Anda di halaman 1dari 6

1. Gaya kepemimpinan otokratik.

Gaya kepemimpinan ini dapat ditandai dengan ketergantungan anggota kepada yang berwenang dan biasanya menganggap bahwa orang-orang tidak akan melakukan apa-apa kecuali jika diperintahkan. Gaya ini tidak mendorong adanya pembaruan. Pemimpin menganggap dirinya sangat diperlukan. Keputusan dapat dibuat dengan cepat. Contoh kasus : Dalam metode pengambilan keputusan yang seringkali digunakan oleh para pemimpin otokratik yaitu dalam kepemimpinan militer. Metode ini memiliki beberapa keuntungan, yaitu cepat, dalam arti ketika kelompok tidak mempunyai waktu yang cukup untuk memutuskan apa yang harus dilakukan. Selain itu, metode ini cukup sempurna dapat diterima kalau pengambilan keputusan yang dilaksanakan berkaitan dengan persoalan-persoalan rutin yang tidak mempersyaratkan diskusi untuk mendapatkan persetujuan para anggotanya. Namun demikian, jika metode pengambilan keputusan ini terlalu sering digunakan, ia akan menimbulkan persoalan-persoalan, seperti munculnya ketidak percayaan para anggota kelompok terhadap keputusan yang ditentukan pimpinannya, karena mereka kurang bahkan tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan akan memiliki kualitas yang lebih bermakna, apabila dibuat secara bersama-sama dengan melibatkan seluruh anggota kelompok,daripada keputusan yang diambil secara individual.

Gaya kepemimpinan Demokratik Gaya kepemimpinan demokratik adalah suatu gaya pemimpin yang pada hakikatnya selalu memberikan wewenang secara luas kepada para bawahannya sebagai tim. Setiap saat menjumpai permasalahan organisasi, maka selalu saja akan mengikutsertakan bawahan yang dipandangnya sebagai suatu tim yang utuh. Dalam gaya kepemimpinan demokratis ini, biasanya seorang pemimpin senantiasa mencoba untuk memberikan banyak informasi yang berkait dengan proses pengambilan keputusan, sehingga para bawahan menjadi jelas segala sesuatu tentang tugas serta tanggung jawab masing-masing .

Contoh kasus : Gaya kepemimpinan Sri Mulyani sebgai kementrian keuangan dapat dijadikan contoh dalam menjalankan gaya kepemimpinan demokratik selama masa

kepemimpinannya. Hal ini terlihat pada saat dia menekankan agar pegawainya bersikap terbuka, akuntabel dan melayani publik dan dia juga memberikan peningkatan remunerasi sebagai imbalannya, selain itu beliau melakukan pembaharuan dan reformasi birokrasi didepartemen-departemen yang dipimpinnya, dia memberikan contoh tentang apa yang harus dilakukan, dia mendorong agar anak buahnya menjadi lebih baik dan bertransformasi meninggalkan citra yang buruk, dia menginspirasi orang banyak untuk mempertahankan inegritas dan etika yang baik sebagai pejabat public.

Gaya kepemimpinan Bebas Gaya ini membiarkan segala sesuatunya berjalan dengan sendirinya. Pemimpin hanya melaksanakan fungsi pemeliharaan saja. Pemimpin jenis ini hanya akan terlibat dalam kuantitas yang kecil di mana para bawahannyalah yang akan menentukan tujuan dan penyelesaian masalah yang dihadapi organisasi. Contoh kasus: Misalnya, seorang pendeta mungkin hanya sebuah gelar ketua dari organisasi tersebut dan hanya menangani urusan khotbah, sementara yang lainnya mengerjakan segala pernik mengenai bagaimana organisasi tersebut harus beroperasi. Selain itu gaya ini biasanya dipakai oleh pemimpin yang sering bepergian atau yang hanya bertugas sementara.
2. Perbedaan orientasi kepemimpinan dilihat dari paradigm lama dan paradigm baru. Realitas Baru Bagi Para Pemimpin Paradigma Lama Masa Industri Stabilitas Kontrol Kompetisi Barang Paradigm Baru Masa Informasi Perubahan Pemberdayaan Kolaborasi Orang dan hubungan

secara aktif

Paradigm lama : Kebanyakan pemimpin yang menggunakan paradigma lama adalah pemimpin yang otoriter. Artinya pemimpin selalu berpegang teguh dengan struktur lama yang ada, sehingga tidak ada perubahan pesat. Contohnya suatu perusahaan, pemimpin yang masih memakai teori paradigma lama pasti tidak mempunyai parubahan yang pesat dalam perusahaanya karena dalam paradigm lama orientasinya yaitu keuntungan terus menerus bagi dirinya sendiri, tanpa memikirkan perubahan kesejahteraan antara pemimpin dan karyawannya. Contoh pemimpin yang berorientasi pada paradigma lama yaitu : Menganggap dirinya sebgai Bos Mengacu pada arus komando yang telah ada dari terdahulunya. Tidak ada pengembangan suatu nilai yang baru, sehingga tidak adanya perubahan yang pesat. Berpegang teguh pada struktur organisasi Cenderung membuat keputusan sendiri Menyimpan informasi baru untuk dirinya sendiri, sehingga tidak ada terjadinya perkembangan dari setiap karyawan dan perusahaannya. Karena orientasinya mencari keuntungan bagi dirinya sendiri Mendalami hanya bidang sendiri dan tidak memikirkan perkembangan bidang mana yang harus dikembangkan untuk kemajuan bersama. Sangat memperhatikan jam kerja, tidak mau rugi waktu, sehingga dapat terjadinya kerja lembur pada karyawannya. Semua dikontrol oleh dirinya sendiri tanpa melibatkan orang lain yang sudah ahli di bidangnya.

Paradigma baru : Dizaman yang serba modern dan informasi yang berkembang para pemimpin telah sadar bahwa pendidikan sangat penting untuk peradaban manusia. Dari realitas yang terjadi sekarang pemimpin yang berpendidikan sadar akan pentingnya suatu perubahan. Maka dari itu para pemimpin modern mulai berfikir untuk menciptakan perubahan baru dalam apa yang dipimpinnya. Oleh karena itu mereka memakai paradigma baru dalam menjalankan kepemimpinannya. Contoh pemimpin yang berorientasi pada paradigma baru yaitu : Menganggap dirinya sebagai pelatih atau fasilitator untuk organisasi atau perusahaan yang dipimpinnya

Memilih SDM (karyawannya) yang berkompeten di bidangnya untuk dilibatkan dalam setiap keputusan dan pengerjaannya Melakukan perubahan struktur sesuai dengan kebutuhan organisasi atau perusahaannya Segera menyebarkan informasi baru kepada karyawannya demi kemajuan bersama Berusaha memahami bidang lain sambil mendalami bidang sendiri Sangat memperlihatkan hasil kinerjanya kepada karyawannya maupun pada orang-orang yang berhubungan dengan dirinya.

3. Contoh kasus yang berkaitan dengan Empowerment Realitas kasus yang terjadi dalam lingkungan kampus UNISBA pada masa pengangkatan jabatan Dewan Amanat Mahasiswa periode 2009-2010 atas terpilihnya ketua DAM Fikom Unisba, merupakan seorang mahasiswi yang tidak dilatar belakangi oleh pendidikan maupun pengalaman politik kampus dan juga kepentingannya dalam mengambil alih kekuasaannya sebagai ketua. Sehingga dalam mengahadapi tekanan dari berbagai opini negatif mahasiswa lain yang tidak percaya akan kemampuannya, menjadikan salah satu motivasinya untuk membuktikan kredibilitas dan loyalitas dirinya kepada masyarakat Fikom Unisba. Hal ini dibuktikannya dengan melakukan berbagai pendekatan kepada masyarakat kampus Fikom Unisba, mempelajari cara kepemimpinan untuk menghadapi setiap anggotanya, mempelajari berbagai dalam Peraturan dasar dalam rumah tangga organisasi formal kampus, hingga sampai hal terkecil dalam cara berpidato di depan umum secara formal. Dengan melakukan pemberdayaan atau stuffing kepada anggotanya yang memang benar-benar mempunyai pengalaman di bidangnya. Untuk memfasilitasi para mahasiswa fikom dalam menghadapi permasalahan perkualiahan seperti memberikan informasi yang telah diputuskan oleh fakultas. Berusaha menjadi sumber bantuan bukan sumber perintah bagi anggotanya maupun masyarakat Fikom Unisba itu sendiri. Sampai pada akhirnya siswi yang merupakan ketua dari DAM Fikom Unisba tersebut dapat mempertahankan anggotanya hingga akhir periode pergantian jabatan selanjutnya.

Seorang pegawai yang berada dibawah tekanan keluarga karena termotivasi oleh istrinya yang akan melahirkan anak pertama sehingga membutuhkan biaya persalinan yang cukup tinggi. Maka untuk mencapai hal tersebut si pegawai akan mencoba berbagai cara untuk menambah penghasilannya. Seperti meningkatkan kemampuannya dalam bekerja lembur, meningkatkan kualitas juga kreadibilitas pekerjaannya. Sehingga pegawai tersebut akan bekerja secara sukarela dan dengan senang hati. Orang-orang di sekelilingnya pun tidak ada masalah dengan dirinya.

4. Dalam menyelesaikan konflik seorang pemimpin sedapat mungkin untuk dapat menginvestigasi terlebih dahulu permasalahan yang sedang terjadi dari berbagai sumber informasi. Ini dilakukan untuk dapat memberikan asumsi sementara pada permasalahan kedua belah pihak tersebut. Kemudian mulai mempelajari dengan melihat gejala-gejala timbulnya konflik tersebut, mulai menganalisis konflik yang juga dapat melibatkan para anggota agar mempunyai wawasan yang lebih terbuka dan mendapatkan berbagai saran dari beberapa suara. Setelah itu mulai menyepakati untuk mempertemukan kedua belah pihak yang bersangkutan dalam konflik tersebut. Dalam menanggapi pertemuan kedua belah pihak seorang pemimpin harus mempunyai sikap senetral mungkin, hal ini bertujuan agar kedua belah pihak tidak ada yang merasa dirugikan juga sebaliknya. Selain itu dalam pertemuan mulai menengahi untuk pengambilan jalan keluar secara demokratis atau kesepakatan bersama dengan berbagai pertimbangan kedepan agar mendapatkan hasil yang lebih baik. Setelah adanya kemufakatan antar kedua belah pihak dalam mengatasi konflik tersebut, seorang pemimpin harus dapat memberikan motivasi kedepan bagi para anggotanya untuk tidak mengungkit kembali masalah yang sudah terjadi guna untuk menutupi persekutuan diantara anggota, juga menghindari prasangkan menang-kalah dari kedua belah pihak.

UAS TAKEHOME PERSONALITY & LEADERSHIP

Oleh :

Nurani Fitri Kireina 10080007135 Kelas B

Bidang kajian Public Relations

FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG 2011