Anda di halaman 1dari 16

1

HIPERPITUITARISME
I. MEDIS A. ANATOMI FISIOLOGI

1. Kelenjar Hipofise (Pituitari) Hipofisis terletak di baris cranii dalam sella tursica yang terbentuk oleh os sphenoidale, Sella tursica dekat dengan chiasmaopticum. Besarnya kira-kira 10 x 13 x 6 mm dan beratnya sekitar 0,5 gram. Bentuk anatomis dari hipofisis sangat kompleks dan agar pengertian tentang susunannya ia harus ditinjau kembali sejak pembentukannya didalam embrio. Kelenjar hipofise sebenarnya terdiri dari dua kelenjar, pituitari anterior yang berukuran lebih besar terletak di anterior atau disebut adenohipofise dan pituitari posterior atau neurohipofise. Dua bagian dari hipofisis, yakni ADENOHIPOFISIS (bagian anterior) dan NEUROHIPOFISIS (bagian posterior). Berat adenohipofisis sekitar 75% dari seluruh hipofisis. Lobus anterior atau adenohipofisis yang berhubungan dngan hipotalamus melalui tangkai hipofisis, lobus anterior atau neurohipofisis sebagai lanjutan dari hipotalamus. Bagian anterior kelenjar hipofisis mempunyai banyak fungsi dan karena memiliki kemampuan dalam mengatur fungsi-fungsi dari kelenjar hipofisis endokrin lain, maka bagian anterior kelenjar hipofisis ini dikenal juga dengan nama master gland. Lobus posterior kelenjar hipofisis terutama berfingsi untuk mengatur

keseimbangan cairan. Pituitari anterior biasa juga disebut sebagai Master of gland, karena pengaruhnya pada kelenjar lain dan pada seluruh tubuh. Pengaruh ini dilaksanakan oleh 6 hormon yang diproduksi oleh sel yang berbeda- beda yangterdapat di lobus anterior hipofise, dan oleh dua hormon yang diproduksi oleh lobus posterior hipofise. Bagian anterior kelenjar hipofisis mempunyai banyak fungsi dan karena memiliki kemampuan dalam mengatur fungsi-fungsi dari kelenjar-kelenjar endokrin lain, maka bagian anterior kelenjar hipofisis ini dikenal juga dengan nama kelenjar utama (Master Of Gland). Sel-sel hipofisis anterior merupakan sel-sel yang khusus menyekresikan hormon-hormon tertentu. Tujuh macam hormon dan peranan metabolik fisiologinyatelah diketahui dengan baik. Hormon- hormon tersebut adalah Adreno Cortoco Tropichormone (ACTH), Melanocyte-Stimulating Hormone (MSH), Thyroid-Stimulating Hormon (thyrotropin, TSH), FollicleStimulating Hormone (FSH), Luteinizing Hormone (LH), Growth Hormon (GH) dan Prolactin (PRL). Beberapa hormon ini (ACTH,MSH, GH, dan prolaktin) merupakan polipeptida, sedangkan hormon yang lainnya (TSH, FSH, dan LH) merupakan glikoprotein. Penelitian morfologis menemukan bahwa setiap hormon disintesis oleh satu jenis sel tertentu. Dapatdikatakan bahwa bagian anterior kelenjar hipofisis sesungguhnya merupakan gabungan dari beberapa kelenjar yang berdiri sendiri-sendiri, yang semuanya berada di bawah pengawasan hipotalamus.
a.

Hipofisis : 1) Terletak di bawah hipotalamus 2) Terdiri dari hipofisis anterior dan hipofisis posterior 3) HIPOFISIS ANTERIOR: memproduksi growth hormone (GH), adreno corticotrophic hormon (ACTH), thyroid stimulating hormone, (TSH), follicle stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH), prolaktin, thyrotropin releasing hormone 4) HIPOFISIS POSTERIOR: mengahsilkan anti diuretic hormone (ADH), oksitosisin

b.

Kelenjar hipofisis a) Merupakan bagian otak terletak di bawah hipotalamus. b) Kerja hipofisis dipengaruhi oleh hipotalamus c) Hipotalamus dan hipofisis dihubungkan oleh sistem portal hipotalamohipofisis. d) Melalui sistem tersebut releasing hormon dari hipotalamus mencapai hipofisis, sehingga hipofisis mudah melepaskan hormon-hormon.

c.

Hormon- hormon yang di sekresi oleh hipofisis 1) Growth Hormone (GH) atau somatotropin Sekresi dirangsang oleh growth hormone releasing hormone/GHRH (dari hipotalamus) GH diperlukan untuk: a) Pertumbuhan somatik dan mempertahankan ukuran yang telah dicapai. b) Mengatur sistesis protein dan pembungan nutrien

c) Efek pertumbuhan diperoleh oleh somatomedin yang dikeluarkan oleh GH tsb. 2) Adreno corticotrophic hormone (ACTH) Pelepasan ACTH dipengaruhi oleh cortricotropin releasing hormone dari hipotalamus. Fungsi dari hormon ini adalah : a) Berfungsi merangsang pertumbuhan dan fungsi korteks adrenal b) Mengatur produksi kortisol 3) Thyroid stimulating hormone (TSH) a) TSH menyebabkan pelepasan tiroksin dan triyodotironin b) Pelepasan TSH dipengaruhi oleh thyrotropin releasing hormon (TRH) dari hipotalamus c) Merangsang pertumbuhan 4) Follicles stimulating hormone (FSH) dan Luteinizing hormone (LH). FSH dan LH dikenal sebagai gonadrotropin. Fungsi dari kedua hormon ini adalah: 1) Pada pria FSH merangsang spermatogenesis dan LH merangsang sekresi testosteron oleh sel leydig (sel interstitial testis). 2) Pada wanita FSH merangsang perkembangan folikel dan sekresi estrogen oleh sel-sel folikel. LH merangsang sekresi progesteron oleh korpus luteum. 5) Prolaktin Pelepasannya dipengaruhi oleh prolactin releasing hormon/PRH. Fungsi prolakstin ; Menstimulasi produksi ASI 6) Oksitosin Pelepasan oksitosin dipengaruhi oleh hisapan dan persalinan. Sel targetnya adalah uterus dan payudara. Oksitosin berfungsi meningkatkan kontraksi uterus dan menyebabkan laktasi

7) Anti Diuretic Hormone /Vasopresin Pelepasan ADH dipengaruhi keadaan kurang cairan/dehidrasi. Sel targetnya adalah tubulus dan arteriol. Efek: meningkatkan TD, meningkatkan absorsi di tubulus distal, menurunkan krja otot saluran GI 2. Hubungan antara hipotalamus dengan hipofise Hipotalamus terdiri dari sebuah nuklei dan berperan sebagai suatu

penghubungyang penting antara mekanisme pengaturan neurologis dan hormonal. Hipotalamus melaksanakan pengontrolan pada kelenjar hipofise anterior dan terhadap kelenjar lain dan sel-sel tubuh. Hipotalamus (terletak pada jaringan sekitar ventrikel ketiga)dan lobus hipofise anterior dihubungkan oleh sistem perdarahan portalhipotalamus-hipofise (hipotalamus-hipofise portal blood system) dengan demikianneurosekresi releasing factor (RF) dan inhibiting factor (IF) dilakukan dari hipotalamus ke hipofise. Diduga bahwa masing-masing hormon hipofise memiliki RF dan IF yang menstimulir atau menghambat pelepasan hormon-hormon tersebut. Dengan diketahuinya struktur kimia dari suatu inhibitory dan releasing factor, istilah faktor diubah menjadi hormon. Hipotalamus juga mengendalikan kelenjar hipofise posterior yang berhubungan dengannya secara struktural. ADH dan oksitosin sebenarnya diproduksi di hipotalamus dalam nuklei paraventrikular dan supraoptik dan dibawa oleh neuron melalui transport aksonal melalui cabang-cabang terminal yang terletak di lobus posterior hipofise. Disana mereka disimpan dan kemudian dilepaskan.

B. PENGERTIAN 1. Hiperpituitari adalah sekresi yang berlebihan satu atau beberapa hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar pituitari.( Price &Wilson. 2006). 2. Hiperpituitarisme yaitu suatu kondisi patologis yang terjadi akibat tumor atau hiperplasi hipofise sehingga menyebabkan peningkatan sekresi salah satu hormon hipofise atau lebih.(Rumahorbo,1999;hal 36)

C. KLASIFIKASI Functioning tumor sering ditemukan pada hipofise anterior. 1. Prolaktinoma (adenoma laktotropin) / Prolacti- sekreting tumors (tumor penyekrisi prolaktin) Biasanya adalah tumor kecil, jinak, yang terdiri atas sel-sel pensekresi prolaktin. Gejala yang khas pada kondisi ini sangat jelas pada wanita usia reproduktif dan di mana terjadi (tidak menstruasi, yang bersifat primer dan sekunder), galaktorea (sekresi ASI spontan yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan), dan infertilitas. 2. Adenoma somatotropik / Somatotroph tumors (hipersekresi hormon pertumbuhan) Adenoma somatotropik terdiri atas sel-sel yang mensekresi hormon pertumbuhan. Gejala klinik hipersekresi hormon pertumbuhan bergantung pada usia klien saat terjadi kondisi ini. Misalnya saja pada klien pre pubertas, di mana lempeng epifise tulang panjang belum menutup, mengakibatkan pertumbuhan tulang-tulang memanjanng sehingga mengakibatkan gigantisme. Pada klien post pubertas, adenomasomatotropik mengakibatkan akromegali, yang ditandai dengan

pembesaran ekstermitas (jari, tangan, kaki), lidah, rahang, dan hidung. Organorgan dalam jugaturut membesar (mis : kardiomegali). Kelebihan hormon pertumbuhan menyebabkan gangguan metabolik, seperti hiperglikemia dan hiperkalsemia. Pengangkatan tumor dengan pembedahan merupakan pengobatan pilihan. Gejala metabolik dengan tindakan ini dapat mengalami perbaikan, namun perubahan tulang tidak mengalami regresi. 3. Adenoma kortikotropik / Corticotroph Tumors (penyekresi adenokortikotrofik / ACTH) Adenoma kortikotropik terdiri atas sel-sel pensekresi ACTH. Kebanyakan tumor ini adalah mikroadenoma dan secara klinis dikenal dengan tanda khas penyakit cushings. Klasifikasi dari tumor hipofise/ adenoma hipofisis adalah 1. Encapsulated (tidak ada metastasis pada sella tursika) 2. Invasif (sella tursika rukak akibat metastasis)

3. Mikroadenoma (Encapsulated tumors dengan diameter < 10mm) 4. Makroadenoma (Encapsulated tumors dengan diameter > 10mm)

D. ETIOLOGI Adenoma hipofisis merupakan penyebab utama hiperpituitarisme. Sedangkan

penyebab dari adenoma itu sendiri belum diketahui. Adenoma hampir selalu menyekresi hormon sehingga sering disebut dengan functioning tumor (Baradero, Mery. 2009; hal 11). Penyebabnya adalah kondisi dimana secara patologis kelenjar pituitari mengalami hiperplasi atau terbentuk tumor sehingga terjadilah peningkatan sekresi hormon yang dikeluarkan dari hipofise.(Rumahorbo,1999;36). Ada dua perubahan fisiologis karena adenoma hipofisis, yaitu : 1. Perubahan yang timbul karena adanya space-occupaying mass dalam kranium. 2. Perubahan yang diakibatkan oleh hipersekresi hormon oleh tumornya sendiri.

E. PATOFISIOLOGI Hiperfungsi hipofise dapat terjadi dalam beberapa bentuk bergantung pada sel mana dari kelima sel-sel hipofise yang mengalami hiperfungsi. Kelenjar biasanya mengalami pembesaran, disebut adenoma makroskopik bila diameternya lebih dari 10mm, yang terdiri atas satu jenis sel atau beberapa jenis sel. Kebanyakan adalah tumor yang terdiri atas sel-sel laktotropik (juga dikenal sebagai prolaktinomas). Tumor yang kurang umum terjadi adalah adenoma somatotropik. Tumor yang terdiri atas sel- sel pensekresi TSH-, LH-, atau FSH- sangat jarang terjadi. Prolaktinoma (adenoma laktotropin) biasanya adalah tumor kecil, jinak, yang terdiri atas sel-sel pensekresi prolaktin. Gejala yang khas pada kondisi ini sangat jelas pada wanita usia reproduktif dan di mana terjadi (tidak menstruasi, yang bersifat primer dan sekunder), galaktorea (sekresi ASI spontan yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan), dan infertilitas. Hiperprolaktinemia pada wanita menyebabkan

hipogonachisme dan atau galaktorea. Bisa pula menyebabkan kelainan menstruasi dan makin tinggi hiperprolaktinemia makin besar kemungkinan adanya amenorea. Pada pria hiperprolaktinemia bisa menyebabkan impotensi dan kemadulan (infertility).

Hiperprolaktinemia menunjukkan kemungkinan adanya adenoma hipofisis/penyakit hipotalamus. Di hipofisis frekuensi mikroprolaktinoma lebih besar dari

makroprolaktinoma. Sekitar 90% dari penderita mikroprolaktinoma adalah wanita sedangkan 60% penderita makroprolaktinoma adalah pria. Mikroadenoma adalah adenoma yang besarnya <10mm.>10 ng/ml). GH binding proteins meninggi. Bisa resistensi insulin (sekitar 80% penderita, tetapi yang menderita diabetes klinis hanya sekitar 15%). Hiperprolaktinemia (bisa sampai 50% penderita) Adenoma somatotropik terdiri atas sel-sel yang mensekresi hormon pertumbuhan. Gejala klinik hipersekresi hormon pertumbuhan bergantung pada usia klien saat terjadi kondisi ini. Misalnya saja pada klien pre pubertas, di mana lempeng epifise tulang panjang belum menutup, mengakibatkan pertumbuhan tulang-tulang

memanjanng sehingga mengakibatkan gigantisme. Pada klien post pubertas, adenomasomatotropik mengakibatkan akromegali, yang ditandai dengan pembesaran ekstermitas (jari, tangan, kaki), lidah, rahang, dan hidung. Organ-organ dalam jugaturut membesar (mis : kardiomegali). Kelebihan hormon pertumbuhan menyebabkan gangguan metabolik, seperti hiperglikemia dan hiperkalsemia. Pengangkatan tumor dengan pembedahan merupakan pengobatan pilihan. Gejala metabolik dengan tindakan ini dapat mengalami perbaikan, namun perubahan tulang tidak mengalami regresi. Adenoma kortikotropik terdiri atas sel-sel pensekresi ACTH. Kebanyakan tumor ini adalah mikroadenoma dan secara klinis dikenal dengan tanda khas penyakit cushings. Perubahan neurologis dapat terjadi akibat tekanan jaringan tumor yang semakin besar. Tekanan ini bisa terjadi pada sraf optik, saraf kranial III (okulomotor), saraf kranial IV (troklear), dan saraf V (trigeminal). Tumor yang sangat besar dapat menginfiltrasi hipotalamus.

F. TANDA DAN GEJALA 1. Gangguan penglihatan sampai dengan kebutaan. 2. Sakit kepala dan penurunan kesadaran (somnolent)

3. Tumor yang besar mengenai hipotalamus : suhu tubuh, nafsu makan, dan tidur dapat terganggu, serta tampak ketidakseimbangan (ketidakstabilan) emosi. 4. Tergantung pada hormon apa yang terjadi hipersekresi.

G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. Pemeriksaan darah yang bertujuan untuk mengetahui hormon-hormon yang berlebihan. 2. Kadar prolaktin serum : ACTH, GH 3. Foto tengkorak 4. CT Scan otak 5. Angiografi 6. Tes supresi dengan Dexamethason 7. Tes toleransi glukosa.

H. PENATALAKSANAAN Pembedahan dan terapi radiasi serta obat-obatan yang tujuannya adalah memperbaiki hipersekresi hipofisis anterior dan mengambil atau menekan hipersekresi adenoma. Pembedahan yang dilakukan adalah dengan melakukan prosedur bedah mikro transfenoidal pada sella turnika.

I. KOMPLIKASI 1. Komplikasi pembedahan adalah diabetes insipidus (kekurangan hormon pengatur pengeluaran urine / ADH) dapat berlangsung sekitar dari beberapa hari sampai dua minggu. 2. Efek samping terapi radiasi adalah mual dan muntah sampai pada hipopituitarisme dan Rinorea cairan serebrospinal.

10

II. KEPERAWATAN A. PENGKAJIAN 1. Riwayat penyakit ; manifestasi klinis tumor hipofise bervariasi tergantung pada hormon mana yang disekresi berlebihan. Tanyakan manifestasi klinisdari peningkatan prolaktin, GH dan ACTH mulai dirasakan. 2. Kaji usia, jenis kelamin dan riwayat penyakit yang sama dalam keluarga. 3. Keluhan utama, mencakup : a. Perubahan ukuran dan bentuk tubuh serta organ-organ tubuhseperti jari-jari, tangan, dsb. b. Perubahan tingkat energi, kelelahan dan letargi. c. Nyeri pada punggung dan perasaan tidak nyaman. d. Dispaneuria dan pada pria disertai dengan impotensia. e. Nyeri kepala, kaji P, Q, R, S, T. f. Gangguan penglihatan seperti menurunnya ketajaman

penglihatan, penglihatan ganda, dsb. g. Kesulitan dalam berhubungan seksual. h. Perubahan siklus menstruasi (pada klien wanita) mencakupketeraturan, kesulitan hamil. i. Libido seksual menurun j. Impotensia. 4. Pemeriksaan fisik mencakup: a. Amati bentuk wajah, khas pada hipersekresi GH seperti bibir dan hidung besar, tulang supraorbita menjolok. b. Kepala, tangan/lengan dan kaki juga bertambah besar, dagu menjolok kedepan. c. Amati adanya kesulitan mengunyah dan geligi yang tidak tumbuh dengan baik.

11

d. Pemeriksaan ketajaman pengli8hatan akibat kompresi saraf optikus akan dijumpai penurunan visus. e. Amati perubahan pada persendian di mana klien mengeluh nyeri dan sulit bergerak. Pada pemeriksaan ditemukan mobilitas yang terbatas. f. Peningkatan perspirasi pada kulit menyebabkan kulit basah

karena berkeringat. g. Suara membesar karena hipertropi laring. h. Pada palpasi abdomen, didapat hepatomegali dan splenomegali. i. Hipertensi j. Disfagia akibat lidah membesar. k. Pada perkusi dada dikumpai jantung yang membesar. 3. Pemerisaan diagnostik a. Kadar prolaktin serum : ACTH, GH b. Foto tengkorak c. CT Scan otak d. Angiografi e. Tes supresi dengan Dexamethason f. Tes toleransi glukosa.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Diagnosa keperawatan utama yang dapat dijumpai pada klien dengan hiperpituitarisme. a. Perubahan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan fisik. b. Disfungsi seksual berhubungan dengan penurunan libido; infertilitas. 2. Diagnosa keperawatan tambahan yang juga dijumpai adalah: a. Nyeri (kepala, punggung) berhubungan dengan penekanan jaringan oleh tumor; hormon pertumbuhan yang berlebihan.

12

b. Takut berhubungan dengan ancaman kematian akibat tumor otak. c. Ansietas berhubungan dengan ancaman terhadap perubahan status kesehatan. d. Koping individu tak efektif berhubungan dengan hilangnya kontrol terhadap tubuh. e. Keterbatasan aktivitas berhubungan dengan kelemahan, letargi. f. Perubahan sensori-perseptual (penglihatan) berhubungan dengan gangguan transmisi impuls akibat kompresi tumor pada nervus optikus.

C. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN / NURSING CARE PLAN (NCP) Berikut ini akan diuraikan dua diagnosa keperawatan. 1. Perubahan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan fisik. Tujuan : dalam waktu 2-3 minggu klien akan memiliko kembali citra tubuh yang positif a. Nonpembedahan 1) Klien dengan kelebihan GH a) Dorong klien agar mau mengungkapkan pikiran dan perasaannya terhadap perubahan penampilan tubuhnya. b) Bantu klien mengidentifikasi kekuatanya serta segi-segi positif yang dapat dikembangkan oleh klien. 2) Klien dengan kelebihan prolaktin a) Yakinkan klien bahwa sebagian gejala dapat berkurang dengan pengobatan (ginekomastia, galaktorea). b) Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya. b. Pemberian obat-obatan 1) Kolaborasi pemberian obat-obatan seperti: Bromokriptin

(Parlodel),merupakan obat pilihan pada kelebihan prolaktin. Pada mikro adenoma, prolaktin adapat normal kembali. Juga diberikan pada klien denganakromegali, untuk mengurangi ukuran tumor.

13

2) Observasi efek samping pemberian bromokriptin seperti:Hipotensi ortostatik, iritasi lambung, mual, kram abdomen, dankonstipasi. 3) Kolaborasi pemberian terapi radiasi. 4) Awasi efek samping terapi radiasi seperti: hipopituitarisme, kerusakan nervus optikus, disfungsi hipotalamus, dan perubahan lapang pandang. 5) Kolaborasi tindakan pembedahan. 2. Disfungsi seksual berhubungan dengan hilangnya libido, infertilitas dan impotensi. Tujuan : Klien akan mencapai tingkat kepuasan pribadi dari fungsi seksual Intervensi keperawatan: a. Identifikasi masalah spesifik yang berhubungan dengan pengalaman klienterhadap fungsi seksualnya. b. Dorong agar klien mau mendiskusikan masalah tersebut dengan pasangannya. c. Kolaborasi pemberian obat-obatan bromokriptin. d. Bila masalah ini timbul setelah hipofisektomi, kolaborasi pemberian gonadotropin.

D. TINDAKAN KEPERAWATAN DAN PEMBEDAHAN Hipofisektomi adalah tindakan pengangkatan adenoma hipofise melalui pembedahan. Prosedur operasi tersebut mencakup tindakan transpenoidal hipofisektomi dengan narkose. Insisi pada lapisan dalam bibir atas dan masuk ke sella tursika melalui sinus spenoidalis. Yang kedua adalah transfrontalkraniotomi yaitu dengan membuka rongga kranium melalui tulang frontal. Secara umum prinsip perawatan klien dengan hipofisektomi adalah sebagai berikut : 1. Pantau status neurologi klien. 2. Pantau keseimbangan cairan khususnya terhadap haluaran yang berlebihan dari masukan karena dapat terjadi diabetes insipidustransien. 3. Dorong klien untuk mempertahankan ventilasi paru dengan latihan nafas dalam.

14

4. Anjurkan klien untuk tidak batuk, mengosok hidung atau bersin. 5. Perawatan preoperasi, yaitu sebagai berikut : a. Menjelaskan maksud dan tujuan tindakan dilakukan b. Menjelaskan penggunaan tampon hidung selama 2-3 hari pasca operasi. Anjurkan klien bernafas melalui mulut selama pemasangan tampon c. Menjelaskan penggunaan balut tekan yang ditempatkan dari bawah hidung, menggosok gigi, batuk, bersin, karena hal ini dapat menghambat penyembuhan luka. d. Menjelaskan berbagai prosedur diagnostik yang diperlukan sebagai persiapan operasi seperti pemeriksaan neurologik, hormonal, lapang pandang, swab tenggorok untuk pemeriksaan kultur dan sensitivitas. 6. Pendidikan kesehatan Pendidikan kesehatan dilakukan sebelum tindakan pembedahan dilaksanakan. Setelah tindakan transpenoidal hipofisektomi, perawat menjelaskan agar klien menghindari aktivitas yang dapat menghambat penyembuhan seperti mengejan, batuk, dll. Juga jelaskan agar klien mengindahkan faktor-faktor yang dapat mencegah obstipasi. Klien tidak menyikat gigi satu sampai dua minggu sampai penyembuhan sempurna, cukup berkumur setiap kali setelah makan. Jelaskan bahwa sensasi hilang rasa pada daerah insisi adalah biasa, dapat berlangsung 3-4 bulan. Oleh karena itu anjurkan klien memeriksa gusinya untuk mengetahui adanya lesi dan perdarahan dengan menggunakan cermin setiap hari. Setelah operasi , pemberian hormon diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan cairan. Jelaskan penggunaan obat-obatan dan jelaskan pula perlunya tindak lanjut secara teratur. 7. Perawatan pasca operasi a. Amati respons neurologik klien dan catat adalah perubahan

penglihatan,disorientasi, dan perubahan kesadaran serta penurunan kekuatan motorik ekstremitas. b. Amati pula komplikasi pasca operasi yang lazim terjadi seperti

transientinsipidus (diabetes insipidus sesaat) : bila terjadi hal tersebut lakukanintervensi sebagai berikut:

15

1) Catat cairan yang masuk baik peroral maupun parenteral 2) Tingkatkan masukan cairan bila ada rasa haus. 3) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian vasopresin. 4) Bila diperlukan lakukan pemasangan indwelling kateter untuk

memudahkan pemantauan haluan cairan. 5) Ukur BB setiap hari c. Anjurkan klien untuk melaporkan pada perawat bila terjadi pengeluaran sekret dari hidung ke faring (post nasal drip) yang kemungkinan mengan CSF. d. Tinggikan kepala 30-45 e. Kaji drainase nasal terhadap kualitas dan kuantitas terhadap kemungkinan mengandung glukosa. f. Hindari batuk, ajarkan klien bernafas dalam, lakukan higyene oral secarateratur karena pernafasan mulut dan penggunaan tampon. g. Kaji tanda-tanda infeksi (meningitis ) dengan cermat. h. Kolaborasi pemberian gonadotropin, kortisol sebagai dampak hipofisektomi.

E. EVALUASI 1. Klien dapat menerima kekurangan (perubahan fisik) dalam dirinya. 2. Klien mampu bersosialisi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya,tanpa merasa malu akan perbedaan dalam dirinya. 3. Klien mampu beraktivitas secara mandiri.

16

Daftar Pustaka
Baradero, Mery. (2009). Klien gangguan endokrin. Jakarta : EGC Guyton. (1996). Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Jakarta: EGC. http://bedah46.blogspot.com/2010/01/askep-gangguan-kelenjar-hipofisis.html http://books.google.co.id/ http://kasendaadhd.blogspot.com/2008/10/asuhan-keperawatan-pada-kliendengan_31.html http://www.indonesiaindonesia.com/wiki/Hiperpituitarisme http://www.scholarpedia.org/article/Models_of_hypothalamus http://www.scribd.com/doc/39579702/askep-Gangguan-Kelenjar-Hipofise Price, A Sylvia dan Lorraine M Wilson. 2006. Patofisiologi vol 2 edisi 6. Jakarta : EGC. Rumoharbo, Hotma. 1999. Asuhan keperawatan dengan gangguan sistem endokrin. Jakarta : EGC Slone, Ethel. 2003. Anatomi fisiologi untuk pemula. Jakarta : EGC Syaiffudin. (2006). Anatomi dan Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta : EGC