Anda di halaman 1dari 33

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum

BAB I PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG

Salah satu agenda reformasi keuangan negara adalah adanya pergeseran dari pengganggaran tradisional menjadi pengganggaran berbasis kinerja. Dengan basis kinerja ini, arah penggunaan dana pemerintah tidak lagi berorientasi pada input, tetapi pada output. Perubahan ini penting dalam rangka proses pembelajaran untuk menggunakan sumber daya pemerintah yang makin terbatas, tetapi tetap dapat memenuhi kebutuhan dana yang makin tinggi. Penganggaran yang berorientasi pada output merupakan praktik yang telah dianut luas oleh pemerintahan modern di berbagai negara. Pendekatan penganggaran yang demikian sangat diperlukan bagi satuan kerja instansi pemerintah yang memberikan pelayanan kepada publik. Salah satu alternatif untuk mendorong peningkatan pelayanan publik adalah dengan mewiraswastakan pemerintah. Mewiraswastakan pemerintah (enterprising the government) adalah paradigma yang memberi arah yang tepat bagi sektor keuangan publik. Ketentuan tentang penganggaran tersebut telah dituangkan dalam UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Selanjutnya, UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara membuka koridor baru bagi penerapan basis kinerja di lingkungan pemerintah. Dengan Pasal 68 dan Pasal 69 Undang-Undang tersebut, instansi pemerintah yang tugas pokok dan fungsinya memberi pelayanan kepada masyarakat dapat menerapkan pengelolaan keuangan yang fleksibel dengan menonjolkan produktivitas, efisiensi, dan efektivitas. Prinsip-prinsip pokok yang tertuang dalam kedua undang-undang tersebut menjadi dasar penetapan instansi pemerintah untuk menerapkan pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum (BLU). BLU ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam pembaharuan manajemen keuangan sektor publik, demi meningkatkan pelayanan pemerintah kepada masyarakat. Pola pengelolaan keuangan BLU adalah pola pengelolaan keuangan yang memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk menerapkan praktek-praktek bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah 23 Tahun 2005, sebagai pengecualian dari ketentuan pengelolaan keuangan negara pada umumnya. Pengelolaan keuangan yang memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk menerapkan praktik-praktik bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Yang dimaksud praktik bisnis yang sehat, adalah proses penyelenggaraan fungsi organisasi berdasarkan kaidah-kaidah manajemen yang baik dalam rangka pemberian layanan yang bermutu dan berkesinambungan.

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum

Institusi yang dapat menerapkan PK BLU adalah instansi yang langsung memberikan layanan kepada masyarakat (organic view) dan memenuhi persyaratan substantif, teknis, dan administratif. Instansi pemerintah yang melakukan pembinaan terhadap pola pengelolaan keuangan BLU adalah Direktorat Pembinaan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Ditjen Perbendaharaan. Di lingkungan pemerintahan di Indonesia, terdapat banyak satuan kegiatan yang berpotensi untuk dikelola secara lebih efisien dan efektif melalui pola BLU. Ada yang mendapatkan imbalan dari masyarakat dalam proporsi yang signifikan terkait dengan pelayanan yang diberikan, dan ada pula yang bergantung sebagian besar pada dana APBN/APBD. Satuan kerja yang memperoleh pendapatan dari layanannya dalam porsi signifikan, dapat diberikan keleluasaan dalam mengelola sumber daya untuk meningkatkan pelayanan yang diberikan. Peluang ini secara khusus disediakan bagi satuan kerja pemerintah yang melaksanakan tugas operasional pelayanan publik. Hal ini merupakan upaya peng-agenan aktivitas yang tidak harus dilakukan oleh lembaga birokrasi murni, tetapi oleh instansi pemerintah dengan pengelolaan ala bisnis, sehingga pemberian layanan kepada masyarakat menjadi lebih efisien dan efektif. Alasan mengapa kita memerlukan BLU adalah : a) Agar dapat dilakukan peningkatan pelayanan instansi pemerintah kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa; b) Agar instansi pemerintah dapat memperoleh fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan berdasarkan prinsip ekonomi dan produktivitas dengan menerapkan praktik bisnis yang sehat; c) Agar dapat dilakukan pengamanan atas aset negara yang dikelola oleh instansi terkait. Dalam penyelenggaraannya, BLU setidak-tidaknya mengembangkan tiga sistem akuntansi yang merupakan sub sistem dari sistem akuntansi BLU, yaitu sistem akuntansi keuangan, sistem akuntansi aset tetap, dan sistem akuntansi biaya. Untuk lebih memahami sistem akuntansi pada BLU beserta studi kasus pada salah satu BLU, kami memilih judul makalah SISTEM AKUNTANSI BADAN LAYANAN UMUM SERTA STUDI KASUS SISTEM AKUNTANSI PADA BALAI BESAR PENDIDIKAN PENYEGARAN DAN PENINGKATAN ILMU PELAYARAN (BP3IP) JAKARTA.

B.

TUJUAN PENULISAN

Tujuan yang ingin dicapai dalam penyusunan makalah ini adalah: 1) 2) Menjelaskan pedoman umum sistem akuntansi BLU berdasarkan PMK Nomor 76/PMK.05/2008 beserta sub komponen sistem akuntansinya. Menggambarkan bagaimana sistem akuntansi BLU yang diselenggarakan pada Balai Besar Pendidikan Penyegaran dan Peningkatan Ilmu Pelayaran (BP3IP) Jakarta (Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM.91 Tahun 2010) Menjelaskan akuntansi dana bergulir sebagaimana dituangkan dalam Bultek SAP Nomor 7

3)

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum

BAB II PEMBAHASAN
A. SISTEM AKUNTANSI BLU BERDASARKAN PMK NOMOR 76/PMK.05/2008

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 76/PMK.05/2008 tentang Pedoman Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Badan Layanan Umum mengatur Sistem Akuntansi BLU sebagai berikut: 1. Setiap transaksi keuangan BLU harus diakuntansikan dan dokumen pendukungnya dikelola secara tertib. 2. Periode akuntansi BLU meliputi masa 1 (satu) tahun, mulai dari tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember. 3. Sistem akuntansi BLU terdiri dari: a) sistem akuntansi keuangan, yang menghasilkan Laporan Keuangan pokok untuk keperluan akuntabilitas, manajemen, dan transparansi; b) sistem akuntansi aset tetap, yang menghasilkan laporan aset tetap untuk keperluan manajemen aset tetap; dan c) sistem akuntansi biaya, yang menghasilkan informasi biaya satuan (unit cost) per unit layanan, pertanggungjawaban kinerja ataupun informasi lain untuk kepentingan manajerial. 4. BLU dapat mengembangkan sistem akuntansi lain yang berguna untuk kepentingan manajerial selain sistem akuntansi tersebut dan 5. BLU mengembangkan dan menerapkan sistem akuntansi dan ditetapkan oleh menteri/pimpinan lembaga. Sistem akuntansi adalah serangkaian prosedur baik manual maupun terkomputerisasi mulai dari proses pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran sampai pelaporan posisi keuangan dan operasi keuangan. BLU setidak-tidaknya mengembangkan tiga sistem akuntansi yang merupakan sub sistem dari sistem akuntansi BLU, yaitu sistem akuntansi keuangan, sistem akuntansi aset tetap, dan sistem akuntansi biaya. Sistem akuntansi BLU terdiri dari 3 sistem akuntansi sebagai berikut : 1. Sistem Akuntansi Keuangan Sistem Akuntansi Keuangan adalah sistem akuntansi yang menghasilkan laporan keuangan pokok untuk tujuan umum (general purpose). Tujuan laporan keuangan adalah: a) Akuntabilitas; mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya serta pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepada BLU dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara periodik. b) Manajemen; membantu para pengguna untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan suatu BLU dalam periode pelaporan sehingga memudahkan fungsi

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum

c)

perencanaan, pengelolaan dan pengendalian atas seluruh penerimaan, pengeluaran, aset, kewajiban, dan ekuitas BLU untuk kepentingan stakeholders. Transparansi; memberikan informasi keuangan yang terbuka dan jujur kepada masyarakat berdasarkan pertimbangan bahwa masyarakat memiliki hak untuk mengetahui secara terbuka dan menyeluruh atas pertanggungjawaban BLU dalam pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepadanya dan ketaatannya pada peraturan perundang-undangan.

Sistem Akuntansi Keuangan menghasilkan laporan keuangan pokok berupa Laporan Realisasi Anggaran/Laporan Operasional, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang ditetapkan oleh asosiasi profesi akuntansi Indonesia /standar akuntansi industri spesifik dan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). Laporan keuangan sesuai dengan SAK digunakan untuk kepentingan pelaporan kepada pengguna umum laporan keuangan BLU dalam hal ini adalah stakeholders, yaitu pihak-pihak yang berhubungan dan memiliki kepentingan dengan BLU. Sedangkan laporan keuangan yang sesuai dengan SAP digunakan untuk kepentingan konsolidasi laporan keuangan BLU dengan laporan keuangan kementerian negara/lembaga. Sistem akuntansi keuangan BLU dirancang agar paling sedikit menyajikan: a) informasi tentang posisi keuangan secara akurat dan tepat waktu; b) informasi tentang kemampuan BLU untuk memperoleh sumber daya ekonomi berikut beban yang terjadi selama suatu periode; c) informasi mengenai sumber dan penggunaan dana selama suatu periode; d) informasi tentang pelaksanaan anggaran secara akurat dan tepat waktu; dan e) informasi tentang ketaatan pada peraturan perundang-undangan. Sistem akuntansi keuangan BLU memiliki karakteristik antara lain sebagai berikut: a) basis akuntansi yang digunakan pengelolaan keuangan BLU adalah basis akrual; b) sistem akuntansi dilaksanakan dengan sistem pembukuan berpasangan; dan c) sistem akuntansi BLU disusun dengan berpedoman pada prinsip pengendalian intern sesuai praktek bisnis yang sehat. Dalam rangka pengintegrasian Laporan Keuangan BLU dengan Laporan Keuangan kementerian negara/lembaga, BLU mengembangkan sub sistem akuntansi keuangan yang menghasilkan Laporan Keuangan sesuai dengan SAP. BLU mengembangkan dan menerapkan sistem akuntansi keuangan sesuai dengan jenis layanan BLU dengan mengacu kepada standar akuntansi keuangan yang diterbitkan oleh asosiasi profesi akuntansi Indonesia sesuai dengan jenis industrinya. Sistem akuntansi keuangan BLU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit mencakup kebijakan akuntansi, prosedur akuntansi, subsistem akuntansi, dan bagan akun standar. 2. Sistem Akuntansi Aset Tetap Sistem Akuntansi Aset Tetap menghasilkan laporan tentang aset tetap untuk keperluan manajemen aset. Sistem ini menyajikan informasi tentang jenis, kuantitas, nilai, mutasi, dan kondisi aset tetap milik BLU ataupun bukan milik BLU tetapi berada dalam pengelolaan BLU. Pengembangan Sistem Akuntansi Aset Tetap diserahkan

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum

sepenuhnya kepada BLU yang bersangkutan. Namun demikian, BLU dapat menggunakan sistem yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan seperti Sistem Akuntansi Barang Milik Negara (SABMN). Sistem akuntansi aset tetap BLU paling sedikit mampu menghasilkan: a) informasi tentang jenis, kuantitas, nilai, mutasi, dan kondisi aset tetap milik BLU; dan b) informasi tentang jenis, kuantitas, nilai, mutasi, dan kondisi aset tetap bukan milik BLU namun berada dalam pengelolaan BLU. Dalam pelaksanaan sistem akuntansi aset tetap, BLU dapat menggunakan sistem akuntansi barang milik negara yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. 3. Sistem Akuntansi Biaya BLU mengembangkan Sistem Akuntansi Biaya yang menghasilkan informasi tentang harga pokok produksi, biaya satuan (unit cost) per unit layanan, dan evaluasi varian. Sistem Akuntansi Biaya berguna dalam perencanaan dan pengendalian, pengambilan keputusan, dan perhitungan tarif layanan. Sistem akuntansi biaya BLU paling sedikit mampu menghasilkan: a) informasi tentang harga pokok produksi; b) informasi tentang biaya satuan (unit cost) per unit layanan; dan c) informasi tentang analisis varian (perbedaan antara biaya standar dan biaya sesungguhnya). Sistem akuntansi biaya menghasilkan informasi yang berguna dalam: a) perencanaan dan pengendalian kegiatan operasional BLU; b) pengambilan keputusan oleh Pimpinan BLU; dan c) perhitungan tarif layanan BLU.

B.

SUB KOMPONEN SISTEM AKUNTANSI

Sistem akuntansi BLU terdiri atas sub sistem yang terintegrasi untuk menghasilkan laporan keuangan dan laporan lainnya yang berguna bagi pihak-pihak yang membutuhkan. 1. Kebijakan Akuntansi Kebijakan akuntansi meliputi pilihan prinsip-prinsip, dasar-dasar, konvensi, peraturan dan prosedur yang digunakan BLU dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan. Pertimbangan dan atau pemilihan kebijakan akuntansi perlu disesuaikan dengan kondisi BLU. Sasaran pilihan kebijakan yang paling tepat akan menggambarkan kondisi keuangan BLU secara tepat. Pertimbangan pemilihan untuk penerapan kebijakan akuntansi dan penyiapan laporan keuangan oleh manajemen antara lain: a. Penyajian wajar Laporan Keuangan menyajikan dengan wajar Laporan Aktivitas/LRA, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan.

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum

Faktor pertimbangan sehat bagi penyusun laporan keuangan diperlukan ketika menghadapi ketidakpastian peristiwa dan keadaan tertentu. Ketidakpastian seperti itu diakui dengan mengungkapkan hakikat serta tingkatnya dengan menggunakan pertimbangan sehat dalam penyusunan laporan keuangan. Pertimbangan sehat mengandung unsur kehati-hatian pada saat melakukan perkiraan dalam kondisi ketidakpastian, sehingga aset atau pendapatan tidak dinyatakan terlalu tinggi dan kewajiban atau biaya tidak dinyatakan terlalu rendah. Penggunaan pertimbangan sehat tidak memperkenankan pembentukan cadangan tersembunyi atau penyisihan berlebihan, dan sengaja menetapkan aset atau pendapatan yang lebih rendah atau pencatatan kewajiban atau biaya yang lebih tinggi sehingga laporan keuangan menjadi tidak netral dan tidak andal. b. Substansi Mengungguli Bentuk (Substance Over Form) Informasi dimaksudkan untuk menyajikan dengan wajar transaksi serta peristiwa lain yang seharusnya disajikan, maka transaksi atau peristiwa lain tersebut perlu dicatat dan disajikan sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi, dan bukan hanya aspek formalitasnya. Apabila substansi transaksi atau peristiwa lain tidak konsisten/berbeda dengan aspek formalitasnya, maka hal tersebut harus diungkapkan dengan jelas dalam CaLK. Materialitas Walaupun idealnya memuat segala informasi, laporan keuangan BLU hanya diharuskan memuat informasi yang memenuhi kriteria materialitas. Informasi dipandang material apabila kelalaian untuk mencantumkan atau kesalahan dalam mencatat informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pengguna yang diambil atas dasar laporan keuangan. Pelaporan Tujuan Laporan Keuangan Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi mengenai posisi keuangan, operasional keuangan, arus kas BLU yang bermanfaat bagi para pengguna laporan keuangan dalam membuat dan mengevaluasi keputusan ekonomi. Laporan keuangan disusun untuk tujuan umum, yaitu memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pengguna. Namun demikian, laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan pengguna laporan keuangan dalam pengambilan keputusan ekonomi. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, laporan keuangan BLU menyajikan informasi tentang: (1). aset; (2). kewajiban; (3). ekuitas; (4). pendapatan dan biaya; dan (5). arus kas. Tanggung Jawab atas Laporan Keuangan Pimpinan BLU bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian laporan keuangan BLU yang disertai dengan surat pernyataan tanggung jawab yang berisikan

c.

2. a.

b.

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum

pernyataan bahwa pengelolaan anggaran telah dilaksanakan berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai, akuntansi keuangan telah diselenggarakan sesuai dengan standar akuntansi keuangan, dan kebenaran isi laporan keuangan merupakan tanggung jawab pimpinan BLU. c. Komponen Laporan Keuangan Laporan keuangan setidak-tidaknya terdiri dari komponen-komponen berikut ini: (1). Laporan Realisasi Anggaran/Laporan Operasional (a). LRA menyajikan informasi tentang anggaran dan realisasi anggaran BLU secara tersanding yang menunjukkan tingkat capaian target-target yang telah disepakati dalam dokumen pelaksanaan anggaran. (b). Laporan operasional menyajikan informasi tentang operasi BLU mengenai sumber, alokasi, dan pemakaian sumber daya ekonomi yang dikelola oleh BLU. Laporan operasional antara lain dapat berupa laporan aktivitas atau laporan surplus defisit. (c). Informasi dalam LRA/laporan operasional, digunakan bersama-sama dengan informasi yang diungkapkan dalam komponen laporan keuangan lainnya sehingga dapat membantu para pengguna laporan keuangan untuk: i. mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber-sumber daya ekonomi; ii. menyediakan informasi mengenai sumber, alokasi, dan penggunaan sumber daya ekonomi; dan iii. menyediakan informasi mengenai realisasi anggaran secara menyeluruh yang berguna dalam mengevaluasi kinerja BLU dalam hal efisiensi dan efektivitas penggunaan anggaran. (2). Neraca (a). Tujuan utama neraca adalah menyediakan informasi tentang posisi keuangan BLU meliputi aset, kewajiban, dan ekuitas pada tanggal tertentu. (b). Informasi dalam neraca digunakan bersama-sama dengan informasi yang diungkapkan dalam laporan keuangan lainnya sehingga dapat membantu para pengguna laporan keuangan untuk menilai: i. kemampuan BLU dalam memberikan jasa layanan secara berkelanjutan; ii. likuiditas & solvabilitas; iii. kebutuhan pendanaan eksternal. (3). Laporan Arus Kas (a). Tujuan utama laporan arus kas adalah menyediakan informasi mengenai sumber, penggunaan, perubahan kas dan setara kas selama periode akuntansi serta saldo kas dan setara kas pada tanggal pelaporan. Arus kas dikelompokkan dalam aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan. (b). Informasi dalam laporan arus kas digunakan bersama-sama dengan informasi yang diungkapkan dalam laporan keuangan lainnya sehingga dapat membantu para pengguna laporan keuangan untuk menilai: i. kemampuan BLU dalam menghasilkan kas dan setara kas; ii. sumber dana BLU;

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum

(4).

iii. penggunaan dana BLU; iv. prediksi kemampuan BLU untuk memperoleh sumber dana serta penggunaannya untuk masa yang akan datang. Catatan atas Laporan Keuangan (a). Tujuan utama Catatan atas Laporan Keuangan adalah memberikan penjelasan dan analisis atas informasi yang ada di LRA/laporan operasional, neraca, laporan arus kas, dan informasi tambahan lainnya sehingga para pengguna mendapatkan pemahaman yang paripurna atas laporan keuangan BLU. (b). Informasi dalam Catatan atas Laporan Keuangan mencakup antara lain: i. Pendahuluan; ii. Kebijakan akuntansi; iii. Penjelasan atas pos-pos Laporan Realisasi Anggaran/laporan operasional; iv. Penjelasan atas pos-pos neraca; v. Penjelasan atas pos-pos laporan arus kas; vi. Kewajiban kontinjensi; vii. Informasi tambahan dan pengungkapan lainnya. Laporan keuangan pokok di atas disertai dengan Laporan Kinerja yang menjelaskan secara ringkas dan lengkap tentang capaian kinerja yang berisikan ringkasan keluaran dari masing-masing kegiatan dan hasil yang dicapai dari masing-masing program yang disusun dalam Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA).

d.

Penyajian Laporan Keuangan Setiap komponen laporan keuangan harus diidentifikasi secara jelas dan menyajikan informasi antara lain mencakup: (1). nama BLU atau identitas lain; (2). cakupan laporan keuangan, apakah mencakup hanya satu unit usaha atau beberapa unit usaha; (3). tanggal atau periode pelaporan; (4). mata uang pelaporan dalam Rupiah; dan (5). satuan angka yang digunakan dalam penyajian laporan keuangan. Konsolidasi Laporan Keuangan BLU ke dalam Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga BLU menyusun laporan keuangan berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK). BLU merupakan satker kementerian negara/lembaga, oleh karena itu laporan keuangan BLU dikonsolidasikan dengan laporan keuangan kementerian negara/lembaga. Konsolidasi laporan keuangan dapat dilakukan jika digunakan prinsip-prinsip akuntansi yang sama. BLU menggunakan SAK sedangkan laporan keuangan kementerian negara/lembaga menggunakan SAP, karena itu BLU mengembangkan sub sistem akuntansi yang mampu menghasilkan laporan keuangan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Komponen Laporan Keuangan BLU yang dikonsolidasikan ke dalam laporan keuangan kementerian negara/lembaga meliputi: (1). Laporan Realisasi Anggaran/ Laporan Operasional;

e.

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum

(2). Neraca; Sistem akuntansi BLU memproses semua pendapatan dan belanja BLU, baik yang bersumber dari pendapatan usaha dari jasa layanan, hibah, pendapatan APBN, dan pendapatan usaha lainnya. Sehingga laporan keuangan yang dihasilkan sistem akuntansi tersebut mencakup seluruh transaksi keuangan pada BLU. Transaksi keuangan BLU yang bersumber dari pendapatan usaha dari jasa layanan, hibah, pendapatan APBN, dan pendapatan usaha lainnya wajib dilaporkan dalam Laporan Realisasi Anggaran kementerian negara/lembaga dan Pemerintah. Oleh karena itu transaksi tersebut harus disahkan oleh KPPN dengan mekanisme SPM dan SP2D Pengesahan setiap triwulan. Dengan demikian pelaksanaan SAI di BLU dapat dilakukan secara kumulatif setiap triwulan. Pos-pos neraca terdiri dari aset, kewajiban, dan ekuitas juga dikonsolidasikan ke neraca kementerian negara/lembaga. Untuk tujuan ini perlu dilakukan reklasifikasi pos-pos neraca agar sesuai dengan SAP dengan menggunakan BAS yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Dalam rangka menyiapkan laporan keuangan untuk tujuan konsolidasi, sistem akuntansi BLU juga harus menghasilkan data elektronis (berupa file Buku Besar/Arsip Data Komputer ADK) yang dapat digabungkan oleh UAPPA-E1/UAPA dengan menggunakan aplikasi Sistem Akuntansi Instansi (SAI) tingkat Eselon I atau kementerian/lembaga. Dengan demikian laporan keuangan yang dihasilkan pada tingkat Eselon I atau kementerian/lembaga telah mencakup laporan keuangan BLU. Dalam hal sistem akuntansi keuangan BLU belum dapat menghasilkan laporan keuangan untuk tujuan konsolidasi dengan laporan keuangan kementerian/lembaga, BLU perlu melakukan konversi laporan keuangan BLU berdasarkan SAK ke dalam laporan keuangan berdasarkan SAP. Proses konversinya mencakup pengertian, klasifikasi, pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan atas akun-akun neraca dan laporan aktivitas/operasi. (1). Pengertian Pada umumnya, pengertian akun-akun menurut SAK tidak jauh berbeda dengan SAP. Apabila ada pengertian yang berbeda, maka untuk tujuan konsolidasi pengertian akun menurut SAP, yaitu berdasarkan PP No. 24 tahun 2005 (sekarang PP No. 71 tahun 2010-red). (2). Klasifikasi Klasifikasi aset, kewajiban, ekuitas, pendapatan, dan biaya perlu disesuaikan dengan klasifikasi aset sesuai dengan Bagan Akun Standar yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri Keuangan. (a). Mapping klasifikasi pendapatan dan belanja ke dalam perkiraan pendapatan dan belanja berbasis SAI berpedoman kepada Peraturan Menteri Keuangan tentang Bagan Akun Standar. (b). Mapping klasifikasi neraca, yaitu aset, kewajiban, dan ekuitas BLU menjadi aset, kewajiban, dan ekuitas dana sesuai dengan Bagan Akun Standar. Akun penyisihan piutang tak tertagih, akumulasi penyusutan dan akumulasi amortisasi tidak perlu disajikan di neraca berdasarkan SAP, sepanjang aplikasi SAI belum menerapkan penyisihan piutang tak tertagih, penyusutan dan amortisasi. (3). Pengakuan dan pengukuran

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum

10

SAK menggunakan basis akrual dalam pengakuan aset, kewajiban, ekuitas, pendapatan, dan biaya. Pendapatan diakui pada saat diterima atau hak untuk menagih timbul sehubungan dengan adanya barang/jasa yang diserahkan kepada masyarakat. Biaya diakui jika penurunan manfaat ekonomi masa depan yang berkaitan dengan penurunan aset atau peningkatan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur dengan andal. Ini berarti pengakuan biaya terjadi bersamaan dengan pengakuan kenaikan kewajiban atau penurunan aset misalnya, akrual hak karyawan atau penyusutan aset tetap. SAP menggunakan basis akrual dalam pengakuan aset, kewajiban, dan ekuitas serta basis kas dalam pengakuan pendapatan dan belanja. Pendapatan diakui pada saat kas diterima pada rekening Kas Umum Negara. Belanja diakui pada saat terjadinya pengeluaran dari rekening Kas Umum Negara dan dipertanggungjawabkan. Pendapatan (tidak termasuk pendapatan yang ditransfer dari APBN) dan belanja BLU diakui jika pendapatan dan belanja tersebut dilaporkan dengan mekanisme SPM dan SP2D Pengesahan atas pendapatan dan belanja tersebut. Belanja yang didanai dari pendapatan BLU diakui sebagai belanja oleh Bendahara Umum Negara jika belanja tersebut telah dilaporkan dengan mekanisme SPM dan SP2D Pengesahan. Untuk kepentingan konsolidasi dengan laporan keuangan kementerian /lembaga, perlu dilakukan penyesuaian atas akun pendapatan dan belanja yang berbasis akrual menjadi akun pendapatan dan belanja berbasis kas. Formula penyesuaian pendapatan dan belanja berbasis akrual menjadi berbasis kas adalah sebagai berikut: Pendapatan Berbasis Kas = Pendapatan BLU + pendapatan diterima di muka pendapatan yang masih harus diterima Belanja Berbasis Kas = Biaya BLU Biaya yang dibayar tidak tunai termasuk Penyusutan + utang biaya yang dibayar + biaya dibayar di muka (4). Pengungkapan Pengungkapan laporan keuangan sesuai dengan SAP harus mengikuti persyaratan sesuai dengan PP No. 24 tahun 2005 (sekarang PP No. 71 tahun 2010). Konsolidasi LK BLU kedalam LK kementerian negara/lembaga dilakukan secara berkala setiap semester dan tahunan. Laporan keuangan yang dikonsolidasikan terdiri dari neraca dan laporan realisasi anggaran.

C.

SISTEM AKUNTANSI BALAI BESAR PENDIDIKAN PENYEGARAN DAN PENINGKATAN ILMU PELAYARAN (BP3IP) JAKARTA (PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR PM.91 TAHUN 2010 SISTEM AKUNTANSI KEUANGAN

C.1

Pencatatan dan Pelaporan Keuangan Setiap transaksi keuangan yang terjadi harus selalu didukung oleh dokumen utama yang dikenal sebagai bukti transaksi keuangan (original documents). Original documents yang digunakanoleh BP31P Jakarta sebagai awal dari proses transaksi keuangan pada setiap

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum

11

aktivitas utamanya dikemukakan secara terinci dalam pedoman tersendiri yang akan ditetapkan oleh Direktur BP31P Jakarta. Berdasarkan dokumen dimaksud, bagian keuangan dan umum menyiapkan jurnal yang diperlukan seperti misalnya jurnal per Diklat, jurnal kas/bank pengeluaran, jurnal kas/bank penerimaan, jurnal pembelian, dan jurnal umum. Masing-masing jurnal tersebut dibahas lebih detail di standar jurnal. Setelah jurnal selesai disiapkan maka bagian keuangan dan umum secara periodik akan melakukan posting ke buku besar masing-masing akun yang terpengaruh. Sementara itu bagian keuangan dan umum mencatat transaksi keuangan di masing-masing buku besar pembantu (subsidiary ledgers) berdasarkan pada dokumen pendukung (supporting documents). Buku besar pembantu ini secara periodik atau akhir bulan diperbandingkan dengan buku besarnya. Apabila terjadi selisih maka selisih tersebut harus dicari penyebabnya dan disesuaikan sehingga masing-masing buku besar memiliki perincian yaitu buku besar pembantu yang cocok jumlahnya. Proses selanjutnya adalah penyusunan laporan Keuangan yang terdiri dari laporan Posisi Keuangan, laporan Aktivitas, dan laporan Arus Kas, serta Catatan atas laporan Keuangan (CalK). Proses pencatatan dan pelaporan keuangan diatas dapat digambarkan dalam diagram IIIA-2 sebagai berikut:

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum

12

C.2 SISTEM AKUNTANSI ASET TETAP Definisi Aset tetap adalah aset berwujud yang dimiliki BP31P Jakarta dengan maksud untuk digunakan melayani masyarakat dalam bidang Diklat, dan digunakan lebih dari satu tahun (satu periode akuntansi). Aset tetap antara lain meliputi: 1) Tanah (Tidak disusutkan); 2) Gedung dan Bangunan; 3) Peralatan dan Mesin; 4) Jalan, Irigasi dan Jaringan; 5) Aset Tetap Lainnya; 6) Konstruksi dalam pengerjaan. Berikut ini adalah definisi-definisi yang berkaitan dengan aset tetap: 1) Biaya perolehan (cost) adalah jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan atau nilai wajar dari imbalan lain yang diserahkan untuk memperoleh suatu aset pada saat perolehan atau konstruksi atau, jika dapat diterapkan, jumlah yang diatribusikan ke aset pada saat pertama kali diakui. 2) Jumlah tercatat (carrying amount) adalah nilai yang disajikan dalam neraca setelah dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai. 3) Jumlah yang dapat diperoleh kembali (recoverable amount) adalah nilai yang lebih tinggi antara harga jual neto dan nilai pakai (value in use) suatu aset. 4) Jumlah yang dapat disusutkan (depreciable amount) adalah biaya perolehan suatu aset, atau jumlah lain yang menjadi pengganti biaya perolehan, dikurangi nilai residunya. 5) Nilai khusus entitas (entity specific value) adalah nilai kini dari arus kas suatu entitas yang diharapkan timbul dari penggunaan aset dan dari pelepasannya pada akhir umur manfaat atau yang diharapkan terjadi ketika penyelesaian kewajiban. 6) Nilai residu aset adalah jumlah yang diperkirakan akan diperoleh entitas saat ini dari pelepasan aset, setelah dikurangi taksiran biaya pelepasan, jika aset tersebut telah mencapai umur dan kondisi yang diharapkan pada akhir umur manfaatnya. 7) Nilai wajar adalah jumlah yang dipakai untuk mempertukarkan suatu aset antara pihak-pihak yang berkeinginan dan memiliki pengetahuan memadai dalam suatu transaksi dengan wajar (arm's length transaction). 8) Penyusutan adalah alokasi sistematis jumlah yang dapat disusutkan dari suatu aset selama umur manfaatnya. Metode penyusutan aset tetap di BP31P Jakarta adalah berdasarkan metode garis lurus (Straight line method), 9) Rugi penurunan nilai (impairment loss) adalah selisih dari jumlah tercatat suatu aset dengan jumlah yang dapat diperoleh kembali dari aset tersebut. 10) Umur manfaat (Useful life} adalah: a) Suatu periode di mana aset diharapkan akan digunakan oleh entitas; atau b) Jumlah produksi atau unit serupa yang diharapkan akan diperoleh dari aset tersebut oleh entitas.

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum


Pengakuan Aset tetap diakui sebagai aset jika: 1) mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan; 2) Biaya perolehan aset tetap dapat diukur secara andal; 3) Tidak dimaksudkan untuk dijual dalam operasi normal BP31P Jakarta;dan 4) Diperoleh atau dibangun dengan maksud untuk digunakan.

13

Pengukuran 1) Suatu benda berwujud yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai suatu aset dan dikelompokan sebagai aset tetap, diukur berdasarkan biaya perolehan; 2) Apabila penilaian aset tetap dengan biaya perolehan tidak memungkinkan maka nilai aset tetap tersebut didasarkan pada nilai wajar pada saat perolehan; 3) Biaya perolehan suatu aset, terdiri dari harga belinya atau konstruksinya termasuk bea impor dan setiap biaya yang dapat didistribusikan secara langsung dalam membawa aset tersebut ke kondisi yang membuat aset tersebut dapat bekerja untuk penggunaan yang dimaksudkan. Contoh dari biaya yang dapat didistribusikan langsung adalah : a) biaya persiapan tempat, misalnya biaya pembersihan lokasi (land clearing) dan kegiatan sejenisnya; b) biaya pengiriman awal (initial delivery) dan biaya simpan dan bongkar-muat (handling cost); c) biaya pembangunan (development cost) awal, termasuk biaya perijinan, misalnya ijin mendirikan bangunan (IMB); d) biaya pemasangan (installation costs); e) biaya profesional, seperti disain arsitek dan insinyur; f) biaya tim pengawas; serta g) biaya bunga pinjaman sepanjang dapat didistribusikan secara langsung terhadap perolehan aktiva tetap yang bersangkutan. 4) Harga perolehan dari masing-masing aset tetap yang diperoleh secara gabungan ditentukan dengan mengalokasikan harga gabungan tersebut berdasarkan perbandingan nilai wajar masing-masing aset yang bersangkutan; 5) Suatu aset tetap dapat diperoleh dalam pertukaran atau pertukaran sebagian untuk suatu aset tetap yang tidak serupa atau aset lain. Biaya dari akun semacam itu diukur pada nilai wajar aset yang dilepas atau yang diperoleh, yang mana yang lebih andal, ekuivalen dengan nilai wajar yang dilepaskan setelah disesuaikan dengan jumlah setiap kas atau setara kas yang ditransfer; 6) Suatu aset tetap dapat diperoleh dalam pertukaran atas suatu aset yang serupa yang memiliki manfaat yang serupa dalam bidang usaha yang sama dan memiliki suatu nilai wajar serupa. Suatu aset tetap juga dapat dijual dalam pertukaran dengan kepemilikan aset yang serupa. Dalam kedua keadaan tersebut, karena proses perolehan penghasilan (earning process) tidak lengkap, tidak ada keuntungan atau kerugian yang diakui dalam transaksi. Sebaliknya biaya perolehan aset baru adalah jumlah tercatat dari aset yang dilepaskan. Tetapi, nilai wajar aset yang diterima dapat menyediakan bukti dari suatu pengurangan (impairment) aset yang dilepaskan. Dalam keadaan ini aset yang dilepaskan diturun-nilai buku-kan (written down) dan nilai turun nilai buku (written down) ini ditetapkan untuk aset tetap baru. Contoh: dari pertukaran aset serupa termasuk pertukaran pesawat terbang, hotel, bengkel, dan

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum

14

7)

8)

9)

10)

11)

12) 13)

14) 15)

16)

17)

properti real estate lainnya. Jika aset lain seperti kas termasuk sebagai bagian transaksi petukaran, ini dapat mengindikasikan bahwa akun yang diperlukan tidak memiliki suatu nilai yang serupa; Aset tetap yang diperoleh dari sumbangan/hibah harus dicatat sebesar harga taksiran atau harga pasar yang layak yang ditetapkan oleh pihak penilai (appraisal team) dengan mengkreditkan akun ekuitas; Pengeluaran setelah perolehan awal (subsequent expenditures) suatu aset tetap yang memperpanjang masa manfaat atau yang kemungkinan besar memberi manfaat keekonomian dimasa yang akan datang dalam bentuk peningkatan kapasitas, mutu produksi, atau peningkatan standar kinerja, harus ditambahkan pada jumlah tercatat aset yang bersangkutan; Penilaian kembali atau revaluasi aset tetap tidak diperkenankan. Penilaian kembali aset tetap dapat dilakukan berdasarkan ketentuan pemerintah yang berlaku secara nasional. Dalam hal disajikan menyimpang dari konsep harga perolehan, maka BP31P Jakarta harus menjelaskan penyimpangan tersebut serta pengaruhnya terhadap informasi keuangan BP31P Jakarta. Selisih antara nilai revaluasi dengan nilai buku (nilai tercatat) aset dibukukan dalam akun ekuitas; Bilamana aset tetap diperoleh secara paket berikut suku cadangnya, maka biaya perolehan aset tetap ini sudah termasuk nilai suku cadang bawaan, sehingga suku cadang ini dicatat (dengan biaya perolehan nihil) di dalam administrasi persediaan di bagian masing-masing; Suatu aset tetap dieliminisi dari neraca ketika dilepaskan atau bila aset secara permanen ditarik dari penggunaannya dan tidak ada lagi manfaat keekonomian masa yang akan datang diharapkan dari pelepasannya; Perolehan aset tetap pada tanggal berapa saja dari suatu bulan akan dicatat sebagai perolehan pada bulan yang bersangkutan; Aset tetap yang diperoleh dalam bentuk siap pakai, nilai perolehannya didasarkan atas harga beli ditambah pajak-pajak yang menyertainya dan semua biaya yang dikeluarkan sampai aktiva tetap yang bersangkutan siap untuk digunakan; Nilai perolehan aset tetap yang diperoleh melalui transaksi secara sewa beli (purchase leasing) adalah sebesar seluruh biaya yang dibebankan dalam kontrak sewa beli; Pengeluaran-pengeluaran untuk perbaikan aset tetap yang mempertahankan atau menambah masa manfaat, meningkatkan kapasitas dan mutu pelayanan aset tetap yang bersangkutan untuk beberapa tahun, pada prinsipnya harus dikapitalisasikan dengan mendebet akun yang bersangkutan sebesar biaya yang dikeluarkan, misalnya penggantian atap dari seng ke multiroof, sedangkan pengeluaran untuk perbaikan dan perawatan aset tetap untuk menjaga standar kinerja semula atas suatu aset, diakui sebagai biaya pada saat terjadi. Contoh: biaya pemeliharaan; Pengeluaran yang dapat dikapitalisasi dicatat sebagai aset tetap jika memberi manfaat lebih dari 1 tahun dan atau nilainya minimal sebesar Rp.300.000 untuk peralatan,mesin dan alat Olah Raga dan sebesar Rp 10.000.000 untuk gedung dan bangunan kecuali pengeluaran untuk tanah, jalan, irigasi dan aktiva tetap lainnya; Aset tetap yang tidak digunakan/rusak dapat diusulkan oleh Pengelola BP31P Jakarta kepada Menteri Keuangan untuk dihapuskan. Setelah mendapat persetujuan dari Menteri Keuangan atas penghapusan tersebut, maka nilai buku atas aset yang mendapat persetujuan untuk dihapuskan tersebut di-nol-kan;

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum


18) 19)

15

20)

Bila aset tetap yang disetujui untuk dihapuskan kemudian dijual/dilelang maka hasil penjualan di catat sebagai pendapatan lain-lain dalam laporan aktivitas; Konstuksi dalam penyelesaian (KDP): a) Konstruksi dalam penyelesaian (KDP) adalah aset tetap dalam proses pembangunan fisik sehingga belum dapat digunakan untuk operasi BP3IP Jakarta atau tidak dalam kondisi dapat bekerja untuk penggunaan yang dimaksudkan; b) Biaya perolehan dari KDP ditentukan menggunakan prinsip yang sama seperti pada aset tetap dan disajikan dalam kelompok Aset lain-lain sampai dengan saat dikapitalisasi, yaitu dinyatakan siap pada kondisi dapat bekerja untuk penggunaan yang dimaksudkan semula. Aset tetap tidak produktif adalah aset tetap yang rusak dan tidak dapat diperbaiki, serta aset tetap yang telah usang secara teknologi direklasifikasikan ke akun Aset Tetap Tidak Produktif dalam kelompok Aset lain-lain setelah mendapat persetujuan penghapusan dari Direktur BP3IP Jakarta, dan sebelum mendapat persetujuan penghapusan dari Menteri Keuangan.

Penyajian dan Pengungkapan 1) Aset tetap disajikan pada akun aset non lancar di neraca; 2) Aset tetap disajikan berdasarkan biaya perolehan (acquisition cost) dikurangi nilai akumulasi penyusutan (disajikan secara terpisah dari aset tetap); 3) Nilai buku aset tetap (book value) disajikan di neraca dengan mengurangi harga perolehan dengan akumulasi penyusutan; 4) Aset yang diperoleh dengan cara sewa guna usaha (leasing) disajikan sebagai bagian aset tetap dalam kelompok tersendiri. 5) Hal-hal yang harus diungkapkan dalam CalK, adalah: a) Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan jumlah tercatat bruto harus diungkap bila menggunakan lebih dari 1 (satu) dasar per kategorinya; b) Metode penyusutan yang digunakan; c) Masa manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan; d) Jumlah tercatat bruto dan jumlah akumulasi penyusutan pada awal dan akhir periode; e) Nilai tercatat pada awal dan akhir periode yang memperlihatkan: revaluasi yang dilakukan berdasarkan ketentuan pemerintah; setiap pengklasifikasian kembali. f) Eksistensi dan batasan atas hak milik, dan aset tetap yang dijaminkan untuk utang; g) Kebijakan akuntansi untuk biaya perbaikan yang berkaitan dengan aset tetap; h) Uraian rincian dari masing-masing aset tetap; i) Jumlah komitmen untuk akuisisi aset tetap.

C.3. SISTEM AKUNTANSI BIAYA Definisi Sistem akuntansi adalah serangkaian prosedur manual maupun yang terkomputerisasi mulai dari proses pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran dan pelaporan keuangan. Biaya adalah pengorbanan sumber daya ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu.

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum

16

Sistem akuntansi biaya adalah serangkain prosedur manual maupun yang terkomputerisasi mulai dari proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa dengan cara-cara tertentu serta penafsirannya. Secara garis besar sistem akuntansi biaya dibagi menjadi tiga, yaitu (1) sistem biaya sesungguhnya, (2) sistem biaya normal, dan (3) sistem biaya standar. Tujuan Sistem Akuntansi Biaya Sistem Akuntansi Biaya dibuat dengan tujuan untuk menentukan harga pokok. Sistem akuntansi biaya menyajikan biaya yang telah terjadi pada masa yang lalu. Untuk pengendalian biaya sistem akuntansi biaya menyajikan informasi biaya yang diperkirakan akan terjadi dengan biaya yang sesungguhnya terjadi, kemudian menyajikan analisis terhadap penyimpangannya. Untuk pengambilan keputusan khusus sistem akuntansi biaya menyajikan menyajikan biaya yang relevan dengan keputusan yang akan diambil ,dan biaya yang relevan dengan pengambilan keputusan khusus ini selalu berhubungan dengan biaya masa yang akan datang. Penggolongan Biaya Menurut hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayai, biaya dikelompokkan menjadi 2 (dua) golongan : 1. Biaya langsung adalah biaya yang terjadi yang penyebab satu-satunya adalah karena adanya sesuatu yang dibiayai, jika sesuatu yang dibiayai itu tidak ada, maka biaya langsung ini tidak akan terjadi. Dengan demikian biaya langsung akan mudah diidentifikasikan dengan sesuatu yang dibiayai. 2. Biaya tidak langsung adalah biaya yang terjadi yang disebabkan tidak hanya oleh sesuatu yang dibiayai, biaya tidak langsung dalam hubungannya dengan jasa disebut dengan biaya jasa tidak langsung. Menurut perilakunya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan, biaya dapat digolongkan menjadi 4 (empat) golongan : a. Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. b. Biaya semi variabel adalah biaya yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Biaya semi variabel mengandung unsur biaya tetap dan unsur biaya semi variabel. c. Biaya semi fixed adalah biaya yang tetap untuk tingkat volume kegiatan tertentu dan berubah dengan jumlah yang konstan pada volume kegiatan tertentu. d. Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisar volume kegiatan tertentu. Menurut jangka waktu manfaatnya biaya digolongkan menjadi 2 (dua) golongan: a. Pengeluaran modal (capital expeditures) adalah biaya yang mempunyai manfaat lebih dari satu periode akuntansi. Pengeluaran modal ini pada saat terjadinya dibebankan sebagai harga pokok aktiva dan dibebankan pada tahun-tahun yang menikmati adalah biaya yang mempunyai manfaat lebih dari satu periode akuntansi. Pengeluaran modal ini pada saat terjadinya dibebankan sebagai harga pokok aktiva dan dibebankan pada tahun-tahun yang menikmati manfaatnya dengan cara didepresiasi, amortisasi atau dideplesi. b. Pengeluaran pendapatan (revenue expenditures) adalah biaya yang hanya mempunyai manfaat dalam periode akuntansi terjadinya pengeluaran tersebut. Pada

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum

17

saat terjadinya biaya ini dibebankan sebagai biaya dan dipertemukan dengan pendapatan yang diperoleh dari pengeluaran biaya tersebut.

Struktur Biaya BP3IP Jakarta 1. Asumsi Perhitungan Biaya Berdasarkan tarif layanan yang diterapkan oleh BP31P Jakarta, maka komponen biaya yang dibutuhkan untuk dapat mengikuti pendidikan dan pelatihan juga terdiri dari 2 (dua) yaitu biaya pendaftaran bagi calon peserta diklat dan biaya untuk mengikuti diklat yaitu biaya yang dikeluarkan mulai dari pembukaan diklat, proses belajar mengajar, ujian tertulis dan praktek, sertifikasi dan penutupan diklat. Komponen biaya untuk pendaftaran menjadi peserta diklat BP31P Jakarta adalah biaya yang diperlukan untuk pembelian formulir pendaftaran beserta materai, biaya pemeriksaan kesehatan, biaya seleksi potensi akademik dan biaya administrasi. Sedangkan komponen biaya yang diperlukan untuk pembukaan diklat adalah biaya untuk penceramah, moderator, bahan administrasi dan biaya konsumsi bagi panitia penerimaan. Komponen biaya mengikuti proses belajar mengajar adalah bahan alat pendidikan, biaya untuk tenaga kependidikan dan biaya operasional untuk proses belajar mengajar. Komponen biaya ujian terdiri dari biaya ujian subyek dan fungsi oleh lembaga diklat dan oleh Dewan Penguji Keahlian Pelaut. Komponen biaya yang diperlukan untuk mengikuti ujian subyek dan fungsi oleh lembaga diklat adalah biaya pengadaan bahan alat tulis, biaya untuk penguji, pengawas ujian, penggunaan alat praktek, dan simulator. Komponen biaya yang diperlukan untuk mengikuti ujian subyek dan fungsi oleh Dewan Penguji Keahlian Pelaut adalah bahan alat tulis, biaya untuk penguji, pengawas ujian, penggunaan alat praktek dan simulator termasuk biaya pengujian keahlian kepelautan. Komponen biaya yang diperlukan untuk menerbitkan sertifikat keahlian pelaut adalah biaya blanko STIKP, blanko daftar nilai, biaya verifikasi penerbitan STTKP dan Sertifikat Kepelautan. Komponen biaya penutupan diklat adalah biaya yang dikeluarkan dalam rangka pelantikan lulusan khususnya untuk peserta program diklat peningkatan, adalah biaya administrasi, konsumsi penutupan diklat dan khusus bagi Diklat Pelaut Tingkat I ditambah terdapat biaya untuk pengadaan pakaian seragam penutupan diklat. Di samping komponen-komponen biaya yang telah disebutkan diatas, komponen biaya lain yang juga penting untuk diperhatikan adalah menyangkut komponen biaya kesehatan, pengadaan buku perpustakaan, biaya daya jasa (listrik, air dan telepon), biaya pemeliharaan dan perawatan sarana dan prasarana, biaya operasional kantor serta biaya gaji, honorarium dan tunjangan bagi pegawai. Pada dasarnya, biaya penyelenggaraan diklat sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: a. Kapasitas kelas; b. Jumlah peserta diklat (per periode dan per program); c. Tingkat inflasi; d. Biaya operasional kantor. Secara garis besar, biaya penyelenggaraan diklat di BP31P Jakarta adalah seluruh biaya yang dikeluarkan BP31P Jakarta dalam menyelenggarakan seluruh program diklat, antara lain: a. Biaya pengadaan bahan proses belajar mengajar; b. Biaya tenaga kependidikan;

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum


c. d. e. f. g. 2. (a)

18

Biaya sertifikasi kepelautan yang dilakukan oleh lembaga pendidikan dan Dewan Pengujian Keahlian Pelaut; Biaya pemeliharaan dan perawatan sarana dan prasarana; Biaya operasional kantor (gaji, ATK, daya jasa, internet); Biaya pembinaan, pemantauan, evaluasi, pengawasan dan pelaporan. Biaya peningkatan mutu pada semua jenis dan jenjang pendidikan. Struktur Biaya Operasi Biaya Pendaftaran : 1) Calon Peserta Diklat Peningkatan : a) Biaya Langsung Biaya Formulir dan Materai Biaya Pemeriksaan Kesehatan Biaya Test Potensi Akademik Biaya Test administrasi b) Biaya Langsung Tetap Biaya bahan administrasi Biaya rapat panita pendaftaran Biaya honor panitia pendaftaran 2) Calon Peserta Diklat Penyegaran : a) Biaya Langsung Biaya formulir dan materai b) Biaya Langsung Tetap Biaya bahan administrasi Biaya rapat panita pendaftaran Biaya honor panitia pendaftaran Biaya Pembelajaran Program Diklat 1) Biaya Langsung a) Biaya Langsung Varia bel Biaya Pembukaan Diklat terdiri dari pakaian, topi, dan makanan. Biaya Proses Belajar Mengajar terdiri dari biaya seragam dan atribut lengkap, handbag, bahan ajar, paket alat tulis siswa, pas foto, ID card dan premi asuransi. Biaya Ujian terdiri dari biaya blanko STTPK, blanko transkrip nilai, bimbingan makalah dan ujian makalah (khususnya bagi Diklat Pelaut Tingkat I), vakasi Ujian Keahlian Pelaut (UKP). Biaya Penutupan Diklat Variabel terdiri dari biaya pakaian seragam peserta diklat pada saat penutupan diklat. b) Biaya Langsung Tetap Biaya Pembukaan Diklat terdiri dari honor pembicara, moderator, konsumsi dan administrasi. Biaya Proses Belajar Mengajar terdiri dari biaya pengadaan bahan alat pendidikan, bahan administrasi, honor mengajar. Biaya Ujian terdiri dari biaya bahan dan alat tulis ujian, vakasi ujian tertulis, vakasi ujian praktek, honor pembuat naskah ujian, koreksi ujian, pengawas ujian. Biaya Penutupan terdiri dari bahan, konsumsi, dan perlengkapan.

(b)

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum


2) Biaya Tidak Langsung Biaya renumerasi pengelola BLU; Biaya pemeliharaan gedung kantor; Biaya pemeliharaan kendaraan roda 4; Biaya pemeliharaan kendaraan roda 2; Biaya pemeliharaan peralatan dan mesin; Biaya Listrik; Biaya Telepon; Biaya Air, gas dan website; Biaya perawatan peralatan pendidikan; Biaya Peralatan Kantor; Biaya operasional kantor Biaya Promosi (pencetakan brosur dan pamflet).

19

Formulasi Perhitungan Biaya Operasi 1. Biaya Langsung Biaya Langsung (Direct Cost) terdiri atas biaya variabel (Variable Cost) dan biaya tetap (Fixed Cost). Biaya Langsung Variabel adalah biaya yang dikeluarkan yang muncul akibat kegiatan penyelenggaraan diklat. Biaya Langsung Tetap adalah biaya penyelenggaraan diklat yang dikeluarkan bersifat tetap untuk setiap periode masing-masing program diklat. 1) Biaya Langsung Variabel Pembukaan Diklat Biaya langsung variabel untuk pembukaan adalah biaya yang dikeluarkan untuk seluruh kegiatan yang secara langsung untuk peserta diklat yang digunakan pada saat pembukaan diklat antara lain penyediaan bahan bagi peserta. 2) Biaya Langsung Variabel Pembelajaran Biaya langsung variabel untuk pembelajaran adalah biaya yang dikeluarkan untuk seluruh kegiatan yang secara langsung untuk peserta diklat yang digunakan dalam proses pembelajaran antara lain biaya seragam dan atribut lengkap, handbag, bahan ajar, paket alat tulis siswa, pas foto, 10 card dan premi asuransi. 3) Biaya Langsung Variabel Ujian Biaya langsung variabel untuk ujian adalah biaya yang dikeluarkan untuk seluruh kegiatan yang secara langsung untuk peserta diklat yang digunakan dalam ujian antara lain biaya blanko STTPK, blanko transkrip nilai, bimbingan makalah dan ujian makalah (khususnya untuk tingkat I), serta vakasi ujian keahlian pelaut. 4) Biaya Langsung Variabel Penutupan Biaya langsung variabel untuk penutupan adalah biaya yang dikeluarkan untuk seluruh kebutuhan yang secara langsung untuk peserta antara lain biaya seragam penutupan peserta pada saat penutupan.

Formulasi Biaya Langsung Variabel : Volume per komponen biaya per peserta x harga per unit
2. Biaya Tidak Langsung Biaya tidak langsung adalah biaya yang dikeluarkan untuk penyelenggaraan diklat terdiri atas biaya gaji pegawai, honorarium dan tunjangan, biaya Iistrik, biaya telepon, biaya air, biaya pemeliharaan gedung kantor, biaya pemeliharaan kendaraan, biaya pemeliharaan peralatan dan mesin, perawatan alat pendidikan, biaya promosi dan biaya operasional dan admintrasi kantor.

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum

20

3. Tarif Layanan Diklat Tarif Diklat dan pelatihan yang diselenggarakan BP31P Jakarta yang akan dibebankan kepada calon peserta diklat dihitung berdasarkan: 1) Biaya pelayanan (Cost of service pricing) Penentuan tarif layanan berdasarkan pada biaya penyelenggaraan diklat yang dikeluarkan dalam menunjang kelangsungan operasional BP31PJakarta. Tarif yang ditetapkan berdasarkan biaya pelayanan adalah tarif kewajaran. Sedangkan biaya operasi yang dijadikan dasar penentuan tarif layanan adalah Biaya Langsung terdiri dari biaya variabel dan tetap namun Biaya Tidak Langsung dalam tahap awal BP31P Jakarta sebagai Lembaga Badan Layanan Umum, belum kepada peserta diklat. Biaya Tak Langsung secara bertahap akan dibebankan kepada peserta diklat seiring dengan kenaikan tarif. 2) Nilai pelayanan (value of service pricing) Penentuan tarif berdasarkan nilai pelayanan yang disediakan untuk peserta diklat, sehingga besaran tarif sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang terkait langsung dengan penyelenggaraan diklat antara lain kurikulum dan jam pelajaran masingmasing program diklat yang pada akhirnya akan berpengaruh kepada besaran biayabiaya antara lain biaya honor tenaga pengajar, biaya vakasing biaya bahan praktek dan penggunaan laboratorium dan simulator.

C.4. SIKLUS AKUNTANSI Bagan arus dari langkah-Iangkah siklus akuntansi (accounting cycle) pada diagram IIIA-1 adalah prosedur akuntansi yang digunakan oleh BP31P Jakarta untuk mencatat transaksi dan membuat laporan keuangan, dan langkah-Iangkah ini adalah langkah-Iangkah prosedur akuntansi yang biasanya digunakan oleh perusahaan atau entitas pada umumnya. Prosedur akuntansi yang digunakan oleh BP31P Jakarta adalah sebagai berikut: 1. Identifikasi dan mencatat transaksi serta kejadian lainnya 2. Pembuatan jurnal 3. Pemindahbukuan (posting) dari Jurnal ke Buku Besar 4. Pembuatan Neraca Saldo (Trial Balance) 5. Pembuatan Ayat Jurnal Penyesuaian (Adjusting entries) 6. Pembuatan Neraca Saldo Setelah Penyesuaian (adjusted trial balance) 7. Pembuatan laporan keuangan dari Neraca Saldo kedua 8. Pembuatan ayat jurnal penutup (closing entries) 9. Pembuatan Neraca Saldo Pasca Penutupan (post-classing trial balance)

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum

21

C.5 BAGAN AKUN STANDAR Sistematika Bagan Akun Pemberian kode akun/rekening umumnya didasarkan pada kerangka pemberian kode tertentu sehingga memudahkan pemakai dalam membaca laporan keuangan. Pemberian kode akun tidak dimaksudkan pemakai menghafalkan kode-kode akun yang disusun, namun untuk memudahkan pemakai (bagian keuangan dan umum dan bagian-bagian yang relevan) mengikuti kerangka logika pemberian kode akun, sehingga dapat menggunakan akun yang disusun untuk pemberian identifikasi transaksi yang terjadi dalam kegiatan usaha.

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum


Sistematika kode akun yang digunakan oleh BP31P Jakarta adalah sebagai berikut :

22

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum

23

C.6. KENDALA INFORMASI YANG RELEVAN DAN ANDAL Kendala Informasi Akuntansi adalah setiap keadaan yang tidak memungkinkan terwujudnya kondisi yang ideal daJam menyajikan laporan keuangan yang relevan dan dapat diandalkan akibat keterbatasan atau karena alasan-alasan kepraktisan antara lain: 1. Tepat Waktu Jika terdapat penundaan yang tidak semestinya dalam pelaporan, maka informasi yang dihasilkan akan kehilangan relevansinya. Manajemen mungkin perlu menyeimbangkan manfaat relatif antara pelaporan tepat waktu dan ketentuan informasi andal.Untuk menyediakan informasi tepat waktu, sering kali perlu melaporkan sebelum seluruh aspek transaksi atau peristiwa lainnya diketahui, sehingga mengurangi keandalan informasi. Sebaliknya, jika pelaporan ditunda sampai seluruh aspek diketahui, informasi yang dihasilkan mungkin sangat andal tetapi kurang bermanfaat bagi pengambil keputusan. Dalam usaha mencapai keseimbangan antara relevansi dan keandalan, kebutuhan pengambil keputusan merupakan pertimbangan yang menentukan. 2. Keseimbangan antara Biaya dan manfaat Keseimbangan antara biaya dan manfaat lebih merupakan kendala yang pervasif daripada karakteristik kualitatif. Manfaat yang dihasilkan informasi seharusnya melebihi biaya penyusunannya. Namun demikian, evaluasi biaya dan manfaat merupakan proses pertimbangan yang substansial. Biaya tersebut juga tidak perlu juga harus dipikul oleh pengguna informasi yang menikmati manfaat. Manfaat mungkin juga dinikmati oleh pengguna lain di samping mereka yang menjadi tujuan informasi misalnya, penyediaan informasi lanjutan kepada kreditor mungkin mengurangi biaya pinjaman yang dipikul perusahaan. Karena alasan inilah maka sulit untuk menerapkan uji biaya-manfaat pada kasus tertentu. Namun demikian, komite penyusunan standar akuntansi keuangan pada khususnya, seperti juga para penyusun dan pengguna laporan keuangan, harus menyadari kendala ini. 3. Keseimbangan di antara Karakteristik Kualitatif Dalam praktik, keseimbangan atau trade-off di antara berbagai karakteristik kualitatif sering diperlukan. Pada umumnya tujuannya adalah untuk mencapai suatu keseimbangan yang tepat diantara berbagai karakteristik untuk memenuhi tujuan laporan keuangan. Kepentingan relatif dari berbagai karakteristik dalam berbagai kasus yang berbeda merupakan masalah pertimbangan professional. 4. Penyajian Wajar Laporan keuangan sering dianggap menggambarkan pandangan yang wajar dari, atau menyajikan dengan wajar, posisi keuangan, kinerja serta perubahan akunisi keuangan suatu perusahaan. Meskipun kerangka dasar ini tidak menangani secara langsung konsep tersebut, penerapan karakteristik kualitatif pokok dan standar akuntansi keuangan yang sesuai biasanya menghasilkan laporan keuangan yang menggambarkan apa yang pada umumnya dipahami sebagai suatu pandangan yang wajar dari, atau menyajikan dengan wajar, informasi semacam itu.

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum


D D.1. AKUNTANSI DAN PELAPORAN DANA BERGULIR AKUNTANSI ANGGARAN DANA BERGULIR

24

Akuntansi anggaran hanya terdapat pada sistem akuntansi instansi yang dilaksanakan oleh PA/KPA, meliputi akuntansi anggaran pendapatan, belanja, penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan. Adapun jurnal untuk akuntansi anggaran adalah sebagai berikut: Akuntansi anggaran pendapatan :
Estimasi Pendapatan Hutang Kepada KUN/BUD Rp. xxx Rp. Xxx

Akuntansi anggaran belanja :


Piutang Kepada KUN/BUD Allotment Belanja Rp. xxx Rp. xxx

(untuk mencatat alokasi anggaran pengeluaran belanja) Akuntansi anggaran penerimaan pembiayaan :
Estimasi Penerimaan Pembiayaan Hutang kepada KUN/BUD Rp. xxx Rp. xxx

(untuk mencatat anggaran penerimaan pembiayaan) Akuntansi anggaran pengeluaran pembiayaan :


Piutang dari KUN/BUD Allotment Pengeluaran Pembiayaan (untuk mencatat alokasi anggaran pengeluaran pembiayaan) Rp. xxx Rp. xxx

Akuntansi anggaran hanya dicatat pada sistem akuntansi instansi/SKPD sedangkan Sistem Akuntansi Kas Umum Negara/Kas Daerah tidak mencatat transaksi anggaran karena alokasi anggaran belum mempengaruhi kas di Rekening Kas Umum Negara/Kas Daerah. Adapun akuntansi untuk mencatat alokasi anggaran untuk pengeluaran dana bergulir adalah sebagai berikut: Sistem akuntansi instansi/SKPD:
Piutang Kepada KUN/BUD Rp. xxx Rp. xxx

Allotment Pengeluaran Pembiayaan-Dana Bergulir (untuk mencatat alokasi anggaran pengeluaran untuk Dana bergulir)

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum

25

Sistem Akuntansi Kas Umum Negara/Kas Daerah tidak mencatat transaksi anggaran karena alokasi anggaran belum mempengaruhi Rekening Kas Umum Negara/Kas Daerah.

D.2.

AKUNTANSI REALISASI PENGELUARAN ANGGARAN DARI APBN/APBD

Jurnal untuk mencatat realisasi pengeluaran dana bergulir adalah sebagai berikut: Sistem akuntansi instansi/SKPD :
Pengeluaran Pembiayaan-Dana Bergulir Piutang Kepada KUN/BUD (untuk mencatat realisasi pengeluaran untuk Dana bergulir) Rp. xxx Rp. xxx

Dan
Dana Bergulir Rp. xxx Rp. xxx

Diinvestasikan Dalam Investasi Jangka Panjang (untuk mencatat realisasi perolehan Dana bergulir)

Sistem Akuntansi Kas Umum Negara/Kas Daerah :


Pengeluaran Pembiayaan-Dana Bergulir Kas di Kas Negara/Kas Daerah Rp. xxx Rp. xxx

(untuk mencatat pengeluaran untuk Dana Bergulir dari Rekening Kas Umum Negara/Kas Daerah)

D.3.

AKUNTANSI DAN PELAPORAN PENAGIHAN DANA BERGULIR

Salah karakteristik dana bergulir adalah dana tersebut disalurkan kepada masyarakat, masyarakat akan mengembalikan dana tersebut kepada satker yang mengelola dana bergulir. Satker yang mengelola dana bergulir akan menerima kembali dana yang disalurkan kepada masyarakat. Bendahara Umum Negara/Daerah (BUN/BUD) dapat menarik pokok dana bergulir yang terdapat pada satker pengelola dana bergulir . Jika terjadi penarikan atau penyetoran pokok dana bergulir ke Rekening Kas Umum Negara/Kas Daerah, satker pengelola dana bergulir harus mencatat dan melaporkan transaksi tersebut dalam laporan keuangan untuk tujuan konsolidasi sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. Penarikan/penyetoran pokok dana bergulir tersebut akan dicatat sebagai Penerimaan Pembiayaan dalam Laporan Realisasi Anggaran, dan engurangan Dana Bergulir dalam Neraca. Adapun akuntansi untuk mencatat penarikan/penyetoran dana bergulir ke Rekening Kas Umum Negara/Kas Daerah sebagai berikut:

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum


Sistem akuntansi instansi/SKPD :
Hutang kepada BUN/BUD Penerimaan Pembiayaan-Dana Bergulir (untuk mencatat penyetoran pokok dana bergulir) Rp. xxx Rp. xxx

26

dan
Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang Dana Bergulir Rp. 1 juta Rp. 1 juta

(untuk mencatat penurunan dana bergulir karena penyetoran pokok dana bergulir)

Sistem akuntansi kas umum negara/BUD :


Kas di BLU/BLUD Penerimaan Pembiayaan-Dana Bergulie (untuk mencatat penerimaan tagihan pokok Dana Bergulir) Rp. xxx Rp. xxx

Pendapatan yang diterima satker pengelola dana bergulir berupa bunga dan bagi hasil dicatat dan dilaporkan dalam laporan keuangan untuk tujuan konsolidasi dengan kementerian negara/lembaga/pemda sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan yaitu dalam Laporan Realisasi Anggaran. Adapun akuntansi untuk mencatat pendapatan dari dana bergulir adalah sebagai berikut: Sistem akuntansi instansi/SKPD : Akuntansi untuk penerimaan pendapatan dari dana bergulir
Hutang kepada KUN/BUD Pendapatan (untuk mencatat penerimaan pendapatan dari dana bergulir) Rp. xxx Rp. xxx

Dan
Kas di BLU Ekuitas Dana Lancar (untuk mencatat penerimaan kas dari pendapatan) Rp. xxx Rp. xxx

Sistem akuntansi kas umum negara/BUD : Akuntansi untuk penerimaan pendapatan dari dana bergulir
Kas di BLU/BLUD Pendapatan (untuk mencatat penerimaan pendapatan dari Dana Bergulir) Rp. xxx Rp. xxx

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum


D.4. 1. AKUNTANSI PENGGULIRAN KEMBALI DANA BERGULIR Dana bergulir yang bersumber dari DIPA Bagian Anggaran Lain

27

Contoh: Pada tahun 2008, BLU di lingkungan Departemen PU mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp 20 miliar yang dianggarkan dalam DIPA Bagian Anggaran Penyertaan Modal Negara (BA 99). BLU menggunakan dana tersebut untuk dana bergulir dalam rangka pembebasan lahan untuk infrastruktur . Adapun jurnal untuk mencatat transaksi tersebut adalah sebagai berikut: Akuntansi di Bagian Anggaran Penyertaan Modal Negara (BA 99)
Pengeluaran Pembiayaan-Dana Bergulir Piutang dari KUN (untuk mencatat pengeluaran pembiayaan untuk dana bergulir) Rp. 20 miliar Rp. 20 miliar

Jurnal untuk mencatat perolehan investasi jangka panjang berupa dana bergulir adalah sebagai berikut:
Dana Bergulir Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang (untuk mencatat perolehan dana bergulir) Rp. 20 miliar Rp. 20 miliar

Sistem Akuntansi Kas Umum Negara/Kas Daerah:


Pengeluaran Pembiayaan-Dana Bergulir Kas di Kas Negara (untuk mencatat pengeluaran kas untuk dana bergulir) Rp. 20 miliar Rp. 20 miliar

Sistem Akuntansi Kas Umum Negara tidak mencatat perolehan Dana Bergulir karena hanya mencatat penerimaan dan pengeluaran kas ke/dari Rekening Kas Umum Negara. 2. Dana bergulir yang bersumber dari tagihan pokok dana bergulir

Contoh: Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) A yang berstatus BLUD dibawah BUD yaitu Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD), Provinsi Sumut yang mempunyai tugas, pokok dan fungsi menyalurkan dana kepada KUKM dengan sistemm dana bergulir . BLUD tersebut menagih dana bergulir dari masyarakat sebesar Rp 1 miliar pada tahun 2008. Pada tahun yang sama, UPTD tersebut menyalurkan kembali dana tersebut kepada KUKM lainnya. Bagaimana akuntansi dan pelaporan pengguliran kembali dana sebesar Rp 1 miliar? Jawaban: pengguliran kembali dana bergulir , yang berasal dari penerimaan pokok dana bergulir , yang dilakukan oleh UPTD A tidak akan dicatat dan dilaporkan BPKD (yang menguasai anggaran dana bergulir) maupun UPTD A karena pengeluaran untuk dana bergulir dan aset dana bergulir tersebut telah dicatat dan dilaporkan BPKD yang menguasai anggaran dana bergulir ketika dana tersebut dikeluarkan APBD. Sistem akuntansi kas daerah juga tidak akan mencatat transaksi tersebut karena tidak berpengaruh terhadap kas daerah.

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum


3. Dana bergulir yang bersumber dari Pendapatan

28

Sistem Akuntansi instansi/SKPD (di BLU/BLUD) :


Pengeluaran Pembiyaan-Dana Bergulir Piutang dari KUN (untuk mencatat pengeluaran dana bergulir) Rp xxx Rp. xxx

dan
Ekuitas Dana Lancar Kas di BLU (untuk mencatat pengeluaran pembiayaan yang berasal dari kas BLU) Rp xxx Rp. xxx

dan
Dana Bergulir Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang (untuk mencatat pengeluaran dana bergulir) Rp xxx Rp. xxx

Sistem Akuntansi Kas Umum Negara/Kas Daerah:


Pengeluaran Pembiayaan - Dana Bergulir Kas di BLU/BLUD Rp. xxx Rp. xxx

(untuk mencatat pengeluaran dana bergulir di Sistem Akuntansi Kas Umum Negara/Kas Daerah)

D.5. 1.

AKUNTANSI PIUTANG YANG DIPERSEPSIKAN SEBAGAI DANA BERGULIR Akuntansi Anggaran

Dana yang disalurkan oleh pemerintah ke masyarakat dalam rangka perkuatan modal atau meningkatkan kemampuan ekonomi dapat dikelompokkan sebagai Piutang. Piutang tersebut dapat dikelompokkan sebagai aset lancar atau investasi jangka panjang tergantung dari jatuh temponya. Jika piutang tersebut mempunyai jatuh tempo paling lama 12 bulan maka piutang tersebut dikelompokkan sebagai aset lancar , jika jatuh tempo piutang lebih dari 12 bulan maka piutang tersebut dikelompokkan sebagai investasi jangka panjang. Adapun akuntansi anggaran untuk mencatat alokasi anggaran untuk pengeluaran dana adalah sebagai berikut: Sistem akuntansi KPA dibawah BUN/BUD:
Piutang Kepada KUN/BUD Allotment Pengeluaran Pembiayaan-Piutang Rp xxx Rp xxx

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum


(Untuk mencatat alokasi anggaran pengeluaran Piutang) Sistem Akuntansi Kas Umum Negara/Kas Daerah: Tidak ada jurnal, karena anggaran tidak mempengaruhi kas di BUN/BUD. 2. Akuntansi Realisasi Anggaran

29

Realisasi pengeluaran untuk dana yang dikategorikan sebagai piutang dilaksanakan dengan menerbitkan Surat Perintah Membayar dan Surat Perintah Pencairan Dana (SPM/SP2D). Adapun jurnal untuk mencatat realisasi pengeluaran anggaran adalah sebagai berikut: Sistem Akuntansi instansi :
Pengeluaran Pembiayaan-Piutang Piutang Kepada KUN/BUD (Untuk mencatat realisasi pengeluaran anggaran) Rp xxx Rp xxx

dan
Piutang Dana Diinvestasikan dlm Investasikan Jk Panjang (Untuk mencatat perolehan piutang jangka panjang) Rp xxx Rp xxx

Jurnal di atas merupakan jurnal untuk mencatat perolehan Piutang yang mempunyai jatuh tempo lebih 12 bulan. Jika piutang tersebut dikategorikan sebagai piutang jangka pendek yang jatuh tempo kurang dari 12 bulan, jurnalnya adalah sebagai berikut: Sistem Akuntansi instansi :
Piutang Dana Cadangan Piutang (Untuk mencatat perolehan piutang jangka pendek) Rp xxx Rp xxx

Sistem Akuntansi Kas Umum Negara/Kas Daerah :


Pengeluaran Pembiayaan Kas di Kas Negara/Kas di Kas Daerah (Untuk mencatat perolehan piutang ) Rp xxx Rp xxx

Akuntansi kas umum negara/BUD tidak mencatat perolehan aset berupa Piutang Dana karena akuntansi kas umum negara/BUD hanya mencatat uang masuk atau uang keluar dari Rekening Kas Umum Negara/Kas Daerah.

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum


3. Akuntansi Penarikan Kembali Dana.

30

Penyaluran dana melalui satker biasa tidak memenuhi karakteristik dana bergulir , karena dana tersebut tidak dapat digulirkan kembali secara langsung kepada masyarakat. Jika dana tersebut hendak digulirkan kembali, dana yang ditagih dari masyarakat harus disetor terlebih dahulu ke Rekening Kas Umum Negara/Kas Daerah dan dicantumkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) dan dokumen pelaksanaan anggaran (DIPA/DPA). Dana yang ditagih dari masyarakat harus segera disetor ke Rekening Kas Umum Negara/Kas Daerah dengan menggunakan dokumen penyetoran. Adapun jurnal untuk mencatat penerimaan kembali Piutang Dana sebagai berikut: Sistem akuntansi instansi :
Hutang Kepada KUN/BUD Penerimaan Pembiayaan (Untuk mencatat penerimaan kembali piutang ) Rp xxx Rp xxx

dan
Diinvestasikan dlm Investasikan Jk Panjang Piutang Dana Rp xxx Rp xxx

(Untuk mencatat pengurangan Piutang Dana Jangka Panjang akibat penagihan )

Sistem Akuntansi Kas Umum Negara/Kas Daerah :


Kas di Kas Negara/Kas di Kas Daerah Penerimaan Pembiayaan (Untuk mencatat penerimaan kas atas penagihan piutang ) Rp xxx Rp xxx

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum

31

BAB III PENUTUP


A. SIMPULAN

Dari hasil pembahasan pada Bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: 1. Dalam rangka pengintegrasian Laporan Keuangan BLU dengan Laporan Keuangan kementerian negara/lembaga, BLU mengembangkan sub sistem akuntansi keuangan yang menghasilkan Laporan Keuangan sesuai dengan SAP. BLU mengembangkan dan menerapkan sistem akuntansi keuangan sesuai dengan jenis layanan BLU dengan mengacu kepada standar akuntansi keuangan yang diterbitkan oleh asosiasi profesi akuntansi Indonesia sesuai dengan jenis industrinya. 2. Menurut Peraturan Menteri Keuangan Nomor 76/PMK.05/2008 tentang Pedoman Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Badan Layanan Umum, Sistem akuntansi didefinisikan sebagai serangkaian prosedur baik manual maupun terkomputerisasi mulai dari proses pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran sampai pelaporan posisi keuangan dan operasi keuangan. 3. BLU setidak-tidaknya mengembangkan tiga sistem akuntansi yang merupakan sub sistem dari sistem akuntansi BLU, yaitu sistem akuntansi keuangan, sistem akuntansi aset tetap, dan sistem akuntansi biaya. a. Sistem Akuntansi Keuangan adalah sistem akuntansi yang menghasilkan laporan keuangan pokok untuk tujuan umum (general purpose) b. Sistem Akuntansi Aset Tetap menghasilkan laporan tentang aset tetap untuk keperluan manajemen aset c. Sistem Akuntansi Biaya menghasilkan informasi tentang harga pokok produksi, biaya satuan (unit cost) per unit layanan, dan evaluasi varian 3. Sistem akuntansi BLU terdiri atas sub sistem yang terintegrasi untuk menghasilkan laporan keuangan dan laporan lainnya yang berguna bagi pihak-pihak yang membutuhkan yang memuat Kebijakan Akuntansi (penyajian wajar, substansi mengungguli bentuk, dan materialitas) dan Pelaporan (tujuan laporan keuangan, tanggung jawab atas laporan keuangan, komponen laporan keuangan, penyajian laporan keuangan, dan konsolidasi laporan keuangan BLU ke dalam laporan keuangan Kementerian Negara/Lembaga. 4. Sistem Akuntansi Balai Besar Pendidikan Penyegaran dan Peningkatan Ilmu Pelayaran (BP3IP) Jakarta diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor Pm.91 Tahun 2010, dimana sistem yang dikembangkan terdiri dari Sistem Akuntansi Keuangan, Sistem Akuntansi Aset Tetap, dan Sistem Akuntansi Biaya. 5. Siklus akuntansi yang digunakan oleh BP3IP Jakarta untuk mencatat transaksi dan membuat laporan keuangan melalui proses sebagai berikut: identifikasi dan pencatatan transaksi, jurnal, posting, Trial Balance, Adjusting entries, Adjusted trial balance, closing entries, dan post-classing trial balance.

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum


6.

32

Kendala Informasi Akuntansi adalah setiap keadaan yang tidak memungkinkan terwujudnya kondisi yang ideal daJam menyajikan laporan keuangan yang relevan dan dapat diandalkan akibat keterbatasan atau karena alasan-alasan kepraktisan antara lain: tepat waktu, keseimbangan antara biaya dan manfaat, keseimbangan di antara karakteristik kualitatif, dan penyajian wajar. 7. Sesuai dengan karakteristik dana bergulir dimana dana tersebut disalurkan kepada masyarakat, dan masyarakat akan mengembalikan dana tersebut kepada satker yang mengelola dana bergulir, maka satker pengelola dana bergulir sebaiknya satker BLU/BLUD. 8. Pendapatan yang diterima satker pengelola dana bergulir berupa bunga dan bagi hasil dicatat dan dilaporkan dalam laporan keuangan untuk tujuan konsolidasi dengan kementerian negara/lembaga/pemda sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan yaitu dalam Laporan Realisasi Anggaran. 9. Dana yang disalurkan oleh pemerintah ke masyarakat dalam rangka perkuatan modal atau meningkatkan kemampuan ekonomi dapat dikelompokkan sebagai Piutang. Piutang tersebut dapat dikelompokkan sebagai aset lancar atau investasi jangka panjang tergantung dari jatuh temponya. 10. Penyaluran dana melalui satker biasa tidak memenuhi karakteristik dana bergulir, karena dana tersebut tidak dapat digulirkan kembali secara langsung kepada masyarakat. Jika dana tersebut hendak digulirkan kembali, dana yang ditagih dari masyarakat harus disetor terlebih dahulu ke Rekening Kas Umum Negara/Kas Daerah dan dicantumkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) dan dokumen pelaksanaan anggaran (DIPA/DPA).

B.

REKOMENDASI

Dari hasil pembahasan pada Bab sebelumnya, maka kami merekomendasikan beberapa hal sebagai berikut: 1. Pemerintah hendaknya berupaya agar istansi pemerintah yang tugas pokok dan fungsinya member pelayanan kepada masyarakat dapat diberikan status Badan Layanan Umum dengan memberikan kemudahan prosedur pengalian status dari satuan kerja vertical Kementerian/Lembaga atau Pemerintah Daerah menjadi BLU/BLUD. Dengan adanya kemudahan itu, apa yang menjadi harapan pemerintah sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 68 ayat (1) UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara yaitu tujuan dibentuknya BLU/BLUD adalah untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa dapat segera terwujud. Sistem akuntansi yang dikembangkan oleh BP3IP Jakarta belum dapat mengintegrasikan kebutuhan pelaporan untuk konsolidasi dan kebutuhan pelaporan untuk proses bisnisnya sesuai dengan ketentuan PMK Nomor 76/PMK.05/2008. Oleh sebab itu, Kementerian Perhubungan selaku satuan kerja yang membawahi BP3IP Jakarta seharusnya mendorong PK BLU BP3IP Jakarta untuk mengembangkan sistem akuntansi yang terpadu sehingga dapat meminimalkan prosedur manual dalam penyusunan laporan keuangan konsolidasi. Kementerian Keuangan bersama Kementerian Dalam Negeri perlu berkoordinasi dengan seluruh Pemerintah Daerah untuk menertibkan pengelolaan dana bergulir di lingkungan

2.

3.

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah

Sistem Akuntansi Badan Layanan Umum

33

pemdanya masing-masing. Sebagaimana diungkapkan dalam Buletin Teknis SAP Nomor 7, bahwa sebaiknya satker pengelola dana bergulir adalah BLUD, maka perlu dibuat aturan khusus yang mengharuskan pembentukan satker BLUD di tiap-tiap Pemerintah Daerah untuk lebih menertibkan pengelolaan dana bergulir.

2011

Seminar Akuntansi Pemerintah