Anda di halaman 1dari 10

Metode kajian sosiologis

Pendahuluan
Pada tingkat perkembangan peradaban ilmu (hukum) seperti sekarang ini, mulai berkembang dengan pesatnya suatu cabang (disiplin) hukum yang secara sistematis dan intensif melakukan kajian terhadap aspek - aspek sosial (dari) hukum, yang kemudian lebih dikenal dengan studi hukum dan masyarakat. Di satu sisi, perkembangan yang demikian lebih terlatarbelakangi oleh suatu kebutuhan dimana hukum lebih dipandang dapat menjalankan fungsi - fungsinya sebagai perekayasa sosial, yang dengan demikian ia membutuhkan kehadiran ilmu ilmu dasarnya seperti antropologi, psikologi, dan khususnya sosiologi. Dari sisi yang lain, secara historis, pemanfaatan hukum untuk lebih efektif menyelesaikan masalah - masalah sosial dikembangkan dalam perkembangannya dalam kerangka ajaran Sociological Jurisprudence, yang dalam perkembangannya dalam rangka kajian sociology of law dimanfaatkan untuk menganalisis dan memberikan jawaban untuk mengefektifkan berkerjanya seluruh struktur instutisional hukum. Berpijak pada keadaan yang demikian, maka hukum pun kemudian dikonsepkan secara sosiologis sebagai suatu gejala empiris yang dapat diamati didalam kehidupan. Hukum tidak lagi dikonsepkan secara filosofis moralistis sebagai ius contituendum (law as what ought to be), dan tidak pula secara positivistis sebagai ius constitutum (law what it is in the book), melainkan secara empiris sebagai ius operatum (law as what it is in society).

1. Penelitian terhadap identifikasi Hukum (Hukum tidak tertulis)


Pengertian terhadap identifikasi hukum (hukum tidak tertulis), dimaksudkan untuk mengetahui hukum yang tidak tertuls berdasarkan hukum yang berlaku dalam masyarakat. Hukum tidak tertulis dalam system hukum di Indonesia, yaitu hukum adat dan hukum islam. Sebagai contoh dapat disebut hukum pidana adat, hukum pidana islam, hukum waris adat dan waris islam, hukum tata Negara dalam hukum islam, dan sebagainya. Dalam penelitian tersebut, peneliti harus berhadapan dengan warga masyarakat yang menjadi objek penelitian sehingga banyak peraturan - peraturan yang tidak tertulis berlaku dalam masyarakat. Contoh Salah satu peraturan yang tidak tertulis tersebut; yakni pada orang islam yang berkewajiban mengeluarkan zakat, ia memberikan langsung uang zakatnya kepada orang yang dianggap berhak menerima zakat menurut karakteristik hukum islam. Akibatnya, uang zakat itu adalah mengurangi kemiskinan atau mampu memberdayakan

orang miskin menjadi orang yang berkecukupan yang pada akhirnya akan mampu mengeluarkan zakat.

2. Penelitian terhadap efektivitas Hukum


Penelitian terhadap efektivitas hukum merupakan penelitian yang membahas bagaimana hukum beroperasi dalam masyarakat, penelitian ini sangat relevan di Negara - Negara berkembang seperti Indonesia, penelitian ini mensyaratkan penelitinya disamping mengetahui ilmu hukum juga mengetahui ilmu sosial, dan memiliki pengetahuan dalam penelitian ilmu sosial (social science research). Faktor - faktor yang dapat mempengaruhi hukum itu berfungsi dalam masyarakat; A. B. C. D. Kaidah hukum /peraturan itu sendiri; Petugas /penegak hukum; Sarana atau fasilitas yang digunakan oleh penegak hukum; Kesadaran masyarakat;

A. Kaidah hukum Di dalam teori - teori hukum, dapat dibedakan antara tiga macam hal mengenai berlakunya hukum sebagai kaidah. Hal ini, diungkapkan sebagai berikut; 1. Kaidah hukum berlaku secara yuridis, apabila penentuannya didasarkan pada kaidah yang lebih tinggi tingkatannya atau terbentuk atas dasar yang telah ditetapkan. 2. Kaidah hukum berlaku secara sosiologis, apabila kaidah tersebut efektif. Artinya, kaidah tersebut dapat dipaksakan berlakunya oleh penguasa walaupun tidak diterima oleh warga masyarakat (teori kekuasaan), atau kaidah itu berlaku karena adanya pengakuan dari masyarakat. 3. Kaidah hukum berlaku secara filosofis, yaitu sesuai dengan cita hukum sebagai nilai positif yang tinggi. Kalau dikaji secara mendalam, agar hukum itu berfungsi maka setiap kaidah hukum harus memenuhi ketiga macam unsur kaidah di atas, sebab : 1. Apabila kaidah hukum hanya berlaku secara yuridis, maka ada kemungkinan kaidah itu merupakan kaidah mati; 2. Apabila hanya berlaku secara sosiologis dalam arti teori kekuasaan, maka kaidah itu menjadi aturan pemaksa; 3. Apabila hanya berlaku secara filosofis, maka kemungkinannya kaidah itu hanya merupakan hukum yang dicita - citakan (ius constituendum).

Peraturan perundang - undangan yang menjadi komoditas, biasanya kurang memperhatikan isu penegakan hukum. Sepanjang trade off dari pembuatan peraturan perundang - undangan telah didapat maka penegakan bukan hal penting. Bahkan peraturan perundang undangan seperti ini tidak realistis untuk ditegakkan karena dibuat dengan cara mengadopsi langsung peraturan perundang - undangan dari Negara lain yang notabene memiliki infrastruktur hukum yang jauh berbeda dengan Indonesia. Dua alasan di atas mengindikasikan peraturan perundang - undangan sejak awal dilahirkan tanpa ada keinginan kuat untuk dapat ditegakkan dan karenanya hanya memiliki makna simbolik (symbolic meaning).1 B. Penegak Hukum Di Indonesia secara tradisional intitusi hukum yang melakukan penegakan hukum adalah kepolisian, kejaksaan, badan peradilan, dan advokat. Di luar intitusi tersebut masih ada di antaranya, direktorat jenderal Bea Cukai, Direktorat Jenderal Pajak, dan Direktorat Jenderal Imigrasi. Problem dalam penegakan hukum yang dihadapi oleh bangsa Indonesia perlu untuk dipotret dan di petakan. Tujuannya agar para pengambil kebijakan dapat mengupayakan jalan keluar. Penegak hukum atau orang yang bertugas menerapkan hukum mencakup ruang lingkup yang sangat luas, sebab menyangkut petugas pada strata atas, menegah, dan kebawah. Artinya di dalam melaksanakan tugas - tugas penerapan hukum, petugas seyogianya harus memiliki suatu pedoman diantarannya peraturan tertulis tertentu yang mencangkup ruang lingkup tugas tugasnya. Didalam hal penegakan hukum tersebut, kemungkinan penegak hukum menghadapi hal - hal sebagai berikut: a. b. c. d. Sampai sejauh mana petugas terikat dari peraturan - peraturan yang ada. Sampai batas - batas mana petugas berkenaan memberikan kebijakan. Teladan macam apakah yang sebaiknya diberikan oleh petugas kepada masyarakat. Sampai sejauh manakah derajat sinkronisasi penugasan - penugasan yang di berikan kepada para petugas sehingga memberikan batas - batas yang tegas berkenaan wewenangnya.

Contoh: Di ibukota provinsi di Indonesia, misalnya, provinsi DKI jarang sekali mengambil tindakan terhadap pejalan kaki yang seenaknya menyebrang jalan. Jika terjadi kecelakaan lalu lintas, maka ada kecenderungan yang sangat kuat, bahwa pengemudi kendaraan bermotor yang ditindak. Padahal dalam pasal 132 undang - undang Nomor 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan Angkutan jalan raya, peristiwa tersebut diklarifikasi sebagai peristiwa (tindak) pidana pelanggaran,2 yang diatur dalam pasal 284 undang -undang tersebut. Namun, entah mengapa
1

Hikmahanto juwana, Penegakan hukum dalam kajian Law and Development: Problem dan fundamen bagi solusi di Indonesia, pidato Ilmiah, Disampaikan pada acara Dies Natalis Ke-56 Universitas Indonesia Kampus UI Depok, 4 februari 2006. 2 Pasal 132 ayat (1) huruf b dan ayat (2).

petugas lalu lintas di wilayah ini hampir - hampir tidak pernah menerapkan ketentuan ketentuan tersebut, tetapi lebih cenderung untuk menerapkan pasal 359 dan 360 KUHP terhadap pengemudi kendaraan bermotor apabila terjadi kecelakaan bermotor dengan pejalan kaki. Berdasarkan keterangan singkat dari contoh kasus di atas, faktor petugas memainkan peran penting dalam memfungsikan hukum dan/atau menyalahgunakan hukum. Kalau peraturan sudah baik, tetapi kualitas penegak hukum rendah dan/atau tahu tapi tidak mau mengetahui dan memfungsikan hukum maka aka nada masalah. Demikian pula, apabila peraturannya buruk, sedangkan kualitas petugas baik, mungkin pula timbul masalah - masalah hukum.

C. Sarana atau Fasilitas Fasilitas atau sarana amat penting untuk mengefektifkan suatu peraturan perundang undangan tertentu. Ruang lingkup sarana tersebut, terutama sarana fisik, berfungsi sebagai faktor pendukung. Misalnya; bila tidak ada kertas dan karbon yang cukup serta mesin tik yang cukup baik, bagaimana petugas dapat membuat berita acara mengenai suatu kejahatan. Bagaimana posisi polisi dapat bekerja dengan baik, apabila tidak dilengkapi dengan kendaraan dan alat - alat komunikasi yang proporsional. Kalau peralatan tersebut sudah ada, Maka faktor - faktor pemeliharaannya juga memegang peran yang sangat penting. Memang sering terjadi, bahwa suatu peraturansudah difungsikan padahal fasilitasnya belum tersedia lengkap. Peraturan yang semula bertujuan untuk memperlancar proses, namun justru mengakibatkan terjadinya kemacetan. Mungkin ada baiknya ketika hendak menerapkan suatu peraturan secara resmi ataupun memberikan tugas kepada petugas, dipikirkan mengenai fasilitas - fasilitas yang berpatokan kepada; 1. Apa yang sudah ada dipelihara terus agar setiap saat berfungsi. 2. Apa yang belum ada, perlu diadakan dengan memperhitungkan jangka waktu pengadaan-nya. 3. Apa yang kurang perlu dilengkapi. 4. Apa yang telah rusak diperbaiki atau diganti. 5. Apa yang macet, dilancarkan, dan 6. Apa yang telah mundur, ditingkatkan.

D. Kesadaran Hukum Masyarakat Salah satu faktor yang mengefektifkan suatu peraturan adalah warga masyarakat, yaitu berupa kesadaran warga masyarakat untuk mematuhi suatu peraturan perundang - undangan, derajat kepatuhan. Secara sederhana dapat dikatakan, bahwa derajat kepatuhan masyarakat terhadap hukum, merupakan salah satu indicator berfungsinya hukum yang bersangkutan. Contoh; derajat kepatuhan terhadap peraturan rambu - rambu lalu lintas adalah tinggi, maka peraturan lalu lintas tersebut, akan berfungsi mangatur waktu penyeberangan ada persimpangan jalan. Oleh karena itu, bila rambu - rambu lalu lintas warna kunig menyala, maka para pengemudi diharapkan pelan - pelan. Namun sebaliknya, semakin melaju kencang kendaraan yang dikemudikan, semakin besar kemungkinan akan terjadi kecelakaan. Selain masalah di atas, masih ada persoalan lain yaitu adanya suatu asumsi yang menyatakan bahwa semakin besar peran sarana pengendalian sosial selain hukum (agama dan adat istiadat), semakin kecil peran hukum. Oleh karena itu, hukum tidak dapat dipaksakan keberlakuannya di dalam segala hal, karena seyogianya kalau masih ada sarana lain terakhir yang ampuh maka hendaknya hukum di pergunakan pada tingkat yang terakhir bila sarana lainnya tidak mampu lagi untuk mengatasi masalah. namun berkaitan dengan kesadaran masyarakat terhadap hukum, yaitu; 1. Penyuluhan hukum yang teratur. 2. Pemberian teladan yang baik dari petugas dan/atau penegak hukum di dalam hal kepatuhan terhadap hukum dan respek terhadap hukum. 3. Pelembagaan yang terencana dan terarah. Fungsi hukum amat tergantung pada efektivitas menanamkan hukum, reaksi masyarakat dan jangka waktu untuk menanamkan hukum tersebut. Misalnya apabila ada peraturan perundang - undangan baru mengenai perpajakan, maka pertama - tama yang perlu dilakukan adalah pengumuman melalui berbagai alat media masa. Kemudian perlu diambil jangka waktu tertentu untuk di telaah reaksi dari masyarakat. Apabila jangka waktu tersebut telah lampau, maka barulah diambil tindakan yang tegas terhadap para pelanggarnya. Apabila cara tersebut di tempuh, maka warga masyarakat akan lebih menaruh respons terhadap hukum termasuk penegak dan pelaksanaannya. Masalah kesadaran hukum warga masyarakat sebenarnya menyangkut faktor - faktor apakah suatu ketentuan hukum tertentu diketahui, dipahami, ditaati, dan dihargai? Apabila warga masyarakat hanya mengetahui adanya suatu ketentuan hukum, maka taraf kesadaran hukumnya lebih rendah dari pada mereka yang memahaminya, dan seterusnya. Hal itulah yang disebut legal consciousness atau knowledge and opinion about law. Hal - hal yang berkaitan kesadaran hukum akan diuraikan sebagai berikut.

1. Pengetahuan hukum Apabila suatu peraturan perundang - undangan telah diundangkan dan diterbitkan menurut prosedur yang sah dan resmi, maka secara yuridis peraturan perundang - undangan itu telah berlaku. Kemudian timbul asumsi bahwa setiap warga masyarakat dianggap mengetahui adanya undang - undang. Contohnya; undang - undang N0.38 tahun 1999 tentang pengelolaan zakat. Namun, asumsi tersebut tidaklah demikian kenyataannya. Pengetahuan hukum masyarakat akan dapat diketahui bila diajukan seperangkat pertanyaan mengenai pengetahuan hukum tertentu. Apabila pertanyaan tersebut dijawab oleh masyarakat dengan benar, kita dapat mengatakan bahwa masyarakat itu sudah mempunyai pengetahuan yang benar. Sebaliknya, apabila pertanyaan pertanyaan tersebut tidak dijawab dengan benar, maka dapat dikatakan bahwa masyarakat itu belum atau kurang mempunyai pengetahuan hukum. 2. Pemahaman Hukum Pengetahuan hukum yang dimiliki oleh masyarakat belum cukup, sehingga diperlukan pemahaman hukum yang berlaku. Pemahaman tersebut, diharapkan memahami tujuan peraturan perundang - undangan serta manfaatnya bagi pihak - pihak yang kehidupannya diatur oleh peraturan perundang - undangan. Pemahaman hukum masyarakat akan dapat diketahui bila diajukan seperangkat pertanyaan mengenai pemahaman hukum tertentu. Apabila pertanyaan tersebut dijawab oleh masyarakat sudah mempunyai pemahaman hukum yang benar, maka dapat dikatakan bahwa masyarakat itu belum memahami hukum. 3. Penataan Hukum Seorang warga masyarakat menaati hukum karena berbagai sebab. Sebab - sebab itu, dapat dicontohkan sebagai berikut. a. Takut karena sanksi negatif, apabila hukum dilanggar. b. Untuk menjaga hubungan baik dengan penguasa. c. Untuk menjaga hubungan baik dengan rekan - rekan sesamanya. d. Karena hukum tersebut sesuai dengan nilai - nilai yang dianut. e. Kepentingan terjamin. Secara teoritis faktor keempat merupakan hal yang paling baik, hal ini disebabkan oleh faktor pertama, kedua, dan ketiga, penerapan hukum senantiasa harus diawasi oleh pertugas petugas hukum tertentu, agar hukum itu benar - benar ditaati di dalam kenyataannya. Contohnya; ada suatu penelitian yang mendalam mengenai derajat ketaatan warga masyarakat islam terhadap Undang - undang no.10 tahun 1998 tentang perubahan atas Undang - undang no.7 tahun 1992 tentang perbankan dan Undang - undang no.21 tahun 2008 tentang perbankan syariah.

4. Pengharapan terhadap Hukum Suatu norma hukum akan dihargai oleh warga masyarakat apabila ia telah mengetahui, memahami, dan mentaatinya. Artinya, dia benar - benar dapat merasakan bahwa hukum tersebut menghasilkan ketertiban serta ketentraman dalam dirinya. Hukum tidak hanya berkaitan dengan segi lahiriah dari manusia, akan tetapi juga dari segi batiniah. Contoh; seorang mahasiswa S2 hukum di cilegon menabung di BNI cilegon, dan pada waktu yang hampir bersamaan ia juga menabung di bank syariah mandiri. Sesudah 6 (enam) bulan kemudian, ia melihat tabungannya masing - masing pada bank syariah mandiri tabungannya semakin bertambah, sementara di BNI tabungannya habis dipotong oleh pengelola bank sebagai biaya administrasi. Mahasiswa S2 tersebut, tidak mau lagi menabung di bank konvensional karena sudah faham kelebihan pengelolaan bank yang menggunakan prinsip syariah.

5. Peningkatan Kesadaran Hukum Peningkatan kesadaran hukum seyogianya dilakukan melalui penerangan dan penyuluhan hukum yang teratur atas dasar perenanaan yang mantap. Penyuluhan hukum bertujuan agar warga masyarakat mengetahui dan memahami hukum - hukum tertentu sesuai masalah - masalah hukum yang berisikan hak dan kewajiban di bidang - bidang tertentu serta manfaatnya bila hukum tersebut ditaati. Penerangan dan penyuluhan hukum menjadi tugas dari larangan hukum pada umumnya dan pada khususnya yang secara langsung berhubungan dengan warga masyarakat yakni petugas hukum. Petugas hukum harus diberikan pendidikan khusus agar mampu memberikan penerangan hukum dan penyuluhan hukum. Jangan sampai petugas memanfaatkan hukum untuk kepentingan pribadi dengan jalan menakut - nakuti warga masyarakat yang awam terhadap hukum. Misalnya; peraturan perundang - undangan tertentu mengenai zakat, pajak, dan seterusnya. Peraturan tersebut, dijelaskan melalui penerangan dan penyuluhan hukum dengan menjelaskan pasal - pasal tertentu dari suatu perundang - undangan, agar masyarakat merasakan manfaatnya. Penerangan dan penyuluhan hukum harus disesuaikan dengan masalah - masalah hukum yang ada dalam masyarakat pada suatu waktu yang menjadi sasaran penyuluhan hukum.

3. Penelitian perbandingan Hukum


Penelitian perbandingan hukum adalah suatu penelitian yang dilakukan oleh peneliti dengan membandingkan undang - undang suatu Negara dengan undang - undang dari satu atau lebih Negara lainnya mengenai hal yang sama. Kegunaan pendekatan ini, untuk memperoleh persamaan dan perbedaan di antara undang - undang tersebut dan/ atau persamaan dan perbedaan mengenai putusan peradilan. Dengan demikian, peneliti akan mengetahui filosofi hukum yang

terkandung di dalam setiap peraturan perundang - undangan yang menjadi objek perbandingan dan/ atau filosofi beberapa putusan pengadilan mengenai kasus yang serupa.3 Di dalam ilmu hukum dan praktik hukum, metode perbandingan ini sering di terapkan. Namun dalam penelitian yang dilakukan oleh para ahli hukum yang tidak mempelejari dan/atau memahami betul ilmu - ilmu sosial lainnya, metode perbandingan yang dilakukannya akan tampak tidak mengindahkan sistematika atau pola tertentu. Oleh karena itu metode penelitian hukum yang menggunakan metode perbandingan pada umumnya merupakan penelitian sosiologi hukum, antropologi hukum, psikologi hukum, dan sebagainya. Penelitian tersebut disebut penelitian yang bersifat yuridis empiris. Dalam penelitian ini yang dibandingkan adalah unsur - unsur system sebagai titik tolak perbandingan, yang mencangkup; a. struktur hukum yang meliputi lembaga - lembaga hukum; b. substansi hukum yang meliputi perangkat kaidah atau perilaku teratur; dan c. budaya hukum yang mencangkup perangkat nilai - nilai yang dianut. Ketiga unsur tersebut, dapat dibandingkan masing - masing satu sama lainnya, ataupun secara kumulatif baik yang menyangkut kesamaan maupun yang berkaitan dengan perbedaan.4

4. Penelitian Sejarah Hukum


Penelitian sejarah hukum merupakan suatu metode dalam melakukan penelitian terhadap suatu hukum. Sebagai metode, sejarah hukum berusaha untuk mengadakan identifikasi terhadap tahap - tahap perkembangan hukum yang dapat di persempit ruang lingkupnya menjadi sejarah peraturan perundang - undangan. Di samping kajian terhadap perkembangan hukum, lazimnya juga diadakan identifikasi terhadap faktor - faktor hukum. Contoh; Undang - undang perkawinan, hukum waris adat dan hukum waris eropa. Dengan demikian, yang paling penting adalah pelaksanaan aktivitas ilmiah untuk menyusun penahapan perkembangan hukum atau perkembangan suatu peraturan perundang - undangan.

3 4

Bandingkan uraian Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta: kencana, 2007), hlm 95. Soerjono Soekanto dan Sri Mamuji, Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkat. (Jakarta: Rajawali Press, cetakan ketiga, 1990),hlm. 101.

Kalau peraturan perundang - undangan di Indonesia hendak diteliti dengan metode sejarah, biasanya diadakan penahapan dahulu atau periodesasi perkembangan hukum atau perkembangan peraturan perundang - undangan. Periodesasi tersebut diungkapkan sebagai berikut; a. masa Besluiten regering (sekitar tahun 1800 - 1855). b. masa regering reglemen (sekitar tahun 1855 - 1927). c. masa indische staatsregeling (sekitar 1927 - 1942). d. masa penjajahan jepang (1942 - 1945). e. masa kemerdekaan Indonesia (sesudah tahun 1945). 1. masa republic Indonesia 1945. 2. masa republik Indonesia serikat. 3. masa republik Indonesia 1950. 4. masa kembali ke Undang - undang dasar 1945. 5. masa amandemen Undang - undang dasar 1945. Perlu di ungkapkan bahwa penelitian sejarah hukum dilakukan menelaah latar belakang, perkembangan pengetahuan mengenai isu yang dihadapi oleh perancang suatu peraturan perundang - undangan. Telaah tersebut, diperlukan oleh peneliti untuk mengungkapkan filosofi hukum dan pola fikir yang melahirkan sesuatu peraturan perundang - undangan. Contoh; Undang - undang no.1 tahun 1974 tentang perkawinan, undang - undang tersebut mengatur tentang poligami, yaitu bagi seorang laki - laki yang ingin mempunyai isteri lebih dari seorang makan ia terlebih dahulu memperoleh izin dari isterinya. Filosofi hukum yang terkandung dalam hal tersebut, adalah undang - undang itu lahir pada jaman kepemimpinan soeharto, yaitu isteri soeharto mempunyai pengaruh yang tidak menginginkan suaminya untuk menikah lagi. Hal ini bermakna pengaruh isteri soeharto amat mempengaruhi aturan poligami. Hal di atas tentu akan lain seandainya undang - undang yang mengatur tentang perkawinan itu lahir di zaman pemerintahan soekarno, yang pada salah satu pasalnya memungkinkan seorang laki - laki mempunyai lebih dari seorang isteri. Hal ini berarti soekarno akan dominan pengaruhnya terhadap aturan poligami.

5. penelitian psikologi Hukum


Penelitian psikologi hukum adalah suatu penelitian yang mengamati tingkah laku manusia. Tingkah laku tersebut menjadi objek kajian sehingga mangamati tingkah laku manusia yang sesuai dengan hukum (normal) dan tingkah laku manusia yang menyimpang dari ketentuan hukum (tidak normal). Pengamatan tersebut, dapat berarti orang berbuat sesuai dan tidak sesuai karena adanya keyakinan untuk berbuat. Sejalan hal di atas, Satjipto Rahardjo mengutip pendapat Leon Petraxycki (1867-1931), seorang ahli filsafat hukum, menggarap unsur psikologis dalam hukum dengan mendudukkannya sebagai unsur utama. Leon Petraxycki berpendapat bahwa fenomena hukum itu terdiri atas proses - proses psikis yang unik, yang dapat dilihat dengan menggunakan metode introspeksi. Oleh karena itu, bila mempersoalkan hak - hak kita serta hak - hak orang lain dan melakukan perbuatan sesuai dengan itu, maka itu semua bukan karena hak - hak itu tercantumkan dalam peraturan, melainkan semata - mata karena keyakinan kita sendiri, bahwa kita harus berbuat seperti ini.5 Penelitian psikologis hukum bukan hanya mengamati masalah perilaku manusia yang sesuai dengan hukum dan tidak sesuai dengan hukum, melainkan lebih jauh mengamati hal - hal apakah yang menyebabkan orang taat dan tidak taat terhadap hukum. Hal - hal inilah yang diidentifikasi dan kemudian diteliti oleh peneliti. Hasil penelitian ini disebut penelitian psikologi hukum.

Sadjipto Rahardjo, Ilmu Hukum. (Bandung; Alumni, 1986),hlm. 335.