Anda di halaman 1dari 20

Kompleks (kimia)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa

Sintesis tembaga(II) tetrafenilporfina, sebuah senyawa kompleks, dari tetrafenilporfina dan tembaga(II) asetat monohidrat. Dalam ilmu kimia, kompleks atau senyawa koordinasi merujuk pada molekul atau entitas yang terbentuk dari penggabungan ligan dan ion logam. Dulunya, sebuah kompleks artinya asosiasi reversibel dari molekul, atom, atau ion melalui ikatan kimia yang lemah. Pengertian ini sekarang telah berubah. Beberapa kompleks logam terbentuk secara irreversibel, dan banyak di antara mereka yang memiliki ikatan yang cukup kuat

[sunting] Sejarah
Senyawa-senyawa kompleks telah diketahui - walaupun saat itu belum sepenuhnya dimengerti sejak awal ilmu kimia, misalnya Prussian blue dan Tembaga(II) sulfat. Terobosan penting terjadi saat kimiawan Jerman Alfred Werner, mengusulkan bahwa ion kobalt(III) memiliki enam ligan dalam struktur geometri oktahedral. Dengan teori ini, para ilmuwan dapat mengerti perbedaan antara klorida koordinasi dan klorida ionik pada berbagai isomer-isomer kobalt amina klorida, dan menjelaskan kenapa senyawa ini memiliki banyak isomer, yang sebelumnya tidak dapat dijelaskan. Werner juga menggolongkan senyawa kompleks ini kepada beberapa isomer optis, mematahkan teori bahwa hanya senyawa karbon yang memiliki sifat khiralitas.

[sunting] Tatanama kompleks


Pada dasarnya, dalam menamai sebuah senyawa kompleks: 1. Dalam menamai sebuah ion kompleks, ligan disebutkan sebelum ion logam 2. Nama-nama ligan dituliskan sesuai urutan alfabetis. (awalan yang menunjukkan jumlah tidak memengaruhi urutan alfabetis)

Berikan awalan pada ligan-ligan sesuai jumlahnya. Ligan-ligan monodentat memiliki awalan : di-, tri-, tetra-, penta-, heksa-, dst. sesuai jumlahnya. Liganligan polidentat diberi awalan bis-, tris-, tetrakis-, dst. o Ligan anion diakhiri dengan huruf 'o', misalnya sulfat menjadi sulfato, dan jika anion tersebut memiliki akhiran -ida, maka akhiran tersebut dihilangkan misalnya sianida menjadi siano. o Ligan netral diberikan nama umumnya, kecuali amina untuk NH3, aqua atau aquo untuk H2O, karbonil untuk CO, dan nitrosil untuk NO 3. Tuliskan nama ion/atom pusat. Jika ion kompleks tersebut merupakan sebuah anion, nama atom pusat diakhiri dengan -at, dan menggunakan nama Latinnya. Jika tidak, maka atom pusat dituliskan dengan nama umumnya dalam bahasa Indonesia. Jika diperlukan, tulis bilangan oksidasinya dalam angka romawi (atau 0), dalam tanda kurung. 4. Jika kompleks tersebut merupakan senyawa ion, tuliskan nama kation sebelum nama anion dipisahkan dengan spasi. Jika kompleks tersebut merupakan ion bermuatan, tuliskan kata "ion" sebelum nama kompleks tersebut Contoh: [NiCl4]2 ion tetrakloronikelat(II) [CuNH3Cl5]3 ion aminapentaklorokuprat(II) [Cd(en)2(CN)2] disianobis(etilendiamin)kadmium(II) [Co(NH3)5Cl]SO4 pentaaminaklorokobalt(III) sulfat
http://id.wikipedia.org/wiki/Kompleks_%28kimia%29

a. Unsur Transisi Unsur yang dapat menggunakan elektron pada kulit pertama sebelum kulit terluar untuk berikatan dengan unsur lain

b. Ion Kompleks Terdiri dari Ion pusat dari Ligand 1. Ion pusat ion dari unsur-unsur transisi dan bermuatan positif. molekul atau ion yang mempunyai pasangan elektron bebas. 2. Ligand Misal : Cl-, CN-, NH3, H2O dan sebagainya. 3. Bilangan koordinasi adalah jumlah ligand dalam suatu ion kompleks. Antara ion pusat dan ligand terdapat ikatan koordinasi.

c. Daftar Ion Kompleks 1. Ion Kompleks positif : [Ag(NH3)2]+ [Cu(NH3)4]2+ [Zn(NH3)4]2+ [Co(NH3)6]3+ [Cu(H2O)4]2+ [Co(H2O)6]3+

= = = = = =

Diamin Perak Tetra amin Tembaga Tetra amin Seng Heksa amin Kobal Tetra Aquo Tembaga Heksa Aquo Kobal

(I) (II) (II) (III) (II) (III)

2.

Ion Kompleks negatif [Ni(CN)4]2[Fe(CN)6]3[Fe(CN)6]4[Co(CN)6]4[Co(CN)6]3[Co(Cl6]3-

= = = = = =

Tetra siano Nikelat Heksa siano Ferat Heksa siano Ferat Heksa siano Kobaltat Heksa siano Kobaltat Heksa kloro Kobaltat

(II) (III) (II) (II) (III) (III)

http://bebas.ui.ac.id/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Kimia/0254%20Kim%203-6e.htm

Kimia Unsur Golongan Transisi Periode Keempat


Oleh Andy Adom

Dalam tulisan ini, kita akan mempelajari tentang sifat unsur transisi periode keempat, reaksi kimia dan pengolahan unsur transisi periode keempat, pemanfaatan unsur transisi periode keempat dalam kehidupan sehari-hari, sifat senyawa kompleks yang terbentuk dari berbagai unsur transisi periode keempat, serta penulisan nama senyawa kompleks yang terbentuk. Unsur transisi periode keempat umumnya memiliki elektron valensi pada subkulit 3d yang belum terisi penuh (kecuali unsur Seng (Zn) pada Golongan IIB). Hal ini menyebabkan unsur transisi periode keempat memiliki beberapa sifat khas yang tidak dimiliki oleh unsur-unsur golongan utama, seperti sifat magnetik, warna ion, aktivitas katalitik, serta kemampuan membentuk senyawa kompleks. Unsur transisi periode keempat terdiri dari sepuluh unsur, yaitu Skandium (Sc), Titanium (Ti), Vanadium (V), Kromium (Cr), Mangan (Mn), Besi (Fe), Kobalt (Co), Nikel (Ni), Tembaga (Cu), dan Seng (Zn). (klik di sini untuk melihat sifat Unsur Transisi Periode Keempat dalam Tabel Periodik) Dalam satu periode dari kiri (Sc) ke kanan (Zn), keelektronegatifan unsur hampir sama, tidak meningkat maupun menurun secara signifikan. Selain itu, ukuran atom (jari-jari unsur) serta energi ionisasi juga tidak mengalami perubahan signifikan. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa semua unsur transisi periode keempat memiliki sifat kimia dan sifat fisika yang serupa. Hal ini berbeda dengan unsur utama yang mengalami perubahan sifat yang sangat signifikan dalam satu periode (lihat materi Unsur Unsur Periode Ketiga).

Unsur transisi periode keempat umumnya memiliki keelektronegatifan yang lebih besar dibandingkan unsur Alkali maupun Alkali tanah, sehingga kereaktifan unsur transisi tersebut lebih rendah bila dibandingkan Alkali maupun Alkali Tanah. Sebagian besar unsur transisi periode keempat mudah teroksidasi (memiliki Ered negatif), kecuali unsur Tembaga yang cenderung mudah tereduksi (ECu = + 0,34 V). Hal ini berarti bahwa secara teoritis, sebagian besar unsur transisi periode keempat dapat bereaksi dengan asam kuat (seperti HCl) menghasilkan gas hidrogen, kecuali unsur Tembaga. Akan tetapi, pada kenyataanya, kebanyakan unsur transisi periode keempat sulit atau bereaksi lambat dengan larutan asam akibat terbentuknya lapisan oksida yang dapat menghalangi reaksi lebih lanjut. Hal ini terlihat jelas pada unsur Kromium. Walaupun memiliki potensial standar reduksi negatif, unsur ini sulit bereaksi dengan asam akibat terbentuknya lapisan oksida (Cr2O3) yang inert. Sifat inilah yang dimanfaatkan dalam proses perlindungan logam dari korosi (perkaratan). Dibandingkan unsur Alkali dan Alkali Tanah, unsur-unsur transisi periode keempat memiliki susunan atom yang lebih rapat (closed packing). Akibatnya, unsur transisi tersebut memiliki kerapatan (densitas) yang jauh lebih besar dibandingkan Alkali maupun Alkali Tanah. Dengan demikian, ikatan logam (metallic bonds) yang terjadi pada unsur transisi lebih kuat. Hal ini berdampak pada titik didih dan titik leleh unsur transisi yang jauh lebih tinggi dibandingkan unsur logam golongan utama. Selain itu, entalpi pelelehan dan entalpi penguapan unsur transisi juga jauh lebih tinggi dibandingkan unsur logam golongan utama. Unsur transisi periode keempat memiliki tingkat oksidasi (bilangan oksidasi) yang bervariasi. Hal ini disebabkan oleh tingkat energi subkulit 3d dan 4s yang hampir sama. Oleh sebab itu, saat unsur transisi melepaskan elektron pada subkulit 4s membentuk ion positif (kation), sejumlah elektron pada subkulit 3d akan ikut dilepaskan. Bilangan oksidasi umum yang dijumpai pada tiap unsur transisi periode keempat adalah +2 dan +3. Sementara, bilangan oksidasi tertinggi pada unsur transisi periode keempat adalah +7 pada unsur Mangan (4s2 3d7). Bilangan oksidasi rendah umumnya ditemukan pada ion Cr3+, Mn2+, Fe2+, Fe3+, Cu+, dan Cu2+, sedangkan bilangan oksidasi tinggi ditemukan pada anion oksida, seperti CrO42-, Cr2O72-, dan MnO4-. Perubahan bilangan oksidasi ditunjukkan oleh perubahan warna larutan. Sebagai contoh, saat ion Cr+7 direduksi menjadi ion Cr3+, warna larutan berubah dari orange (jingga) menjadi hijau. Cr2O72-(aq) + 14 H+(aq) + 6 e- > 2 Cr3+(aq) + 7 H2O(l) Besi (Fe) adalah unsur yang cukup melimpah di kerak bumi (sekitar 6,2% massa kerak bumi). Besi jarang ditemukan dalam keadaan bebas di alam. Besi umumnya ditemukan dalam bentuk mineral (bijih besi), seperti hematite (Fe2O3), siderite (FeCO3), dan magnetite (Fe3O4). Logam Besi bereaksi dengan larutan asam klorida menghasilkan gas hidrogen. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut : Fe(s) + 2 H+(aq) > Fe2+(aq) + H2(g) Larutan asam sulfat pekat dapat mengoksidasi logam Besi menjadi ion Fe3+. Sementara larutan asam nitrat pekat akan membentuk lapisan oksida Fe3O4 yang dapat menghambat reaksi lebih

lanjut. Umumnya, Besi dijumpai dalam bentuk senyawa dengan tingkat oksidasi +2 dan +3. Beberapa contoh senyawa Besi (II) antara lain FeO (hitam), FeSO4. 7H2O (hijau), FeCl2 (kuning), dan FeS (hitam). Ion Fe2+ dapat dengan mudah teroksidasi menjadi ion Fe3+ bila terdapat gas oksigen yang cukup dalam larutan Fe2+. Sementara itu, senyawa yang mengandung ion Besi (III) adalah Fe2O3 (coklat-merah) dan FeCl3 (coklat). Tembaga (Cu) merupakan unsur yang jarang ditemukan di alam (precious metal). Tembaga umumnya ditemukan dalam bentuk senyawanya, yaitu bijih mineral, seperti kalkopirit (CuFeS2) dan kalkosit (Cu2S). Logam Tembaga dapat diperoleh melalui pemanggangan kalkopirit, seperti yang dinyatakan dalam persamaan reaksi di bawah ini : 2 CuFeS2(s) + 4 O2(g) > Cu2S(s) + 2 FeO(s) + 3 SO2(g) Cu2S(s) + O2(g) > 2Cu(l) + SO2(g) Logam Tembaga dapat dimurnikan melalui proses elektrolisis (lihat materi Elektrokimia II). Logam Tembaga memiliki koduktivitas elektrik yang tinggi. Dengan demikian, logam tembaga sering digunakan sebagai kawat penghantar listrik. Selain itu, Tembaga juga digunakan pada pembuatan alloy (sebagai contoh, kuningan, merupakan alloy dari Cu dan Zn),bahan pembuatan pipa, dan bahan dasar pembuatan koin (uang logam). Logam Tembaga bereaksi hanya dengan campuran asam sulfat dan asam nitrat pekat panas (dikenal dengan istilah aqua regia). Bilangan oksidasi Tembaga adalah +1 dan +2. Ion Cu+ kurang stabil dan cenderung mengalami disproporsionasi dalam larutan. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut : 2 Cu+(aq) > Cu(s) + Cu2+(aq) Semua senyawa Tembaga (I) bersifat diamagnetik dan tidak berwarna (kecuali Cu2O yang berwarna merah), sedangkan semua senyawa Tembaga (II) bersifat paramagnetik dan berwarna. Senyawa hidrat yang mengandung ion Cu2+ berwarna biru. Beberapa contoh senyawa yang mengandung Tembaga (II) adalah CuO (hitam), CuSO4.5H2O (biru), dan CuS (hitam). Senyawa Koordinasi adalah senyawa yang terbentuk dari ion sederhana (kation maupun anion) serta ion kompleks. Unsur transisi periode keempat dapat membentuk berbagai jenis ion kompleks. Ion kompleks terdiri dari kation logam transisi dan ligan. Ligan adalah molekul atau ion yang terikat pada kation logam transisi. Interaksi antara kation logam transisi dengan ligan merupakan reaksi asam-basa Lewis. Menurut Lewis, ligan merupakan basa Lewis yang berperan sebagai spesi pendonor (donator) elektron. Sementara itu, kation logam transisi merupakan asam Lewis yang berperan sebagai spesi penerima (akseptor) elektron. Dengan demikian, terjadi ikatan kovalen koordinasi (datif) antara ligan dengan kation logam transisi pada proses pembentukan ion kompleks. Kation logam transisi kekurangan elektron, sedangkan ligan memiliki sekurangnya sepasang elektron bebas (PEB). Beberapa contoh molekul yang dapat berperan sebagai ligan adalah H2O, NH3, CO, dan ion Cl-.

Bilangan koordinasi adalah jumlah ligan yang terikat pada kation logam transisi. Sebagai contoh, bilangan koordinasi Ag+ pada ion [Ag(NH3)2]+ adalah dua, bilangan koordinasi Cu2+ pada ion [Cu(NH3)4]2+ adalah empat, dan bilangan koordinasi Fe3+ pada ion [Fe(CN)6]3- adalah enam. Bilangan koordinasi yang sering dijumpai adalah 4 dan 6. Berdasarkan jumlah atom donor yang memiliki pasangan elektron bebas (PEB) pada ligan, ligan dapat dibedakan menjadi monodentat, bidentat, dan polidentat. H2O dan NH3 merupakan ligan monodentat (mendonorkan satu pasang elektron). Sedangkan Etilendiamin (H2N-CH2CH2-NH2, sering disebut dengan istilah en) merupakan contoh ligan bidentat (mendonorkan dua pasang elektron). Ligan bidentat dan polidentat sering disebut sebagai agen chelat (mampu mencengkram kation logam transisi dengan kuat). Muatan ion kompleks adalah penjumlahan dari muatan kation logam transisi dengan ligan yang mengelilinginya. Sebagai contoh, pada ion [PtCl6]2-, bilangan oksidasi masing-masing ligan (ion Cl-) adalah -1. Dengan demikian, bilangan oksidasi Pt (kation logam transisi) adalah +4. Contoh lain, pada ion [Cu(NH3)4]2+, bilangan oksidasi masing-masing ligan (molekul NH3) adalah 0 (nol). Dengan demikian, bilangan oksidasi Cu (kation logam transisi) adalah +2. Berikut ini adalah beberapa aturan yang berlaku dalam penamaan suatu ion kompleks maupun senyawa kompleks : 1. Penamaan kation mendahului anion; sama seperti penamaan senyawa ionik pada umumnya. 2. Dalam ion kompleks, nama ligan disusun menurut urutan abjad, kemudian dilanjutkan dengan nama kation logam transisi. 3. Nama ligan yang sering terlibat dalam pembentukan ion kompleks dapat dilihat pada Tabel Nama Ligan. 4. Ketika beberapa ligan sejenis terdapat dalam ion kompleks, digunakan awalan di-, tri-, tetra-, penta-, heksa-, dan sebagainya. 5. Bilangan oksidasi kation logam transisi dinyatakan dalam bilangan Romawi. 6. Ketika ion kompleks bermuatan negatif, nama kation logam transisi diberi akhiran at. Nama kation logam transisi pada ion kompleks bermuatan negatif dapat dilihat pada Tabel Nama Kation pada Anion Kompleks. Tabel Nama Ligan

Ligan Bromida, BrKlorida, ClSianida, CN-

Nama Ligan Bromo Kloro Siano

Hidroksida, OHOksida, O2Karbonat, CO32Nitrit, NO2Oksalat, C2O42Amonia, NH3 Karbon Monoksida, CO Air, H2O Etilendiamin Tabel Nama Kation pada Anion Kompleks

Hidrokso Okso Karbonato Nitro Oksalato Amina Karbonil Akuo Etilendiamin (en)

Kation Aluminium, Al Kromium, Cr Kobalt, Co Cuprum, Cu Aurum, Au Ferrum, Fe Plumbum, Pb Mangan, Mn Molibdenum, Mo Nikel, Ni Argentum, Ag Stannum, Sn Tungsten, W Zink, Zn

Nama Kation pada Anion Kompleks Aluminat Kromat Kobaltat Cuprat Aurat Ferrat Plumbat Manganat Molibdat Nikelat Argentat Stannat Tungstat Zinkat

Berikut ini adalah beberapa contoh penulisan nama maupun rumus kimia dari berbagai senyawa kompleks : 1. Ni(CO)4 Bilangan koordinasi = 4 Muatan ion kompleks = 0 Muatan ligan = 0 Muatan kation logam transisi = 0

Nama senyawa = tetrakarbonil nikel (0) atau nikel tetrakarbonil 2. NaAuF4 Terdiri dari kation sederhana (Na+) dan anion kompleks (AuF4-) Bilangan koordinasi = 4 Muatan anion kompleks = -1 Muatan ligan = -1 x 4 = -4 Muatan kation logam transisi = +3 Nama senyawa = natrium tetrafluoro aurat (III) 3. K3[Fe(CN)6] Terdiri dari kation sederhana (3 ion K+) dan anion kompleks ([Fe(CN)6]-3) Bilangan koordinasi = 6 Muatan anion kompleks = -3 Muatan ligan = -1 x 6 = -6 Muatan kation logam transisi = +3 Nama senyawa = kalium heksasiano ferrat (III) atau kalium ferrisianida 4. [Cr(en)3]Cl3 Terdiri dari kation kompleks ([Cr(en)3]3+) dan anion sederhana (3 ion Cl-) Bilangan koordinasi = 3 x 2 (bidentat) = 6 Muatan kation kompleks = +3 Muatan ligan = 3 x 0 = 0 Muatan kation logam transisi = +3 Nama senyawa = tris-(etilendiamin) kromium (III) klorida 5. Pentaamin kloro kobalt (III) klorida

Terdapat 5 NH3, satu Cl-, satu Co3+, dan ion ClMuatan kation kompleks = (5 x 0) + (1 x -1) + (1 x +3) = +2 Untuk membentuk senyawa kompleks, dibutuhkan dua ion ClRumus senyawa kompleks = [Co(NH3)5Cl]Cl2 6. Dikloro bis-(etilendiamin) platinum (IV) nitrat Terdapat 2 Cl-, 2 en, satu Pt4+, dan ion NO3Muatan kation kompleks = (2 x -1) + (2 x 0) + (1 x +4) = +2 Untuk membentuk senyawa kompleks, dibutuhkan dua ion NO3Rumus senyawa kompleks = [Pt(en)2Cl2](NO3)2 7. Natrium heksanitro kobaltat (III) Terdapat 6 NO2-, satu Co3+, dan ion Na+ Muatan anion kompleks = (6 x -1) + (1 x +3) = -3 Untuk membentuk senyawa kompleks, dibutuhkan tiga ion Na+ Rumus senyawa kompleks = Na3[Co(NO2)6] 8. Tris-(etilendiamin) kobalt (III) sulfat Terdapat 3 en, satu Co3+, dan ion SO42Muatan kation kompleks = (3 x 0) + (1 x +3) = +3 Untuk membentuk senyawa kompleks, dua kation kompleks membutuhkan tiga ion SO42Rumus senyawa kompleks = ([Co(en)3])2(SO4)3 Bentuk ion kompleks dipengaruhi oleh jumlah ligan, jenis ligan, dan jenis kation logam transisi. Secara umum, bentuk ion kompleks dapat ditentukan melalui bilangan koordinasi. Hubungan antara bilangan koordinasi terhadap bentuk ion kompleks dapat dilihat pada tabel berikut : Bilangan Koordinasi 2 4 Bentuk Ion Kompleks Linear Tetrahedral atau Square Planar

6 Referensi: Andy. 2009. Pre-College Chemistry.

Oktahedral

Cotton, F. Albert dan Geoffrey Wilkinson. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta: Penerbit UI Press Chang, Raymond. 2007. Chemistry Ninth Edition. New York: Mc Graw Hill. Ratcliff, Brian, dkk. 2006. AS Level and A Level Chemistry. Dubai: Oriental Press. Moore, John T. 2003. Kimia For Dummies. Indonesia: Pakar Raya.
http://andykimia03.wordpress.com/2009/10/15/kimia-unsur-golongan-transisi-periode-keempat/

Senyawa Koordinasi Seperti yang telah dijelaskan pada ikatan kovalen koordinasi NH3 dan BF3 bereaksi membentuk H3N.BF3. Secara umum senyawa yang terbentuk melalui ikatan kovalen koordinasi dianggap sebagai senyawa koordinasi atau senyawa kompleks. Lebih khusus lagi senyawa koordinasi adalah senyawa yang pembentukannya melibatkan pembentukan ikatan kovalen koordinasi antara ion logam atau logam dengan ion nonlogam. Kini senyawa-senyawa koordinasi yang dihasilkan dengan melibatkan pembentukan ikatan kovalen koordinasi lebih sering disebut sebagai senyawa kompleks. Beberapa jenis senyawa kompleks, yaitu: 1. Senyawa kompleks netral. Misalnya [Ni(CO)4] 2. Senyawa kompleks ionik. Senyawa kompleks ionik terdiri atas ion positif (kation) dan ion negatif (anion) misalnya [Ag(NH3)2]. Dalam senyawa kompleks ionik salah satu dari ion tersebut atau keduanya dapat merupakan ion kompleks. 3 jenis senyawa kompleks ionik yaitu: a. Senyawa kompleks ionik dengan kation sebagai ion kompleks. b. Senyawa kompleks ionik dengan anion sebagai ion kompleks. c. Senyawa kompleks ionik dengan kation dan anion sebagai ion kompleks. Berikut adalah beberapa senyawa kompleks ionik s.k.i kation sebagai ion s.k.i anion sebagai ion s.k.i kation dan anion sebagai

kompleks [Ag(NH3)2]Cl [Co(NH3)6](NO3)3

kompleks K3[Fe(CN)6] K2[PtCl4]

ion kompleks [Co(NH3)6] [Cr(Cn)] [Pt(NH3)4] [PtCl4]

Keterangan s.k.i : senyawa kompleks ionik Atom Pusat, Ligan dan Atom Donor Pada pembentukan senyawa kompleks netral atau senyawa kompleks ionik, atom logam dan ion logam disebut sebagai atom pusat, sedangkan atom yang mendonorkan elektronnya ke atom pusat disebit atom donor. Atom donor dapat berupa suatu ion atau molekul netral. Ion atau molekul netral yang memiliki atom-atom donor yang dikoordinasikan pada atom pusat disebut ligan. Pembentukan senyawa kompleks selalu ada molekul-molekul atau ion-ion yang mendonorkan elektronnya pada atom logam atau ionlogam. Elektron yang didonorkan biasanya berupa pasangan elektron (elektron pair) dari atom donor. Dari penjelasan-penjelasan tersebut atom donor yang terdapat pada ligan diartikan sebagai: 1) Atom yang memiliki pasangan elektron bebas. Misalnya NH3, H2O, CO, CN, NO2 dan Cl. Ligan-ligan ini merupakan basa Lewis yang dapat mendonorkan pasangan elektron bebasnya pada atom pusat yang berlaku sebagai asam Lewis.

Gambar Struktur beberapa ligan yang memiliki pasangan elektron bebas

2) Atom yang memiliki elektron tak berpasangan. Misalnya C5H5 (siklopentadienil = Cp), C2H5 (alil) dan NO (nitrosil).

Gambar Struktur ligan atom yang memiliki elektron tak berpasangan

3) Atom yang terikat melalui ikatan phi, , (ikatan rangkap). Misalnya C2H2 (asetilena), C2H4 (etilena) dan C6H6 (benzena), struktur ketiga ligan berturut-turut dapat dilihat pada Gambar.

Ligan yang memiliki ikatan phi () dan elektron tidak berpasangan merupakan donor elektron ganjil. Ligan alil mendonorkan 3 elektron.

Berdasarkan muatannya ligan, ligan dibagi menjadi tiga golongan, yaitu ligan netral, ligan bermuatan negatif dan ligan bermuatan positif. Pada umumnya ligan yang terdapat pada senyawa kompleks adalah ligan netral dan ligan negatif. Berdasarkan banyaknya atom donor yang dimiliki ligan, ligan dapat dikelompokan menjadi: 1) Ligan monodentat Ligan yang memiliki satu atom donor, contohnya NH3, H2O, CO dan Cl. Ligan monodentat yang atom donornya memiliki satu PEB biasanya hanya dapat membentuk sebuah ikatan kovalen koordinasi. 2) Ligan bidentat Ligan yang memiliki dua atom donor, contohnya misalnya ion oksalat (COOCOO) dan 1,2diaminoetana (etilenadiamina) (NH2CH2CH2NH2). Awalan mono, di dan tri menyatakan banyaknya atom donor yang terdapat pada ligan dan kata dentat berasal dari bahasa Latin dentatus yang berarti gigi. Tata Nama Senyawa Kompleks Tatanama senyawa kompleks terbagai menjadi dua jenis yakni tatanama sistematik dan tatanama umum. Tata Nama Umum Tatanama umum kini jarang bahkan tidak digunakan lagi. Hal ini disebabkan tatanama dengan cara ini hanya didasarkan atas nama penemu atau warna yang dimiliki senyawa koordinasi. Berikut adalah beberapa contoh senyawa koordinasi yang penamaannya didasarkan atas nama penemunya:

Garam Vauquelin Garam Magnus Senyawa Gmelin Garam Zeise

: : : :

[Pd(NH3)4] [PdCl4] [Pt(NH3)4] [PtCl4] [Co(NH3)6]2(C2O4)3 K[PtCl3(C2H4)].H2O

Sedangkan nama senyawa koordinasi yang didasarkan atas warna yang dimiliki adalah: Biru prusia (prusian blue) : KFe[Fe(CN)6].H2O Kompleks luteo (kuning) : [Co(NH3)5Cl]Cl2 Kompleks praseo (hijau) : [Co(NH3)4Cl2]

Alasan-alasan nama umum jarang digunakan atau tidak digunakan: 1) Banyak senyawa kompleks yang berbeda namun disintesis oleh orang yang sama 2) Banyak senyawa kompleks yang berbeda namun memiliki warna yang sama. Tata Nama Sistematik Tata nama sistematik dibagi menjadi dua cara yakni 1) Tata nama yang didasarkan atas nama dan jumlah ligan yang ada serta nama atom pusat beserta tingkat oksidasinya. Bilangan oksidasinya ditulis di dalam tanda kurung menggunakan angka Romawi. Anggka Romawi yang diberikan disebut Angka Stock. 2) Tata nama yang didasarkan atas nama dan jumlah ligan, nama atom pusat serta muatan dari kompleks yang ada. Angka arab yang digunakan dapat berupa tanda positif atau negatif yang menunjukan muatan ion kompleks, angka Arab ini disebut angka Ewens-Bassett. Tatanama Ligan Tatanama Ligan netral Tatanama ligan netral adalah seperti nama senyawanya kecuali untuk beberapa ligan seperti yang tertera pada Tabel.

Ligan MeCN en

Nama senyawa Asetonitril Etilenadiamina atau 1,2diaminoetana

Nama ligan Asetonitril Etilenadiamina

py AsPh3 phen Perkecualian H2O NH3 H2S H2Te CO CS NO NO2 NS SO SO2

Piridina trifenillarsina 1,10-fenantrolina atau ofenantrolina Air Amonia Hidrogen sulfida Hidrogen telurida Karbon monooksida Karbon monosulfida Nitrogen monooksida Nitrogen monooksida Nitrogen monosulfida Nitrogen monoksida Belerang dioksida

Piridina trifenillarsina 1,10-fenantrolina

Aqua Amina atau azana Sulfan Telan Karbonil Tiokarbonil Nitrosil Nitril Tionitrosil Sulfinil atau tionil Sulfonil atau sulfulir

Tatanama Ligan bermuatan negatif Ligan negatif dapat berupa: Ion sisa asam. Ion sisa asam namanya dapat berakhiran da, -it atau at, misalnya klorida (Cl), nitrit (NO2) dan nitrat (NO3) Ion bukan sisa asam. Ion bukan sisa asam namanya biasanya berakhiran da, misalnya nitrida (N3) dan ozonida. Jika berlaku sebagai ligan baik ion sisa asam maupun ion bukan sisa asam yang berakhiran da, diganti dengan akhiran do, kecuali untuk beberapa ligan yang tertera pada Tabel.

Rumus kimia NH2 NH2 N3 N3 S2 O3 perkecualian F

Nama ion Amida Imida Nitrida Azida Sulfida Ozonida Fluorida

Nama ligan Amido Imido Nitrido Azido Sulfido Ozonido Fluoro

Cl Br I O2 O22 Te2 S2 H SH RO C6H5O CN

Klorida Bromida Iodida Oksida Peroksida Telurida Sulfida Hidrida Hidrogen sulfida Alkoksida Fenoksida Sianida

Kloro Bromo Iodo Okso atau oksido Perokso Telurokso atau telurido Tio, tiokso atau sulfido Hidro atau hidrido Merkapto atau sulfanido Alkoksi Fenoksi Siano

Sedangkan untuk ion sisa asam yang berakhiran -it atau -at jika sebagai ligan akhirannya ditambah dengan akhiran o, seperti yang tertera pada Tabel.

Rumus kimia ONO NO2 ONO2 OSO22 OSO32 OCN SCN CO32

Nama ion Nitrit Nitrit Nitrat Sulfit Sulfat Sianat Tiosianat Kabonat

Nama ligan Nitrito Nitro Nitrato Sulfito Sulfato Sianato Tiosianato Karbonato

Ligan bermuatan positif sangat jarang dijumpai pada senyawa kompleks oleh sebab itu tidak dibahas pada bagian ini. Salah satu ligan yang bermuatan positif adalah H2N-CH2-NH3+. Dalam menulis ligan pada senyawa koordinasi biasanya atom donor selalu ditulis didepan, kecuali H2O, H2S dan H2Te. Misalnya untuk ion nitrit (NO2), jika N sebagai atom donor maka penulisan ligannya adalah NO2 sedangkan apabila O yang bertindak sebagai atom donor maka penulisan ligannya adalah ONO. Urutan Penyebutan Ligan 1. Apabila di dalam senyawa kompleks terdapat lebih dari satu ligan maka urutan penyebutan ligan adalah secara alfabetis tanpa memperhatikan jumlah dan muatan ligan yang ada. Pada

aturan lama ligan yang disebut terlebih dahulu adalah ligan yang bermuatan negatif secara alfabet kemudian diikuti dengan ligan netral yang disebut secara alfabet pula. 2. Urutan penyebutan ligan adalah urutan berdasarkan alfabet pada nama ligan yang telah di Indonesiakan. Misalnya alfabet awal untuk Cl adalah k meskipun dalam bahasa inggris nama chloro dengan alfabet awal c. Sebagai contoh nama untuk senyawa kompleks [Co(en)2Cl2]+ adalah Ion bis (etilenadiamina)diklorokobalt(III) (benar) Diklorobis (etilenadiamina)kobalt(III) (salah) 3. Jumlah ligan yang ada dapat dinayatakan dengan awalan di, tri. Tetra dan seterusnya. tetapi apabila awalan-awalan tersebut telah digunakan untuk menyebut jumlah substituen yang ada pada ligan maka jumlah ligan yang ada dinyatakan dengan awalan bis, tris, tetrakis dan seterusnya. misalnya di dalam suatu senyawa kompleks terdapat dua ligan PPh3 maka disebut dengan bis(trifenilfosfina) bukan di(trifenilfosfina). 4. Ligan-ligan yang terdiri dari dua atom atau lebih ditulis dalam tanda kurung. Tatanama Senyawa Kompleks Netral 1) Nama senyawa kompleks netral ditulis dalam satu kata. 2) Menulis atau menyebut nama dan jumlah ligan 3) Menulis atau menyebut nama atom pusat serta bilangan oksidasi dari atom pusatyang ditulis dengan anggka Romawi. Dan bilangan oksidasi atom pusat yang harganya nol tidak perlu dituliskan. Contoh [Co(NH3)3(NO2)3] [Ni(CO)4] [Fe(CO)5] [Fe(CO)2(NO)2] [Co(CO)3(NO)] : : : : : triaminatrinotrokobaltt(III) tetrakarbonilnikel pentakarbonilbesi dikarbonildinitrosilbesi trikarbonilnitrosilkobalt

Keterangan: triaminatrinotrokobaltt(III) merupakan kompleks dengan biloks = 0, selain itu merupakan kompleks dengan biloks 1. Senyawa Kompleks Ionik Senyawa kompleks ionik kation sebagai ion kopleks penamaannya adalah sebagai berikut:

1) Diawali dengan menulis atau menyebut kata ion 2) Menulis atau menyebut nama dan jumlah ligan yang dimiliki 3) Menulis atau menyebut nama atom pusat diikuti bilangan oksidasi yang ditulis dalam anggka Romawi. Selain cara di atas penamaan dapat dilakukan dengan cara berikut: 1) Diawali dengan menulis atau menyebut kata ion 2) Menulis atau menyebut nama dan jumlah ligan yang dimiliki 3) Menulis atau menyebut nama serta muatan dari ion kompleks yang ditulis dengan anggka Arab. Contoh Kompleks [Cu(NH3)4]2+ [Co(NH3)4Cl2]+ [Pt(NH3)4]2+ [Ru(NH3)5(NO2)]+ Spesi yang ada Cu2+ dan 4NH3 Co3+, 4NH3, dan 2Cl Pt2+, dan 4NH3 Ru2+, 5NH3, dan NO2 Nama ion tetraaminatembaga(II), atau Ion tetraaminatembaga(2+) ion tetraaminadiklorokobalt(II) atau ion tetraaminadiklorokobalt(1+) ion tetraaminaplatina(II) atau iontetraaminaplatina(2+) ion pentaaminanitrorutenium(II) atau ion pentaaminanitrorutenium(1+)

Senyawa kompleks ionik anion sebagai ion kompleks Penamaannya adalah sebagai berikut 1) Diawali dengan menulis atau menyebut kata ion 2) Menulis atau menyebut nama dan jumlah ligan yang dimiliki 3) Menulis atau menyebut nama atom pusat dalam bahasa latin dengan akhiran um atau ium diganti at kemudian diikuti bilangan oksidasi atom pusat yang ditulis dalam anggka Romawi. Selain cara di atas penamaan dapat dilakukan dengan cara berikut 1) Diawali dengan menulis atau menyebut kata ion 2) Menulis atau menyebut nama dan jumlah ligan yang dimiliki

3) Menulis atau menyebut nama atom pusat dalam bahasa latin dengan akhiran um atau ium diganti at kemudian diikuti muatan dari ion kompleks yang ditulis dengan angka Arab. Contoh kompleks [PtCl4]2 [Ni(CN)4]2 [Co(CN)6]3 [CrF6]3 [MgBr4]2 Spesi yang ada Pt2+ dan 4Cl Ni2+ dan 4CN Co3+ dan 6CN Cr3+ dan 6F Mg2+ dan 4Br Nama Ion tetrakloroplatinat(I) atau ion tetrakloroplatinat(2-) Ion tetrasianonikelat(II) atau ion tetrasianonikelat(2-) Ion heksasianokobaltat(III) atau ion heksasianokobaltat(3-) Ion heksafluorokromat(III) atau ion heksasianofluorokromat(3-) Ion tetrabromomagnesat(II) atau Ion tetrabromomagnesat(2-)

Senyawa kompleks ionik kation dan anion sebagai ion kompleks Penamaannya adalah menulis atau menyebut nama dan jumlah kation terlebih dahulu kemudian nama anion diikuti bilangan oksidasi atom pusat yang ditulis dalam anggka Romawi atau menulis atau menyebut nama dan jumlah kation terlebih dahulu kemudian nama anion diikuti muatan ion kompleks yang ditulis dengan angka Arab. Contoh K3[Fe(CN)6]3 : Kalium heksasianoferat(III) atau kalium heksasianoferat(3-) K4[Fe(CN)6] : Kalium heksasianoferat(II) atau kalium heksasianoferat(4-) [CoN3(NH3)5]SO4 : Pentaaminaazidokobalt(III) sulfat atau Pentaaminaazidokobalt(2+) sulfat [Cu(NH3)4]SO4 : Pentaaminatembaga(II) sulfat atau Pentaaminatembaga(2+) sulfat [Cu(NH3)4] [PtCl4] : Tetraaminatembaga(II) tetrakloroplatinat(II) atau tetraamina tembaga(2+) tetrakloroplatinat(2-) [Co(NH3)6] : Heksaaminakobalt(III) heksasianokromat(III) atau [Cr(CN)6] heksasianokobalt(3+) heksasianokromat(3-) Apakah senyawa kompleks hanya dapat dibuat dari unsur transisi? Pada awal perkembangan senyawa-senyawa kompleks atau senyawa koordinasi umumnya dibuat dari unsur-unsur transisi sebagai atom pusat. Disamping itu, senyawa yang dibentuk dari logam transisi selalu memiliki bilangan oksidasi atau tingkat oksidasi positif. Namun kini senyawa kompleks atau senyawa koordinasi atom pusatnya tidak harus dari unsur transisi. logam alkali, alkali tanah dan logam utama lainnya dapat digunakan sebagai atom pusat untuk mensintesis senyawa komplek atau senyawa koordinasi. Misalnya NaCl yang dikonsumsi sehari-hari dalam kuah masakan merupakan suatu kompleks. NaCl di dalam air membentuk ion heksaaquanatrium(I), [Na(H2O)8]+. Ion tetrakloroaluminat(III) [AlCl], Be(NO3)2.4H2O dan BeSO4.4H2O yang mengandung ion komplek tetraaquaberilium, [Be(H2O)4]2+, merupakan beberapa senyawa kompleks yang dibentuk dari unsur-unsur bukan unsur transisi.

Dari contoh-contoh diatas dapat disimpulkan bahwa senyawa kompleks, tidak hanya dibuat dengan unsur transisi sebagai atom pusat, tetapi dapat pula dibuat dengan unsur-unsur lain atau unsur-unsur logam golongan utama.

Apakah atom pusat suatu kompleks hanya memiliki bilangan oksidasi berharga positif? Awalnya senyawa kompleks yang berhasil disintesis selalu memiliki bilangan oksidasi yang berharga positif. Berikut adalah beberapa contoh senyawa kompleks dengan bilangan oksidasi ion pusat berharga positif Ion kompleks [Co(NH3)6]3+ [Co(CN)6]3 [Cu(NH3)4]2+ [Fe(CN)6]3 [Pd(NH3)4]2+ [PtCl4]2 Atom pusat Co3+ Co3+ Cu2+ Fe3+ Pd2+ Pt2+ b.o atom pusat +3 +3 +2 +3 +2 +2

Keterangan: b.o = bilangan oksidasi

Dari contoh di atas dapat disimpulkan bahwa atom pusat suatu kompleks tidak harus memiliki bilangan oksidasi yang harganya positif. Atom pusat suatu kompleks dapat memiliki bilangan oksidasi nol dan negatif. Berikut adalah contoh kompleks dengan bilangan oksidasi nol dan harga bilangan oksidasi negatif.

kompleks [V(CO)6] [Cr(CO)6] [Fe(CO)5] [Co(Cp)2] [Ni(CO)4]

b.o atom pusat 0 0 0 0 0

Kompleks [V(CO)6] [Cr(CO)5]2 [Mn(CO)5] [Fe(CO)4]2 [Re(CO)4]3

b.o atom pusat -1 -2 -1 -2 -3

Keterangan: b.o = bilangan oksidasi Catatan: CO adalah ligan karbonil, Cp ligan siklopentadienil dan NO adalah ligan nitrosil. Ketiga ligan tersebut merupakan ligan netral.

Bilangan Koordinasi Pada senyawa kompleks banyaknya atom yang terikat pada atom pusat disebut bilangan koordinasi. Bilangan koordinasi tidak sama dengan bilangan oksidasi atau tingkat oksidasi. Bilangan koordinasi biasanya 2 x bilangan oksidasi. Oleh sebab itu untuk unsur-unsur yang memiliki bilangan oksidasi lebih dari satu akan memeiliki bilangan koordinasi lebih dari satu, hal ini biasanya terjadi pada unsur-unsur transisi. Untuk senyawa kompleks dengan ligan monodentat, bilangan koordinasi atom pusat adalah sama dengan jumlah ligan yang diikatnya. Bilangan koordinasi yang sering dijumpai pada senyawa kompleks adalah 4 dan 6.
http://wanibesak.wordpress.com/2010/11/14/senyawa-kompleks-dan-tatanama-senyawa-kompleks/