Anda di halaman 1dari 3

Kenali, Cintai, Kunjungi

Pada pukul setengah tiga sore di hari Minggu tanggal 9 Oktober, kami melangkahkan kaki ke Museum Sonobudoyo setelah berkeliling Museum Benteng Vredeburg. Di Museum yang terletak di utara alun-alun Yogyakarta ini, hanya nampak beberapa pelajar yang tampak akan pulang. Walaupun letaknya cukup srtategis, museum ini sangat sepi pengunjung. Sangat berbeda dari Museum Benteng Vredeburg yang baru saja kami kunjungi. Museum Sonobudoyo merupakan unit Pelaksana Teknis Daerah pada Dinas Kebudayaan Provinsi DIY. Museum ini dibangun dengan harapan dapat berfungsi sebagai pengelola benda museum yang memiliki nilai budaya ilmiah, mengkaji koleksi pengembangan dan bimbingan edukatif kultural. Sedangkan tugasnya adalah mengumpulkan, merawat, mengawetkan, melaksanakan pengkajian, pelayanan pustaka, bimbingan edukatif cultural, serta penyajian benda koleksi Museum Negeri Sonobudoyo. Bangunan Museum Negeri Sonobudoyo yang didesain oleh Ir. Th. Kangsten merupakan rumah joglo yang berarsitektur masjid keratin Kesepuhan Cirebon. Keberadaan museum erat hubungannya dengan sebuah yayasan masa kolonial, Java Instituut. Yayasan tersebut bergerak di bidang kebudayaan Jawa, Madura, Bali dan Lombok. Yayasan itulah pencetus berdirinya Museum Negeri Sonobudoyo yang diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII pada tanggal 6 November 1935. Tanggal peresmian tersebut ditandai dengan candra sengkala alu-winayang ing Brahmana Budha.

Sebagai museum provinsi, ke depannya Museum Negeri Sonobudoyo diharapkan akan menjadi gambaran dari fungsi museum dalam hal pelayanan dan optimalisasi fungsi dengan melihat potensi yang dimiliki sehingga akan mempunyai prospek dan peluang untuk lebih dikembangkan dan ditingkatkan dalam rangka menghadapi persaingan baik pada level nasional maupun internasional. Museum Negeri Sonobudoyo berada di lokasi yang strategis di lingkungan pusat budaya Yogyakarta yang banyak mendapatkan perhatian dari berbagai pihak, baik dari dalam maupun luar negeri. Tapi sayang museum tersebut sangat sepi. Padahal berada di daerah yang berdekatan dengan tempat-tempat tujuan wisata yang ramai. Menurut MURI, Museum Negeri Sonobudoyo merupakan museum dengan koleksi terlengkap dibandingkan museum lainnya yang sejenis. Di dalamnya terdapat berbagai macam koleksi dari zaman prasejarah hingga pada masa setelah kemerdekaan. Koleksi-koleksinya mempunyai nilai budaya, nilai ilmiah dan nilai keindahan yang sangat tinggi. Museum Negeri Sonobudoyo direncanakan menjadi museum bertaraf

internasional karena keberadaannya sangat mendukung keberadaan DIY sebagai kota budaya, kota pendidikan dan kota tujuan wisata. Namun kurangnya optimalisasi menyebabkan museum tersebut belum menjadi museum kebanggaan Kota Yogyakarta. Sebagaimana museum pada umumnya, Museum Negeri Sonobudoyo dapat

dimanfaatkan untuk pengembangan jati diri masyarakat Yogyakarta dan Indonesia. Sayang sekali potensi yang sangat besar itu kurang dioptimalkan sehingga Museum Negeri Sonobudoyo kurang dikenal masyarakat luas. Fasilitas yang baik dan koleksi yang lengkap tidak diiringi dengan banyaknya jumlah pengunjung.

Pengunjungnya sangat sedikit, bahkan lebih banyak wisatawan mancanegara dibandingkan wisatawan lokal. Pengunjungnya tidak menentu, bisa sampai puluhan pengunjung per hari, namun sering juga tidak ada sama sekali. Pengunjungnya pun biasanya hanya pelajar yang mendapat tugas dari gurunya untuk mengunjungi museum tersebut. Mungkin sepinya pegunjung disebabkan karena generasi muda pada masa sekarang lebih suka pergi ke mall atau tempat-tempat ramai lainnya untuk berekreasi. Para remaja menganggap museum hanyalah tempat untuk mempelajari sejarah dan koleksinya membosankan. Sementara di mall, koleksinya berganti-ganti dan sering ada pertunjukan hiburan. Selain memilki fungsi edukatif, sejarah juga memiliki fungsi rekreatif. Sehingga belajar sejarah seperti mengunjungi museum juga merupakan hiburan. Tapi tidak banyak orang yang merasa terhibur bila mengunjungi museum. Selain membosankan, yang membuat museum sepi pengunjung adalah mahalnya tarif masuk. Sebagai aset negara dan sarana pengenalan jati diri bangsa, semestinya biaya perawatan museum ditanggung pemerintah. Seharusnya tarif masuk museum digratiskan karena seseorang mengunjungi museum untuk pembelajaran. Untuk membuat anak muda senang mengunjungi museum, sebaiknya pertunjukan-pertunjukan yang digemari anak muda tidak ditampilkan di mall tetapi di museum. Selain itu dapat juga menarik perhatian masyarakat dengan menjadikan tokohtokoh yang banyak diidolakan menjadi petugas museum secara bergantian. Semoga Museum Negeri Sonobudoyo dan museum-museum lainnya dapat lebih dikenal, dicintai, dan dikunjungi.