Anda di halaman 1dari 18

Skenario 1 Pilek berulang

Oleh kelompok 6
Anggota: 1. Ahmad Arbi A. 2. Aris Yanuar J. 3. Amelia Sagita P. 4. Deby Ayuza (1018011036) (1018011042) (1018011108) (1018011049)

5. Farah Bilqistiputri (1018011060) 6. Gindi Cinintia A. 7. Inez Saraswati (1018011062) (1018011066)

8. Linni Tawbariyah (1018011014) 9. Kurnia Putra W. (1018011070)

10. Milani Nur Fadila (1018011078) 11. Patrick Ramos P. (1018011088)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG (SEPTEMBER 2011)

Skenario 1 Pilek berulang Ny. E,26 tahun dating ke poli THT dengan keluhan rinorrhoe sejak 3 bulan yang lalu. Secret berwarna putih,, bening, kental, berbau amis dan pernahterdapat rembesan darah. Ia juga mengeluh sering merasa pusing sejak 3 bulan yang lalu, pusing dirasakan seperti ditusuktusuk dan kepala terasa berat. Ia juga sering batuk pilek dan berulang dan sering kambuh sejak 1 tahun yang lalu. Sering terasa ada cairan yang turun dari belakang hidung ke tenggorokansejak 3 bulan trakhir ini. Selain itu ia juga sering mengeluhkan bersin-bersin di pagi hari.

Step 1 Rinorrhoe = cairan LCS yang keluar melalui hidung

Step 2 1. Bagaimana anatomi hidung? 2. Penyakit apa yang diderita nyonya E? 3. Apa penyebab nyonya E mengalami penyakit tersebut? 4. Bagaimana patofisiologi penyakit tersebut? 5. Bagaimana penatalaksanaannya?

Step 3

1. Bagaimana anatomi hidung? Hidung tau nasal memiliki bagian bagian luar dan dalam Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian bagiannya dari atas ke bawah, yaitu : 1) Pangkal hindung ( Bridge ) 2) Batang hidung ( dorsum nasi ) 3) Puncak hidung ( tip ) 4) Ala nasi 5) Kolumela 6) Lubang hidung ( Nares anterior ) Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari belakang hingga ke depan dipisahkan oleh septum nasi, dibagian dalamnya terdapat cavum nasi. Pintu lubang masuk cavum nasi disebut naes anterior dan lubang belakang disebut nares posterior ( koanae ) Tiap cavumnasi memiliki empat buah dinding, dinding medial, lateral, inferior, dan superior. Dinding medial hidug disebut septum nasi. Septum nasi dibentuk oleh tulang rawan. Pada dinding lateral tedapat empat buah konka, yakni 1) Konka superior 2) Konka media 3) Kenka inferior ( yang tersbesar ) 4) Konka superema dan iasanya bersifat rudimenter Diantara konka konka tersebut terdapat rongga rongga yang sempitdsebut meatus, ada tiga meatus, yakni : 1) Meatus superior 2) Meatus media 3) Meatus inferior Pada meatus inferior terdapat muara ( ostium ) duktus nasolakrimalis

Pada meatus media terdapat muara dari sinus frontalis, maksilaris, dan sinus ethmoidalis anterior Pada meatus superior terdapat muara sinus ethmoidales posterior dan sinus spnoidhales Perdarahan Hidung Bagian atas rongga hidung mendapat perdarahan dari A. ethmodales anteriordan posterior yang merupakan cabang dari A. oftalmika dari A. Carotis interna Bagian bawah rongga mendapat perdarahan dari cabang A. Maksilaris interna Bagian depan hidung mendapat perdarahan dari cabang cabang A. facialis

2. Penyakit apa yang diderita nyonya E? Nyonya E menderita rhinitis selama 1 tahun, kemudian terjadi komplikasi menjadi sinusitis menderita selama 3 bulan

3. Apa penyebab penyakit tersebut? 1.Rinitis

A.Rhinitis akut: Radang akut pada mukosa hidung disebabkan oleh virus/bakteri

B.Rhinitis Kronis :

Rinitis hipertrofi: Akibat infeksi hidung berulang

Rinitis sika: lingkungan berdebu,panas,kering,anemia,gizi buruk

Rinitis spesifik

a.Rinitis difteri Etiologi : Corynebacterium dipteriae b.Rinitis atrofi (Ozaena) Etiologi : tidak diketahui tepat c.Rinitis sifilis d.Rinitis tuberkulosa e.Rinitis mikose tanda rhinitis dapat disertai perforasi septum

C.Rinitis kronis bukan karena infeksi : Rinitis kronika Alergi Rinitis kronika Vasomotor Rinitis kronika Medika Mentosa

2.Sinusitis : Penyebab sinusitis : Rhinogenik (penyebab kelainan atau masalah di hidung), Segala sesuatu yang menyebabkan sumbatan pada hidung dapat menyebabkan sinusitis. Dentogenik/Odontogenik (penyebabnya kelainan gigi), yang sering menyebabkan sinusitis infeksi pada gigi geraham atas (pre molar dan molar).

4. Bagaimana patofisiologi penyakit tersebut? 1.Rinitis

A.Rhinitis akut: Radang akut pada mukosa hidung disebabkan oleh virus/bakteri. Virus atau bakteri akan menyebabkan gejala-gejala rhinitis

B.Rhinitis Kronis :

Rinitis hipertrofi: Akibat infeksi hidung berulang

Rinitis sika: lingkungan berdebu,panas,kering,anemia,gizi buruk

C.Rinitis kronis bukan karena infeksi : Rinitis kronika Alergi Gejala rhinitis timbul setelah paparan alergen berulang yang menyebabkan inflamasi mukosa hidung dan diperantarai oleh IgE. Paparan alergen lepasnya mediator-mediator kimia efek dilatasi pembuluh darah, peningkatan permeabilitas kapiler, iritasi ujung-ujung saraf sensoris, dan aktivasi sel-sel kelenjar gejala klinis. Mediator yang utama dan terpenting adalah histamin yang memberikan sehingga secret diproduksi lebih banyak. Karena terjadi peningkatan sekresi kelenjar, maka timbul sekresi yang encer. Rinitis kronika Vasomotor:

Diperkirakan ada ketidakseimbangan sistem saraf otonom, yaitu antara aktivitas kolinergik dan adrenergik dengan berbagai faktor yang mempengaruhi masing-masing. Rangsangan saraf parasimpatis akan menyebabkan terlepasnya asetil kolin, sehingga terjadi dilatasi pembuluh darah dalam konka serta meningkatkan permeabilitas kapiler dan sekresi kelenjar, sedangkan rangsangan saraf simpatis mengakibatkan sebaliknya. Rinitis kronika Medika Mentosa Mukosa hidung adalah organ yang peka rangsang. Pemakaian obat topikal yang berlebihan akan menyebabkan terjadinya fase dilatasi berulang (rebound dilatation) dan menyebabkan obstruksi. Dengan adanya gejala ini, pasien cenderung akan menggunakan vasokonstriktor lebih banyak lagi, dan hal serupa akan timbul kembali dan semakin menjadi. Sehingga lama kelamaan akan terjadi penambahan mukosa jaringan dan rangsangan sel-sel mukoid sehingga sumbatan akan menetap dengan produksi sekret yang berlebihan.

2.Sinusitis : Penyebab sinusitis : Rhinogenik (penyebab kelainan atau masalah di hidung), adanya sumbatan di hidung membuat terganggunya drainase pada sinus yang akan membuat mucus bertumpuk dan menjadi sarana perkembangan bakteri Dentogenik/Odontogenik (penyebabnya kelainan gigi), yang menyebabkan sinusitis maksilaris. Jika terjadi infeksi pada gigi atas maka infeksi dapat menyebar ke sinus maksilaris

5. Bagaimana penatalaksanaannya? 1.Rinitis

A.Rhinitis akut: Istirahat, obat-obat simptomatik:antibiotika bila infeksi sekunder bakteri B.Rhinitis Kronis :

Rinitis hipertrofi: Kauterisasi konka (elektris),Luksasi konka/konkotomi

Rinitis sika: Cuci hidung garam faal

C.Rinitis kronis bukan karena infeksi : Rinitis kronika Alergi

Menghindari alergen penyebab Meningkatkan kondisi tubuh : olah raga, gizi yg cukup, istirahat cukup, hindari stress. Simtomatik : Rinitis kronika Vasomotor hindari faktor predisposisi meningkatkan kondisi tubuh : olahraga pagi, gizi cukup, istirahat cukup. simptomatik Rinitis kronika Medika Mentosa Hentikan pemakaian obat tetes /semprot hidung. Untuk mengatasi sumbatan hidung berulang (rebound congestion) berikan kortikosteroid secara tappering off dengan penurunan dosis sebanyak 5mg/hari dekongestan oral :pseudoefedrine. operatif bila tidak ada perbaikan selama 3 minggu : cauterisasi konka inferior, conchotomi concha inferior

2.Sinusitis : Medikamentosa Operatif : irigasi sinus

Step 4 1. Bagaimana anatomi hidung? Hidung tau nasal memiliki bagian bagian luar dan dalam Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian bagiannya dari atas ke bawah, yaitu : 7) Pangkal hindung ( Bridge ) 8) Batang hidung ( dorsum nasi ) 9) Puncak hidung ( tip ) 10) Ala nasi 11) Kolumela 12) Lubang hidung ( Nares anterior )

Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa tulang rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikatdan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan dan menyempitkan lubang hidung. Kerangka hidung terdiri dari : 1) Tulang hidung ( os nasal ) 2) Procesus frontalis os maksilaris 3) Procesus nasalis os frontalis Kerangka Tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak dibagian bawah hidung, yaitu : 1) Sepasang cartilago nasalis lateralis superior 2) Sepasang cartilago nasalis lateralis inferior ( cartilago ala mayor) 3) Sepasang cartilago septum nasi

Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari belakang hingga ke depan dipisahkan oleh septum nasi, dibagian dalamnya terdapat cavum nasi. Pintu lubang masuk cavum nasi disebut naes anterior dan lubang belakang disebut nares posterior ( koanae ) yang berfungsi untuk menghubungkan cavum nasi dengan nasofaring

Bagian dari cavum nasi yang letaknya sesuai dengan ala nasi dan tepat di belakang nares anterior disebut vestibulum. Vestibulum ini dilapisi oleh kulit yang memiliki banyak kelenjar sebacea dan rambut rambut panjang yang disebut vibrise

Tiap cavumnasi memiliki empat buah dinding, dinding medial, lateral, inferior, dan superior. Dinding medial hidug disebut septum nasi. Septum nasi dibentuk oleh tulang rawan. Bagian tulang adalah : 1) Lamina perpendikularis os ethmoidales 2) Vomer 3) Krista nasalis os maksilaris 4) Krista nasalis os palatina

Bagian tulang rawan adalah : 1) Cartilago septum nasi 2) Kolumela

Pada dinding lateral tedapat empat buah konka, yakni 5) Konka superior 6) Konka media 7) Kenka inferior ( yang tersbesar ) 8) Konka superema dan iasanya bersifat rudimenter Diantara konka konka tersebut terdapat rongga rongga yang sempitdsebut meatus, ada tiga meatus, yakni : 4) Meatus superior 5) Meatus media 6) Meatus inferior Pada meatus inferior terdapat muara ( ostium ) duktus nasolakrimalis

Pada meatus media terdapat muara dari sinus frontalis, maksilaris, dan sinus ethmoidalis anterior Pada meatus superior terdapat muara sinus ethmoidales posterior dan sinus spnoidhales

Batas rongga hidung : 1) Dinding inferior 2) Dinsing superior : os maksila dan os palatum : dipisahkan oleh lamina kribiformis yang merupakan lempeng

tulang berasal dari os ethmoidales, tulang ini berlubang lubang ( kribrosa = saringan ), sebagai tempat masuknya serabut serabut saraf olfaktorius 3) Dinding posterior : os spenoidhales

Kompleks Osteomeatal ( KOM ) Kompleks osteomeatal ( KOM ) merupakan celah pada dinding lateral hidung yang dibatasi oleh konka media dan lamina papirasea. Struktur anatomi paling penting yang membentuk KOM adalah procesuss unsinatus,infundibulum ethmodales, hiatus semilunaris, bula ethmoidales, angger nasi dan resessus frontal. KOM merupakan unit fungsional yang merupakan tempat ventilasi dan drainase dari sius sinus yang letaknya anterior yaitu sinus masksilaris, ethmoidales anterior dan frontalis. Jika terjadi obstruksi pada celah yang sempit ini, maka akan terjadi perubahan patologis yang signifikan pada sinus sinus yang terkait.

Ujung ujung saraf olfaktorius menempati daerah kecil pada bagian medial dan lateral dinding hidung dalam dan ke atas hingga kubah hidung. Deformitas struktur demikian pula penebalan atau edema mukosa berlebihan dapat mencegah aliran udara untuk mencapai daerah olfaktorius,dan dengan demikian dapat sangat mengganggu penghiduan.

Perdarahan Hidung

Bagian atas rongga hidung mendapat perdarahan dari A. ethmodales anteriordan posterior yang merupakan cabang dari A. oftalmika dari A. Carotis interna Bagian bawah rongga mendapat perdarahan dari cabang A. Maksilaris interna di antaranya adalah ialah ujung A. palatina mayor dan A. sfenoipalatina yang keluar dari foramen sfenopalatina bersama N.sfenopalatina dan memasuki rongga hidung dibelakang ujung posterior konka media. Bagian depan hidung mendapat perdarahan dari cabang cabang A. facialis. Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang cabang sfenopalatina, A. ethmoidales anterior, A. libialis superior, dan A. Palatina mayor yang disebut pleksus Kieselbach letaknya superficial dan mudah cedera oleh trauma, sehingga sering mnjadi sumber epistaksis ( perdarahan hidung), terutama pada anak anak. Vena vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan arterinya. Vena di vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke V. oftalmika yang berhubungan dengan sinus cavernosus. Vena vena di hidung tidak memiliki katup, sehingga merupakan faktor predisposisi untuk mudahnya penyebaran infeksi sampai ke intrakranial. Persarafan Hidung Bagian depan dan atas rongga hidung menadapat persarafan sensoris dan n. ethmoidalis anterior, yang merupakan cabang dari n. oftalmikus ( NV-1) Rongga hidung lainnya, sebagian besar mendapat persarafan sensoris dan n. maksila melalui ganglio spenothalamikus. Ganglion sfenopalatina, selin memberikan persarafan sensoris juga memberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung. Ganglion ini menerima serabut saraf sensoris dan n. maksila ( N. V 2 ), serbut parasimpatis dan n. petrosus profundus. Ganglion sfenopalatina terletak di belakang dan sedikit diatas ujung posterior konka media. Fungsi penghidu berasal dari n. olfaktorius. Saraf ini turun melalui lamina kribrsa dari permukaan bawah bulbus olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel sel reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung.

2. Penyakit apa yang diderita nyonya E? Nyonya E menderita rhinitis selama 1 tahun, kemudian terjadi komplikasi menjadi sinusitis menderita selama 3 bulan

3. Apa penyebab nyonya E mengalami penyakit tersebut? 1.Rinitis

A.Rhinitis akut: Radang akut pada mukosa hidung disebabkan oleh virus/bakteri

B.Rhinitis Kronis :

Rinitis hipertrofi: Akibat infeksi hidung berulang

Rinitis sika: lingkungan berdebu,panas,kering,anemia,gizi buruk

Rinitis spesifik

a.Rinitis difteri Etiologi : Corynebacterium dipteriae b.Rinitis atrofi (Ozaena) Etiologi : tidak diketahui tepat c.Rinitis sifilis d.Rinitis tuberkulosa e.Rinitis mikose tanda rhinitis dapat disertai perforasi septum

C.Rinitis kronis bukan karena infeksi : Rinitis kronika Alergi Etiologi dari rhinitis alergika adalah karena alergen yaitu suatu mukoprotein dan bukan faktor fisik. Jadi tidak ada alergi karena faktor fisik (alergi dingin, air es, dll), faktor fisik hanya memperberat saja. Macam macam alergen : Inhalan : debu rumah, debu kapuk, jamur, bulu hewan, dsb. Ingestan : buah, susu, telur, ikan laut, kacang-kacangan, dsb. Rinitis kronika Vasomotor etiologi pasti belum diketahui obat-obatan yang menekan kerja saraf simpatis (ergotamin,cpz,anti hipertensi, vasokonstriktor lokal) faktor fisik (asap rokok, udara dingin, kelembaban udara, bau merangsang) faktor endokrin (hamil, pubertas, oral pil KB, hipothyroidism, menstruasi,dll) faktor psikis (cemas, tegang) Rinitis kronika Medika Mentosa Drug abuse (pemakaian obat topikal hidung yg lama dan berlebihan)

2.Sinusitis Penyebab sinusitis : Rhinogenik (penyebab kelainan atau masalah di hidung), Segala sesuatu yang menyebabkan sumbatan pada hidung dapat menyebabkan sinusitis. Dentogenik/Odontogenik (penyebabnya kelainan gigi), yang sering menyebabkan sinusitis infeksi pada gigi geraham atas (pre molar dan molar).

4. Bagaimana patofisiologi penyakit tersebut? 1.Rinitis

A.Rhinitis akut: Radang akut pada mukosa hidung disebabkan oleh virus/bakteri. Virus atau bakteri akan menyebabkan gejala-gejala rhinitis

B.Rhinitis Kronis :

Rinitis hipertrofi: Akibat infeksi hidung berulang

Rinitis sika: lingkungan berdebu,panas,kering,anemia,gizi buruk

C.Rinitis kronis bukan karena infeksi : Rinitis kronika Alergi Gejala rhinitis timbul setelah paparan alergen berulang yang menyebabkan inflamasi mukosa hidung dan diperantarai oleh IgE. Paparan alergen lepasnya mediator-mediator kimia efek dilatasi pembuluh darah, peningkatan permeabilitas kapiler, iritasi ujung-ujung saraf sensoris, dan aktivasi sel-sel kelenjar gejala klinis. Mediator yang utama dan terpenting adalah histamin yang memberikan sehingga secret diproduksi lebih banyak. Karena terjadi peningkatan sekresi kelenjar, maka timbul sekresi yang encer. Rinitis kronika Vasomotor: Diperkirakan ada ketidakseimbangan sistem saraf otonom, yaitu antara aktivitas kolinergik dan adrenergik dengan berbagai faktor yang mempengaruhi masing-masing. Rangsangan saraf parasimpatis akan menyebabkan terlepasnya asetil kolin, sehingga terjadi dilatasi pembuluh darah dalam konka serta meningkatkan permeabilitas kapiler dan sekresi kelenjar, sedangkan rangsangan saraf simpatis mengakibatkan sebaliknya. Rinitis kronika Medika Mentosa Mukosa hidung adalah organ yang peka rangsang. Pemakaian obat topikal yang berlebihan akan menyebabkan terjadinya fase dilatasi berulang (rebound dilatation) dan menyebabkan obstruksi. Dengan adanya gejala ini, pasien

cenderung akan menggunakan vasokonstriktor lebih banyak lagi, dan hal serupa akan timbul kembali dan semakin menjadi. Sehingga lama kelamaan akan terjadi penambahan mukosa jaringan dan rangsangan sel-sel mukoid sehingga sumbatan akan menetap dengan produksi sekret yang berlebihan. 2.Sinusitis Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan kelancaran klirens dari mukosiliar didalam komplek osteo meatal (KOM). Disamping itu mukus juga mengandung substansi antimikrobial dan zat-zat yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap kuman yang masuk bersama udara pernafasan. Bila terinfeksi organ yang membentuk KOM mengalami oedem, sehingga mukosa yang berhadapan akan saling bertemu. Hal ini menyebabkan silia tidak dapat bergerak dan juga menyebabkan tersumbatnya ostium. Hal ini menimbulkan tekanan negatif didalam rongga sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi atau penghambatan drainase sinus. Efek awal yang ditimbulkan adalah keluarnya cairan serous yang dianggap sebagai sinusitis non bakterial yang dapat sembuh tanpa pengobatan. Bila tidak sembuh maka sekret yang tertumpuk dalam sinus ini akan menjadi media yang poten untuk tumbuh dan multiplikasi bakteri, dan sekret akan berubah menjadi purulen yang disebut sinusitis akut bakterialis

5. Bagaimana penatalaksanaannya? 1.Rinitis

A.Rhinitis akut: Istirahat, obat-obat simptomatik:antibiotika bila infeksi sekunder bakteri B.Rhinitis Kronis :

Rinitis hipertrofi: Kauterisasi konka (elektris),Luksasi konka/konkotomi

Rinitis sika: Cuci hidung garam faal

C.Rinitis kronis bukan karena infeksi : Rinitis kronika Alergi Menghindari alergen penyebab Meningkatkan kondisi tubuh : olah raga, gizi yg cukup, istirahat cukup, hindari stress.

Simtomatik : Rinitis kronika Vasomotor hindari faktor predisposisi meningkatkan kondisi tubuh : olahraga pagi, gizi cukup, istirahat cukup. simptomatik Rinitis kronika Medika Mentosa Hentikan pemakaian obat tetes /semprot hidung. Untuk mengatasi sumbatan hidung berulang (rebound congestion) berikan kortikosteroid secara tappering off dengan penurunan dosis sebanyak 5mg/hari dekongestan oral :pseudoefedrine. operatif bila tidak ada perbaikan selama 3 minggu : cauterisasi konka inferior, conchotomi concha inferior

2.Sinusitis :

Akut : Medikamentosa dekongestan antibiotik analgetik Operatif : irigasi sinus

Kronis: Medikamentosa sama dengan sinusitis akut pengobatan terhadap obstruksi ostium (mis. koreksi terhadap deviasi septum nasi) pengobatan terhadap penyebab dentogen (jika ada) Operatif 1. Sinusitis maxilaris Irigasi sinus maksilaris 5-6 kali. Jika tidak ada perbaikan : FESS (Functional Endoscopy Sinus Surgery) Caldwell luc 2. Sinusitis ethmoidalis Ethmoidektomi : intranasal eksternal transantral/transmaksilaris FESS 3. Sinusitis frontalis Operasi : jansen ritters method killians method riedels method

osteoplastic method 4. Sinusitis sfenoidalis Operasi : transethmoidal access transseptal access

Beri Nilai