P. 1
Amir Mahmud

Amir Mahmud

|Views: 5,538|Likes:
Dipublikasikan oleh bangdesrizal

More info:

Published by: bangdesrizal on Oct 25, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/11/2013

pdf

text

original

Demikian pula, banyaknya masyarakat yang pernah menempuh pendidikan

di Madrasah Diniyah (72,92%) dan sebagian mendalami ilmu agama di pesantren

(11,46%) semakin memperkukuh karakteristik mereka sebagai masyarakat yang

agamis. Kondisi demikian ditunjang oleh banyaknya lembaga-lembaga

pendidikan agama di lokasi penelitian yang membuka kesempatan bagi

masyarakat setempat bahkan para pelajar dan santri dari luar daerah untuk

Sumber: Hasil Analisis, 2006

83

memperoleh bimbingan dan pengajaran ilmu agama dari para kyai/ulama dan

ustadz/ustadzah di lembaga-lembaga tersebut.

Sebagai ilustrasi, anak-anak di kedua desa lokasi penelitian sudah terbiasa

mengikuti pendidikan di Madrasah Diniyah pada sore hari, setelah pada pagi

harinya mengikuti pendidikan formal di SD/MI atau SLTP/MTs. Kemudian pada

malam harinya – setelah sholat Mahgrib - mereka belajar Al-Qur’an kepada

ustadz/ustadzah di musholla/masjid, pesantren dan sebagain dilakukan di rumah-

rumah ustadz/ustadzah bersangkutan. Sebagian dari mereka masih melanjutkan

kegiatan pendalaman agama (kitab kuning) di pesantren-pesantren, dengan jadwal

pengajaran yang beragam. Ada yang dilakukan setelah sholat subuh, sholat isya,

atau menjelang maghrib.

2. Aspek Mobilitas

Mobilitas dalam Teori Lerner dianggap sebagai faktor utama terjadinya

urbanisasi. Urbanisasi dalam konteks ini lebih dipahami sebagai sikap mental

seseorang terhadap orientasi kekotaan, yaitu menjadikan kondisi perkotaan

sebagai referensi untuk melakukan perubahan dan pembangunan di desanya.

Mobilitas masyarakat dapat dilihat dari indikator tempat kerja dan tingkat

keseringan bepergian ke luar daerah. Untuk memperoleh gambaran tentang

tingkat mobilitas pelaku komunikasi dapat dilihat pada tabel IV.1. Berdasarkan

tabel tersebut, sebagian besar responden bekerja di lingkungan desanya sendiri,

sehingga mereka lebih memiliki waktu untuk dapat berpartisipasi di

lingkungannya. Namun demikian, tingkat keseringan ke luar daerah yang rendah,

baik dari unsur masyarakat, pemerintahan desa, tokoh organisasi pemerintah

84

maupun tokoh organisasi non pemerintah kurang memberi kontribusi bagi

terjadinya mobilitas psikis yang sangat diperlukan bagi langkah perubahan.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->