Anda di halaman 1dari 13

PEMICU 1 BERPIKIR ILMIAH

KELOMPOK 7

KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karuniaNya sehingga laporan pemicu 1 tentang berpikir ilmiah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Laporan ini merupakan hasil perbincangan kami sepanjang diskusi kelompok pemicu 1 . Jutaan terima kasih kami ucapkan kepada dosen kami,Drs. Agustrino MSP karena telah banyak membantu kami di dalam kuliah dan juga dalam menyelesaikan tugas ini dengan baik. Tidak lupa juga kepada teman-teman yang banyak membantu dalam menyelesaikan tugas ini,terima kasih kami ucapkan. Akhirnya kami berharap agar tugasan ini dapat bermanfaat bagi teman-teman .Kritik dan saran sangat diharapkan untuk perbaikan dan peningkatan kualitas dalam pembelajaran dimasa datang.

iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI

iii iv

BAB 1: LATAR BELAKANG i. ii. Pendahuluan Pengertian filsafat 1 2

BAB 2: PERBAHASAN TOPIK i. ii. iii. Pengertian Berpikir Ilmiah Ciri-ciri utama Berpikir Ilmiah Pertanyaan 3 5 6

BAB 3: PENUTUP i. ii. Kesimpulan Daftar pustaka 9 10

iv

BAB 1: LATAR BELAKANG

i.

Pendahuluan Puji syukur kita panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan

karuniaNya karena diberi peluang untuk menyelesaikan tugas ini.Dalam tugas ini kami membincangkan topik Filsafat dan juga Berpikir Ilmiah Tujuan kami menulis laporan ini adalah karena hal ini amat penting bagi kita sebagai pelajar kedokteran gigi untuk memahami apa itu Berpikir Ilmiah. Bab pertama adalah berkaitan dengan latar belakang yang mengandungi pengertian filsafat. Bab kedua menjelaskan tentang perbahasan topik diskusi kelompok kami yaitu, pengertian berpikir ilmiah, dan ciri-ciri utama berpikir ilmiah. Karena tujuan tugas ini adalah untuk kita memahami apa itu filsafat dan juga apa itu berpikir ilmiah, ,diharapkan maksud dan mesej yang ingin kami sampaikan kepada para pembaca dapat dipahami dengan mudah dan jelas. Atas segala kekurangan dan kealpaan dalam penulisan tugas ini,terutama mengenai topik filsafat dan juga berpikir ilmiah ini,kami mohon maaf. Semoga kita semua dapat manfaatkan berpikir secara ilmiah dan memahami arti filsafat dan mengadaptasikannya di dalam pendidikan kedokteran gigi.

ii

Pengertian filsafat
Dari segi semantik Dalam perkataan Yunani, philosophia ; philos cinta dan sophia

pengetahuan, hikmah. Jadi philosophia berarti cinta kepada pengetahuan atau cinta kepada kebenaran. Dari segi praktis Filsafat berarti alam pikiran.Filsafat juga adalah berfikir secara mendalam dan sungguhsungguh Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa. Filsafat juga adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan. Menurut para pakar Indonesia pula adalah : 1. Darji Darmodihardjo: Filsafat adalah pemikiran dalam usahanya mencari kebijaksanaan dan kebenaran yang sedalam-dalamnya sampai keakar-akarnya (radikal, radik-akar), eratur (sistematis) dan menyeluruh (universal) 2. IR. Putjowijatno Filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan atas pikiran belaka. 2

BAB 2 : PERBAHASAN TOPIK


i Pengertian Berpikir Ilmiah Pikir berarti akal budi atau pendapat. Ilmiah adalah sesuatu yang bersifat ilmu. Berpikir ilmiah berarti menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan, memutuskan, mengembangkan dan sebagainya secara ilmu pengetahuan (berdasarkan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan) atau menggunakan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, penjelasan dan pengesahan kebenaran.

Berpikir ilmiah juga adalah metode eksperimental untuk membantu menkonfirmasi atau meniadakan hipotesis. Data dikumpulkan melalui percobaan yang diamati,data di olah, lalu disimpulkan.

Selain itu,berpikir ilmiah adalah proses penerapan teknik ilmiah untuk meneliti fenomena dan mendapatkan ilmu pengetahuan sebelumnya.

Berpikir ilmiah juga membangun hubungan sebab akibat pada sistem yang melibatkan satu atau beberapa variabel. Semakin banyak variabel yang diidentifikasi pengaruhnya semakin sulit melakukan proses berfikir.

1. Kita mula berpikir apabila ada hal yang di pikirkan.

2. Terdapat tiga hal yang mendorong orang berpikir: i) ii) iii) Heran atau kagum Ragu atau bimbang: di tawarkan oleh banyak pilihan Sadar bahwa dirinya terbatas: kebatasan fisik

3. Filsafat pikiran adalah cabang filsafat analitik modern yang mempelajari sifat dari pikiran, peristiwa mental, fungsi mental, sifat-sifat mental, kesadaran dan hubungannya dengan tubuh fisik, terutama otak. Masalah pikiran-tubuh, yaitu hubungan pikiran untuk tubuh, biasanya dilihat sebagai isu sentral dalam filsafat pikiran, meskipun ada isu lain mengenai sifat pikiran yang tidak melibatkan hubungannya dengan tubuh fisik

4. Berpikir ada tiga bagian yaitu:


i)

Berfikir biasa merupakan proses berpikir/ pengembangan pikiran tanpa didasarkan unsur ilmu dan filsafat, dimana berfikir disini hanya sederhana saja.

ii)

Berfikir ilmiah merupakan proses berfikir/ pengembangan pikiran yang tersusun secara sistematis yang berdasarkan pengetahuan-pengetahuan ilmiah,yang sudah ada.

iii)

Berfikir Filsafat merupakan proses berfikir/ pengembangan pikiran berdasarakan ilmu-ilmu pengetahuan yang lebih dalam lagi, sehingga menghasilkan suatu pemikiran yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan

ii

Ciri-ciri Bepikir Ilmiah

Terdapat 8 ciri-ciri berpikir secara ilmiah yaitu: a) Radikal: berpikir sampai ke akar-akarnya, sampai kepada inti, substansi atau essensi yang dipikirkan. b) Universal: Berpikir sesuai dengan pengalaman umumnya manusia untuk menyatakan sesuatu itu benar adanya. c) Konseptual: Manusia dapat berpikir, dapat berdiskusi walaupun di luar pengalaman atau melampaui batas manusia. Dapat berpikir kendatipun kenyataan yang di hadapi itu, sudah melampaui batas pengalaman/kenyataan hidup sehari-hari atau peristiwanya sudah berlalu di hadapan. d) Koheran dan konsisten: Berpikir ilmiah harus sesuai dengan kaedah (hukum). Berpikir dan tidak terdapat kontradiksi (pertentangan) di dalamnya. e) Sistematis: Dalam berpikir ilmiah, antara 1 konsep dengan konsep yang lain harus memiliki keterkaitan berdasarkan azas keteraturan untuk mengarah suatu tujuan tertentu. Contohnya, sebuah sepeda mootr dapat dipergunakan disebabkan oleh seluruh komponen, unsur, ataupun suka cadangnya saling berkaitan secara teratur satu dengan lainnya. f) Komprehensif: Dalam berpikir ilmiah, hal, bagian atau detail yang di bicarakan harus mencakup secara menyeluruh sehingga tidak ada lagi bagian-bagian yang tersisa atau tercecar berada di luar pembicaraan. g) Bebas: Dalam berpikir secara ilmiah, tidak di tentukan, di pengaruhi atau di intervensi oleh pengalaman sejarah atau pemikiran yang sebelumnya, seperti nilai-nilai kehidupan sosial-budaya, adat-istiadat maupun hal-hal yang bersifat religious. h) Bertanggungjawab: Dalam berpikir ilmiah, harus bertanggungjawab terutama terhadap hati nurani sendiri.

iii

Pertanyaan
1. Apakah indra dapat memberikan gambaran sebenar tentang dunia?

Semua informasi yang kita miliki tentang dunia disampaikan kepada kita melalui lima indra kita yaitu rasa, sentuhan, ciuman, pendengaran, dan melihat. Akan tetapi, penelitian modern dalam berbagai bidang ilmu menunjukkan pemahaman yang sangat berbeda dan menimbulkan keraguan serius tentang indra kita serta dunia yang kita pahami dengannya.Orang yang buta tidak dapat memberikan gambaran yang sebenar tentang dunia kerana mereka tidak mempunya indra yang cukup yaitu indra untuk penglihatan. Frederick Vester menjelaskan apa yang di capai oleh ilmu pengetahuan tentang hal ini: Pernyataan-pernyataan beberapa ilmuwan bahwa manusia adalah sebuah citra, segala sesuatu yang dialaminya bersifat sementara dan menipu,dan alam semesta ini adalah bayangan, tampaknya dibuktikan oleh ilmu pengetahuan yang mutakhir. Filsuf terkemuka George Berkeley mengomentari permasalahan ini sebagai berikut: Kita mempercayai keberadaan objek-objek hanya karena kita melihat dan menyentuhnya, dan objek-objek ini direfleksikan kepada kita oleh persepsi kita. Akan tetapi, persepsi kita hanya ide-ide di dalam otak. Oleh karena itu, objek yang kita tangkap dengan persepsi tidak lain hanya ide-ide, dan ide-ide ini pada dasarnya hanya ada dalam pikiran kita sendiri . Karena semua ini hanya ada di dalam pikiran, berarti kita telah tertipu ketika membayangkan bahwa alam semesta memiliki eksistensi di luar pikiran kita. Jadi tidak ada sesuatu pun di sekeliling kita yang memiliki eksistensi di luar pikiran kita.

2. Setiap yang berlaku pasti memiliki sebab?

Hukum kausalitas merupakan salah satu kebenaran yang diakui dan disetujui manusia dalam kehidupan sehari-harinya. Prinsip ini menyatakan setiap sesuatu memiliki sebab. Kausalitas termasuk di antara prinsip-prinsip niscaya lagi rasional. Kausalitas dalam filsafat islam menurut Murtadha Mutahhari adalah seperti berikut: Sesungguhnya segala sesuatu itu Kami ciptakan dengan ukuran.. Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. Dan segala sesuatu di sisi-Nya ada ukurannya.

Dari ayat-ayat ini dapat difahami terdapat sistem yang khusus dan urutan tertentu dalam praktik penciptaan. Kehendak Allah untuk mewujudkan adalah kehendak-Nya dalam menciptakan sistem-Nya itu sendiri. Dari sini lahirlah hukum sebab-akibat (kausalitas). Artinya adalah bahwa setiap akibat memiliki sebab yang khusus untuknya, dan setiap sebab memiliki akibat khusus pula. Tidak mungkin suatu akibat muncul dari suatu sebab yang mana saja, dan muncul akibat apa saja. Pada hakikatnya, setiap perwujudan menempati tempat tertentu dalam hukum sebab-akibat.

3. Kebebasan manusia di sebalik hikmah yang terjadi?

Sesuatu yang terjadi mungkin berada di luar jangkauan. Dengan memiliki ilmu pengetahuan, manusia diberi kebebasan untuk memilih menghadapi masalah yang berlaku sama ada dari sudut positif atau negatif. Manusia memiliki kebebasan sebagai hak yang melekat pada dirinya,kebebasan merupakan wujud eksistensi manusia didunia. Kebebasan menurut para kaum Libertarian dibagi menjadi dua yakni kebebasan privat dan publik. Sedangkan ahli dzikir menyebut bahwa kebebasan manusia didunia ialah terbatas,dan dibatasi oleh aturan Tuhan.Meskipun begitu, yang jelas seluruh pakar sepakat bahwa manusia memiliki kebebasan dalam hidupnya. 7

4. Apakah pikiran itu terpisah dari tubuh?

Tubuh dan pikiran saling terkait antara satu sama lain. Dalam sebuah mimpi; anda melihat sebujur tubuh, persoalannya, di mana anda melihat tubuh itu? Jawabannya: di dalam otak. Berarti, jika melihat dari sudut pandangan sains, kita tidak dapat melihat mimpi itu jika tidak ada otak.Otak adalah seketul daging di mana merupakan salah satu unsur tubuh. Dalam pandangan Yunani, tubuh dan jiwa terjadi di dalam sesuatu tubuh. Tubuh secara lahiriah untuk menyentuh, merasa, melihat, mendengar dan mencium. Jiwa pula meliputi pikiran, emosi dan kehendak. Menurut Alphet Alle pula, memahami fungsi pikiran mengatur tubuh untuk melakukan sesuatu dalam memenuhi kehendak tubuh itu. Sebagian besar filsuf modern pikiran mengadopsi baik posisi fisikalis reduktif atau non-reduktif, mempertahankan dengan cara yang berbeda mereka bahwa pikiran bukanlah sesuatu yang terpisah dari tubuh. Pendekatan ini telah sangat berpengaruh dalam ilmu, khususnya di bidang sosiobiologi, ilmu komputer, psikologi evolusioner dan berbagai ilmu saraf. Fisikalis reduktif menegaskan bahwa semua keadaan dan properti pikiran pada akhirnya akan dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.

5. Pikiran dan tubuh saling terkait antara satu sama lain?

Wajah dan gerakan tubuh badan kita mencerminkan pemikiran kita. Begitu juga sebaliknya.Sebagai contoh,bayangkan suatu hal yang anda benci. Bayangkan benda itu hampir dengan kita. Perhatikan ekspresi muka dan gerakan tubuh badan kita. Begitu juga sebaliknya dengan mengingati perasaan suka. Inilah yang dimaksudkan dengan pikiran dan tubuh saling terkait satu sama lain

BAB 3 : PENUTUP

Kesimpulan
Dengan mempelajari filsafat dan filsafat ilmu,maka kita sebagai manusia yang berfikir akan memperoleh pengetahuan yang lebih dikarenakan filsafat disini mengajak kita berfikir diatas berfikir, yaitu berfikir yang logis dan rasional dengan pembiktian-pembuktian yang ilmiah yang dapat diterima secara umum. Berfikir filsafat yaitu tahapan paling tinggi dari jenis berfikir, berfikir disini meliputi berfikir biasa, berfikir ilmiah dan berfilsafat.yaitu berfikir dengan logis dan rasional dengann segala pembuktian yang dapat di pertanggung jawabkan dan di terima oleh umum

ii

Daftar Pustaka

1. http://books.google.co.id/books?id=oeiXZLlKq94C&pg=PA3&lpg=PA3&dq=dapatk ah+kita+memiliki+pikiran+tanpa+tubuh?&source=bl&ots=WkZhppNpMb&sig=V3a VBsYDK5IvaRLnbS6wVa3wb7Q&hl=en&ei=_LmLTobuEdHIrQeGtJiDAg&sa=X& oi=book_result&ct=result&resnum=1&ved=0CBgQ6AEwAA#v=onepage&q=dapatk ah%20kita%20memiliki%20pikiran%20tanpa%20tubuh%3F&f=false 2. http://answering.wordpress.com/2011/03/30/kausalitas-dalam-perspektif-filsafatislam-filsafat-ilmu-dan-filsafat-hikma/ 3. http://www.harunyahya.com/indo/site/kehidupan/materi.html 4. http://biongoblog.blogspot.com/2011/06/manusiakebebasandan-agama.html 5. http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/2095569-pengertian-filsafat-pikiran/ 6. http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat_pikiran 7. http://uharsputra.wordpress.com/filsafat/materi-kuliah-filsafat-ilmu/

10