Anda di halaman 1dari 22

LAHAN TERBUKA KOTA BANDUNG

(Kamis, 15 Maret 2007) dibaca: 222 kali

Tegallega Tegallega Receterrein (lintasan balap) yang lebih dikenal dengan nama Pacuan Kuda Tegellega merupakan lahan terbuka terluas di Kota Bandung, sesuai dengan arti Tegallega, yaitu Lapangan yang sangat luas. Lahan terbuka ini berfungsi sebagai lapangan pacuan kuda atau balap kuda sejak masa Hindia Belanda. Tegallega merupakan ujung selatan Kota Bandung hingga tahun 1930-an. Tegallega Receterrein yang berbentuk persegi empat terletak di selatan Kota Bandung, dibatasi Tjiateulweg (sekarang Jln. Ciateul) di utara,Tegallega Oostweg (sekarang Jln. Mohammad Toha) di timur, Tegallega westweb (sekarang Jln. Oto Iskandar Dinata) di barat, dan Tegallega Zuidweg (sekarang Jln. Pembela Tanah Air PETA) di selatan. Pertandingan pacuan kuda biasa dilakukan sebulan sekali dengan peserta dari Bandung dan sekitarnya. Penyelenggaraan pacuan kuda tahunan yang paling besar dan diikuti peserta dari seluruh Hindia Belanda menjadikan Kota Bandung kebanjiran wisatawan. Turnamen besar itu biasanya merupakan bagian dari kemeriahan acara Kerajaan Belanda. Belakangan kemudian, lapangan pacuan kuda Tegallega dipindahkan ke Arcamanik pada tahun 1970-an, sehingga Tegallega menjadi lahan terbuka yang tidak terurus. Lebak Gede Lebak Gede yang berarti lembah besar terletak di antara Dr. de Grootweg (sekarang Jln. Siliwangi) , Huygenweg (sekarang Jln. Tamansari) dan Sungai Cikapundung di sebelah baratnya. Sejak awal Lebak Gede merupakan lahan terbuka hingga medio tahun 1990-an.Ikon panorama Lebak Gede sejak tempo doeloe adalah Villa Mei Ling karya arsitek F.W. Brinkmann (1930), yang terletak di puncak jajaran bukit di utara Lebak Gede. Villa Mei Ling di Lammingaweg (sekarang Jln. Sangkuriang) adalah rumah Ang Eng Kan, pedagang besar beras pada tahun 1930-an. Villa indah ini yang bergaya arsitektur Art Deco mempunyai

kaitan cukup penting dengan sejarah Indonesia. Batavia jatuh ke tangan pasukan Jepang pada tanggal 5 Maret 1942, Gubernur Jenderal Hindia Belanda A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer, Panglima Tentara Hindia Belanda Lentan Jenderal H. ter Poorten, Letnan Gubernur Jenderal Dr. Hubertus J. van Mook, beserta pejabat tinggi militer dan sipil lainnya telah meninggalkan Batavia untuk pindah ke Bandung. Rombongan Gubernur Jenderal tinggal di rumah Residen Prianga Tacoma (Gedung Pakuan sekarang). Pada tanggal 6 Maret 1942 penguasa militer Hindia Belanda mengeluarkan perintah tidak boleh ada pertempuran di dalam Kota Bandung untuk menghindari jatuhnya korban penduduk dan para pengungsi. Pemerintah Belanda di pengasingan (London) memerintahkan harus dihindari suatu takluk total pada tanggal 7 Maret 1942. Bersamaan dengan hari ulang tahun sang Gubernur Jenderal, rumah Residen Priangan dibom Jepang pada pagi hari 7 Maret 1942. Dr. Hubertus J. van Mook terbang ke Australia pada sore hari dengan menggunakan pesawat dari Boeahbatoeweg yang baru selesai dibangun sebagian. Gubernur Jenderal dan rombongan pindah ke Villa Mei Ling pada malam harinya. Pada malam tanggal 7 Maret 1942 ketika Lembang sedang gencar diserbu tentara Jepang, Panglima Tentara mengirim utusannya untuk mengadakan gencatan senjata. Di Villa Mei Ling Gubernur Jenderal Hindia Belanda menerima balasan dari tentara Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, yang bersedia berunding di Kalijati. Pihak Hindia Belanda mengusulkan tempat perundingan di Villa Isola, tetapi ditolak tentara Jepang. Mereka memberi ultimatum penyerangan besar-besaran dengan pesawat pembom tempur Jepang ke kota Bandung pada pukul 10.00, jikalau Belanda tidak bersedia. Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Panglima Tentara, dan Rombongan berangkat ke Kalijati mengingat keselamatan kota Bandung. Letnan Jenderal Imamura menuntut Pemerintah Hindia Belanda untuk segera menyerah tanpa sayarat, yang ditolak Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Gubernur Jenderal hanya bersedia menyerahkan kota Bandung dan sekitarnya serta menyatakan kota ini sebagai kota terbuka. Pada pukul 18.20 Panglima Hindia Belanda, Letnan Jenderal H. Ter Poorten, menandatangani surat keterangan penyerahan militer Hindia Belanda kepada tentara Jepang. Kota Bandung menjadi saksi berakhirnya Pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia selama kurang lebih 350. Villa Mei Ling adalah saksi bisu terhindarnya kota Bandung dari kehancuran total karena Gubernur Jenderal Hindia Belanda bersedia bertemu dengan Bala Tentara Jepang di Kalijati. Alun-alun Alun-alun sebuah lapangan terbuka di pusat kota, yang merupakan ciri tradisonal kota-kota di Pulau Jawa. Sebuah mesjid kota dapat dipastikan selalu berdiri di seberang sisi Alun-alun.Alun-alun Bandung dibuat bersamaan dengan pendirian kota Bandung, ketika ibu kota Kabupaten Tatar Ukur dipindahkan dari Krapyak ke Cikapundung Hilir pada tahun 1810. Pada umumnya, Alun-alun dibiarkan sebagai lahan terbuka dengan pepohonan Beringin di keempat sudutnya. Alun-alun Bandung sempat menjadi lapangan sepak bola antara tahun 1900 1905 dan 1914 1921. Alun-alun ini sudah berbentuk taman

terbuka dengan sedikit tanaman bunga di tengahtengahnya pada tahun 1950-an. Pada awal tahun 1960, berbagai bunga yang yang ditanami dalam pot menjadikan Alunalun bak taman bunga lengkap dengan jalan tamannya. Fungsi taman terbuka menjadi taman halaman Mesjid Agung terjadi pada awal tahun 1980-an,seiring dengan pembangunan jembatan beton yang menghubungkan sisi barat Alun-alun dengan Mesjid Agung.

SEKILAS SEJARAH KOTA BANDUNG

Kota Bandung tidak berdiri bersamaan dengan pembentukan Kabupaten Bandung. Kota itu dibangun dengan tenggang waktu sangat jauh setelah Kabupaten Bandung berdiri. Kabupaten Bandung dibentuk pada sekitar pertengahan abad ke-17 Masehi, dengan Bupati pertama tumenggung Wiraangunangun. Beliau memerintah Kabupaten bandung hingga tahun 1681. Semula Kabupaten Bandung beribukota di Krapyak (sekarang Dayeuhkolot) kira-kira 11 kilometer ke arah Selatan dari pusat kota Bandung sekarang. Ketika kabupaten Bandung dipimpin oleh bupati ke-6, yakni R.A Wiranatakusumah II (1794-1829) yang dijuluki "Dalem Kaum I", kekuasaan di Nusantara beralih dari Kompeni ke Pemerintahan Hindia Belanda, dengan gubernur jenderal pertama Herman Willem Daendels (1808-1811). Untuk kelancaran menjalankan tugasnya di Pulau Jawa, Daendels membangun Jalan Raya Pos (Groote Postweg) dari Anyer di ujung barat Jawa Barat ke Panarukan di ujung timur Jawa timur (kira-kira 1000 km). Pembangunan jalan raya itu dilakukan oleh rakyat pribumi di bawah pimpinan bupati daerah masing-masing. Di daerah Bandung khususnya dan daerah Priangan umumnya, Jalan Raya pos mulai dibangun pertengahan tahun 1808, dengan memperbaiki dan memperlebar jalan yang telah ada. Di daerah Bandung sekarang, jalan raya itu adalah Jalan Jenderal Sudirman Jalan Asia Afrika - Jalan A. Yani, berlanjut ke Sumedang dan seterusnya. Untuk kelancaran pembangunan jalan raya, dan agar pejabat pemerintah kolonial mudah mendatangi kantor bupati, Daendels melalui surat tanggal 25 Mei 1810 meminta Bupati Bandung dan Bupati Parakanmuncang untuk memindahkan ibukota kabupaten, masingmasing ke daerah Cikapundung dan Andawadak (Tanjungsari), mendekati Jalan Raya Pos. Rupanya Daendels tidak mengetahui, bahwa jauh sebelum surat itu keluar, bupati Bandung sudah merencanakan untuk memindahkan ibukota Kabupaten Bandung, bahkan telah menemukan tempat yang cukup baik dan strategis bagi pusat pemerintahan. Tempat yang dipilih adalah lahan kosong berupa hutan, terletak di tepi barat Sungai Cikapundung, tepi selatan Jalan Raya Pos yang sedang dibangun (pusat kota Bandung sekarang). Alasan pemindahan ibukota itu antara lain, Krapyak tidak strategis sebagai ibukota pemerintahan, karena terletak di sisi selatan daerah Bandung dan sering dilanda banjir bila musim hujan. Sekitar akhir tahun 1808/awal tahun 1809, bupati beserta sejumlah rakyatnya pindah

dari Krapyak mendekali lahan bakal ibukota baru. Mula-mula bupati tinggal di Cikalintu (daerah Cipaganti), kemudian pindah ke Balubur Hilir, selanjutnya pindah lagi ke Kampur Bogor (Kebon Kawung, pada lahan Gedung Pakuan sekarang). Tidak diketahui secara pasti, berapa lama Kota Bandung dibangun. Akan tetapi, kota itu dibangun bukan atas prakarsa Daendels, melainkan atas prakarsa Bupati Bandung, bahkan pembangunan kota itu langsung dipimpin oleh bupati. Dengan kata lain, Bupati R. A. Wiranatakusumah II adalah pendiri (the founding father) kota Bandung. Kota Bandung diresmikan sebagai ibukota baru Kabupaten Bandung dengan surat keputusan tanggal 25 September 1810.

TAMAN KOTA BANDUNG TEMPO DULU


(Kamis, 15 Maret 2007) dibaca: 494 kali

Kota Bandung dikenal dengan sebutan Kota Taman (1936) bukan saja karena memiliki banyak taman dan lahan terbuka, tetapi juga karena tata kotanya mengacu pada konsep kota taman (Garden City), yang dianut oleh banyak Negara di Eropa. Dari sekian banyak taman dan lahan terbuka tempo doeloe itu, hanya tersisa sedikit saja sekarang ini. Kebanyakan taman dan lahan terbuka telah hilang atau berubah fungsi, terutama pada lahan terbuka yang berukuran kecil. Pieter Sijthoffpark Pieter Sijthoffpark merupakan taman tertua di Kota Bandung dan yang pertama di bangun di kota ini. Pieter Sijthoffpark, atau lebih dikenal dengan nama Pieterspark, dibangun pada tahun 1885 untuk mengenang Asisten Residen Priangan, Pieter Sijthoff, yang berjasa besar bagi perkembangan Kota Bandung. Taman ini dirancang oleh R. Teuscher, seorang pakar tanaman (botanikus) yang bertempat tingal di pojok Tamblongweg dan Naripanweg. Bentuk tamannya persegi empat, beserta dengan jalanan berbentuk mirip huruf Y.Sebuah Gazebo ditempatkan di tengah pertemuan jalan taman ini. Kanal taman dengan jembatan penyebrangan artistik yang terbuat dari besi dibangun mengelilingi taman. Berbagai jenis pohon pelindung, pohon hias, tanaman hias, dan bunga-bungaan ditanami di dalam taman. Sebuah taman yang sederhana, namun mempesona. Di seberang timur taman terdapat Pieter Sijthoff Park Kweekschool voor Inlandsche Order wijzern, yang sering disebut Sakola Radja, sehingga nama taman ini pun menjadi Kebon Radja. Nama Kebon Radja berubah menjadi Taman Merdeka pada tahun 1950an. Kemudian, diubah menjadi Taman Dewi Sartika pada tanggal 4 Desember 1996 seiring dengan penempatan patung Dewi Sartika disana. Ijzermanpark Gagasan untuk mendirikan Perguruan Tinggi Teknik pertama di Hindia Belanda muncul pada

awal tahun 1917 dari sebuah yayasan swasta bernama Koninklijk Instituut voor Hoger Technisch Onderwijs In Ned Indie, yang diketuai C.J.K van Aalst da kemudian digantikan J.W. Ijzerman, pegawai staats spoorwegen-SS (Jawatan Kereta Api Negara).Dr.Ir. J.w. Ijzerman berjasa besar dalam pendirian Technische Hogeshool THS (sekarang Institut Teknologi Bandung-ITB), sehingga sebuah taman artistik dan tertata rapih yang dibangun di depan THS (1919), di Hooge Schoolweg (sekarang Jln. Ganesha), diberi nama Ijzermanpark (sekarang Taman Ganesha). Sebuah patung dada Dr.Ir. J.W. Ijzerman berdiri dengan landasan tiang beton di pintu masuk utara taman. Patung Dr.Ir. J.W. Ijzerman itu masih berdiri megah pada tahun 1950-an. Namun tahun 1960-an patung Ijzerman telah digantikan dengan patung Ganesha di sana sekarang diletakan patung kontemporer terbuat dari baja tahan karat berbentuk rangka kubus. Entah dimana patung dada Ijzerman itu, apakah disimpan di ITB atau telah raib entah ke mana. Molukkenpark Molukkenpark (sejak tahun 1950-an disebut Taman Maluku), dibangun pada tahun 1919. Taman ini terletak di antara Menadostraat, Celebesstraat, Ambonstraat, dan Saparuastraat (sekarang Jln. Aceh, Jln. Sulawesi, yang kemudian digabung dengan Jln. Seram, Jln. Ambon, dan Jln. Saparua).Taman Molukkenpark ditata dan dilengkapi dengan sebuah kolam besar berhiaskan air mancur, bunga Teratai, tanaman hias, pohon pelindung sebagai peneduh, bangku taman di keteduhan pohon, Jalan taman, dan tiang-tiang lampu berdekorasi artistic, sehingga memberikan kesan sejuk dan asri. Sebuah lapangan Tenis terletak di sebelah utara taman, ketika Molukkenpark belum dilengkapi dengan kolam. Di pojok taman dekat simpang jalan Celebessraat dan Ambonstraat berdiri patung perunggu perunggu Pastor H.O. Verbraak, S.J. (1835 1918), seorang imam tentara Hindia Belanda yang bertugas dalam perang Atjeh (1874 1907). Patung ini merupakan satu-satunya patung dari masa Hindia Belanda yang masih berdiri di Bandung. Insulindepark Sebagian tanah kosong yang merupakan cikal bakal Insulindepark masih berbentuk rawa pada tahun 1898. Rawa itu kemudian dikeringkan dan dijadikan lapangan untuk kegiatan militer (1915 -1919) dengan jajaran pepohonan disekelilingnya. Lapangan itu dijadikan sebagai Taman Tropis pada tahun 1920-an. Taman tropis ini kemudian diberi nama Insulindepark pada`tahun 1925. Tahun 1935

Insulindepark telah memiliki 90 jenis tanaman keras dan bunga-bungaan. Nama Insulindepark diganti menjadi Taman Nusantara pada tanggal 28 April 1950, kemudian menjadi Taman Lalu Lintas pada tanggal 1 Maret 1958. Taman Lalu Lintas merupakan sarana pendidikan informal untuk menanamkan etika berlalu lintas bagi anak-anak di Bandung, selain sebagai tempat berekreasi merupakan yang pertama di Indonesia. Nama taman ini kemudian menjadi Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani untuk mengenang pahlawan cilik putrid putri almarhum Jenderal Bintang Lima (Purn) Abdul Haris Nasution. Ade`Irma Suryani meninggal tertembak dalam peristiwa Gerakan 30 September (G30S) ketika para pemberontak mencoba menculik ayahnya (1965). Pembentuk Badan Keamanan Lalu Lintas (BKLL), yang dikelola oleh Kepolisian Jawa Barat pada tahun 1958, merupakan upaya penanggulangan masalah kenakalan remaja yang mulai terasa sejak awal tahun 1950-an. Taman Lalu Lintas dibangu sebagai wadah perehabilitasian para remaja berandal di Bandung. Tjitaroem Plein Tjitaroem Plein (Lapangan Citarum) terletak di ujung barat Tjitaroemstraat (sekarang Jln. Citarum). Tjitaroem Plein adalah lapangan yang memiliki beberapa pohon hias, dillengkapi dengan sebuah kolam dan sebuah monumen di sisi barat kolam. Tjitaroem Plein dibangun sekitar akhir tahun 1920-an. Monumen Tjitaroem Plein itu untuk memperingati percakapan pertama melalui radio telepon antara Hindia Belanda dan Nedrland pada`tanggal 3 Juni 1927, di pemancar Malabar. Bentuk monument berupa bola besar, yang mengibaratkan bumi dan dua patung lelaki berhadap-hadapan tanpa busana di kedua sisinya. Ekspresi sebuah patung tampak sedang berteriak dan yang lainnya menempelkan telapak tangan di telinga. Monumen ini melambangkan jarak bumi menjadi tidak berarti lagi melalui komunikasi radio telepon bumi. Namun patung peringatan di Lapangan Citarum itu dibongkar pada akhir tahun 1950-an. Pembongkaran yang sangat disesalkan oleh banyak pihak, sebab bagaimanapun patung itu memiliki makna histories bagi kota Bandung dan Indonesia pada umumnya. Pembongkaran yang semata-mata didasarkan pada penilaian sepihak bahwa wujud patung dianggap melanggar tata susila, seperti pada cara masyarakat menyebutnya Patung Pantat Kecil. Nama pendiri pemancar Malabar Ir G.J. de Groot diabadikan sebagai nama jalan yang sekarang disebut Jlln. Siliwangi. Oranje Nassau Plein Oranje Nassau Plein atau lebih dikenal dengan nama Oranjee plein (tahun 1950-an) dinamai Lapangan Dipati Ukur, sekarang Taman pramuka terletak di Riouwstraat (tahun 1950-an) menjadi Jln.

Riau dan sekarang menjadi Jln. L.L.R.E. Martadinata. Daerah lokasi Oranje Nassau Plein yang disebut Kapitein Hill merupakan kawasan perumahan mewah dengan halaman luas dipenuhi tanaman bunga . Riouwstraat pada saat itu merupakan batas paling timur Kota Bandung.

Oranje Nassau Plein dibangun dengan bentuk taman sederhana yang miskin pepohonan pada tahun 1920. Taman ini berbentuk setengah lingkaran dengan bangunan mirip Gazebo ditemparkan di tengahnya. Bangunan itu semula berdiri di tengah kolam tetapi ketika tiga sisi bangunannya ditutupi jendela kolam itupun mulai ditimbuni. Bangunan itu semula dimaksudkan untuk tempat bersantai di tengah taman, kemudian menjadi kedai minum santai, dan menjadi toko berbagai kebutuhan sehari-hari pada tahun 1940-an. Pada awal tahun 1970-an menjadi bangunan kosong dan akhirnya sekarang menjadi pusat kegiatan Pramuka di Kota Bandung. Pada tahun 1970-an, dibangun gedung perkantoran di belakang bangunan yang telah ada, ketika taman Dipati Ukur dipergunakan untuk kegiatan Pramuka. Sejak saat itu, namanya disebut Taman Pramuka. Perkembangan kegiatan Pramuka belakang menyebabkan gedung perkantoran itu diperbesar dan dibuat bertingkat pada tahun 1980-an. Tjilaki Plein Tjilaki plein (sekarang Taman Ciilaki) pada awalnya tidak direncanakan sebagai taman dalam arti yang sesungguhnya, tampak pada cara penataan tamannya. Letak Tjilaki plein terletak diantara jalur Tjilakiweg dan Tasmanstraat (sekarang Jln. Cilaki) dan Tjisangkoeistraat dan Keyser straat (sekarang Jln. Cisangkuy).Penanaman pohon yang tidak teratur menunjukkan bahwa Tjilaki plein lebih darahkan sebagai jalur hijau dan hutan kota, dan pepohonan itu berfungsi sebagai pohon pelindung jalan. Taman Cilaki di bagian utara dan tengah baru sekarang ini diarahkan sebagai taman kota. Disana ditempatkan bangku duduk dan jembatan perlintasan di atas kali kecil yang mengalir ditengahnya. Bagian selatan dimaksudkan sebagai hutan kota. Tjibeoenjing Plantsoen Tjibeujing Plantsoen (sekarang Taman Cibeunying) sejak awal hanya dimaksudkan sebagai lahan hijau terbuka, bukan sebagai taman dalam arti yang sesungguhnya. Tjbeunjing Plantsoen ini terletak di antara jalur Tjibeunjing Plantsoen Noordstraat dan Tjibeunjing Plantsoen Zuidstraat (sekarang Jln. Taman Cibeunying utara dan selatan). Fungsi Tjibeunjing Plantsoen lebih ditujukan sebagai hutan kota karena tanaman pepohonannya

tidak teratur, hanya sebagai pohon pelindung jalan.

Di Taman Cibeunying bagian utara sekarang terdapat taman sekaligus pasar bungan Anggrek, pompa bensin, dan pasar bibit tanaman hias. Bagian selatannya sekarang menjadi kebun pembibitan tanaman taman dan pelindung jalan, yang dikelola oleh Dinas Pertamanan Kota Bandung. Jubileumpark Jubileumpark (sekarang Taman Sari) terletak di sepanjang bagian barat Huygensweg (sekarang Jln. Tamansari) sampai ke tepi timur Sungai Cikapundung. Sudut simpang segi tiga Tjihampelaslaan (sekarang Jln. Taman Hewan) dan Huygensweg di selatan dan Lebak Gede Barat di utara membatasi areal Jubileumpark. Taman ini diresmikan pada tahun 1923 untuk memperingati Jubileum Ratu Wilhelmina dari Belanda, sehingga diberi nama Jubileumpark. Prasasti Jubileumpark dibangun disudut segi tiga selatan taman. Prasasti ini masih dapat dilihat dibagian belakang kebun pembibitan tanaman hias hingga tahun 1950-an. Sekarang, prasasti itu telah raib entah kemana. Rancangan awal memaksudkan Jubileumpark sebagai Taman Botani, yang menghimpun berbagai jenis tanaman keras dan tanaman hias. Pada tahun 1933, bagian selatan Jubileumpark dijadikan kebun binatang sehingga fungsinya berubah menjadi taman kebun binatang. Nama Jubileumpark diganti menjadi Taman Sari pada tahun 1950-an. Masyarakat sekarang hanya mengenal Taman Sari sebagai nama jalan, karena taman ini sudah dianggap bagian penuh dari Kebun Binatang.

Sejarah Kota Bandung Bandung adalah ibukota provinsi Jawa Barat dan merupakan kota terbesar ke-empat di Indonesia. Terletak pada ketinggian sekitar 750 m di atas permukaan laut, kota ini memiliki udara yang relatif sejuk. Karena cuacanya yang sejuk, pemerintah kolonial Belanda sebelum Perang Dunia ke II pernah berniat untuk menjadikan Bandung sebagai ibukota Hindia Belanda, beberapa departemen penting pada waktu itu kemudian memindahkan kantor pusatnya ke Bandung. Kota ini kemudian terkenal ke seluruh dunia ketika sebuah pertemuan internasional Konferensi Asia-Afrika diadakan di kota ini pada tahun 1955, konferensi itu dianggap sebagai peristiwa bersejarah sehingga Bandung-pun menjadi kota bersejarah. Kota Bandung memiliki banyak bangunan peninggalan kolonial Belanda yang bergaya

Art Deco, salah satu contoh terbaik dari bangunan ini adalah Hotel Savoy Homann yang masih beroperasi hingga sekarang, sementara kawasan perumahan yang cantik peninggalan Belanda masih dapat ditemui di kawasan pinggiran kota di utara Bandung. Selain kota kembang, Bandung juga pernah dijuluki sebagai Paris van Java karena berbagai taman dan kebun yang terdapat di kota ini, namun kemegahan dari julukan itu lebih banyak berlaku untuk Bandung tempo doeloe. Ketika kita bertanya bagaimana Bandung dulu, tentu jawaban yang diberikan selalu diawali dengan konon atau katanya. Jawaban seperti ini jelas bukan jawaban yang tepat bagi generasi muda saat ini yang sudah berpikir kritis. Akibatnya, orang menjadi tidak tahu bagaimana sejarah kota ini dimulai dan berjalan dari masa ke masa dan kenyataan ini tidak hanya terjadi pada orang yang baru menginjakkan kaki di Kota Bandung, melainkan juga pada mereka yang lahir dan besar di kota ini. Kenangan indah dan pahit masa lalu Kota Bandung hanya menjadi konsumsi orang tua kita yang mengalaminya, sedang anak-anak sekarang hanya kebingungan dibuatnya dan tidak sedikit di antara mereka yang menganggap cerita orang tua hanyalah sebagai dongeng belaka karena tidak ada bukti yang bisa memperkuatnya. Padahal, perjalanan kota ini sudah sangat panjang dan semuanya diisi dengan keindahan serta kegetiran para pelaku sejarah di dalamnya. Akibatnya, generasi muda saat ini menjadi kurang peduli dan bangga akan kotanya, mereka menganggap kotanya tidak mempunyai sesuatu yang perlu dibanggakan, karena tidak ada sesuatu yang dapat membuktikan kota ini mempunyai perjalanan panjang yang penuh dengan keindahan dan kepahitan. Kenyataan tersebut terjadi sebagai akibat dari minimnya informasi yang diterima oleh generasi muda tentang Kota Bandung. Buku-buku yang memberikan informasi tentang bagaimana perjalanan kota ini sulit diperoleh, karena kalau pun ada sudah menjadi barang langka yang tidak mudah diperoleh di pasaran. Selain itu, tidak adanya museum yang khusus menampilkan materi perjalanan Kota Bandung juga menjadi penyebab minimnya informasi yang diperoleh generasi muda tentang kota ini. Perjalanan sejarah Bandung Catatan sejarah Kota Bandung dimulai sekira pertengahan abad ke17, tepatnya tahun 1641, yaitu ketika seorang mata-mata Kompeni, Juliaen de Silva menulis laporannya. Kemudian, baru pada tahun 1712 ekspedisi untuk mencari sumber bahan baku dan lahan untuk perkebunan kopi membawa Abraham Van Riebeek menginjakkan kakinya di dataran Bandung dan baru pada tahun 1741 Belanda menempatkan seorang tentaranya, yaitu Kopral Arie Top. Tetapi, perkembangan pesat dataran Bandung menjadi sebuah kota dimulai ketika ibu kota Kabupaten Bandung dipindahkan dari Krapyak ke pusat Kota Bandung sekarang. Pada tahun 1786, jalan setapak yang bisa dilewati kuda mulai menghubungkan Batavia dengan Bandung melalui Bogor dan Cianjur dan pada saat Gubernur Jenderal Daendels berkuasa pada tahun 1810, jalan setapak tersebut diubah menjadi jalan raya yang

merupakan bagian dari jalan raya pos Anyer-Panarukan. Setelah jalan raya selesai, Gubernur Jenderal melalui surat tanggal 25 Mei 1810 memerintahkan kepada Bupati Bandung untuk pindah dari ibu kota kabupaten lama, di Krapyak, ke tepi jalan raya pos. Setelah menemukan tempat yang tepat untuk pusat pemerintahan kabupaten yang sesuai dengan harapan, maka pada tanggal 25 September 1810, Bupati Bandung saat itu, Wiranatakusumah II, secara resmi memindahkan ibu kota kabupaten dari Krapyak ke tempat baru di tepian Jalan Raya Pos, yaitu sekitar alun-alun Bandung sekarang. Kepindahan ibu kota kabupaten menjadi tonggak bersejarah bagi perkembangan Kota Bandung selanjutnya, karena sejak saat itu perkembangan Bandung yang dulunya hanya berupa "kampung" menuju sebuah kota yang maju dimulai. Posisi Kota Bandung yang strategis serta perkembangan kota yang pesat, pada tahun 1856 ibu kota karesidenan Priangan dipindahkan dari Cianjur ke Kota Bandung. Karena pertumbuhan penduduk Kota Bandung yang terus meningkat serta pertumbuhan kota yang pesat, pada tahun 1906, Kota Bandung resmi menjadi kota dengan pemerintahan gementee (kotamadya) yang dipimpin oleh seorang wali kota. Setelah menjadi gementee, kemajuan Kota Bandung dalam berbagai hal semakin tampak. Demi keindahan dan kesejukan kota di berbagai sudut kota dibangun taman-taman yang indah dan lapangan terbuka hijau tempat bermain anak-anak selain pembangunan infrastruktur pendukung ekonomi masyarakat. Karena kelebihan potensi alamiah yang dimiliki Bandung, pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal J.P. Graaf (1916-1921) muncul gagasan untuk memindahkan ibu kota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung. Gagasan tersebut muncul sebagai usulan dari H.F. Rillema, seorang ahli kesehatan Belanda, yang melakukan penelitian tentang kesehatan kota-kota pesisir. Ide pemindahan ibu kota negara tersebut mendapat dukungan dari berbagai pihak dan mulailah pembangunan berbagai infrastruktur pemerintahan di kota ini, salah satunya adalah Gedung Sate. Pemindahan berbagai kantor pusat dari Batavia ke Bandung mulai dilakukan, di antaranya pemindahan Departemen Peperangan (Depatement van Oorlog/DVO) yang secara resmi dilaksanakan pada tahun 1920, menyusul pemindahan pabrik senjata (Artillerie Contructie Winkel/ACW) dari Surabaya yang dirintis sejak tahun 1898 dan resmi pindah pada tahun 1920. Selain dibangun pusat pemerintahan, berbagai sarana pendidikan dibangun untuk melengkapi sarana yang telah ada. Pada 16 Mei 1929 diresmikan Museum Geologi, kemudian pada tahun 1931 juga diresmikan Museum PTT (Museum Pos Indonesia, sekarang) sebagai pelengkap kantor pusat jawatan PTT (Post, Telegraaf & Telefoon).

Selain itu didirikan pula perpustakaan-perpustakaan dengan koleksi yang representatif bagi perkembangan pendidikan di Bandung masa itu. Setelah sebagian besar pusat pemerintahan migrasi dari Batavia ke Bandung dan hanya tinggal Departemen Dalam Negeri, Departemen Pendidikan dan Pengajaran, Volksraad serta Gubernur Jenderal, pada tahun 1930-an Belanda dilanda krisis ekonomi cukup berat dan berkepanjangan yang berakibat pada penundaan Bandung sebagai ibu kota negara. Lambat laun, rencana tersebut akhirnya pupus seiring dengan konsentrasi Belanda terhadap serangan Jepang dan sirna untuk selamanya setelah Jepang masuk dan menguasai Indonesia, termasuk Bandung pada tahun 1942. Akhirnya Bandung pun hanya menjadi ibu kota karesidenan Priangan dan Jawa Barat setelah masa kemerdekaan. Selama tiga tahun setelah Jepang menduduki Indonesia, keadaan Kota Bandung tidak banyak mengalami perubahan dalam tata kotanya, pembangunan di Bandung seolah tidak terjadi. Pembangunan di Bandung baru menggeliat kembali setelah Indonesia merdeka. Berbagai kegiatan yang sifatnya nasional bahkan internasional dilakukan di kota ini, di antaranya kegiatan Konferensi Asia-Afrika pada tahun 1955 yang melahirkan Dasa Sila Bandung. Museum Perjalanan Bandung Perjalanan panjang Kota Bandung dengan berbagai peristiwa yang mengiringi serta keindahan alamnya telah menjadi kenangan yang terus melekat pada orang-orang yang merasakannya. Oma-opa serta kakek-nenek kita yang pernah mengalami zaman keemasan Bandung selalu mengenangnya dalam berbagai kisah nostalgia yang diceritakan kepada cucu-cucunya. Tetapi sayang, apa yang diceritakan oleh opa-oma atau nenek-kakek kita tidak dapat dibuktikan oleh cucu-cucunya yang lahir belakangan yang tidak merasakan keindahan dan ketenaran kota ini. Berbagai bukti peninggalan sejarah telah hilang entah ke mana, banyak taman yang telah tergusur demi pembangunan gedung perkantoran atau perdagangan bahkan perumahan, demikian pula halnya gedung-gedung tua telah bersalin wujud menjadi gedung-gedung berarsitektur modern guna memenuhi kebutuhan berbagai aktivitas warga kota yang dari hari ke hari semakin berjibun jumlahnya. Minimnya bukti sejarah yang tersisa serta kurangnya pengenalan sejarah kota kepada generasi muda mengakibatkan banyak orang muda di Bandung tidak lagi mengenal bagaimana perjalanan hidup kotanya dari masa ke masa. Kenyataan ini menurut para ahli akan memudarkan semangat nasionalisme dan rasa kepedulian terhadap lingkungan sekitar di mana dia tinggal dan menetap, padahal rasa cinta dan kepedulian terhadap daerahnya merupakan modal bagi pembangunan daerah terutama di era otonomi daerah saat ini. Salah satu upaya untuk menumbuhkan kembali rasa kepedulian generasi muda terhadap tempat tinggalnya, adalah melalui pendirian museum sejarah Bandung. Timbul pertanyaan mengapa harus museum? Karena museum sebagai lembaga yang menyimpan, merawat, dan memamerkan benda-benda yang mempunyai nilai sejarah bagi umat

manusia berkenaan dengan kehidupan dan lingkungannya akan mampu memberikan pengenalan berbagai peristiwa sejarah yang pernah terjadi di kota ini. Semua aspek sejarah perkembangan Kota Bandung, dari Bandung mulai dikenal oleh dunia luar, kemudian pembabakan oleh para perintis, selanjutnya berbagai kegiatan pembangunan kota yang terjadi di awal-awal pembentukannya yang melibatkan berbagai komponen masyarakat, baik para sinyo Belanda maupun para pribumi, yang telah mengangkat Bandung ke pentas nasional bahkan internasional sampai kepada perkembangan kota ke arah metropolitan yang penuh dengan keramaian aktivitas sebuah kota yang tidak pernah tidur walau sekejap. Melalui pendirian museum sejarah Bandung diharapkan kenangan indah masa lalu di saat zaman jayanya Kota Bandung yang selalu dikenang oleh opa-oma serta kakek-nenek bahkan buyut kita tidak hanya menjadi milik mereka, tetapi dapat juga dinikmati dan dipelajari oleh generasi muda. Pada akhirnya setelah mengenal Bandung secara lebih mendalam diharapkan mereka dapat belajar dari perjuangan serta upaya para pendiri dan pengelola kota di awal pertumbuhan Bandung yang kemudian diharapkan tumbuh rasa cinta dan bangga akan kota di mana mereka lahir dan tumbuh dewasa. Setelah rasa cinta dan bangga muncul diharapkan pada diri mereka tumbuh rasa peduli terhadap perkembangan pembangunan kota ini dan berupaya untuk turut aktif dalam menggerakkan roda pembangunan melalui berbagai upaya positif bagi pembangunan kota.

Sejarah

1488 - Bandung didirikan sebagai bagian dari Kerajaan Pajajaran. 1799 - VOC mengalami kebangkrutan sehingga wilayah kekuasaannya di Nusantara diambilalih oleh pemerintah Belanda. Saat itu Bandung dipimpin oleh Bupati R.A. Wiranatakusumah II. 1808 - Belanda mengangkat Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal di Nusantara setelah ditinggalkan VOC. 1809 - Bupati memerintahkan pemindahan ibu kota dari Karapyak ke daerah pinggiran Sungai Cikapundung (alun-alun sekarang) yang waktu itu masih hutan tapi sudah ada permukiman di sebelah utara. 1810 - Daendels menancapkan tongkat di pinggir sungai Cikapundung yang berseberangan dengan alun-alun sekarang. Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd! (Usahakan, bila aku datang kembali ke sini, sebuah kota telah dibangun!). Sekarang tempat itu menjadi titik pusat atau KM 0 kota Bandung. 25 Mei 1810 - Daendels meminta bupati Bandung dan Parakanmuncang memindahkan ibukota ke wilayah tersebut. 25 September 1810 - Daendels mengeluarkan surat keputusan pindahnya ibu kota Bandung dan sekaligus pengangkatan Raden Suria sebagai Patih

Parakanmuncang. Sejak peristiwa tersebut 25 September dijadikan sebagai hari jadi kota Bandung dan R.A. Wiranatakusumah sebagai the founding father. Sekarang nama tersebut diabadikan menggantikan jalan Cipaganti, di mana wilayah ini menjadi rumah tinggal bupati sewaktu ibu kota berpindah ke alunalun sekarang. 24 Maret 1946 - Pembumi hangusan Bandung oleh para pejuang kemerdekaan yang dikenal dengan sebutan 'Bandung Lautan Api' dan diabadikan dalam lagu "Halo-Halo Bandung". 1955 - Konferensi Asia-Afrika diadakan di sini. 2005 - KTT Asia-Afrika 2005

Daftar Walikota

E.A. Maurenbrecher (1906-1907) R.E. Krijboom (1907-1908) J.A. van Der Ent (1909-1910) J.J. Verwijk (1910-1912) C.C.B. van Vlenier (1912-1913) dan B. van Bijveld (1913-1920) B. Coops (1920-1921) S.A. Reitsma (1921-1928) B. Coops (1928-1934) Ir. J.E.A. van Volsogen Kuhr (1934-1936) Mr. J.M. Wesselink (1936-1942) N. Beets (1942-1945) R.A. Atmadinata (1945-1946)

R. Sjamsurizal Ir. Ukar Bratakusumah (19461949) R. Enoch (1949-1956) R. Priatna Kusumah (19561966) R. Didi Djukardi (1966-1968) R. Hidayat Sukarmadidjaja (1968-1971) R. Otje Djundjunan (19711976) H. Utju Djoenaedi (19761978) R. Husein Wangsaatmadja (1978-1983) H. Ateng Wahyudi (19831993) H. Wahyu Hamidjaja (19931998) H. Aa Tarmana (1998-2004) H. Dada Rosada, SH, MSi (2004-sekarang)

Perguruan tinggi
Banyak universitas top Indonesia yang terletak di Bandung, seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda pada masa pergantian abad ke-20, dan terkenal sebagai almamater Soekarno, presiden pertama Indonesia.

Institut o Institut Teknologi

Sekolah Tinggi o Sekolah Tinggi Manajemen

o o o o

Bandung Institut Teknologi Nasional Institut Teknologi Adityawarman Institut Teknologi Harapan Bangsa Institut Pemerintahan Dalam Negeri

Universitas o Universitas Widyatama o Universitas Padjadjaran o Universitas Pendidikan Indonesia o Universitas Agama Islam Negeri Sunan Gunung Djati o Universitas Pasundan o Universitas Komputer Indonesia o Universitas Katolik Parahyangan o Universitas Islam Nusantara o Universitas Kristen Maranatha o Universitas Islam Bandung o Universitas Advent Indonesia o Universitas Langlangbuana o Universitas Bandung Raya o Universitas Jenderal Achmad Yani o Universitas Winaya Mukti o Universitas Nurtanio o Universitas Widyatama o Universitas Al-Ghifari o Universitas Ars Internasional o Universitas Kebangsaan

o o o o o o o

Informatika & Komputer Likmi Sekolah Tinggi Manajemen Informatika & Komputer Indonesia Mandiri Sekolah Tinggi Manajemen Informatika & Komputer AMIK BANDUNG Sekolah Tinggi Manajemen Informatika & Komputer Bandung Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pasundan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi STAN Indonesia Mandiri Sekolah Tinggi Teknologi Telkom Sekolah Tinggi Pariwisata (NHI) Sekolah Tinggi Pariwisata AKTRIPA Sekolah Tinggi Manajemen Bisnis Telkom Sekolah Tinggi Tekstil Sekolah Tinggi Bahasa Asing Yapari-ABA

Politeknik o Politeknik Manufaktur Bandung o Politeknik Negeri Bandung o Politeknik Akmb Bandung o Politeknik Al Islam Bandung o Politeknik Ganesha Bandung o Politeknik Garuda Nusantara Bandung o Politeknik Indonesia Jepang o Politeknik Industri Dan Niaga Bandung o Politeknik Kencana Bandung o Politeknik Komputer Niaga Lpkia o Politeknik Kridatama Bandung o Politeknik Lp3i Bandung o Politeknik Manufaktur Igasa Pindad o Politeknik Pajajaran Insan Cinta

Universitas Nasional Ypkkp

o o o o o

Bangsa Bandung Politeknik Piksi Ganesha Politeknik Pos Indonesia Politeknik Praktisi Bandung Politeknik Rosda Politeknik Winaya Karya Bhakti

Sejarah Kabupaten Bandung


Kabupaten Bandung lahir melalui Piagam Sultan Agung Mataram, yaitu pada ping Songo tahun Alif bulan Muharam atau sama dengan hari sabtu tanggal 20 April tahun 1641 M, sebagai Bupati Pertama pada waktu itu adalah Tumenggung Wiraangunangun (1641-1681 M). dari bukti sejarah tersebut maka ditetapkan bahwa tanggal 20 April sebagai tanggal Hari Jadi Kabupaten Bandung. Jabatan Bupati kemudian di gantikan oleh Tumenggung Nyili salah seorang putranya. Namun Nyili tidak lama memegang jabatan tersebut karena mengikuti Sultan Banten. Jabatan Bupati kemudian di lanjutkan oleh Tumenggung Ardikusumah, seorang Dalem Tenjolaya (Timbanganten) dari tahun 1681 -1704. Selanjutnya kedudukan Bupati Kabupaten Bandung dari R. Ardikusumah diserahkan kepada putranya R. Ardisuta yang diangkat tahun 1704 setelah Pemerintah Belanda mengadakan pertemuan dengan para Bupati Wilayah Priangan di Cirebon. R. Ardisuta ( 1704 - 1747 ) terkenal dengan nama Tumenggung Anggadiredja I setelah wafat dia sering disebut Dalem Gordah. sebagai penggantinya diangkat Putra tertuanya Demang Hatapradja yang bergelar Anggadiredja II (1707 - 1747). Pada masa Pemerintahan Anggadiredja III (1763 - 1794) Kabupaten Bandung disatukan dengan Timbanganten, bahkan pada tahun 1786 dia memasukkan Batulayang kedalam Pemerintahannya. Juga pada masa Pemerintahan Adipati Wiranatakusumah II (1794 1829) inilah Ibukota Kabupaten Bandung di pindahkan dari Karapyak (Dayeuh kolot) ke Pinggir sungai Cikapundung atau Alun - alun Kotamadya Bandung sekarang. Pemindahan Ibukota itu atas dasar perintah dari Gubernur Jendral Hindia Belanda Daendels tanggal 25 Mei 1810, dengan alasan karena daerah baru tersebut dinilai akan memberikan prospek yang lebih baik terhadap perkembangan wilayah tersebut. Setelah kepala pemerintahan di pegang oleh Bupati Wiranatakusumah IV (1846 - 1874) Ibukota Kabupaten Bandung Berkembang pesat dan beliau dikenal sebagai Bupati yang progresif. dialah peletak dasar master plan Kabupaten Bandung, yang disebut Negorij Bandoeng. Tahun 1850 dia mendirikan pendopo Kabupaten Bandung dan Mesjid

Agung. kemudian dia memprakarsai pembangunan sekolah Raja (pendidikan Guru) dan mendirikan sekolah untuk para menak (Opleiding School Voor Indische Ambtenaaren). atas jasa-jasanya dalam membangun Kabupaten Bandung disegala bidang beliau mendapatkan penghargaan dari pemerintah Kolonial Belanda berupa Bintang jasa, sehingga masyarakat menjulukinya dengan sebutan dalem bintang.

Kabupaten Bandung lahir melalui Piagam Sultan Agung Mataram, yaitu pada ping Songo tahun Alif bulan Muharam atau sama dengan hari sabtu tanggal 20 April tahun 1641 M, sebagai Bupati Pertama pada waktu itu adalah Tumenggung Wiraangunangun (1641-1681 M). dari bukti sejarah tersebut maka ditetapkan bahwa tanggal 20 April sebagai tanggal Hari Jadi Kabupaten Bandung. Jabatan Bupati kemudian di gantikan oleh Tumenggung Nyili salah seorang putranya. Namun Nyili tidak lama memegang jabatan tersebut karena mengikuti Sultan Banten. Jabatan Bupati kemudian di lanjutkan oleh Tumenggung Ardikusumah, seorang Dalem Tenjolaya (Timbanganten) dari tahun 1681 -1704. Selanjutnya kedudukan Bupati Kabupaten Bandung dari R. Ardikusumah diserahkan kepada putranya R. Ardisuta yang diangkat tahun 1704 setelah Pemerintah Belanda mengadakan pertemuan dengan para Bupati Wilayah Priangan di Cirebon. R. Ardisuta ( 1704 - 1747 ) terkenal dengan nama Tumenggung Anggadiredja I setelah wafat dia sering disebut Dalem Gordah. sebagai penggantinya diangkat Putra tertuanya Demang Hatapradja yang bergelar Anggadiredja II (1707 - 1747). Pada masa Pemerintahan Anggadiredja III (1763 - 1794) Kabupaten Bandung disatukan dengan Timbanganten, bahkan pada tahun 1786 dia memasukkan Batulayang kedalam Pemerintahannya. Juga pada masa Pemerintahan Adipati Wiranatakusumah II (1794 - 1829) inilah Ibukota Kabupaten Bandung di pindahkan dari Karapyak (Dayeuh kolot) ke Pinggir sungai Cikapundung atau Alun - alun Kotamadya Bandung sekarang. Pemindahan Ibukota itu atas dasar perintah dari Gubernur Jendral Hindia Belanda Daendels tanggal 25 Mei 1810, dengan alasan karena daerah baru tersebut dinilai akan memberikan prospek yang lebih baik terhadap perkembangan wilayah tersebut. Setelah kepala pemerintahan di pegang oleh Bupati Wiranatakusumah IV (1846 1874) Ibukota Kabupaten Bandung Berkembang pesat dan beliau dikenal sebagai Bupati yang progresif. dialah letak dasar master plan, yang disebut Negorij Bandoeng. tahun 1850 dia mendirikan pendopo Kabupaten Bandung dan Mesjid Agung. kemudian dia memprakarsai pembangunan sekolah Raja (pendidikan Guru) dan mendirikan sekolah untuk para menak (Opleiding School Voor Indische Ambtenaaren). atas jasa-jasanya dalam membangun Kabupaten Bandung disegala bidang beliau mendapatkan penghargaan dari pemerintah Kolonial Belanda berupa Bintang jasa, sehingga masyarakat menjulukinya dengan sebutan dalem bintang. Dimasa pemerintahan R. Adipati Kusumahdilaga jalan Kereta Api mulai masuk tetapnya tanggal 17 Mei 1884. dengan masuknya jalan Kerata Api ini Ibukota Bandung kian ramai. Penghuninya bukan hanya orang pribumi namun orang Eropa dan Cina pun mulai menetap di Ibukota, dampaknya perekonomian Kota Bandung

semakin maju. Setelah wafat penggantinya diangkat RAA. Martanegara, Bupati ini pun terkenal sebagai perencana kota yang jempolan. Martanegara juga dianggap mampu menggerakkan rakyatnya untuk berpartisipasi aktif dalam menata wilayah kumuh menjadi pemukiman yang nyaman. Pada masa pemerintahan RAA Martanegara (1893 - 1918) ini atau tepatnya pada tanggal 21 Februari 1906, kota Bandung sebagai Ibukota Kabupaten Bandung berubah statusnya menjadi Gementee (Kotamadya) Periode selanjutnya Bupati Kabupaten Bandung dijabat oleh Aria Wiranatakusumah V (Dalem Haji) yang menjabat selama 2 periode, pertama tahun 1912 - 1931 sebagai Bupati yang ke 12 dan berikutnya tahun 1935 - 1945 sebagai Bupati yang ke 14. Pada periode tahun 1931 - 1935 R.T. Sumadipradja menjabat sebagai Bupati ke 13. Selanjutnya pejabat Bupati ke 15 adalah R.T.E. Suriaputra (1945 - 1947) dan penggantinya adalah R.T.M Wiranatakusumah VI alias aom Male (1948 - 1956), kemudian diganti oleh R. Apandi Wiriadipura sebagai Bupati ke 17 yang dijabatnya hanya 1 tahun (1956 - 1957). Sebagai Bupati berikutnya adalah Letkol R. Memet Ardiwilaga (1960 - 1967). Kemudian pada masa transisi kehidupan politik Orde Lama ke Orde Baru adalah Kolonel Matsuri. Pada masa Pimpinan Kolonel R.H. Lily Sumantri tercatat peristiwa penting yaitu rencana pemindahan Ibukota Kabupaten Bandung ke Wilayah Hukum Kabupaten Bandung yang semula berada di Kotamadya Bandung ke Wilayah Hukum Kabupaten Bandung yaitu daerah Baleendah. Peletakan Batu Pertamanya pada tanggal 20 April 1974 yaitu pada saat Hari Jadi Kabupaten Bandung yang ke - 333. Rencana kepindahan Ibukota tersebut berlanjut hingga jabatan Bupati dipegang oleh Kolonel R. Sani Lupias Abdurachman (1980 - 1985). Atas pertimbangan secara fisik geografis daerah Baleendah tidak memungkinkan untuk dijadikan sebagai Ibukota Kabupaten, maka ketika Jabatan Bupati dipegang oleh Kolonel H.D. Cherman Affendi (1985 - 1990), Ibukota Kabupaten Bandung pindah kelokasi baru yaitu Kecamatan Soreang. Dipinggir Jalan Raya Soreang tepatnya di Desa Pamekaran inilah di Bangun Pusat Pemerintahan Kabupaten Bandung seluas 24 Ha, dengan menampilkan arsitektur khas gaya Priangan sehingga kompleks perkantoran ini disebut - sebut sebagai kompleks perkantoran termegah di Jawa Barat. Pembangunan perkantoran yang belum seluruhnya rampung dan dilanjutkan oleh Bupati berikutnya yaitu Kolonel H.U. Djatipermana (1990 - sekarang). hasil - hasil yang tampak pada masa kepemimpinan Bupati Hatta dalam membangun kompleks perkantoran Kabupaten Bandung antara lain Mesjid Agung, Kantor DPRD Tingkat II Bandung, fasilitas- fasilitas olah raga, hingga ke penghijauan kompleks perkantoran. Pembangunan tersebut dirampungkan dalam kurun waktu 1990 1992 Pada masa setelah kemerdekaan, yaitu setelah pengakuan kedaulatan RI Pemerintahan di Kabupaten Bandung namanya menjadi Kota Besar Bogor yang dibentuk berdasarakan Udang-undang Nomor 16 Tahun 1950.

Hari Ini, Gubernur Nuriana Akan Meresmikannya

Masjid Raya Bandung Bergaya Taj Mahal


AKHIRNYA, bangunan Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat yang dulu dikenal dengan Masjid Agung Bandung, selesai dibangun. Jika tak ada aral melintang, pagi ini Gubernur Jabar H.R. Nuriana dijadwalkan meresmikannya.

SESEORANG tengah menikmati pemandangan kota dari dalam puncak selatan menara kembar Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat, Selasa (3/6). Projek renovasi serta pembangunan kubah dan pelebaran masjid saat ini tengah menjalani tahap akhir. Menurut rencana, Masjid Raya Bandung akan diresmikan pada Rabu (4/6) ini oleh Gubernur Jabar H.R. Nuriana.*ANDRI GURNITA/PR

Dengan selesainya pembangunan fisik masjid, berarti total waktu yang dibutuhkan sejak peletakan batu pertama 25 Februari 2001 sampai peresmian Masjid Raya Bandung 4 Juni 2003 adalah 829 hari atau 2 tahun 99 hari. Semen biaya yang sudah dihabiskan sekira Rp 36 miliar. Menurut Ketua Harian Panitia Pembangunan Masjid Raya dan Penataan Kawasan Alunalun Bandung Drs. H. Uu Rukmana, seluruh tokoh masyarakat dan potensi Islam di Jawa Barat diharapkan dapat hadir menyaksikan peristiwa bersejarah ini. Kami akan menerimanya dengan senang hati, ujarnya. Kabarnya, Masjid Agung Bandung pertama kali dibangun pada 1812. Tepatnya, setelah pusat Kota Bandung pindah dari Krapyak (Dayeuhkolot). Penempatan masjid disesuaikan dengan pola tata kota pada masa itu. Alun-alun sebagai sentral di tengah. Pusat pemerintahan berada di selatan. Sebelah utara dibangun penjara. Sementara itu, masjid di sebelah barat. Setelah Bandung tumbuh menjadi kota bisnis, kehadiran Masjid Agung seakan terlupakan. Toko-toko, supermarket, dan pedagang kaki lima yang memenuhi Alun-alun, membuat lingkungan sekitar masjid menjadi kumuh.

Beruntung, tokoh-tokoh masyarakat Bandung masih menaruh peduli. Sisi samping selatan yang merupakan lahan bekas rumah makan Tambuo yang tadinya akan dibuat supermarket, berhasil diperjuangkan menjadi milik masjid sehingga masjid punya halaman lagi sampai Jln. Dalem Kaum. Penampilan masjid juga sempat dirombak pada 1988 dengan penambahan ornamenornamen islami. Saat itu, ketua panitianya adalah Atang Ruswita dan sekretarisnya Uu Rukmana. Upaya membenahi Alun-alun, termasuk Masjid Agung, bersambut dengan keluarnya Perda No. 7/2000. Tetapi, pada peletakan batu pertama Masjid Agung 25 Februari 2001, panitia pembangunan Masjid Agung masih belum punya bayangan untuk penggalangan dananya. Awalnya, rencana anggaran bangunan masjid dengan menggunakan standar Bappenas diperkirakan mencapai Rp 50 miliar. Tetapi, karena pembangunannya tidak kena pajak dan tidak perlu bayar keuntungan kepada pemborong, biaya yang dihabiskan Rp 36 miliar sehingga bisa menghemat belasan miliar. Di tengah perjalanan, Pemkot Bandung merasa berat dengan keuangan sehingga akhirnya ditangani Pemprov Jabar. Sumber dana berasal dari Pemprov Jabar yang totalnya mencapai Rp 21,469 miliar. Pemkot Bandung, melalui APBD 2001 murni dan APBD 2002 menganggarkan Rp 11 miliar. Sisanya merupakan dana yang dihimpun dari masyarakat. Otomatis, terjadi pula perubahan nama dan status dari Masjid Agung Bandung menjadi Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat. Selain itu, jabatan Ketua Umum Panitia Pembangunan Masjid yang dipegang Dada Rosada diganti menjadi Danny Setiawan. Sementara itu, 48 panitia lainnya membawahi sejumlah bidang, antara lain bidang usaha/dana, bidang perencanaan, bidang pelaksanaan pembangunan dan penataan, bidang hukum, bidang pengawasan pembangunan, bidang umum, bidang humas publikasi, dan sosialisasi serta kesekretariatan. Saat itu, Gubernur Jawa Barat H.R. Nuriana mengatakan bagi Pemprov Jawa Barat sebenarnya tidak menjadi persoalan apakah pembangunan dan pengelolaan Masjid Raya Bandung ini dilaksanakan Pemkot Bandung ataupun Pemprov Jabar. Yang penting adalah agar masyarakat khususnya umat Islam dapat menikmati sarana Masjid Raya yang lebih representatif, yang nyaman untuk digunakan beribadah serta memadai untuk melaksanakan keagamaan lainnya, harap Nuriana. ** KEINDAHAN dan kemegahan Masjid Raya Bandung sudah terlihat dari jauh. Begitu menginjakkan kaki di halaman masjid, pengunjung dapat melihat keindahan menara kembar masjid. Menara tersebut masing-masing memiliki ketinggian 81 m dari permukaan tanah. Awalnya, menara dirancang mencapai ketinggian 99 meter dari permukaan tanah untuk melambangkan Asmaul Husna.

Ternyata, Departemen Perhubungan tidak mengizinkan karena dapat mengganggu lalu lintas udara ke Bandara Husein Sastranegara. Meskipun ketinggiannya sekarang 81m, jika ditambah fondasinya yang 18 meter ke bawah tanah, jumlahnya menjadi 99 m. Dengan ketinggian tersebut, Menara Kembar Masjid Raya menjadi bangunan tertinggi di Bandung yang setara dengan bangunan 21 lantai. Dari puncaknya, pengunjung bisa menikmati pemandangan penjuru Bandung dengan jelas. Nantinya, menara tersebut akan digunakan untuk wisata religi. Pengunjung juga bisa menyaksikan pemandangan dua kubah berukuran kecil yang di atasnya terdapat lambang tusuk satai. Di belakang kedua kubah itu, menjulang kubah induk yang berukuran lima kali kubah yang kecil atau setara dengan kubah Masjid Istiqlal dipasang tulisan Allah setinggi 7 m. Semula, di atas tulisan Allah sempat dipasang lambang bulan bintang. Tetapi, berkat masukan dari masyarakat, lambang bulan bintang tersebut akhirnya dipotong. Memasuki bangunan baru masjid, pengunjung akan dibuat terpesona dengan ukiran ayatayat suci Alquran pada pintu masuk yang terbuat dari pohon jati raksasa yang didatangkan khusus dari Jepara. Bagian dalam bangunan dibuat dengan gaya Taj Mahal India, lengkap dengan kolam dan air mancur yang akan diisi ikan koi. Untuk wudu, disediakan empat tempat wudu yang dibangun dengan gaya masjid-masjid di Medinah. Tempat air yang berada di bagian atas masjid bisa menampung 16 ribu m3 air cukup untuk lebih dari 8 ribu jemaah. Sementara itu, reservoir di bagian bawah sanggup menampung 70 ribu m3 air. Rencananya, halaman Masjid Raya seluas 1 hektare itu akan menjadi ruang publik terbuka yang bebas dari pedagang kaki lima (PKL). Untuk membenahi ratusan kios PKL yang memenuhi Alun-alun, UU berencana memindahkan mereka ke lantai bawah tanah halaman masjid. Para PKL tersebut akan menempati lahan seluas 3.000 m2. Sementara itu, lantai yang paling bawah akan dibangun areal parkir kendaraan dan toko-toko komersial seluas sekira 9.000 m2. Uniknya, ruang parkir itu akan dibuat menyambung ke pusat perbelanjaan Palaguna. Dana untuk membangun kawasan itu diperoleh dari hasil penjualan kios-kios tadi kepada PKL. Sehingga, panitia penataan kawasan Alun-alun Bandung mungkin tidak perlu meminta uang lagi ke pemda. Bahkan, hasil penjualan kios yang berlebih akan dijadikan dana abadi Masjid Raya. Menurut Uu Rukmana, Masjid Raya Bandung harus dikelola secara profesional. Untuk itu, DKM Masjid Raya Bandung harus menggunakan manajemen modern. DKM masjid ini merupakan warisan terdahulu. Yang jadi beban, ada tenaga yang cuma digaji Rp 20

ribu/bulan. Masjid yang megah ini kan perlu pemeliharaan yang seksama. Oleh karena itu, kami tidak akan melepas ke DKM dulu selama beberapa bulan ini, jelasnya. Ia menjelaskan, untuk memenuhi kebutuhan listrik saat ini saja, Masjid Raya Bandung membutuhkan biaya hingga Rp 8 juta/bulan. Ini tentu saja tidak mungkin dipenuhi dari kencleng. Selain itu, masjid perlu dijaga segi kebersihannya, keamanannya, dsb. Salah satu upaya adalah menciptakan kegiatan-kegiatan supaya masjid penuh sehingga pemasukan diharapkan mengikuti. Misalnya, setiap hari digelar kegiatan belajar mengaji, dsb. Kami juga tengah mempersiapkan perpustakaan Islam di ruang bekas tempat wudu bawah tanah, paparnya. Uu Rukmana juga menyadari kapasitas Masjid Raya Bandung sangat besar, yaitu dapat menampung hingga 14 ribu jamaah. Untuk itu, ia berharap, pekerja atau pegawai kantor yang terletak di seputar Alun-alun Bandung serta warga Bandung lainnya untuk melaksanakan salat di masjid tersebut. (Sam/PR)***

Bioskop Bandung, Riwayatmu Kini


Friday, April 21st, 2006

Bagi sebagian orang, gedung bioskop merupakan tempat alternatif untuk melepas kepenatan setelah lelah beraktivitas seharian. Namun, sebagian lagi menggangap gedung bioskop sebagai tempat untuk menyalurkan hobi menontonnya. Bahkan, di bioskop orang bisa memperoleh pengetahuan baru dari film yang ditontonnya. Beribu alasan orang datang menonton di gedung bioskop. Lebih lebar layarnya dibandingkan layar televisi, lebih fokus menontonnya, lebih mantap suaranya, atau juga lebih nyaman rasanya.Tidak jarang, banyak juga yang datang hanya untuk berpacaran selain untuk menikmati hiburan, tutur Aming D Racman, Ketua Forum Dokumentasi Budaya Kota Bandung, Kamis (20/4). Gedung bioskop di Bandung sudah dikenal sejak masa kolonial Belanda. Sebut saja gedung Bioskop Elita yang terletak di Jalan Alun-Alun dan Bioskop Majestic di Jalan Braga yang sudah tersohor di tahun 1920- an. Dari tahun ke tahun, hingga tahun 1970, jumlah bioskop di Kota Bandung mencapai 30 gedung dengan berbagai kelas dan kualitas. Salah satu gedung bioskop yang paling top pada masanya, menurut Subakti, seorang pengusaha bioskop dari tahun 1970, adalah Nusantara dan Paramount. Kedua gedung itu punya kelebihan masing-masing. Awal tahun 1980-an, Nusantara menawarkan gedung gaya Belanda dengan daya tampung 1.200 kursi, sedangkan Paramount berkapasitas 1.006 kursi, hadir dengan gedung baru yang modern pada masa itu, ujarnya. Kompleks bioskop

Dulu, Alun-alun Kota Bandung merupakan kompleks gedung bioskop. Setidaknya ada lima gedung bioskop yang tumbuh di kawasan itu, seperti Elita (Puspita), Aneka (Oriental), Nusantara (Varia), Dian (Radio City), Majestic (Dewi). Ada pula Bioskop Preanger di Jalan Kebon Jati yang berganti nama sampai tiga kali, yaitu menjadi Orion, Luxor, dan Nirmala. Kebanyakan bioskop di zaman kolonial itu milik Boosje, warga Belanda yang mempunyai perkebunan di sekitar Bandung. Ada yang tumbang dan ada pula yang tumbuh. Sayangnya, nasib gedung-gedung yang menampung puluhan, ratusan, bahkan ribuan penikmat film di Bandung ini harus terseok tak berdaya. Perkembangan teknologi, selera pasar, juga manajemen pelayanan yang kurang memuaskan membuat gedung ini terus ditinggalkan, beralih fungsi, dan tidak terawat. Tak akan ada lagi proyektor yang berputar, karcis yang disobek, layar putih berukuran 100 kali televisi 20 inci yang menampilkan gambar hidup, hingga serangga di kursi penonton yang membuat kaki dan tangan gatal. Yang tersisa hanya gedung tua yang menantikan padamnya lampu bioskop untuk selamanya. Saat ini, bisa dihitung jumlah gedung bioskop tua yang masih bertahan dan berfungsi sebagai tempat menonton film-film baru. Satu di antaranya adalah Bioskop Taman Hiburan di daerah Cicadas. Tetapi banyak juga yang sudah berubah fungsi, seperti Bioskop Dian yang menjadi tempat futsal, kata Iwan, petugas di PT Kharisma Jabar Film. (THT) Sumber: Kompas, Jumat, 21 April 2006