Anda di halaman 1dari 6

BAB I PENDAHULUAN

Hukum pidana adalah hukum istimewa, karena meletakkan suatu penderitaan yang bersifat khusus. Menurut ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), perbuatan pidana itu terbagi menjadi dua macam yaitu kejahatan (misdrijven) dan pelanggaran (overtredingen). Yang dimana kejahatan di beratkan dengan hukuman kurungan,nyawa, bahkan kebebasan, sedangkan pelanggaran meliputi harta benda (denda) dan ganti rugi. Jadi, keduanya memiliki perbedaan sanksi. Di dalam kehidupan bermasyarakat hukum kadang kala tidak menjadi patokan bagi masyarakat. Di samping dorongan emosional yang tinggi serta berkeinginan menang sendiri. Oleh sebab itu, tidak banyak masyarakat yang taat hukum serta keacuan akan hukum, banyaknya kriminalitas dan pelanggaran yang terjadi disekeliling kita dan bahkan mungkin menjadi hal yang adat bagi pelakunya. Di dalam hal ini sering kita jumpai suatu tindakan kejahatan yang bersamaan dengan kejahatan lain, Ada juga satu perbuatan pelanggaran yang disertai dengan pelanggaran lain. Atau bahkan perbuatan kejahatan yang bersamaan dengan pelanggaran dan sebaliknya. Kejadian seperti ini biasa disebut perbarengan (samenloop van strafbaar feit atau concursus). Oleh karena itu, perbarengan tindak pidana yang terdapat pada pasal 63 KUHP yang berbunyi : (1) Jika sesuatu perbuatan termasuk dalam beberapa ketentuan pidana, maka yang dikenakan hanyalah satu saja dari ketentuan itu, jika hukumannya berlainan, maka yang dikenakan ialah hukuman yang terberat hukuman pokoknya". (2) Jika suatu, tindakan masuk dalam suatu ketentuan pidana umum, tetapi termasuk juga dalam ketentuan pidana khusus, maka hanya yang khusus itu saja yang diterapkan.

BAB II PEMBAHASAN

A. Pemahaman Tentang Concursus Idealis Concursus Idealis merupakan salah satu bentuk gabungan tindak pidana, apabila seseorang melakukan satu perbuatan tetapi dengan bentuk satu perbuatan itu ia telah melanggar beberapa peraturan pidana, sehingga ini berarti ia telah melakukan beberapa tindak pidana. Concursus Idealis dibagi dua yaitu Concursus Idealis homogenus yaitu pembarengan tindakan tunggal sejenis dan Concursus Idealis heterogenius yaitu pembarengan tindakan tunggal beragam. Dengan demikian maka syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat menyatakan adanya gabungan tindak pidana adalah : Ada dua/lebih tindak pidana yang dilakukan Bahwa dua/lebih tindak pidana tersebut dilakukan oleh satu orang (atau dua orang dalam hal penyertaan) Bahwa dua/lebih tindak pidana tersebut belum ada yang diadili Bahwa dua/lebih tindak pidana tersebut akan diadili sekaligus (diatur dalam pasal 65, 66, 70 dan 70 bis KUHP)

A. Memahami Pasal 63 KUHP Didalam pasal 63 KUHP ayat 1 menyimpulkan bahwa apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa delik yang masing-masing diancam dengan pidana yang berbeda, maka hanya dijatuhkan satu pidana yang terberat walaupun orang tersebut melakukan beberapa delik. (Sistem Absorpsi).

Contoh kasus : Si A melakukan tindakan pidana terhadap Si B, yang dimana Si B sedang berada di dalam toilet karena diliputi rasa amarah Si A membututi Si B dan menyelinap maasuk ke dalam toilet sehingga terjadilah penganiayaan terhadap Si B, yang didapati dipukuli hingga babak belur. Didalam kasus ini kita teliti bahwa adanya unsur penganiayaan yang menyebabkan seseorang luka-luka berat. Di dalam KUHP diatur di dalam pasal 351 tentang Penganiayaan yang diancam hukuman pidana penjara paling lama 2 tahun 8 bulan, sedangkan di dalam pasal 539 tentang Menyebabkan luka-luka karena kealpaan diancam hukuman pidana penjara paling lama 5 tahun. Dalam kasus ini walaupun melanggar 2 ketentuan tetapi yang dipakai adalah satu ketentuan yaitu Pasal 539 KUHP karena ancaman hukumannya.lebih berat.

Seorang yang bemama A merasa dendam pada seorang yang bernama B, puncak dari rasa dendam tersebut, A mempunyai rencana untuk membunuh B, untuk menwujudkan rencana tersebut A mencari kesempatan yang dianggap aman untuk melaksanakan niat jahatnya tersebut, pada suatu ketika B sedang mengendarai sebuah mobil, kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh A untuk meluluskan rencananya itu dengan jalan menembakkan senjata kearah mobil tersebut, yang berakhir dengan kematian sekaligus terbakarnya mobil B tersebut.

Dalam kasus ini maka ada dua pasal yang dilanggar oleh A yaitu Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman pidana mati atau seumur hidup atau paling lama 20 tahun dan Pasal 406 KUHP tentang Pengrusakan barang dengan ancaman pidana penjara paling lama 2 tahun 8 bulan. Dalam kasus ini walaupun melanggar 2 ketentuan tetapi yang dipakai adlah satu ketentuan yaitu Pasal 340 KUHP karena ancaman hukumannya.lebih berat.

Didalam pasal 63 ayat 2 menyimpulkan bahwa suatu aturan pidana umum tapi diatur pula didalam aturan pidana khusus, maka yang berlaku adalah aturan pidana khusus (Asas Lex spesialis derogate lex generalis, yang artinya ketentuan khusus meniadakan ketentuan umum).

Contoh kasus : Misalkan ada seorang ibu melakukan pembunuhan terhadap bayinya, maka dia dapat diancam dengan Pasal 338 tentang pembunuhan dengan pidana penjara 15 tahun. Namun karena Pasal 341 telah mengatur secara khusus tentang tindak pidana ibu yang membunuh anaknya (kinderdoodslaag), maka ibu tersebut dikenai ancaman hukuman selama-lamanya 7 tahun sebagaimana diatur dalam pasal 341.

B. Sistem Pemidanaan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) mengenal 4 sistem atau stelsel pemidanaan yaitu : 1. Stelsel Absropsi Yakni apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa delik yang masing-masing diancam dengan pidana yang berbeda, maka menurut sistem ini hanya dijatuhkan satu pidana saja, yaitu pidana yang terberat walaupun orang tersebut melakukan beberapa delik. 2. Stelsel Kumulasi Yakni apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa delik yang diancam dengan pidana sendiri-sendiri, maka menurut sistem ini tiap-tiap pidana yang diancam terhadap delik-delik yang dilakukan oleh orang itu semuanya dijatuhkan. 3. Stelsel Absorpsi Diperberat Yakni apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa jenis delik yang masing-masing diancam dengan pidana sendiri-sendiri, menurut stelsel ini pada hakikatnya hanya dapat dijatuhkan 1 pidana saja yakni yang terberat akan tetapi dalam hal ini diperberat dengan menambah sepertiganya (1/3). 4. Stelsel Kumulasi Terbatas Yakni apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa jenis delik yang masing-masing diancam dengan pidana sendiri-sendiri, maka menurut stelsel ini, semua pidana yang diancamkan terhadap masing-masing delik dijatuhkan semuanya. Akan tetapi, jumlah pidana itu harus dibatasi, yaitu jumlahnya tidak boleh melebihi dari pidana terberat ditambah sepertiga (1/3). Stelsel Absropsi dan kumulasi merupakan stelsel pidana pokok (murni) sedangkan Stelsel Absorpsi diperberat dan kumulasi terbatas merupakan stelsel pidana tambahan.
5

BAB III KESIMPULAN

Perbarengan tindak pidana (Concursus Idealis) yakni apabila seseorang melakukan satu perbuatan tetapi dengan bentuk satu perbuatan itu ia telah melanggar beberapa peraturan pidana. Concursus Idealis dibagi dua yaitu Concursus Idealis homogenus dan Concursus Idealis heterogenius. Didalam Pasal 63 KUHP diatur perbarengan tindak pidana baik dari sistem absorpsi yakni apabila seseorang melakukan tindak pidana yang berbeda maka yang harus dijatuhkan hukuman adalah tindak pidana yang terberat, maupun adanya unsur asas Lex spesialis derogate lex generalis, yang artinya ketentuan khusus meniadakan ketentuan umum. Untuk dalam hal memidanakan seseorang yang melakukan perbarengan tindak pidana terdapat beberapa sistem pemidanaan yakni : 1. Sistem Absorpsi 2. Sistem Kumulasi 3. Sistem Absorpsi Diperberat 4. Sistem Kumulasi Terbatas