Anda di halaman 1dari 14

MALUKU UTARA ATAU HALMAHERA

PENDAHULUAN Indonesia merupakan daerah pertemuan 3 lempeng tektonik besar, yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan lempeng Pasific. Lempeng Indo-Australia bertabrakan dengan lempeng Eurasia di lepas pantai Sumatra, Jawa dan Nusatenggara, sedangkan dengan Pasific di utara Irian dan Maluku utara. Di sekitar lokasi pertemuan lempeng ini akumulasi energi tabrakan terkumpul sampai suatu titik dimana lapisan bumi tidak lagi sanggup menahan tumpukan energi sehingga lepas berupa gempa bumi. Pelepasan energi sesaat ini menimbulkan berbagai dampak terhadap bangunan karena percepatan gelombang seismik, tsunami, longsor. Besarnya dampak gempa bumi terhadap bangunan bergantung pada beberapa hal; diantaranya adalah skala gempa, jarak epicenter, mekanisme sumber, jenis lapisan tanah di lokasi bangunan dan kualitas bangunan. Ditinjau dari penyebaran pulaunya, di Maluku terdapat 2 pulau besar yang dikelilingi oleh pulau-pulau sedang dan kecil, yaitu kelompok Pulau Halmahera termasuk

Pulau Bacan dan pulau-pulau kecil lainnya seperti Tidore, Makian dan Ternate, dan kelompok Pulau Seram termasuk pulau-pulau Ambon, Haruku, Saparua, Lease, Kelang, Buano, Mampa dan sebagainya. Selain itu, terdapat pula kelompok-kelompok pulau yang sedang besarnya seperti Kepulauan Tanimbar, Kepulauan Aru, Kepulauan Kei, dan Kepulauan Sula di samping pulau-pulau tersendiri (soliter) seperti Pulau Buru, Pulau Obi, dan Pulau Wetar. Sisanya merupakan pulau-pulau kecil yang luas rata-ratanya kurang dari 500 km yang sebagian besar tidak berpenghuni. Letak astronomis 01 00 LS- 02 20 LU, 127 25 - 129 00 BT. Letak geografis Halmahera adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah timur pulau sulawesi yang berbentuk huruf K dengan batas laut maluku di sebelah barat, samudera pasifik disebelah utara dan timur, dan selat Obi di sebelah selatan. Sejarah Pulau Halmahera Pulau Halmahera mulai terbentuk sekitar 55 juta tahun yang lalu karena adanya pergerakan lempeng pasifik, australia, dan Eurasia. Sebelum berbentuk K seperti sekarang ini, halmahera hanyalah pulau-pulau kecil yang terbentuk karena sistem subduksi yang menghasilkan busur kepulauan yang terapung kemudian karena adanya pergerakan lempeng diatas lalu bertemu dan jadilah Halmahera sekarang ini

KEADAAN GEOLOGI PULAU MALUKU UTARA

Keterangan gambar : Indeks Peta Geologi Maluku Skala 1:250.000 119 Banggai 124 129 Sanana P. Buru

131+138 Moa, Damar & Bandanaira 132 Ambon 133 134 136 137 139 Obi Bacan Morotai P. Barbar Masohi

135 Ternate

142 Tanimbar

143 145 151

Bulawatubela Watubela Kep. Kai dan Tandayu Kep. Aru

Secara umum atas dasar kenampakan geologi dan fisiografi Halmahera dapat dibagi dua propinsi yaitu Halmahera bagian barat yang berupa busur vulkanik Ternate dan Halmahera Barat serta Halmahera bagian timur laut dan tenggara merupakan busur luar yang tersusun dari mlange. Sampai menuju bacan daerah yang paling luas tersusun atas batuan sedimen dan vulkanik. Batuan dasar ditunjukkan di bagian selatan pulau bacan, termasuk batuan kristali benua dan dasar deformasi batauan ultra basi (van bemmelen,1970, yasin 1980). Batuan dasar Halmahera merupakan batuan vulkanik dan vulkano-klastik yang dikombinasikan dengan batuan beku dalam. Mereka terletak di bagian selatan. Halmahera dan sekitarnya merupakan daerah yang relative tinggi. Bagaian timur laut Maluku ini terletak antar laut Maluku dan basin Carolina, bersambung dengan kepalu burung di Papua di sebut kelompok pulau Halmahera. Ditengahnya terdapat laut Halmahera (-2039 m). Halmahera adalah pulau terbesar di Maluku. Bentuk pulau ini mirip Sulawesi, akan tetapi ukurannya lebih kecil. Garis tengahnya sepertiga Sulawesi dan luas seluruhnya sepersupuh Sulawesi. Pulau ini mempunyai empat lenggan, teluk diantara lengan tersebuat adalah Teluk Kau,Bulu dan Weda. Kelompok kepulauan Halmahera terletak di bagian utara dari kepulauan Indonesia antara Sulawesi dan Irian jaya. Panjang pulau dari utara ke selatan 180 km dan lebarnya dari barat ke timur 70km, dan dikelilingi oleh pulau pulau kecil seperti Morotai, ternate, bacan, Obi dan gebe. Ke barat merupakan laut Maluku dan ke timur merupakan ujung selat laut Filiphina. Pulau Halmahera morfologinya ditandai 4 lengan menyerupai huruf K. bentuk ini mirip dengan bentuk pulau Sulawesi di bagian tepi barat. Tetapi dalam skala kecil ; ukuran sekitar 1/3 dari Sulawesi dan luas permukaannya sekitar 1/10. Teluk antar lengan dan teluk Kau di timur laut , teluk buli di timur, dan teluk Weda di selatan. Secara umum pulau Halmahera berbukit atau bergunung- gunung, kecuali dataran banjir di beberapa daaerah misalnya di muara sungai kobe di Teluk Weda dan sebagian besar pantai timur di lengan tenggara. Pegunungan yang mengarah ke timur laut barat daya bergantian dengan lembah di lengan timur laut mempunyai relief yang bervariasi dari 500 m sampai lebih 1000 m, yang tertinggi mencapai 1.508 meter yaitu bukit saolat , di bagian tengah pulau. Pegununagn utama di timurlaut Halmahera tersusun rumit secara structural

berjajar batuan imbrikasi ultrabasa, basa dan batuan Mesozoikum-Paleogen yang memebentuk batuan basa. Di lengan barat laui puncak tertinggi adalah vulkan aktif (g. Gonkomara 1.700 m). sebelah timurlautnya terdapat ( G. ibu 1500 m). Lengan tenggara mempunyai topografi yang lebih lembut, ada daerah luas dari sedimen lunak kalkareous di bagian tengah lengan ini. Satu kenampakan khas sungai dari semua ukuran di Halmahera adalah bahawa mereka umumnya tertoreh dalam. Mereka rata dengan rata dengan dataran banjir didekat pantai tetapi melalui kebanyakan daerah membentuk lembah berbentuk V yang terjal; Keadaan tektonik Maluku utara merupakan daerah tektonik yang membingungkan, dibangun oleh interaksi antara lempeng filiphina di utara, lempeng pasifik ditimur, lempeng Eurasia dibarat, dan lempeng Australia di selatan. Batas selatyannya merupakan sistempatahan sorong dari Papua ke Sulawesi yang panjangnya sekitar 800km kearah Sulawesi dan 1500 km sepanjang tepi utara papua kearah papua New Guinea .sebelah barat dibatasi oleh laut Maluku dan di timurlaut dibatasi oleh ujung selatan palung filiphina serta timur berbatasan dengan perluasan ke utara patahan Sorong. Keadaan geologi pulau pulau di Maluku utara sangat sedikit diketahui . Pulau Halmahera mirip dengan pulau Sulawesi terdiri dari empat lengan. Lengan timur dan tenggara terdiri dari mlange berupa ofiolit yaitu batuan beku atau metamorf yang terbentuk di sedimen laut dalam bentuk seperti serpentinit, periodit, gabro, basalm rijang radiolarian merah;sedimen pelagic seperti marl, gamping, rijang, foraminifera dan lapisan miosen air dangkal yang bercampur aduk satu sama lain. Lengan utara dan pulau pulau bagian barat lengan selatan seperti ternate dan tidore terdiri dari basal andesit dan dasit tersier dan kuarter. Ini menunjukkan bahwa bagian barat dari Halmahera merupakan busur magmatic. Gunung aktif di lenagn utara adalah G. Gonkonora. Dan pulau bacan di sebelah barat lengan selatan mengandung batuan granitic dan gneiss kuarsa dioritik dengan G. sibela (2200 m). Pulau Obi disebelah selatan Halmahera terdiri dari batuan mlange yakni batuan ultrabasa yang berlimpah seperti serpentinit bercampur dengan gabro, diabase, basal, greenstone, radiolaria, jarper merah, kuarsit, sekis, batu sabak hitam dan coklat, serta lempung hitam (Brouwer, 1924 dan warner, 1913). Jadi pulau Obi kemungkinan telah bergeser dari timur sepanjang patahan sorong bersama- sama dengan pulau Peleng dan kepulauan Sula. dibagian tengah dan bagian bawah aliran sungai berkelok-kelok membentuk meander.

Pulau Waigeo di barat laut papua terdiri dari mlange juga menurut Brouwer dan Verbeek. Di pantai utara sangat sempurna terlihat mlange terdiri dari batuan serpenitinit beisik, peridotit, gabro, diabase, sekis, rijang merah, batu pasir, marl, globigerina, gamping air dangkat. Laterit nikeliferous yang berkembang di daerah bebatuan ultrabasa yang telah diteliti oleh Pasific Nikkel Indonesia dan dijumpai cukup luas dan komersial di pulau Waigeo. Dari penelitian gempa diketahui bahwa ada dua zone kegempaan banioff yang berpotongan di bawah laut Maluku bagian barat menunjukkan terjadinya tabrakan dari busur busur kepulauan. Salah satu zona benioff miring sedang kearah barat di bawah busur kepulauan sangihe dan laut Sulawesi, dan yang lainnya miring landai ke timur di bawah Halmahera. Karena itu di duga lempeng sangihe (Eurasia) menunjam ke timur dan menghasilkan mlange di Kep. Talaud dan busur magmatic di Halmahera barat, sedang lempeng Halmahera menunjam ke barat menghasilkan mlange di Kep. Talaud dan busur magmatic di kep. Sangihe. Menurut peta Geologi Indonesia [1965], Pulau / Kepulauan di Maluku Tenggara terbentuk / tersusun dari tanah dan batuan yang tercatat sebanyak 3 jenis tanah dan 5 jenis batuan. Pada umumnya, dasar dari regional geologi Maluku dibedakan menjadi 2 yaitu Maluku bagian barat dan Maluku bagian timur. Maluku bagian barat adalah bagian sabuk vulkanik muda yang merupakan perpanjangan dari morotai melalui Maluku bagian utara, Ternate, dan Tidore. Sampai menuju bacan daerah yang paling luas tersusun atas batuan sedimen dan vulkanik. Batuan dasar ditunjukkan di bagian selatan pulau bacan, termasuk batuan kristali benua dan dasar deformasi batauan ultra basi (van bemmelen,1970, yasin 1980). Batuan dasar Halmahera merupakan batuan vulkanik dan vulkano-klastik yang dikombinasikan dengan batuan beku dalam. Mereka terletak di bagian selatan. Bentuk maluku bagian timur merupakan perpanjangan kearah timur melalui pulau gebbe dan terhadap bagian utara kepala burung irian kjaya. Wilayahnya merupakan daerah sedimen dasar air mesozoik dan kompleks ophiolite, yang terjadi pada saat sedimen paleogene dan pengangkatan oleh neogene. Batuan dasar dari kepulauan halmahera terdiri atas batuan sedimen yang kompleks dan batuan ultrabasic dengan variasi bentuk yang disebabkan oleh metamorfosis, penempatan batuan pada masa mesozoik dan sedimen eogene. Struktur Geologi Kepulauan Maluku menempati posisi unik, karena merupakan interaksi tiga lempeng kerak bumi yaitu Lempeng Eurasia, India, Australia dan Lempeng Pasifik. Kondisi geologi ini memungkinkan terbentuknya cekungan sedimen yang mengandung hydrocarbon dan

terbentuknya busur vulkanik yang dapat menghasilkan panas bumi. Topografi pada beberapa pulau besar di Maluku yang berupa pegunungan dengan aliran sungai yang panjang memungkinkan terbentuknya potensi air terjun. Teluk Kau berakhir pada depresi bundar yang khas, kedalamannya 500m dan garis tengahnya 30-60 km.teluk itu dipisahkan terhadap lautan terbuka oleh ambang yang lebar dan dalamnya kurang dri 50m. Morotai yang terletak di luar ujung utara sebagian besar tersusun dari batuan vulkanis Neogen. Vulakan-vulkan aktif terdapat di ujung utara Halmahera. Gunung terggi adalah Gamkonora (1653 m), Sedangkan gunung api yang paling aktif adalah Dukono (1335 m) didekat Tobelo. Rangkaian gunung api muda ini kelanjutanya dipulau pulau kecil disepanjang pantai barat pulau utama, aitu Hiri, Ternatae, Tidore, Mare, Mote,dan Makian. Makian merupak vulkan paling selatan dari jalur ini. Di derah ini juga di jumpai batuan vulkanis muda yang meluas kearah barat melalui bacan menuju Kofiau (Kayoa, pulau-pulau Gura-Inji, Waidoba, Taneti, Lata-lata, Kasiruta, Mendioli, Bacan, Woka, pulau-pulau salo, dengan Jaroaga, Kekik, Lawin, Pisang, dan Kofiao. Zona fulkanis ini membentang dari sulawesu utara kepegunungan di sepanjang pantai utara kepala burung. Di empat ini juga di jumpai batuan vulkanis neogin muda dan quarter. Jadi, kelompok Halmahera pada sisi barat dan selatannya di batasi oleh sebuah jalur yang menggandung batuan vulkanis neogen muda kuarter. Jalur ini sangat cembung ke barat dan selatan. Vulkan aktif akan terlambat pada bagian tengahnya dari tobelo sampai makian. Jalur vulkanis ini disebuat zona Ternate. Zona Ternate dipisahkan terhadap bagian dalam kelompok Halmahera oleh zona depresi yang tidak bersambung, terderi dari elemen-elemn berikut: depresu teluk Kau-kau, teluk Payahe, selat Patini selat antara ujung selatan Halmahera dan dammar, ujung seltan Basin Halmahera, selat antara Yef Doif dan Kofiao, dan berakhir diselat Sagewin antara batamta dan salawati atau pada selat dampler antara bantanta dan waigeo. Pulau-pulau dari bagian tengah kelompok Halmahera sebagian besar terdiri dari basement kompleks dari batuan basis dan ultra basisi yang tertutup oleh lapisan endapan marin tertian yang kaya fragmen fragmen batuan beku. Dibagian timur laut di batasi oleh ujung selatan ujung palung Sulawesi, kearah barat dan selatan dibatasi oleh zona ternate. Satuan-satuan daratan bagian dalam kelompok Halmahera yang terbesar adalah lengan lengan Halmahera disebelah timur dan selatan kawah Kau dan pulau pulau yang lebih jauh, yaitu Gebe, Waigeo, dan Batanta. Pulau pulau antara Halmahera dan kepala burung dipapua disebut kelompok raja ampat. Salawati juga termasuk dalam kelompok ini, akan

tetapi secara fisiografis merupakan bagian kepala burung. Keadaannya sepreti Misool pada dangkalan kepala burung, saru dipisahkan terhadap batanta oleh selat seperti palung sempit (selat Sagewin, lebar 4 km dan dalamnya lebih dari 200 m) selat itu diduga sebagai geraben muda seperti pada tepi barat laut kepala burung yang kelanjutanya berupa lembah Warsamson. Ayu kecil dan pulau-pulau asia itu membentuk sebuah taji kelompok Halmahera yang membentang pada basin Carorina. Sebagai pusat kelompok Halmahera berupa pemrosotan basi Halmahera yang kedalamannya mencapai >200 m. Gambaran struktur umum Maluku utara dibentuk oleh dua system punggungan yang memusat, satu membatasi basin Sulawesi yang cembung ketimur (Sistem sangihe) dan yang lain membatasi bagian tengah kelompok halamahera yang cembung kebarat (system ternate). System sangihe tersusun daru satuan satuan: a. Palung belakang, Basin Sulawesi. b. Busur dalam, berupa punggungan sangihe c. Palung antara, meliputi palung Sangihe-Gorontalo d. Busur luar, meliputi punggungan talaut-mayu. System Sangihe membentuk matarantai antara busur samar di Filiphina dan lengan utara dan timur Sulawesi. System ternate tersusun dari satuan-satuan: a. Palung belakang, meliputi bagian umum kelompok Halmahera, hayanya sebagian yang tenggelam berupa basin Halmahera. b. Busur dalam, berupa zona ternate. c. Palung atntara, meliputi palung-palung mototai- ternate-bacan. d. Busur luar, meliputi punngungan snellius-mayu-obi. Pada punggungan mayu dibagian tengah laut mluku kedua system tersebuat jalin menjalin. Punggungan mayu merupakan busur luar dari kedua sysem tersebuat hal ini sebagai fakta geo tektonoik yang penting. Kepulauan Tanimbar dan kepulauan Kai oleh Van Bemmelen dimasukkan busur luar, Vestappen memasukkan kedalam palung depan dengan alasan bahwa Tanimbar-Kai terletak diantara atau diapit oleh palung laut yang dalam, baik sebelah timur maupun sebelah

baratnya. Pulau Buru merupakan pengangkatan kubah yang muncul dari dasar laut sedalam 4000-5000 m. Pulau ini dapat dibagi menjadi 3 bagian yang dipisahkan oleh depresi, yaitu:
1. Massif Barat (G. Kapalatmada, >2000 m), batas timurnya adalah depresi S. Nibe-

D. Rana S. Kuna (arah timur laut-barat daya). 2. Blok tengah (>1000 m), batas timurnya adalah depresi antara Teluk KayeliLembah Apu (arah timur laut-barat daya). 3. Blok tenggara (pegunungan Walua, mencapai 1731 m di G. Bataktual). Backdeep mengalami penggelombangan imigrasi menghasilkan serangkaian pulaupulau vulkanik yaitu: Damar, Teun, Nila, Serua, dengan arah barat daya-timur laut selanjutnya tenggelam di bawah treach. Kemudian muncul kembali berupa Dome Banda (kepulauan Bandaniera) dengan sejumlah pulau-pulau kecil. Bagian tengah dari Dome Banda berupa bekas kaldera tua dengan dindingnya yang muncul di atas permukaan laut berupa P. Lonthor, P. Pisang dan P. Kopal. Interdeep yang memisahkan busur dalam dan busur luar adalah Palung Weber dengan kedalaman 744 m dan lebar maksimum 150 km. Di barat daya palung ini dipisahkan dari palung Wetar oleh pegunungan dasar laut, ke arah barat laut palung ini semakin dangkal. Dalam struktur geologi Maluku bentuk-bentuk dari pulau ini dapat dipelajari secara implisit. Struktur dari area ini tersusun dari koleksi batuan yang mengalami metamorfosa. Strukturnya sangat spesifik. Hal ini membentuk topografi maluku menjadi lebih tinggi dan tidak simetris antara bagian barat yang dikontrol oleh patahan dan bagian timur yang membentuk pantai Weda. Zona tengah membentang sampai ke leher Halmahera. Leher Halmahera berisi sedikit gunung yang memiliki karakteristik sungainya periodik yaitu kau dan pantai Weda. Leher bagian barat membentang pegunungan yang tinggi dengan sedikit dataran rendah sampai ke laut mollusca. Di barat pantai memiliki pola efident yang dikontrol oleh patahan. Zona tengah terdiri dari formasi batuan vulkanik yang mungkin terjadi perlipatan pada zaman neogene. Batuan neogene terbentuk karena perlipatan antara bagian utara dan bagian selatan.

Kepulauan Banda Kepulauan Banda terlihat dari timur Indonesia yang terbentuk akibat lipatan antara Indonesia-Australia, Pasifik dan Eurasia. Laut banda tersusun atas lembah, palung dan pantai. Proses geologinya meliputi: a. Sabuk ophiolite b. Sabuk metamorfosis c. Sabuk lipatan yang terjadi pada zaman jurrassic dan sedimen permo jurrasic d. Sabuk lipatan yang terjadi pada zaman mesozoik dan tersier yang memiliki sedimen sangat tinggi yang terletak di kedalaman laut. e. Sabuk pengangkatan yang terjadi pada akhir zaman neogene

Diantara lima sabuk tersebut laut banda terlihat bahwa batuannya lebih tua diantara pulau yang lain.hal ini dikarenakan teori tektonik lempeng yang terjadi di daerah lokal.

gb.bagian laut timor

tektonik

dari

selat makasar-laut banda-

KEADAAN TEKTONIK Pembentukan Tektonik Secara tektonik Halmahera membentang menjadi empat bagian lempeng, Australia, laut Filipina, lempeng Eurasia dan lempeng Mindanau. (hall et al.1988) Lempeng Australia membentang dari selatan dan berakhir di utara yaitu sistem patahan sorong yang sangat kompleks membentang dari Papua Nugini panjangnya lebih dari 1500 km sampai Irian Jaya. Dibagian barat membentang sekitar 800 km samapai Sulawesi. Lempeng Eurasia dibagian barat dari lempeng Filipina dan dilanjutkan sampai lempeng halmahera di bagian barat. Lempeng Eurasia terdapat di laut Asia dan Filipina yang menjadi wilayah secara kompleks yang meliputi beberapa lempeng kecil yang bergerak secara bebas. Satu dari lempeng ini adalah lempeng timur Mindanao yang terbentuk sebagian dari patahan lempeng Filipina bagian barat. Lempeng Mindanao bagian timur tidak meliputi

skala global dari beberapa lempeng yang lain. Lempeng ini bergerak bergantung pada lempeng Eurasia atau lempeng Filipina.

Gb. Kondisi busur yang mengelilingi kepulauan maluku Aktifitas dari keempat lempeng yang sangat relatif antara satu dengan yang lainnya tidak dapat dijelaskan secara jelas. Pergerakan lempeng Eurasia-Filipina secara konvergensi menghubungkan antara ketiga lempeng di bagian utara sampai ke patahan sorong di irian. Sejak terjadi pergerakan dari lempeng mindanau timur tidak bisa diketahui pergerakannya, pergerakan dari laut filipina sampai ke timur mindanau tidak bisa dijelaskan secara empirik. Meskipun pergerakannya diketahui secara relatif antara Eurasia dan lempeng Filipina berguna dalam pembentukan pantai dengan panjang yang signifikan di daerah tersebut. Pergerakan lempeng utara sangat relatif sehingga mempengaruhi patahan sorong yang mengalami penurunan di bagian timur di bagian timur lempeng mindanao yang berbentuk lautan mollusca dan di area ini terdapat pengaruh dari lempeng Eurasia dan lempeng Filipina. Meskipun wilayah laut mollusca sangat konvergen Kepuluan Halmahera memiliki bentuk yang bermacam-macam. Sekarang Halmahera terdesak secara vertikal oleh beberapa kepulauan yang keraknya bergerak secara relatif misalnya saja Pulau Samihe.

Proses tektonik Proses tektonik dibedakan menjadi tiga yaitu:


a. Tektonik sebesar 180o yang terjadi di bagian timur sampai barat yang merubah

bagian utara secara relatif. b. Tektonik yang terjadi pada akhir cretaceous c. Pembentukan tektonik yang terjadi akibat kerak benua australia menyusup ke bagian selatan pulau banda. Pricarson dan Brundell (1996) menjelaskan bahwa model struktur yang ia gunakan adalah tiga macam yang paling utama dari observasinya di pulau timor a. Model imbricate yaitu sebagian besar kepulauan terjadi secara geologi dan geofisik yang berakumulasi dengan material chaolic yang bergantung pada dinding subduksi. b. Model lanjutan yaitu merupakan model tertua dari model lainnya, model ini hampir mirip dengan model alphen yaitu terjadinya penunjaman diantara australi dan laut selatan banda. c. Model penyimpanan (chamalaun dan grady 1978) mereka beranggapan bahwa kerak Benua Australia mendesak sangat kuat dengan frekuensi tinggi sehingga menyebabkan kerusakan litosfer yang akan menyingkap/ memunculkan pulau Banda. Hubungan Halmahera dengan Pulau Lainnya Halmahera adalah suatu gambaran tektonik yang cukup kompleks. Bentuk dua lengan Sulawesi timur dan Halmahera dapat disebandingkan dengan dua anak panah yang bergerak ke barat. Ini telah diketahui cukup lama bahwa lengan timur yang cembung ke arah barat terdiri dari ofiolit, dan busur barat terdiri dari gunungapi aktif, yang di Sulawesi telah padam pada zaman Kwarter. Sulawesi dan Halmahera merupakan busur kepulauan yang mengarah ke utara selatan yang cembung ke arah Pasifik dengan zona subduksi Sulawesi-Maluku yang miring ke barat. Pergerakan Lempeng Pasifik ke arah barat yang mengikuti sistem sesar transform menjelaskan kompleksitas tatanan geologi kawasan Sulawesi-Halmahera. Selama pergerakan ini pulau Banggai dan Buton dibawa ke arah timur laut. Pergerakan Banda ke arah timurbarat hanya merupakan pelenturan, tidak membuat sesar besar sepertihalnya di Papua dan Sulawesi. Sistem subduksi ini menjadikan halmahera sebagai daerah yang sangat aktif di Indonesia.

Berdasarkan intensitas kegempaannya, Badan Meteorologi dan Geofisika membagi wilayah Indonesia atas enam zona: 1. Daerah sangat aktif (Halmahera) 2. Daerah aktif (Lepas pantai barat Sumatera, pantai selatan Jawa, Nusa Tenggara, Banda) 3. Daerah lipatan dan retakan (Pantai barat Sumatra, Sulawesi Tengah) 4. Daerah lipatan tanpa retakan ( Utara Jawa, Kalimantan Timur)Daerah Gempa Kecil (Sumatra Timur, Kalimantan Tengah) 5. Daerah Stabil (Selatan Irian, Kalimantan Barat) KEGEMPAAN DI HALMAHERA Karena wilayah halmahera adalah suatu sistem yang sangat aktif dan kompleks maka intensitas gempa yang terjadi sangat tinggi. Hal ini dikarenakan adanya suatu pola patahan halamahera yang di subduksi oleh lempeng oceanic pasifik sehingga lempeng bergerak ke barat dan menunjam ke arah lempeng maluku yang didesak pula oleh lempeng kontinen yang bergerak ke timur. Sementara itu lempeng halmahera juga mengalami sesar trasform dextral di sebelah selatan dengan lempeng eurasia serta sesar transform sinistral dengan lempeng oceanic ( pasific ) di sebelah timur.