Anda di halaman 1dari 15

Tugas Kores Selatan BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Tahun1950, Korea Selatan adalah salahsatu negara termiskin di dunia. Sama miskinnya dengan negara-negara termiskin di Afrika dan Asia. Ekonominya hanya bersandar pada pertanian, belum lagi sempat hancur gara-gara pendudukan Jepang dan perang Korea. Dalam 4 dekade, Korea Selatan berubah cepat dari negara termiskin menjadi salahsatu negara paling kaya dan tercanggih di dunia dengan nilai ekonomi Triliyunan dolar. Salah satu hal menarik dari Korea Selatan adalah tentang pendidikan di negara tersebut. Berdasarkan beberapa informasi, 98% masyarakat Korea Selatan merupakan masyarakat yang berpendidikan. Seperti halnya pendidikan di negara-negara lain, termasuk Indonesia. Pendidikan di Korea Selatan dilaksanakan dalam beberapa jenjang, yaitu jenjang pendidikan primer (primary education), pendidikan sekunder (secondary education), dan pendidikan tinggi (high education). Sistem pendidikan Korea sangat mirip dengan Indonesia, yaitu 6 tahun pendidikan dasar, 3 tahun pendidikan menengah awal, 3 tahun pendidikan menengah atas, baru kemudian pendidikan tinggi. Korea Selatan berharap untuk dapat menjadi salah satu dari tujuh negara besar di dunia dalam industri perawatan kesehatan pada tahun 2015. Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan mengumumkan laporan kebijakan tahunan mereka kepada Presiden bahwa Industri perawatan kesehatan negeri ini akan dibenahi secara intensif dengan moto, Medical Korea. Dalam proses tersebut, sebanyak 360.000 lapangan kerja akan terbuka di sektor kesehatan dan kesejahteraan. Industri perawatan kesehatan mengacu pada industri yang menyediakan produk dan pelayanan, yang berkaitan dengan kesehatan dan kehidupan masyarakat. 1.2 Rumusan Masalah Korea Selatan adalah negara yang maju dalam segala bidang seperti ekonominya yang baik, tingkat pendidikan yang tinggi, dan tingkat kesehatan yang bagus. Oleh karena itu, Korea
1

Selatan diprediksikan beberapa tahun lagi akan menjadi negara yang kaya dan tercanggih sekaligus terkuat ke-2 di bawah Amerika. 1.3 Tujuan Sesuai dengan permasalahan yang telah di bahas, maka tujuan utama penulisan ini adalah untuk mengetahui bagaimana Korea Selatan menjadi negara yang begitu kaya dan tercanggih, sehingga kita bisa belajar dari hal tersebut. Dan menjadikan kisah kesuksesan tersebut sebagai pedoman dengan harapan Indonesia bisa seperti Korea Selatan dan disamping itu untuk memenuhi nilai UTS.

BAB II KOREA SELATAN


Korea Selatan adalah negara republik. Korea Selatan memiliki kepadatan penduduk yang tinggi, sekitar 487,7 jiwa/km. Jumlah ini sepuluh kali lebih banyak daripada rata - rata dunia. Kebanyakan penduduk hidup di daerah perkotaan karena migrasi besar - besaran dari pedesaan selama ekspansi ekonomi yang pesat pada tahun 1970, 1980 dan 1990. Pada tahun 2005, Seoul merupakan kota terpadat di Korea Selatan dengan jumlah penduduk lebih dari 9 juta jiwa disusul oleh Busan (3,4 juta jiwa), Incheon (2,4 juta jiwa), Daegu (2,3 juta), Daejeon (1,4 juta), Gwangju (1,4 juta) dan Suwon (1 juta). 2.1 Perencanaan Ekonomi Korea Selatan memiliki ekonomi pasar dan menempat urutan kelima belas berdasarkan PDB. Sebagai salah satu dari empat Macan Asia Timur, Korea Selatan telah mencapai rekor ekspor impor yang memukau, nilai ekspornya merupakan terbesar kedelapan di dunia. Sementara, nilai impornya terbesar kesebelas. Dalam bidang kependudukan :

Berdasarkan Lembaga Perencanaan Ekonomi pemerintah, penduduk Korea Selatan akan mencapai total antara 46 juta sampai 48 juta jiwa sampai akhir abad ke-20, dengan angka perutumbuhan penduduk berkisar antara 0,9 sampai 1,2 persen. Lalu populasi akan mengalami stabilisasi (berhenti bertumbuh) pada tahun 2023 dengan populasi sekitar 52,6 juta jiwa. Angka kelahiran di Korea Selatan kini menjadi salah satu yang terendah di dunia. Pada tahun 2006, tercatat 452.000 kelahiran dengan persentase 9,22, meningkat sedikit daripada tahun sebelumnya yakni 438.000 kelahiran pada persentase 8,97.

Dalam bidang keuangan dan ekspor impor:

Pada awal tahun 1980-an, guna mengendalikan inflasi, sebuah kebijakan moneter konservatif dan undang-undang fiskal dikeluarkan. Pertumbuhan alokasi dana dikurangi dari level 30 % di tahun 1970-an menjadi 15 %. Seoul bahkan membekukan anggaran belanjanya untuk sementara. Intervensi pemerintah dalam perekonomian dengan cepat berkurang dan kebijakan impor serta investasi asing dibebaskan untuk mengundang kompetisi. Untuk mengurangi ketimpangan antara sektor urban dan pedesaan, pemerintah membuka investasi asing lebar-lebar dalam proyekproyek publik seperti pembangunan fasilitas jalan dan komunikasi disamping meningkatkan moderenisasi pertanian. Sejak awal, strategi besar Korea adalah export oriented. Mereka harus mempersiapkan diri dan berjuang untuk merebut pasar dunia! Ini akibat dari keadaan yang sama seperti Jepang, sumberdaya alam yang sangat terbatas dan pasar dalam negeri yang kecil. Export Oriented! Berjuang keras sejak dini untuk merebut pasar dunia.

Kebijakan-kebijakan ini, ditambah perbaikan ekonomi global, ikut membantu memulihkan ekonomi Korea Selatan dari kelesuan ekonomi. Korea Selatan mencapai pertumbuhan ekonomi nyata rata-rata 9,2 % pada tahun 1982 sampai 1985 dan 12,5 % dari tahun 1986 sampai 1988. Inflasi dua kali lipat pada tahun 1970-an dapat diatasi. Inflasi harga barangbarang rata-rata adalah 2,1 persen per tahun dari tahun 1980 sampai 1988; harga barang konsumsi meningkat rata-rata 4,7 % per tahun. Seoul mencapai surplus pertamanya pada neraca pembayaran pada tahun 1986 dengan angka US$ 7,7 miliar dan $US 11,4 miliar, masing-masing di tahun 1987 dan 1988. Kemajuan ini membuat Korea Selatan dapat membayar utang kepada pihak asing. Surplus perdagangan tahun 1989 hanya US$ 4,6 miliar dan neraca perdagangan 1990 diproyeksikan negatif. Dalam tahun-tahun belakangan, model ekonomi Korea Selatan mulai beralih dari perencanaan terpusat serta investasi dari pemerintah ke arah ekonomi yang berorientasi pasar. Bangkit dari kejatuhan ekonomi pada Krisis Finansial Asia tahun 1997, Korea Selatan meluncurkan kebijakan-kebijakan finasial untuk menstabilkan pasar. Pertumbuhan ekonomi yang sempat terpuruk dari 6,6 % pada tahun 1998, naik perlahan menjadi 10,8 % di tahun 1999 dan 9,2 % pada 2000. Peningkatan ini tak lepas dari tangan dingin almarhum Presiden Kim Daejung, yang membuat Korea Selatan menjadi salah satu kekuatan ekonomi Asia. Pada tahun 2001, angka pertumbuhan turun drastis menjadi 3,3 % akibat melemahnya perekonomian global,
4

terpuruknya ekspor, serta gagalnya reformasi finansial. Pada 2002, angka pertumbuhan ekonomi kembali mengalami perbaikan menjadi 5,8 % karena pertumbuhan industri dan konstruksi, walau perekonomian dunia masih belum stabil. Tugas-tugas pemerintah seperti restrukturisasi konglomerat (chaebol), privatisasi bank, dan ekonomi yang lebih liberal masih menjadi target penting yang masih belum diselesaikan hingga kini. Pertumbuhan kembali melemah di 2004, namun produksi meningkat 5 % pada 2006 menyusul tingginya permintaan akan produk-produk ekspor utama, seperti HDTV dan telepon genggam. Korea Selatan bergantung penuh terhadap ekspor untuk menyokong perekonomian. Berbagai produk-produk yang paling diminati sekaligus ekspor terpenting adalah barang-barang elektronik, tekstil, kapal, produk otomotif, dan baja. Walaupun pasar impor telah diliberalisasi, pasar produk pertanian masih diproteksi karena lebarnya celah harga produk pertanian dalam negeri dengan pasar internasional. Sejak tahun 2005, harga beras di Korea Selatan 4 kali lebih tinggi dibanding harga beras di pasar internasional. Pemerintah khawatir dengan membuka pasar pertanian akan mengakibatkan kerugian besar di sektor pertanian. Pada akhir tahun 2004, sebuah perjanjian dengan WTO mengenai impor beras ditandatangani, dan konsumsinya meningkat 4 % dan diperkirakan akan menjadi 8 % pada tahun 2014. Pada tahun 2010, pemerintah Korea Selatan meminta teknokrat ekonomi menyiapkan rencana-rencana darurat dalam mengantisipasi dampak terburuk krisis keuangan AS dan mengusulkan koordinasi dengan Menteri Keuangan Cina dan Jepang. Pemerintah juga meminta otoritas perbankan menjamin kebutuhan dana perusahaan lokal, termasuk kebutuhan terhadap dolar AS. Pada tahun 2011, para konglomerat Korea Selatan telah berperan dalam peningkatan ekonomi Korea. Peran yang telah ditetapkan itu dinyatakan pada pengumuman 30 perusahaan utama Korea. Mereka secara bersama mengungkapkan bahwa mereka akan menyediakan lebih dari 100 triliun won atau sekitar 89 miliyar dolar untuk investasi, menciptakan 1 juta tenaga kerja dan ekspor senilai 500 milyar dolar Amerika. Apa yang mereka akan tunjukkan pada dorongan ekonomi tentunya akan memberikan peluang bagi Korea mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen untuk tahun ini. Prospek dan perencanaan ekonomi Korea Selatan pada tahun 2011 ini nampaknya sangat cerah mengingat para konglomerat bersedia memenuhi peran mereka sebagai mesin penggerak ekonomi nasional.

Perencanaan yang diajukan para konglomerat itu antara lain mengusulkan tiga tujuan utama yaitu ekspor, investasi dan lapangan kerja. Target investasi yang ditetapkan oleh CEOs 30 perusahaan tersebut mencapai senilai 113,2 triliun won atau setara 101 milyar dolar. Jumlah rekor fantastik ini mencapai kenaikan 12 persen lebih dibandingkan dengan investasi pada tahun lalu yang hanya mencapai sekitar 100,8 triliun won atau hampir 90 milyar dolar. Federasi Industri Korea mengungkapkan bahwa rencana investasi baru ini menunjukkan strategi konglomerat Korea untuk meraih keunggulan industri dunia ke depan. Ini artinya bahwa perusahaan industri raksasa Korea akan melakukan investasi luar biasa untuk tahun ini guna memperlebar sayapnya di berbagai pasar dunia sebelum ekonomi dunia pulih kembali secara penuh. Perlu juga dicatat bahwa rencana ini akan menyediakan dana senilai 26 triliun won atau 23 milyar dolar untuk riset dan pengembangan bagi mesin pertumbuhan ekonomi baru. Investasi lebih besar tentunya akan menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak pula. Untuk tahun ini, diperkirakan bahwa jumlah tenaga kerja baru yang diserap oleh 30 perusahaan utama Korea akan mencapai 118.000. Dengan demikian, secara keseluruhan total tenaga kerja dapat melebihi 1 juta yang mengalami peningkatan 6 persen dibandingkan dengan tahun lalu. Angka-angka ini menunjukkan betapa besar peran perusahaan konglomerat mainkan dalam menciptakan lapangan kerja bagi warga masyarakat Korea Selatan. Dengan rencana penciptaan lapangan kerja baru ini, pasar kerja Korea diharapkan dapat memberikan akselerasi lebih tinggi daripada momentum tenaga kerja tahun lalu. Untuk tahun ini, target ekspor mereka akan mencapai 17 persen jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu. Dalam nilai dolar, jumlahnya sekitar 513 milyar dolar. Dengan melihat kenyataan bahwa ekonomi Korea sangat bergantung pada ekspor, kenaikan dengan skala ini menunjukkan secara langsung pertumbuhan ekonomi. Secara khusus, tahun ini diproyeksikan tahun kali pertama Korea Selatan akan mencapai satu triliun dolar dalam nilai perdagangan yang mana menyatakan secara tersirat bahwa ketiga-puluh perusahaan konglomerat Korea memainkan peran utamanya. Dengan demikian, rencana penggerak ekonomi Korea Selatan akan secara bersama meningkatkan aktivitas pemasaran mereka di pasar dunia dan mengawasi proyekproyek investasi mereka yang sedang berjalan. Pada tahun ini, pemerintah Korea Selatan telah menyajikan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen. Target ini jauh lebih tinggi sebagaimana yang diprediksikan oleh lembagalembaga riset swasta baik dari dalam maupun luar negeri yaitu sebesar 4 persen. Beberapa
6

kalangan agak sedikit ragu bahwa pemerintah telah memberikan target pertumbuhan ekonomi yang agak tinggi untuk dicapai. Namun, kondisi ekonomi Korea telah meningkat akhir-akhir ini, sehingga Bank Sentral Korea, BOK juga telah menaikkan proyeksinya. Tentunya, masyarakat akan menilai apakah pemerintah mampu melaksanakan proyeksi yang menggembirakan ini jadi kenyataan dan seberapa efektif ketiga-puluh konglomerat utama mampu memenuhi janji-janji ekonominya.

2.2 Perencanaan Pendidikan Salah satu hal menarik dari Korea Selatan adalah tentang pendidikan di negara tersebut. Berdasarkan beberapa informasi, 98% masyarakat Korea Selatan merupakan masyarakat yang berpendidikan. Seperti halnya pendidikan di negara-negara lain, termasuk Indonesia. Pendidikan di Korea Selatan dilaksanakan dalam beberapa jenjang, yaitu jenjang pendidikan primer (primary education), pendidikan sekunder (secondary education), dan pendidikan tinggi (high education).

Pendidikan primer di Korea Selatan diwajibkan untuk anak-anak berusia 6 sampai 14 tahun. Pada jenjang pendidikan primer ini, prosesnya dilaksanakan di taman kanak-kanak dan sekolah dasar.

Pendidikan sekunder di Korea selatan idealnya dilaksanakan selama 6 tahun, yaitu 3 tahun di sekolah menengah (setara dengan SMP di Indonesia) dan sekolah atas (setara dengan SMA di Indonesia). Pada jenjang pendidikan sekunder ini, prosesnya dilaksanakan sekolah-sekolah kejuruan (setara dengan SMK di Indonesia). Selain itu, pada usia-usia sekolah menengah dan sekolah tinggi ini, anak-anak Korea Selatan melaksanakan beberapa pendidikan tambahan, yaitu melalui kegiatan kursus-kursus tertentu.

Pendidikan tinggi di Korea Selatan dilaksanakan melalui kegiatan-kegiatan perkuliahan selama empat tahun.di beberapa perguruan tinggi, baik perguruan tinggi negeri maupun swasta yang jumlahnya sekitar 330 perguruan tinggi. Adapun beberapa perguruan tinggi yang terkemuka di Korea Selatan antara lain Universitas Korea (Korea University), Universitas Nasional Seoul (Seoul National University), Universitas Ewha (Ewha Womens University), dan Universitas Yonsei (Yonsei University).

Selebihnya untuk jenjang pendidikan pascasarjana. Dengan demikian, orang Korea Selatan menghabiskan paling tidak 23 tahun dari usianya dalam pendidikan formal. Masyarakat Korea Selatan tergolong masyarakat yang mempunyai atensi tinggi terhadap pendidikan sehingga tiap tahunnya sekitar 4 juta siswa anak tercatat melaksanakan kegiatan belajar di taman kanak-kanak dan sekolah dasar, sekitar 4 juta siswa anak di sekolah menengah, sekolah atas dan sekolah kejuruan, dan sekitar 3,2 juta mahasiswa melaksanakan kegiatan kuliah di perguruan tinggi. Program Penilaian Siswa Internasional (Program for International Student Assessment) yang dijalankan oleh OECD ( Oganization Economic Cooperation and Development ) baru-baru ini menempatkan pendidikan Korea Selatan di peringkat 11 dunia. Walau siswa-siswa sekolah Korea Selatan seringkali menempati ranking tinggi pada tes komparatif internasional, sistem pendidikannya sering dikritik karena menerapkan cara pembelajaran yang pasif dan terlalu banyak menghafal. Sistem pendidikan Korea Selatan yang tergolong disiplin dan terstruktur adalah pengaruh Konfusianisme yang sudah tertanam sejak lama dalam masyarakat Korea. Siswa-siswanya jarang memiliki waktu cukup untuk bersantai karena mengalami tekanan untuk berprestasi baik dan masuk universitas ternama. Pada mulanya, seiring dengan didirikannya Republik Korea tahun 1948, pemerintah mulai menyusun sistem pendidikan modern. Lima tahun kemudian, 1953, pemerintah mewajibkan menyelesaikan sekolah dasar selama enam tahun pada usia antara 6 dan 11 tahun. Jumlah anak yang terdaftar pada tingkat dasar ini mencapai 99,8 persen, dan tidak ada lagi anakanak yang putus sekolah. Tahun 2001 mulai diterapkan pendidikan wajib pada jenjang sekolah menengah. Menteri Pendidikan dan Sumber Daya Manusia Korea Selatan Ahn Byung-young menjelaskan, tahun 2004 ini Pemerintah Korea Selatan menjabarkan tujuan pendidikan dalam tiga sasaran utama, yakni pengembangan sumber daya manusia, penguatan pada kesejahteraan pendidikan, serta pembangunan sistem desentralisasi dan reformasi daerah.

Pengembangan sumber daya manusia diyakini akan memperkuat negara itu memasuki persaingan di dunia internasional. Melalui penguatan kesejahteraan pendidikan bisa diatasi kesenjangan pendidikan dan meningkatkan integrasi sosial. Sementara untuk memperluas pembangunan negara dan daya
8

saing daerah yang merata, dipersiapkan desentralisasi sektor pendidikan dan reformasi sistem pendidikan daerah yang terarah. Perguruan tinggi pun diberi peran dalam pengembangan pendidikan, melalui program "Brain Korea 21" atau BK21. Program ini bertujuan meningkatkan derajat sumber daya manusia Korea Selatan memasuki persaingan dalam komunitas internasional abad ke-21. Dimulai sejak tahun 1999 dan direncanakan berlangsung selama tujuh tahun, hingga tahun 2005. Melalui program ini pemerintah mengucurkan dana sebesar 1,4 triliun won (sekitar Rp 11,2 triliun), untuk mendanai perguruan tinggi dengan titik berat pada kegiatan penelitian. BK21 menjadi semacam unit riset unggulan dalam pendidikan tinggi Korea Selatan. Pemerintah Korea Selatan memang tidak pelit mengeluarkan dana untuk sektor pendidikan. Tahun 2004, pendidikan mendapat 16,5 persen dari total anggaran negara. Dari budget itu, pendidikan dasar mendapat porsi terbesar dibandingkan dengan pendidikan tinggi. Seiring dengan kebijakan pendidikan wajib yang diperpanjang menjadi sembilan tahun (sekolah dasar hingga sekolah menengah), pemerintah menjaring sumber dana tambahan dengan menarik pajak pendidikan daerah, pajak pendapatan, dan pajak konsumsi rokok. Di balik kisah sukses pendidikan Korea Selatan, ada keresahan yang merebak di tengah masyarakat. Akibat persaingan yang ketat, setiap siswa berjuang sekuat tenaga untuk membuktikan kemampuannya menembus perguruan tinggi idaman. Materi pelajaran yang didapat di bangku sekolah dianggap masih kurang memadai sehingga dibutuhkan pelajaran tambahan melalui les privat.

Sebagaimana lazimnya dalam masyarakat Korea Selatan, pendidikan yang bermutu merupakan ambisi tertinggi, maka orangtua rela membayar berapa pun biaya demi keberhasilan anakanaknya dalam pendidikan. Bahkan sering kali mereka mengorbankan waktu dan uang yang banyak demi memenangi persaingan ketat itu.

Sebagian besar keluarga terpaksa mengeluarkan 1/3 pendapatannya untuk membiayai les privat anak-anaknya. Akibatnya, banyak keluarga yang frustrasi jika anaknya gagal dalam pendidikan, meski sang anak pun telah merelakan sebagian besar waktunya untuk belajar. Upaya pemerintah mengatasi masalah itu dengan membuka saluran pendidikan di jaringan televisi pendidikan milik pemerintah, Educational Broadcasting System (EBS), agaknya belum dapat sepenuhnya membendung hasrat anak untuk mengikuti les privat. EBS menayangkan siaran pendidikan dengan berbagai materi pelajaran., Pemerintah memahami
9

bahwa masih panjang jalan yang harus ditempuh untuk menyempurnakan sistem pendidikan publik. Sementara tantangan semakin nyata di depan, menghadapi persaingan terutama di kawasan Timur Jauh. Jepang bermimpi akan lebih baik dari hari ini, China juga demikian. Maka Korea pun harus berjuang keras. Ada prinsip yang ditanamkan sejak kecil kepada orang-orang Korea Selatan agar selalu berada selangkah di depan.

"Ketika orang lain sedang tidur, kamu harus bangun. Ketika orang lain bangun, kamu harus berjalan. Ketika orang lain berjalan, kamu harus berlari. Dan ketika orang lain berlari, kamu harus terbang." Baru-baru ini Presiden Korea Selatan, Lee Myung-bak, mengumumkan untuk segera mereformasi sistem pendidikan di Korea Selatan. Reformasi ini sebagai cara untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Korea Selatan. Sebagai langkah awal usaha tersebut, presiden Korea Selatan ini mengundang para ahli dan pejabat di lingkungan pendidikan ternama Korsel berdiskusi. Tujuan reformasi ini adalah mencari jalan keluar yang dapat menjembatani kebutuhan siswa, orang tua, dan dunia kerja. Siswa Korsel diharapkan tidak hanya bisa diserap dalam dunia bisnis, namun juga institusi penelitian maupun organisasi. Menurut Lee, kesusksesan reformasi pendidikan yang tengah dirintis pemerintahannya akan meningkatkan taraf hidup masyarakat dan dirasakan hingga kelas-kelas di sekolah. Agar usaha ini berjalan lebih cepat, perlu adanya pertemuan lanjutan yang diadakan setiap bulan antara pemerintah dan pihak berwenang dari sekolah. Menurut data dari pemerintah Korsel, para orang tua menghabiskan dana hampir USD 19 juta per tahun hanya pada sektor pendidikan swasta, seperti bimbingan belajar. Segala kebutuhan siswa untuk masuk universitas terbaik akan segera diusahakan tanpa siswa harus mengikuti sekolah tambahan. Biaya yang tinggi ini juga menyebabkan para orang tua di Korsel menabung dan menyekolahkan anak mereka ke luar negeri untuk pendidikan yang lebih baik. Reputasi sistem pendidikan publik makin bertambah parah, dengan ditemukannya kasus penyuapan yang dilakukan sekolah pemerintah (publik). Skandal ini telah melukai masyarakat dan merusak kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan sekolah publik. Strategi yang ditawarkan pemerintah Korsel adalah mendorong sekolah dengan program pendidikan yang efektif dan memberikan penghargaan bagi sekolah yang berhasil menyelenggarakan pendidikan terbaik.

10

Selain itu, sistem yang baru juga akan memberikan keleluasaan bagi orang tua memilih sekolah yang terbaik bagi anaknya. Selama ini orang tua hanya boleh menyekolahkan anak mereka di sekolah negeri di sekitar tempat tinggal mereka. Menurut pemerintah Korsel, strategi ini akan mendorong sekolah publik untuk berprestasi lebih baik agar tidak kehilangan siswanya. 3.1 Perencanaan Kesehatan Korea Selatan berharap untuk dapat menjadi salah satu dari tujuh negara besar di dunia dalam industri perawatan kesehatan pada tahun 2015. Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan mengumumkan laporan kebijakan tahunan mereka kepada Presiden bahwa Industri perawatan kesehatan negeri ini akan dibenahi secara intensif dengan moto, Medical Korea. Dalam proses tersebut, sebanyak 360.000 lapangan kerja akan terbuka di sektor kesehatan dan kesejahteraan dalam dua tahun ke depan. Industri perawatan kesehatan mengacu pada industri yang menyediakan produk dan pelayanan, yang berkaitan dengan kesehatan dan kehidupan masyarakat. Industri ini sebenarnya meliputi industri di bidang farmasi, peralatan medis dan industri di bidang jasa pelayanan medis. Karena industri perawatan kesehatan pada dasarnya menempatkan prioritas utamanya pada kesehatan, tidaklah mudah bagi yang bergerak lambat untuk membuat terobosan ke pasar. Akan tetapi, hal ini haruslah menjadi sebuah mesin pertumbuhan baru yang dapat menciptakan nilai tambah dan kesempatan lapangan kerja. Strategi ekspor juga akan diperkuat. Kurang dari 50 klinik dan rumah sakit kecil Korea sekarang ini sudah beroperasi di luar negeri, tetapi pemerintah akan mengekspor 100 perangkat rumah sakit ke luar negeri pada tahun 2015, dengan mengirimkan kebutuhan rumah sakit, teknologi perawatan kesehatan, tenaga dan peralatan medis. Strateginya akan dibuat secara rangkap yaitu paket program akan ditawarkan kepada negara-negara kaya dan negara-negara berkembang melalui konsorsium swasta. Untuk negara-negara terbelakang, upaya akan dilakukan untuk meletakkan dasar bagi ekspor sebagai bagian dari program-progam Korea Selatan seperti Bantuan Pembangunan Resmi ODA dan Bantuan Dana Kerjasama Pembangunan Ekonomi EDCF.

11

Kiat-kiat pemerintah ini merupakan langkah-langkah untuk mempertajam daya saing industri perawatan kesehatan lokal. Industri farmasi inovatif akan dibina dengan dukungan untuk seluruh proses pengembangan obat baru dan obat anti-kanker. Dukungan aktif akan juga diperluas untuk industri peralatan medis dan pendukung kesejahteraan. Riset dan pengembangan juga akan dilakukan pada produk-produk kosmetik yang menjanjikan dan produk-produk kosmetik menggunakan bahan baru. Pendataan mengenai informasi kulit dari negara-negara tertentu akan dibuat dan investasi di dalam proyek genom manusia dan perawatan sel asal akan terus dilakukan. Pemerintah akan lebih berupaya untuk membina para ilmuwan medis muda berusia 20-an dan 30-an dibawah Proyek Hadiah Nobel. Syarat-syarat akan dibuat untuk para ilmuwan medis dan psikolog dengan kreativitas yang cemerlang dan berpotensi untuk mengembangkan penelitian. Dengan berdirinya Kompleks Administrasi Teknologi Kesehatan di Osong, Propinsi Chungcheong Utara, negara ini telah membuat langkah besar untuk menjadi salah satu dari tujuh negara besar di dunia dalam bidang perawatan kesehatan.

12

BAB III KESIMPULAN


Korea Selatan memiliki ekonomi pasar dan menempat urutan kelima belas berdasarkan PDB. Sebagai salah satu dari empat Macan Asia Timur, Korea Selatan telah mencapai rekor ekspor impor yang memukau, nilai ekspornya merupakan terbesar kedelapan di dunia. Sementara, nilai impornya terbesar kesebelas. Sejak awal, strategi besar Korea adalah export oriented. Mereka harus mempersiapkan diri dan berjuang untuk merebut pasar dunia! Ini akibat dari keadaan yang sama seperti Jepang, sumberdaya alam yang sangat terbatas dan pasar dalam negeri yang kecil. Export Oriented! Berjuang keras sejak dini untuk merebut pasar dunia Pendidikan di Korea Selatan dilaksanakan dalam beberapa jenjang, yaitu jenjang pendidikan primer (primary education), pendidikan sekunder (secondary education), dan pendidikan tinggi (high education). Strategi yang ditawarkan pemerintah Korsel adalah mendorong sekolah dengan program pendidikan yang efektif dan memberikan penghargaan bagi sekolah yang berhasil menyelenggarakan pendidikan terbaik. Tidak berlebihan jika sekarang Korea Selatan dipuji sebagai salah satu negara yang angka melek hurufnya tertinggi di dunia. Dan ini menjadi fakta bahwa orang Korea Selatan yang berpendidikan menjadi modal utama percepatan pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai negara itu selama tiga dekade silam. Korea Selatan berharap untuk dapat menjadi salah satu dari tujuh negara besar di dunia dalam industri perawatan kesehatan pada tahun 2015. Pemerintah akan lebih berupaya untuk membina para ilmuwan medis muda berusia 20-an dan 30-an dibawah Proyek Hadiah Nobel. Syarat-syarat akan dibuat untuk para ilmuwan medis dan psikolog dengan kreativitas yang cemerlang dan berpotensi untuk mengembangkan penelitian. Diharapkan bahwa negara ini akan dengan sukses lepas landas sebagai pemimpin industri di bidang perawatan kesehatan di dunia. Dari penjelasan tentang kisah sukses Korea Selatan di segala bidang tersebut, diharapkan bagi kita bangsa Indonesia juga dapat sepertinya.
13

DAFTAR PUSTAKA
Under Secretary for Arms Control and International Security Wakil Menlu untuk Pengawasan Senjata dan Keamanan Internasional. From http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.state.gov/r/pa/ei/bgn/ 2800.htm, 22.03.2011 Kebangkitan kembali ekonomi dan peran para konglomerat (2005). From http://world.kbs.co.kr/indonesian/news/news_issue_detail.htm?No=20781, 21.03.2011 Kemajuan Ekonomi Korea Selatan (2008). From http://imperiumindonesia.blogspot.com/2008/04/kemajuan-ekonomi-korea-selatan.html, 22.03.2011 Korea. From http://id.wikipedia.org/wiki/Korea, 21.03.2011 Keajaiban di Sungai Han. From http://id.wikipedia.org/wiki/Keajaiban_di_Sungai_Han, 22.03.2011

14

15