Anda di halaman 1dari 7

A.

PENDAHULUAN Akhir-akhir ini ramai diberitakan di media masa, baik media elektronik maupun media cetak mengenai tindak pidana yang berkaitan dengan teknologi handphone yaitu kasus penipuan melalui pesan singkat atau short message services (SMS).

Penipuan melalui SMS ini biasanya menggunakan modus Mama minta Pulsa atau Minta transfer yang seakan-akan dikirimkan oleh salah satu anggota keluarga yang sedang mengalami kesulitan. Modus operandi kasus 'minta transfer' yaitu dimulai ketika pelanggan menerima SMS yang berisi permintaan untuk mentransfer sejumlah uang ke sebuah rekening. Salah satu contoh modus penipuan melalui SMS adalah sebagai berikut: "Tolong uangnya Di transfer sekarang aja ke bank BNI:022-741-3***. A/n BUDI SANTOSO dan sms reply saja kalau sudah diTransfer, trimkasih". Sebagian besar penerima SMS 'minta transfer' ini akan langsung menghapusnya karena tahu SMS itu palsu. Namun, ada saja yang tertipu dengan langsung mentransfer uang ke rekening yang disebutkan. Mereka ini beranggapan, yang mengirimkan SMS memang orang yang dikenalnya atau kebetulan mereka memang akan menunggu SMS informasi rekening dari keluarga atau temannya.
Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata diketahui bahwa beberapa kasus penipuan melalui pesan singkat dan telepon yang mulai meresahkan masyarakat ini rupanya dikendalikan oleh sindikat penipu yang adalah narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Tanjung Gusta, Sumatera Utara (LAPAS GUSTA). Sebagaimana diberitakan, Cyber Crime Direktorat Reserse Polda Metro Jaya menemukan 1.800 narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (LP) kelas I Tanjung Gusta, Sumatera Utara, menjadi otak kasus penipuan pesan singkat dan telepon di berbagai daerah. Sebanyak enam orang di

0-v1\\

antaranya menjadi tersangka dalam kasus yang ditangani Polda Metro Jaya, sementara ada pula yang menjadi buruan FBI. Para napi ini sudah selama lima tahun belakangan menipu banyak orang dari balik sel menggunakan telepon seluler yang diselundupkan. (Kompas Online:

http://megapolitan.kompas.com/read/2011/10/04/13083962/Dari.Balik.Sel.6.Napi.Lakuka n.Penipuan.SMS) B. LATAR BELAKANG MASALAH Dengan melihat kasus penipuan melalui SMS tersebut, timbul pertanyaan mendasar pada sebagian besar masyarakat yaitu bagaimana mungkin seorang bahkan sekelompok besar narapidana yang sedang menjalani hukuman penjara di dalam Lapas Gusta dapat melakukan tindakan pidana lainnya dalam kurun waktu yang cukup lama (5 tahun), tanpa diketahui oleh para pihak-pihak yang berwajib dalam LAPAS tersebut. Bukankah seharusnya Lapas itu menjadi tempat pembinaan dan penyadaran bagi para pelaku tindak pidana sehingga nantinya tidak akan kembali melakukan tindak pidana lainnya dan kembali diterima di masyarakat begitu keluar dari Lapas. Tapi kenyataannya, tidak sedikit para Napi yang masuk Lapas mendapatkan ilmu kejahatan yang baru, seperti menjadi Bandar Narkoba hingga menjadi Penipu melalui teknologi SMS. Dengan memperhatikan kondisi dan realita pada Lapas Gusta, Penulis bermaksud dalam makalah ini untuk menganalisa faktor-faktor apa saja yang menyebabkan timbulnya tindakan pidana baru (Penipuan melalui SMS) yang dilakukan oleh para napi dari dalam Lapas. Dan juga penulis akan mengkaji faktor apa yang paling dominant dalam upaya penegakan hukum khususnya di bidang Pemasyarakatan sehingga tujuan pembinaan dari Lapas ini bisa diperbaiki dan berhasil mencapai tujuan dari pembinaan Lapas itu sendiri.

0-v1\\

C. 1.

PEMBAHASAN Definisi Lapas Sebelum membahas lebih jauh mengenai tindakan para napi dalam Lapas Gusta, Penulis akan membahas mengenai pengertian dari Lapas itu sendiri. Lembaga Pemasyarakatan (biasa disingkat LP atau LAPAS) adalah tempat untuk melakukan pembinaan terhadap narapidana dan anak didik pemasyarakatan di Indonesia. Sebelum dikenal istilah Lapas di Indonesia, tempat tersebut di sebut dengan istilah penjara. Lembaga Pemasyarakatan merupakan Unit Pelaksana Teknis di bawah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (dahulu Departemen Kehakiman). Penghuni Lembaga Pemasyarakatan bisa narapidana (napi) atau Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) bisa juga yang statusnya masih tahanan, maksudnya orang tersebut masih berada dalam proses peradilan dan belum ditentukan bersalah atau tidak oleh hakim. Pegawai negeri sipil yang menangangi pembinaan narapidana dan tahanan di lembaga pemasyarakatan di sebut dengan Petugas Pemasyarakatan, atau dahulu lebih di kenal dengan istilah sipir penjara

(http://id.wikipedia.org/wiki/Lembaga_Pemasyarakatan). Konsep pemasyarakatan pertama kali digagas oleh Menteri Kehakiman Sahardjo pada tahun 1962, dimana disebutkan bahwa tugas jawatan kepenjaraan bukan hanya melaksanakan hukuman, namun tugas yang jauh lebih berat adalah mengembalikan orang-orang yang dijatuhi pidana ke dalam masyarakat

(http://id.wikipedia.org/wiki/Lembaga_Pemasyarakatan). 2. Tindak Pidana dalam Lapas Perkelahian antar napi, peredaran Narkoba, prostitusi, fasilitas mewah, hingga yang terakhir diberitakan yaitu tindakan pidana penipuan melalui SMS adalah contoh dari pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan oleh para napi selama menjalani

0-v1\\

hukumannya di dalam Lapas. lagi. Sudah menjadi rahasia umum jika Lapas yang sejatinya adalah untuk memberikan pembinaan kepada para pelaku tindak pidana agar jera dan sadar, malah menjadi suatu tempat tindak pidana baru bagi para napinya. Salah satu tujuan pembinaan dari Lapas dimana ingin memberikan efek jera bagi para pelaku pidana tidak akan pernah tercapai jika Pemerintah masih membiarkan pelanggaranpelanggaran dalam Lapas terjadi. Bagaimana mungkin dapat membuat jera para pelaku pidana jika para napi diberikan fasilitas mewah di dalam Lapas/Rutan sehingga membuat kondisi Lapas atau Rutan tersebut menjadi seperti hotel berbintang. Kasus terakhir yang mencuat terkait dengan fasilitas mewah ini adalah temuan para Tim Satgas Hukum yang melakukan Sidak ke salah satu Rutan di Jakarta dan menemukan adanya fasilitas mewah layaknya hotel berbintang pada ruangan tahanan Artalyta Suryani alias Ayin terpidana perkara suap terhadap jaksa Urip Tri Gunawan. Dari berbagai macam pelanggaran yang dijelaskan diatas, penulis akan mengambil contoh Penipuan menggunakan sms yang dilakukan oleh para napi di Lapas Gusta sehingga nantinya penulis dapat menganalisa faktor apa saja yang sebenarnya menyebabkan begitu mudahnya suatu pelanggaran di dalam Lapas dilakukan, khususnya penipuan melalui SMS oleh para Napi di Lapas Gusta. Faktor-faktor tersebut akan penulis jabarkan dibawah ini. 2.1. Lemahnya system Lapas Selama ini sistem penjara dianggap lebih menonjolkan aspek

penjeraan/pembalasan (teori absolute) dari tujuan pemidanaan dibandingkan teori gabungan (yaitu aspek penjeraan dan tujuan). Sejak lahirnya Undang-Undang No.12 tahun 1995 tentang pemasyarakatan dimana telah merubah system penjara menjadi system pemasyarakatan, Lapas bukan saja dihuni oleh pencuri, perampok, penipu, pembunuh, atau pemerkosa, tetapi juga ditempati oleh pemakai, kurir, pengedar dan

0-v1\\

bandar narkoba, serta penjudi dan bandar judi. Selain itu dengan semakin intesifnya penegakan hukum pemberantasan KKN dan white collar crime lainnya, penghuni Lapas pun makin beragam antara lain mantan pejabat negara, direksi bank, intelektual, profesional, bankir, pengusaha, yang mempunyai profesionalisme dan kompetensi yang tinggi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penghuni Lapas pun menjadi sangat bervariatif, baik dari sisi usia, status, profesi hingga panjang masa hukuman. Spektrum penghuni Lembaga Pemasyarakatan yang sangat luas, baik dari kejahatan, latar belakang, profesionalisme, usia, dan lamanya hukuman, menyebabkan pengelolaan Lapas menjadi sangat kompleks dan memerlukan penyesuaian ataupun perubahan (Rahardi Ramelan; 2007). (Ramelan; 2007) Dengan melihat kondisi Lapas diatas, dimana terdapat banyak ragam dari penhuni Lapas, yang berasal dari segala macam status dan tindakan pidana yang dilakukan, Penulis berpendapat bahwa hal tersebut telah menyebabkan hampir di semua Lapas di Indonesia, termasuk Lapas Gusta yang memiliki jumlah Napi yang melebihi jumlah dari kapasitas yang dimungkinkan (Over Capacity). Menurut penulis over capacity pada suatu Lapas tentunya akan menyebabkan lemahnya pengawasan pada tiaptiap Lapas, karena perbandingan jumlah yang tidak seimbang dan rasional antara jumlah napi di suatu Lapas dengan jumlah petugas Lapas yang berugas mengawasi Lapas tersebut. Tidak heran jika akhirnya banyak pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di suatu Lapas karena kurangnya pengawasan terhadap para Napi, termasuk pelanggaran Napi di Lapas Gusta yang berhasil menyelundupkan Handphone masuk ke dalam Lapas untuk melakukan tindakan penipuan melalui Handphone tersebut.

0-v1\\

2.2. Pembinaan Narapidana Selain masalah system lembaga Lapas, penulis juga melihat bahwa program pembinaan dalam Lapas turut membuka peluang-peluang bagi Napi untuk melakukan tindakan pidana yang baru. Adanya suatu tindakan pidana di dalam Lapas, seperti penipuan melalui SMS, dapat menunjukan bahwa para Napi di Lapas Gusta memiliki waktu luang yang banyak sehingga dapat leluasa melakukan tindak pidana penipuan ini. Hal tersebut jelas menunjukan kegagalan pemerintah dalam merancang program pembinaan yang tepat untuk para Napi, sehingga para Napi memiliki waktu yang padat, efesien dan bermanfaat.

Faktor lain yang memicu para napi tetap beraksi meski di balik jeruji penjara, karena banyaknya waktu luang di dalam penjara. Ini juga menunjukkan kegagalan pemerintah melakukan pembinaan kepada para napi. Kalau banyak kegiatan pembinaan, maka waktu para napi tersita untuk kegiatan positif.

2.3. Mental Korupsi yang

2.4. dfsdfds

3. Faktor

D. Kesimpulan Kerusakan sistem pengelolaan di lembaga pemasyarakatan membuat miris masyarakat umum karena seharusnya lembaga pemasyarakatan menjadi ajang pembinaan dan mereka bisa kembali ke masyarakat, justru menjadi problem baru yaitu mereka lulus sebagai sarjana ahli kejahatan baru yaitu masuk sebagai pencuri ayam keluar jadi

0-v1\\

pembobol bank melalui internet. Sudah saatnya melakukan reformasi total sistem Lembaga Pemasyarakatan ini, karena kebijakan sistem ini hanya menimbulkan kejahatan baru (kriminogen) dalam istilah kriminologi sebagai faktor munculnya kejahatan baru.

0-v1\\

Beri Nilai