Anda di halaman 1dari 5

Menghindari Konflik Pohon dan Bangunan

Di kota-kota besar seperti Jakarta, penggunaan lahan untuk area hijau sangat bersaing ketat dengan penyediaan lahan untuk bangunan dan insfrasturktur. Sering kali area hijau yang harus mengalah dan pohon-pohon ditebang, serta hanya menggunakan area sempit yang tersisa untuk ditanam dengan aneka jenis tanaman. Dengan penanaman ala kadarnya, sering kali membuat pertumbuhan pohon menjadi sangat buruk. Bahkan, tanpa memperhitungkan kebutuhan area pada saat pohon dewasa, saat sudah terlihat sangat besar dan membahayakan bangunan yang ada di dekatnya, pohon tersebut terpaksa ditebang atau dimatikan. Banyak hal yang menyebabkan sebuah pohon harus ditebang, yaitu ketika keberadaan pohon bertepatan dengan rencana pengembangan insfrasturktur atau bangunan, efek dari proses pengerjaan tanah di dekatnya yang mengakibatkan lingkungan dan kondisi tanah menjadi tidak baik untuk pertumbuhan pohon, hingga ketidaktahuan pihak yang berkepentingan (perencana pembangunan, arsitek, arsitek lanskap, pemilik lahan serta pihak lainnya) mengenai pengetahuan pertumbuhan dan fisilogi tanaman, khususnya bagian akar pohon. Keharusan pengadaan area hijau untuk ditanam pohon menyebabkan mereka menanam pohon di sembarang tempat tanpa menyadari apakah pohon tersebut dapat hidup dengan baik atau tidak. Salah satu jalan keluarnya adalah dengan menambah pengetahuan dasar terhadap pertumbuhan dan perkembangan pohon. Dengan mengetahui bagaimana pohon itu tumbuh, kita dapat mengetahui apa saja keperluan dan seberapa luas area yang diperlukan untuk dapat meminimalkan konflik antara pohon dan bangunan di kemudian hari. Selain itu, dengan penanaman yang efektif dan efisien juga dapat menghemat biaya dan waktu secara keseluruhan.

Pengetahuan Dasar Pertumbuhan Pohon


Konflik yang sering terjadi adalah pertumbuhan akar tanaman yang merusak pondasi atau infrastruktur yang ada di dekatnya. Perencana area umumnya tidak memprediksikan seberapa besar perkembangan dari penggunaan satu jenis pohon tertentu dan berapa luas area yang harus disediakan. Hal ini akan menjadi sebuah kesalahan awal dalam suatu perencanaan disain. Dalam ilmu fisiologi pohon, hal pertama yang harus diketahui adalah fungsi akar pada sebuah pohon. Sebuah akar akan memegang peranan penting sebagai tempat penerima dan jalur masuknya berbagai mineral penting serta air dari tanah ke pohon. Selain itu, dapat berfungsi sebagai penyeimbang dan penegak pohon, tempat endapan karbon akibat bagian akar yang mati atau busuk saat proses pertumbuhan, serta sebagai tempat penyimpanan karbohidrat yang dihasilkan dari proses fotosintesis, atau yang biasa dikenal dengan umbi akar. Jadi, jika akar tidak tumbuh dengan baik, pertumbuhan

pohon akan terganggu, baik secara fisiologi maupun terhadap metabolismenya, dan jika sudah terlalu parah, nantinya dapat menyebabkan kematian pada pohon itu sendiri. Fakta yang umumnya dipercaya dalam penanaman pohon adalah menyediakan lahan dengan kedalaman tanah 2 meter saja tanpa memperhitungkan luasan area, dianggap telah cukup untuk menanam sebuah pohon. Tetapi sebenarnya itu adalah anggapan yang salah. Jika mengamati sebuah pohon tumbang, akan terlihat bahwa dengan kedalaman akar kurang dari 50 cm, pohon akan mempunyai penyebaran akar hampir mencapai atau bahkan melebihi tajuk pohon. Berdasarkan pengamatan tersebut, fakta yang sebenarnya adalah diameter pertumbuhan dan penyebaran akar dapat mencapai 2-3 kali tinggi pohon dan dapat melebihi lebar kanopi/tajuknya. Hal tersebut terjadi karena sebagian besar penyebaran akar akan mengarah ke samping, sejajar dengan permukaan tanah. Untuk penetrasi akar ke dalam tanah juga penting untuk diperhatikan. Kedalaman yang umumnya terjadi adalah berkisar 1-2 meter, tergantung dari kedalaman ketersediaan sumber air dalam tanah dan jenis tanamannya. Dalam kasus-kasus tertentu, kedalaman akar dapat mencapai 4-5 meter ke dalam tanah. Umumnya hal ini terjadi pada daerah kering tetapi kondisi ini sangatlah jarang ditemukan. Dengan melihat pertumbuhan akar yang menuju ke dalam tanah maupun yang menyebar ke samping akan membentuk pola pertumbuhan akar secara utuh. Pola akar ini akan berkembang sejalan dengan umur tanaman. Semakin bertambah dewasa, pola akar akan berubah menjadi lebih besar dan semakin kokoh. Pengetahuan akan pola akar ini akan mempengaruhi luas area yang diperlukan untuk menanam suatu jenis pohon. Setelah melihat keperluasan luas area, langkah berikutnya adalah melihat kualitas tanah yang ada. Dilihat dari buruknya kondisi tanah di perkotaan, membuat akar pohon harus beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya. Tetapi seperti apakah kondisi tanah perkotaan yang ideal untuk pertumbuhan tanaman? Ada beberapa kriteria ideal dari tanah yang baik untuk penanaman, yaitu: densitas tanah < 1,7g/cc, konsentrasi oksigen di dalam tanah > 15%, kelembaban tanah berkisar 0,03-0,2 Mpa, temperatur antara 10-30C, pH tanah 5,5 -6,5, kandungan karbondioksida < 5%, kandungan garam < 200ppm, dan kandungan tanah liat < 15%. Untuk mengetahui kondisi tanah yang ada diperlukan sebuah analisis tanah oleh lembaga khusus agar lebih akurat. Jika tanah tidak ideal, pohon akan merespon dan akan mempengaruhi pertumbuhannya. Jika hal ini berlangsung lama, akan berefek buruk pada metabolisme dan fisiologi pohon, baik pada pertumbuhan akar hingga proses fotosintesis. Akibat dari tanah yang padat akan memperburuk aerasi udara dalam tanah. Selain persediaan oksiden akan kurang dari 15%, tanah akan cenderung susah untuk ditembus sehingga mengganggu sistem perakarannya. Hal ini umumnya dapat meningkatkan level keasaman tanah. Lalu, akan terjadi peningkatan suhu dalam tanah. Jika temperatur lebih dari 35C, akar akan mati. Suhu maksimum untuk pertumbuhan akar adalah berkisar 25-30C dan minimum 0-7C. Selain itu tanah yang terlalu basah atau kering juga akan menghambat

penyerapan mineral pada akar. Hal ini akan menyebabkan pohon akan kekurangan nitrogen dan mineral penting lainnya untuk pertumbuhannya. Tingkat adaptasi pohon terhadap kondisi tanah yang tidak ideal ini akan bermacam-macam.

Kesesuaian Tanaman dengan Kondisi Area


Setelah mengetahui kondisi tanah yang akan ditanam, langkah selanjutnya adalah menganalisis area dengan keberadaan bangunan dan utilitas yang ada. Untuk melakukan proses ini, diperlukan survei yang jelas dan akurat yang mencakup data letak bangunan dan utilitas baik yang terlihat di atas permukaan atau dibawah permukaan tanah. Untuk utilitas yang ada didalam tanah, diperlukan peta yang akurat mengenai lokasi dari sistem yang ada, dimana lokasi masuk dan keluar dalam suatu lahan hingga seberapa dalam keberadaannya. Untuk bangunan yang ada diatas permukaan tanah, perlu diukur jberapa tinggi dan lebar area yang ternaungi, area yang mempunyai sistem infrastruktur bawah tanah serta bagaimanakah arah sinar matahari sepanjang hari. Selain itu juga perlu dilihat area dibawah tiang listrik dan area yang bersisian dengan jalan raya. Dengan data yang ada, dapat terlihat seperti apa area yang dipersiapkan untuk penanaman sebuah pohon, apakah memang sesuai untuk penanaman pohon atau tidak, pohon seperti apa yang akan ditanam dan perlakuan khusus seperti apa yang perlu dilakukan untuk jenis tanaman tertentu. Contohnya adalah untuk area dibawah tiang listrik, jika lebar area mencukupi, pilihlah jenis pohon kecil yang tidak terlalu tinggi. Yang perlu diingat adalah jangan merencanakan penanaman pohon jika area tersebut terdapat utilitas bawah tanah yang relatif dangkal. Selain itu, sebelum penanaman dilakukan, perlu dilakukan pengolahan tanah agar mempunyai kesuburan yang baik. Selain mencukupi ketersediaan mineral penting untuk pertumbuhan, perbaikan aerasi tanah untuk mengatur kandungan oksigen dan carbondioksida, juga perlu memikirkan kecukupan air dengan memberikan saluran irigasi yang baik. Hal ini dilakukan agar dalam pertumbuhannya akar tidak terlalu menyebar hingga menjangkau lokasi bangunan yang terdekat. Jika ketersediaan lahan sangat minim, untuk mengkontrol sebaran pertumbuhan akar, dapat menggunakan alat penahan akar. Yang perlu diingat adalah dalam aplikasinya, jangan letakkan pembatas akar ini langsung berdekatan dengan dinding sebuah bangunan. Sisakan sedikit area kosong (setidaknya 1 meter) untuk menjadi area transisi antara pohon dan dinding bangunan. Satu lagi yang perlu dingat, jangan mengandalkan penghalang pertumbuhan akar sebagai jalan keluar satu-satunya. Keberadaan alat ini hanya akan efektif pada awal-awal tahun pertumbuhan pohon di tempat tertentu. Sejalannya pertumbuhan akar yang akan semakin banyak dan luas, alat tersebut menjadi tidak sangat efektif untuk digunakan.

Teknik Penanaman dan Pengelolaan Pohon yang Tepat


Saat akar tumbuh, tanah akan retak dan membuat celah agar akar dapat bergerak. Tanah akan menjadi lebih kering terutama jika berada di bagian bawah trotoar atau perkerasan yang tertutup, sehingga lama kelamaan tanah akan menyusut dan tidak stabil. Proses ini lah yang menjadi sebab utama terjadinya perusakan pada struktur bangunan. Keberadaan akar yang tidak terlalu dalam dari permukaan tanah yang ditanami rumput juga menyulitkan dalam proses pemeliharaan rumput. Hal-hal seperti inilah yang perlu diperhatikan agar jangan sampai membuat tingkat kerusakan menjadi lebih parah. Banyak cara yang dapat digunakan untuk menghindari hal tersebut, diantaranya adalah dengan mendisain sebuah area yang aman untuk menanam pohon. Setidaknya lebar area yang disediakan adalah minimum lebar tajuk dewasa pohon yang akan ditanam. Walaupun yang ditanam masih berupa bibit, tetapi dengan menyiapkan luasan area untuk tanaman dewasa akan banyak menghemat kegiatan yang akan dilakukan dikemudian hari.
Zona Akar Kristis / The Critical Root Zone Untuk mensukseskan proses penanaman pohon, dapat dimulai dengan memahami konsep Zona Akar Kritis (CRZ). Zona ini merupakan area minimum penanaman untuk kesehatan pertumbuhan pohon dan sistem perakarannya. Secara umum, pertumbuhan akar pohon dapat mencapai 2 hingga 3 kali dari lebar kanopi pohon. Zona akar kritis umumnya berjarak 1,5 kalinya lebar kanopi pohon. Contohnya jika lebar kanopi sebuah pohon adalah 2 meter maka area zona akar kritis adalah berjarak 3 meter dari batang utama. Idealnya, selama pertumbuhan pohon, jagalah zona ini akar tetap cukup humus, bersih dari sampah, dan tanah tidak terlalu padat. Biasanya kegiatan penyiraman dan pemupukan dilakukan di area ini. Usahakan segala konstruksi bangunan, jalan, area parkir, dan prasarana serta utilitas lainnya dibuat diluar zona akar kritis ini.

Berikutnya adalah menyediakan area transisi yang cukup lebar terutama jika melakukan penanaman di pinggi jalur jalan yang ramai dilalui oleh kendaraan bermotor. Strategi yang baik adalah dengan membuat jalur pejalan kaki sebagai area transisi, dan sisakan setidaknya 1 meter antara pohon dan batas trotoar. Tujuannya adalah untuk menjaga pohon tidak terangkat keatas tanah akibat beratnya kendaraan yang lalu lalang dan kurang baiknya penyelesaian penimbunan tanah pada proses penanaman pohon. Dari berbagai sumber, jarak yang aman untuk penanaman pohon dan bangunan/infrastruktur relatif berkisar dari 2,5 meter hingga 20 meter tergantung dari jenis tanamannya. Untuk mengatasi penyusutan tanah, perlu dilakukan test terhadap kandungan liat pada area tersebut. Jika kandungannya lebih dari 15%, perlu diwaspadai dalam melakukan penanaman pohon maupun membuat pondasi bangunan. Satu-satunya yang dapat dilakukan adalah mengatur jarak yang aman maksimum untuk penanaman pohon, atau membuat pondasi bangunan lebih dalam dari biasanya. Pohon yang digunakan adalah jenis pohon kecil hingga sedang dengan tingkat kesuburan yang tinggi. Hindari penggunaan jenis pohon yang besar dan mempunyai sebaran akar pohon yang luas. Dalam proses penggalian tanah untuk daerah di dekat pohon, hindari menggunakan mesin penggali tanah atau mesin besar lainnya. Lakukan penggalian dengan tangan dan cangkul agar tidak merusak akar yang ada. Walaupun ada beberapa

tolesansi dari pemangkasan akar, seberapa banyak bagian yang dapat dipangkas akan sangat tergantung dari jenis spesies pohon, umur, kondisi fisiologi, tingkat kesuburan dan tingkat perawatan setelah dilakukan pemangkasan akar. Sebagai panduan, di nurseri, akar tanaman dapat dipangkas hingga 75% tetapi setelah itu dilakukan pemeliharaan yang khusus dan intensif. Untuk tanaman yang telah dewasa, umumnya tingkat toleransi pemangkasan akar hanya berkisar 5-10%. Untuk jenis tertentu yang mempunyai daya tumbuh yang baik, dapat bertahan mulai 30% tanpa terlihat dampak pada tajuk tanaman hingga 50% pemangkasan akar tanpa pohon terlihat sengsara. Dampak yang jelas terlihat adalah tanaman akan menjadi tidak seimbang dan tidak stabil di dalam tanah. Oleh karena itu, umumnya untuk pohon yang baru ditanam, biasanya diberikan tiang penyangga pada 1-2 tahun awal pertumbuhannya di tempat yang baru. Selain itu, perlu adanya kerjasama antara perencana dan kontraktor untuk dapat berkomukasi dengan jelas sejauh apa disain berdampak pada pertumbuhan pohon disekitarnya atau seperti apa disain dan rencana penanaman yang akan dilakukan. Tujuannya adalah untuk menghindari kesalahan dalam teknik pelaksanaan pembangunan dan penanaman dan untuk menghindari dari efek buruk dari pengerjaan pembangunan ke area di sekitarnya, serta untuk memonitor kegiatan yang sudah dilakukan. Ada baiknya untuk menggunakan jasa arboriculturist untuk memberikan rekomendasi apa yang harus dilakukan jika berhubungan dengan rencana disain dan pohon serta bagaimana untuk pengelolaan selanjutnya.

Dari sedikit penjabaran diatas, setidaknya dapat memberikan gambaran apa saja yang harus diketahui untuk mengatasi konflik yang sering terjadi antara pohon dan bangunan. Dengan melakukan hal yang benar dari awal, setidaknya kita dapat meminimalkan efek buruk yang dapat merugikan di kemudian hari. Mari sayangi pohon di sekitar kita.