Anda di halaman 1dari 6

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG Pada masa pembangunan ini hukum adat sebagai hukum masyarakat Indonesia semakin mendapat perhatian, terutama dalam rangka pembangunan hukum nasional, karena itu dalam pembangunan yang sedang dilaksanakan sekarang ini pembangunan bidang hukum adat tidak ketinggalan juga. Hal inibisa dilihat bahwa dalam perkembangannya hukum adat selalu mendapat perhatian yang sangat penting. Demikian juga hukum adat yang merupakan sala satu sumber hukum akan dimasukan dalam pembentukan hukum nasinal mendapat perhatian pula. Dalam hal ini, penyelesaian sengketa berfokus kepada suku nias. Suku Nias adalah kelompok masyarakat yang hidup di pulau Nias. Dalam bahasa aslinya, orang Nias menamakan diri mereka "Ono Niha" (Ono = anak/keturunan; Niha = manusia) dan pulau Nias sebagai "Tano Niha" (Tano = tanah). Suku Nias adalah masyarakat yang hidup dalam lingkungan adat dan kebudayaan yang masih tinggi. Hukum adat Nias secara umum disebut fondrako yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. Masyarakat Nias kuno hidup dalam budaya megalitik dibuktikan oleh peninggalan sejarah berupa ukiran pada batu-batu besar yang masih ditemukan di wilayah pedalaman pulau ini sampai sekarang. suku Nias mempunyai kebiasaan yang sama dengan suku Batak dalam hal makanan, khususnya daging babi. Alasan-alasan inilah yang dikemukakan sehingga suku Nias digolongkan dalam rumpun suku Batak. Tentu saja, pendapat ini masih perlu diperdebatkan karena, dilihat dari segi fisik maupun dari segi budaya dan bahasa dan marga, upaya memasukkan suku Nias dalam rumpun Suku Batak masih merupakan tindakan yang terlalu sumir.Kalau dibandingkan dengan suku-suku lain yang ada di Sumatera, suku Nias berjumlah kecil. Selama berabad-abad mereka menjadi korban penjarahan para bajak laut. Selain harta bendanya dikuras habis, banyak di antara mereka dijadikan sebagai tawanan dan diperjualbelikan sebagai budak. Tari-tarian mereka yang bernafaskan perang merupakan manifestasi kehidupan mereka yang tidak terlepas dari kilatan tombak dan pedang. Apabila mereka melarikan diri ke dalam hutan, batu-batu besar dan tinggi tidak pernah menjadi penghalang.Keadaan seperti ini menjadi salah satu faktor mengapa suku Nias selalu mengikat tali persahabatan dengan suku-suku tetangganya. Hubungan mereka dengan suku Batak, khususnya orang-orang dari Tanah Batak Utara, dipererat oleh persamaan keyakinan, yaitu sama-sama menganut agama Kristen. Secara kebetulan pula kedua kelompok ini mempunyai kebiasaan yang sama dalam menu makanan, yaitu kegemaran memakan daging babi. Namun, kesamaan-kesamaan ini bukan merupakan alasan untuk menyatakan suku nias sebagai bagian dari rumpun suku Batak. Namun dalam pembahasan ini bagaimanakah penyelesaian sengketa suku nias yang bertetangga dengan daerah tapanuli utara? Apakah sama dengan peyelesaian sengketa suku batak?
1 Antropologi Hukum

Prosedur penyelesaian sengketa pada masyarakat nias


prosedur penyelesaian sengketa yang terjadi pada masyarakat Nias yang dimulai dengan adanya sengketa kemudian adanya penyelesaian secara kekeluargaan dan musyawarah adat, sedangkan prosedur penyelesaian secara pengadilan sangat jarang terjadi. hal ini disebabkan masyarakat masih menggunakan hukum lokal dan mempertimbangkan eratnya kekerabatan dan rasa tidak ingin mendapat sanksi sosial berupa pengucilan dari masyarakat lain, maka pilihan hukum lokal serta keputusan musyawarah adat sangat diutamakan. walaupun bagaimana permasalahan sengketa yaitu waris, tanah, perkawinan, ataupun yang menyangkut pidana. tidak dapat berujung kepada pengadilan, dalam hal ini pengadilan hanya bersifat pasif. Suku Nias menjaga kehormatannya, apabila kehormatannya dilecehkan maka bagaimanapun caranya, apapun tindakannya akan dilakukan untuk mengambil lagi kehormatannya tersebut, dan seandainya jika melewati pengadilan, masyarakat suku Nias masih banyak yang kurang mempercayai hukum konvensional, dikarenakan masih kurangnya keadilan jika diselesaikan secara melewati hukum umum tersebut. dan masyarakat nias masih memakai penyelesaian sengketa dengan secara musyawarah, dan kebersamaan. dikarenakan bagi pihak yang kehormatannya dirampas, dalam permasalahannya pihak tersebut akan disaksikan oleh keluarga tetangga atapun orang sekitar untuk tidak dikucilkan dalam lingkungannya.

Perincian prosedur penyelesaian sengketa tersebut yakni:


a. Secara kekeluargaan
Sengketa ini juga biasanya berhubungan dengan tanah adat dan tanah ulayat. Hanya saja, proses penyelesaiaannya dilakukan oleh internal keluarga saja tanpa dihadiri oleh penetua adat. Atau adanya penyelesaian secara adat yaitu dengan mengundang keluarga yang sedang bersengketa dan juga saksi-saksi (orang tua yang mengetahui dengan pasti silsilah/ sejarah dari tanah yang dipersengketakan). Sengketa tanah ini biasanya terjadi antar saudara kandung yang mempermasalahkan hak warisan tanah yang diberikan oleh orangtuanya, atau adanya pergeseran batas tanah. Penyelesaian yang dilakukan tentunya diselesaikan oleh orangtua mereka atau jika orangtuanya meninggal yang menyelesaikan yakni paman dari pihak laki-laki atau disebut sibaya. Namun terkadang penyelesaian ini tetap saja dibawa ke jalur adat karena keputusan yang diambil oleh orangtua/paman mereka tidak adil, tapi ada juga keluarga yang tetap mengikuti keputusan orangtuannya.

2 Antropologi Hukum

b. Secara adat
Sengketa tanah yang diselesaikan dengan cara ini adalah tanah adat dan tanah ulayat. Ini biasanya diselesaikan melalui forum keluarga dengan mengundang keluarga besar dan penatua adat yang ada pada garis keturunan tersebut. Penyelesaian secara adat memerlukan keterlibatan dari Siteoli dan tokoh adat yang berada di lokasi terjadinya sengketa. Hal ini disebut sebagai pembicaraan adat, dalam pembicaraan adat akan disaksikan oleh warga yang bersengketa dan semua masyarakat yang berada di lokasi kejadian sengketa. Pembicaraan adat akan dilaksanakan untuk menyampaikan informasi berkaitan dengan keputusan yang akan dilaksanakan dalam penyelesaiaan sengketa tanah tersebut. Informasi tersebut berupa; keterangan-keterangan dari saksi kedua belah pihak, keterangan dari pihak mediator kedua belah pihak, rentetan permasalahan hingga dibawa ke jalur adat dan pengukuran batas tanah kedua belah pihak yang bersengketa atau informasi tentang keadaan tanah yang di persengketakan. Setelah diungkapkan informasi tersebut maka Siteoli dan tokoh adat lainnya melaksanakan pembuktian terhadap laporan dari masing-masing yang bersengketa dengan bukti yang telah mereka peroleh. Bukti-bukti tersebut berupa surat tanah atau surat perjanjian, informasi dari saksi yang menandatangani surat perjanjian. Kemudian mereka memutuskan siapakah yang berhak memperoleh kembali tanah yang dipersengketakan, biasanya keputusan ini disyahkan melalui surat keputusan hasil rapat musyawarah adat dengan ditandatangani oleh Siteoli dan tokoh adat lainnya yang kemudian akan menjadi saksi jika dikemudian hari tanah tersebut dipermasalahkan. Kegiatan musyawarah adat ini sekaligus sebagai upaya mempererat hubungan kekerabatan dengan yang bersengketa agar ke depannya menjadi lebih baik, kegiatan musyawarah yang berdasarkan asas keterbukaan dan kejujuran ini sangat dipercaya oleh masyarakat Nias sebagai keputusan hukum yang sah. Konsekuensi jika masalah tersebut dipersengketakan lagi, oleh semua warga secara otomatis akan mengucilkan masyarakat yang kembali mempersengketakan tanah. Sanksi ini berupa masyarakat yang bersengketa tersebut tidak dianggap dalam kegiatan desa, disindir dengan kata-kata kiasan, bila ada yang ia butuhkan tidak dibantu, anaknya nikah tidak akan didatangi, kematian keluarganya juga tidak didatangi dan pada akhirnya warga tersebut lambat laun meninggalkan desa tersebut. Sanksi ini akhirnya menjadi landasan kepercayaan akan segala keputusan dari siteoli dan tokoh adat lainnya dan menjadikan masyarakat saling menjaga kepercayaan atas kepemilikan tanah satu sama lain.

3 Antropologi Hukum

c. Secara hukum
Sengketa ini biasanya dilakukan pada proses penyelesaian tanah milik pribadi. Dalam proses ini, pihak yang keberatan harus bisa menunjukkan beberapa bukti kepemilikan atas tanah tersebut, seperti; sertifikat, surat pembelian dan juga izin bangunan jika tanah tersbut telah didirikan bangunan. Permasalahan sengketa tanah melalui jalur hukum biasanya dilakukan oleh suku lain yang merantau ke Nias atau warga Nias yang mengalami perkawinan campur dengan suku lain yang belum melaksanakan acara adat Nias. Biasanya permasalahan sengketa tanah yang terjadi hanya di daerah perkotaan yang sudah bersifat individual atau tidak berada dalam ruang lingkup adat. Walaupun ia berada di dalam lingkungan adat namun masyarakat tersebut belum disyahkan secara adat jadi ia berhak mengajukan masalah tanahnya melalui jalur hukum. Akan tetapi , ini sangat jarang terjadi karena mengingat ia akan menerima sanksi dari masyarakat disekitar tempat tinggalnya.

Permasalahan sengketa biasanya disampaikan terlebih dahulu kepada kepala desa yang juga merupakan bagian dari lembaga adat Nias (memiliki kedudukan yang hampir sama dengan Siteoli. Peranan kepala desa dalam hal ini yakni: a. Menerima informasi dari yang bersengketa, informasi yang diterima berupa kronologis dari kejadian yang ada Kemudian menindaklanjuti dengan memanggil kedua pihak yang bersengketa, mediator beserta seluruh pengurus desa, tokoh agama, tokoh adat dan masyarakat. Membuat surat keputusan penyelesaian sengketa dengan ditandatangani kedua belah pihak dan saksi. Saksi dalam hal ini yakni yang berbatasan dengan tanah yang dipersengketakan, tokoh agama, tokoh adat dan diketahui oleh kepala desa.

b.

c.

Setelah kita mengetahui peran dari Kepala Desa, maka peranan Lembaga Adat Nias (Siteoli, tokoh adat/agama) yakni: 1. Menerima informasi yang bersengketa dari Kepala Desa. Informasi yang diperoleh dari kepala desa yakni awal terjadinya permasalahan dan hal-hal yang berkaitan dengan laporan dari masing-masing yang bersengketa. Mempertimbangkan permasalahan tersebut apakah layak dimusyawarahkan secara adat atau secara kekeluargaan
4 Antropologi Hukum

2.

3.

Membuat keputusan terhadap proses musyawarah adat yang terjadi dimana penyelesaian sengketa tanah tersebut tanpa memihak salah satu yang bersengketa tapi berdasarkan kronologis sengketa yang terjadi.

Peranan Lembaga Adat Nias (Siteoli, tokoh adat/agama) dan Kepala Desa pada kehidupan masyarakat Nias telah banyak membantu terhadap adanya keadilan dalam penyelesaian sengketa tanah yang terjadi baik permasalahan desa maupun permasalahan individual/masyarakat desa. Kedua lembaga ini yang berperan sebagai mediator bertindak sebagai fasilitator sehingga pertukaran informasi dapat dilaksanakan serta dituntut untuk bersikap bijaksana, dapat dipercaya, dan cekatan. Artinya, sebagai mediator harus bersifat netral atau tidak memihak satu dengan yang lain sehingga proses penyelesaian sengketa tanah dapat dilaksanakan secara lancar dan tanpa menyimpan dendam terhadap yang menjadi mediator, jika permasalahan tersebut selesai.

5 Antropologi Hukum

DAFTAR PUSTAKA

Ali sofwan ali, konflik pertanahan, Jakarta, sinar harapan, 1997 k. wantjik saleh, hak atas tanah, ghalia Indonesia, Jakarta, 1985 Muhammad bushar, pokok-pokok hukum adat, Jakarta, pradnya paramita, 2004

6 Antropologi Hukum