Anda di halaman 1dari 21

Universitas Haluoleo Kendari A.

JUDUL : Aplikasi Hollow Brick dengan Filler Limbah Sagu Untuk Rumah Murah bagi Masyarakat Pedesaan di Konawe.

B. LATAR BELAKANG MASALAH Saat ini, kebutuhan akan rumah selalu meningkat seiring dengan tingkat pertumbuhan penduduk. Jumlah keluarga yang tidak memiliki tempat tinggal atau backlog masih cukup besar. Survei BPS yang dilaksanakan pada tahun 2010 jumlah penduduk indonesia yang tidak memiliki tempat tinggal sebanyak 10,32 juta atau 20% dari populasi penduduk indonesia. Untuk dipedesaan rumah tangga yang tidak memiliki tempat tinggal sekitar 1,89 % atau 98,4 juta dari populasi sedangkan untuk provinsi Sulawesi Tenggara sendiri rumah tangga dipedesaan yang belum memiliki rumah tinggal sekitar 1,44 % atau 6.35 juta dari populasi yang belum memiliki tempat tinggal ( BPS 2010). Sementara pengadaan perumahan oleh pemerintah hanya 250.000 unit rumah per tahunnya di tahun 2008. Angka ini masih dibawah laju pertumbuhan rumah tangga yang tidak punya rumahtinggal(http://www.reidkijakarta.com/rei/web/?mod=news&do=detail&cat =1&id=533). Namun demikian, sisi kemampuan ekonomi masyarakat masih sangat terbatas, karena sekitar 60% rumah tangga Perkotaan masuk dalam kategori

berpendapatan rendah yaitu rata-rata Rp. 21.012.000,-/tahun atau 1.751.000,/bulan (BPS,2010), sementara kredit perumahan yang terendah tersedia dipasaran saat ini adalah bervariasi antara Rp 860.000,-/bulan sampai 1.500.000,-/perbulan atau 85% dari pendapatan perbulan yang mana tergantung dari besarnya KPR dan bunga kredit (http://www.imq21.com/news/read/42557/20110929/174933/2012-

BTN Turunkan-Kredit-Perumahan-Jadi-85-.html). Hal ini tidak jauh berbeda dengan masyarakat pedesaan. Rata-rata masyarakat pedesaan memiliki

pendapatan Rp 233.740/kapita/bulan ( BPS, 2011), pendapatan tersebut tentunya cenderung menjadi tidak pasti, mengingat 60 % dari penduduk pedesaan ( BPS, 2011) mata pencahariannya adalah sebagai petani yang hasil panennya sangat tergantung pada iklim, terlebih lagi saat ini, dimana kondisi iklim yang tidak menentu sebagai dampak dari pemanasan global. Permasalahan pembangunan perumahan bagi masyarakat tidak hanya itu,lokasi yag jauh dari kota sebagai

PKM- Penerapan Teknologi 2011

Universitas Haluoleo Kendari tempat tersedianya berbagai macam bahan dan material konstruksi, ditambahkan dengan kondisi jalan yang tidak bagus menyebabkan tingginya harga bahan dan material tersebut bagi masyarakat desa . Sayangnya, pembiayaan pemenuhan kebutuhan rumah hanya terbatas pada pasar formal bagi golongan menengah ke atas sedangkan bentuk-bentuk kredit dan bantuan subsidi untuk golongan menengah ke bawah sangat terbatas (http://www.sr.cdt31.org/RUU_PERKIM.pdf). Oleh karena itu, pengadaan atau penyediaan rumah bagi masyarakat menengah ke bawah yang dikenal sebagai rumah sederhana atau low cost housing perlu dikembangkan, baik dari aspek kontruksi bangunan seperti rumah instan sederhana (Risha) dan rumah kayu instan (Rika) yang dikembangkan oleh Litbang kementerian Pekerjaan Umum, aspek sumber daya manusia, yaitu peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat lokal sehingga dapat mendorong swadaya perumahan maupun aspek material dan bahan, yaitu pengembangan bahan material yang kuat, nyaman dan murah. Hal ini tentunya akan mendorong pengadaan perumahan yang berkelanjutan, utamanya bagi masyarakat menengah kebawah. Bertolak dari isu diatas, salah satu bahan bahan bangunan yang dapat dikembangkan bagi masyarakat pedesaan di Konawe adalah batu bata dengan filler limbah sagu. Bata merupakan bahan bangunan yang terbuat dari tanah liat yang dicetak, dikeringkan kemudian dibakar. Walaupun bahan baku dan proses pembuatannya mudah, namun pembakarannya membutuhkan keterampilan yang sudah terlatih untuk mendapatkan bata yang terbakar sempurna dan merata. Selain itu juga dibutuhkan bahan bakar, yaitu kayu yang cukup banyak. Pengadaan kayu ini, selain membutuhkan biaya, yaitu Rp 600.000/pembakaran m3 (Faslih dan Noraduola, 2011) juga dapat memberikan dampak bagi lingkungan karena adanya penebangan kayu. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mempercepat proses pembakaran adalah dengan memberikan filler berupa serat organik kedalam campuran bata. Penggunaan serat organik ini, seperti: sekam gergaji (Ornam, Noraduola dan Santi, 2010), abu sekam padi (Christiawan and Darmanto, 2004) dan limbah ampas tebu (Disurya, dkk, 2002) dapat mempercepat proses pembakaran bata karena adanya inner burning dan meningkatkan kualitas bata, karena uji tekannya dapat mencapai 11,03 sampai 14,06 N/mm2 (Ornam,

PKM- Penerapan Teknologi 2011

Universitas Haluoleo Kendari Noraduola dan Santi, 2010). Secara kimiawi, serat organik memiliki komposisi kimia yang baik (Disurya, dkk, 2002) sebagai filler bata, seperti silika yang dapat mencapai 89% sampai 95% (Harsono, 2002 dan Husin, 2002). Bagi masyarakat konawe, serat organik yang paling mudah diperoleh adalah serat dari batang dan ampas sagu, yang kebanyakan dibuang begitu saja setelah isinya (aci sagu) diambil untuk digunakan sabagai makanan

pokok/tradisional, yang disebut sinonggi. Serat dari limbah sagu ini memiliki karakteristik fisik yang sama dengan serat abu sekam padi, sekam kayu dan ampas tebu. Oleh karena itu, kami mencoba mengaplikasikan bata dengan filler limbah sagu untuk rumah murah pada masyarakat pedesaan di Konawe, Sulawesi Tenggara. C. PERUMUSAN MASALAH 1. Bagaimana komposisi limbah sagu yang tepat sebagai filler bata agar dapat memenuhi standar syarat bahan bangunan sehingga dapat memperoleh hak paten ? 2. Bagaimana perbandingan aspek ekonomi bata dengan filler limbah sagu tersebut dengan bata konvensional? D. TUJUAN Adapun tujuan kami yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah : 1. Memanfaatkan limbah sagu sebagai filler bata sehingga dapat menjadi bahan bangunan murah bagi masyarakat pedesaan di Konawe. 2. Memperoleh komposisi yang tepat dari limbah sagu sebagai filler bata agar memenuhi syarat bahan bangunan 3. Mengidentifikasi perbandingan pembiayaan rumah antara bata inovasi sagu dengan bata konvensional sehingga dapat diketahui kesesuaian pembiayaan tersebut dengan pendapatan masyarakat pedesaan. E. LUARAN YANG DIHARAPKAN Adapun beberapa luaran yang diharapkan dari penelitian ini adalah: 1. Komposisi limbah sagu sebagai filler bata agar dapat memenuhi syarat batu sebagai bahan bangunan sehingga dapat memperoleh hak paten.

PKM- Penerapan Teknologi 2011

Universitas Haluoleo Kendari 2. Perbandingan estimasi pembiayaan pembangunan rumah dengan batu bata inovasi sagu dan batu bata konvensional F. KEGUANAAN 1. Aspek Sosial-Budaya Meningkatkan nilai sosial budaya sagu yaitu, tidak hanya sebagai makanan pokok/makanan tradisional masyarakat konawe, khususnya suku Tolaki, namun juga dapat menjadi bahan bangunan yang kuat dan murah. 2. Aspek Teknologi Menjadi salah satu inovasi bahan bangunan yang kuat dan murah khususnya bagi masyarakat pedesaan. 3. Aspek Ekonomi Mengaplikasikan konsep Low cost housing yang bertujuan agar harga kontruksi bangunan dapat terjangkau oleh masyarakat menengah bawah dengan pemanfaatan sumber daya manusia setempat dan mengoptimalkan sumber daya alam lokal (limbah sagu). 4. Aspek Lingkungan Melihat pembangunan di Sulawesi tenggara yang semakin meningkat, maka di perlukan proses pembangunan berkelanjutan yang sesuai dengan slogan think global act local, hal ini menuntut untuk membangkitkan potensipotensi lokal yang ada sehingga dapat mengatasi permasalahan lingkungan.

G. TINJAUAN PUSTAKA 1. Rumah Sederhana (Low Cost Housing) Menurut Dwijendra, (2004), low cost housing merupakan tipe rumah yang diadaptasikan dengan sumber daya yang potensial dengan tingkat kepuasan tertentu bagi penghuninya dan terjangkau oleh masyarakat menengah ke bawah sebagai target pembangunan rumah tersebut. Oleh karena itu, pembangunan rumah sederhana dapat berperan dalam mempromosikan dan

mengimplementasikan kebijakan perumahan nasional dan membantu pemenuhan kebutuhan perumahan bagi masyarakat miskin (Dwijendra, 2004). Salah satu strategi dalam pembangunan rumah sederhana adalah mengurangi biaya pembangunan rumah dengan menggunakan sumber daya dan tenaga kerja lokal. (Dwijendara,2004). Salah satu sumber daya lokal terkait konstruksi rumah tinggal

PKM- Penerapan Teknologi 2011

Universitas Haluoleo Kendari adalah batu bata yang pembuatannya yang banyak dilakukan oleh masyarakat lokal. 2. Inovasi Bahan Material Bangunan Sebagai Upaya Mengaplikasikan Low Cost Housing. Bata merupakan bahan bangunan yang umum digunakan di Indonesia. Batu bata umumnya diproduksi oleh industri rumah tangga baik skala kecil maupn menengah, dengan menggunakan komposisi sebagai berikut (Heinz,1999): 1. 2. Enam bagian tanah lempung atau liat yang mengandung 50%-70% silika; Dua bagian sekam, yang digunakan sebagai pengalas alat pencetak agar hasil cetakan tidak melekat di tanah/dasar cetakan; 3. Satu bagian kotoran binatang seperti sapi, kuda, dan binatang herbivora lainnya, yang berfungsi moderate tanah lempung dan sebagai agen untuk mempercepat pembakaran; 4. Empat bagian air yang digunakan untuk moderating dan soaking adonan bata. Campuran liat; sekam dan kotoran hewan disoaked di dalam air; 5. Pasir atau semen merah jika dibutuhkan. Bahan dasar bata adalah tanah liat atau lempung yang dicampur dan diproses dengan bahan lain. Dalam industri rumah tangga pembuatan bata, proses pembuatan bata tersebut adalah sebagai berikut (Heinz dan Koesmartadi, 1999): 1. Tanah lempung, kotoran hewan dan air dicampur dan uleni sampai halus/pulen. Kerikil dan material lain harus dikeluarkan sebab dapat menurunkan kualitas bata. 2. 3. Adonan didiamkan selama 24 jam Setelah 24 jam, adonan siap untuk dicetak. Pertama-tama, permukaan dasar cetakan ditaburi dengan sekam agar adonan tidak melekat di dasar. Alat ini terbuat dari kayu atau baja, yang terdiri atas 2 bagian. Bagian luar cetakan dibuat lebih besar 1mm pada tiap sisinya, agar hasil cetakan bata dapat lebih mudah dikeluarkan. Umumnya, percetakan dilakukan pada musim kemarau dibawah sinar matahari. 4. Setelah itu, bata yang masih basah diangin-anginkan sampai kering. Bata yang telah kering kemudian disusun secara berjajar dengan ketinggian 10-15 bata keatas. Susunan bata ini dibiarkan 2-7 hari, agar bata benar-benar kering.

PKM- Penerapan Teknologi 2011

Universitas Haluoleo Kendari 5. Bata yang telah kering dibakar menggunakan kayu sebagai bahan bakar, dengan menyusun bata secara triangularly diatas tungku. Pada bagian tertentu, susunan bata dibiarkan kosong. Bagian luar susunan bata tersebut ditutup oleh tanah lempung, agar temperatur pembakaran yang dapat mencapai 800oC , tetap berada dalam susunan bata. Hal ini bertujuan agar bata dapat terbakar secara sempurna. Dengan pembakaran selama 4-5 hari. 6. Bata yang dihasilkan ditampung pada tempat penyimpanan untuk didistribusikan. Agar dapat menjadi bahan bangunan yang baik, produksi batu bata harus memenuhi syarat mutu batu bata baik dari segi kualitas produksi seperti ketahanan, bentuk atau model, ukuran, dan komposisi bata. SNI- 0553-1989-A telah menentukan spesifikasi bata sebagai bahan konstruksi yaitu: 1. Bentuk dan tampilan Bata harus memiliki sisi persegi;permukaan yang kasar, berwarna merah, memiliki suara yang nyaring ketika diketok dan tidak memiliki retak serta tidak mudah patah. Dimensi bata adalah berdasarkan kelasnya, yaitu besar dan kecil ,seperti pada tabel berikut: Ukuran bata yang sesuai dengan standar SNI-0553-1989-A yaitu: Tabel 1 : Ukuran Bata Menurut SNI-0553-1989-A Tebal (mm) 115 5 71 5 52 3 Lebar (mm) 175 7 115 5 115 5 105 4 115 5 105 4 Panjang (mm) 300 12 240 10 300 12 240 10 220 9 240 10 200 10

Sumber : SNI-0553-1989-A 2. Kuat tekan (Compresive Strenght) Bata dibagi menjadi 6 kelas kekuatan yang diketahui dari besar kekuatan tekannya yaitu kelas 25, kelas 50, kelas 150, kelas 200 dan kelas 250. Kelas kekuatan ini menunjukan kekuatan tekan rata-rata minimum dari 30 buah bata yang diuji.

PKM- Penerapan Teknologi 2011

Universitas Haluoleo Kendari Tabel 3: Standar Uji Kuat Tekan Batu Bata Kuat Tekan bruto rata-rata Kelas minimum 30 bata yang uji Kp/cm2 50 50 100 100 150 150 200 200 250 250 Sumber : SNI-0553-1989-A N/mm2 5 10 15 20 25 Koefisien variasi yang diijinkan dari rata-rata kuat tekan bata yang diuji 22 22 15 15 15

3. Bata merah tidak mengandung garam yang dapat larut sedemikian banyaknya sehingga pengkristalannya (yang berupa bercak-bercak putih) menutup lebih dari 50% permukaan bata karena akan mengakibatkan tertutupnya permukaan batu bata dan dapat mengurangi keawetan batu bata (SNI-0553-1989-A) 4. Penyerapan air, disyaratkan tidak melebihi dari 22% dan bata dibagi 5 kelas dalam uji penyerapan air yaitu sebagai berikut: Tabel 4: Standar Uji Penyerapan Air Batu Bata Kelas 50 100 150 200 250 Sumber : SNI-0553-1989-A Selain itu, beberapa komposisi kimiawi yang harus diperhatikan dalam tanah liat sebagai bahan utama batu bata sebagai berikut: Tabel 5: Komposisi Kimiawi tanah liat No 1 2 Komposisi Kimiawi Silika (SiO2) Alumina (Al2o3) Kegunaan/Kerugian Tanah liat menjadi pasiran dan mudah slaking,, kurang plastis dan tidak begitu sensitif terhadap pengeringan dan pembasahan. Memperlebar jarak temperatur sintering Penyerapan air maksimum (%) 22 20 20 20 20

PKM- Penerapan Teknologi 2011

Universitas Haluoleo Kendari Kadar besi yang tinggi akan menurunkan temperatur peleburan tanah liat. Mineral besi yang berbentuk kristal dengan ukuran besar dapat menyebabkan cacat pada permukaan batu bata pelebur bila temperatur pembakarannya mencapai lebih dari 11000C Terdapat dalam bentuk dolomite, magnesit atau silikat. Dapat meningkatkan kepadatan produk hasil pembakaran menghasilkan garam-garam larut setelah pembakaran,dapat menyebabkan penggumpalan kolorid dan dalam pembakaran dapat bertindak sebagai pelebur yang baik.

Ferri Trioksida (Fe2O3) Calsium Oksida (CaO) MgO

4 5

K2O dan Na2O

sebagai protektor koloid dan menaikkan keplastisan,misalnya : humus,bitumen dan karbon (Sumber : Siregar, Nuraisyah. 2010) 7 Organik Lain Salah satu inovasi yang dilakukan adalah dengan memberikan filler pada campuran bahan baku bata. Beberapa filler yang telah diujicobakan adalah: 1. Filler sekam padi Menurut Frick,H dan Kusmartadi (1992), sekam padi dan serbuk gergajian kayu sebagai bahan campuran dalam pembuatan batu bata mempunyai manfaat sebagai alas pencetakan supaya bata merah tidak melekat pada tanah, karena permukaan bata merah cukup besar. Selain itu, sekam padi juga dapat dicampur dengan tanah liat, karena dapat membantu proses pembakaran dan bekas sekam padi yang terbakar akan timbul lubang-lubang kecil yang kemudian merupakan pori-pori bata merah tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Cristiawan dan Darmanto(2004) menunjukan bahwa penambahan abu sekam padi dalam filler akan meningkatkan volume campuran sehingga menambah jumlah bata yang dapat dicetak. Adapun komposisi spesimen bata merah berserat abu sekam padi dapat berupa ASP1 (100% tanah liat), ASP2 (95%: 5%), ASP3 (90% :10%), ASP4 (85% :15%), ASP5 (80%:20%) dan ASP6 (75%:25%). Hasil kuat tekan yaitu 5,68 MPa 10,97 MPa, hasil pengujian kuat patah yaitu 0,53 MPa 3,08 MPa, pengujian porositas yaitu 27,98% - 34,67% dan pengujian susut bakar yaitu 0,34% - 1,72%. Selain itu abu sekam padi memiliki komposisi kimia silika 94,5% (Husin, 2002 dalam

PKM- Penerapan Teknologi 2011

Universitas Haluoleo Kendari cristiawan dan Darmanto,2004) atau 89% (Harsono, 2002 dalam cristiawan dan Darmanto,2004) 2. Filler limbah jagung dan kelapa Batu bata dengan Filler limbah jagung dan kelapa merupakan salah satu bahan serat alam alternatif mengingat kandungan lignin dan silika yang baik untuk filler. Limbah jagung terutama janggel memiliki kandungan lignin dan silika cukup tinggi yakni 20,4 % (Hartadi dkk (1981) dalam Sirappa (2003) dalam cristiawan dan Darmanto (2004). Selain itu ,limbah kelapa juga dapat dimanfaatkan sebagai filler dengan kandungan lignocelluloses polymeric fibre dengan 45% lignin and 43% cellulose. Adapun fungsi Lignin yaitu memberikan kekuatan karena ada ikatan antar serat, silika (SiO2) berfungsi untuk menghasilkan ikatan lambat, berkekuatan tinggi dan meningkatkan ketahanan terhadap agresi kimia ,sedangkan selulosa dapat memberikan pembakaran yang merata dan stabil dan juga memberikan kekuatan tarik karena adanya ikatan kovalen yang kuat, semakin tinggi kadar selulosa maka keteguhan lentur juga makin tinggi (http://www.smallcrab.com/others/329-sekam-padi-sebagai-sumberenergi alternatif). 3. Filler pasir kapur Batu bata dengan filler pasir kapur merupakan bata yang tidak mengalami proses pembakaran dan mampu menghasilkan kuat tekan yang berkisar antara 20-35 Kg/cm2 (Primayatma (1993) dan Junior dkk (2003) dalam (Sudarsana dkk (2011)). Menurut Primayatma (1993) dalam (Sudarsana dkk (2011)), pada pembuatan batu bata tanpa pembakaran, proses akhirnya bukan pembakaran melainkan hanya pengeringan sehingga batu bata dapat kering secara perlahan. Ketentuan pengeringan dilakukan 2-3 hari pada suhu kamar lalu dilanjutkan 3-4 minggu dipelihara pada suhu lembab, terhindar dari hujan dan panas matahari. digunakan perekat semen untuk memperoleh hasil batu bata yang mempunyai kuat tekan 28 kg/cm2. Komposisi campuran yang digunakan yaitu tanah liat 60% + agregat 20% + semen 20% dan perbandingan komposisi agregat adalah 1 pasir : 1 abu gosok : 1 serbuk paras.

PKM- Penerapan Teknologi 2011

Universitas Haluoleo Kendari 4. Filler Abu ampas tebu Abu ampas tebu merupakan limbah industri dari sisa pengolahan tebu dapat dijadikan filler batu bata. filler abu ampas tebu memiliki komposisi kimia yang cocok untuk batu bata seperti Silikat (SiO2) sebesar 71%,Aluminat

10

(AL2O3) sebesar 1,9%, Ferri Trioksida (Fe2O3) sebesar 7,8%,Calsium Oksida (CaO) sebesar3,4% dan lain-lain. (Disurya dkk,2002). Penelitian yang dilakukan oleh Siregar( 2010),menunjukan bahwa pembuatan batu bata lempung dengan campuran berupa abu pembakaran ampas tebu yang dicetak dengan cara pemadatan, pengeringan dan dibakar pada temperatur 300-400oC dengan variasi campuran 0%,5%,10%,20%,30%.Setelah umur pengeringan selama 28 hari, maka dilakukan pengujian karakteristik sifat mekanik dan fisis bata.Adapun kuat tekan batu bata dengan campuran abu ampas tebu maksimal pada variasi campuran 5% terhadap lempung senilai 59,60 kg/cm2,nilai porositas rata-rata 14,857% - 23,479 % , penyerapan air rata-rata 16,789 % 55,238% dan penyusutan kering adalah 3,17% - 9.17%. Dono Wahyuno 3. Sagu Sebagai Material Lokal dalam Inovasi Bahan Material Bangunan Sagu (Metroxylon sp.) merupakan tanaman asli Indonesia, dengan luas areal sekitar 1,128 juta ha atau 51,3% dari luas areal sagu dunia ( Wahyuno dkk,2010). Daerah potensial penghasil sagu di Indonesia meliputi Riau, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Maluku dan Papua (Kanro Dkk ,2010 ). Sebagai salah satu potensi lokal khususnya yang terdapat di daerah Sulawesi Tenggara, sagu merupakan makanan pokok sebagian besar masyarakat Sulawesi Tenggara, khususnya suku Tolaki yang biasa dikenal dengan nama Sinoggi. Selain sebagai bahan makanan pokok, sagu mempunyai banyak kegunaan, dimana batangnya dapat dimanfaatkan sebagai tiang atau balok jembatan, daunnya sebagai atap rumah, pelepahnya untuk dinding rumah, dan acinya sebagai sumber karbohidrat (bahan pangan) dan untuk industri (Haryanto dan Pangloli, 1992 dalam Kanro Dkk ,2010 ). Untuk dapat digunakan sebagai Sinonggi, sebatang pohon sagu terlebih dahulu melalui beberapa proses. Proses pengolahan sagu kebanyakan masih dilakukan secara sederhana menggunakan tenaga manual yaitu di ilustrasikan sebagai berikut (Haryanto dan Pangloli, 1992 dalam Kanro Dkk ,2010 ): sagu

PKM- Penerapan Teknologi 2011

Universitas Haluoleo Kendari yang dipanen dipotong-potong menjadi pendek dengan ukuran 1,5 sampai 2 meter sebagian ujung batang dibuang karena kandungan patihnya rendah. Setelah itu gelondongan tersebut dibawa ke sumber air untuk dilakukan ekstraksi atau ditokok. Untuk mendapatkan pati sagu, maka dari empulur batang sagu dilakukan ekstraksi pati dengan bantuan air sebagai perantara. Sebelumnya empelur batang dihancurkan terlebih dahulu ditokok atau diparut. Setelah dilakukan ekstraksi pati dan mendapatkan tepung sagu maka, yang tersisa adalah empulur kasar atau ampas dengan memiliki kandungan serat yang tinggi . Pemanfaatan sagu di Daerah Sulawesi Tenggara masih sangat terbatas. Besarnya potensi limbah sagu, yaitu batang dan ampas sagu yang dapat dihasilkan dari proses pengolahan belum dimanfaatkan secara optimal. Limbah sagu tersebut pada umumnya dibuang ditempat penampungan atau disepanjang aliran sungai pada lokasi pengolahan sagu. Hal ini dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan khususnya daerah aliran sungai (Nurdin, 1995) . Ampas sagu, yang merupakan salah satu limbah pengolahan sagu, mengandung serat kasar sekitar 10,11%, abu 0,01%, dan air 2,13% (Nurdin, 1995). Oleh karena itu, Berdasarkan karakteristik tersebut limbah sagu ini sangat memungkinkan untuk dijadikan sebagai filler pembuatan batu bata. H. METODE PELAKSANAAN 1. Waktu dan Tempat Kegiatan penelitian ini akan dilaksakan ditiga tempat, yaitu pada bangsal pembuatan batu bata di Kabupaten Konawe Propinsi Sulawesi Tenggara , Laboratorium Pengujian Material Teknik Mesin Universitas Haluoleo dan Laboratorium MIPA Jurusan IPA Kimia Universitas Haluoleo. 2. Bahan dan Alat Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Tanah liat, air, limbah sagu, abu gosok, kaos tangan, kayu bakar. Alat-alat yang digunakan adalah cetakan batu bata, arko, ember, bangsal kerja, tungku bakar, papan, sekop dan pacul, sendok campuran, box bata sampel, plastik, mobil, papan catat, kertas A4 ,penggaris, baskom, mesin uji tekan, penggaris, timbangan, oven

11

PKM- Penerapan Teknologi 2011

Universitas Haluoleo Kendari 3. Parameter Pengujian Bata inovasi maupun bata konvensional akan diuji kualitasnya berdasarkan parameter berikut dengan mengacu pada SNI-0553-1989-A tentang petunjuk pelaksanaan pengujian struktur bangunan, yaitu 1. Bentuk dan ukuran bata, bentuk dinyatakan dengan bidang-bidang datarnya rata, tidak retak-retak, rusuk-rusuknya siku-siku, tajam dan tidak rapuh. Pengujian dilakukan dengan mengambil 10 buah bata dan yang tidak sempurna dinyatakan dalam % dari jumlah yang diperiksa sedangkan untuk penentuan ukuran-ukuran dipakai 10 buah benda uji yang berasal dari penetapan berat bata. Masing-masing pengukuran panjang, lebar dan tebal dilakukan paling sedikit 3 kali dan hasil pengukuran tiap bata ditentukan penyimpangan maksimumnya dan dinyatakan dalam mm. 2. Berat bata, diuji dengan mengukur 10 buah batu bata utuh yang diambil secara acak dari jumlah contoh yang diserahkan, masing-masing ditimbang beratnya dengan ketelitian sampai 10 gram. 3. Uji serapan air (water absorption) dilakukan dengan cara, masing-masing batu bata contoh direndam dalam air hingga jenuh, kemudian ditimbang beratnya (Wj). bata uji dikeringkan dalam dapur pengering pada suhu 1000C selama 24 jam (hingga berat tetap), setelah itu didinginkan diruangan sampai suhu kamar, kemudian ditimbang beratnya (Wk). Untuk mengetahui tingkat penyerapan air oleh bata dapat dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut (Simbolon Tiurma, 2008): Keterangan : WA = water absorption (%) Wk = berat bata setelah direndam dalam air (Kg) Wj = berat bata kering mutlak sebelum direndam air (Kg) 4. Uji kadar garam, untuk pengujian ini dipakai tidak kurang dari 5 buah bata utuh, tiap bata ditempatkan berdiri pada bidangnya yang datar. Dalam masing-masing bejana dituangkan air 250 ml. bejana-bejana beserta bendabenda uji dibiarkan dalam ruang yang mempunyai pergantian udara yang baik. Bila sudah beberapa hari bata terlihat kering kembali, kemudian

12

PKM- Penerapan Teknologi 2011

Universitas Haluoleo Kendari diperiksa banyaknya bercak-bercak putih yang ada di permukaan bata yang merupakan kadar garam didalam batanya. Adapun ketentuan dari pengujian ini adalah tidak membahayakan, bila kurang dari 50% permukaan bata tertutup oleh lapisan tipis berwarna putih karena pengkristalan garam-garam yang larut, ada kemungkinan membahayakan, bila 50% atau lebih dari permukaan bata tertutup oleh lapisan putih yang agak tebal tetapi bagian permukaan bata lainnya tidak menjadi bubuk atau terlepas. Dan membahayakan, jika lebih dari 50% permukaan bata tertutup oleh lapisan putih yang tebal karena pengkristalan garam-garam dan bagian-bagian dari permukaan bata menjadi bubuk atau terlepas. 5. Uji tekan (Compresive Strenght), pengujian ini menggunakan 30 buah benda percobaan. Benda uji untuk kuat tekan dalam keadaan utuh kemudian bidang yang akan ditekan diterap dengan adukan setebal 6mm. setelah dilepas dari cetakan, bata uji direndam dalam air selama 24 jam kemudian diangkat dan bidang-bidangnya dibersihkan dengan kain lembab untuk menghilangkan air yang berlebihan. Setelah itu, pengujian kuat tekan () dilakukan dengan menggunakan Ultimate Testing Machine (UTM) dengan kecepatan

13

penekanan konstan sebesar 2 mm/menit, yang perhitungannya memenuhi persamaan berikut (Sihombing Berlian, 2009): Keterangan : = Nilai impak/kuat impak (N/m2) F = Beban yang diberikan (N) A = Luas penampang silinder (m2) Hasil pengujian akan dibandingkan dengan SNI-0553-1989-A 6. Uji ekonomis, pengujian ini dilakukan penilaian terhadap perbandingan nilai ekonomi bata konvensional dan bata inovasi dengan melakukan survey dan perhitungan estimasi biaya produksi, distribusi dan konstruksi. Dan juga dilakukan uji Kimiawi untuk mengetahui kandungan zat lignin dan silikat (SiO2) pada batu bata inovasi.

PKM- Penerapan Teknologi 2011

Universitas Haluoleo Kendari 4. Prosedur Kerja Persiapan

14

Uji Laboratorium Pertama


Variasi Komposisi Pembuatan Batu Bata Komposisi Terpilih X1% : Y1% X2% : Y2% Pengumpulan, Pengambilan Dan Pendistribusian Sampel. X3% : Y3% X4% : Y4% X5% : Y5% X6% : Y6%

Bangsal Kerja

Pendistribusian dan Pengujian sampel ke Lab. IPA Kimia

Pengujian dan Pencatatan Sampel di Lab. Material T.Mesin

dst X10:Y10

5 Variasi yang terpilih: Survey Nilai Ekonomi Produk X1% : Y1% 50 Buah X2% : Y2% 50 Buah

Analisa data

X3% : Y3% 50 Buah X4% : Y4% 50 Buah

Penyusunan Laporan akhir

X5% : Y5% 50 Buah

Seminar

Komposisi yang sesuai SNI

HAKI Keterangan: X = Persentase Tanah Liat Y = Persentase Limbah Sagu

Gambar 1. Skema Prosedur Kerja

PKM- Penerapan Teknologi 2011

Universitas Haluoleo Kendari I. JADWAL KEGIATAN Kegiatan PKMT ini akan berlangsung mulai dari persiapan pada bulan ke- 1 sampai dengan penyusunan laporan akhir pada bulan ke-3. Tabel 5. Jadwal Kegiatan Pelaksanaan
BULAN KEJADWAL KEGIATAN
I

15

Bulan Ke-1
II III IV I

Bulan Ke-2
II III IV I

Bulan Ke-3
II III IV

Persiapan Uji Laboratorium Pertama Pembuatan Komposisi batu bata terpilih Pengumpulan, Pengambilan dan Pendistribusian Sampel Pengujian dan Pencatatan sampel di Lab. Material Teknik Pendistribusian dan pengujian Sampel Ke Lab. IPA Kimia Survey Nilai Ekonomi Produk Analisa Data Peyusunan Laporan Akhir

J.

RANCANGAN BIAYA Rekapitulasi Biaya Program Kreatifitas Mahasiswa Penerapan Teknologi

(PKMT) adalah sebagai berikut :


No. Deskripsi Biaya Volume Satuan Biaya Satuan (Rp) Biaya (Rp)

1. BAHAN HABIS DAN PERALATAN a. ATK 1. Kertas A4 2 Rim 2. Papan Catat 5 Buah 3. Pulpen 5 Buah 4. Pengaris 5 Buah Sub Total Biaya I b. Bahan dan Alat 1. Ampas Sagu 10 Karung 2. Bangsal Kerja 2 Unit 3. Timbangan Ukur 2 Buah 4. Arco/Gerobak 1 Unit 5. Ember Plastik 4 Buah 6. Paku 2 Kg 7. Sekop 2 Buah 8. Kayu bakar 3 Ret

35.000,00 25.000,00 2.000,00 2.500,00

70.000,00 125.000,00 10.000,00 10.500,00 216.000,00 250.000,00 3.000.000,00 1.000.000,00 500.000,00 60.000,00 30.000,00 100.000,00 300.000,00

25.000,00 1.500.000,00 500.000,00 500.000,00 15.000,00 15.000,00 50.000,00 100.000,00

PKM- Penerapan Teknologi 2011

Universitas Haluoleo Kendari 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. Papan Baskom Air Sendok Campuran Abu Gosok Sarung Tangan Pacul 3 6 5 4 5 2 Lbr Buah Buah Kantung Pasang Buah 45.000,00 5.000,00 25.000,00 10.000,00 20.000,00 30.000,00 135.000,00 30.000,00 125.000,00 40.000,00 100.000,00 60.000,00

16

Sub Total Biaya II 2. BIAYA PERALATAN PENUNJANG 1. Boks Bata Inovasi 6 Box 2. Kantung Bata 6 Lbr Sub Total Biaya III 3. BIAYA PERJALANAN 1. Transport Survey 1 Unit @2X PP 2 Transport distribusi 1 Unit sampel @ 250 Bh Sub Total Biaya IV 4. LAIN-LAIN 1. Dokumentasi Kegiatan 2. Pembuatan 5 Eksp. Laporan Akhir Sub Total Biaya V Total Biaya (I +II+III+IV+V)

1.734.000,00 35.000,00 5000,00 210.000,00 30.000,00 240.000,00 1.000.000,00 1.500.000,00 2.500.000,00 500.000,00 120.000,00 500.000,00 600.000,00 1.100.000,00

1.000.000,00 1.500.000,00

K. DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2011. Program Satu Juta Rumah Bisa dipercepat. http://www.reidkijakar ta.com/rei/web/?mod=news&do=detail&cat=1&id=533. Di akses Tanggal 2 Oktober 2011 Anonim.2011. Jurnal Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian . http://www.smallcrab.com/others/329-sekam-padi-sebagaisumber-energi-alternatif.Di Akses Tanggal 29 September 2011 Anonim. 2009. Revisi RUU Perumahan dan Permukiman. http://www.sr.cdt31.or g/RUU_PERKIM.pdf. Di Akses Tanggal 1 Oktober 2011 Anonim.2011.BTN Turunkan Kredit Perumahan. http://www.imq21.com/news/rea d/42557/20110929/174933/2012-BTN Turunkan-Kredit-PerumahanJadi-85-.html. Di akses Tanggal 26 September 2011 BPS. Persentase Rumah Tangga Menurut Provinsi, Tipe Daerah dan Status Kepemilikian Rumah Kontrak/Sewa, 2009-2010 BPS. Statistik Kependudukan Indonesia 2010 BPS. Potensi Pedesaan (PEDOS) 2011

PKM- Penerapan Teknologi 2011

Universitas Haluoleo Kendari Berlian,Sihombing.2009.Pembuatan dan Karakterisasi Batako Ringan Yang Dibu at Dari Sludge (Limbah Padat) Industri Kertas-Semen. Tesis, USU Medan. Christiawan dan Darmanto, S, . 2004. Perlakuan Bahan Bata Merah Berserat Abu Sekam Padi .Laporan Penelitian Mandiri.Universitas Dipanegoro Disurya, Wira,dkk. 2002. Penggunaan Abu Ampas Tebu Untuk Pembuatan Beton Dengan Analisa Faktorial Desain. skripsi.Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan ,Petra Christian University. Surabaya Dwijendra, Ngakan K.A.2004. Quality Of Low Cost Housing Settlement Project Provided by Developer and PERUMNAS in Denpasar. Jurnal Permukiman Natah Vol.2 No.2. Hal 56-107 Faslih dan Noraduola. 2011. Implikasi Teknologi Terhadap Produksi Bata. Jurnal Meropilar Universitas Haluoleo 2010. Frick, H., Ch. K.1999. Ilmu Bahan Bangunan (Seri Konstruksi Arsitektur 9), Kanisius, Yogyakarta. Haryanto, B. dan P. Pangloli,1992 dalam Kanro dkk. 2010. Potensi dan Pemanfaatan Sagu. Kanisius, Yogyakarta.140 hlm Harsono, H., 2002,Pembuatan Silika Amorf dari Limbah Sekam Padi, Jurnal Ilmu Dasar Vol 3 No. 2 hal 98 -103. Junior, et. al. 2003 dalam sudarsana,I Ketut,2011.Structural Behavior of Load Bearing Brick Walls of Soil-Cement with the Addition of Ground Ceramic Waste.R. Bras. Eng. Agric. Ambiental.Campina Grande.v.7.n.3.p. 552-558 Kanro, M Zain, dkk.2010. Optimalisasi Pengolahan Sagu (Metroxylon) Menjadi Biofuel. Jurnal Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol.10 No.2 Agustus 2010 Nurdin, 1995. Pemanfaatan Ampas Sagu Sebagai Substrat Pambuatan Ampas Protein Tunggal, Laporan Penelitian FKIP. Universitas Haluoleo : Kendari. Ornam, Noraduola,dan Santi. 2010.Aplikasi Hollow Brick dengan Filler Sekam Pada Pembangunan Rumah Sederhana di Kendari. Jurnal Metropilar Vol. 8 No.1 Januari 2010. Hal 207 212. Primayatma, I. B. G., 1993 dalam sudarsana,dkk.2011. Peranan Semen Portland dan Agregat Lain Terhadap Campuran Tanah Liat Sebagai Bahan Bata Merah Tanpa Pembakaran. Siregar, Nuraisyah.2010. Pemanfaatan Abu Pembakaran Ampas Tebu Dan Tanah Liat Pada Pembuatan Batu Bata.Jurnal Universitas Sumatera Utara Sirappa, M.P., 2003,dalam Cristiawan dkk,2004. Prospek Pengembangan Sorgum di Indonesia sebagai Komoditas alternative untuk Pangan, pakan dan Industri, Jurnal Litbang Pertanian 22 (4) hal. 137. SNI-0553-1989-A. Petunjuk Pelaksanaan Pengujian Bata Merah Berlubang, Mutu dan Cara Uji, Badan Standardisasi Nasional. Tiurma, Simbolon. 2009. Pembuatan dan Karakterisasi Batako Ringan Yang Terbuat Dari Styrofoam-Semen, Tesis, USU Medan. Wahyuno,dkk.2010. Optimalisasi Pengolahan Sagu (Metroxylon) Menjadi Biofuel. Jurnal Badan Penelitian dan Pengembangan Tanaman Vol.16 No.2 Agustus 2010.

17

PKM- Penerapan Teknologi 2011

Universitas Haluoleo Kendari L. LAMPIRAN 1. Biodata ketua kelompok , Anggota Pelaksana dan Dosen Pendamping Nama NIM Fakultas/Prog.Studi Perguruan Tinggi Waktu Untuk Kegiatan PKM : : : : : Bustamil E1B1 08 024 Teknik/Teknik Arsitektur Universitas Haluoleo Kendari 10 Jam Ketua Pelaksana, Bustamil Nama NIM Fakultas/Prog.Studi Perguruan Tinggi Waktu Untuk Kegiatan PKM : : : : : Jumriadin E1C1 08 036 Teknik/Teknik Arsitektur Universitas Haluoleo Kendari 6 Jam Anggota Pelaksana 1, Jumriadin Sitti Suryanah Wulan Malik E1B1 08 040 Teknik/ Teknik Arsitektur Universitas Haluoleo Kendari 6 Jam Anggota Pelaksana 2, Sitti Suryanah Wulan Malik Vovianty Masgode E1B1 08 043 Teknik/ Teknik Arsitektur Universitas Haluoleo Kendari 6 Jam Anggota Pelaksana 3, Vovianty Masgode Nurfitriani Soekoenay F1C1 09 003 MIPA/ IPA KIMIA Universitas Haluoleo Kendari 6 Jam Anggota Pelaksana 4, Nurfitriani Soekoenay

18

Nama NIM Fakultas/Prog.Studi Perguruan Tinggi Waktu Untuk Kegiatan PKM

: : : : :

Nama NIM Fakultas/Prog.Studi Perguruan Tinggi Waktu Untuk Kegiatan PKM

: : : : :

Nama NIM Fakultas/Prog.Studi Perguruan Tinggi Waktu Untuk Kegiatan PKM

: : : : :

PKM- Penerapan Teknologi 2011

Universitas Haluoleo Kendari Nama Lengkap Golongan/Pangkat/NIP Jabatan Fungsional Jabatan Struktural Fakultas/Prog.Studi Perguruan Tinggi Bidang Keahlian Waktu Untuk Kegiatan PKM : : : : : : : : Dwi Rinnarsuri Noraduola.ST.,M.Sc III / a /19801012 200501 2 002 Asisten Ahli Sekretaris Jurusan Arsitektur Teknik / Teknik Arsitektur Universitas Haluoleo Urban Environmental Management 3 Bulan Dosen Pendamping Dwi Rinnarsuri Noraduola.ST.,M.Sc NIp : 19801012 200501 2 002 2. Gambaran Umum Hollow Brick dengan Filler Limbah Sagu Batu bata dengan filler sagu menggunakan campuran sagu dan tanah liat dengan ukuran mengikuti ketentuan standar SNI-0553-1989-A yaitu sebagai berikut: Bata tipe A:

19

Bata tipe B:

Bata tipe C:

PKM- Penerapan Teknologi 2011

Universitas Haluoleo Kendari PERJANJIAN MITRA KERJA SAMA UD. ELTI JA(INDUSTRI BATA UD. SYUKUR JAYA LABELA) dengan KELOMPOK PKM-PENERAPAN TEKNOLOGI 2011 UNHALU Yang bertanda tangan dibawah ini: I. Nama : Bapak Yusran Jabatan : Pimpinan UD. Syukur Jaya Labela Alamat : Desa Labela,Kec. Besuluti, Kab.Konawe Sultra Dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama pimpinan UD. Syukur Jaya Labela yang berkedudukan di Desa Labela, Kec. Besuluti, Kab.Konawe Sulawesi Tenggara Selanjutnya disebut sebagai PIHAK PERTAMA II. : Bustamil : Ketua Kelompok Pelaksana PKM-Penerapan Teknologi Universitas Haluoleo Kendari Alamat : JL. H.E.A Mokodompit Lr. Salangga No. 8C Kota Kendari Sulawesi Tenggara. Dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama Ketua Kelompok Peserta Pelaksana PKM-Penerapan Teknologi 2011 dari Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Haluoleo yang berkedudukan di Kota kendari Selanjutnya disebut sebagai PIHAK KEDUA Nama Jabatan

20

Bahwa PIHAK PERTAMA adalah sebagai pengusaha sekaligus pemilik industri Batu Bata UD. Syukur Jaya Labela akan melakukan kerja sama (Mitra Kerja) dengan PIHAK KEDUA dalam produksi batu bata dengan bahan pengisi (Filler) sagu, yang meliputi penyediaan tenaga kerja dan penyediaan waktu. Demikian pernyataan ini dibuat untuk digunakan dengan semestinya. Desa Labela, 3 Oktober 2011 Menyetujui,

Bapak Yusran
PIHAK PERTAMA

Bustamil
PIHAK KEDUA

PKM- Penerapan Teknologi 2011

Universitas Haluoleo Kendari 3. Denah Detail Lokasi Mitra Kerja

21

PKM- Penerapan Teknologi 2011