan sampai sejauh mana kebijaksanaan pemerintah bersifat melindungi atau bahkan menghambat produksi domestik suatu komoditas. yang dinyatakan dalam persen. Jadi. Hasil perhitungan pada Tabel 4 menunjukkan bahwa seluruh usahatani yang dianalisis mempunyai nilai TI negatif. Jika TPE bernilai positif (TPE > 0). berarti produsen domestik memperoleh perlindungan (proteksi) dalam memproduksi suatu komoditas. berarti petani sebagai produsen membayar harga input lebih rendah dibanding harga internasional. untuk mengetahui sampai sejauh mana dampak kebijaksanaan input terhadap petani sebagai konsumen dari input yang bersangkutan. Dalam kondisi seperti ini. baik varietas hibrida maupun bersari bebas untuk orientasi promosi ekspor mempunyai nilai TPE positip dan untuk orientasi substitusi impor dan perdagangan antar daerah mempunyai nilai TPE negatif. SIM= Substitusi Impor. dan keduanya lebih besar dibanding untuk promosi ekspor. Hal ini berarti bahwa pada usahatani jagung untuk promosi ekspor memperoleh proteksi (perlindungan) dari pemerintah yang merupakan insentif untuk meningkatkan produksi dan produktivitas komoditas tersebut. dan R= Rekomendasi 2). sehingga kebijaksanaan pemerintah yang ada pada saat ini justru masih menghambat produksi komoditas yang bersangkutan.42 Keterangan : 1). sedangkan pada TI melihat kebijaksanaan harga inputnya. Hasil perhitungan TI secara lengkap disajikan pada Tabel 4.

maka dapat disimpulkan bahwa pada hipotesis kedua yang menyatakan kebijaksanaan pemerintah yang ada saat ini memberikan insentif kepada produsen jagung tidak sepenuhnya benar.10 Tahun 2006 Keunggulan Komparatif dan Dampak Kebijakan . tetapi memperoleh subsidi input dari pemerintah yang nilainya relatif kecil. KESIMPULAN DAN SARAN 5. Produsen komoditas jagung. Hasil analisis finansial menunjukkan bahwa usahatani komoditas jagung di Propinsi Jawa Timur menguntungkan.1. Kondisi ini jelas menguntungkan bagi produsen tersebut.104 Berdasarkan uraian di atas. Usahatani pada komoditas jagung hibrida dengan pola rekomendasi akan lebih menguntungkan daripada usahatani jagung lainnya. Hal ini mengakibatkan efek bersih dari produksi komoditas yang bersangkutan tidak memperoleh insentif. jika pada usahatani komoditas jagung ditujukan untuk orientasi perdagangan antar daerah (PAD) daripada untuk memenuhi kebutuhan setempat (SIM) maupun untuk ekspor (PEX). Jadi. dan baik untuk memenuhi kebutuhan daerah setempat (SIM). baik pada usahatani jagung varietas hibrida maupun bersari bebas. perubahan harga inputoutput dan perubahan nilai tukar mata uang. hipotesis kedua benar untuk produsen komoditas jagung dengan orientasi promosi ekspor saja. jika pada usahatani komoditas jagung digunakan varietas hibrida dan diusahakan dengan pola rekomendasi. Bulletin Penelitian No. Pendapatan di tingkat petani akan lebih besar. dipasarkan ke daerah lain (PAD) maupun untuk ekspor (PEX). Sedangkan untuk substitusi impor dan perdagangan antar daerah. 2. Hal tersebut di atas antara lain karena berkaitan dengan kebijaksanaan pemerintah dalam rangka mempromosikan peningkatan ekspor non-migas. Kesimpulan 1. Dengan kata lain. komoditas ini tidak memperoleh proteksi harga ouput. Kondisi ini berarti subsidi input yang diberikan oleh pemerintah tidak cukup efektif untuk menutup rendahnya harga output yang diterimanya. kebijaksanaan yang diambil oleh pemerintah tidak memberikan insentif kepada produsen jagung untuk orientasi substitusi impor dan perdagangan antar daerah. baik yang diusahakan dengan pola petani maupun rekomendasi. seperti perubahan koefisien teknis input-output. dan merupakan insentif baginya dalam mengelola usahataninya. Hal ini antara lain disebabkan telah terjadi adanya perubahan-perubahan dari variabel-variabel yang mempengaruhinya. Sedangkan pada pendapatan di tingkat pedagang akan lebih besar. baik varietas hibrida maupun bersari bebas hanya untuk ekspor yang memperoleh proteksi dari segi harga output yang dihasilkan dan harga input yang digunakan. 3. V. Hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa usahatani komoditas jagung. kecuali usahatani kedelai pola petani untuk perdagangan antar daerah (KDP-PAD). baik pola petani maupun pola rekomendasi di Propinsi Jawa Timur menguntungkan.

5. Analysis. Agriculture Economic John Wiley and Sons.P. Badan Pusat Statistik. Penelitian usahatani komoditas pertanian (termasuk jagung) dengan menggunakan data primer dan menggunakan beberapa tahun dasar perhitungan akan lebih bermanfaat dan lebih menarik. Badan Pusat Statistik. dengan menggunakan analisis BSD dan TPE disarankan: 1. 2. baik input maupun output. Hadi. Dengan kata lain. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 1979.U. Statistik Indonesia. 1997. 1993. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. 2003.M. Bishop. Jakarta. jika pada usahatani komoditas jagung diutamakan untuk memenuhi kebutuhan setempat (SIM) terlebih dahulu. Departemen Pertanian. Jakarta. dengan memproduksi komoditas jagung tersebut di dalam negeri akan lebih menguntungkan dibanding mengimpor dari luar negeri. Manfaat ekonomi akan didapat lebih besar. Saran untuk Penelitian Selanjutnya Untuk penelitian selanjutnya. untuk itu penelitian dengan mempertimbangkan sistem tersebut akan sangat menarik. yang diambil oleh pemerintah saat ini melindungi produsen untuk orientasi ekspor (PEX) dan merugikan untuk memenuhi kebutuhan setempat (SIM) dan perdagangan antar daerah (PAD).10 Tahun 2006 . VI. Departemen Pertanian. Statistik Pertanian. 2004. Jakarta. New York. Statistik Pertanian. Inc. Jakarta. dan jika ada surplus baru dikirim ke daerah lain (PAD) atau diekspor (PEX). Hasil analisis biaya sumberdaya domestik (BSD) menunjukkan bahwa usahatani komoditas jagung di Propinsi Jawa Timur mempunyai keunggulan komparatif. Tanaman Pangan. Usahatani komoditas jagung sering dilakukan dengan sistem tumpangsari dan diusahakan pada lahan sawah maupun lahan kering. DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik. Tousaint. P. and W. Departemen Pertanian. Badan Pusat Statistik. Penelitian Agribisnis (Buku II: Jagung). 2004. Departemen Pertanian. C.2. Keunggulan Komparatif dan Dampak Kebijakan Bulletin Penelitian No.105 4. 5. 6. Departemen Pertanian. Indikator Ekonomi. Waluyo dan Sugiarto. Hasil analisis tingkat proteksi efektif (TPE) menunjukkan bahwa kebijaksanaan harga dan perdagangan.. Buletin Statistik Bulanan.

Akrasane and G. 2002. XV. Dinamika Sumberdaya dan Pengembangan Sistem Usaha Pertanian. Saefudin.C. Bogor. B dan Yusmichad. Washington D. Suryana. 2001. 1979. 1989. Kasryno. Vol. S. F. P. Economic Analysis of Project. Majalah Pangan No. Stanford University. L. The policy Analysis Matrix for Agricultural Development.C. C. 1990.C. E. Profil Perdagangan Komoditas Jagung di Indonesia dalam Prosiding Agribisnis. Bogor. The International Bank for Reconstruction and Development. Malang. L and H. Square. G. Fakultas Pasca Sarjana. Keuntungan Komparatif dalam Produksi Ubi Kayu dan Jagung di Jawa Timur dan Lampung dengan Analisa Penghematan Sumberdaya Domestik. Vol. Cornel University Press. Food Research Institute Studies. Simatupang. M. Price and Invesment Policies in The Indonesian Food Crop Sector.10 Tahun 2006 Keunggulan Komparatif dan Dampak Kebijakan . 1987. Jakarta.R. Y. 3. 5. Pearson. Januari 1990. Rahmanto. Nelson. Gonzales. 1. Sudaryono. Badan Urusan Logistik. . Coparative advantage in Rice Production: A Methodological Introduction. Center for Agro Economic Reaseach. A. Coparative advantage and Protection Structure of The Livestock and Feedstuff Subsectors in Indonesia. 2. N. No.R. Bogor Indonesia. and S. Monke. Anggoro dan Suyamto. Center for Agro Economic Reaseach. IPB. Rosegrant. Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. dan E.. Keunggulan Komparatif Produksi Palawija Indonesia. Pearson. Marsum.A. F and P. Van Der Tak. USA.106 Kasryno. International Food Policy Research institute. 1990. Washington D.W. Thesis Program Magister Sain. 1980. Pasandaran . California.. Bogor. 1987. -oOo- Bulletin Penelitian No. Ithaca ang London. Rasahan and Y. Edisi Khusus Balitkabi No. Pengembangan Sistem Produksi Jagung Hibrida dalam Pengembangan Teknologi Produksi Tanaman Palawija di Lahan Kering. Buku II.A. Simatupang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful