Anda di halaman 1dari 5

Tugas: Kep. Medikal Bedah III Dosen: Damaris, S.Kep.

,Ns

KANDILOMA AKUMINATA

Disusun oleh :
Nama : Syamsudin Kls : A/ VI Keperawatan NPM : PK 115 08 069

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN STIK-IJ PALU 2011

KONDILOMA AKUMINATA-KUTIL KELAMIN A. Pengkajian 1. 2. Riwayat Pernah kontak seksual dengan orang yang terinfeksi : multiple dan Daerah Anogenital Condylomata (kutil) : kutil ganda atau tunggal, berwarna

patner sex yang tidak diketahui. merah muda kecoklatan, lesi yang lama, selalu berkelompok kadang terdapat massa yang luas dan tanpa nyeri yang berlebihan. 2. Diagnosa 1. Potensial infeksi (pasien kontak) b.d adanya kuman patogen pada luka atau sekresi /eksudat dari serviks, uretra, mata, faring, atau anus. DS : Riwayat kurang terlindungnya aktifitas seksual atau STD. DO : Tes laboratorium, ada eksudat positif mengandung patogen. Tes serologi; positif mengandung antibodi.ditemukan lesi nonulserasi. lesi yang tidak bernanah (molluscum, condylomata (kutil)). 2. Potensial infeksi (pasien komplikasi) b.d perluasan atau penyebaran dari

penyakit jika tidak di obati secara adekuat. DS : Ada riwayat gonarrhea, clamydia, sifilis, LV, condylomata, chancroid. DO : Mengalami kerusakan jaringanakibat pengobatan yang salah dan atau pengobatan yang tidak adekuat. 3. Kurang pengetahuan b.d kurang terpapar terhadap informasi tentang penyakit

candylomata. DS : Pasien mengatakan ia tidak mengetahui tentang metode pencegahan dan pengobatan yang tepat. DO : Sering bertanya pada perawat tentang penyakitnya.

3. Perencanaan Goal: 1) Pasien tidak menularkan infeksi kepada orang lain, dan tidak kambuh setelah pengobatan. 2) Pasien bebas infeksi sebelum infeksi tersebut meluas atau menyebar. 3) Pasien akan meningkatkan pengetahuan yang cukup tentang candylomata (penyebab dan pengobatannya). 4. Implementasi Diagnosa I. Intervensi dan rasional : 1. Ambil spesimen untuk lab. Darah dan serum sifilis, herpes, atau clamydia.v R/ Untuk menentukan diagnosa dan perawatannya. 2. Gunakan tindakan pencegahan secara umum ketika mengambil spesimen dan selama pemeriksaan pasien.v R/ Terdapat infeksi pada lesi dan eksudat pada mukosa membran. 3. Amati dan perhatikan selama kontak dengan pasien.v R/ Untuk mencegah reinfeksi pasien. 4. Periksa serum pada wanita hamil untuk sifilis, paling sedikit satuv kali selama kehamilan, pemeriksaan pada trimester III dan sekali lagi (tes darah ibu), beri anti infeksi sesuai order. R/ Sifilis ditransmisikan ke fetus. Perawatan yang adekuat pada ibu sebelum 15 minggu, untuk mencegah akan adanya bahaya pada fetus, dan bayi baru lahir dapat terinfeksi dari ibunya.

5.

Periksa kembali dan rawat wanita hamil dengan riwayat STDs sebelum melahirkan. Beri profilaksis untuk mata.v R/ Untuk mencegah transmisi selama hamil.

Diagnosa II. Intervensi dan rasional : 1. Beri anti infeksi sesuai order.v R/ Pemberian obat bisa mencegah komplikasi dan transmisi STDs. 2. Dukung pasien untuk mulai melaksanakan/mengikuti anjuran perawat.v R/ Untuk memastikan pengobatannya. 3. Monitor penurunan daya imun pasienyang mempunyai gejala munculnya infeksi.v R/ Penurunan daya tahan imun dapat mempengaruhi timbulnya infeksi serius yang sistemik. 4. Monitor suhu tubuh dan gejala-gejala menyebarnya infeksi.v R/ Deteksi dini adanya infeksi dan perawatan dengan pemberian agen anti infeksi dapat mencegah penyebaran patogen, beberapa penyakit, dan masalah keperawatan. 5. Monitor tanda-tanda munculnya infeksi sekunder.v R/ Untuk mempersiapkan pengobatan yang dibutuhkan sehingga mendukung penyembuhannya. (tidak terjadi infeksi lagi). Diagnosa III. Intervensi dan rasional : Sesuai pendidikan pasien.

5. Evaluasi a. Setelah pengobatan infeksi tidak tertular pada orang lain, pasien tidak kambuh lagi setelah mendapat pengobatan. Data indikasi : Pasien membatasi kontak langsung dengan orang lain. b. Tidak ada tanda-tanda peradangan : tidak ditemukan tanda-tanda infeksi sekunder : CSF normal. c. Pasien memiliki pengetahuan tentang cara pencegahan infeksi sebelum perluasan atau penyebaran virus : pasien dapat mengetahui tentang cara pengobatan dan tujuan dari penggunaan antiinfeksi dalam jangka waktu yang dibutuhkan.