Anda di halaman 1dari 5

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1

LatarBelakang Kakao atau yang juga populer dengan sebutan cokelat dikenal dan

digunakan sejak ratusan tahun lalu. Kakao merupakan tanaman pohon yang termasuk jenis tanaman daerah panas, tinggi pohonnya antara 5-6 meter, berbunga dan berbuah sepanjang daun. Buahnya berwarna ungu atau kuning yang bergantungan pada batang-batang yang besar, bentuk buahnya lonjong dengan panjang antara 12-20 cm, mengandung biji-biji seperti kacang-kacangan antara 50-100 biji. Biji-biji inilah yang biasanya diolah menjadi serbuk atau Kristal untuk dibuat minuman atau makanan lezat lainnya. (Widya. 2008) Kakao adalah salah satu bahan makanan yang memiliki kandungan flavonoid tertinggi (Keen, 2001). Kandungan flavonoid utamanya adalah epicatechin, proantocyanidin dan catechin. Kandungan flavonoid kakao lebih tinggi dari pada bahan makanan lainnya seperti apel, bawang putih, anggur, yang dikenal mengandung banyak flavonoid (Ravents et al., 2005). Flavonoid berperan sebagai antioksidan karena dapat menangkap radikal bebas (free radical scavengers) dengan melepaskan atom hidrogen dari gugus hidroksilnya. Pemberian atom hidrogen ini akan menyebabkan radikal bebas menjadi stabil sehingga tidak merusak lipida, protein, dan deoxyribonucleic acid (DNA) yang

menjadi target kerusakan seluler. ( Ide, 2008) Biji kakao merupakan salah satu komoditi perdagangan yang sedang dikembangkan dalam rangka usaha memperbesar pendapatan negara dan meningkatkan penghasilan pengusaha dan petani, serta pembudidayaan tanaman kakao secara intensif dan ekstensif perlu dilakukan secar bertahap dan berencana. Pada tahun 1992 luas tanaman kakao Indonesia 387.102 Ha dengan produksi 175.384 ton, menduduki urutan kelima dunia setelah Malaysia. Ekspor kakao Indonesia juga mengalami peningkatan, dimana pada tahun 1991 telah mencapai 145.217 ton dengan nilai US $ 149.918. Diperkirakan ekspornya masih akan meningkat lagi ditahun-tahun mendatang. Peningkatan produksi kakao Indonesia terutama disebabkan perluasan perkebunan rakyat dengan jenis kakao lindak. Kenaikan produksi seharusnya diikuti oleh perbaikan mutu biji kakao kering yang dihasilkan, sehingga dapat bersaing dipasaran dunia. Masalah pada biji kakao lindak terutama pada biji kakao hasil olahan petani adalah mutunya dinilai rendah, karena keasaman biji yang tinggi, flavor yang rendah, adanya biji-biji kakao tidak terfermentasi, tercampur rasa sepat, serta ukuran biji tidak seragam. Penyimpanan buah kakao menyebabkan perubahan fisik dan kimia dalam buah kakao yang mempengaruhi kondisi fermentasinya. Menurut Rohan dan Lopez kondisi fermentasi sangat berpengaruh terhadap waktu fermentasi. Kapasitas produksi kakao petani relative kecil dan alat fermentasinya sangat rendah. Untuk mencoba menerapkan kondisi yang ada pada petani maka erlu diteliti lamanya penyimpanan buah dan lama fermentasinya.

1.2

Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang saya angkat dalam penelitian ini adalah: a. Apakah ada pengaruh lama penyimpanan buah kakao terhadap kadar air, jumlah biji per 100 gram, kadar biji tidak terfermentasi, kadar biji berkecambah, dan pH?

1.3

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah: a. Mengetahui seberapa pengaruhnya lama penyimpanan buah kakao terhadap kadar air, jumlah biji per 100 gram, kadar biji tidak terfermentasi, kadar biji berkecambah, dan pH.

1.4

Hepotesis Penelitian

Hipotesis dari penelitian ini adalah: a. Dengan adanya buah coklat sekarang ini, diduga ada pengaruh dengan lama penyimpanan buah kakao terhadap kadar air, jumlah biji per 100 gram, kadar biji tidak terfermentasi, kadar biji berkecambah, dan pH.

1.5

Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah: a. Dapat memberikan informasi kepada masyarakat khususnya pengusaha dan petani agar mengetahui apakah ada pengaruh dengan lama penyimpanan buah kakao terhadap kadar air, jumlah biji per 100 gram, kadar biji tidak terfermentasi, kadar biji berkecambah, dan pH.

1.6 Kakao

Definisi Istilah : Tanaman pohon yang termasuk jenis tanaman daerah panas dan

salah satu bahan makanan yang memiliki kandungan flavonoid yang tinggi. (Fuad Hasan. 1991) Flavonoid : Flavonoid merupakan salah satu subkelas dari polifenol dan

termasuk dalam 7 kelompok utama. Identifikasi tanaman yang mengandung antioksidan telah mendorong berbagai penelitian secara in vitro dan in vivo yang mempelajari tentang flavonoid dan polifenol lain dalam makanan dan minuman, termasuk kakao. Flavonoid utama dalam kakao adalah flavan-3ols, epicatechin, dan catechin (unit monomerik), dan polimerik yaitu proanthocyanidins yang juga disebut dengan procyanidin (Noe et al., 2004). Fermentasi : Proses produksi energi dalam sel dalam keadaan anaerobik (tanpa

oksigen). Secara umum, fermentasi adalah salah satu bentuk respirasi anaerobik, akan tetapi, terdapat definisi yang lebih jelas yang

mendefinisikan fermentasi sebagai respirasi dalam lingkungan anaerobik dengan tanpa akseptor elektron eksternal.

Rancangan Penelitian Penelitian ini menggnakan Rancangan acak Kelompok dengan pola factorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah lama penyimpanan buah (K) yang terdiri dari lima level yaitu K0 (0 hari), K3 (3 hari), K6 (6 hari), K9 (9 hari), dan K12 (12 hari). Faktor kedua adalah lama fermentasi (W) yang terdiri dari empat level yaitu W2 (2 hari), W4 (4 hari), W6 (6 hari), dan W8 (8 hari). Dengan demikian didapatkan 20 perlakuan kombinasi. Masing-masing pelakuan kombinasi diulang dua kali. Data yang diperoleh selanjutnya diuji dengan analisis keragaman dan apabila terdapat pengaruh perlakuan, analisis dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Lama penyimpanan buah (hari) 0 3 6 9 12 Rata-rata 2 Lama fermentasi (hari) 4 6 8 Rata-rata