Dokumen ini merupakan Rencana Umum Nasional Keselamatan (RUNK) Jalan yang disusun berdasarkan amanat Pasal 203 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009, sebagai wujud tanggung jawab Pemerintah dalam menjamin keselamatan lalu lintas jalan. Penyusunan RUNK Jalan bertujuan untuk memberikan pedoman bagi para pemangku kebijakan agar dapat merencanakan dan melaksanakan penanganan keselamatan jalan secara terkoordinir dan selaras. RUNK Jalan ini juga menjadi acuan bagi Pemerintah Daerah untuk menjabarkan langkah-langkah penanganan keselamatan jalan di wilayahnya. RUNK Jalan ini bersifat jangka panjang yaitu 25 tahun. Untuk menjamin keberlanjutannya, RUNK menggunakan sistematika yaitu visi, misi, arah, target, strategi, kebijakan, program dan kegiatan.

Penyusunan RUNK Jalan ini menggunakan pendekatan 5 (lima) pilar keselamatan jalan yang meliputi manajemen keselamatan jalan, jalan yang berkeselamatan, kendaraan yang berkeselamatan, perilaku pengguna jalan yang berkeselamatan dan penanganan korban pasca kecelakaan. Pencapaian target RUNK ini menggunakan strategi sistem lalu lintas jalan yang berkeselamatan, yaitu penyelenggaraan lalu lintas jalan yang mengakomodasi dan kerentanan tubuh manusia, yang diarahkan untuk memastikan bahwa kecelakaan lalu lintas jalan tidak mengakibatkan kematian dan luka berat.

Demikian Rencana Umum Nasional Keselamatan Jalan ini disusun, semoga bermanfaat bagi terciptanya keselamatan lalu lintas jalan di Indonesia.

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI A. B. C. F. I. J. E. D. G. H. ARAH VISI dan MISI TARGET STRATEGI PENUTUP KEBIJAKAN

LATAR BELAKANG

TUJUAN PENYUSUNAN

ii 1 4 11 13 17 22 37 39 4 8

i

PROGRAM DAN KEGIATAN DAFTAR ISTILAH

Keselamatan merupakan salah satu prinsip dasar penyelenggaraan transportasi1. terdapat sekitar 1.234 jiwa2. tetapi juga menjadi masalah global. Hal ini dapat diindikasikan dengan semakin meningkatnya jumlah dan fatalitas korban kecelakaan. keselamatan jalan sudah sewajarnya menjadi prioritas nasional yang mendesak untuk segera diperbaiki. atau lebih dari 3. Setiap tahun. Pada tahun 2030. Di Indonesia. kecelakaan lalu lintas di . yang artinya dalam setiap 1 jam terdapat sekitar 3 – 4 orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas jalan. kerugian akibat kecelakaan lalu lintas jalan diperkirakan mencapai 2.9 – 3. diperkirakan korban kecelakaan akan meningkat dua kali lipat setiap tahunnya. Berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh Kepolisian Republik Indonesia. Permasalahan keselamatan jalan tidak hanya dihadapi dalam skala nasional saja.000 jiwa per harinya.1 % dari total PDB Indonesia. (WHO) telah mempublikasikan bahwa kematian akibat kecelakaan di jalan diperlakukan sebagai salah satu penyakit tidak menular dengan jumlah kematian tertinggi. Secara nasional.3 juta jiwa meninggal akibat kecelakaan lalu lintas. Memperhatikan hal tersebut. prinsip ini seringkali tidak sejalan dengan apa yang terjadi di lapangan. Jika tidak ada langkah-langkah penanganan yang segera dan efektif. pada tahun 2010 jumlah kematian akibat kecelakaan telah mencapai 31.

Menindaklanjuti hal tersebut. stroke. dan infeksi saluran pernapasan. paru-paru. Semangat pendeklarasian 2011-2020 ini sejalan dengan amanat Undang-undang (UU) Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan khususnya pada Pasal 203 untuk menyusun Rencana Umum . regional dan global.jalan diperkirakan akan menjadi penyebab kematian nomor 5 (lima) di dunia setelah penyakit jantung. pada Maret tahun 2010 Majelis Umum PBB mendeklarasikan (DoA) 2011 – 2020 yang bertujuan untuk mengendalikan dan mengurangi tingkat fatalitas korban kecelakaan lalu lintas jalan secara global dengan meningkatkan kegiatan yang dijalankan pada skala nasional.

Untuk memenuhi program DoA Perserikatan BangsaBangsa maka sepuluh tahun pertama dari RUNK Jalan ini ditetapkan menjadi program Dekade Aksi Keselamatan Jalan Republik Indonesia 2011-2020.Nasional Keselamatan (RUNK) Jalan. Pemerintah Indonesia menyusun RUNK Jalan yang bersifat jangka panjang (25 tahun) dan mendeklarasikan DoA yang akan menjadi bagian dari materi RUNK Jalan. dan kebersamaan. . Falsafah dari RUNK Jalan ini adalah berlanjut. berdasarkan pemahaman bahwa keselamatan jalan adalah tanggung jawab kita semua. Dalam rangka memanfaatkan momentum ini. terkoordinasi.

Kementerian Pendidikan Nasional. masing-masing pemangku kepentingan yang terkait dengan keselamatan jalan. Hasil analisis data kecelakaan tahun 2010 menunjukkan bahwa kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia telah mengakibatkan sekitar 86 orang meninggal setiap harinya. atau setara dengan Rp205 – 220 trilyun pada tahun 2010 dengan total PDB mencapai Rp7. Sebanyak 67% korban kecelakaan berada pada usia produktif (22 – 50 tahun). yaitu: Kementerian Perhubungan.9 . Kementerian Pekerjaan Umum. Selain itu. Guna mewujudkan hal tersebut.3. Kondisi ini mendorong perlunya pengarusutamaan keselamatan jalan sehingga Pemerintah dituntut lebih serius dengan menjadikannya sebagai prioritas nasional. RUNK Jalan ini menjadi acuan bagi pemerintah daerah untuk menjabarkan langkah-langkah penanganan keselamatan jalan di wilayahnya. Kementerian Dalam .000 trilyun. Kementerian Kesehatan. Kementerian Komunikasi dan Informatika.1% dari total PDB Indonesia.Penyusunan RUNK Jalan bertujuan untuk memberikan panduan/pedoman bagi pemangku kebijakan agar dapat merencanakan dan melaksanakan penanganan keselamatan jalan secara terkoordinir dan selaras. Kementerian Perindustrian. Kementerian Riset dan Teknologi. dari korban dan kerugian material akibat kecelakaan tersebut diperkirakan mencapai 2.

fokus utama Pemerintah adalah memastikan penyelenggaraan keselamatan jalan sebagai tanggung jawab bersama yang harus dilaksanakan secara selaras dan terkoordinasi dengan menerapkan prinsip-prinsip orkestra4. Kementerian Keuangan dan Kepolisian Republik Indonesia bersama dengan masyarakat dan dunia usaha. Oleh karena itu. . harus memastikan bahwa program-program kerjanya mengutamakan keselamatan dan mensinergikan semua potensi yang ada. Laporan (ADB) Tahun 2004 menjelaskan bahwa salah satu kelemahan dari penyelenggaraan keselamatan jalan di Indonesia adalah buruknya koordinasi dan manajemen3. Koordinasi merupakan kunci sukses bagi tercapainya keselamatan jalan di suatu negara. Penyusunan dan pelaksanaan program dilakukan secara terkoordinasi dalam semangat kebersamaan dengan menghilangkan ego sektoral.Negeri.

untuk itu berkomitmen menjadikan isu keselamatan jalan menjadi pokok bahasan dalam penetapan kebijakan. yaitu: prioritas nasional.Penyusunan visi5 RUNK Jalan Tahun 2011-2035 menggunakan kata kunci. Guna mendukung visi di atas. mengutamakan keselamatan. program dan kegiatan pembangunan. Setiap pihak menyadari besarnya kerugian ekonomi nasional akibat kecelakaan. dan koordinasi. . aspek-aspek yang harus diakomodasi dalam misi6 RUNK Jalan. Berdasarkan uraian di atas. serta mensinergikan segala potensi. Asia Tenggara. yaitu: terbaik. berikut adalah Visi dan Misi Penyelenggaraan Keselamatan Jalan Indonesia 2011-2035.

Usaha mensinergikan dimulai dari perencanaan sampai pelaksanaan yang selalu mengacu kepada kebersamaan yang terkoordinasi secara harmonis dan selaras.Semua pihak terlibat aktif dalam mengupayakan pengutamaan keselamatan diseluruh mata rantai penyelenggaraan lalu lintas jalan dan pengguna jalan. Dunia Usaha. . Pemberdayaan peran Pemerintah. dan Masyarakat untuk menggali sumber daya dalam rangka peningkatan keselamatan nasional.

serta kerusakan infrastruktur yang diakibatkan oleh kecelakaan lalu lintas jalan. serta standarisasi sarana dan prasarana penanganan korban.penyelenggaraan keselamatan Indonesia adalah sebagai berikut: 7 jalan Semua proses yang terkait dengan kecelakaan lalu lintas. dibakukan dan menjadi proses publik. termasuk proses hukum dan penanganan korban. baik berupa kerugian material dan dari korban. Menciptakan sistem penjaminan yang mampu menyelesaikan seluruh biaya dan kerugian. Menjamin terselenggaranya pendidikan keselamatan jalan yang menekankan pada penanaman nilai-nilai keselamatan jalan .

Sedangkan penegakan hukum diarahkan untuk menciptakan efek jera melalui penerapan sanksi administrasi. denda. kecakapan dan kesehatan dengan menggunakan prinsip lisensi11. dan/atau hukuman badan. Memberikan hak mengemudi secara ketat10 kepada setiap calon pengemudi yang memenuhi syarat pengetahuan.guna menciptakan budaya selamat di jalan. maupun pengguna jalan untuk menjamin keberlanjutan program-program keselamatan jalan. Menyusun kebijakan dan peraturan pelaksanaan dalam rangka menyediakan sumber dana alternatif yang berasal dari swasta. masyarakat. Menerapkan prinsip orkestra penyelenggaraan keselamatan dalam jalan .

. Menyediakan sarana dan prasarana lalu lintas jalan yang memenuhi standar kelaikan sebagai syarat wajib bagi terselenggaranya keselamatan jalan.membutuhkan kelembagaan yang efektif12 guna menjamin koordinasi di antara para pemangku kepentingan dengan didukung oleh sistem informasi sebagai alat bantu pengambilan keputusan yang tepat dan akurat.

96 1.000 kendaraan. Pada tahun 2035. indeks fatalitas yang diinginkan sebesar 0.000 kendaraan 3.93 3.98 0.14 1.000 kendaraan atau disebut indeks fatalitas per 10.37 0.: Menurunkan tingkat fatalitas korban kecelakaan lalu lintas sebesar 80% pada tahun 2035 berbasis data tahun 201014 yang diukur berdasarkan tingkat fatalitas per 10.000 populasi dan (CFR)15 sebagai alat untuk mengukur dan Indeks fatalitas per 10.79.79 . Target Jangka Panjang penyelenggaraan keselamatan jalan Indonesia ini akan dicapai secara inkremental menjadi target 5 tahunan sebagai berikut: Periode Sasaran 0% 20% 50% 65% 75% 80% RUNK ini juga menggunakan indikator angka kematian per 100.

.70%.57 (penurunan 50%) dan 2. dan ditargetkan pada tahun 2020 dan 2035 menjadi 25.mengevaluasi keberhasilan kinerja keselamatan jalan. Pada Tahun 2010 angka kematian per 100.35% (penurunan 50%) dan 10.63 (80%).000 populasi adalah sebesar 13.14% (80%).1516 dan di targetkan pada tahun 2020 dan 2035 akan menjadi 6. Nilai CFR pada tahun 2010 sebesar 50.

pada level nasional dilakukan pengelompokan aspek keselamatan jalan dalam 5 (lima) pilar yang merupakan penyederhanaan dari Pendekatan sistem keselamatan jalan yang mampu mengakomodasi dan kerentanan tubuh manusia untuk memastikan kecelakaan lalu lintas tidak mengakibatkan kematian dan luka berat. dan pencegahan kecelakaan. . Untuk memastikan bahwa seluruh aspek dalam penyelenggaraan keselamatan jalan tertangani secara baik. Penyelenggaraan keselamatan jalan menggunakan pendekatan efisiensi biaya melalui tindakan kuratif dan preventif dalam rangka penanganan korban.Guna memastikan tercapainya target jangka panjang. pencegahan luka. maka ditetapkan strategi17 sebagai berikut: Penyelarasan arah dan komitmen penyelenggaraan keselamatan jalan melalui penerapan prinsip orkestra yang mengkoordinir lima pilar18 secara inklusif19.

1420 sektor yang mempengaruhi penanganan keselamatan jalan. 2. Pilar-1: . bertanggung jawab untuk mendorong terselenggaranya koordinasi antarpemangku kepentingan dan terciptanya kemitraan sektoral guna menjamin efektivitas dan keberlanjutan pengembangan dan perencanaan strategi keselamatan jalan pada level nasional. sehingga infrastruktur jalan yang disediakan mampu mereduksi dan mengakomodir kesalahan dari pengguna jalan. Pilar-2: . desain. Pilar-3: . yaitu: 1. bertanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap kendaraan yang digunakan di jalan telah mempunyai . bertanggung jawab untuk menyediakan infrastruktur jalan yang berkeselamatan dengan melakukan perbaikan pada tahap perencanaan. 3. konstruksi dan operasional jalan. termasuk di dalamnya penetapan target pencapaian dari keselamatan jalan dan melaksanakan evaluasi untuk memastikan penyelenggaraan keselamatan jalan telah dilaksanakan secara efektif dan efisien.

baik dari sisi sistem ketanggapdaruratan maupun penanganan korban termasuk di dalamnya melakukan rehabilitasi jangka panjang untuk korban kecelakaan. sehingga mampu meminimalisir kejadian kecelakaan yang diakibatkan oleh sistem kendaraan yang tidak berjalan dengan semestinya. bertanggung jawab untuk meningkatkan perilaku pengguna jalan dengan mengembangkan programprogram yang komprehensif termasuk di dalamnya peningkatan penegakan hukum dan pendidikan. Dalam pelaksanaannya. Selain itu. Pilar-5: . bertanggung jawab untuk meningkatkan penanganan tanggap darurat pasca kecelakaan dengan meningkatkan kemampuan pemangku kepentingan terkait. kelima Pilar menjalankan kewenangannya dengan prinsip atau integrasi dari interaksi pilar-pilar keselamatan jalan yang bernilai tambah. jika menjadi korban kecelakaan. . 5. kendaraan juga harus mampu melindungi pengguna dan orang yang terlibat kecelakaan untuk tidak bertambah parah. . Pilar-4: standar keselamatan yang tinggi.4.

.

Mengembangkan layanan ketanggapdaruratan terpadu untuk penanganan korban & menyediakan . Meningkatkan harmonisasi dalam informasi. Memantapkan harmonisasi dalam informasi. Meningkatkan harmonisasi dalam informasi. Melakukan redefinisi hal-hal yang terkait dengan kecelakaan dan menyusun prosedur penanganan kecelakaan. komunikasi. koordinasi dan kerjasama antar pemangku kepentingan Meningkatkan kapasitas seluruh pihak yang terlibat ketanggapdaruratan terpadu untuk korban kecelakaan. koordinasi dan kerjasama antar pemangku kepentingan di daerah Meningkatkan standar prosedur penanganan kecelakaan di seluruh Indonesia Meningkatkan standar prosedur layanan ketanggapdaruratan terpadu untuk korban kecelakaan. koordinasi dan kerjasama antar pemangku kepentingan Memantapkan kapasitas seluruh pihak yang terlibat ketanggapdaruratan terpadu untuk korban dan rehabilitasi korban kecelakaan Mengembangkan harmonisasi dalam informasi. 3. 2. komunikasi. Melakukan sosialisasi prosedur penanganan kecelakaan di seluruh Indonesia Meningkatkan standar prosedur penanganan kecelakaan di seluruh Indonesia Meningkatkan standar prosedur penanganan kecelakaan di seluruh Indonesia Meningkatkan standar prosedur layanan ketanggapdaruratan terpadu untuk korban kecelakaan. maka kebijakan-kebijakan yang ditetapkan untuk mencapai target 5 (lima) tahunan sebagaimana di bawah ini: 1. koordinasi dan kerjasama antar pemangku kepentingan di daerah . komunikasi.Menindaklanjuti strategi untuk mencapai target jangka panjang. koordinasi dan kerjasama antar pemangku kepentingan di daerah Memantapkan harmonisasi dalam informasi. komunikasi. komunikasi.

Menyelenggarakan proses hukum yang lebih sederhana terhadap pelanggaran lalu lintas dengan sanksi administrasi. denda dan/atau hukuman badan Menerapkan asuransi pihak ketiga sebagai syarat utama turun ke jalan Mensinergikan sumber pendanaan keselamatan dari pemerintah. denda dan/atau hukuman badan Mensinergikan sumber pendanaan keselamatan dari pemerintah. dan pengguna jalan ( ) Menerapkan prinsip lisensi sebagai syarat mengemudi dengan menggunakan SIM berjenjang Menerapkan proses hukum pelanggaran lalu lintas dengan sanksi administrasi. masyarakat. 6. masyarakat. dan pengguna jalan ( ) Menerapkan prinsip lisensi sebagai syarat mengemudi dengan menggunakan SIM berjenjang Menerapkan proses hukum pelanggaran lalu lintas dengan sanksi administrasi. dunia usaha. masyarakat. dunia usaha. denda dan/atau hukuman badan Mensinergikan sumber pendanaan keselamatan dari pemerintah. dunia usaha. dunia usaha. Menerapkan jaminan terhadap kerugian korban akibat kecelakaan Menyelenggarakan proses hukum yang lebih sederhana terhadap pelanggaran lalu lintas dengan sanksi administrasi. Mensinergikan sumber pendanaan keselamatan dari pemerintah. masyarakat.4. 5. dan pengguna jalan ( ) Menetapkan tata cara yang ketat pemberian hak mengemudi bagi pengemudi yang cakap dan terampil Menerapkan asuransi pihak ketiga sebagai syarat utama turun ke jalan Menerapkan proses hukum pelanggaran lalu lintas dengan sanksi administrasi. denda dan/atau hukuman badan Mensinergikan sumber pendanaan keselamatan dari pemerintah. dan pengguna jalan ( ) Menerapkan prinsip lisensi sebagai syarat mengemudi dengan menggunakan SIM berjenjang . masyarakat. dunia usaha. denda dan/atau hukuman badan Menerapkan asuransi pihak ketiga sebagai syarat utama turun ke jalan 7. dan pengguna jalan ( ) Menetapkan tata cara yang ketat pemberian hak mengemudi bagi pengemudi yang cakap dan terampil Menerapkan asuransi pihak ketiga sebagai syarat utama turun ke jalan.

serta pengembangan data dan surveilans kecelakaan lalu lintas Meningkatkan standar keselamatan bagi setiap kendaraan dengan pembatasan kecepatan dan beban kendaraan Menerapkan prasarana jalan yang memenuhi aspek & . informasi dan edukasi (KIE). Memantapkan standar prasarana pada jaringan jalan yang berkeselamatan Meningkatkan peran serta semua pihak dalam komunikasi. Mengurangi risiko keparahan korban dan kejadian kecelakaan yang diakibatkan oleh infrastruktur jalan Mendorong keterlibatan semua pihak dalam komunikasi.8. Menjamin setiap kendaraan di jalan memenuhi standar keselamatan melalui uji berkala dan uji tipe. penelitian keselamatan jalan. dan pengembangan sistem informasi kecelakaan lalu lintas sebagai alat bantu pengambilan keputusan yang tepat. informasi dan edukasi (KIE). 10. Meningkatkan peran serta semua pihak dalam komunikasi. . 9. dan pengembangan sistem informasi kecelakaan lalu lintas sebagai alat bantu pengambilan keputusan yang tepat. informasi dan edukasi (KIE). meningkatkan kualitas penelitian keselamatan jalan. dan pengembangan sistem informasi kecelakaan lalu lintas sebagai alat bantu pengambilan keputusan yang tepat. dan pengembangan sistem informasi kecelakaan lalu lintas sebagai alat bantu pengambilan keputusan yang tepat. meningkatkan kualitas penelitian keselamatan jalan. meningkatkan kualitas penelitian keselamatan jalan. Meningkatkan peran serta semua pihak dalam komunikasi. Meningkatkan standar prasarana menuju jaringan jalan yang berkeselamatan Melakukan pembatasan usia kendaraan dalam rangka meningkatkan standar keselamatan bagi setiap kendaraan di jalan. meningkatkan kualitas penelitian keselamatan jalan. Meningkatkan standar keselamatan bagi setiap kendaraan di jalan khususnya pada angkutan umum Menerapkan prasarana jalan yang memenuhi prinsip Meningkatkan standar keselamatan bagi setiap kendaraan di jalan dengan pendekatan . informasi dan edukasi (KIE). informasi dan edukasi (KIE). Meningkatkan peran serta semua pihak dalam komunikasi.

Pilar ke-1 (Manajemen Keselamatan Jalan) merupakan kontributor utama dalam membangun system keselamatan jalan secara komprehensip. sehingga indikator dari Pilar ini adalah efektivitas dan keberlanjutan. Pilar ke-4 dan Pilar ke-5. Dengan memperhatikan pendekatan di atas. dari target jangka panjang penanganan keselamatan jalan merupakan gabungan dari Pilar ke-2. dari program atau rencana aksi. Memperhatikan hal tersebut. serta dari Pilar. Pilar ke-3. langkah berikutnya yang harus ditentukan adalah menentukan kontribusi dari masing-masing pilar terhadap penurunan tingkat fatalitas. Berdasarkan karakteristik Pilar ke-1 tersebut. prioritas atau bobot (prosentase) masing-masing Pilar terhadap target jangka panjang menggunakan dasar pertimbangan sebagai berikut: . Dari karakteristik masing-masing pilar dapat disimpulkan bahwa.Program dan kegiatan keselamatan jalan disusun dengan menggunakan keterkaitan antara output dari kegiatan. Selanjutnya. dari target jangka panjang merupakan gabungan dari masing-masing Pilar. Pilar ke-1 memiliki tanggung jawab untuk menjamin keselarasan penanganan keselamatan jalan dari interaksi keempat Pilar lainnya. yang dikuantifikasikan sebagai prioritas atau bobot (prosentase) terhadap target jangka panjang.

2. Target jangka panjang penanganan keselamatan jalan adalah penurunan tingkat fatalitas korban kecelakaan lalu lintas dengan memobilisasi semua Pilar dalam rangka penanganan keselamatan secara komprehensip. grafis hubungan antara target alah sebagai berikut: dan . Pilar ke-3.Pil 1. Distribusi bobot kelima Pilar (Pilar ke-1. Pilar ke-2. Pilar ke-4 dan Pilar ke5) ditetapkan dengan menggunakan proporsi yang sama untuk masing-masing Pilar.

MASYARAKAT Membentuk forum/lembaga koordinasi program keselamatan Membentuk kelompok kerja/Pokja penanganan kecelakaan Menyediakan tata kerja dan tata kelola forum/lembaga koordinasi Menetapkan prioritas dan menjamin efektivitas dan keberlanjutan program-program keselamatan Menyusun pedoman kelalu lintasan kendaraan darurat Terbentuknya Lembaga/ forum koordinasi Tersedianya pedoman tata kerja & tata kelola Terlaksananya program-program keselamatan Kesediaan seluruh pihak untuk menjalankan protokol Tersedianya pedoman kelalu lintasan kendaraan darurat Terselenggaranya kegiatan (Ada/Tidak) (Ada/Tidak) (Ada/Tidak) Evaluasi Evaluasi Evaluasi d. KEMEN-KES. c. Menyelenggarakan simulasi dan sosialisasi protokol operasi Evaluasi KEMEN-HUB POLRI. POLRI.a 1. KEMEN-PU. b. Protokol Kelalulintasan Kendaraan Darurat a. KEMEN-PU. b. KEMEN-RISTEK. KEMENINDUSTRI. Penyelarasan dan Koordinasi Keselamatan Jalan a. KEMENKOMINFO . KEMEN-KES. KEMEN-KOMINFO.a 2. KEMENDIKNAS.a BAPPENAS KEMEN-HUB.n. Harmonisasi penyelenggaraan keselamatan jalan Efektif dan n. Terbentuknya kelompok kerja tiap pilar (Sudah/Belum) (Berjalan/tidak) (Ada/Tidak) (Sudah/Belum) n.

3. ASURANSI. Melembagakan tata kelola riset Menyelenggarakan Riset Penyebab Kecelakaan Menyelenggarakan riset yang sesuai dengan kebutuhan keselamatan jalan Mengumpulkan dan mengembangkan struktur data kecelakaan (data penyebab kecelakaan. c.a POLRI KEMEN-HUB. KEMEN-KOMINFO. Terselenggaranya riset yang sesuai kebutuhan Tersedianya struktur dan jenis data yang dibutuhkan Tersedianya data terpadu (Mendukung/Tidak) (Ada/Tidak) (Ada/Tidak) (Ada/Tidak) n. Mengkonsolidasikan data kecelakaan dari berbagai pihak Mendiseminasikan laporan tahunan kecelakaan d. Riset Keselamatan Jalan a. KEMEN-PU. MASYARAKAT 4. POLRI. dan Sistem Informasi Terpadu a. Tersedianya sistem informasi manajemen keselamatan Terselenggaranya diseminasi informasi kecelakaan (Sudah/Belum) . data korban kecelakaan. c. KEMEN-KES. KEMEN-KES. b. DUNIA USAHA b. KEMEN-PU.a Terselenggaranya riset penyebab kecelakaan Informasi yang akurat bagi perencanaan dan pengambilan keputusan Evaluasi KEMENRISTEK KEMEN-HUB. data surveilans) Mengembangkan sistem informasi manajemen keselamatan Temuan riset yang mendukung perbaikan keselamatan serta adanya IRSC dan IRoS Tersedianya lembaga riset yang terpadu (Implementatif/ Tidak) (Ada/Tidak) (Sudah/Belum) (Sudah/Belum) n.

KEMENKOMINFO. KEMEN-PU.a Pengusahaan angkutan umum yang berkeselamatan Keselamatan awak angkutan umum Penurunan jumlah korban kecelakaan angkutan umum Jumlah perusahaan angkutan umum yang berpartisipasi Terciptanya penjaminan awak yang mewadahi (% penurunan jumlah korban) n. b. POLRI. SBAJ. Penyempurnaan Regulasi Keselamatan Regulasi yang tanggap terhadap Jalan keselamatan jalan % masalah mendasar yang terselesaikan n. MASYARAKAT KEMEN-HUB. Memberikan kemudahan publik untuk mengakses data Menyelenggarakan lembaga dana keselamatan jalan Menjamin ketersediaan dana keselamatan jalan Pengembangan pusat data dan informasi (fisik dan virtual) Efektivitas dan efisiensi Penggunaan dana keselamatan Tersedianya lembaga pengelola dana keselamatan Tersedianya sumber-sumber pendanaan (Sudah/Belum) (Ada/Tidak) (Ada/Tidak) (Optimal/Tidak) n.5. KEMEN-PU. PEMDA. KEMEN-KES. KEMENRISTEK. KEMENKOMINFO. KEMENHUB. Kemitraan Keselamatan Jalan a. ASURANSI. Menyusun pedoman pengaturan kemitraan dengan dunia usaha dan masyarakat Menyelenggarakan inisiatif kemitraan keselamatan jalan Peningkatan proporsi dana yang dikelola oleh kemitraan Terselenggaranya inisiatif kemitraan Tersedianya pedoman pengaturan (% kebutuhan total dana keselamatan) (Ada/Tidak) Jumlah mitra aktif % partisipasi (Ada/Tidak) n. KEMEN-KES. KEMENRISTEK. KEMEN-INDUSTRI. POLRI. 7. KEMEN-KEU. KEMEN-PU. KEMEN-DIKNAS. KEMEN-KES. ASURANSI KEMEN-HUB 8. DUNIA USAHA. ORGANDA. . b. KEMEN-INDUSTRI. Sistem Manajemen Keselamatan Angkutan Umum a. MITRA (MISAL: GRSI/GRSP) KEMEN-NAKER. POLRI. e.a 50% 20% 60% 25% 75% 35% 100% 50% BAPPENAS 6.a 10 dalam 20 dalam 30 dalam 40 dalam 10 th 15 th 20 th 25 th 30% 50% 40% 50% 50% 60% 60% 60% 65% 75% 80% 75% 100% 100% 100% 75% evaluasi BAPPENAS KEMEN-KEU. KEMEN-DIKNAS. b. Dana Keselamatan Jalan a.a KEMEN-HUB BAPPENAS.

a 30% 50% 65% 75% 80% KEMEN-PU Terselenggaranya sosialisasi KEMEN-KOMINFO. KEMENDIKNAS. d. KEMEN-RISTEK. Badan Jalan yang Berkeselamatan a. b. PEMDA . e.a Melaksanakan penutupan lubang jalan ( ) Melaksanakan perbaikan adanya genangan air Melaksanakan penanganan jalan licin Melaksanakan perbaikan bahu jalan Waktu tanggap Waktu tanggap Waktu tanggap Minimum % pemanfaatan 7x 24 jam 5 x 24 jam 3 x 24 jam 2 x 24 jam 1 x 24 jam 7x 24 jam 5 x 24 jam 3 x 24 jam 2 x 24 jam 1 x 24 jam 7x 24 jam 5 x 24 jam 3 x 24 jam 2 x 24 jam 2 x 24 jam 40% 60% 75% 85% 90% evaluasi KEMEN-HUB. KEMENINDUSTRI. b. MASYARAKAT 1. Menyediakan tata laksana perbaikan badan jalan terkait kelaikan keselamatan Terpenuhinya badan jalan yang berkeselamatan Tersedianya pedoman pemeliharaan jalan terkait keselamatan Respon penanganan lubang jalan Respon penanganan/ perbaikan drainase Respon penanganan jalan licin Terselenggaranya peningkatan manfaat bahu jalan Jalan lebih selamat (Ada/Tidak) n. PEMDA.a. c. Mereview dan membuat peraturan lalu lintas baru yang mengakomodir aspek keselamatan Mensosialisasikan peraturan lalu lintas yang disempurnakan dan baru Tersedianya peraturan yang mendukung peningkatan keselamatan (Ada/Tidak) (Sudah/belum) n.

e. Meningkatkan Tersedianya pedoman perencanaan Tersedianya pedoman pelaksanaan Terlaksananya perencanaan jalan Terlaksananya pekerjaan jalan Terlaksananya inspeksi Terlaksananya investigasi Terlaksananya perbaikan Jalan lebih selamat (Ada/Tidak) (Ada/Tidak) Minimum % pemenuhan n. Melaksanakan inventarisasi dan investigasi lokasi rawan kecelakaan Melaksanakan perbaikan lokasi rawan kecelakaan Menyelenggarakan manajemen kecepatan. termasuk traffic h. Perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan jalan (termasuk perlengkapan jalan) yang berkeselamatan a. f.2. POLRI.a Evaluasi Evaluasi 80% KEMEN-PU Menyediakan tata laksana perencanaan jalan yang berkeselamatan KEMEN-HUB. Minimum % pemenuhan Minimum % pemenuhan Minimum % pemenuhan Minimum % pemenuhan Minimum % pemenuhan 100% 80% 80% 80% g. c. b. PEMDA Menyediakan tata laksana pelaksanaan pekerjaan jalan yang berkeselamatan Melaksanakan perencanaan jalan yang berkeselamatan. Terselenggaranya manajemen kecepatan 100% 100% . dari tahap planning sampai dengan Melaksanakan pekerjaan jalan yang berkeselamatan Melaksanakan inspeksi keselamatan jalan 30 % 50% 30% 30% 30% 60% 50% 100% 50% 50% 50% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% d.

i. Lingkungan jalan yang berkeselamatan Meningkatnya lingkungan jalan yang berkeselamatan a. Tersedianya pedoman jalan Terlaksananya manajemen penyelenggaraan jalan Jalan lebih selamat (Ada/Tidak) Minimum % terkendali Minimum % n. c. Menunjang tindak kedaruratan akibat kecelakaan lalu lintas dan bencana Terlaksananya penunjangan kedaruratan Meningkatnya Minimum % pemenuhan 30% n. KEMENDAGRI.a 50% 75% 85% 100% KEMEN-PU KEMEN-HUB. b. Menyelenggarakan peningkatan standar kelaikan jalan yang berkeselamatan a. c. Mengendalikan fungsi ruang tepi jalan Mengendalikan kegiatan tepi jalan Terselenggaranya pengendalian Terselenggaranya pengendalian fungsi ruang tepi jalan 100% .a 60% 90% 100% evaluasi 40% 40% 60% 60% 70% 80% 80% 100% 100% KEMEN-PU KEMEN-HUB. KEMEN-LH b. PEMDA Menyediakan standar kelaikan jalan yang berkeselamatan Menyediakan pedoman manajemen penyelenggaraan jalan yang berkeselamatan Menerapkan manajemen penyelenggaraan jalan yang berkeselamatan Menyediakan tata laksana penertiban dan penataan lingkungan jalan terkait keselamatan Tersedianya standar Jalan lebih selamat (Ada/Tidak) (Ada/Tidak) Minimum % pemenuhan Tersedianya pedoman evaluasi evaluasi 75% 4. calming 3.

) Terpenuhinya ketertiban operasi lalu lintas Terselenggaranya inspeksi pengoperasian Terselenggaranya inspeksi pemasangan Kelaikan kendaraan di jalan Minimum % kepatuhan b. Penyelenggaraan dan Perbaikan Prosedur Uji Berkala dan Uji Tipe a.a 30% 30% 40% 50% 50% 60% 65% 65% 80% 75% 75% 100% 80% 80% POLRI KEMEN-HUB 1. alat perlindungan anak. b. Mengembangkan sistem pengujian Memperbaiki prosedur dan manual uji berkala dan uji tipe Tersedianya prosedur dan manual Tersedianya sistem pengujian n.a n. Kepatuhan Pengoperasian Kendaraan a. helm. POLRI.pemasangan perlengkapan keselamatan ( .a 60% 70% evaluasi 80% 90% 100% KEMEN-HUB KEMEN-INDUSTRI. Menyelenggarakan inspeksi kepatuhan pengoperasian kendaraan bermotor Menyelenggarakan inspeksi kepatuhan . (Sudah/Belum) (Sudah/Belum) Tingkat kepatuhan (Ada/Tidak) (Ada/Tidak) 2.d. PEMDA . Menyediakan fasilitas pejalan kaki Tersedianya fasilitas pejalan kaki termasuk pelindung pejalan kaki dengan pagar ( ) kegiatan tepi jalan terkendali Minimum % perlindungan 30% n.

penyelenggaraan. Pembatasan Kecepatan Kendaraan a.a 30% 20% 10% 0 KEMEN-HUB KEMEN-PU. Menetapkan sistem denda Melibatkan (Partisipasi) masyarakat dalam gerakan Terselenggaranya Partisipasi masyarakat dalam gerakan . Penanganan a. PEMDA Tersedianya prosedur penanganan Tersedianya teknologi penegakan hukum Tersedianya regulasi yang memayungi sistem denda Pengendalian muatan lebih 4. d. c. d. infrastruktur.a KEMEN-HUB KEMEN-RISTEK. penerapan sistem akreditasi) Terlaksananya kegiatan evaluasi Terselenggaranya pemeriksaan kendaraan di jalan Mengurangi kecepatan saat tabrakan (Sudah/Belum) Minimum % terlaksananya pemeriksaan Minimum % pengurangan fatalitas (Ada/Tidak) (Ada/Tidak) (Ada/Tidak) (Ada/Tidak) (Ada/Tidak) Minimum % pelanggaran muatan n. 10% 15% 20% 20% 30% 25% 40% 25% 50% 3. POLRI. Mengevaluasi sistem pengujian berkala dan uji tipe (SDM. BAPPENAS. pendataan system informasi. Menetapkan batas kecepatan Menetapkan prosedur penanganan pelanggaran kecepatan Menyediakan teknologi penegakan hukum. Menyelenggarakan pemeriksaan kendaraan di jalan b. Tersedianya pedoman batas kecepatan sesuai dengan desain teknis jalan n. KEMENRISTEK. KEMEN-KOMINFO. PEMDA.c. POLRI.

a n. c. Penyempurnaan Prosedur Uji Tipe bagi Kendaraan Bermotor yang diimpor dalam Keadaan Bukan Baru dan Modifikasi 8.a n. Menyelenggarakan penanganan Menerapkan 5. Penghapusan Kendaraan ( d.b.a 10% 10% 5% 5% 10% 5% 0% 0% 0% KEMEN-HUB KEMEN-HUB KEMEN-HUB KEMENRISTEK % kendaraan angkutan umum yang tidak memenuhi standar % kendaraan impor dan modifikasi yang tidak lolos uji tipe KEMEN-INDUSTRI. Standar Keselamatan Kendaraan Angkutan Umum 7. Pengembangan Riset dan Desain Kendaraan Bermotor Kendaraan yang menenuhi standar keselamatan Kendaraan impor dan modifikasi yang lolos uji tipe Desain kendaraan yang berkeselamatan % keterlibatan kendaraan tua/tidak terpelihara dalam kecelakaan n. Menyempurnakan fungsi jembatan timbang Terselenggaranya penanganan (ITS) di bidang angkutan barang Terselenggaranya layanan jembatan timbang secara efektif ) Tersedianya ITS angkutan barang Menekan kendaraan tua/tidak terpelihara turun ke jalan Maksimal % pelanggar muatan tidak tertangkap (Sudah/Belum) (Ada/Tidak) 30% 25% 15% 5% MASYARAKAT 6. KEMEN-INDUSTRI KEMEN-INDUSTRI KEMEN-HUB % jenis/tipe kendaraan bermotor yang berbahaya .a n. PEMDA POLRI.

Pemeriksaan Kondisi Pengemudi a. e. Tersedianya pengaturan mengenai hak mengemudi .a 30% 20% 50% 40% 65% 55% evaluasi 75% 65% 80% 70% POLRI KEMEN-KES Menyelenggarakan pemeriksaan standar kesehatan pengemudi saat mendapatkan SIM Menyelenggarakan pemeriksaan kesehatan secara berkala Menyelenggarakan patroli perilaku yang membahayakan keselamatan Mengatur pembatasan hak mengemudi yang terkait faktor kondisi pengemudi (Sudah/Belum) (Ada/Tidak) (Ada/Tidak) (Ada/Tidak) d. dll) Kecelakaan yang disebabkan oleh faktor kondisi pengemudi Tersedianya standar kesehatan pengemudi Terselenggaranya pemeriksaan standar kesehatan pengemudi saat mendapatkan SIM Terselenggaranya pemeriksaan kesehatan secara berkala Terselenggaranya patroli perilaku yang membahayakan keselamatan % kejadian kecelakaan yang disebabkan oleh faktor kondisi pengemudi (Ada/Tidak) n. penyakit risti/cacat bawaan. b. c. kebutuhan alat bantu. perilaku tidak sehat. Menetapkan standar kesehatan pengemudi(batasan umur.a 1.n. pikun.

2. MASYARAKAT. a. KEMENRISTEK.a POLRI KEMEN-HUB. Peningkatan Sarana dan Prasarana Sistem Uji SIM a. c. Menyelenggarakan Akreditasi Sekolah Mengemudi Peningkatan Kecakapan pengemudi Tersedianya standar pembinaan teknis sekolah mengemudi (Sudah/Belum) (Ada/Tidak) n. Meningkatkan kualitas materi uji SIM Meningkatkan kualitas dan kuantitas instruktur penguji SIM Menerapkan SIM elektronik Menyediakan fasilitas pendidikan pengemudi Menetapkan penjenjangan SIM Menerapkan Peningkatan kecakapan pengemudi Perbaikan materi uji Perbaikan kualitas dan kualitas dan kuantitas instruktur penguji SIM Tersedianya fasilitas pendidikan pengemudi Terselenggaranya SIM elektronik (Ada/tidak) (Ada/Tidak) (Ada/Tidak) (Ada/Tidak) (Ada/tidak) (Sudah/Belum) (Ada/Tidak) (Ada/tidak) n. PEMDA Menetapkan standar pembinaan teknis sekolah mengemudi Menyelenggarakan pelatihan SDM Terselenggaranya pelatihan SDM Sekolah Mengemudi Sekolah Mengemudi (Sudah/Belum) (Sudah/Belum) . Peningkatan kecakapan pengemudi Tersedianya regulasi penjenjangan SIM Terselenggaranya demerit point system Terselenggaranya Akreditasi Sekolah Mengemudi n.a POLRI KEMEN-KUMHAM 4. c. DUNIA USAHA 3. d. PEMDA. Pembinaan Teknis Sekolah Mengemudi b. Penyempurnaan Prosedur Uji SIM b. a. KEMENNAKER. b.a POLRI KEMEN-HUB.

Penanganan Terhadap 5 Faktor Risiko Utama Plus a. e. Menegakkan hukum bagi pelanggar penggunaan helm bagi pengguna sepeda motor Menegakkan hukum bagi pelanggar penggunaan sabuk keselamatan Menegakkan hukum bagi pelanggar batas kecepatan Menegakkan hukum bagi pelanggar yang mengemudi dalam keadaan mabuk d. KEMEN-HUB. PEMDA d. Menegakkan hukum bagi pelanggar penggunaan alat keselamatan yang diperuntukkan pengguna jalan rentan Menegakkan hukum bagi pelanggar penggunaan telepon seluler . 40% 40% 45% 45% 50% 50% 50% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 65% 75% 75% 75% 75% 70% 70% 75% 85% 85% 85% 85% 80% 80% 80% 95% 95% 90% 90% 85% 85% POLRI/PPNS KEMEN-KUMHAM. c. f. Menjamin terselenggaranya sekolah mengemudi Terselenggarakannya sekolah mengemudi Penurunan fatalitas korban kecelakaan yang diakibatkan ketidakpatuhan Fatalitas korban kecelakaan akibat kepatuhan penggunaan helm Fatalitas korban kecelakaan akibat kepatuhan penggunaan sabuk keselamatan Fatalitas korban kecelakaan akibat kepatuhan pada batas kecepatan Fatalitas korban kecelakaan akibat pengemudi yang mabuk Fatalitas korban kecelakaan akibat penggunaan alat keselamatan yang diperuntukkan bagi pengguna jalan rentan Penurunan fatalitas korban kecelakaan akibat kepatuhan penggunaan helm (Sudah/Belum) % penurunan fatalitas korban kecelakaan % penurunan fatalitas korban kecelakaan % penurunan fatalitas korban kecelakaan % penurunan fatalitas korban kecelakaan % penurunan fatalitas korban kecelakaan % penurunan fatalitas korban kecelakaan % penurunan fatalitas korban kecelakaan n.a b.5.

Kampanye Keselamatan : 1) 5 faktor risiko utama plus (helm. penguna jalan rentan).6.a POLRI KEMEN-DIKNAS POLRI.a Mengoptimalkan dalam penanganan korban kecelakaan Tersedianya PSC Tersedianya tenaga medis yang kompeten % Penanganan korban kecelakaan yang mampu menekan fatalitas (Sudah/Belum) (Sudah/Belum) (Ada/Tidak) n. KEMEN-KES. MASYARAKAT. mabuk. Pendidikan Formal dan Informal Keselamatan Jalan 8. KEMEN-RISTEK n. . DUNIA USAHA. KEMEN-HUB. KEMEN-DIKNAS. PEMDA 1. 2) Perilaku sehat di jalan Kemudahan pencatatan dan penindakan bagi pelanggar hukum Terselenggaranya edukasi keselamatan jalan Terselenggaranya Kampanye 5 faktor risiko utama plus (Sudah/Belum) (Sudah/Belum) (Sudah/Belum) n. Menyediakan pos gawat darurat terpadu ( Menetapkan Standar Prosedur Operasional (SPO) kegawatdaruratan protokol kecelakaan POLRI.a 30% 20% 50% 40% 65% 55% 75% 65% 80% 70% KEMEN-KES POLRI. sabuk keselamatan.a n. KEMEN-AGAMA. PEMDA. c. Sistem Layanan Gawat Darurat Terpadu a. KEMENDAGRI. KEMEN-HUB. b. Penggunaan Elektronik Penegakan Hukum 7. penggunaan telepon seluler. KEMEN-PU. KEMEN-NAKER KEMEN-HUB KEMEN-KUMHAM.a n. MASYARAKAT Menyediakan tenaga medis yang kompeten Tersedianya SPO kegawatdaruratan protokol kecelakaan evaluasi .

Tersedianya tenaga awam terlatih untuk P3K Terselenggaranya ujicoba ketanggapdaruratan kecelakaan dan diakses yang mudah diingat (Sudah/Belum) (Sudah/Belum) Tersedianya satu % percepatan penanganan korban kecelakaan (Ada/Tidak) Sudah/belum % penurunan fatalitas korban (Ada/Tidak) (Ada/Tidak) n. menjadi apabila mengetahui kecelakaan KEMEN-KES. Sistem Komunikasi Gawat Darurat (Nomor Darurat) a. b. PEMDA (Sudah /belum) . POLRI.a KEMEN-KEU KEMEN-KES. c. Menyediakan tenaga awam terlatih untuk P3K 2.d. DUNIA USAHA. Tersedianya aturan Tersedianya jaminan biaya pengobatan kepada korban Setiap korban kecelakaan dijamin memperoleh penanganan yang optimal di RS n. Menetapkan Memastikan menjadi bagian dari protokol penanganan kecelakaan yang dihapal oleh masyarakat Menyelenggarakan ujicoba ketanggapdaruratan kecelakaan. Mengembangkan sistem rujukan Tersedianya sistem rujukan berjenjang dari fasilitas kesehatan primer sampai tersier Menetapkan aturan mengenai penjaminan atas penanganan korban di rumah sakit Memastikan skema penjaminan dapat diterima dan dilaksanakan oleh semua pihak (asuransi. POLRI. Penjaminan Korban Kecelakaan yang Dirawat di Rumah Sakit Rujukan a. ASURANSI. KEMEN-HUB.MASYARAKAT b. KEMEN-PU.a KEMEN-INFO 3. e.

a n.a n. Asuransi Pihak Ketiga rumah sakit dan pengendara yang kecelakaan lalu lintas turun ke jalan) 5. Program Rehabilitasi Pasca Kecelakaan 7. Riset Penanganan Korban Kecelakaan Terselenggaranya asuransi pihak ketiga Terselenggaranya program rehabilitasi pasca kecelakaan Tersedianya dana keselamatan jalan yang bersumber dari premi asuransi kecelakaan Temuan riset yang mendukung perbaikan penanganan korban kecelakaan (Sudah/Belum) (Sudah/Belum) (Sudah/Belum) n. MASYARAKAT MASYARAKAT. Pengalokasian Sebagian Premi Asuransi untuk Dana Keselamatan Jalan 6. PERGURUAN TINGGI . PEMDA.a n.a KEMEN-KEU BAPPENAS ASURANSI Catatan: Rencana Aksi/Program (Nomor) dan Nama Kegiatan (huruf) (Implementatif/ Tidak) KEMEN-KES KEMEN-KES KEMEN-KEU. ASURANSI KEMEN-SOS.4.

Langkah-langkah yang perlu dilakukan apabila terjadi perubahan arah penyelenggaraan. Secara berkala. misi. RUNK Jalan perlu dilakukan pengkajian kembali. agar RUNK Jalan selalu dapat sesuai dengan perkembangan zaman. Untuk itu proses diseminasi dan sosialisasi dari dokumen ini sebagai salah satu bentuk partisipasi aktif dari semua pemangku kepentingan harus terus dilakukan guna lebih menjelaskan maksud dan tujuan dari penyelenggaraan keselamatan jalan secara nasional kedepan. meliputi: 1. RUNK Jalan ini tidak akan berarti tanpa tindak lanjut dan langkah nyata yang segera dari semua pemangku kepentingan yang terlibat dalam penyelenggaraan keselamatan jalan secara nasional. minimal setiap 5 (lima) tahun sekali. Dengan visi. . maka hasil rencana penyelenggaraan depan juga perlu disesuaikan kembali. Apabila terjadi perubahan yang mendasar pada arah penyelanggaraan yang telah ditetapkan. Mengidentifikasi target. Penyusunan RUNK Jalan didasarkan pada arah penyelenggaraan yang telah ditetapkan sebagai cita-cita pencapaian ke depan. strategi dan kebijakan yang dipengaruhi oleh perubahan arah penyelenggaraan tersebut.RUNK Jalan sebagai dokumen perencanaan mempunyai kedudukan strategis dalam mendukung pelaksanaan UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Arah ditetapkan sebagai kondisi akhir yang ingin dicapai pada masa yang akan datang dan bersifat kualitatif. arah dan target yang jelas serta telah disepakati bersama. Oleh sebab itu RUNK Jalan ini dapat menjadi rujukan dan pedoman dalam menetapkan kebijakan dan program yang dijalankan dalam penyelenggaraan keselamatan jalan secara nasional saat ini dan kedepan.

Apabila perubahan terjadi pada bagian yang strukturnya lebih rendah lagi. . sehingga perubahan hanya dilakukan pada bagian-bagian yang saling terkait. 2. maka perubahan yang dilakukan meliputi bagian yang berada dalam lingkup materi yang berubah. Merevisi target dan kebijakan yang dipengaruhi oleh perubahan arah penyelenggaraan tersebut dan menyusun kembali target. strategi dan kebijakan sesuai dengan perubahan arah penyelenggaraan yang baru.

ADB BAPPENAS CFR DoA IRoS IRSC ITS : : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional : : : : : : Kementerian Dalam Negeri : Kementerian Pendidikan Nasional : Kementerian Perhubungan : Kementerian Perindustrian : Kementerian Kesehatan : Kementerian Keuangan : Kementerian Komunikasi dan Informatika : Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia : Kementerian Lingkungan Hidup : Kementerian Tenaga Kerja : Kementerian Pekerjaan Umum : Kementerian Riset dan Teknologi : Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan : Produk Domestik Bruto : Pemerintah Daerah KEMEN-DAGRI KEMEN-DIKNAS KEMEN-HUB KEMEN-INDUSTRI KEMEN-KES KEMEN-KEU KEMEN-KOMINFO KEMEN-KUMHAM KEMEN-LH KEMEN-NAKER KEMEN-PU P3K KEMEN-RISTEK PDB PEMDA .

POLRI PSC RS RUNK Jalan SDM SIM SPO UU WHO : Kepolisian Republik Indonesia : : Rumah Sakit : Rencana Umum Nasional Keselamatan Jalan : Sumber Daya Manusia : Surat Izin Mengemudi : Standar Prosedur Operasional : Undang-Undang : WHO : .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful