Anda di halaman 1dari 31

Jakarta - Keluarga mendiang Joshua Kristian Situmorang (7) melaporkan RS Fatmawati dan drg Didi Alamsyah atas dugaan

malpraktik. Laporan diterima Sentra Pengaduan Kepolisian (SPK) dengan surat tanda terima laporan No.550/K/II/2006/SPK Unit 2. Kuasa hukum keluarga korban mengatakan, pihak RS telah melakukan kelalaian sehingga menyebabkan kematian Joshua Pihak korban menggugat RS melanggar pasal 304 KUHP karena tidak merawat orang sakit dan pasal 359 KUHP tentang kelalaian yang menyebabkan orang meninggal dunia kepada Polda Metro Jaya, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Selasa (14/2/2006).

Joshua meninggal pada 12 Februari. Bocah laki-laki itu meninggal setelah sebelumnya menjalani perawatan gigi di RS Fatmawati. Pada 30 Januari, drg Didi Alamsyah yang juga spesialis bedah mulut mencabut gigi Josua. Setelah giginya dicabut, Josua mengalami perdarahan hebat.

"Dokter tidak memberitahukan kepada pihak keluarga tindakan apa yang akan dilakukan kepada Joshua, termasuk risikorisikonya. Tidak pernah ada persetujuan dari keluarga kalau gigi Josua akan dicabut. Kuasa hukum korban juga menuding diagnosa yang dilakukan dokter tidak cermat karena dokter mencabut gigi dalam kondisi rahang dan pipi Josua sedang membengkak.

Bahkan setelah terjadi perdarahan, dokter baru menyatakan adanya tumor di rahang Josua. Sementara ayah korban, Yanto Situmorang, mengaku pihaknya mendapatkan pelayanan yang buruk dari RS Fatmawati.

Keluarga korban sempat tidak dilayani dan disuruh pulang karena tidak bawa uang. Padahal korban sudah sedemikian parah.

a.

Hasil analisis berdasarkan Undang Undang Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran terdapat beberapa pelanggaran sebagai berikut : Tindakan medis yang dilakukan. Sehingga keluarga tidak mengerti tindakan dan resiko yang akan terjadi kepada anak mereka.

1.

Pelanggaran pasal 45 UU no. 29 tahun 2004 (Persetujuan Tindakan Kedokteran atau Kedokteran Gigi) dimana dijelaskan bahwa baik dokter maupun dokter gigi dalam melakukan setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi harus mendapat persetujuan. Dan persetujuan ini diberikan oleh pasien setelah mendapatkan penjelasan selengkapnya dari dokter tentang diagnosis, tatacara tindakan medis, tujuan tindakan medis, alternatif tindakan lain serta risikonya, risiko juga komplikasi yang mungkin terjadi dan prognosis penyakit.

Dari

kasus diatas, didapatkan pengakuan dari orang tua korban yang mengatakan tidak mendapat pemberitahuan dari dokter tentang tindakan dan risiko-risikonya serta tidak pernah ada persetujuan secara tertulis tentang t

Pelanggaran pasal 52 UU no. 29 tahun 2004 (Hak dan Kewajiban Pasien) dimana dalam pasal ini pasien memiliki hak untuk mendapatkan penjelasan yang selengkapnya tentang tindakan medis yang akan dilakukan serta berhak mendapatkan pelayanan medis sesuai dengan kebutuhan. kesehatan sesuai kebutuhan.

Dari kasus diatas, terdapat keluhan keluarga korban yang mengaku sempat tidak dilayani dan disuruh pulang karena tidak membawa uang, padahal anaknya dalam keadaan yang parah, maka kami menyimpulkan ini salah satu bentuk pelanggaran terhadap pelayanan

Pelanggaran pasal 51 UU no. 29 tahun 2004 (Hak dan Kewajiban Dokter) dimana dalam pasal dijelaskan bahwa dokter memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien.

Kami menilai bahwa drg. Didi tidak melakukan pemeriksaan yang lengkap dan diagnosa yang tidak benar serta langsung melakukan tindakan. Setelah terjadi perdarahan baru diketahui adanya tumor pada rahang joshua. tumor yang tidak dikenal merupakan salah satu faktor pencetus untuk terjadinya perdarahan pasca ekstraksi gigi. Seharusnya dicari penyebab jika ada keluhan pembengkakan pada rahang dan pipi.

Berdasarkan pasal 66 UU no. 29 tahun 2004, pelanggaran tersebut dapat dilaporkan secara tertulis kepada MKDKI dan berdasarkan pasal 69 UU no. 29 akan diputuskan bersalah atau tidak.

Jika terbukti bersalah maka sesuai pasal 69 akan dijatuhkan sanksi berupa pemberian peringatan tertulis, rekomendasi pencabutan surat tanda registrasi atau surat izin praktik dan atau kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi.

Kasus diatas merupakan pelanggaran terhadap pasal 359 KUHP ; Barangsiapa karena kelalaiannya menyebabkan matinya orang lain diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun atau pidana kurungan paling lama 1 tahun.

Tindakan medis yang dilakukan

tanpa informed consent secara hukum menyalahi syarat pertama perjanjian perdata pada pasal 1320 KUHPer yaitu adanya sepakat mereka yang mengikatkan dirinya.

Pasal 1365 KUHPer ;Tiap perbuatan

melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada seorang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut.

Pasal 1366 KUHPer ;Setiap orang

bertanggung jawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan karena kelalaian atau kurang hati-hatinya

Pasal 1367 KUHPer ;Seseorang tidak saja bertanggung jawab untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatannya sendiri, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatan orang-orang yang menjadi tanggungannya, atau disebabkan oleh barangbarang yang berada di bawah pengawasannya. atas dasar pasal di atas ada hubungan antara Drg. Didi Alamsyah dengan Rumah Sakit Fatmawati (Rumah Sakit Pemerintah) maka doktrin Vicarious Liability atau Respondeat Superior dapat diterapkan dalam kasus ini. Dengan demikian pihak Rumah Sakit Fatmawati juga harus bertanggung jawab secara perdata pada kasus ini sebagai turut tergugat.

Undang undang Republik Indonesia nomor 8 TAHUN 1999 tentang perlindungan konsumen : Pasal 4, Hak konsumen adalah :

A.Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsu msi barang dan/atau jasa;

B.Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jamina n barang dan/atau jasa; C. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau j asa yang digunakan;

D.Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan; E.Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;

F.

hak untuk mendapatkan kompensasi, n ganti rugi dan/atau penggantian, apab ila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;

Hubungan dokter gigi dan pasien merupakan suatu bentuk khusus hubungan antar manusia yang mempunyai landasan moral yang didasarkan pada kepercayaan pasien terhadap dokter gigi dan hak akan informasi dan pembinaan serta hak mendapat kompensasi atau ganti rugi karena tanpa adanya kepercayaan dan hak perlindungan pasien maka suatu proses penyembuhan tidak akan berjalan secara efisien.

Sebagai suatu perjanjian, transaksi terapeutik dokter gigi dan pasien tunduk kepada pengaturan pada Buku III Kitab Undang-Undang Hukum Perdata khususnya pasal 1319 KUHPer serta pasal 1320 KUHPer mengenai sahnya suatu perjanjian. Dan undang-undang nomor 8 thn 1999 tentang perlindungan konsumen yang harus memenuhi syarat (sepakat, cakap membuat suatu perikatan, suatu hal tertentu dan sebab yang halal).

Dalam hubungan yang terjadi antara dokter gigi dan pasien terdapat suatu hak dan kewajiban yang timbal balik, dimana dokter gigi harus melaksanakan kewajiban dan menghormati hak pasien akan informasi tentang penyakitnya serta hak didengar pendapat dan kelujhanya. Sebaliknya pasien juga harus melaksanakan kewajiban dan menghormati hak dokter. Ketentuan tentang hak dan kewajiban pasien dan dokter/dokter gigi telah diatur dalam pasal 50-53 UndangUndang Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.

I.

1)

Persetujuan Tindakan Kedokteran atau Kedokteran Gigi menurut Pasal 45 UUno.29tahun2004tentangPraktekKedok teran Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan.

2)

3) a. b. c. d.

Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah pasien mendapat penjelasan secara lengkap. Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya mencakup: diagnosis dan tata cara tindakan medis tujuan tindakan medis yang dilakukan alternatif tindakan lain dan risikonya risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi; dane. prognosis terhadap tindakan yang dilakukan.

4)

5)

6)

Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan baik secara tertulis maupun lisan. Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang mengandung risiko tinggi harus diberikan dengan persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan. Ketentuan mengenai tata cara persetujuan tindakan kedokteran atau kedokteran gigi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) diatur dengan Peraturan Menteri.