Anda di halaman 1dari 5

TETES MATA HISOSNIKOL IN PROCESS CONTROL (IPC)

Bahan awal (Bahan Baku) Persediaan (dispensing) Penimbangan Saksi Penentuan jumlah tetes mata yang diperoleh Sampling: Pemeriksaan fisik pH Bobot Jenis Homogenitas Sterilitas Isotonisitas Penetapan Kadar Stabilitas

Pencampuran Homogenizer Produk Ruahan

Pengisian

Produk jadi Kesesuaian cetakan primer (No. Batch, Exp Date, dll), sekunder, tersier Kesesuaian isi Box

Keseragaman volume Penetapan Kadar Produk Jadi Kebocoran wadah Jumlah botol yang diperoleh

Packaging

Karantina

1. Penentuan pH Penentuan pH, penting dilakukan pada sediaan akhir karena berhubungan dengan stabilitas zat aktif. Pengukuran dilakukan menggunakan pH meter. pH netral yaitu pH 7,4.

2. Penentuan Bobot Jenis Penentuan BJ (bobot jenis) digunakan hanya untuk cairan berdasarkan pada perbandingan bobot zat di udara pada suhu 25C terhadap bobot air dengan volume dan suhu yang sama. Caranya : Gunakan piknometer bersih, kering dan telah dikalibrasi dengan menetapkan bobot piknometer dan bobot air yang baru dididihkan, pada suhu 25C. Atur hingga suhu zat uji lebih kurang 20C, masukkan ke dalam piknometer. Atur suhu piknometer yang telah diisi hingga suhu 25C, buang kelebihan zat uji dan timbang. Kurangkan bobot piknometer kosong dari bobot piknometer yang telah diisi. Bobot jenis zat uji adalah hasil yang diperoleh dengan membagi bobot zat uji dengan bobot air, dalam piknometer.

3. Penentuan Isotonisitas Besar tekanan osmotik adalah 0,650,8 MPa (6,5-8 atmosfer), penurunan titik bekunya terhadap air 0,52K, atau konsentrasinya sesuai dengan natrium klorida 0,9% dalam air, atau nilai osmolaritasnya antara 270-328. Sediaan yang digunakan sebisa mungkin dibuat isotonis dengan cairan tubuh agar tidak menimbulkan rasa pedih ketika digunakan. Osmolaritas dapat ditentukan dengan alat Osmometer.

4. Penentuan Sterilitas

Uji sterilitas dilakukan terhadap produk atau bahan yang sebelumnya telah mengalami proses pensterilan. Hasilnya membuktikan bahwa prosedur sterilisasi dapat diulang secara efektif. Uji ini dilakukan terhadap sampel yang dipilih untuk mewakili keseluruhan bagian bahan tersebut. Sampel dapat diambil dari kemasan atau wadah akhir suatu produk atau sebagai bagian dari tangki bulk cairan atau dari bahan bulk lainnya. Pengujian dilakukan secara mikrobiologis dengan menggunakan medium

pertumbuhan tertentu. Produk dikatakan bebas mikroorgnisme bila Sterility Assurance

Level (SAL)=10-6 atau 12 log reduction (over kill sterilization). Bila proses pembuatan produk menggunakan teknik aseptik (aseptic processing), maka SAL = 10-4. Prosedur : Untuk larutan dengan isi wadah 10kurang dari 50 ml, volume sampel minimal yang diambil dari setiap wadah adalah 5 ml, volume minimum tiap media 40 ml, dan jumlah wadah per media adalah 20. Pindahkan cairan dari wadah uji menggunakan pipet atau jarum suntik steril. Secara aseptik inokulasikan sejumlah tertentu bahan dari tiap wadah uji ke dalam tabung media. Campuran cairan dengan media tanpa aerasi berlebihan. Inkubasi dalam media tertentu (Media Tioglikolat Cair dan Soybean-Casein Digest Medium), selama tidak kurang dari 14 hari. Amati pertumbuhan pada media secara visual sesering mungkin sekurang-kurangnya pada hari ke-3 atau ke-4 atau ke-5, pada hari ke-7 atau ke-8 dan pada hari terakhir pada masa uji. Jika zat uji menyebabkan media menjadi keruh sehingga ada atau tidaknya pertumbuhan mikroba tidak segera dapat ditentukan secara visual, pindahkan sejumlah memadai media ke dalam tabung baru berisi media yang sama, sekurangkurangnya satu kali diantara hari ke-3 dan ke-7 sejak pengujian dimulai. Lanjutkan inkubasi media awal dan media baru selama total waktu tidak kurang dari 14 hari sejak inokulasi awal. Persyaratan : Penafsiran hasil uji sterilitas dapat disimpulkan dari dua tahap pengujian :
- Tahap Pertama

Pada interval waktu tertentu dan pada akhir periode inkubasi, amati semua isi wadah akan adanya pertumbuhan mikroba seperti kekeruhan dan/atau pertumbuhan pada permukaan. Jika tidak terjadi pertumbuhan maka bahan uji memenuhi syarat. Jika ditemukan pertumbuhan mikroba, tetapi peninjauan dalam pemantauan fasilitas pengujian sterilitas, bahan yang digunakan, prosedur pengujian dan kontrol negatif menunjukkan tidak memadai atau teknik aseptik yang salah digunakan dalam pengujian, tahap pertama dinyatakan tidak absah dan dapat diulang. Jika pertumbuhan mikroba teramati tetapi tidak terbukti uji tahap pertama tidak absah, lakukan uji tahap kedua. - Tahap Kedua

Jumlah spesimen uji yang diseleksi minimum dua kali jumlah yang digunakan pada uji tahap pertama. Volume minimum tiap spesimen yang diuji dan media dan periode inkubasi sama seperti pada uji tahap pertama. Jika tidak ditemukan pertumbuhan mikroba maka bahan yang diuji memenuhi syarat. Jika ditemukan pertumbuhan maka hasil yang diperoleh membuktikan bahwa bahan uji tidak memenuhi syarat. Jika dapat dibuktikan bahwa uji pada tahap kedua tidak absah karena kesalahan atau teknik aseptik yang kurang memadai, maka tahap kedua dapat diulang.

5. Homogenitas NaCl Timbang seksama 250 mg, larutkan dalam 50 ml air, titrasi dengan perak nitrat 0,1 N menggunakan indikator larutan kalium kromat P. Benzalkonium klorida Timbang seksama setara dengan lebih kurang 500 mg benzalkonium klorida anhidrat dan masukkan dengan bantuan 35 ml air ke dalam corong pisah 250 ml bersumbat kaca yang berisi 25 ml kloroform P. Tambahkan 10,0 ml larutan kalium iodida P (1 dalam 20) yang dibuat segar, kocok dan biarkan memisah, buang lapisan kloroform. Cuci lapisan air 3 kali, tiap kali dengan 10 ml kloroform P dan buang lapisan kloroform. Masukkan lapisan air ke dalam Erlenmeyer 250 ml bersumbat kaca dan bilas corong pisah 3 kali, tiap kali dengan 5 ml air. Tambahkan 40 ml asam klorida P dingin ke dalam labu, campur dan titrasi dengan kalium iodat 0,05 M LV hingga larutan berwarna coklat muda. Tambahkan 5 ml kloroform P ke dalam labu dan kocok kuat. Lanjutkan titrasi tetes demi tetes, kocok tiap kali penambahan hingga lapisan kloroform menjadi tidak berwarna dan lapisan air menjadi kuning terang. Lakukan penetapan blangko, menggunakan 20 ml air. Perbedaan antara dua titrasi menyatakan jumlah kalium iodat yang setara bobot benzalkonium klorida yang digunakan. 1 ml kalium iodat 0,05 M setara dengan 36,0 mg benzalkonium klorida

6. Uji stabilitas Stabilitas adalah kemampuan suatu produk farmasi untuk mempertahankan sifat kimia, fisika, mikrobiologi, terapi, dan toksikologi dalam batas yang ditetapkan

sepanjang periode penyimpanan dan penggunaannya. Tujuan uji stabilitas adalah untuk memperoleh informasi yang diperlukan untuk menentukan masa edar produk farmasi dalam wadah aslinya dan untuk menentukan kondisi penyimpanan. Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk uji stabilitas ini, yaitu :

1. Uji stabilitas dipercepat Pengujian mutu produk pada uji stabilitas dipercepat biasanya dilakukan dalam 5 tahap yaitu pada 0, 1, 2, 3, dan 6 bulan. Temperatur uji adalah 40C ( 2C) dan kelembaban adalah 75 % ( 5%). Dengan cara pengujian stabilitas dipercepat, laju penguraian obat dapat diperkirakan dan stabilitas produk dapat diramalkan untuk kondisi penyimpanan tertentu, yakni 15C diatas suhu penyimpanan jangka panjang dengan kelembaban yang sesuai. Pengujian stabilitas dipercepat ini meliputi : a. Keseragaman kadar b. Uji mikrobiologi c. Identifikasi zat aktif

2. Uji stabilitas jangka panjang Merupakan percobaan yang dilakukan terhadap karakteristik fisika, kimia, biologi, biofarmasi, dan mikrobiologi suatu obat, selama masa edar dan periode penyimpanan yang diharapkan atau lebih, pada kondisi penyimpanan sesuai dengan kondisi penyimpanan obat sebenarnya di pasaran. Hasil yang diperoleh digunakan untuk menetapkan masa edar, membuktikan hasil proyeksi masa edar, dan untuk menentukan kondisi penyimpanan yang dianjurkan. Lamanya pemeriksaan biasanya 2-3 tahun yang frekuensinya dibagi dalam 5 atau 6 tahap, yaitu untuk yang 2 tahun adalah 0, 3, 6, 12, dan 24 bulan sedangkan untuk yang 3 tahun adalah 0, 6, 12, 18, 24, dan 36 bulan. Temperatur uji adalah 300 20C. Kelembaban adalah 70% 5%. Jumlah sampel yang diperiksa adalah 3 bets.